Naruto : Masashi Kishimoto

Fatal Frame 2 & 3, Crimson Butterfly and The Tormented : Tecmo

Village, Ritual and Nightmare : Neo Kaze-Hime

500 tahun kemudian

Suna, September 17, XXXX

Hai, namaku Naruto Uzumaki, kelas 11 IPA 2. Umurku 16 tahun dan aku lahir tanggal 10 Oktober. Hobi ku memakan ramen, baik ramen instan ataupun ramen Ichiraku. Aku adalah anak dari pasangan Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki dan sekarang aku adalah anak yatim piatu karena orang tuaku meninggal saat aku kecil, jadi yang merawatku sekarang adalah Iruka-sensei. Aku punya banyak teman di sekolah. Ada Sai si senyum palsu yang selalu menjahiliku. Aku benci sekali dengannya apalagi dengan senyum menakutkannya itu. Lalu ada Sakura-chan, gadis cantik yang-

"Woadoww!!"

"Ne, ne Baka Naruto. Apa yang kau tulis itu?" tanya Sakura seusai menjitak keras kepala pirang Naruto.

"Hiee, Sakura-chan sakiiitt.. aku kan hanya menulis tentang diriku saja kok," ujar Naruto sembari mengusap kepalanya yang kini dihiasi oleh segumpal darah beku alias benjolan.

"Memangnya kau pikir ini pelajaran curhat apa? Naruto, Naruto, kau makan apa sih pagi ini? Sampai tidak mendengarkan perkataan Yamato-sensei tadi. Kita kan disuruh-"

"Iya aku tahu ko', aku kan pengen beda sendiri pengalamannya," potong Naruto memasang tampang tak bersalah.

Sakura geram sendiri mengurusi teman bodohnya yang satu ini, dia memilih meninggalkan Naruto yang sukses terbengong karena berhasil dicuekin Sakura.

"Yo, Naruto!!" teriak Kiba tepat ditelinga Naruto, berhasil menariknya dari alam bengongnya tadi. Kiba Inuzuka adalah salah satu sahabat akrab Naruto, bukan akrab lagi melainkan sangat sangat akrab.

"Hahaha tampangmu, benar-benar tidak elit," tawa Kiba menggema di ruang kelas, berhasil membuat semua mata murid – murid tertuju pada bangku Naruto, tempat Kiba tadi berdiri.

"Huh. Apa maumu Kiba? Mau mengangguku juga?" Naruto merengut kesal, tak habis pikir. Tadi Sakura sekarang Kiba, nanti siapa lagi yang akan merecokinya.

"Haha, bad mood yah abis digetok Sakura. Jarang sek-"

Suara 2 speaker yang terpasang di 2 sisi ruang kelas Naruto menghentikan kata – kata Kiba, Kiba hanya mendengus kesal, omongannya diserobot oleh suara speaker yang menurutnya sangat aneh itu.

Teng Tong Ting Tong (Bunyi speaker pengumuman yang dipasang di tiap-tiap kelas)

'Selamat pagi anak-anak. Yosh, salam semangat masa muda! Ehem, ehem. Perhatian, perhatian kepada semua murid anggota ekskul pecinta alam, harap berkumpul di perpustakaan sepulang sekolah nanti. Sekali lagi, kepada semua murid anggota ekskul pecinta alam, harap berkumpul di perpustakaan. Sekian dan terima kasih. Yosh, salam semangat mudaaaa!!!'

Ngiiiiiiiiiiiiiiinnnnng…

Spontan semua anak - anak menutup kedua telinganya, enggan menerima suara memekakkan telinga itu. Naruto pun ikut-ikutan. Kedua telinganya ia sumbat dengan penghapus. Lain halnya dengan Kiba, dia ternyata lebih aneh lagi, bisa-bisanya ia membuka kedua sepatunya secepat kilat dan menempelkan bagian telapaknya ke kedua telinganya. Benar – benar aneh.

