DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika, they're belong together^^
SUMMARY :
I love you…no matter what
I want to be with you…always
I will fight for you…, and for us
WARNING :
OOC. FemKura. Flashback sequel, set after I Love You Honestly.
A/N :
Terimakasih banyak untuk semua review dan ide-ide hebat yang telah diberikan oleh para readers pada chapter sebelumnya.
Happy reading^^
.
.
.
PREVIOUS CHAPTER :
Sejak pengakuan cinta pada malam itu, Kuroro dan Kurapika selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Di mana pun…kapan pun. Tanpa disadari, hubungan rahasia ini menyebabkan perubahan pada diri mereka masing-masing. Gon cs dan Gen'ei Ryodan pun bertanya-tanya, dan berniat untuk melakukan penyelidikan.
.
.
CHAPTER 2 : INVESTIGATION
Kuroro turun dari mobilnya. Saat ini ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas yang terbuka, lalu celana panjang berwarna krem dan sepatu hitam. Rambutnya yang hitam berkilau dibiarkan jatuh, serta tak lupa kain putih yang selalu setia menutupi tanda di keningnya dalam penampilan yang natural seperti ini.
Kuroro melangkah menuju sebuah gedung yang tampak ramai. Ada sebuah pameran properti diselenggarakan di sana.
Ia melihat-lihat beberapa stand lalu berhenti pada salah satu di antaranya. Orang-orang yang tengah berada di tempat itu menoleh dan terpukau melihat penampilan Kuroro.
Seorang pegawai wanita tampak sedang membereskan brosur hingga tak melihat kedatangannya. Ia memiliki rambut yang panjang dan mengenakan seragam berwarna ungu muda. Seulas senyuman tersungging di bibir Kuroro. Wanita itu mengingatkannya pada penampilan Kurapika saat menculiknya dulu.
"Permisi Nona," sapa Kuroro dengan sopan.
Wanita itu membalikkan badannya. Pipinya merona melihat senyum menawan di wajah tampan pria itu.
"Ah…selamat siang Tuan, silakan melihat-lihat," jawabnya sambil memberikan beberapa brosur.
Kuroro melihat-lihat brosur yang diberikan wanita itu. Tapi tak ada satupun yang menarik perhatiannya.
"Sebenarnya aku menginginkan tempat terbaik dengan privasi yang penuh," katanya.
Wanita itu tampak terkejut. Ia segera mohon diri untuk memanggil atasannya. Tak lama, datanglah seorang pria mengenakan setelan jas abu-abu. Sepertinya umur pria itu lebih tua beberapa tahun dari Kuroro. Di ID card-nya tertulis nama Cash J. William.
William membuka sebuah album foto. "Kami mempunyai beberapa unit yang istimewa," katanya.
Kuroro melihat-lihat dengan cepat lalu menentukan pilihannya. Ia menunjuk salah satu foto di album itu.
"Ini. Bawa aku ke sini sekarang, aku ingin melihatnya," ucap Kuroro.
William tertegun melihat pilihan Kuroro. "Ngg…tapi Tuan, harga tempat ini…"
"Itu tidak masalah bagiku. Harga yang pantas untuk tempat yang pantas bukan?"
"Ya, tentu saja Tuan! Baiklah, mari kita pergi ke sana sekarang."
Kuroro dan William pun melangkah ke luar gedung menuju tempat mobil mereka diparkir.
Sementara itu dalam suatu ruangan di gedung sebelah, seseorang berambut cokelat terang sedang mengintai dari balik jendela. Di belakangnya tampak dua orang pria yang salah satunya memegang pedang samurai.
"Kenapa kita harus mengikuti Danchou?" bisik pria itu yang ternyata adalah Nobunaga. Ia terlihat sangat kesal.
"Jangan tanya aku," kata Shalnark sambil menyesuaikan jarak pandang teropongnya. Ia menolak usul anggota Gen'ei Ryodan lainnya untuk mengintai Kuroro dalam jarak dekat. Menurutnya, tempat yang dipilihnya untuk pengintaian saat ini memiliki jarak yang cukup aman walaupun bukan tanpa resiko. Shalnark dan kedua temannya tetap harus menyembunyikan Nen mereka selama melakukan pengintaian.
