Perjalan pulang sekolah selalu melelahkan menurutku. Seluruh badan ku penat, apalagi setelah jam olahraga dan pelajaran tambahan. Berjalan kaki dengan tenang, sendirian ditengah ramainya jalan saat jam pulang kerja.

Ugh, orang-orang itu membuatku merasa pusing. Ditambah suara klakson mobil disana sini. Rasanya perutku mulai mual.

Tapi entah kenapa ada yang berbeda dengan sore ini. Jalanan tidak sepadat biasanya, tidak banyak orang melintas, jalan raya terlihat lancar dan lagi jalanku tidak terlalu terhambat oleh orang orang. Udara sore yang segar, serta senja diujung jalan sana sangat indah. Aku jadi rela berhenti di lapangan taman hanya untuk duduk dan menikmatinya.

Sangat menenangkan, melihat senja tanpa suara bising, kadang aku berfikir sebaiknya aku pindah ke pedesaan saja. Tapi itu berubah sampai aku melihatmu, berjalan dari arah utara dengan tenang.

Bagaimana menggambarkanmu? Kau sungguh indah. Dengan seragam sekolah tak rapi yang terlihat cocok untukmu. Kemeja diluar dan tidak dikancingkan, tas sekolah melekat di punggung, kedua tangan didalam saku celana. Wajahmu yang menunduk dan rambut keemasanmu karena senja. Kau sempurna.

Aku yakin aku menahan nafasku dan tak berkedip sampai melihatmu duduk tak jauh dariku, dengan kedua tangan menahan tubuhmu. Kau menatap senja diujung barat. Sadar tak sadar aku mulai menghadapkan tubuh ku padamu.

Melihat senyum tipismu dari samping saja sudah membuatku tak karuan. Kenapa kau tersenyum? Apa karena senja itu? Kau terlihat bahagia.

Perpaduan antara kau dan senja sangatlah sempurna. Menyesakkan dan menghangatkan. Membuatku tak tahan untuk tidak menarik kedua sudut bibirku. Kau tidak melakukan apapun saja sudah membuatku tersenyum. Bahkan jantungku berdegup kencang. Aku pasti gila.

Senja aku abaikan, hingga kau beranjak setelah langit menggelap, dengan aku yang tidak mengalihkan pandanganku darimu sama sekali. Aku lupa kalau matahari sudah terbenam.

Mungkin ini saatnya berpisah. Aku ikut beranjak setelahmu tak terlihat.

Dan mungkin tidak benar-benar berpisah. Aku menemukan mu. Aku yakin itu dirimu. Rambut hitam legam, seragam yang sama, tas punggung, postur tubuh, kedua tangan di saku celana. Oh Tuhan. Aku mencintaimu.

Mulai sekarang aku berjanji akan berangkat sepagi ini. Karena melihatnya diseberang jalan sepagi ini adalah hal terbaik. Mood ku tidak pernah sebaik ini saat pagi hari. Terimakasih pula kepada sahabatku diseberang jalan sana yang memaksaku untuk menemaninya berangkat pagi. Sehingga aku tersenyum begitu lebar. Kicauan burung pagi dan mentari yang malu-malu muncul membawaku untuk melambaikan tangan dengan semangat.

Dan aku tahu, ketika aku berhenti didepan mu, aku yakin, aku akan bertemu lagi denganmu, Tuan tanpa nama.