RATED : M

Warning : BL/YAOi/Boy x Boy, Typos

Genre : Romance, Hurt, Horror

PAIRING CAST :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

NOTE :

FF ini adaptasi dari Film Thailand berjudul Threesome

Saya hanya menuangkannya dalam bentuk fiksi bacaan.

_ CHANBAEK IS REAL _

_oOo_

"Good Night Hyung, saranghae." Bisiknya.

Lagi-lagi Baekhyun hanya tidak menyadari bahwa ada sesosok yang kembali tersenyum melihat betapa manisnya dirinya, melihat betapa menggemaskannya dirinya. Sosok itu berada dibalkon kamar dekat jendela, mengamati bagaimana wajah itu selalu berubah-ubah, kadang terlihat sensual dan menggoda kadang juga terlihat sangat imut.

"Good Night Baekki,-"

"Saranghae," gumamnya pelan. Tentu saja hanya terdengar oleh dirinya sendiri karena dua sejoli yang berada didepannya telah terlelap dengan nyenyak.

_oOo_

.

.

Para kru sudah berkumpul di lokasi syuting- membawa beberapa tas dan peralatan yang akan mereka gunakan untuk settingan adegan hari ini. Chanyeol menyimpan tambang besar dan tripod di tempat yang sudah disediakan.

Lalu bergerak menuju Minseok yang sedang memasang Shoulder Ring membantunya- karena shooting akan segera dimulai. Ia hanya tidak ingin mengulang banyak take seperti kemarin malam sehingga membuatnya kembali pulang larut.

Matanya menoleh sekejap kearah kekasihnya yang sedang serius mendandani pemeran pembantu wanita. Bibirnya mengulum senyum karena Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dengan wajah seperti itu.

Bibir yang mengerucut imut- mata bulan sabit yang selalu mengerjap polos, membuatnya tak berhenti mengagumi paras cantik itu. Jika saja bukan di lokasi shooting sudah pasti dia akan menyerangnya. Omong-omong, pekerjaan Baekhyun adalah seorang make-up artist- meski penampilannya terkesan cuek dan tidak modis. Dan kebetulan lainnya adalah mereka berada pada team yang sama. Hanya saja terkadang bagian rias mempunyai jadwal individu, membuat pasangan itu tidak selalu bersama.

"Jongdae-ssi, mundurkan sedikit!" titah sang sutradara yang sedang mengamati para kru- mengatur beberapa alat dan penerangan untuk dijadikan latar belakang.

"Seperti ini?," seru Jongdae.

"Ya benar, tapi mundurkan sedikit," Jessica melihat Chanyeol yang sedang mengatur slider untuk kamera di bawah tangga.

"Chanyeol-ssi," panggilnya.

"Ya, Nona Jung?"

"Kau naiklah, dan bantu penerangannya," ujarnya sembari menunjuk Jongdae yang sedang kesulitan karena harus memasang lampu besar di tiang penyangga seorang diri.

"Ahh ne," jawabnya- lalu menepuk Tao yang baru datang menyimpan beberapa box kerja mereka untuk menggantikannya mengatur slider.

"Ah ya dan beritahu Dokjun untuk tidak menaruh es nya terlalu banyak, tidak ada yang sedang menjadi malaikat disini," Ujar Jessica masih dengan instruksinya.

Sejak kedatangan pria itu, mata Irene- sang pemeran utama wanita terus mengawasi pergerakan Chanyeol yang terlihat sangat jantan menurutnya. Dia terus mengamati bagaimana sosok itu yang dengan gagahnya menahan penyangga lampu dengan otot lengan berpeluh miliknya -

Itu sangat sexy. fikirnya

Melihat betapa cerewet wanita yang menyutradarai film ini membuat Irene pusing bukan main, namun baru saja bibirnya menyunggingkan seringaian.

"Eonni, aku akan membantu menghalangi penerangannya," bujuknya. Irene memanggil Jessica dengan Eonni karena memang Jessica adalah saudara sepupunya.

"Hmm baiklah, disudut sebelah sana memang lebih sulit dihalangi," gadis itu tersenyum senang lalu beranjak mendekati Chanyeol yang masih terlihat sibuk dilantai dua.