"Bukankah menurut rencana awal kita semua mengikuti Si Pengguna Rantai dan menyelidikinya?" Nobunaga berkata lagi.
"Alasannya sudah jelas," kata Feitan yang berdiri di sampingnya. "Emosimu akan menghancurkan semuanya!"
"Salah sendiri kenapa dia membunuh Ubogin, lalu Pakunoda! Sekarang, entah apa lagi yang sedang dilakukannya pada Danchou!"
"Sst…!" tiba-tiba Shalnark berbisik untuk menghentikan perdebatan mereka. Ia menoleh pada Feitan. "Kau sudah memasang alat pengintai di mobil Danchou dengan benar 'kan?"
"Kupasang sesuai instruksi," jawab Feitan dengan pasti.
"Sebab mereka mulai bergerak pergi. Mobil Danchou bergerak mengikuti mobil pria berjas abu-abu itu."
Shalnark mengalihkan perhatiannya ke arah laptop yang berada di sebelah kiri lalu mengaktifkan webcam laptop itu. Video pun muncul.
"Danchou akan pergi ke mana ya?" Nobunaga bertanya-tanya.
Tampak di video itu, mobil Kuroro menyusuri beberapa jalan raya yang ramai, lalu bergerak menjauhi pusat kota menuju ke dataran yang lebih tinggi. Jalanan yang dilaluinya menjadi lebih sepi. Terdapat beberapa rumah yang berukuran cukup besar terletak di sisi kanan dan kiri jalan dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Beberapa saat kemudian mobil pun berbelok dan berhenti di depan sebuah pintu gerbang. Alhasil alat pengintai yang dipasang Feitan hanya mampu memberikan tampilan gambar sampai ke situ.
Shalnark membuka halaman peta di laptopnya. Ia terkejut melihat posisi di mana Kuroro berada sekarang.
"Apa yang Danchou lakukan di sana?" kali ini Feitan yang bertanya-tanya.
Shalnark menunjuk suatu titik di peta.
"Lihat…di sini ada danau. Berdekatan dengan titik ini," jelasnya.
Ia pun membuka halaman baru di layar dan memasukkan alamat yang dimaksud lalu menyelidikinya di internet. Tampaklah sebuah foto, berupa rumah besar di pinggir danau.
"Wah, bagus sekali!" komentar Nobunaga. "Mungkin Danchou akan membeli tempat itu untuk markas kita!"
Tidak mungkin, batin Feitan.
Sementara itu, Shalnark pun mengernyitkan dahi. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Apakah tiba-tiba Danchou ingin hidup menetap di kota ini? Shalnark bertanya dalam hati. Tapi tidak mungkin Danchou begitu. Ahh….aku bingung! Ada apa sebenarnya?
.
.
"Ini properti terbaik kami," William menjelaskan.
Kuroro berjalan di samping pria itu dan menghirup napas dalam-dalam. Udaranya masih terasa segar.
"Pemandangan di sini sangat indah…ditambah dengan danau yang tak kalah memukau. Mengenai privasi, Anda dapat melihat sendiri tadi…pintu gerbangnya pun berada cukup jauh di depan."
Memang, lokasi tempat itu cukup istimewa. Setelah melewati gerbang, terdapat jalan berbatu halus dengan pepohonan di pinggirnya. Di sebelah kiri, ada danau yang tampak asri dengan pemandangan indah mengelilinginya.
Kuroro menoleh ke arah rumah yang terletak tak jauh dari situ. Rumah itu berdesain modern dan memiliki banyak dinding kaca.
Ia segera melangkah menuju rumah itu. Dengan agak tergopoh-gopoh William mengikuti langkahnya.
William memijit kode tertentu di salah satu perangkat alat pengaman yang terletak di dekat pintu masuk, lalu pintu pun terbuka otomatis.
"Rumah ini telah dilengkapi dengan sistem pengamanan tingkat tinggi," jelasnya bangga.
Kuroro tersenyum tipis.
Tanpa pengamanan seperti itu pun aku dapat melindungi diriku sendiri, ucapnya dalam hati.