Kurenai-sensei yang menyaksikan tingkah laku keduanya dari ambang pintu hanya terkikik pelan. Semua murd pun yang tadinya sibuk menutup telinga mereka, kini menatap aneh pada Kurenai-sensei. Jarang sekali guru Biologi ini tertawa. Tidak hanya itu, tersenyum saja jarang ia tunjukkan. Apa karena ia sudah menikah dengan Asuma? Pikir anak-anak yang tentu saja dalam hati. Kurenai-sensei tersadar dari tindakan tabunya, ia menatap lembut ke murid-muridnya, lalu berjalan anggun menuju 'singgasana' seorang guru. Hal ini berhasil membuat anak-anak terbelalak, membuka mulut mereka (bagi yang sering terkena masalah dengannya termasuk Naruto), tak percaya dengan apa yang Kurenai-sensei lakukan pagi ini.

Sekolah adalah hal yang sangat melelahkan, menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk, mendengarkan guru dan menulis. Istirahat adalah 'dewa' bagi mereka yang tersiksa dengan kegiatan – kegiatan itu. Tapi ini semua hanyalah pendapat pribadi Naruto.

Pelajaran demi pelajaran sukses dilewati Naruto meski harus melawan segala kebosanan, sepertinya hal ini turut dirasakan murid-murid sekelas Naruto. Bel pulang seakan menjadi kunci pembuka sel kebosanan mereka.

Akhirnya bel yang ditunggu benar – benar berbunyi. Murid – murid terlonjak girang, guru pengajar hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tindakan 'liar' murid – muridnya, mulai dari yang berdiri diatas meja ataupun 'ngesot' dilantai kelas, benar – benar hal yang gila.

Tapi guru pengajar dapat memaklumi keadaan ini. Liburan akhir tahun adalah hal – hal yang paling dinantikan dan membuat bahagia semua orang, jadi wajar saja murid – murid kelewat senang. Naruto hanya menghela nafas sejenak sebelum beranjak dari kelasnya. Di luar kelas rupanya ada orang yang menantinya, seorang remaja laki – laki seumuran Naruto dengan tato di dahinya juga lingkaran tebal disekitar matanya. Ia berdiri menyender di dinding sambil menyilangkan kedua tangannya, sukses membuat gadis – gadis di sekelilingnya menjerit – jerit tak karuan. Yah, siapa lagi kalau bukan sahabat akrab Naruto yang satu lagi, Gaara no Sabaku, sahabat Naruto sejak TK.

Naruto menghampirinya, menepuk pundaknya seraya tersenyum. Tanpa berkata lagi, Naruto beranjak pergi meninggalkan Gaara menuju perpustakaan. Gaara yang mengerti maksud tepukan itu mengikuti langkah Naruto.

-

In the Library

-

"Yosh, semangat masa muda yang kian membara!!" Suara yang sama dengan yang didengar Naruto saat pelajaran Yamato-sensei berakhir, menggema di dalam perpusatakaan. Membuat sebagian orang kembali menutup telinga mereka seperti yang tadi pagi mereka lakukan.

"Maaf Gai-sensei, bisakah sensei mempercepat pertemuan ini?" Kiba membuka suaranya pertama kali. Ia sudah tidak tahan berdekatan dengan Gai-sensei.

"Tidak bisa! Kita harus menunggu Kakashi-sensei dulu," beberapa detik setelah Gai-sensei berkata demikian, seorang guru telah hadir di pintu masuk perpustakaan, guru yang memakai masker dan berambut silver, bernama Kakashi Hatake, wali kelas Naruto.

"Yo, semuanya maaf, aku ter-"

"Tidak usah dilanjutkan, Kakashi-sensei, kau pasti membual lagi," Sakura memotong perkataan Senseinya dengan sangat ' sopan'nya.

"Naruto ada?" Kakashi mulai mengalihkan pembicaraanya dengan Sakura.

"Tch, kebiasaan," Sakura mendengus kesal, sebelum mendudukkan dirinya kasar ke kursi di sisi kananya.

"Yosh, ada sensei!" sahut Naruto semangat. Ternyata pendapatnya tentang sekolah membosankan adalah salah, buktinya dia sendiri sangat menikmati tugasnya sebagai ketua ekskul pecinta alam. Setiap pertemuan ekskul ini, semangatnya akan kembali melonjak tinggi.

