Fudanshi? Yes, I am!

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rated : T

Warning : AU! OOC, Shounnen Ai maksa, EYD is amberegul

.

Hembusan angin memasuki salah satu ruang kelas SMU Teiko. Jendela kelas 3-2 sengaja dibuka oleh salah satu penghuni kelas yang duduk di dekat jendela yang tidak ditutupi oleh pepohonan besar. Bangunan SMU Teiko memang memiliki susunan dengan tingkat berupa, lantai dasar digunakan untuk kelas 3, lantai 2 untuk kelas 2, dan lantai teratas untuk kelas 1. Namun sayangnya beberapa jendela di lantai dasar kebanyakan tertutup oleh pohon beringin besar yang digosipkan 'angker' oleh para penghuni sekolah. Ah lupakan masalah struktur bangunan atapun rumor horor sekolah.

Saat ini, Miyaji Kiyoshi pemuda 17 tahun bersurai kecoklatan, wakil ketua kelas 3-2 tengah menatap lapangan baseball sekolah yang terletak berseberangan dengan jendela kelasnya. Surai kecoklatan miliknya dihembuskan dengan lembut oleh angin yang masuk dari jendela yang terletak tepat di sebelahnya. Manik hitam milik Miyaji nampak lekat memperhatikan sekelompok anak kelas 2 yang tengah melakukan praktek olahraga di lapangan baseball seberang. Ia menghela nafas lelah, jika melihat permainan anak kelas 2 di sana, entah kenapa rasanya ia jadi ingin ikut bermain.

Saat ini kelas 3-2 memang sedang diisi oleh jam kosong, karena guru Matematika mereka sedang izin mendadak untuk tidak mengajar selama beberapa hari. Sehingga para murid di dalamya sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Miyaji sendiri hanya diam di tempat duduknya tanpa melakukan apa-apa.

Biasanya, apabila ada jam kosong seperti ini ia akan mengobrol atau menggosip bersama dengan Nijimura. Sahabat yang duduk persis di depannya. Tapi sayangnya, saat ini Nijimura selaku ketua kelas 3-2 tengah bertandang ke ruang guru untuk mengambil tugas yang telah dititipkan guru Matematika mereka yang berhalang hadir kepada guru yang lain. Dan jadilah Miyaji duduk sendirian hanya memperhatikan segerombol anak kelas 2 yang tengah bermain baseball melalui jendela yang terletak tepat di samping tempat duduknya

"Duh bete, pengen ikutan main juga." Miyaji meloloskan kalimat tersebut tanpa sadar, sembari menopang dagu dengan tangan kanannya pada meja kayu yang sudah penuh dengan coretan tip-ex dimana-mana.

"Main main aja yang dipikirin, itu tugas Matematika udah ditulis di depan, gak baca hah? Makanya jangan si Hayama aja yang diliat." Nijimura menyahut perkataan Miyaji tadi. Entah sejak kapan si bibir offside sudah berada di sana.

Yang dimaksud oleh Nijimura adalah Hayama Koutaro anak kelas 2-4. Kouhai hyperaktif anggota klub basket yang sudah menyatakan perasaan suka terhadap Miyaji hingga berkali-kali, namun selalu ditolak. Sebenarnya Hayama itu ganteng kok, skill basketnya juga mengagumkan.

Tetapi tetap saja, Hayama itu lelaki tulen. Miyaji menolak dengan keras pernyataan cinta dari Hayama karena ia menyatakan dirinya masih normal, bukan maho seperti tuduhan dari Nijimura. Memang sih Miyaji belum pernah pacaran dengan wanita manapun, tetapi bukan berarti dia maho kan? Terkadang Miyaji tidak mengerti dengan pemikiran sempit sahabatnya yang satu ini. Nijimura dengan seenak jidat menjodoh-jodohkan dirinya dengan lelaki lain –terutama Hayama, seperti yang terjadi saat ini.

"Kampret ngagetin aja lo. Sejak kapan lo udah balik dari ruang guru? Dan sekali lagi lo nyebut nama kouhai sialan itu, bibir lo bakal gue adu sama cupang punya Yuuya." Miyaji mencak-mencak sembari mengambil buku tugas Matematikanya dari dalam tas.

Nijimura mengedikkan bahunya, ia mendudukkan diri pada kursi yang terletak di depan Miyaji. Ia membalikkan badannya sebentar kemudian mengatakan hal nista yang cukup membuat Miyaji naik pitam.

"Hati-hati, benci bisa jadi cinta loh.. Dan juga, gue rela kok diadu sama ikan cupang piaraan adek lo, asal lo mau ngedate romantis sama Hayama. Kalau bisa habis ngedate langsung pacaran sih. Terus..."