Saat masuk ke dalam, Kuroro langsung disambut dengan suasana rumah yang nyaman. Ia melangkah di atas jembatan kayu dengan kolam di bawahnya dan beberapa lampu kecil menyala redup di tepi kolam itu.
Ketika sampai di ruangan berikutnya, lampu menyala otomatis.
"Anda tidak perlu bersusah-payah menyalakan lampu saat malam tiba," jelas William lagi. "Karena jika pengaturan lampu otomatis diaktifkan, lampu akan menyala sendiri saat menangkap gerakan kita masuk ke ruangan…lalu mati dengan sendirinya saat kita meninggalkan ruangan."
"Praktis sekali," komentar Kuroro. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah grand piano berwarna hitam di sudut ruangan.
"Kenapa ada piano di sini?" Kuroro bertanya sambil menghampiri piano itu dan membuka tutupnya.
"Ah…itu grand piano yang ditinggalkan oleh pemilik lama tempat ini," jawab William.
Kuroro menekan beberapa tuts piano itu lalu memainkan sebaris nada. Benar-benar grand piano yang bagus dan berkelas.
William melihat ketertarikan di wajah Kuroro.
"Aku akan dengan senang hati memberikan piano itu sebagai bonus jika Anda jadi membeli tempat ini," katanya sambil tersenyum.
Kuroro membalas senyumannya. "Bagaimana dengan kamar tidur utama?"
Mendengar hal itu, William mengajak Kuroro ke lantai atas dan langsung menuju ke kamar tidur utama.
Kamar itu memiliki ukuran yang luas, dengan dinding kaca yang menghadap ke arah danau…membuat sinar matahari dapat masuk dengan bebas.
"Apakah Anda akan tinggal sendiri di sini?" tanya William.
Kuroro menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan tinggal bersama seseorang," jawabnya.
Ya…seseorang yang sangat cocok dengan semua cahaya di rumah ini, ia berkata dalam hati.
Kuroro mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia dapat melihat bayangan Kurapika tertawa ceria dengan bermandikan kemilau sinar matahari.
"Aku akan membeli tempat ini," ucap Kuroro sambil tersenyum puas.
William terlihat sangat bahagia. Ia menjabat tangan Kuroro dengan erat.
"Terimakasih, Tuan! Aku jamin, pasangan Anda pasti akan sangat menyukai tempat ini. Kalau begitu kita tinggal mengurus berkas-berkas yang diperlukan. Oya, siapa nama Anda Tuan?" tanya William dengan penuh semangat.
"Ah…kurasa itu tidak perlu."
"Tapi…tak mungkin kita dapat mengurus semuanya jika Anda menolak untuk memberitahukan nama Anda."
Kuroro menatap William. Kebingungan terlihat jelas di wajah pria itu. Bercampur dengan rasa kekhawatiran, karena William takut kehilangan pembeli yang sangat menjanjikan hanya karena masalah nama.
"Aku…Kuroro Lucifer," akhirnya Kuroro berkata.
William terperangah. Siapa yang tak tahu nama kriminal itu?
Kuroro membuka kain putih yang ia kenakan, menampakkan tanda di keningnya.
William berdiri mematung. Matanya membelalak dan tubuhnya bergetar hebat. Kini ia mengerti mengapa Kuroro berkata bahwa namanya tidak penting untuk diketahui. Kuroro Lucifer berasal dari Kota Bintang Jatuh, di mana penduduknya adalah orang-orang terbuang sehingga tidak akan ada data resmi mengenai mereka di dunia ini.
"Aku akan mentransfer sejumlah uang sesuai dengan harga yang kita sepakati," kata Kuroro lagi dengan nada suara yang monoton.
Walaupun ruangan kamar itu dipenuhi dengan cahaya matahari, namun tak mampu menutup aura gelap yang menyelimuti Kuroro.
William masih tak bisa berkata-kata.
Kuroro melanjutkan ucapannya, "Tuan William, uruslah semuanya. Aku akan sangat kecewa padamu jika aku tidak bisa memiliki tempat ini."
.
& Skip Time &
.
"Baiklah, kita menyebar," kata Machi.