"Bagus, kau anak rajin. Lusa kita akan mengadakan acara berkemah dengan alumni – alumni ekskul pecinta alam yang dulu di gunung Myoboku," ujar Kakashi-sensei langsung ke inti pembicaraannya..

"Hiyeeee…!!!" semua terlonjak kaget terkecuali 2 sensei tadi.

-

September, 19 XXXX

-

Naruto's POV

"Narutoo..!! lama sekali sih," suara Sakura-chan mengalun sangat 'indah' ditelingaku. Membuatku tersadar dari lamunan bodohku.

Tap, tap

Langkah kaki seseorang terdengar jelas mendekat ke kamarku. Sepertinya ia menghampiriku sekarang.

"Tunggu sebentar," jawabku pelan, aku yakin dia dapat mendengarku karena jarak kami dekat.

Tak ada jawaban. Segera aku bergegas mengemasi ranselku, segala peralatan untuk berkemah telah tersimpan rapi di dalamnya. Aku pun beranjak dari ranjangku, memandang sekilas seisi kamarku. Aneh, perasaan apa ini? Rasanya aku seperti akan pergi lama sekali sampai rasanya perlu menyimpan memori tempat favoritku ini.

Kulirik sekilas foto keluargaku yang terpajang manis di meja belajarku. Foto yang selalu membuatku menitikkan air mata, tapi entah kenapa kali ini tidak. Huh, sebenarnya ada apa dengan diriku ini?

Kulangkahkan kakiku mendekati pintu, sekali lagi kembali kutatap seisi kamarku, sepertinya ada rasa enggan berpisah dalam hatiku. Aku mendengus kesal, mencoba mengusir pikiran bodoh ini.

Aku mencoba menarik nafas panjang, berusaha menenangkan hatiku. Kubuka pintu kamarku dan menatap kesekitar tempatku berdiri dan di luar kamarku. Tak ada siapa – siapa, pikirku. Padahal rasanya tadi ada yang kesini. Lantas aku langsung membeku di tempatku berdiri. Lalu itu siapa? Batinku kini bergejolak, keringat dingin membasahi dahiku. Oh, tuhan aku tak suka ini.

Tak sampai 3 detik kakiku sudah berpindah tempat, tanpa berpikir lama aku segera berlari secepat mungkin, meninggalkan ransel orangeku di depan pintu kamar, tidak ada perintah 'tengok kebelakang' lagi dalam otakku sekarang. Yang ada di otakku kini adalah, siapa tadi dan apa itu tadi.

End of Naruto's POV

"Uaaahhhh..!!" Naruto berteriak histeris sambil berlari liar menuruni tangga. Sakura yang sedang membaca majalah terlonjak kaget dan mengalihkan perhatiannya dari majalah ke Naruto yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya

"Ada apa?" Sakura bertanya cemas, ia bisa melihat wajah Naruto memucat.

"Eh, eh.. Tadi, tadi.. apa kau, eh.. ke kamarku?" Tanya Naruto tiba – tiba, tanpa menjawab lagi pertanyaan Sakura.

"Huft, malah balik nanya. Ga' tuh, memangnya ada apa?" Tanya Sakura.

"Eh apa ada orang selain kau disini?" Tanya Naruto balik tanpa menjawab pertanyaan Sakura lagi.

"Baka!! Hanya kau dan aku disini, cepat jawab pertanyaanku yang tadi!" Bentak Sakura tepat di telinga Naruto, heran kenapa temannya yang satu ini jadi mendadak aneh.

"Ne, Sakura-chan jangan marah. Hm, aku boleh minta tolong ga?" Naruto memohon, wajahnya benar-benar seperti anak kecil, Sakura jadi tak tega mengomelinya lebih jauh.

"Apa?"

"Temenin aku ambil ranselku yah,"

Dan sekali lagi kepala Naruto berhiaskan gumpalan daging 'karya' Sakura.

