"Kenapa kau bilang pada orang tuaku kalau kau akan bertahan?!" Sasuke menatap sengit Hinata, gadis yang tengah duduk di tepian tempat tidur itu hanya dapat menatap sekilas iris Sasuke yang berkilat marah, lalu ia kembali menundukkan kepalanya.
"Aku mencintaimu Sasuke, aku akan lakukan apapun asal kita tetap bersama. Kenapa kau tidak mau mencoba menyukaiku?" cicit Hinata lirih, menahan sakit hati yang menyesakkan dadanya.
Sasuke menghela nafas, ia terlihat frustasi.
"Lepaskan aku Hinata, kita berdua tahu bahwa aku hanya mencintai Sakura. Kalau kau mencintaiku, bisakah kau melepaskanku agar aku bahagia?"
Tubuh Hinata menegang, membenarkan ucapan Sasuke dalam hati. Namun gadis itu menggeleng cepat. "Aku ingin egois Sasuke, aku ingin memilikimu."
Sasuke mendengus, ia tidak suka diklaim seperti ini. Meski dirinya adalah suami sah Hinata, ada wanita lain yang merajai hatinya semenjak dulu.
"Maka jangan harap aku akan mencintaimu dengan keegoisanmu itu!"
"Hah?!"
Sasuke bangun dari tidurnya, lagi-lagi mimpi buruk mengenai mantan istrinya itu kembali menghantui Sasuke. Tubuhnya berkeringat, padahal AC kamarnya menyala.
Hampir setiap malam mimpi mengenai istrinya datang. Membawa ke permukaan memori yang tak ingin Sasuke ingat.
"Aku hamil, Sasuke..."
Sakura hamil, dan wanita itu datang kepadanya dan Hinata.
"Ne Sasuke..." Hinata menatapnya dan Sakura. "Ayo kita bercerai..."
Sasuke mengusap mukanya dengan kedua tangan. Mengingat wajah Hinata hari itu, wanita itu menatapnya datar. Hanya dalam waktu seminggu mereka telah sah berpisah.
"Sampai jumpa Sasuke..."
"Tidak..." Sasuke berbisik. "Maafkan aku, Hinata..."
Sedangkan jauh di belahan bumi lainnya, Madara tengah berbahagia. Hari ini, ia akan melepaskan status dudanya dan kembali menjadi lelaki yang beristri.
Ia berdiri di altar, menanti calon istrinya. Penampilannya tampak gagah dengan setelah tuxedo berwarna silver, putrinya yang cantik berdandan seperti peri dari dunia dongeng dan duduk di kursi paling depan, menatap ayahnya takjub.
Pintu gereja terbuka, tampak seorang wanita yang digandeng seorang pria beriris perak masuk. Ia memakai gaun berlengan panjang, dengan model marmaid. Tubuhnya terbungkus dengan indah, tak lupa veil dan tiara menghias rambut indigonya yang digelung, sebuket bunga lili digenggam si wanita yang akan menjadi Ratu satu malam.
Iris sehitam arang itu saling menatap dengan iris perak si calon istri. Wajah calon istrinya, Hinata Hyuuga tampak merona.
"Kupercayakan putriku padamu, jangan kecewakan aku."
Madara menyambut tangan Hinata, tersenyum pada ayah mertuanya. "Ya, saya akan menjaganya sepenuh hati."
.
.
.
"Madara akan pulang ke Jepang seminggu lagi." Ucap Mikoto setelah menutup telepon dari Madara.
"Apa cukup berbulan madu hanya seminggu?" tanya Fugaku.
Istrinya hanya melempar senyum penuh arti. "Dia juga harus tetap bekerja. Itachi juga kewalahan karena harus mengambil alih Perusahaan yang ditinggalkan Madara-kun."
Fugaku mengangguk membenarkan. "Lalu, dia tak bilang apa pun lagi?"
"Kita diundang ke kediamannya."
.
.
"Sasuke-sama."
Sasuke melirik pada sekretarisnya Karin Uzumaki. Wanita nyentrik dengan rambut merahnya itu tersenyum pada Sasuke.
"Ada apa Karin?" Sasuke memilih untuk melanjutkan laporannya. Matanya kembali fokus pada layar komputer.
"Satu jam lagi anda harus sampai ke kantor Hyuuga Neji."
Sasuke menghentikan jemarinya untuk mengetik, tertahan di udara.
Mendengar marga Hyuuga selalu mampu menyedot habis kewarasannya.
Neji. Kakak Hinata yang sangat over protective. Sasuke masih dapat mengingat bagaimana murkanya Neji karena Sasuke telah menyakiti Hinata. Lebih parah daripada pukulan dari ayahnya.