Semua anggota Gen'ei Ryodan langsung bergerak pergi ke arah yang berbeda-beda. Mereka berhenti di setiap persimpangan jalan, mencoba merasakan kehadiran Kurapika Si Pengguna Rantai.
"Uhh...di mana ya dia?" tanya Shizuku pada dirinya sendiri. Ia berhenti di depan sebuah toko buku lalu masuk ke dalam bersama Franklin. Beberapa orang anak kecil menangis keras karena melihat Deme-chan yang dipegang Shizuku di tangan kirinya. Mereka semakin ketakutan melihat penampilan Franklin.
Sementara itu Bonorenof dan Coltopi masuk ke wahana rumah hantu di sebuah taman bermain. Mereka menyamar menjadi salah satu boneka di sana sambil memperhatikan pengunjung yang datang. Tentu saja Bonorenof menjadi mumi. Sedangkan Coltopi, dengan hanya kedipan mata dan penampilan yang biasanya pun para pengunjung wahana itu sudah cukup ketakutan dibuatnya.
Phinx berlari menyusuri trotoar di pinggir jalan raya dengan pakaian dan sepatu olahraga yang dikenakannya. Bahkan ia pun sempat akan memasuki sebuah pusat kebugaran, namun tidak jadi karena ia sadar bahwa Kurapika bukan tipe gadis yang senang berada di tempat seperti itu.
Di taman, Shalnark duduk sambil membuka laptopnya. Ia memasuki data sistem keamanan kota sehingga dapat melihat berbagai tampilan dari video-video keamanan yang tersebar di seluruh kota. Ia pun dapat melihat pergerakan beberapa orang anggota Gen'ei Ryodan lainnya melalui tampilan video itu.
Bagaimana dengan Nobunaga? Dia berlari tak terkendali di jalanan, memasuki setiap gedung sambil memusatkan energi mencoba merasakan kehadiran Kurapika.
Tak jauh dari sana, Machi melompati atap-atap bangunan dengan lincah sambil memperhatikan pemandangan di bawahnya.
Aku harus menemukan Gadis Pengguna Rantai itu, batinnya. Aku tak akan membiarkan dia melakukan sesuatu yang buruk pada Danchou dan menghancurkan Gen'ei Ryodan!
Lalu kelompok terakhir – Feitan dan Hisoka – mereka memasuki tempat manapun yang diinginkan sambil memuaskan nafsu membunuhnya. Sudah beberapa kali Hisoka melemparkan kartu-kartu miliknya hingga membuat beberapa orang terbunuh.
Pencarian ini menyenangkan juga, kata Hisoka dalam hati dengan senyuman khasnya yang mengerikan.
.
.
Kurapika asyik membaca buku sejarah yang baru saja dibelinya. Saking asyiknya, Kurapika sampai tak sadar ada tiga pasang mata yang memperhatikannya.
Gon menengadah melihat jam dinding di ruangan itu. "Sudah jam tiga," gumamnya.
"Oh iya, waktunya makan kue!" kata Killua sambil membalikkan badannya hendak menuju dapur. "Muffin cokelat, aku dataaang..."
Leorio segera menarik tangan Killua dan menatapnya tajam. "Hei! Bukankah kau yang mengusulkan untuk melakukan penyelidikan ini?" bisik Leorio dengan kesal. "Sekarang sudah jam tiga, dan kita belum melakukan apa-apa!"
Killua menghela napas dan memandang Kurapika. Baru saja ia akan bicara saat tiba-tiba ponsel Kurapika berbunyi. Sebuah pesan masuk. Entah kalimat apa yang tampil di layar ponselnya, tapi isi pesan itu menimbulkan warna kemerahan di pipi Kurapika.
Kurapika mendongak. Ia tampak bingung saat menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan.
"Se-sejak kapan kalian ada di situ?" tanya Kurapika dengan sedikit rasa gugup terdengar dari nada suaranya.
Killua memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Sejak tadi," jawabnya santai. "Sudah waktunya makan kue, Kurapika."
"Ngg…sepertinya aku tidak bisa…"
"Oh…kau mau pergi ke mana?"
