Disclaimer: Pokémon are created by Satoshi Tajiri.
The Monochrome Challenge!
Pokémon! Unova Brand-New Adventure!
Fic by Soaring Crow Ver2.0
Episode 2: Brains! Bye-bye! Zekrom?
Setelah itu, Ash kembali ke Battle Tower untuk menceritakan pada Scott apa yang si pemuda dapatkan dari Anabel tentang kondisi si gadis. Baik itu tentang ketiga Pokémon dan juga keputusan yang telah dibuat sang Salon Maiden.
Scott walau sedih kehilangan salah satu Brains—yang terbaik, ia kurang lebih mengerti. Scott tersenyum lepas dan menepuk punggung Ash. Jaga putriku, 'nak, katanya pada si pemuda. Ash tahu 'kok. Karena Anabel adalah seorang yatim piatu, walau secara tidak langsung Scott yang tidak memiliki istri dan momongan, menganggap Anabel sebagai putrinya sendiri. Ash mengangguk, dan berkata 'kau bisa mengandalkanku, Scott.'
Esok paginya sekitar pukul 8, Ash menunggu Anabel di depan Battle Tower bersama dengan Pikachu juga Scott. Tidak memakan waktu lama hingga akhirnya Anabel sampai. Sang (mantan) Salon Maiden Anabel nampak mengganti pakaiannya dengan yang sedikit lebih ringan. Kemeja putih berlengan panjang dengan dasi berwarna nila menghiasi daerah sekitar leher dan dada, dipasangkan dengan sepasang celana hitam ¾ yang sedikit melebar pada ujungnya. Anabel juga mengenakan sepasang sneakers berwarna nila—warna favoritnya. Pada pergelangan tangan kiri si gadis terpasang sejenis jam tangan yang Ash dapat menebak kalau itu mungkin adalah sejenis PokéGear, dengan desain yang sedikit berbeda. Khusus untuk para Brains mungkin? Dan pergelangan tangan kanan Anabel dihiasi oleh handband berwarna nila pula. Cuma satu yang terpikirkan oleh Ash…
"Sporty." Anabel tertawa kecil mendengarnya.
"Aku akan berpetualang, jadi… mungkin dengan memberikan ruang gerak lebih, aku bisa sedikit tidak merepotkanmu, Ash." jawab si gadis, jujur. Ash hanya bisa menyengir, dan menggaruk belakang kepalanya.
"Anabel!"
"Greta…?" Anabel membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang gadis pirang yang nampak dua tahun lebih tua berlari kearahnya.
"Anabel, kenapa kamu tidak bilang-bilang akan pergi?" Greta memberikan Anabel raut kecemasan dan wanti-wanti khas seorang ibu. "Kenapa tiba-tiba?"
Brains lainnya menyusul Arena Tycoon Greta dari belakang. "Kau serius, Anabel? Unova adalah tanah yang masih cukup asing bagi kita."
"Tidak apa-apa, Noland, Greta. Dan mungkin, memang inilah saatnya bagiku untuk melakukan perjalanan Pokémon—yang aku tahu, sudah telat selama 7 tahun." Noland sebagai sosok kakak seperti Greta menahan napas kecemasannya. Namun Brandon, sang Pyramid King menepuk pundak Factory Head untuk menguatkannya.
"Haah, Noland… Anabel sudah bukan anak kecil yang harus kita diktekan terus menerus. Dia sudah dewasa—berapa umurnya, hmm—oh, 17 tahun—maaf aku hampir lupa saking tidak sadarnya. Itu usia yang sangat matang untuk mengenal dunia. Bukan begitu Spencer?" Brandon menengokkan wajahnya kearah sesepuh para Brains, sang Palace Maven.
"Waktu itu terus berjalan dengan cepat—tanpa kita sadari. Seperti kata Brandon, aku juga tidak sadar kau sudah sebesar ini, 'nak. Aku ingat ketika Scott membawa bocah ingusan bandel dari Johto 12 tahun yang lalu. Dan lihat anak itu sekarang; tumbuh dengan sehat menjadi wanita yang cantik. Dan sekarang ia berdiri tepat di depan mata kita."