-

In Front of The School's Gate

-

Pagi yang cerah untuk hari pertama liburan akhir tahun adalah momen paling membahagiakan bagi semua orang. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku bagi serombongan pecinta alam dari SMA Konoha, terlihat sekali dari mereka raut wajah kekesalan. Naruto hanya mendelik kesal, ketika Gaara menepuk pundaknya. Sudah hampir 2 jam mereka menunggu guru 'kesayangan' mereka itu, Kakashi Hatake, yang tak lain tak bukan adalah guru pembina mereka dalam ekskul pecinta alam. Naruto menatap Gaara yang ikut duduk disebelahnya, heran kenapa Gaara bisa – bisanya tenang dalam keadaan seperti ini.

Naruto kemudian melirik teman – temannya yang lain. Ada Sakura yang asyik mengobrol atau lebih tepatnya bergosip dengan Tenten, salah satu alumni 'setia' ekskul pecinta alam yang ikut dalam rombongan ini, lalu Sai yang sedang diuji kesabarannya, karena Ino terus mengganggunya. Shikamaru pun sudah terlelap pulas di bawah pohon rindang dengan Chouji disampingnya sambil terus mengunyah, tak peduli remah – remah keripik yang mengotori bajunya. Lalu Kiba yang terlihat pundung karena Akamaru, anjing kesayangannya tidak boleh ikut acara berkemah ini. Shino yang asyik mengamati kupu – kupu yang berterbangan kian kemari, lalu yang terakhir Hinata yang memerah wajahnya ketika tak sengaja bertatap muka dengan Naruto, ia sedang duduk disamping Kiba, tampaknya ialah yang sedari tadi menghibur Kiba.

Tiin.. Tiin.. Tiin

Suara klakson mobil mengagetkan mereka, langsung saja mereka menghentikan semua kegiatan yang dari tadi dilakukan. Serentak semua anak yang menunggu berdiri memasang wajah marah dan kesal seakan ingin menelan hidup – hidup guru pembimbing mereka itu, Kakashi Hatake.

Namun itu bukanlah mobil, melainkan sebuah caravan berukuran besar dengan warna serba putih. Seorang pemuda berambut coklat panjang keluar dari dalam, wajahnya tampak familiar di mata Naruto dan kawan – kawan. Siapa lagi kalau bukan Neji Hyuuga, sepupu laki – laki Hinata Hyuuga.

"Kalian sudah berkumpul rupanya? Ayo lekas masuk ke Karavan. Aku tidak mau kita terlambat ke daerah perkemahan Myoboku," ujarnya dingin.

Semuanya terdiam, dalam hati mereka berbagai umpatan dilayangkan kepadanya, memangnya siapa sih yang datang terlambat? Batin mereka. Tanpa basa – basi lagi, serombongan pemuda – pemudi itu masuk ke caravan.

"Halo.. anak – anak maaf yah, kalian jadi lama menunggu, biasa aku.." Kakashi menyambut mereka dengan cengiran tak berdosa, namun kata-katanya kembali dipotong kasar oleh Tenten.

"Ya,ya Kakashi-sensei, nyasar ke jalan yang bernama kehidupan lagi kan? Ga kreatif banget sih jawabannya, pasti kalau terlambat, nyasar ke jalan itu, sekali – kali jalan kematian ke," celoteh Tenten panjang lebar tanpa menyadari tatapan penuh arti dari wajah teman – temannya. Tenten menyadari tatapan mereka, dia pun menjadi bingung sekarang.

"Ke, kenapa menatapku?" Tanya Tenten heran.

"Tidak, aneh saja kau berkata seperti itu," jawab Ino mewakili mereka semua

"Hh, sudahlah, lebih baik kalian menunggu sampai kita tiba ke daerah perkemahan." ujar Kakashi-sensei berusaha mencairkan suasana.

Akhirnya semua orang pun terdiam dan segera melakukan perintah Kakashi. Duduk tenang menunggu karavan tiba ke perkemahan.

-

-

-

"APAAA?! Kita masih harus berjalan 15 kilometer lagi," Teriak murid - murid SMA Suna itu serentak kecuali Shikamaru, Hinata dan Shino yang tentunya masih bertahan dengan sikap asli mereka.