Kris mendudukan dirinya disamping Sutradara muda itu, lalu memberinya sebuah cambuk- property adegan hari ini. Jessica menerimanya lalu meneliti seberapa bagus bahan yang digunakan.

"Ini cukup bagus," Merasa penasaran Jessica mencoba mempraktekannya pada lantai.

CTAARRR

Masih belum puas-

CTARRRRR

"Aaawww" Kris mengaduh merasakan sakit yang menjalar ke dahinya.

Tentu saja ! Bagaimana tidak sakit mendapatkan pantulan dari cambuk yang dimainkan Sutradara muda itu. Terlebih sangat menyebalkan saat melihat Jessica justru terkekeh dengan wajah polosnya lalu berkata-

"Oppss.. Sorry," deretan giginya bahkan terlihat jelas.

Kris hanya mendelik menahan amarah, malu dan sakit sekaligus. Bahkan matanya melotot kearah para pegawainya yang terlihat menahan tawa.

Sang ketua team yang galak mendapat cambukan dari wanita didahi? ohh jangan lupakan garis horizontal yang muncul setelahnya. Terlihat sangat bodoh- fikir mereka.

"Bos lebih terlihat seperti Slave saat mendapatkan cambukan itu" bisik Tao yang terkikik bersama Minseok.

_oOo_

.

.

"Nona Jung, kita perlu mencoba penerangannya," seru Jongdae dari atas sana.

"Tetapi pemeran prianya belum siap, tapi tunggu- Chanyeol ! tolong perankan tokoh prianya dulu,"

"Ne !" lalu Chanyeol berdiri ditengah lampu yang menyorot dari arah belakang.

Irene berjalan perlahan dengan kostum kucing yang melekat begitu sexy ditubuhnya.

"Ya, seperti itu perlahan saja," instruksi Jessica.

Tangannya ia kaitkan dileher pria itu memandangnya dengan tatapan memuja.

"Bagus, ciumlah dengan perlahan,"

Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Chanyeol, memiringkan kepala dan melihat kearah bibir tipis didepannya. Dalam hatinya ingin sekali ia mencium rakus bibir pria itu. Namun tiba-tiba Chanyeol tertawa membuatnya ikut tertawa, ia tahu Chanyeol sangat canggung dan malu.

Perlahan Irene, batinnya

"A-aku tidak bisa," tolak Chanyeol halus.

"Rileks Chanyeol, anggap saja itu pacarmu," Chanyeol terlihat menimang, namun tidak mau mengecewakan Sutradara itu dan mengangguk.

"Baiklah, aku akan mencobanya sekali lagi,"

_oOo_

.

.

Baekhyun memandang kesal kearah Chanyeol yang sedang memegang pinggang wanita kucing diatas sana. Matanya terus mengamati mereka yang sedang melakukan adegan kissing. Melupakan bahwa ia sedang mengoleskan blash on pada seseorang.

Masih dengan fokusnya, pemuda itu bahkan tak mendengar suara bising dari orang-orang sekitarnya.

"Hyung, aku tidak ingin melakukan adegan ciuman seperti ini," ucap Minho menatap dua orang yang beradegan pada Yixing yang sedang mengatur rambutnya.

"Wae? ini terlihat bagus,"

"Apa Hyung suka mencium wanita?" celetuk Xiumin.

"Yaakk !" sentak Yixing, terang saja- pacarnya adalah seorang pria tentu saja. Pria mungil itu hanya terkekeh mendapati reaksi atasannya.

Entah sengaja menggoda Chanyeol atau memang dirinya sendiri mengalami kegugupan- Irene lebih sering menggunakan waktu dekatnya dengan Chanyeol untuk mengulang take. Tentu saja itu membuat Jung sangat kesal.

"Gunakan lidah Irene-ssi,"

"Huh? Lidah?"

"Ya, coba kau beri jilatan di rahang Chanyeol,"

Melihat betapa tidak nyamannya Chanyeol gadis itu sedikit merasa bersalah, karena itu ia terlihat ragu untuk memulainya. Irene tidak melakukannya dengan benar-terlihat seperti seorang amatir, dan itu membuat Jung semakin kesal.