Anabel tersenyum malu, namun kedua mata violet-nya nampak mulai bergelimang akan air mata. "Terima kasih, Brandon, kakek Spencer…" ujar si gadis sedikit terisak. Saat ini sang Dome Ace angkat bicara dengan gaya cerianya yang seperti biasa.
"Hei, lihat segi positifnya! Anabel bersama Ash 'yang itu'. Dia akan menjaga Anabel kita sebaik-baiknya."
Mendengar itu, wanita tercantik dari Frontier Brains, sang Pike Queen, Lucy melangkah mendekat ke arah Ash. "Benar kata Tucker. Ash, kami percaya padamu. Jaga adik kami. Kau bersedia, 'kan?" mendapat kepercayaan seperti itu, si pemuda memberikan tatapan dan senyuman yang begitu meyakinkan.
"Ya! Kalian bisa mengandalkanku, Lucy, Tucker, semuanya." "Pika-Pikapi!" susul Pokémon kepercayaan Ash seumur-umur.
Greta, yang masih menggenggam tangan Anabel dengan erat memelototi Ash. "Kau sebaiknya pegang janjimu itu, Ash."
"Sampai saat inipun aku masih tidak percaya kalau kau akan pergi, Anabel." Scott melangkah kearah si gadis. "Tidak ada yang mudah di dunia luar…"
"Scott…"
"Dengar Anabel, kalau ada apa-apa, kau tidak perlu ragu memanggil kami lewat PokéGear khusus Brains itu. Walau terpisah benua dengan Unova, sinyal alat tersebut akan bisa tersambungkan pada kami lewat satelit pribadi kita. Kami akan datang membantumu kapanpun juga." wanti-wanti Scott. Ash tidak tahu raut sebenarnya pria tambun tersebut dikarenakan kaca mata hitam yang dikenakannya itu. Tapi Scott adalah pria yang berhati lembut; mungkin dia tengah menahan tangisnya setengah mati sekarang.
Anabel mengangguk. "Aku mengerti. Terima kasih, Scott." senyum si gadis pada si ayah angkat. Ia kemudian merogohkan tangannya ke belakang pinggang dan meyerahkan tiga Pokéball pada Scott. "Aku titipkan Espeon, Alakazam, dan Metagross padamu."
"Kau tidak membawa mereka?" tanya Scott. Anabel menggeleng pelan.
"Aku ingin meluaskan pandanganku terhadap dunia. Aku ingin mencoba menjinakkan Pokémon dengan berbagai tipe dari Unova." Scott merasa kagum terhadap kesungguhan hati Anabel. Kalau seperti ini dia jadi berpikir ingin kembali ke masa-masa muda dulu. Semua tentang berpetualang dan hidup dengan bebas. "… Dan ketika kembali nanti-" Scott dan para Brains kembali memperhatikan Anabel. "-Aku bukan lagi Anabel yang lama—Anabel yang serba ragu terhadap segala hal."
Greta kembali menggenggam kedua tangan Anabel seolah ingin meremukkannya. Kedua matanya mulai meneteskan air mata. "Kau harus janji untuk pulang dengan selamat, Anabel. Kau janji!" si gadis berambut violet tersenyum penuh haru, dan memeluk kakak angkatnya tersebut.
"Aku janji, Greta." Scott dan para Brains mengerubuni Anabel dan memberikannya berbagai macan nasehat dan wejangang sebelum berangkat. Tentang apa saja yang boleh dimakan, dan hati-hati agar tidak masuk angin, sampai hati-hati pada copet. Seperti Anabel baru berumur 10 tahun saja, batin Ash. Tapi melihat ini, Ash lebih merasakan rasa kekeluargaan diantara para Brains yang begitu erat. Tidak memerlukan hubungan darah hanya untuk menjadi keluarga.