Perkataan Nijimura terpotong oleh hadiah spesial berupa bogem maut dari Miyaji yang telak mengenai bibir manis Nijimura.

"DASAR FUDAN KAMPRET!"

Doakan saja semoga Nijimura Shuuzo masih hidup dengan kedaan sehat wal'afiat setelah ini.

.

.

.

Bel istirahat telah berbunyi nyaring sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini Nijimura bersama dengan Miyaji sedang berada di dalam kantin sekolah untuk memesan makanan. Sebenarnya sih cuma Nijimura yang memesan makanan, karena Miyaji sudah membawa bekal dari rumah. Miyaji ikut pergi ke kantin hanya untuk membeli minuman dan menemani Nijimura untuk makan siang bersama. Ia hanya merasa kasihan saja mengingat Nijimura yang notabene nya seorang jomblo dengan level ngenes, harus makan sendirian di kantin sekolah. Bisa-bisa kadar ke-jomblo-an sahabatnya itu meningkat.

Ketika sudah memesan makanan untuk Nijimura dan membeli minuman untuk Miyaji, dua sejoli namun tak sehati itu memilih tempat duduk kosong yang terletak di pojok ruangan.

"Mi.. duduk di pojokan gak papa kan?" Nijimura yang tengah menenteng mangkok bergambar ayam jago di tangan kanan serta botol akua di tangan kiri melirik Miyaji yang berdiri di sampingnya.

"Gak papa, yang penting duduk." Miyaji melengos mendahului Nijimura dan mengambil tempat duduk di pojokan tersebut. Nijimura hanya mengekor di belakangnya saja. Syukur juga di saat ramai seperti ini mereka dapat tempat duduk, kosong pula. Yah meskipun letaknya ada di pojokan.

Biasanya jika di jam-jam ramai seperti ini mereka berdua bisa saja tidak mendapat tempat duduk dimana pun saat di kantin. Kalau hal itu sudah terjadi, biasanya Nijimura menggunakan haknya sebagai juru kunci ruang OSIS –mengingat Nijimura adalah seorang wakil ketua OSIS, dan akhirnya mau tidak mau mereka memilih alternatif pilihan berupa makan siang berdua di dalam ruang OSIS. Meskipun biasanya Nijimura terkena damprat dari Imayoshi Souichi selaku ketua OSIS apabila ketahuan menggunakan fasilitas ruang OSIS secara ilegal.

Nijimura sudah meletakkan mangkok berisi bakso miliknya di atas meja, kemudian duduk di bagian pojok kursi yang diletakkan mepet dengan dinding kantin yang dicat berwarna putih gading. Sementara Miyaji duduk di samping Nijimura dan meletakkan tempat makan bermerek Taperwer biru kesayangannya di atas meja kantin. Baru beberapa saat mereka berdua ingin menyuapkan makanan masing-masing, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka.

"Lo berdua gak tahu diri banget, datang langsung duduk gak pake izin segala pula. Emang kantin sekolahan punya lo berdua?" Pemuda bersurai abu-abu keperakan meletakkan light novel yang menjadi bahan bacaannya di atas meja kantin.

"Astaga Mi, ternyata ada orang." Nijimura berseru heboh sambil menunjuk pemuda dengan light novel yang duduk di kursi kayu berseberangan dengannya.

"Astaga bener Ji, yawla kaget gue kirain jurig." Miyaji mengelus-elus dadanya sambil berkomat-kamit tidak jelas.

"Heh, udah duduk seenaknya, ngatain gue lagi." Pemuda yang bersangkutan menyipitkan matanya ke arah Miyaji dan Nijimura.

"Becanda Jum, sensian banget lagi PMS ya?" Nijimura berhasil kena timpuk light novel dari pemuda di hadapannya.

"Nama gue Mayuzumi Chihiro jadi jangan sembarangan manggil gue jam jum jam jum. Gue gak suka." Pemuda yang diketahui bernama Mayuzumi itu hanya mendengus sebentar kemudian kembali kepada rutinitasnya yaitu membaca novel. Mengabaikan roti selai durian di hadapannya.

"Biasanya lo gak marah kalaau dipanggil gitu. Lagi badmood ya?" Miyaji memulai pembicaraan sambil menyuapkan potongan daging ikan lele ke dalam mulutnya.

Mayuzumi Chihiro atau yang lebih akrab disapa Mayuzumi (terkadang dipanggil Ijum atau Jumi oleh Miyaji dan Nijimura). Mereka bertiga sudah saling kenal sejak kelas 1 SMU. Saat kelas 1 sampai kelas 2 mereka bertiga merupakan teman sekelas. Tetapi saat di kelas 3 mereka masuk di kelas yang berbeda. Nijimura dan Miyaji di kelas 3-2 dan Mayuzumi di kelas 3-1.