"Bukan seperti itu ! Yak !" Sutradara muda itu lalu melangkah cepat menaiki tangga ke lantai dua. "Lihat aku," menggeser posisi Irene lalu melakukan adegan yang tadi ia instruksikan.

"Dari sini, kemudian mengarah tepat kesini" telunjuknya mengarahkan dimana pemeran wanita itu harus meletakkan lidahnya. Jessica bahkan menjilati rahang tegas Chanyeol dengan sensual.

Chanyeol terkejut bukan main, tapi ia hanya bisa mematung- merasakan benda lunak itu membasahi rahang dan pipinya.

Tidak ada nafsu- melainkan perasaan jijik. Bagaimana bisa ia terlihat seperti patung porselen yang dijual murah untuk dinikmati. Hell, Chanyeol tidak semurah itu untuk mendapatkan sentuhan dari seseorang. Tapi jika ia menolaknya, hanya ucapkan selamat tinggal untuk pekerjaanya.

Irene terlihat mengerti meski sedikit kesal dengan kelakuan sepupunya yang terlihat bernafsu pada Chanyeol- seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia kembali mendekat lalu memperagakan adegan menjilat Chanyeol dipipi kirinya. Tentu saja ia tidak mau menempatkan lidahnya pada liur basah Jung yang masih menempel disana.

"Harus dengan perasaan Irene-ssi"

"Jilati bagian atasnya,"

Seperti yang diperintahkan Irene menjilati rahang dan pipi Chanyeol dengan penuh gairah. Ia tidak bisa mengabaikan gairahnya lagi saat ini. Pria itu terlalu menggoda untuk diabaikan.

"Ya bagus seperti itu"

Chanyeol memandang gadis didepannya cukup lama, entah mengapa seperti ada magnet yang menariknya untuk terus menatap lekat paras cantik yang ujung hidungnya bahkan masih bersentuhan dagunya.

"Terus, beri tatapan seperti itu. Jangan melamun,"

"CUT ! cukup- ini sudah bagus,"

_oOo_

.

.

"Hey adik kecil, hentikan saja" Baekhyun terkejut seseorang menepik pipinya. Lalu berpaling untuk melihat dan ..

"Oh Astaga ! maafkan aku Nona," melihat ceceran lipstick di sekitar bibir dan dagu wanita yang sedang ia rias Baekhyun segera mengambil Tissue basah untuk membersihkannya.

"Kau harus belajar merias lagi," ujar Taeyon.

"Ma-Maafkan aku Noona," menunduk dan mengucapkan permintaan maaf berkali-kali. Ia merasa sangat bersalah-

Karena sedari tadi wajah kesalnya terlalu fokus melihat adegan intim yang dilakukan kekasihnya, meski prianya hanya diperlukan untuk latihan si pemeran wanita saja. Namun hatinya benar-benar bergejolak melihat betapa tidak berdayanya saat Chanyeol mendapat jilatan yang begitu sensual, belum lagi belaian halus dari tangan gadis itu di tubuh sang kekasih.

Kali ini Baekhyun benar-benar meradang- terlalu takut Chanyeolnya akan tergoda.

_oOo_

.

.

"Kau hanya seorang aktor dan kru biasa, kenapa harus melakukan adegan seperti itu? berciuman dengan wanita lain, dan Hyung hanya berdiam diri seperti orang bodoh!" sifat posessifnya kembali muncul saat mereka berada dibelakang gedung. Baekhyun menyeret Chanyeol kesana karena ia benar-benar marah.

"Baekhyun ! jaga ucapanmu. itu hanya acting ! tidak ada yang spesial," tegasnya. Ia sangat kesal saat Baekhyun tidak bisa mengontrol ucapannya jika sedang cemburu seperti ini. Mulutnya akan benar-benar menjadi tajam.

