Chapter 2
Jaehyun merasa bersalah pada Taeyong karena kemarin melanggar janjinya untuk menemani Taeyong jalan-jalan. Salah Jaehyun sendiri sih sebenarnya, mengobral janji dengan mudah tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Padahal sudah jelas-jelas saat ini ia dan anggota OSIS sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan festival musik tahunan sekolah mereka.
Kemarin Jaehyun harus rela pulang larut malam karena kepala sekolahnya, Lee Soo Man, mengadakan rapat dadakan. Jaehyun memang menghomati kepala sekolahnya itu, tapi terkadang ia sebal dengan sifat perfeksionis kepala sekolahnya. Memang sih festival musik tahunan ini adalah salah satu kebanggaan sekolah secara turun-temurun. NCT high school tidak hanya populer dengan keunggulan akademik-nya, tapi juga non-akademik. Jaehyun tahu, ia memang jadi bisa belajar banyak hal dengan mengikuti organisasi ini, apalagi menjadi ketua-nya, tapi bagaimanapun juga ia hanyalah seorang remaja yang ego-nya masih sangat tinggi. Kalau disuruh memilih, tentu ia akan lebih memilih menemani Taeyong jalan-jalan daripada terjebak selama berjam-jam di ruang rapat bersama dengan kepala sekolahnya! Menatap wajah manis Taeyong tentu akan terasa lebih baik daripada menatap wajah sangar kepala sekolahnya!
Oke, Jaehyun tahu, tidak ada gunanya berandai-andai, toh ia tidak bisa memilih. Sebagai ketua OSIS, ia punya tanggung jawab yang sangat besar.
Satu hal yang Jaehyun tidak sukai dari "tumbuh menjadi dewasa" adalah memikul tanggung jawab dan mengesampingkan ego serta keinginan pribadi. Ia bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya melakukan apapun yang ia mau tanpa memikirkan konsekuensinya bagi diri sendiri dan orang lain.
Yah, tapi begitulah. Namanya juga masih belajar. Wajar dan sangat manusiawi bukan? Karena itulah selama rapat kemarin, Jaehyun berusaha keras bersikap professional, tapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Terlihat dari ekspresi dingin dan datar di wajahnya. Padahal, semua orang tahu sang ketua OSIS mereka itu adalah siswa yang paling ramah dan paling suka tersenyum di seantero sekolah.
Karena perasaan bersalah-nya pada Taeyong itulah, pagi ini Jaehyun bertekad untuk menebusnya. Dini hari, Jaehyun sudah pergi dari rumah. Bukan, bukan pergi ke sekolah, melainkan ke apartemen Taeyong!
Jaehyun ingin membuatkan sarapan untuk Taeyong, kemudian pergi ke sekolah bersama-sama. Jaehyun tahu, Taeyong yang sudah selama 10 tahun tidak pernah menginjakkan kakinya di Seoul itu kini merasa kebingungan dengan perubahan-perubahan tata kota yang cukup drastis. Taeyong tidak mengingat rute bus, jalan, apalagi bangunan! Karena itulah, Jaehyun memutuskan untuk menjemput Taeyong, daripada Taeyong naik taksi lagi seperti kemarin.
Sesampainya di apartemen Taeyong, Jaehyun langsung bergegas naik lift ke lantai 7. Kedua tangannya menjinjing erat tas belanja besar berisi bahan makanan segar dan kaleng.
Taeyong sudah memberitahukan passcode apartemennya pada Jaehyun semalam, karena itulah kini Jaehyun bisa menyelinap dengan mudah di saat Taeyong masih terlelap.
Pukul 5.30, Jaehyun menguap lebar. Bibimbap, kimbap, dan kimchee jigae nya hampir selesai ia sajikan. Jaehyun tahu, Taeyong selalu melewatkan sarapan. Sarapan kesukaan Taeyong hanyalah sebatang cokelat. Saat di New York dulu, Taeyong tidak akan sarapan kalau ibu Jaehyun tidak memintanya untuk sarapan. Yah, minimal memintanya untuk meminum segelas susu, karena sarapan cokelat saja kurang baik untuk kesehatan.
Sejak dulu, orangtua mereka selalu mengandalkan Jaehyun setiap kali Taeyong bersikap terlalu keras kepala. Entah bagaimana, tapi Taeyong selalu menuruti apa kata Jaehyun. Karena itulah, bila permintaan ibu Jaehyun tidak Taeyong turuti, ibunya akan meminta Jaehyun untuk membujuk Taeyong. Selalu berhasil sih, tapi terkadang Jaehyun juga bandel karena lebih mendukung Taeyong daripada ibunya sendiri.