Ash dan Anabel melambai-lambaikan tangan, memberikan salam perpisahan terakhir mereka sebelum menghilang di balik-balik hutan. Greta melambaikan tangannya dengan liar sembari membanjiri wajahnya dengan air mata, Lucy melambaikan tangannya santai dengan tumpuan lengan satunya. Noland walau sedikit khawatir, kini sudah bisa melepaskan Anabel dan berbalik mendukung si gadis sepenuh hati. Begitupula Brains pria lainnya yang menumpukan kepercayaan baik pada Ash dan juga Anabel.
"… Mereka sudah pergi." ujar Lucy. "Ya…" lanjut Noland. Tapi perhatian yang lainnya kemudian direbut oleh Tucker yang menunjuk kearah tangan Scott.
"Umm, Scott… Ini aku saja, atau satu Pokéball milik Anabel memang terbuka?"
"Huh…? Ketiganya tertutup 'kok tadi…" ujar Scott, memperhatikan sekelilingnya. Greta mendekat dan menerawang isi dua Pokéball tersebut.
"… Alakazam dan… Metagross." kedua Pokémon itu juga nampak bingung dengan hilangnya satu teman mereka. "Espeon tidak ada…!"
-o0o-
Melintasi kota perbelanjaan Celadon, akhirnya Ash dan Anabel sampai di kota pelabuhan Vermillion dan tanpa membuang waktu, mereka langsung menuju bandar udara di sisi lain dari kota. Sama seperti bandar udara pada biasanya yang pernah Ash lihat di tv, namun yang akan kedua orang itu tumpangi adalah kapal udara yang berangkat melalui air, bukan landasan. Dengan tenaga pendorong berupa turbin kuat pada dasar paling belakang dari kapal udara, baling-baling pada kedua sayap besi yang kuat ini akan membawa mereka terbang menuju tanah baru, Unova.
"Permisi. Dua tiket menuju Unova, tolong." ujar Ash, menggunakan kedua jari tangan kanannya untuk menandakan jumlah penumpang. Si kasir melirik kearah Ash dan Anabel.
"Baiklah, tiket untuk dua orang dan dua Pokémon, ya." ujarnya, yang menimbulkan keheranan pada dua remaja tersebut. "… Dua?" ujar mereka.
"Espe…"
"Espeon?" kejut Anabel. "Bukankah tadi aku menitipkanmu pada Scott?" evolusi dari Eevee spesialis psychic tersebut mengelus-eluskan sisi wajahnya pada kaki jenjang Anabel. Kemudian ia menatap wajah trainer-nya. "… Kau ingin ikut denganku…?"
Espeon mengangguk. Wajahnya nampak sedih dan galau. Tidak memerlukan telepati hanya untuk menebak isi hati Espeon saat ini. Ash membalas tatapan ragu Anabel. Ia tersenyum. "Tidak ada masalahnya. Lagipula, kau tidak membawa Pokémon sama sekali sekarang. Aku pikir dengan membawa Espeon, kau bisa mengandalkannya untuk menjinakkan Pokémon Unova nantinya. Bukan begitu, Espeon?"
Si kucing merah muda mengangguk senang dan bersemangat. "Espe!"
Anabel merendahkan tubuhnya dan memeluk Espeon. "Maafkan aku, Espeon. Kenapa aku sampai ragu juga soal ini. Dari sekarang juga, mohon bantuannya ya, sahabatku." si kucing mengangguk semakin senang. "Baiklah, aku punya cadangan Pokéball. Masuk kesini dulu, ya."
"Espe!"
"Baik, tiket untuk dua penumpang dan satu Pokémon saja." ujar Ash akhirnya.
"Pokémon dengan berat dibawah 6 pon diperbolehkan naik dengan cuma-cuma. Pikachu anda akan dipersilahkan terbang dengan gratis, tuan." Ash tersenyum lebar.
"Wow, terima kasih."
Ash dan Anabel berjalan menuju pintu masuk kapal udara lewat tapakan serupa dengan dok pada dermaga. Angin laut berhembus dengan santai dan memberikan pemandangan sekelompok wingull yang saling berkicau satu sama lainnya di langit. "Ini akan menyenangkan, Anabel!" si gadis membalas Ash dengan senyuman malu selagi kedua pipinya merona.