"Wahh, berisikk!! Tapi aku suka semangat kalian," seru salah satu alumni yang turut ikut berkemah bernama Rock Lee. Penampilannya tak jauh beda dengan Gai-sensei, dulu sewaktu ia masih bersekolah di SMA Suna, dia dan Gai-sensei seakan tak pernah terpisahkan. Ia juga menjalin persahabatan akrab dengan Naruto.

"Hah, Lee bodoh," ujar Tenten menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas panjang.

"Ne, Tenten-chan sudah lama tak bertemu," seseorang menepuk pundak Tenten tiba-tiba, membuat gadis itu terlonjak.

"Sasori-senpai, ah, sudah lama kita tak bertemu. Ikut juga acara perkemahan ini?" Tanya Tenten, matanya sekarang berbinar – binar. Bagaimana tidak dihadapannya ada seorang pemuda tampan yang dulu menjadi idola di SMA Suna.

"Iya, itu Deidara, Temari dan Kankurou juga ikut," ujar Sasori sembari menunjuk Deidara, Temari dan Kankurou yang sedang asyik mengobrol dengan Kurenai-sensei.

"Waw, jadi semakin ramai dong!" seru Tenten senang.

"Iya, eh, ayo kita harus segera berkumpul dengan yang lain," ajak Sasori sembari melangkah lebih dulu dari Tenten, Tenten pun mengikutinya dari belakang.

Rombongan itu berkumpul, bersiap berjalan jauh demi mencapai tempat perkemahan yang telah direncanakan. Sang penunjuk jalan berjalan terlebih dahulu di depan mereka disusul Kakashi-sensei dan Kurenai-sensei yang membimbing anak-anak agar berjalan hati-hati, dibelakang mereka para alumni-alumni yang asyik bercengkrama setelah sekian lama tak bertemu, tak lupa dengan beberapa guru.

-

-

-

"Temperatur udara berubah, apa kalian masih ingin melanjutkan perjalanan?" Tanya penunjuk jalan sambil memeriksa kompas yang ada ditangannya, takut – takut mereka tersesat

"Jika dilanjutkan apa cukup berbahaya?" Kakashi balik bertanya.

"Saya tak yakin, takutnya kabut ini menghambat perjalanan kalian, lagi pula kompas mungkin saja tak berfungsi di tengah cuaca begini," ujar penunjuk jalan itu.

"Hn, apa masih lama lagi perjalanannya?" Tanya Kakashi sembari melirik peta yang turut dipegang si penunjuk jalan.

"Kira-kira 8 kilometer lagi,"

"Masih jauh juga, tak ada tempat beristirahatkah disini?"

"Ada tapi sekitar 7 kilometer lagi,"

'itu sih sama saja, ' batin kakashi.

Kakashi membalikkan badannya menghadap rombongan dibelakangnya yang nampak beristirahat. Menyuruh mereka segera bersiap – siap untuk melanjutkan perjalanan, hanya dengan isyarat tangan rombongan itu kembali melangkahkan kaki mereka menyusuri jalan setapak yang membelah hutan di kaki gunung Myoboku itu.

-

-

-

Petir menggelegar membelah langit sore itu, serombongan manusia terlihat berteduh dibawah pohon besar yang cukup rindang. Hujan deras mengguyur sekeliling mereka, membasahi baju dan segala perlengkapan yang mereka bawa. Si penunjuk jalan terlihat kebingungan, dia terus menerus mondar - mandir tak jelas sambil menggumamkan sesuatu. Kakashi yang melihatnya malah menjadi semakin khawatir, jangan – jangan ada yang ia sembunyikan dariku, pikir Kakashi.

Beralih ke murid – muridnya, tampak sekali Shikamaru memanfaatkan momen istirahat 'terpaksa' ini dengan tidur, lalu Chouji yang asyik menggerogoti tulang ikan bekal dari rumahnya, Naruto yang asyik tertawa riang dengan Sasori dan Deidara, Tenten dan Hinata yang sedang asyik mengobrol dengan background suara Lee dan Gai-sensei yang sedang berteriak menyemangati mereka semua. Diantara semua orang yang diperhatikannya, hanya Sakura yang berhasil membuatnya tercengang, mata hijaunya terus menatap ke arah timur dari pohon tempat mereka berteduh, mata yang menyiratkan rasa penasaran. Gaara yang disampingnya turut menatap ke arah itu. Penasaran ia mencoba menghampiri kedua orang itu, sebelum seseorang menepuk pundaknya.