Jaehyun mengangguk mantap. Ia yakin kali ini pun Taeyong akan makan bila ia menyuruhnya makan. Apalagi ia sudah repot-repot bangun dan mandi pagi-pagi sekali hanya untuk datang kemari dan memasak.
"Oh, Jaehyun, kau sedang apa?"
Jaehyun terlonjak kaget karena tadi ia sedang melamun ketika Taeyong keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menghampiri Jaehyun di dapur.
Jaehyun membalikkan badannya. "Nanti sarapan sama-sama ya hyung." Jaehyun membuat senyumannya semanis mungkin dan suaranya selembut mungkin agar Taeyong terbujuk.
Taeyong mengangguk patuh. "Mmm, oke."
Jaehyun nyengir lebar. Berhasil! Sorak nya dalam hati.
"Waaah, aku kangen masakanmu, Jaehyunnie!" Taeyong kini berdiri tepat di samping Jaehyun, matanya membulat lucu, mengamati Jaehyun yang tengah mengaduk kimchee jigae di dalam panci besar.
Jaehyun terkekeh. Senang sekali dengan pengakuan Taeyong barusan. Taeyong sudah 3 tahun tidak makan makanan Korea, tapi yang ia katakan bukanlah "Aku kangen makanan Korea" tapi malah "Aku kangen masakanmu, Jaehyunnie!"
Saat di New York dulu, Jaehyun jarang memasak, kecuali pada hari-hari spesial seperti ulang tahun Taeyong dan orangtua mereka. Lagipula kenapa harus memasak kalau ibunya yang seorang chef handal selalu menyajikan hidangan-hidangan lezat setiap hari?!
Sepertinya "bakat memasak" ibunya diturunkan padanya. Meski ia tidak suka memasak, tapi sekalinya memasak, pasti hasilnya sangat lezat. Taeyong berkata, ia iri pada Jaehyun, karena ia sangat suka memasak tapi hasilnya tidak pernah sebaik Jaehyun. Meskipun begitu, Jaehyun selalu suka masakan Taeyong. Yah, ia bias sekali sih. Ia akan menyukai apapun yang Taeyong buat, apalagi kalau Taeyong membuatkan sesuatu itu hanya untuknya.
"Hyung, aku tidak bisa berjanji padamu kapan aku bisa mengantarmu jalan-jalan." Jaehyun masih merasa bersalah.
Taeyong terkekeh, lalu melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Jaehyun, memeluknya dari belakang. "Tidak apa-apa, Jae. Kau sibuk sekali sih, ketua OSIS! Hahaha…"
"Maafkan aku, hyung." Bisik Jaehyun.
Taeyong memukul punggung Jaehyun pelan. "YA! Jangan merasa bersalah begitu, Jaehyunnie! Kemarin itu bukan salahmu."
"Tapi… aku kan sudah janji, hyung."
"Tsk! Dasar keras kepala! Ya sudah, kalau kau merasa bersalah, kau tinggal saja di sini bersamaku."
"Hah? Kau yakin, hyung?"
Taeyong mengangguk. "Mmm. Lagipula tinggal sendiri tidak enak. Kau tinggal di sini ya Jaehyunnie. Ya, ya, ya? Nanti aku yang bilang pada ibumu. Meskipun ibumu dan ayahku sudah bercerai, aku tetap menganggapmu sebagai adikku."
Tubuh Jaehyun menegang. Ia senang sekaligus sedih mendengar apa yang Taeyong katakan barusan.
Tentu saja Jaehyun senang karena itu berarti dirinya masih "dianggap" oleh Taeyong. Tapi ia sedih karena jujur saja ia ingin lebih dari sekedar "adik". Perasaan-perasaan terlarang yang ia rasakan pada Taeyong saat di New York dulu kini menjadi semakin kuat, apalagi kini Taeyong memintanya untuk tinggal bersama.
"Jae, mau kan? Mau ya. Ya. Ya. Ya?" Taeyong masih memohon dengan manja. Pelukannya semakin erat, ditambah lagi kini ia menempelkan pipinya di punggung Jaehyun, membuat jantung Jaehyun berdebar makin tak karuan.
Jaehyun menghela napas. "Oke, hyung."
"YAY!" Taeyong bersorak senang, menghadiahi Jaehyun kecupan-kecupan tanpa henti di kedua pipinya.
