Haaaiii minna-chan… akhrinya saya apdet juga (OvO)b

Semoga tidak mengecewakan ya lanjutannya! :)

Warning : Typo(s), Semi-canon, and maybe OOC

Disclaimer : Naruto alweees punyanya Abang Masashi tercinta~ *digaplok istrinya*


Guide?

Chapter 2 : Tersenyumlah, Sasuke-kun!

.

.

.


(Third Person's POV)

Suatu pagi yang cerah. Burung-burung berkicauan di sana-sini. Embun-embun yang membasahi bunga-bunga, menambah kesan sejuk dan ceria di sebuah desa ini. Orang-orang yang mulai bangun dan memulai aktifitasnya dengan ramah dan ceria. Sungguh suatu hal yang tidak akan kau dapatkan di manapun.

Sama seperti halnya pria berambut raven itu. Dengan tenang dia berjalan menuju sebuah ruko. Dia berjalan seperti tidak ada yang memperhatikannya, padahal setiap yang dilewatinya mata orang-orang selalu mengikutinya. Tampang coolnya masih terjaga dengan rapi.

*TOK TOK TOK*

"Iya, dengan siapa? Eh—" tanya Inoichi. Setelah dia memperhatikan siapa yang mengetuk rumahnya, dia agak kaget.

"Ohayou, Paman." sapa pria itu dengan muka datarnya seperti biasa.

"Bu-bukankah kau Sasuke? Ada urusan apa kau ke sini hah?" ucap Inoichi dengan mata tajam dan marah. Sasuke hanya diam dan menatap Inoichi selama beberapa saat.

"Hn. Sepertinya Ino tidak memberitahu hal ini ya," ucap Sasuke kemudian. Sedangkan Inoichi hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti—yang meminta penjelasan lebih.

"Kenapa kau cari-cari putri—" tanya Inoichi.

"Ah, Sasuke-kun! Kau cepat sekali," teriak seorang gadis dari tangga.

Teriakan itu sontak membuat dua orang pria itu menolehkan pandangannya. Yang satu tersenyum tipis, dan yang satu lagi terlihat kebingungan. Kemudian gadis itu berjalan mendekati dua sosok yang masih mematung di depan pintu.

"Err, Ayah. Mungkin aku belum cerita tentang misiku. Kenapa kita tidak sarapan saja dulu sementara aku akan menceritakan misiku? Mau bergabung, Sasuke-kun?" ucap gadis itu sambil tersenyum ramah. Sasuke hanya mengangguk pelan dan mengikuti dua orang yang sudah terlebih dahulu berjalan di depannya.

"Hn, tidak usah. Aku teh saja." ucap Sasuke menolak ketika Ino akan mengambilkannya semangkuk nasi. Kemudian Ino mengambilkannya teh.

"Jadi sebenarnya, Ayah… Waktu itu aku sehabis pulang dari misiku di Suna…" ucap Ino memulai ceritanya yang panjang dan lebar. Sementara ayahnya hanya mendengarkannya sambil makan dan sesekali mengangguk-angguk.

Sasuke hanya diam dan menyesap tehnya. Diam-diam dia meneliti rumah—atau yang bisa disebut ruko yang bernuansa bunga itu. Komentar pertama yang dia dapatkan setelah masuk dalam ruko ini hanyalah satu; wangi. Dengan bunga-bunga yang bervariasi dan indah menambah kesan cantik di ruko ini.

Hangat. Kesan kedua yang dia dapati. Memang pada awalnya dia merasa seperti diusir melihat sikap dan ekspresi ayahnya. Tapi itu hanyalah sebuah kekhawatiran seorang ayah terhadap anaknya. Dan suasana di ruang makan ini lebih hangat ketika ayah Ino tahu maksud kedatangan mantan ninja—yang sekarang sudah kembali jadi ninja Konoha.