Pemuda itu menunduk- wajah sedihnya membuat Chanyeol kembali luluh, mata kekasihnya terlihat berkaca-kaca dan itu cukup membuatnya sadar akan bentakan barusan. Chanyeol meraih bahu Baekhyun lalu menatapnya dalam-

"Baby.. dengarkan aku. Bukankah kau yang mengatakan padaku? bahwa kita harus bersikap biasa? atau semua orang akan tahu kita adalah sepasang kekasih. kau mau itu terjadi?" Baekhyun menggeleng, ia sangat tahu resiko apa yang akan terjadi jika hubungannya diketahui banyak pihak. Itu bisa saja mempertaruhkan pekerjaan mereka.

"Sayang, jangan terlalu banyak berfikir heum?" Baekhyun masih membisu tak mengeluarkan sepatah katapun sebelum mereka terkejut karena Kris berada disana menginterupsi keduanya, reflek Chanyeol melepaskan pegangannya pada bahu kekasihnya.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan disini? aku mencarimu, cepat kembali bekerja,"

"Ne Hyung, maaf aku hanya sedikit beristirahat," ujarnya sembari melangkah meninggalkan mereka berdua.

"Hmm" mata Kris lalu mengarah pada Baekhyun yang masih membatu disana. Merasa diperhatikan Baekhyun beranjak pergi dengan wajah yang terlihat sedikit tegang.

"Apa yang kau bicarakan dengannya Baekhyun?" tatapan tajamnya membuat nyali pemuda itu sedikit ciut.

"Emm tidak ada yang kami bicarakan Hyung, hanya kebetulan bertemu disini,"

"Baguslah, jangan sampai aku mengetahui sesuatu diantara kalian. Jika aku tahu kau menganggunya," lalu berbisik "tidak akan ada akhir yang bagus untukmu, mengerti?"

"Aku mengerti Hyung," gugupnya.

"Kau tahu? aku sudah lama menunggunya,"

"Huh?"

"apa aku harus mengulangnya lagi?" suaranya sedikit meninggi membuat Baekhyun semakit takut.

"A-ahh tidak Hyung," Kris tersenyum sinis lalu kembali masuk kedalam ruangan.

"Apakah maksudnya Kris Hyung menyukai Chanyeol?" gumamnya. "Haahh dia gay?" masih sibuk dengan kehebohannya sendiri.

_oOo_

.

.

DUM DUM DUM

Suara debuman drum terdengar begitu menggeparkan, gadis berkostum kucing itu terlihat mengendap-endap disetiap sudut yang ia lewati. Pencahayaan yang remang-remang dan sedikit asap halus memberikan kesan misteri pada adegan kali ini.

"Miaawww"

Suara kucing manja terdengar begitu nakal.

"Miaawww" terdengar sahutan dari suara kucing jantan.

Tap Tap Tap

Suara sepatu boots terdengar sedang malangkahi tangga, matanya melirik kekanan dan kekiri mencari kucing pria yang menjadi pasangannya.

"Miaawww" kucing betina itu menemukan pasangannya yang ternyata berada diatap- mereka mendekat dan melakukan adegan saling menjilat seperti yang tadi sudah diperagakan.

"CUT !"

"Bagus sekali Irene-ssi, Minho-ssi"

Semua kru bertepuk tangan, merasakan kelagaan karena shooting tidak berjalan alot. Ini mungkin berkat keseriusan mereka mengatur settingan tempat hari ini.

"Semua adegan sudah selesai, kita bisa berkemas," ucap Jessica. Mereka segera membereskan dan mengemasi peralatan-peralatan yang telah digunakan.

Chanyeol terlihat berjalan dengan Minseok dan Jongdae membawa box lampu, dan beberapa property tiang. Sebelum panggilan Irene membuatnya berhenti.

"Hey"

"Ya?"

"Bisakah kita berbicara?" tanyanya. Chanyeol melirik penampilan gadis itu yang sangat menggoda, bukan karena nakal- tapi apakah Irene tidak kedinginan dengan pakaian mini seperti itu? Ini adalah musim gugur, dan angin selalu berhembus lebih kencang dari biasanya.

"Kris Hyung bisa tolong bawakan barangku? aku akan menyusul," titahnya memberi beberapa barang yang ia bawa pada rekannya.