Kelas 3-1, yaitu kelas yang digadang-gadang sebagai kelas unggulan SMU Teiko, kelas yang paling sering dibanggakan guru dalam bidang akademik, tapi sayangnya sangat payah di bidang non-akademik salah satunya bidang olahraga.

Mayuzumi sendiri mengaku bukanlah anak yang tergolong jenius seperti Imayoshi Shouichi si ketua OSIS. Ia berhasil masuk kelas 3-1 karena nilai akhir semesternya saat kelas 2 tergolong tinggi. Meskipun nilai itu ia dapat dari hasil contek sana-sini saat ujian berlangsung. Itu menurut penuturan Mayuzumi sendiri.

Kembali lagi dengan Nijimura, Miyaji dan Mayuzumi mereka berdua sedang khidmat menyantap makanan masing-masing. Bahkan Mayuzumi sudah mengantongi light novel miliknya ke dalam saku jas hitam SMU Teiko miliknya. Ia mulai membuka bungkus roti selai durian miliknya.

"Gue ketahuan buka buku pas ulangan Biologi tadi. Kampret banget emang itu guru." Mayuzumi mengunyah roti selai durian miliknya dengan brutal.

"Hah? Tumben ketahuan? Siapa emang gurunya? Hebat banget itu guru bisa liat ilmu nyontek kasat mata lo. Kayaknya tuh guru punya Hawk Eye Takao deh." Nijimura bertanya dengan semangat. Sepertinya ia tidak terlalu bersimpati dengan teman di hadapannya.

"Guru baru, katanya sih pindahan dari Amerika. Siapa namanya? Nash.. Nashrudin? Nashar? Nashtar? Ah tau deh." Mayuzumi kembali fokus kepada makanannya.

"Maksud lo Nash Gold? Bukannya dia jadi guru pembina buat tim basket ya? Gue nguping pas dia lagi ngomong sama kepsek." Miyaji menyahut sambil menyeruput susu vanilla full cream favoritnya.

"Hah beneran? Gue kok gak tau?" Nijimura mengacuhkan bakso miliknya yang hanya tersisa seperempatnya saja.

"Makanya, jangan cuma ngeliatin homo-homoan aja pas lagi latihan. Tim basket diurusin yang bener. Lu gak kasian sama Akashi?" Perkataan Mayuzumi telak mengenai kokoro Nijimura.

"Eh gue ngurusin tim kok. Jangan campurin masalah hobi gue sama karier gue sebagai kapten basket. Aku tuh gak bisa digituin tau." Nijimura menyerocos sambil memanyunkan bibirnya. Mencoba untuk terlihat 'kyun-kyun kawaii' di hadapan kedua sahabatnya.

"Najis anjir." Miyaji dan Mayuzumi menyahut bersamaan melihat tingkah Nijimura.

Nijimura pun pundung di pojokan sambil mengaduk-aduk kuah bakso yang mulai mendingin di dalam mangkok bergambar ayam jago di hadapannya.

.

.

.

Nijimura memimpin latihan sore kali ini dengan khidmat seperti biasa. Ia tengah memberikan arahan kepada para kouhai untuk melakukan menu latihan yang telah ia susun bersama Akashi dan juga Momoi beberapa hari yang lalu.

Dimulai dengan lari keliling lapangan basket sebanyak 20 kali dengan proporsi 10 kali berjalan, serta 10 kali berlari yang dilakukan secara selang-seling. Sebagai kapten teladan yang menjadi panutan bagi para kouhainya, Nijimura juga ikut melakukan lari keliling lapangan. Saat memasuki putaran ke-5 ia melihat dua kouhainya yang begitu kontras (warna kulitnya) yaitu Aomine Daiki dan Kise Ryouta.

Mereka berdua sedang lari bersisian. Bahkan sesekali adu sikut sambil adu mulut. Nijimura yang dari awal dilahirkan memiliki tingkat ke kepoan tinggi, akhirnya memutuskan untuk berlari tepat di belakang pasangan kopi susu tersebut. Niatnya sih hanya ingin menguping saja. Syukur juga kalau dapat kejadian 'menarik'.

"Aku akan mengalahkan Aominecchi lihat saja ssu." Kise berlari sambil menunjuk-nunjuk pucuk hidung Aomine.