"Maaf tuan, sepertinya saya tak akan sanggup menemani tuan hingga sampai ke perkemahan," ujar si penunjuk jalan sembari membungkuk meminta maaf.

"Maaf tuan saya permisi dulu," lanjut si penunjuk jalan sembari berjalan tergesa-gesa, meninggalkan Kakashi juga yang lainnya yang tak henti-hentinya memanggil si penunjuk jalan itu.

'Aku masih mau hidup, maafkan saya Kami-sama yang telah membiarkan mereka semua menuju jalan kematian' batin si penunjuk jalan yang tentunya sekarang sudah berlari-lari meninggalkan mereka semua, tanpa menyadari sepasang mata merah menatapnya dari balik pepohonan.

Sepasang mata itu melesat menghampiri si penunjuk jalan tadi, yang tentu saja membuatnya kaget bukan kepalang. Mata sang penunjuk jalan membulat lebar. Dia yang menunggui jalan kematian telah tiba dihadapannya. Sorot mata yang berwarna merah dengan senyuman iblis yang tersungging di bibirnya menambah kesan sangat menakutkan pada wajah tampannya.

CRAAASSSSHHH!!!

-

-

-

Gagak – gagak hitam berterbangan dari atas pohon rindang tempat mereka berteduh, hawa dingin mulai terasa menusuk tulang mereka, pakaian yang telah basah kini tak bisa lagi jadi pelindung dan penghangat tubuh mereka. Gaara masih terpaku ke arah langit, pemandangan gagak tadi telah menjadi pikirannya. Perasaan aneh mulai menjalari otaknya, ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi ia tak akan pernah tahu perasaan apa itu.

Di tempat lain 1 kilometer dari pohon tempat berteduh itu, sesosok bayangan menyeringai seram menatap sinis tubuh sang penunjuk jalan yang tergeletak tak berdaya di kakinya. Tepat di jantungnya tertancap Stakes yang menjadi penyebab kematiannya. Stakes yang kini berlumuran darah dicabut secara paksa oleh sang bayangan meninggalkan lubang pada dadanya itu. Sang bayangan menjilati Stakes itu, mencoba mencicipi darah 'dewa' penolong baginya. 'Dewa' yang telah mempertemukan takdirnya dengan takdir dia.

-

-

-

Hari pun beranjak malam. Hujan sudah berhenti dari tadi berganti menjadi nuansa gelap penuh suara burung hantu dan jangkrik. Serombongan manusia yang tersesat itu masih tetap bertahan di bawah pohon tempat mereka berteduh tadi. Membuat api unggun dan duduk mengitarinya, mencoba memperoleh kehangatan dari sana. Semuanya terdiam merasa tak pantas berbicara pada keadaan ini, keadaan dimana mereka berada di ambang hidup dan mati.

Gaara mendelik gelisah, ia bisa merasakan tengkuknya merinding. Neji yang duduk disebelahnya dapat merasakan gerakan gelisah Gaara, ia memandangi Gaara sejenak sebelum erangan kecil dari mulut Hinata mengagetkannya. Yah, Hinata tertidur di pangkuannya, sebelumnya ia terlebih dahulu tidur dengan bersandar pada bahu Tenten.

Diam masih menjadi kegiatan favorit mereka. Tak disangka sesosok pria muda datang menghampiri mereka.

"Selamat Malam tuan dan nona, maaf apakah anda semua sedang tersesat?" Tanya si pemuda yang berambut panjang dan bermata onyx, dilihat dari fisiknya umurnya sama seperti Deidara, Sasori dan Temari.

"Eh, iya kami tersesat. Maaf anda siapa?" Tanya Asuma-sensei ragu yang kebetulan berada di dekatnya.