"Aku sedang terburu-buru, jadi cepatlah,"

"Hmm" melihat bagaimana kedua rekannya pergi matanya lalu beralih pada gadis itu. "Ada apa Nona?"

"mm namamu Chanyeol kan?"

"Ya, panggil saja aku begitu," senyumnya yang menawan membuat Irene kembali merona.

"Chanyeol-ssi, aku.."

"Ya?"

"Aku ingin meminta nomor teleponmu," masih dengan wajah imut yang membuat Chanyeol semakin gemas. Ia akui Irene memang cantik dan ia cukup tertarik.

"Untuk apa - "

"Irene saja," dengan senyumnya yang menggoda membuat pria itu mengangguk ikut tersenyum "Film ini mungkin masih berjalan lama, kita akan lebih sering bertemu. Dan jika aku memiliki nomormu bukankah itu akan lebih mudah? Maksudku untuk saling berbincang,"

"kau sangat pintar berbicara Irene, aku fikir kau hanya aktor biasa," pujinya.

"Benarkah? apakah kau suka gadis yang banyak bicara?"

"mm tidak. Aku lebih menyukai yang biasa saja, tidak banyak bicara," ujarnya sambil terkekeh. Irene merengut-

"Tapi sebenarnya aku tidak pandai dalam hal apapun," masih dalam usaha membuat Chanyeol tertarik.

"kau bohong"

Matanya mengerjap lucu, Irene benar-benar berusaha memberikan kesan terbaik diperbincangannya dengan Chanyeol kali ini. "Tidak, aku tidak berbohong," bibirnya mengerucut lucu mengundang tawa dari si pria.

"Beri aku nomormu," menyodorkan ponsel miliknya pada Chanyeol. Sedikit bingung namun akhirnya Chanyeol memberikannya.

Baekhyun yang melihat semua adegan itu hanya bisa menahan tangisnya. Seperti ini yang ia takutkan saat tidak berada disamping kekasihnya. Chanyeol terlalu baik pada siapapun, seakan memberi harapan kepada semua orang yang mendekatinya.

_oOo_

.

.

Hari ketika cinta menjadi terbiasa

waktu ketika hati menjadi menjauh

bahkan hanya melihatmu, itu menyakitkan

Hatiku terlalu sakit

kau begitu berharga dan 'tak tergantikan

ini bukan kenangan kita

ini cintaku, seseorang yang membuatku tertawa adalah kau

kau menjadi sangat jauh, hatiku 'tak bisa lagi menggapaimu

Bisakah kita kembali lagi?

hatiku yang kehilanganmu memberitahumu untuk kembali

cinta datang begitu hangat

hati ini berkibar

aku harus memelukmu walau hanya sebentar

Kau selalu disampingku

kau adalah keberuntunganku

aku melihatmu

aku melihat kenangan telah tertelan

Aku mencintaimu seperti hujan yang cerah

seseorang yang menggenggam nafasku

seperti mimpi, seperti sekarang, seperti ini

.

.

Kyuhyun – The Day We Felt The Distance

.

.

.

Baekhyun menangis tersedu mendengarkan musik yang mengalun sangat indah dari radio tape mobil. Dalamnya makna dari setiap untaian kata yang tersirat dilagu itu mencerminkan perasaan yang kini tengah dirasakannya.

Kekasihnya berada didepan mata-

Tapi mengapa sulit untuk dijangkau?

Yixing yang melihat betapa terlukanya pemuda itu hanya diam tanpa berkata apapun, ia masih punya hati untuk tidak merusak suasana hatinya dengan mengganti channel lagu yang mengiris hati itu dengan lagu rock kesukaannya.

Tapi melihat air mata Baekhyun yang terus mengalir bersama ingus membuatnya sedikit jengkel. Matanya menoleh ke jalanan yang sepi ditemani alunan lagu sedih membuatnya sedikit terbawa suasana, dengan berat hati ia menepikan mobilnya lalu mematikan radio tape.