"Heh, siapa kau berani berkata begitu? Model kacangan sepertimu lebih baik lari sambil hujan-hujanan saja seperti di film India sana." Aomine menjawab dengan sengit sambil sesekali menyikut Kise yang berlari tepat di sampingnya.

"Bilang saja kalau kau merasa takut kan jika kalah denganku ssu."

Kise ngajak ribut rupanya pikir Nijimura.

Namun tak disangka-sangka saat asyik adu sikut ternyata tanpa sadar saat melewati area di dekat bench, tanpa sengaja kaki kanan Kise menginjak botol minum yang tergeletak tak berdosa di lantai gym. Kise yang saat itu tidak dapat mengendalikan keseimbangannya langsung saja limbung dan hampir menubruk bench.

Itu baru hampir loh, hal itu tidak sempat terjadi karena Aomine yang berlari tepat di samping Kise langsung menarik pergelangan tangan kiri sang model dan langsung menarik tubuh Kise agar tidak sempat terjatuh.

Memang sih wajah ikemen Kise tidak menubruk permukaan bench. Tetapi insiden tetap terjadi. Saat mencoba menarik Kise, tubuh Aomine juga ikut limbung sehingga mereka berdua jatuh bertindihan dengan posisi Aomine berada di bawah, dan Kise berada di atasnya.

"BERAT WOI BERAAAT!..." Aomine mulai menjerit, sepertinya ia tidak menduga bahwa tubuh Kise akan seberat ini. Dari luar kelihatan ramping sih.

"Aduuh... sakit ssu." Bukannya menjauh, Kise malah sempat-sempatnya mengaduh di atas tubuh legam Aomine.

Para anggota lain yang awalnya sedang melakukan lari keliling lapangan pun bergerombol melingkari Aomine dan Kise. Kuroko serta Moriyama yang saat itu posisinya paling dekat dengan Aomine dan Kise pun nampak datang menghampiri dan membantu mereka berdua untuk berdiri dari posisi saling tindih. Midorima pun ikut menghampiri dan memeriksa keadaan Aomine dan Kise.

"Aomine sih tidak apa-apa, tapi sepertinya kaki kanan Kise terkilir saat menginjak botol minuman tadi nodayo." Midorima berujar singkat sambil membenarkan letak kacamata minusnya.

"Tapi tubrukan Aomine-kun dan Kise-kun tadi cukup keras, mungkin ada beberapa memar juga di tubuh Aomine-kun." Kuroko mencoba membantu Kise untuk duduk sembari memijat-mijat pelan kaki kanan Kise yang terkilir.

"Ya sudah bawa ke UKS saja, kalau dibiarkan bisa tambah sakit. Kalau jam segini biasanya sensei masih ada di UKS, setidaknya kaki Kise dapat diberikan pertolongan pertama." Moriyama membantu Aomine untuk berdiri dan melirik sedikit ke arah Kise yang masih dalam posisi terduduk.

"Tapi senpai, aku tidak bisa jalan sendiri ke UKS sekarang. Sepertinya aku harus menunggu sebentar sampai kakiku yang terkilir ini agar sedikit mereda nyerinya ssu." Kise berujar sambil memijit sedikit kakinya yang terkilir. Sesekali ia menggumam 'aduh' sambil meringis.

Ringisan itu terhenti ketika kepala Kise menerima geplakan maut dari Aomine.

"Aduh Aominecchi kenap... waaa." Belum selesai menyampaikan keluhannya. Aomine sudah keburu mengangkat Kise dan memposisikan Kise di belakang punggungnya. Ia kemudian berdiri dengan posisi menggendong Kise dan melirik sebentar ke arah Akashi yang baru saja hadir di kerumunan insiden 'jatuhnya kopi susu'.

"Biar aku saja yang membawa dia, lagi pula aku ingin mengecek tubuhku apa benar tidak terkena luka seperti yang dikatakan Midorima tadi. Sampaikan izinku kepada kapten ya Akashi." Aomine membenarkan posisi Kise. Kise nampak terdiam saja dengan wajah yang dipenuhi semburat merah. Ia hanya mengeratkan pegangannya pada leher Aomine.

Akashi hanya mengangguk singkat kepada Aomine. Setelah kedua pasangan tersebut berlalu. Akashi menginstruksikan anggota yang lain untuk melanjutkan latihannya. Akashi menengok kiri-kanan mencari kehadiran kaptennya. Ia ingat tadi bahwa Nijimura berlari tepat di belakang Aomine dan Kise. Akashi sempat melihatnya meski jarak mereka saat itu cukup jauh. Kemana kaptennya saat insiden 'jatuhnya kopi susu' tadi? Kenapa tiba-tiba ia menghilang dengan gaibnya?