"Mungkin kau tidak melihatnya, Ash. Aduuh, tapi jantungku tidak bisa tenang dari tadi!" Ash merasa melihat sosok yang lain dari Anabel saat ini. Apalagi dengan senyum secerah mentari dan ekspresi yang begitu ceria seperti itu. Tapi si pemuda tidak tahu. Sekaligus berdebar-berdebar dengan pikiran untuk berpetualang di Unova, membayangkan dirinya akan bersama dengan Ash setiap hari membuat Anabel sedikit kalap juga, sebenarnya. Semua orang tahu, kalau Ash itu adalah pemuda favorit Anabel. Ada sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, ada pada diri Ash. Ia tidak tahu, siapa saja yang menyadari hal itu, tapi Anabel mengetahui hal itu ketika pertama kali berjumpa dengan si pemuda.
-o0o-
"Woaaaa! Lihat Pikachu! Kita terbang!" sorak Ash, menempelkan wajahnya pada jendela. Begitu pula riangnya si Pokémon tikus listrik. "Pika-Pika!"
"Wah, memang indah, ya? Pulau itu sepertinya masih belum terjamah akan manusia…" sahut Anabel, melirikkan wajahnya keluar jendela juga. Ash mengangguk setuju.
"Ya, 'kan?" Ash membalikkan wajahnya, namun melihat Anabel yang seolah masuk angin dan meriang. Wajahnya sedikit memucat. "Hei, kau tidak apa-apa?"
"… Ah, iya. Aku lupa kalau aku sedikit mabuk udara, Ash."
"Kau baik? Mau aku panggilkan pramugari untuk membawakan obat?" Anabel tersenyum lemah.
"Tidak usah, Ash. Tapi, terima kasih, ya."
"Istirahatlah kalau begitu, Anabel."
Perjalanan udara menuju Unova memakan waktu kurang lebih lima jam. Anabel masih terlelap di kursinya dengan sabuk pengaman yang masih terpasang dengan erat. Sementara itu, Ash yang masih menikmati pemandangan atas langit (dan juga pulau utama region Unova yang sudah semakin tampak), Pikachu mengimbaunya. "Ada apa, Pikachu?" si Pokémon tikus kuning menunjukkan jari-jemarinya ke arah berlawanan dari mata Ash. Sekumpulan awan hitam berpetir yang membentuk pola spiral menutupi sebagian dari langit yang saat ini tengah cerah. "… Uh… yaah, paling tidak awan menyeramkan itu tidak ke arah sini, Pikachu."
Melupakan persoalan awan hitam itu, Ash melihat landasan air tempat mereka akan mendarat sudah semakin dekat dan si pemuda lantas membangunkan Anabel dari tidurnya.
-o0o-
SELAMAT DATANG DI UNOVA
Itulah kata pertama yang Ash dan Anabel baca ketika baru menganjakkan kaki dari kapal udara. "Kita sampai!"
"Haha, kau tampak senang sekali, Ash?" tanya Anabel, tersenyum ramah.
"Tentu saja!" jawab si pemuda. "Aku akan menjadi Pokémon Master! Dan sekarang, aku tidak akan melewatkannya! Aku yakin!"
"Baguslah kalau begitu." sahut balik si gadis. "Aku percaya. Kalau Ash pasti bisa." si pemuda membalasnya dengan senyuman malu.
"Err, sudah beberapa kali gagal 'sih. Di Sinnoh dulu aku terhentikan di putaran perempat final oleh Tobias. Tapi itu merupakan rekor bagiku. Dan sekarang, aku harus sampai di final!"
"Aku nonton, 'kok pertandingan perempat finalmu saat itu. Darkrai memang lawan yang kuat. Belum lagi Latios." Anabel menepuk punggung Ash. "Masih banyak trainer yang berhasil menjinakkan Pokémon legendaris di seluruh area… Kau pasti akan melihatnya juga nanti, Ash." si pemuda nampak berpikir keras.
"Benar juga. Tapi-"
"Tapi, aku yakin kalau kau pasti bisa Ash. Walau lawanmu adalah trainer yang menggunakan Pokémon legendaris, itu bukanlah penghalang bagi ikatanmu dengan semua Pokémonmu."