Kurapika nampak kaget mendengar pertanyaan Killua. Mengapa Killua dapat menerka bahwa Kurapika akan pergi? Dan tidak biasanya dia ditanyai seperti itu.
"Ke suatu tempat," jawab Kurapika pendek sambil menghindari tatapan teman-temannya. "Aku benar-benar harus pergi sekarang."
Kurapika berjalan melewati mereka bertiga menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
.
.
"Kurapika sudah pergi," kata Gon saat mendengar suara pintu apartemen mereka dibuka lalu ditutup kembali. Saat ini ia dan teman-temannya sedang berkumpul di kamar Leorio.
Leorio meneguk kopinya. "Jadi bagaimana?" tanyanya.
Killua bersandar di tepi tempat tidur dan memejamkan mata. "Kita tunggu…sebentar lagi," ucap Killua.
Suasana menjadi hening. Setelah beberapa menit berlalu, Killua membuka matanya lagi dan segera berdiri.
"Sekarang."
.
.
Machi menghentikan langkahnya.
Perasaan ini…apa ya? Aku tahu…perasaan ini, ucapnya dalam hati sambil berpikir keras. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.
Beberapa saat kemudian, ia menangkap penampakan Kurapika dari sudut matanya. Machi segera masuk ke dalam gang kecil dan memperhatikan gadis itu.
"Si Pengguna Rantai," desisnya pelan. Namun ia terlihat agak terkejut dengan penampilan Kurapika saat itu.
Nampak Kurapika sedang berjalan sendirian. Ia tampak manis dengan jaket hitam dan tube dress berwarna merah yang dikenakan di balik jaketnya.
Kurapika menghentikan sebuah taksi lalu pergi dengan menggunakan taksi itu. Ia menatap pakaian yang dikenakannya dengan wajah yang memerah.
Duh…apakah aku pantas mengenakan baju ini?, ucapnya dalam hati. Sebenarnya Kuroro akan mengajakku pergi ke mana? Untuk apa dia memintaku berpenampilan begini?
Sementara itu, supir taksi meliriknya dari kaca spion.
"Wah, Nona cantik sekali," komentarnya. "Mau pergi kencan ya?"
Aduhh…jangan mengucapkan hal yang memalukan seperti itu!, gerutu Kurapika dalam hati.
.
.
"Ke arah sini!" ucap Gon sambil berbelok. Di belakangnya, Killua dan Leorio berlari mengikuti. Gon membaui udara sekitarnya. "Duh, cepat sekali hilangnya!"
"Mungkin dia pergi menggunakan taksi," tebak Leorio.
Sementara itu Killua tidak berkata apa-apa. Saat berbelok untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba Killua jatuh karena badannya menabrak seseorang.
"Hei!" seru Killua marah. Namun matanya membelalak saat ia melihat Nobunaga ada di depannya. "Kau! Sedang apa kau di sini?"
"Mana gadis itu?" seru Nobunaga sambil mengeluarkan pedang samurainya.
"Apa?"
"Si Pengguna Rantai…apa yang dia lakukan pada Danchou?"
Gon, Killua dan Leorio saling memandang tak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Gon.
"Jangan pura-pura! Silakan saja kalau kau ingin melindunginya setengah mati, tapi aku dan anggota Gen'ei Ryodan lainnya pasti akan menemukan dia dan membunuhnya!"
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Machi, yang berisi tentang lokasi Kurapika saat ini. Nobunaga pun menyarungkan kembali pedangnya lalu berlari pergi.
Gon menoleh pada Killua. "Killua…" Gon menggantungkan kalimatnya dengan cemas.
"Kurapika sedang diburu," Killua menyimpulkan.
"Tak ada waktu untuk bersantai!" ucap Leorio sambil menarik kedua teman kecilnya. "Kita harus menemukan Kurapika lebih dulu daripada mereka!"
Mereka bertiga pun terus berlari. Sesekali Leorio mencoba menghubungi Kurapika, namun ponselnya lagi-lagi tidak aktif.
.
.
Di sebuah villa di pinggir kota…
"Selamat datang," sapa Kuroro saat melihat kekasihnya.