Melihat Ino yang berceloteh dan ayahnya yang menjadi pendengar baik, membuat pemuda Uchiha satu ini mau tidak mau teringat pada keluarganya dulu. Sudah terlambat jika dia ingin membuat suasana hangat ini di keluarganya. Oh, bahkan semua keluarganya mati 'kan? Ada rasa senang dan iri berada di ruang makan ini. Senang karena bisa ikut merasakan bagaimana kehangatan keluarga itu, dan sekaligus iri karena dia tidak dapat merasakan ini setiap hari seperti Ino.

"…Seperti itulah ceritanya. Iya 'kan Sasuke-kun?" ucap Ino mengakhiri cerita panjangnya. Sasuke yang sedikit kaget karena tersadar dari daydreamingnya hanya bisa mengangguk kecil.

"Hmmm… 6 bulan, eh? Apa tidak terlalu lama? 6 bulan bersama Sasuke…," ucap Inoichi sengaja menggantung kalimatnya dan melirik pria berparas tampan itu.

Merasa dilirik dan diperhatikan, Sasuke meletakkan cangkir tehnya dan angkat bicara.

"Saya akan menyelesaikan misi—maksud saya hukuman ini lebih cepat dari waktu yang disediakan. Saya juga tidak tahu kenapa waktunya sangat panjang," jawab Sasuke tenang. Sedangkan Inoichi hanya diam. Tak lama kemudian dia menyunggingkan sebuah senyuman.

"Baiklah. Jaga Ino baik-baik ya, Sasuke." ucap Inoichi. Tatapannya melembut, tidak seperti di depan pintu ruko tadi. Sasuke hanya mengangguk tanpa ekspresi.

"Ah, Ayah! Kenapa aku seperti barang yang akan diserahkan sih? Aku juga ninja, bisa melindungi diri!" sahut Ino mengerucutkan bibirnya. Ayahnya hanya tertawa kecil. Mereka pun melanjutkan acara sarapan mereka dengan hening yang tenang.

Beberapa menit kemudian, Ino dan ayahnya telah selesai makan. Sasuke dan Ino pun akhirnya pamit untuk menjalankan misi mereka—disebut hukuman untuk Sasuke dan misi untuk Ino.


~ Sasuke Ino ~


Setelah keluar dari kediaman Yamanaka, keduanya berjalan beriringan. Keheningan tercipta dari dua insan yang belum begitu saling mengenal ini.

"Kau pandai mencari, ya? Padahal kemarin aku hanya memberitahukan arah rumahku saja, tapi kau sudah menemukan rumahku." puji Ino mencoba mencari topik.

"Hn. Siapa yang tidak tahu kalau banner bunga Yamanakamu itu besar sekali?" ucap Sasuke. Sedangkan Ino hanya terkekeh.

Hening lagi. Jujur Ino tidak suka dengan keheningan, apalagi jika ada seseorang di sampingnya. Mulutnya terasa gatal jika tidak berbicara. Tapi apa yang akan dia bicarakan dengan orang yang tidak begitu dia kenal?

Mereka tetap berjalan selama beberapa menit. Merasa tidak tahu arah perjalanan ini Ino pun bertanya pada sosok pemuda raven itu.

"Err, Sasuke-kun? Kita mau ke mana dulu ini?" tanya Ino memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

"Tidak tahu. Kau kan guidenya, terserah kau." jawab Sasuke datar.

Ino memukul keningnya kecil. Dia pikir dia hanya akan menemaninya saja, tapi dia juga harus mengatur semuanya ternyata. Jujur Ino tidak berpikir sampai sejauh itu. Kemudian Ino menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal itu. Berpikir mulai dari mana misi—dan hukuman ini akan dilaksanakan?

"Baiklah. Ayo kita mulai dengan menuju ke kompleks rumah yang terletak di sebelah kanan sendiri." ucap Ino tersenyum. Sedangkan Sasuke hanya bergumam kata-kata terserah.

Setelah sampai di kompleks yang paling kanan sendiri di desa Konoha ini, mereka berdua pun berhenti. Seperti meminta aba-aba Sasuke menoleh ke arah Ino, tapi masih dengan muka datarnya seperti biasa.

"Ehm…, yah. Kita akan mulai dengan rumah yang ini," ucap Ino mendikte gerakan Sasuke.