Mata pria mungil itu menatap tajam Baekhyun yang masih asyik dengan dunianya- "Baekhyun ! sampai kapan kau akan menangis huh? Kau punya pacar yang tampan, tentu saja kau harus siap menerima resikonya,"

Baekhyun hanya menunduk memainkan jemarinya dengan resah. "Hei, ini bukan pertama kalinya. Kau memang cantik tapi wanita itu juga sangat cantik. Kau harus kuat arra?"

"Tenanglah aku juga cantik, jadi aku bisa merasakannya. Kau bisa lihat kan? setiap hari berapa banyak pria yang harus kuhadapi dan tentu saja kau juga tahu mereka seperti apa. Karena mereka semua tampan maka tidak ada yang beres. Akan selalu ada wanita yang merebutnya, pada akhirnya kita yang akan terluka saat dicampakkan,"

"Be-benarkah seperti itu Hyung? Tapi aku tidak bisa mencintai orang lain Hiks,"

Lagi-lagi Yixing memutar bola matanya jengah, "Baekki, turunlah"

"Huh? Tapi ini belum sampai Hyung, juga sangat gelap,"

"Maka ingatlah kata-katamu barusan yang membuatku ingin menendangmu. Kau tahu? kau bisa mencari pria lain yang lebih baik dari Chanyeol," masih dengan rasa kesalnya.

"Hmm, terimakasih untuk nasihatmu Hyung,"

Baekhyun kembali menunduk, mengusap air mata yang sesekali masih menetes dipipinya. Ia hanya tak ingin ditelantarkan dipinggir jalan malam-malam begini. Jadi mendengar semua ocehan pria disampingnya mungkin lebih baik.

_oOo_

.

.

GLUK GLUK GLUK

Kimchi, Sosis dan potongan kentang goreng tertata rapih di beberapa piring diatas meja. Makanan itu terlihat sangat menggiurkan, namun tidak bagi beberapa orang yang sedang duduk diantara meja itu- mereka meneguk kasar ludahnya saat melihat sosok pemuda manis meneguk botol soju ke limanya.

BRAK

Baekhyun menyimpan botol soju dengan keras diatas meja, wajahnya merah merona menandakan ia sudah sangat mabuk. Tapi bukan itu yang membuat lelaki lain dihadapannya tercengang, tapi air mata yang terus mengalir dari mata bulat yang selalu bersinar cerah itu.

"Kalian semua adalah keparat! Hik. Semua orang tampan itu brengsek!" makinya.

Luhan, Kyungsoo dan Suho hanya saling berpandangan bingung terhadap apa yang diucapkan sahabatnya ini.

"Apa karena itu kalian senang mempermainkan hati seseorang?" masih dengan racauannya "huh lain kali aku akan mencari pria jelek saja agar dia mencintaiku sampai mati," mata sayunya bahkan sudah melirik kesegala arah karena tak fokus.

"Memangnya orang-orang jelek itu akan sudi memilih pemuda sepertimu?" celetuk Kyungsoo.

"Yakk dasar sialan! maksudmu aku tidak cantik?"

"Kau cantik Baekki, tapi sungguh merepotkan, siapa yang bisa tahan denganmu?" ujar Suho cuek lalu meneguk sisa soju digelasnya.

BRUM BRUM

Sebuah motor matic keluaran lama mengusik percakapan mereka karena bunyinya yang berisik. Disana Chanyeol membuka helm dan meletakannya diatas motor. Menghampiri para pemuda yang sedang asyik berkumpul disebuah meja bawah pohon yang memang tersedia didepan gedung apartement.

"Chanyeol? bukankah kau bilang akan minum bersama bos mu?" Tanya Luhan bingung.

"Aku hanya pergi sebentar," meraih tangan Baekhyunnya, mencium dahi dan pipi pemuda manis yang menunduk itu dengan lembut "aku sudah tahu dia akan seperti ini," lanjutnya, Chanyeol mengambil tas dan box make up sang kekasih lalu menyelipkan tangannya diantara kaki dan punggung Baekhyun.

"Sayang, kita pulang hmm?"