'Kapten kemana sih? Bukannya tadi masih ada? Kok hilang?'

Tak jauh dari tempat Akashi berdiri sekarang, tepatnya di salah satu sudut ruangan gym yaitu titik buta ruangan yang terhalang oleh tumpukan bola basket, Nijimura sedang asyik mengecek hasil jepretan kamera digital bermerk Kenon kesayangannya.

Beberapa waktu lalu tepat saat insiden 'jatuhnya kopi susu' terjadi, Nijimura langsung angkat kaki, dan mencari tempat persembunyian. Ia memiliki prasangka bahwa dengan jatuhnya mereka berdua dapat menghasilkan fanservice dadakan. Prasangka seberti ini sering disebut sebagai 'insting seorang fudanshi' oleh Nijimura. Setelah mendapatkan tempat yang pas (jauh dari perhatian anggota klub basket lain), Nijimura langsung mengabadikan momen langka tersebut dengan kamera kesayangannya.

Nijimura cukup bahagia, selain mendapat pose hot saat Aomine-Kise saling tindih, Nijimura juga mengambil foto saat Aomine dengan gentlenya menggendong Kise di punggungnya. Bahkan Nijimura sempat mengambil video eksklusif saat momen tersebut berlangsung.

Awalnya ada perang batin dalam pikiran Nijimura, antara menolong AoKi atau mengabadikan moment hint AoKi dengan kameranya. Setelah berpikir sejenak dengan matang, akhirnya ia lebih memilih mengorbankan kedua kouhainya dan lebih memilih mengabadikan momen hvmv mereka berdua.

Nijimura bahkan sengaja memilih titik buta yang tidak terlihat oleh siapapun saat merekam adegan nista AoKi tadi. Hell yeah, Nijimura masih enggan aib bejatnya diketahui, apalagi oleh para kouhainya di tim basket SMU Teiko. Cukup hanya Tuhan, Miyaji dan Mayuzumi saja yang tahu aib sesatnya ini. Ia masih belum siap dicap sebagai 'maniak hvmv' oleh orang-orang di sekitarnya.

Asyik dengan lamunannya, Nijimura tidak sadar bahwa ada seseorang yang berjalan menghampirinya.

"Ngapain disini kapten?" Takao Kazunari murid kelas 1 sohibnya Midorima datang menghampiri.

Nijimura kaget, hampir latah, namun latahannya tetap ditahan untuk jaga image.

"Aku sedang mengecek bola di sini, siapa tahu ada yang kurang angin atau lecet gimana gitu." Nijimura berujar pede. Bahkan dia seakan lupa bahwa tumpukan bola di dekatnya masih tergolong baru, jadi tidak mungkin mengalami kurang angin, apalagi lecet. Lecet? Dipakai juga belum pernah.

"Kamu sendiri ngapain?" Nijimura memasang tampang sok cool, padahal keringat sebesar permen mentos sudah mulai turun dari pelipis. Nijimura cuma takut kalau-kalau alasan ngaconya tadi mengundang pertanyaan lain dari Takao.

"Aku pengen ngambil bola buat latihan shoot bareng Shin.. eh Midorima." Takao mendekati tumpukan bola yang terletak tidak jauh dari Nijimura. Kemudian mengambil dua buah yang dirasanya cukup bagus.

Nijimura merasakan kejanggalan dengan adik kelasnya ini. Kemudian Nijimura tersenyum nista sambil menepuk pundak kouhainya.

"Oh kalau gitu semangat ya latihan bareng Midorima nya." Perkataan Nijimura dibalas anggukan semangat oleh Takao.

'Hmm OTP baru nih, liat aja ntar gue jadiin canon lu berdua' dan Nijimura pun sudah tersenyum nista di dalam hati'

Dari kejauhan entah kenapa Midorima Shintaro merasakan bulu kuduknya meremang.

.

.

.

TBC/END?

Yo minna~ Melvin desu~

Chapter baru sudah update loh, gak nyangka ada yang ngereview ff nista ini. Btw, yang ada di ff ini 50 persen pengalaman saya sendiri sebagai fudan :v #gaknanya

Btw, saya pengen jejak pendapat, menurut kalian Nijimura harus berakhir gimana? Tetap sekedar seorang fudan atau berbelok menjadi hvmv? Kalau pengen dia jadi hvmv enaknya sama siapa ya?

Akhir kata saya ucapkan terima kasih, kritik saran (except flame) diterima loh, tinggal review/feedback aja =)

Males ngasih review/feedback? Bisa fav atau follow kok =')

Arigatoou for read this ff minna~

P.S : Apakah ada orang KalSel yang membaca ff gaje saya ini?