Selama satu bulan ia harus dirawat karena tulang rusuk yang retak.
Ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Sasuke hanya berharap kalau Neji dapat mengendalikan dirinya. Ini bisnis. Jadi mereka harus mengenyampingkan urusan pribadi.
"Baiklah, ayo."
.
.
.
Sasuke memasuki gedung, hatinya berdebar ketika ia menyapu seisi ruangan dan lorong yang ia lewati. Mungkin saja ia akan bertemu dengan mantan istrinya di sini. Sudah beberapa tahun berlalu dan mereka tidak pernah saling bertemu.
Bagusnya meski rumah tangga dirinya dan Hinata hancur, kerja sama perusahaan dan persahabatan Fugaku dan Hiashi masih berjalan baik. Sedangkan Sasuke dan Neji jelas tidak baik sejak awal, apalagi sekarang.
Sasuke sedikit merasa tidak nyaman, semua karyawan di sini memandanginya sinis. Tentu saja, mereka pasti sangat membencinya setelah apa yang ia lakukan pada Bos mereka.
"Masih setengah jam lagi, dan sekretaris Hyuuga-san bilang Neji-san masih ada di ruang rapat. Anda mau menunggu Sasuke-san?"
Sasuke mengangguk, ia memilih pergi ke cafetaria.
Sasuke duduk menyendiri di pojokan cafe, menatap pada luar jendela yang menyuguhkan pemandangan taman bunga mawar yang cantik.
Segelas teh hitam, dan sepotong kue tiramisu. Dua kombinasi cemilan sore yang selalu dibuatkan Hinata untuknya dulu. Sepotong kue telah masuk ke dalam mulut Sasuke. Seperti nostalgia, tapi buatan Hinata tetap lebih enak dari ini.
'Gyut'
Sasuke mengalihkan pandangan, hal yang pertama ia lihat adalah seorang anak lelaki yang menarik ujung jas Sasuke.
Sasuke terpana. Dia anak lelaki berumur sekitar mungkin dua tahun. Pipinya gembil dan memerah, rambutnya sehitam iris matanya. Si anak yang berbalut pakaian pelaut tersenyum, mengingatkannya akan senyum seseorang.
Tangan Sasuke hendak meraih anak kecil itu sebelum sosok yang dikenalnya mendekat dengan nafas terengah.
"Shuu-chan!" Gadis bercepol dua itu langsung membawa si bocah dalam gendongan. "Jangan berlarian dan meninggalkan bibi, ya."
"Tenten." Sasuke menyapa. Entah kenapa ia merasa tidak suka pada Tenten ketika melihatnya menggendong bocah itu.
"Ah, Sasuke-san. Sedang apa di sini?" Wajah Tenten terlihat panik.
"Menunggu Neji. Dia siapa? Anakmu?"
Tenten sedikit terkekeh. "Dia anak temanku."
"Begitu?"
"Ya. Kalau begitu aku pergi dulu."
Sasuke hanya membalas sekenanya.
Mata Sasuke tidak melepaskan sosok bocah lelaki bernama Shuu itu dari jangkauannya. Shuu terus memandanginya di balik punggung Tenten. Melambaikan tangan mungilnya, dan memberikan senyuman yang lucu.
Tanpa sadar senyuman Sasuke merekah, ikut membalas lambaian Shuu.
.
.
.
Tenten segera menaruh Shuu di kursi sofa di ruangan Neji. Ia menatap Shuu dengan pandangan sayu.
"Kau kenal siapa paman itu Shuu?"
Dengan wajah polosnya Shuu hanya menatap Tenten tak mengerti.
"Ma... ma..." Tangan Shuu menggapai-gapai pada Tenten.
"Kau lapar sayang?" Tenten mengelus sayang surai hitam Shuu. "Sebaiknya kita pulang lebih awal, sudah waktunya tidur siang juga." Tenten langsung meraih tubuh Shuu di pelukan. Mengambil tas besar berisi keperluan Shuu dan segera meninggalkan gedung.
.
.
.
Atmosfer terasa berat dan kaku ketika dua orang besar itu saling bertemu. Karin meneguk salivanya gugup, dalam hati wanita itu merutuk karena harus berada di satu ruangan yang sama antara Neji dan Sasuke.
"Lama tidak berjumpa, Hyuuga-san." Karin mencoba untuk memecahkan suasana, tapi ia malah menerima lirikan tajam dari Neji.
"Tidak usah basa-basi, mana surat-suratnya?" Neji berseru di kursi direktur miliknya. Lalu Sasuke duduk di kursi kosong di hadapan Neji. Menyerahkan dokumen perjanjian yang harus mereka sepakati.