"Okay, ingatkan aku bahwa kau adalah pria brengsek,"

Mereka semua terkekeh melihat Baekhyun yang masih sempat mengumpat tapi tidak berdaya bahkan saat Chanyeol menggendongnya mesra. Baekhyun masih dalam pengaruh alkohol, dan akan selalu seperti itu saat merasa cemburu.

"Aku fikir saat Chanyeol Hyung datang dia akan menjadi normal, tapi mulutnya masih bisa berbicara busuk," celetuk Kyungsoo.

"Kyungsoo-ah.. yang kau bicarakan itu kesayanganku," interupsi Chanyeol yang bahkan sudah beberapa langkah jauh dari mereka.

"Opps sorry," lalu kembali terkekeh.

_oOo_

.

.

Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun perlahan, tangannya masih berada dipinggang kekasihnya. Ia mengamati bagaimana wajah sayu itu begitu merah.

CUP CUP CUP

Baekhyun membuka mata ketika merasakan geli disekitar wajahnya, ia terkekeh melihat prianyalah yang melakukannya.

Baekhyun mengalungkan tangannya dileher Chanyeol, "Chanyeol~ ayo kita berciuman,"

"Tidak mau. Bau," ketusnya tapi bibirnya tetap menelusuri setiap inchi wajah pemuda itu.

"Mmm Baekki tidak bau," rengeknya. Bibirnya mengerucut membuat Chanyeol gemas bukan main.

"Bau Baby,"

"Bau darimana Chanlie, ayo~ cium Baekki," dengan aegyo nya "meskipun Chanlie bau buat Baekki tetap harum~" Chanyeol terkekeh geli.

Matanya menatap mata sipit itu, lalu mendekatkan wajahya dan berbisik. "Sayang~"

"hmm" memejamkan mata dan sedikit mendesah kala suara berat itu terdengar sangat sexy ditelinganya.

"Mulutmu yang bau ikan, cepat sikat gigimu sana!" ujar Chanyeol sedikit berteriak membuat Baekhyun melonjak kaget. Pria itu kembali terkekeh melihat wajah merah kekasihnya lalu bangkit dan melepas pakaiannya yang sudah tercium bau keringat.

Baekhyun kesal bukan main, kekasihnya tidak mudah untuk digoda. Dengan wajah yang ditekuk dan mulutnya yang berkomat kamit Baekhyun melangkah menuju kamar mandi flatnya.

Pemuda itu menyikat giginya dengan semangat, menatap pantulan dirinya dicermin.

"Menyebalkan," ketusnya.

_oOo_

.

.

TRIING TRIING

Bunyi ponsel yang begitu keras sangat mengganggu, Chanyeol meletakkan majalahnya dan melihat layar ponsel yang bertuliskan nama atasannya. Dengan segera mengangkatnya-

"Ya Kris Hyung?"

"….."

"Ahh baiklah, aku akan segera kesana,"

Dikamar mandi Baekhyun hanya kembali menggerutu mendengar ucapan kekasihnya. Pasti atasannya yang tertarik pada Chanyeol.

"Baby, Hyung akan keluar sebentar. Kris Hyung mabuk parah, tidak bisa pulang sendiri. Dia menyuruhku untuk menjemputnya,"

"Chanlie~. Kris Hyung itu menyukaimu dan ini hanya rencananya saja. Dia hanya ingin merayumu," busa dari pasta gigi bahkan masih begitu penuh dibibirnya.

"ck yang benar saja. Kau tidurlah dulu dan jangan menunggu, aku pergi" bayangan kekasihnya sudah menghilang dari pantulan cermin, entah kenapa hatinya begitu sakit kala Chanyeol lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya.

Baekhyun mencuci mulutnya dan menyimpan sikat giginya ditempat. Setelah mengganti piyamanya ia menarik selimut dan berbaring diranjangnya hingga terlelap.

_oOo_

.

.

TAP TAP TAP

Chanyeol berdiri didepan pintu lift yang masih bergerak maju dilantai lima. Cukup membuatnya bosan, ini sudah malam dan ia tidak mau meninggalkan kekasihnya terlalu lama. Matanya melirik kesekitar yang memang sudah sepi.