*TING TUNG*

"Ya, di sini kediaman—Ino? Dan… Sasuke?" ucap seseorang berambut panjang dan berkulit putih. Yang disapa hanya tersenyum lebar dan kelihatan kaget—hanya salah satu.

"Hinata! Kapan kau kembali dari misi panjangmu itu? Aku kangen padamu~" ucap Ino dan tanpa ba-bi-bu dia langsung memeluk gadis bermata lavender itu. Hinata membalas pelukannya selama beberapa saat dan melepaskannya.

"Baru pagi ini bersama Neji. Ada apa kalian ke sini?" jawab Hinata memperhatikan dua sosok yang berada di depan rumah keluarga Hyuuga itu.

"Kau tahu, Hinata… Selama aku di Suna aku sangat merindukanmu! Tahu tidak kalau aku setiap makan, tidur,…" celoteh Ino dengan ceria. Hinata hanya menanggapinya dengan senyuman dan gumaman tanda setuju.

Sedangkan pemuda Uchiha yang berada di sebelahnya hanya bisa sedikit bersweatdrop ria. Perempuan memang selalu suka berbicara tanpa henti.

"Aku kangen sekali waktu kita bertiga, bersama si jidat itu—"

"Ehm," dehem Sasuke mencoba untuk mengingatkan Ino kenapa mereka bisa berada di kediaman Hyuuga. Ino pun berhenti berceloteh dan menoleh ke arah Sasuke dengan pandangan maaf.

"Se-sepertinya kita akan sambung perbincangan kita lain waktu, Ino. Ada apa kalian berdua ke sini?" tanya Hinata kemudian. Sasuke hanya diam dan menyerahkan sebuah kertas. Hinata pun membacanya dan sedikit tertawa geli.

"Jadi begitu? Baiklah. Aku ingin minta tolong untuk…" ucap Hinata menggantung kalimatnya sambil menatap Sasuke dan Ino.

Sasuke dan Ino pun balas menatap Hinata dengan wajah penuh penasaran dan sedikit berkeringat—oke, itu khusus untuk Ino. Beberapa saat kemudian Hinata akhirnya angkat bicara dan tersenyum.

"Aku minta kalian berdua untuk memotong rumput halaman latihan keluarga Hyuuga. Rumputnya sudah agak tinggi-tinggi," ucap Hinata. Sementara Ino dan Sasuke hanya bisa sweatdrop.

"Baiklah. Sementara itu kita akan melanjutkan obrolan kita, Hinata~"

"Tidak. Kau harus ikut denganku," bantah Sasuke. Sedangkan Ino mengerutkan keningnya.

"Apa? Jadi aku juga harus ikut hukumanmu itu?" tanya Ino melebarkan matanya.

"Hn. Itu juga salah satu tugas dari guide; membantu. Lagipula dia juga berkata 'kalian berdua' kan?" balas Sasuke. Sedangkan Ino hanya bisa menghela napas dan menganggukkan kepalanya.

Walaupun sebenarnya Sasuke tahu tidak ada peraturan seperti itu.


~ Sasuke Ino ~


Seseorang berambut panjang dan bermata lavender melangkah menuju halaman latihannya untuk berlatih seperti biasanya. Tapi setelah dia berada di sana sepertinya ada pemandangan aneh.

"Ah, ohayou, Neji." sapa Hinata yang duduk di sebelah nampan berisi minuman dan cemilan. Sementara pria itu mengangguk kecil dan duduk di sebelah Hinata.

"Bisa tolong jelaskan padaku apa yang telah terjadi?" tanya Neji sambil memandang dua sosok yang sedang memotong rumput. Hinata hanya tersenyum dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

"…Begitulah." ucap Hinata mengakhiri ceritanya.

"Hooo…" komentar Neji sedikit menyeringai.

Beberapa jam kemudian setelah mereka berdua memotong semua rumput di halaman kediaman Hyuuga ini dengan rapi dan bersih, Sasuke dan Ino kembali ke tempat Hinata dan Neji duduk. Keduanya—mungkin hanya Ino yang terlihat sedikit kecapaian.