Neji menerima dokumen itu, membacanya dengan seksama.
"Aku tadi melihat Tenten dengan seorang anak, dia siapa?"
Tubuh Neji mendadak tegang, ia menatap tak suka pada Sasuke.
"Dia anak temannya Tenten, mereka harus pergi dan tidak bisa membawanya." Neji melirik Sasuke, berharap bahwa lelaki itu tak menyadari kegundahan Neji.
"Dia menggemaskan." Sasuke sedikit melengkungkan senyuman.
"Ya," Neji tampak tak tertarik. "Ah, Uchiha aku keberatan dengan pasal yang ini, dan ini." Neji menunjuk beberapa bulir kalimat dalam dokumen itu. "Tolong revisi."
.
.
.
.
Sampai di rumah, Sasuke melihat Ayah, Ibu dan Kakaknya sudah rapi, melayangkan sebuah senyuman.
"Kami harus pergi, dan kau juga."
Sasuke yang lelah segera menggeleng, sudah cukup dengan dirinya yang kerepotan menangani Neji tadi. Ia hanya ingin segera berendam air panas dan tidur.
"Pamanmu mengundang kita untuk makan malam, kita harus beramah-tamah pada istri barunya. Bukankah kau juga penasaran Sasuke?" Sang ibu membujuk.
Dalam hati Sasuke membenarkan, wanita mana yang kali ini sedang merauk uang Paman kayanya itu. Jadi dengan enteng Sasuke menyetujui.
Keluarga Sasuke datang dan disambut dengan baik, Kakashi yang merupakan tangan kanan Madara mengawal mereka ke ruang makan.
Ternyata Mikoto bertemu dengan beberapa teman Madara juga, namun wajah yang ditunjukkan para tamu lainnya membuat Mikoto mengerutkan alis, entah apa yang salah. Jamuan makan malam ini terbilang cukup ramai, disuguhi dengan pemain musik. Khusus tamu rekan bisnis dan sahabat, mereka menikmati pesta kebun, sedangkan keluarga inti dijamu di ruang utama.
Mereka duduk menunggu di meja makan. Santapan mewah tersedia, namun mereka benar-benar tidak sabar bertemu dengan Madara dan istri barunya.
Mafuyu yang mengenakan gaun berwarna kuning cerah menghampiri Mikoto, seorang anak lelaki berjalan di sisinya.
"Mifu-chan, siapa ini?" Wajah Mikoto terlihat senang, menepuk puncak kepala dua bocah itu.
"Adik Mifuyu!" Mifuyu tersenyum riang.
Sedangkan Sasuke memperhatikan bocah yang memakai setelan tuksedo dan dasi kupu-kupu. Sasuke mengenalnya, dia bocah yang dibawa Tenten pagi ini.
"Ini Shuu Uchiha, adik Mafuyu yang tampan!"
Si bocah gembul hanya tersenyum, terus mengikuti kakak perempuannya.
"Maaf menunggu lama."
Suara tegas Madara mengalihkan perhatian mereka dari Mafuyu dan Shuu, lalu mereka semua membeku, melihat sosok wanita yang tengah tersenyum lembut menyapa mereka.
"Ini istriku, Hinata Uchiha." Madara memperkenalkan.
"Kita bertemu lagi." Hinata hanya menyapa sekilas.
"Hi-Hinata-chan?" Mata Mikoto berkaca-kaca, sedangkan para pria lainnya menatap tak percaya.
"I-inikah... kenapa kau tak mau kami tahu siapa calon istrimu?" Fugaku berbicara pelan, lalu ia mengalihkan tatapannya pada Sasuke. Sang putra nampak mengeraskan rahang, matanya bersinar penuh amarah.
"Ma-ma..." Shuu menarik sisi gaun hitam milik Hinata, dengan lembut dan anggun Hinata membawa Shuu dalam pelukan serta gendongan Hinata. Wanita cantik itu menepuk-nepuk punggung Shuu.
"Ayo kita tidur." Hinata tersenyum, dan mengajak serta Mafuyu. "Maaf, sepertinya saya harus undur diri lebih awal." Hinata segera beranjak berlalu.
"Tolong jelaskan ini, Paman!" Kali ini Sasuke yang membuka suara, menatap bengis pada Madara.
TBC
Mind to RnR?
Ahhirnya up... Sebelumnya terima kasih pada pendukung tulisanku yg abal-abal ini, jadi aku cukup bersemangat untuk melanjutkan. Setelah ini aku akan sedikit curhat hahah
Aku agak berat menulis chapter ini. Apakah ini terlalu terburu-buru? Mohon kritik saran dan vote nya ya? akan sangat berarti dan pemacu menulisku... dadah~~~😁