Namun dahinya mengerut kala ia melihat sosok lain tengah berdiri didepan unit apartement nya-

Seorang pria, Sayang sekali tidak bisa melihat wajahnya karena pria itu memunggunginya. Chanyeol baru saja ingin menghampirinya tapi lift sudah terbuka dan ia tidak mau menunggu lagi. Saat ia berbalik menghadap pintu lift sosok pria itu sudah tidak ada lagi.

Chanyeol mengucek matanya, ia pasti salah lihat. Lalu jarinya menekan angka satu dan tak lama lift itu turun.

Disana.. sosok pria itu tidak pernah beranjak, ia menoleh kebelakang melihat kearah pintu lift yang tertutup dengan sorot mata yang tajam.

_oOo_

.

.

Baekhyun terbangun dari tidurnya, ia ingin kekamar kecil. Matanya setengah terpejam meski ia sedang mengeluarkan sesuatu yang mengganggu tidur nyenyaknya.

Baekhyun melirik jam menunjukan pukul 2:20 pagi. Chanyeol masih belum kembali, itu artinya malam ini ia kembali tidur sendiri. Baekhyun duduk diranjangnya mengingat beberapa hal, matanya kembali tidak bisa berkompromi- sangat berat. Ia bahkan terlalu malas untuk menutup jendela kamar yang membuat tirainya terus bergoyang karena hembusan angin malam.

Masih dengan terkantuk-kantuk Baekhyun terlelap begitu saja ketika kepalanya bersandar pada bahu seseorang. Begitu nyaman-

bahkan saat sebuah tangan membelainya dengan sangat halus. Baekhyun bahkan semakin menyerukan wajahnya pada leher yang terasa hangat itu.

"mmhh nyaman" gumamnya.

Sosok itu tersenyum senang mendengarnya, memberikan kecupan manis pada dahi pemuda itu dan menatapnya penuh kasih sayang.

Baekhyun terlelap…

Sangat lelap..

Dan begitu nyaman dalam tidurnya… Hingga-

PRRAANG

Baekhyun terkejut bukan main, ia bahkan membuka matanya seketika, melihat sekeliling dan mendapati sebuah kaleng susu yang terjatuh dari meja begitu saja. Padahal angin tidak begitu terasa. Kesadarannya tiba-tiba kembali, sayup-sayup ia mendengar rintihan seseorang bahkan juga suara tawa wanita. Bulu kuduknya meremang, entah kenapa suasana tiba-tiba begitu mencekam. Seakan malam ini para makhluk tak kasat mata berkeliaran disekitarnya.

Pemuda itu semakin menggigil kala melihat kaleng susu itu menggelinding dengan sendirinya.

Tidak! Baekhyun tidak sanggup lagi melihat adegan yang mungkin akan semakin mengerikan. Berlari keluar sama bodohnya karena ini sudah larut, ia tidak akan menemukan siapapun diluar. Dengan cepat ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, sedikit berdoa berharap pagi akan segera menjemput.

Dibalik ketakutan yang Baekhyun rasakan sosok lain hanya terkekeh melihat menggemaskannya wajah pemuda manis itu. Tangannya bahkan masih memegang kaleng susu yang sedari tadi ia mainkan.

Sedikit menghibur memang menakuti pemuda yang senang mengumpat itu. Tapi itu tidak berselang lama karena telinganya kembali mendengar dengkuran keras dari si pemilik kamar ini.

"Ck, Dasar tukang tidur" kekehnya, menyibak selimut yang menggulung dan ikut berbaring memeluk pemuda manis itu setelah memberinya ciuman dipelipis Baekhyun.

.

.

.

.

TBC

Terimakasih yang udah menyempatkan diri untuk review. Okke aku labih disini tadinya mau pake Hyung Hyung gitu panggilan baek buat Chanyeol, tapi kayaknya kurang pas juga. Jadi Hyungnya dipake sesekali aja sih. Dan aku lebih pake panggilan nama buat mereka disini. So maaf untuk chapter kemaren yang banyak salah dan kurang memuaskan ya..

Semoga suka. Dan aku harap kalian meninggalkan jejak ^_^ Plutoz