Kurapika menatap Kuroro dengan rasa tak nyaman terlihat dari wajahnya.
"Kenapa? Baju itu sangat cocok untukmu."
Kuroro membuka jaket hitam yang dikenakan Kurapika lalu memeluk gadis itu dengan lembut. Ia membelai rambut Kurapika dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Kurapika menyentuh dada Kuroro dan mendorongnya pelan. Kuroro menatapnya heran.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kurapika.
Kuroro terdiam. Terbayang di benaknya saat ia meramal tadi malam dengan kekuatan yang dulu ia curi dari Neon Nostrad. Sebait puisi muncul di atas kertas…dengan kata-kata yang seirama.
Akan segera tiba saatnya mereka mengetahui semua, pikir Kuroro setelah membaca ramalan itu.
Kuroro tersenyum dan mengecup bibir Kurapika berkali-kali dengan lembut.
"Kuroro—"kata Kurapika di antara ciuman kekasihnya.
Kuroro meletakkan jari telunjuknya di bibir Kurapika. "Jangan berkata apa-apa. Saat ini…hanya kau dan aku."
.
.
Tiba-tiba Hisoka berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanya Feitan sambil menoleh pada Hisoka.
Hisoka menjilat bibirnya lalu berlari dengan cepat. Hmm…anak-anak itu…, ucapnya dalam hati dengan senang.
Tak lama, mereka sudah mulai mendekati tempat di mana Kurapika dan Kuroro berada. Anggota Gen'ei Ryodan lainnya sudah berada di situ.
"Lama sekali," ucap Machi dengan dingin.
Hisoka terkekeh. "Ah…aku hanya menikmati pencarian ini sedikit lebih lama dari yang lainnya," katanya sambil melirik Feitan yang hanya diam di sebelahnya.
Shalnark memperhatikan layar laptopnya. "Tempat yang kita tuju sudah dekat," jelasnya.
Machi memejamkan matanya sejenak. "Aku merasa…dia bertemu Danchou di sana."
Aku mulai tak menyukai firasat aneh yang sedang kurasakan saat ini, batinnya dalam hati.
Anggota Gen'ei Ryodan lainnya memandang Machi dengan tatapan heran.
"Kalau begitu kita harus bergegas," kata Phinx.
Mereka semua baru saja akan bergerak saat tiba-tiba tiga sosok muncul dari balik pepohonan…yaitu Gon, Killua dan Leorio. Mereka berdiri di depan para anggota Gen'ei Ryodan dalam posisi siaga. Gon memegang alat pancingnya, Killua mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan ledakan elektron yang mulai muncul dalam tubuhnya, lalu Leorio menyiapkan pisau lipat sambil tetap memegang erat tas kopernya.
"Kami tak akan membiarkan kalian melukai Kurapika," Gon berkata sambil menatap tajam orang-orang di sekitarnya.
Nobunaga langsung emosi mendengarnya, "Hei! Justru Gadis Pengguna Rantai itu yang sudah melakukan hal buruk pada Danchou!"
"Jangan sembarangan bicara!" bantah Leorio sambil mengacungkan pisau lipatnya ke arah Nobunaga.
Nobunaga mengeluarkan pedang samurainya bersiap akan menyerang Leorio, namun dengan sigap Leorio segera mengangkat kopernya dan memukul wajah Nobunaga dengan itu.
"Aduhh…hidungku!" Nobunaga meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya yang besar.
Killua maju selangkah dan menunjuk Nobunaga, "Kau tampaknya sedang tidak konsentrasi ya? Begitu mudahnya wajahmu yang jelek itu dipukul Leorio."
Nobunaga semakin berang. Ia mengalihkan targetnya pada bocah berambut putih itu. Dengan cepat Killua bergeser menghindari serangan Nobunaga, lalu memegang badan pria itu sambil mengalirkan listrik ke dalamnya.
Anggota Ryodan lain segera bergerak. Pertempuran tidak dapat dihindari lagi. Feitan menarik Nobunaga untuk mundur lalu memukul Killua.
Melihat temannya diserang, Gon berseru dengan lantang lalu ikut berkelahi untuk membela teman-temannya. Machi mengangkat tangannya dan mengeluarkan benang Nen.