"Terima kasih, Anabel. Baru tiba, aku sudah mendapatkan pemompa semangat!"
"Kemana kita sekarang, Ash?"
"Kata professor Oak, professor Juniper akan menjemput kita di bandara. Lebih baik kita ke lobby utama sekarang."
Baru saja hendak berjalan, Pikachu tiba-tiba terkurung dalam kerangkeng yang datang entah darimana asalnya. Ash, dengan cepat mengejar Pikachu yang terseret di dalam penjara kecil itu. Ash memerintahkan Pikachu untuk menggunakan Thunderbolt tapi tidak berefek sama sekali.
"Uh, siapa kalian?" seru Ash pada tiga sosok bertutupkan jubah hitam.
"Siapa kami?" jawab suara feminine diantara ketiganya? "Karena kau benar-benar ingintahu-"
"Demi hari esok kami akan menjawab pertanyaanmu?" lanjut suara yang jauh lebih maskulin dari sebelahnya. Mereka bertiga melepaskan mantel hitam, dan menampilkan dua sosok manusia berpakaian serba hitam dengan tulisan 'R' di dadanya. Sosok satu lagi adalah seekor kucing yang dapat berdiri dengan kedua kakinya.
"Warna putih di masa depan kelak adalah sebuah kejahatan-" lanjut si wanita.
"Jagat raya, dengan warna hitamnya adalah palu keadilan!" susul si pria berambut biru.
"Dengan menyebut nama kami, kami nyatakan tanah ini adalah milik kami!" kali ini giliran si kucing yang berbicara.
"Sang penghancur, Jessie!"
"Kepolosan sebuah kegelapan, James!"
"Kecerdasan tanpa batas, Meowth!"
"Sekarang! Tunduklah pada kami, Tim Rocket!" sorak ketiganya akhirnya.
"Kalian!" seru Ash. Wanita berambut merah panjang bernama Jessie itu tertawa dengan riang dan sarkas.
"Kau tidak menyangka kalau kami akan mengikutimu sampai sini juga bukan, bocah ingusan?" James mengangguk dan menunjukkan jarinya ke arah Ash dan Anabel.
"Sebaiknya kau senang, karena kami bukanlah kami yang lama lagi sekarang!"
"Ash, mereka…?" si pemuda mengangguk pada Anabel.
"Pikachu, Thunderbolt sekali lagi!" perintah Ash pada Pokémonnya.
"Pika-CHUUU!" ledakan listrik dikeluarkan dari sekujur tubuh Pikachu. Tapi sayangnya kejutan listrik itu tidak bisa melebar lebih jauh lagi dari sebatas di dalam kerangkeng itu saja. "Pika…?"
"Ini adalah peralatan terbaru kami. Listrik Pikachu tidak akan bisa menembusnya!" seru Meowth dengan congkak.
"James, bom asapnya!"
"Ok, Jessie!"
"Tidak akan kubiarkan kalian lari, tim Rocket!" sorak si pemuda. Ia lalu mengambil satu lagi bola monster dari belakang pinggangnya. "Totodile, bantu aku—eh?" tepat sebelum melempar bolanya, tanpa dirasakan oleh kelima orang tersebut awan hitam yang tadi dilihat oleh Ash sudah berada di atas mereka. Mengepung langit sekitar mereka. "… A-awan itu…? Yang tadi…"
"Ha? Sejak kapan?" tanya Jessie.
Kumpulan awan cumulonimbus gelap itu berputar seperti pusaran air yang menyedot segalanya di udara. Kilatan-kilatan listrik dan petir berwarna biru menyambar dari satu sisi awan ke sisi lainnya. Tanpa aba-aba sama sekali, ketiga anggota tim Rocket itu tersambar petir dan dimentahkan jauh ke lautan di belakang mereka. Kerangkeng Pikachu akhirnya hancur dan Ash harus mau tidak mau melihat Pokémonnya tersebut tersambar petir biru itu.