"Saya orang sini, sepertnya anda sedang butuh sesuatu. Bisa kubantu?" tawar si pemuda asing itu.

Semua serentak menautkan alis mereka. Pertanda heran dengan orang asing ini. Sementara orang – orang yang berpikiran pria itu adalah hantu malah bersembunyi di belakang temannya yang lain seperti halnya Kiba dan Naruto.

"Oh, maaf namaku.. namaku.. Itachi Uchiha, maaf tidak memperkenalkan diriku terlebih dahulu," ujarnya sopan seraya membungkukan tubuhnya pertanda minta maaf.

"Oh, tidak apa – apa hanya kaget saja ada orang yang berniat baik begitu, tapi benar kami butuh bantuan," ujar Kurenai-sensei yang kini berdiri di sisi suaminya itu.

"Kalian bisa ke desaku sekarang. Desaku tidak jauh dari sini. Mari kuantar," tawar Itachi ramah sambil sekilas melirik Naruto. Yang dilirik justru hanya tercengang. Mata yang dilihat Naruto sekarang berbeda dengan mata yang dilihatnya tadi, mata yang berwarna merah darah.

Rombongan itupun mengikuti langkah Itachi berjalan menuju arah timur dari pohon tempat mereka berteduh. Sakura sedikit canggung, dalam hatinya sempat terukir beberapa pertanyaan, bukankah tadi disini tidak ada desa, tanya Sakura tentu saja dalam hati. Gaara yang berada 5 meter di belakangnya turut merasakan apa yang dirasakan Sakura.

Rombongan itu menelusuri jalan yang lebih lebar dari setapak yang dilalui tadi. Dalam keadaan malam, mereka masih dapat melihat remang – remangnya suasana desa di depan mata mereka. Desa yang memiliki gerbang sangat besar dengan beberapa orang berjejer di pinggirnya, seperti menyambut tamu terhormat.

"Selamat datang di Konohagakure," sambut mereka serentak, senyum ramah tersungging di bibir mereka.

Shikamaru yang tadinya hanya bermalas – malasan kini telah membuka matanya lebar – lebar, heran dengan penampakan di depan matanya.

Seorang kakek yang turut berdiri di pinggir gerbang itu menatap ketakutan dan gemetaran ke arah rombongan itu, mulutnya terus menggumamkan kata – kata dengan sangat pelan.

"lari, lari.. lari.. jangan kesini, jangan kesini.. lari.. lari.." gumam kakek itu.

Deidara, Neji, Sakura dan Shino yang kebetulan melewati kakek itu hanya memandang heran padanya. Kenapa ia menyuruh lari, pikir mereka. Tak sampai berpikir apa – apa, Itachi muncul dihadapan mereka sembari merangkul kakek itu.

"Eh maaf, kakek memang seperti itu orangnya, dia suka berbicara seperti itu, kemarin dia baru saja kehilangan cucunya, jadi yah seperti ini kondisinya," ujar Itachi panjang lebar, berusaha meyakinkan keempat orang tersebut.

Mereka mengangguk tanda mengerti dan bergegas mengikuti yang lainnya berjalan memasuki area desa. Mereka tak melihat, Itachi dengan matanya yang merah memandang tajam pada si kakek, seakan ingin melelehkan jiwa tak tentram sang kakek itu, yang hampir membuat semua rencananya gagal.

Gaara memandang aneh ke area yang baru dimasukinya. Desa ini seperti tak hidup, pikir Gaara.

Itachi berdiri di hadapan rombongan itu dan memulai penyambutan mereka.

"Selamat datang di Konohagakure, silahkan anggap saja seperti kota kalian berasal," Itachi membungkukkan badannya tanda menghormat.

Itachi lekas memanggil 2 orang yang tadi ikut menyambut mereka di gerbang desa. Setelah terlibat pembicaraan singkat antara 3 orang itu. 2 orang tadi yang ternyata bernama Narumi dan Sora menyuruh rombongan itu mengikuti mereka menuju sebuah penginapan.

Gaara menjadi orang terakhir yang berada di rombongan itu sempat membalikkan badannya mencoba menatap Itachi kembali. Tapi apa yang diliatnya sungguh berbeda dengan yang tadi.