"Terima kasih, Sasuke, Ino." ucap Hinata tersenyum. Sementara Sasuke tidak menjawab dan Ino membalas tersenyum juga.

"Tidak kusangka, satu-satunya anggota klan Uchiha yang masih hidup mau memotong rumput," ucap Neji menyeringai. Sasuke yang duduk di sebelah kiri nampan hanya diam.

"Aku kira harga dirimu tinggi sekali. Ternyata tidak," ucap Neji kemudian. Sasuke yang merasa sedikit tersulut emosinya pun angkat bicara.

"Diam kau." ucap Sasuke dengan tajam dan penuh aura dingin.

"Eh, beraninya menyuruh majikannya diam," jawab Neji terkikik geli dan menyeringai.

Sasuke sepertinya sudah mencapai puncak emosi. Yah, dia sangat sensitif jika dikait-kaitkan dengan penghinaan klan Uchiha ataupun keluarganya. Dengan emosi Sasuke pun berkata dengan dingin sebelum akhirnya dia meninggalkan kediaman Hyuuga.

"Aku tidak sudi jadi pembantumu."

"Eh? Sa-sasuke-kun? Mau ke mana kau? Heeeiiii!" ucap Ino kaget ketika Sasuke melenggang pergi. Lalu kemudian dia menatap Neji dengan pandangan marah.

"Neji! Kenapa sih kau ini?" tanya Ino marah. Yang ditanya hanya mengedikkan kedua bahunya.

"Yah, aku kira dia sudah mendingan dan bisa diajak bercanda. Tapi kurasa belum," jawab Neji dengan tampang tidak berdosa.

"Sudahlah! Sekarang lebih baik kau menulis kesan dan tanda tanganmu di sini seperti Hinata tadi," ucap Ino dengan nada agak marah sambil menyodorkan sebuah buku yang lumayan tebal. Diluar dugaan, Neji malah melipat tangannya.

"Aku tidak mau. Aku tidak akan memberi tanda tanganku sebelum dia merubah sikap dinginnya." ucap Neji menyeringai.

"APA?"


~ Sasuke Ino ~


"Sasuke-kuuuuu~n!" teriak Ino memanggil Sasuke yang akhirnya dia temukan di sebuah taman.

Setelah dia sampai di dekat Sasuke, terlihat bahwa Sasuke sedang duduk di sebuah kursi taman dengan ekspresi agak kesal. Dengan pelan Ino mendekatinya dan duduk di samping Sasuke.

"Sasuke-kun," panggil Ino lembut.

"Hn," balasnya tanpa menatap lawan bicara.

"Dengarkan aku. Err, mungkin kau bisa merubah sedikit sikapmu itu, Sasuke-kun." ucap Ino dengan ragu-ragu.

"…" Sasuke tidak membalas dan hanya menoleh ke arah Ino.

"Kau tahu, jika kita ingin membantu, itu artinya kita juga harus melayani mereka seperti yang mereka mau." ucap Ino kemudian.

"Aku tidak mengerti apa yang salah di kelakuanku tadi."

"Kau sudah baik. Tapi…" sahut Ino sengaja menggantung kalimatnya.

"Tapi…?" tanya Sasuke sedikit penasaran.

"Sikap dan wajahmu itu terlalu dingin. Jadi wajar saja kalau Neji menyindirmu seperti tadi. Paling tidak, kau harus tersenyum, Sasuke-kun." jawab Ino sambil tersenyum manis.

"Tersenyum, heh? Seperti ini?" ucap Sasuke tersenyum sinis. Sedangkan Ino hanya bisa sweatdrop.

"Bukan seperti itu, Sasuke-kun. Itu sinis. Cobalah lebarkan bibirmu secara lebih natural…" ucap Ino sambil memegang dan menarik-narik kedua pipi Sasuke.

Sasuke agak sedikit kaget ketika kedua tangan lembut itu menyentuh pipinya dan menarik-nariknya. Tapi beberapa saat kemudian kedua tangan Sasuke membungkus kedua tangan Ino. Ino kaget dan pipinya sedikit memerah beberapa saat kemudian.