Gon melompat menghindar. Ia bergabung bersama Killua dan Leorio yang berada di belakang. Lengan bajunya sobek dan kulitnya sedikit berdarah karena terkena benang Nen Machi.
Hisoka memegang beberapa buah kartu lalu melemparkan kartu-kartu itu ke arah mereka bertiga. Gon mencoba menangkapnya dengan alat pancing, namun ia hanya bisa menangkap dua di antaranya, sedangkan sisanya sukses melukai Leorio. Killua bertambah marah. Ia mengeluarkan energi yang sangat besar, membuat para anggota Gen'ei Ryodan terkejut akan ledakan yang dibuatnya.
"Menarik," gumam Hisoka senang. Ia bersiap untuk melancarkan serangan berikutnya.
"Berhenti!"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. Semua mata menoleh ke arah asal suara tersebut. Dari balik asap, muncul seorang gadis pirang bergaun merah sewarna dengan matanya saat ini. Tangan kirinya terulur dan suara rantai mulai terdengar.
"Kurapika!" seru Gon, Killua dan Leorio bersamaan.
"Jangan sakiti teman-temanku," Kurapika berkata.
Anggota Gen'ei Ryodan terkejut. Mereka tambah terkejut lagi saat melihat Kuroro berdiri di samping Kurapika.
"Danchou!" seru Nobunaga.
Yang dipanggil hanya menatap tajam tanpa ekspresi.
Ramalan itu…sekarang…, ucap Kuroro dalam hati.
Machi merasakan dadanya sesak oleh firasat aneh yang tiba-tiba muncul kembali dengan lebih kuat. Machi berusaha menahannya dan memandang Kurapika.
"Apa yang kau lakukan pada Danchou!" serunya.
Kurapika terdiam. Matanya berangsur-angsur berubah kembali menjadi biru.
Jadi ini…masalahnya…, batin Kurapika. Rantainya lenyap, lalu ia menurunkan tangannya dan menoleh pada Kuroro.
Melihat kewaspadaan Kurapika berkurang, Feitan mengeluarkan senjatanya dan segera berlari menghampiri Kurapika untuk menyerangnya.
Refleks, Kuroro merangkul Kurapika. Mereka menghilang lalu muncul kembali beberapa detik kemudian di tempat yang berlawanan. Tangan kanan Kuroro masih berada di pundak Kurapika, sedangkan tangan kiri memegang buku Skill Hunter miliknya.
Semua nampak heran melihat hal itu, tak terkecuali Gon, Killua dan Leorio.
"D-Danchou?" kata Feitan kaget.
"Hentikan semua ini," Kuroro berkata tanpa melepaskan tangannya dari Kurapika.
"Tapi gadis itu telah melakukan sesuatu yang buruk padamu!" sanggah Phinx.
Kuroro menatap mata biru Kurapika yang berkaca-kaca. Ia memperhatikan semburat warna kemerahan mulai muncul kembali di situ. Ada rasa takut terlihat di dalamnya.
Kurapika menggelengkan kepalanya pelan, memberi isyarat agar Kuroro tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa kau lindungi gadis itu, Danchou?" tanya Hisoka tiba-tiba. Senyuman mengerikan kini tampak semakin jelas di wajahnya.
Kuroro mengusap perlahan pundak terbuka Kurapika yang tengah dirangkulnya dan tersenyum seolah berusaha menenangkan hati gadis itu. Kuroro menghela napas, lalu menoleh ke arah Hisoka.
"Karena gadis ini…adalah kekasihku," jawab Kuroro dengan pasti.
Rasa sesak yang dirasakan Machi tiba-tiba menghilang setelah mendengar kalimat itu.
TBC
NEXT :
Saatnya cinta untuk diperjuangkan…
.
.
A/N :
Akhirnya Chapter 2 berhasil diselesaikan, yeayyy…!^0^
Untuk scene terakhir, aku mendapatkan ide dari music instrument…Mishil Crystal Glass (Yurijan) – OST The Great Queen Seondeok
Cocok jadi music theme scene ini^^
R & R please…and you can still give me some ideas, hehe!