"Hyuung~~ kau belum gosok gigi kan?!" Jaehyun mendorong kepala Taeyong pelan. Sebenarnya sih, dia tak peduli apakah Taeyong sudah menggosok gigi atau belum. Dia senang pagi-pagi seperti ini Taeyong sudah menciumi pipinya. Tapi ia kelewat senang, dan ia masih sayang jantungnya, oleh karena itulah ia mendorong Taeyong menjauh sebelum dirinya terkena serangan jantung mendadak!
Taeyong nyengir tanpa dosa. "Hehehe, belum. Oke deh, aku mandi dulu ya!" Taeyong berlari ke kamar mandi, meninggalkan Jaehyun yang pipinya merona merah.
"Apa sih yang kupikirkan?!" Rasanya Jaehyun ingin menampar dirinya sendiri.
Nanti, saat ia pindah kemari, semoga saja ia bisa mengendalikan dirinya. Masalahnya, Taeyong itu clingy sekali, sangat suka skinship dengan Jaehyun.
Jaehyun menggeleng kuat-kuat. "Aku akan membuat Taeyong hyung menyukaiku, tapi aku harus bisa mengendalikan diriku."
Payah sekali kan kalau Jaehyun "memanfaatkan" kepolosan Taeyong?!
Ia memang menyukai pelukan dan ciuman di pipi yang diberikan Taeyong padanya, tapi ia tidak ingin memanfaatkan semua itu hanya demi kepentingan hatinya. Ia ingin Taeyong juga merasakan hal yang sama dengannya. Ia tidak ingin Taeyong melakukan semua itu hanya karena ia adalah "adik" nya.
.
.
.
"Hyung, minum kopi malam hari tidak baik. Nanti kalau kau tidak bisa tidur bagaimana?"
Jaehyun baru satu hari pindah ke apartemen Taeyong, tapi sudah sering sekali mengomel. Taeyong terkekeh, senang karena ada yang perhatian padanya.
"Besok kan hari Sabtu. Libur. Biar saja, aku mau menemanimu begadang."
Jaehyun menghela napas. Entah harus merasa terharu atau jengkel. Kenapa jengkel? Karena Taeyong menyepelekan kesehatan tubuhnya sendiri!
"Aku tidak akan begadang, hyung. Nanti setelah selesai mengerjakan semua PR ini, aku akan tidur kok."
"Jam berapa? Sekarang sudah jam 11, Jaehyunnie. Sini, aku bantu. Mataku sudah terasa segar karena minum kopi." Taeyong tersenyum hangat, duduk di samping Jaehyun, lalu mulai merebut bukunya.
"Hyung…" Oke, kini Jaehyun terharu.
"Kau sibuk sekali di OSIS, jadinya semua PR mu untuk hari senin nanti jadi terbengkalai kan. Besok juga kau harus bangun pagi karena latihan basket, terus sore nya ngumpul OSIS, persiapan festival. Lalu hari minggu latihan basket lagi dari siang sampai sore. Kapan kau istirahatnya?" Taeyong terus mengomel, matanya terfokus ke buku Jaehyun, menatap soal-soal Kimia yang harus ia jawab.
Jaehyun tersenyum. "Kau seperti manager-ku saja, hafal semua jadwalku, hyung."
Taeyong mencubit pipi Jaehyun sekilas. "Memangnya kau artis?!"
Jaehyun hanya tertawa.
"Kau kerjakan PR Matematika, biar PR Kimia aku yang kerjakan."
Jaehyun mengangguk cepat. Senang sekali karena ia tak harus repot-repot mengerjakan soal-soal kimia yang membuat kepalanya nyut-nyutan.
Selama 15 menit, keduanya terdiam, asyik dengan buku di hadapan masing-masing.
Jaehyun lebih senang mengerjakan PR di atas tempat tidur daripada di atas meja belajar, karena ia bisa tengkurap ataupun bersandar di bantal dengan nyaman.
Jaehyun menggeser meja belajar kecil lipat-nya, lalu ia tiduran di atas bantal sambil masih tetap mengerjakan PR matematika. Taeyong masih tetap duduk sambil membungkuk, mengerjakan PR di atas kasur Jaehyun. Melihat hal ini, Jaehyun mengerutkan keningnya.
"Hyung, punggungmu pegal tidak? Nih, kau pakai mejaku saja." Jaehyun menggeser meja lipatnya ke arah Taeyong.
Taeyong menggeleng. "Kau pakai saja, Jae."