"Kau mau memegangi pipiku terus ketika aku tersenyum?" ucap Sasuke menyeringai. Ino yang salah tingkah langsung melepaskan kedua tangannya dari pipi Sasuke.

"Bu-bukan begitu bodoh!" balas Ino.

"Lalu bagaimana?" tanya Sasuke.

Ino tampak berpikir sesaat. Lalu dia menjentikkan jarinya, tanda dia tahu suatu hal untuk bisa membuat Sasuke tersenyum secara natural yang biasa dia lakukan setiap hari.

"Kau bisa mengingat-ingat hal lucu ketika kau ingin tersenyum," ucap Ino.

"Tapi aku tidak punya memori kejadian lucu," jawab Sasuke membantah. Ino yang mendengar jawaban Sasuke hanya bisa mengernyitkan dahi. Beberapa saat kemudian dia bangkit berdiri dari duduknya dan berdiri di hadapan Sasuke.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke menatap aquamarine itu.

Ino bukannya menjawab, malah tiba-tiba memegang pinggangnya sendiri dan membuat wajah yang aneh, lucu dan menggemaskan.

"Kotek kotek kotek… Aku adalah seekor ayam. Lalu seekor sapi! Mooo! Kemudian…" ucap Ino sambil memperagakan hewan-hewan yang dia katakan.

Sasuke hanya memandang Ino dengan tatapan geli dan terkikik kecil. Tidak tahan dengan pemandangan yang disediakan Ino, Sasuke menoleh ke arah lain. Sedangkan Ino yang mengetahui Sasuke sedikit terkikik, tersenyum dan pindah ke arah pandangan Sasuke.

"Nyaaa~ aku seekor kucing! Aku seekor babi…" ucap Ino.

"Be-berhentilah lakukan hal bodoh seperti itu." ucap Sasuke –berusaha- cuek dan beralih pandangan lagi. Sedangkan Ino tetap mengikuti arah pandangan Sasuke.

"Aku tahu kau menahan diri untuk tidak tersenyum. Tersenyumlah, Sasuke-kun!" ucap Ino sambil tersenyum manis.

Sasuke yang melihat Ino tersenyum manis dengan intens itu sedikit mengeluarkan semburat merah. Memang ini bukan pertama kali dia melihat Ino tersenyum manis. Tapi baru kali ini dia memperhatikannya dengan intens.

Beberapa saat setelah Sasuke bisa mengendalikan dirinya, mau tak mau dia tersenyum. Bukan senyum tipis, bukan senyum sinis atau senyum seringaian. Benar-benar senyuman yang tulus dari hatinya. Senyuman yang dulu dia sering tunjukkan kepada mending kakaknya. Melihat Sasuke yang akhirnya tersenyum Ino pun melebarkan senyumannya dan kembali duduk.

"Bagaimana? Siap untuk meminta maaf?" tanya Ino.

"Hn? Kau hanya menyuruhku tersenyum. Aku tidak berniat untuk meminta maaf," jawab Sasuke mengalihkan pandangannya dan kembali bermuka datar.

"Oh, ayolah Sasuke-kun. Hukuman ini akan sia-sia jika kau tidak merubah sifat dan wajah datarmu itu," balas Ino sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hn. Itu tidak berarti aku harus merendahkan diri pada Hyuuga itu." ucap Sasuke. Sedangkan Ino hanya tersenyum dan sedikit tertawa.

"Sasuke-kun… Meminta maaf bukan berarti kita lebih rendah derajatnya. Kita minta maaf karena kita salah. Seperti jika ada seorang bangsawan yang tidak sengaja menginjak kaki orang awam, dia pasti akan meminta maaf 'kan?" ucap Ino panjang lebar. Sasuke yang mendengar itu hanya bisa menoleh ke arah Ino dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

"…"

"Sasuke-kun?"


~ Sasuke Ino ~


"Begini, kami berdua minta maaf atas kelancangan kami tadi di rumahmu, Neji dan Hinata." ucap Ino.

"Kau tidak lancang kok, Ino. Tapi…" Neji sengaja menggantung kalimatnya dan melirik ke arah Sasuke.