Untunglah sisa-sisa petir itu tidak terlalu lama menyambar. Kini tubuh Pikachu telah terlepas dari kilatan biru tersebut. Ash dengan langkah seribu segera menghampiri Pikachu dan mengamankannya di dadanya. "Pikachu…! Pikachu! Kau tidak apa-apa, 'kan sobat?"
"… Pika. Pikachu." awalnya memang nampak lemah, tapi Pikachu mencoba memberikan senyuman cerianya pada Ash.
"Ash, cepat kemari!" seru Anabel dari kejauhan. Ia berdiri kurang lebih 20 meter dari tempat Ash berlutut. Si pemuda segera mengangguk dan berlari sekuat tenaga ke arah gadis berambut nila itu. "Bagaimana kondisi Pikachu, Ash?" tanya Anabel, harap-harap cemas. "Dia baik-baik saja, 'kan?"
"Ya… Pikachu, kau yakin baik-baik saja…?" tanya Ash, belum bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Ash, yang jelas kita harus segera membawa Pikachu ke Pokémon Center." si pemuda harus seuju dengan saran tersebut. Tapi lagi-lagi ketika mereka berdua hendak berlari, bayangan besar di langit menampakkan satu sosok hitam yang berwujud seperti naga. Kedua mata merahnya itu memandangi tanah dibawahnya, dan lebih spesifik lagi ke arah Ash dan Anabel.
Secepat dia datang, secepat itu pula ia pergi.
Pokemon raksasa itu kembali ke dalam awan gelap dan awan tersebut menghilang tanpa jejak seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"… A-apa itu tadi, Ash?" Ketchum muda itu menggeleng, kebingungan juga.
"Ash Ketchum?"
"… Uh, ya?" si pemuda membalikkan tubuhnya dan mendapati figur wanita di akhir kepala dua-nya. Wanita tersebut mengenakan jas professor dan berambut coklat muda dengan kepangan di belakangnya. Ia megenakan kaos lepas untuk dalaman dan disambung dengan rok mini ketat berwarna hijau. Wanita tersebut juga mengenakan sneaker sporty yang tidak kalah dari milik Anabel.
"Aku professor Aurea Juniper." wanita tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Ash. Benar tebakan si pemuda. Aurea adalah professor paling modis yang pernah ia temui. "Panggil professor Aurea saja."
"Aku Ash. Dan ini sahabatku Anabel."
"Salam kenal, Anabel." Aurea menjabat tangan Anabel juga. "Wah, kalian berkelana berdua saja? Senangnya masih muda." ujar Aurea sedikit kekanakan. Memang bisa ditebak, 'sih, batin Ash sambil tersenyum malu. Anabel berusaha menyembunyikan wajah merahnya.
"Baiklah, Ash dan Anabel. Mari ke lab-ku di Nuvema. Tidak ada yang tahu kapan awan petir itu akan kembali lagi. Belakangan memang ada laporan cumulonimbus hitam pekat yang sering menampakkan diri di sekitar Unova, tapi tidak pernah terdeteksi apakah itu sebenarnya."
"Professor Aurea, walau sekilas kami seperti melihat bayangan naga… atau Pokémon?" tutur Ash. Anabel menyusulnya dengan anggukan. Aurea memangkukan dagunya pada tumpuan jari, nampak berpikir.
"Hm, sepertinya penelitian itu tidak sia-sia juga…"
"Maksudmu, professor?"
"Ash, Anabel—mungkin yang kalian lihat itu adalah Pokémon legendaris dari Unova. Sang naga petir legendaris, Zekrom."
|To be Continued|
Ash dan Anabel telah sampai di tanah Unova, dan mereka kini menuju kota Nuvema bersama professor Aurea Juniper. Disana Ash bertemu dengan teman-teman lamanya. Dan… Cheren; pemuda yang mencari arti dari 'kekuatan'.
Berikutnya di Monochrome Challenge!: Nuvema! Cheren! First Battle!
A/N: Chapter kedua akhirnya update. Masalah review, aku ga pernah mempermasalahkannya. Asalkan ada yang abca, dan mereka tertarik, aku dah cukup senang. Tapi kalau ada yang ingin dikritik, masukan dan saran ga perlu segan. Aku selalu menunggunya. Crow, signed out.