'Orang-orang yang tadi.. wajah mereka. '

Gaara kembali memfokuskan matanya melihat sosok Itachi yang kini menyeringai licik kepadanya.

'Orang ini…'

The Nightmare will begin

They who enter the village can't escape from this reality

They will be trapped in there

Forever…

Only Death can make them free from all of his pain

His pain as The Altar Guardian

WARNING!!!

Untuk Chapter-chapter selanjutnya, bakal ada karakter yang mati. jadi untuk reader maaf yah jika ada yang kecewa jika chara favornya mati. tapi inikan fanfic, toh ga mati beneran charanya. Hehehe :D

Stakes : Pernah main Fatal Frame 3? Tahu kan senjatanya Handmaidens? Yang buat makuin Tattooed Priestess? Yang jadi tujuan Kei deh di Hour 12? Haha jadi banyak deh cluenya. Yang ga tahu coba bayangkan saja sebuah batang besi yang ujungnya runcing. Yah seperti paku berukuran besar dan panjangnya kira – kira 3\4 dari stik drum, kalau kurang deskripsinya tanya sama saya lagi.

Apa ada typo atau miss lainnya? Mohon bantuannya dengan memberitahu saya , setidaknya saya bisa memperbaikinya.

Oh yah saya akan mencoba menjawab review dulu dari para Readers dulu,

- Light-Sapphire-Chan : Hehe, iya fic pertama saya. Makasih sudah membaca dan mereview. Saya harap tidak mengecewakan Light-san. Hehehe. Oh Hellish Abyss yah, iya mirip sama lubang yang dimaksud Light-san tadi, tapi mungkin ukurannya rada kecilan.

- SasuYuki. Kurohana Sakurai : Makasih sudah dibaca dan direview, semoga fic ini tidak membuat anda kecewa. Haha iya, jadi nostalgia dong. Saya malah ketinggalam jaman, baru – baru ini main game itu :D.

- Apple Chips : Makasih sudah dibaca dan direview. Iya, makasih sudah diberitahu, akan saya perbaiki nanti.

- Raiko Azawa : Makasih sudah dibaca dan direview. Haha, iya saya usahakan tidak hiatus ko', tapi tergantung dari tugas – tugas sekolah juga, hehehe :D

- Furu-pyon : Makasih sudah dibaca dan direview, eh benarkah? Makasih lagi deh :D

- Azuka Kanahara : Makasih sudah dibaca + direview. hehe, iya kita temenan :D. O'oh Azuka-san main FF X-2 juga, saya juga main tapi belum sampai situ :'(. Pokoknya yang mati itu Mayu, soalnya saya baru namatin tuh game awal liburan jd masih anget di otak. Hm, kalau tentang itu bakal dibahas di chapter – chapter selanjutnya, yang chapter 1 itu baru prolog aja. Kalau diceritakan detail ga jadi rahasia lagi dong kedepannya hehehe :D. Aduh maaf yah, saya tidak tahu. Tapi walau Itachi mati, eksistensinya masih ada ko' hehehe:D malah dia tokoh utamanya. hehe

- Ao : Makasih sudah dibaca + direview. haha iya tapi lebih serem lagi Fatal Frame 3, lebih banyak yang mengejutkannya. Saya ajah sampai ga bisa tidur + jadi orang kagetan abis maeninnya hehehe jadi curhat dah :D

- IiI-ecchan : Makasih sudah dibaca + direview. haha jadi banyak yah yang nostalgia ma Fatal Frame, saya jadi malu baru mengenal game itu hehehe.. oh yah nanti saya usahakan baca yah. Hehehe :D

- Rei Kuroshiro : Makasih sudah dibaca + direview. oh yah ini udah update.. baca yah..

- Erune : Makasih sudah dibaca + direview. hehe deg-degan, sama saya juga deg-degan pas bikin ini, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya hehehe :D

Fiuhh selesai chapter 2, yah disini adalah masa depannya dari chapter 1, yah 500 tahun kemudianlah. Oh yah enjoy it.. ya

Akhir kata

Review Please…

,