Sasuke menghela napas dan menatap mata lavender itu.

"Baiklah. Aku mi-minta… Maaf," ucap Sasuke sambil –mencoba untuk- tersenyum. Tapi, bukannya senyum yang keluar, malah senyum seringaian yang muncul.

Ino yang melihat itu hanya bisa sweatdrop. Dengan segera dia menyenggol lengan Sasuke dengan pelan. Sasuke menatap kesal Ino dengan pandangan aku-sudah-mencoba-sebisaku. Sedangkan Neji yang melihat itu hanya tersenyum geli.

"Semoga Hokage-sama tidak sia-sia menghukummu seperti ini," ucap Neji tersenyum lembut dan memberikan buku laporan yang tebal tadi kepada Sasuke.

Sasuke yang melihat Neji tersenyum lembut, akhirnya tersenyum kecil. Dia menerima buku laporannya dan mengangguk sedikit pada Neji.


~ Sasuke Ino ~


"Haah, panas sekali," ucap Ino menyeka dahinya. Sasuke hanya diam saja tidak menanggapinya.

Merasa tidak ditanggapi, Ino mengerling kepada Sasuke. Jurus puppy eyes no jutsu andalan Ino pun keluar.

"Apa?" tanya Sasuke agak kesal.

"Belikan aku minuman dong Sasuke-kun~. Aku tidak bawa uang," ucap Ino memelas. Sasuke hanya menghela napas.

"Baiklah. Tunggu di sini." ucap Sasuke kemudian dia meninggalkan Ino. Bagaimanapun dia harus berterima kasih pada Ino yang telah membantunya banyak.

"Siap!" sahut Ino riang.

Beberapa menit kemudian, Ino yang masih berdiri menunggu Sasuke untuk kembali, tiba-tiba dikejutkan oleh tangan kekar yang memeluk pinggang Ino. Dari arah yang berlawanan terlihat seorang pemuda raven yang membawa dua minuman kaleng.

"…Dia sudah punya kekasih, huh?"

.

.

.


~ To Be Continued ~


Akhirnyaaa selesai juga chapter 2 ini!

Bagaimana? Bagus? *nggakmungkin* Keren? *ah ngimpi* Gaje? Aneh?

Bales repiu ah~

Kireina Yume : hieee *kabur karena diancem* memang di chapter-chapter awal sepertinya akan fluff. :3 arigatou udah repiuu :DD

azura-sama : Makasih :) makasih juga udah repiuw.

KyuRa : Semoga ini nggak lama yah *digantung* XDD makasih udah ripiu~

tata : Makasih ;) oke oke. Arigatou udah ripiu :D

elfazen : Hehe, abis plot untuk GaaIno belum kepikiran -.- udah aku bikin hint tuh di atas :D arigatou udah repiu ~

Ann Kei : Bagus sih, tapi konflik yang aku pake bukan yang itu, lagipula Sakura juga udah nikah, jadi Ino udah kalah telak. Punya anak lagi XDD gomen ne Ann-san *dibakar Ann-san* makasih udah mau repot-repot repiu jugaa :D

Iztii Marshall : Aww, tuengkyuu peri much Iztii-san. Arigatou udah repiiuu :D

aqua : Makasiih. Sasuke nggak OOC? Puji syukuuurr *sujudsujud gajelas* XDD arigatou udah ripiuu :D

Shizuka Meiko : Makasiiih :DD makasih dobel buat repiunya :D

vaneela : Makasihh :D umur mereka kira-kira 21-an lah. Naruto dan Sakura menikah umur 20 Xd kawiin mudaa *tenang aja ikut program KB kok #dor lho, itu memang ideku untuk menumbuhkan rasa cinta Sasuke Vaneela-san -.-a kenapa pikiran kita sama ya? Aiih XDD oke, arigatou udah ripiuu.

Wokkee dah. Pintu terbuka lebar untuk flamers! Tenang aja aku hati batu kok! :DD

Last, Hontouni arigatou gozaimashita udah baca fic ini.

RnR ?