Jaehyun menghela nafas. Dalam hati berjanji besok akan membelikan meja lipat untuk Taeyong. Padahal di kamar Jaehyun ini ada meja belajar yang ukurannya cukup besar dan nyaman di dekat jendela, tapi Taeyong lebih memilih mengerjakan PR Jaehyun di samping Jaehyun, di tempat tidur. Lagi-lagi Jaehyun merasa senang, tapi juga sekaligus merasa bersalah.
Kenapa sih Taeyong hyung selalu membuatku merasakan perasaan-perasaan yang campur aduk seperti ini? Seperti memiliki 2 kutub! Atau… aku saja yang terlalu egois? Jaehyun terus berpikir.
"Jae, besok boleh tidak aku melihatmu latihan basket?" Taeyong tiba-tiba bertanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Jaehyun. Sorot matanya terlihat harap-harap cemas.
Jaehyun mengangguk, nyengir lebar. "Tentu saja boleh, hyung. Kalau kau melihatku, mungkin aku akan jadi tambah semangat latihan!"
Taeyong tersenyum. Senang. "Kalau festival musik? Masih perlu panitia tidak? Aku bisa bantu-bantu."
Jaehyun membulatkan matanya. "Sungguh, hyung? Kau mau jadi panitia?"
Taeyong mengangguk. "Hmmm."
"Sebenarnya kita memang kurang orang, hyung. Kau bisa masuk seksi acara, humas, atau dekorasi. Nanti aku bilang ke ketua pelaksananya, Doyoung."
"Boleh. Kalau kau? Seksi apa?"
Jaehyun menggeleng. "Aku hanya mengawasi, tapi sering bantu sana-sini. Lebih sering di seksi acara dan dekorasi sih, soalnya kepala sekolah kita sudah mewanti-wanti agar festival musik tahun ini lebih oke daripada tahun-tahun sebelumnya. Acaranya harus berbeda, dan dekorasi nya pun tidak mau yang biasa-biasa saja. Katanya harus mengusung nama sekolah kita, Neo Culture Technology."
Taeyong mengangguk lagi. "Oke, terserah ketua panitia saja kalau begitu, sebaiknya aku masuk dekorasi atau acara."
Jaehyun tersenyum semakin lebar. "Aku senang hyung akhirnya mau aktif organisasi."
Taeyong tertawa. Sejak dulu, Taeyong tidak terlalu suka terlibat kegiatan-kegiatan seperti itu. Sebenarnya sampai sekarang pun ia masih tak suka. Alasannya membantu Jaehyun sebenarnya bukanlah karena ia ingin aktif berorganisasi, tapi ia ingin menyibukkan dirinya agar tidak selalu memikirkan Park Chan Yeol, mantan pacarnya yang brengsek!
Selain itu, Taeyong juga ingin selalu berada di dekat Jaehyun.
Jujur saja, Taeyong kecewa sekali karena Jaehyun tidak bisa menemaninya jalan-jalan. Padahal ia sudah memiliki banyak sekali rencana di dalam kepalanya, sudah menentukan tempat-tempat yang ingin ia kunjungi bersama Jaehyun. Tapi apa boleh buat, Jaehyun sang ketua OSIS dan sang ace klub basket sangatlah sibuk! Bahkan sabtu dan minggu pun harus dihabiskan di sekolah! Dasar!
Kalau Taeyong memang tidak bisa mengajak Jaehyun jalan-jalan, itu berarti ialah yang harus menemani Jaehyun dalam setiap aktivitasnya. Apapun itu, Taeyong tidak peduli. Karena ia merasa bahagia hanya dengan berada di dekat Jaehyun.
Dengan berada di dekat Jaehyun seharian penuh, Taeyong berharap bisa "mencuri-curi" waktu Jaehyun. Besok malam, kalau Jaehyun tidak capek sehabis latihan dan acara OSIS, Taeyong akan mengajaknya malam mingguan di pusat kota, atau di mana saja boleh. Bahkan makan tteokpoki di kedai pinggir jalan juga tidak masalah.
Kalau ternyata Jaehyun kelelahan? Hmmm, mungkin Taeyong hanya akan "merawat" bayi besar nya itu di apartemen. Taeyong akan memasak banyak makanan dan kue-kue lezat untuknya, memijiti kaki dan punggungnya, dan menonton DVD sambil tiduran.
Taeyong tersenyum. Yah, sebenarnya apapun kegiatannya tidak masalah sih. Yang paling penting adalah, Taeyong bisa menghabiskan waktunya bersama Jaehyun.
.
.
.
Catatan Author : Siapa yang lebih suka Jaehyun Oppa rambutnya pirang? Ayo ngacung. Hahaha
Makasih ya udah baca + review. ^^
