Warning : AU, heavy theme, total words count app 5020.

*matahin janji sendiri di chapter sebelumnya* Happy reading, anw! :D


Attack on Titan © Hajime Isayama

.

.

.

[2]

c'est le destin

(ini adalah takdir)

.

.

.


Wanita ini tentu tidak akan melapisi tubuhnya dengan mantel berjumbai dan berbulu jika saja sedari awal ia sudah menyadari ternyata ia masih mengenakan piyama tidur bermotif boneka beruang. Di masing-masing genggamannya sudah ada kotak kecil berisi roti isi tuna yang dibuatnya dengan buru-buru—entah isinya layak makan atau tidak—bersama segelas susu hangat yang dipanaskan asal-asalan. Ia selalu tahu pria ini membenci kafein, tetapi tidak dengan tembakau. Walau begitu, ia tidak akan segan membuang berkardus-kardus bungkusan rokok yang diam-diam disembunyikan pria bertubuh mungil ini di berbagai tempat. Jika perlu sampai membakarnya bersama tumpukan sampah medis.

Dari bibirnya terlihat asap tipis yang membeku setiap kali ia membuang nafas. Sungguh ide gila memang memutuskan untuk keluar dari rumah di pagi buta tanpa berpikir panjang. Untung saja, orang-orang belum terlalu banyak yang berlalu lalang di jalanan. Kalau tidak, wanita ini yakin akan mati di tempat—bukan karena malu tapi karena suhu kota Berlin di pagi hari yang nyaris mencapai angka minus delapan derajat. Well, sebenarnya wanita ini memang setengah sinting, tetapi pager miliknya berdengung berkali-kali sejak tengah malam. Pesan dari Erwin sangat mengganggu konsentrasinya untuk sekadar memejamkan mata.

Sebagai tuan rumah yang bersahabat, ia rela melakukan hal-hal konyol itu. Termasuk membuat papan visitasi bertuliskan: selamat datang di Berlin, Levi!

Setelah memastikan jam penerbangan yang disesuaikan dengan waktu lokal, wanita berkacamata ini yakin rombongan yang baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri tersebut salah satunya berasal dari Dubai. Kepalanya celingukan mencari sebuah sosok yang setidaknya berukuran lebih mini dibanding pria-pria atletis lainnya. Kemudian, mulai memanggil-manggil sebuah nama bersama papan yang diangkatnya tinggi-tinggi ke atas. Sialnya, yang dicari malah muncul dengan sendirinya.

"Tsk, kau membuat dirimu terlihat benar-benar konyol, Hanji." Si pria kecil menyembul dari segerombol penumpang orang tua. Ia hadir dengan tampang bosan seperti biasa.

Wanita ini—Hanji—berteriak kegirangan. Membuang papan yang diangkatnya dan memeluk Levi erat-erat, nyaris membuatnya tercekik. Sebuah tinju dilayangkan tepat di perut si wanita.

"Uwaaah! Kau kejam sekali, Levi. Meninju wanita dengan cara seperti itu…" kilah Hanji membela diri, walau sebagian besar hanyalah rekayasa belaka. Malah, ia tertawa penuh kekehan. Setelah melepaskan tubuh mungil Levi, ia lalu menawarkan kotak isi roti lapis dan segelas susu hangat ciptaannya. Helaan nafas terkesan berat mungkin menjadi jawaban si pria, tetapi ia tetap menerima tawaran Hanji tersebut dan mengucap terima kasih. Senyum merekah tampak hadir di wajahnya yang kemerahan. "Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja selama di sana?"

"Danke." ujarnya seraya menyeruput susu di dalam gelas karton. "Seperti yang bisa kau lihat sendiri. Masih bernafas dan bertahan dari serangan jet lag. Tidak sampai Erwin menyadap ponselku dengan sistem GPS." Hanji terkekeh-kekeh mendengar jawaban Levi.

Levi lalu mengangkat kembali salah satu kopernya saat seorang petugas bandara datang untuk membantu pria itu membawa sisa tas yang ada. Hanya berbentuk ransel jalan yang beratnya tidak mencapai lima kilogram. Hanji mengerling kemudian.

"Bawaanmu lumayan sedikit ya." ucapnya sekadar basa-basi. Ia mengeratkan kerah mantel berbulu saat angin yang membawa butiran salju tertiup ke arahnya. Matanya yang awas menelisik dari atas hingga bawah akan tubuh Levi. "Kau makan yang cukup, 'kan? Soalnya terakhir kali aku melihatmu, kau sedikit jauh lebih besar. Atau ini hanya perasaanku saja sekarang kau malah terlihat lebih kisut?"

Jika mata bisa menebas, maka Hanji yakin ia akan mati di saat itu juga. Pria itu buru-buru menenggak sisa susu dalam kardus kecil sebelum membuangnya ke dalam tong sampah. Mulutnya disibukkan kembali dengan roti tuna yang rasanya seperti rumput laut fermentasi. Keduanya pun mencapai area parkiran di mana Hanji meletakkan kendaraannya yang berwarna hitam pekat berbentuk katak itu. Mobil tua andalan yang konon katanya pernah dimiliki Charlie Chaplin. Atau apapun itu, Levi tampak tak peduli. Mesin kendaraan keluaran tahun tujuh puluhan itu membuat getaran. Butuh waktu lama hingga akhirnya mereka meninggalkan lokasi bandara internasional Berlin dengan selamat.

Keduanya menyusuri jalan raya yang mulai sibuk meski waktu masih menunjukkan angka delapan di pagi hari. Hari senin dan semua pebisnis sedang sibuk mengatur kendali laju keuangan dari ponsel-ponsel cerdas mereka. Belum lagi petinggi perusahaan yang berkali-kali mendapat ancaman penurunan bursa saham oleh karena merosotnya nilai tukar dollar. Di antara kemacetan kecil, Hanji mulai membuka suara.

"Sepertinya kau tidak terlalu senang bisa kembali ke Berlin. Boleh kutahu kenapa?" tanyanya tanpa menoleh. Arah fokusnya berpacu pada barisan kendaraan lain di depannya. "Atau lebih kepada orang yang sudah berkeras hati menelponmu itu? Haha. Awalnya ia menolak perintah Professor. Tidak hingga akhirnya aku menendang bokongnya—kau tahu aku berbohong soal ini—dan menerornya dengan surel-surel lamamu padaku. Meski jarang tersenyum, hati mungil Erwin mudah diluluhkan. Hahaha." Oh, Levi ingin muntah di saat itu juga. "Kau tahu, Erwin sempat berkata akan membenciku seandainya kau berkata tidak saat ia memintamu untuk kembali. Ia selalu bingung mencari celah di antara kesempatan yang sulit ini. Hahh, kalian berdua ini seperti anjing dan kucing. Atau sigung dan marmut?"

"Hn."

Hanji memanyunkan bibirnya dan menahan dagu tepat di atas stiran mobilnya. "Dengar ya, Levi. Menurutku, tawaran Professor Zacklay ada untungnya juga untukmu. Well, setidaknya publik di Jerman bisa benar-benar kembali mengenalimu sebagai yah—"

"Badut mereka?" potong Levi tiba-tiba. Ia jelas memasang ekspresi benci, tetapi sangat jenius dalam menutupinya. "Kau jauh lebih paham bagaimana institusi memerlakukan kita, Hanji. Kau hidup terlalu lama di Inggris sehingga caramu berbicara seolah menyerupai mereka."

Hanji terkekeh kecil, tetapi terdengar kecut. Ia menegakkan kembali tubuhnya dan menyetir dalam kecepatan tinggi saat jalanan mulai lengang. "Yahh, mungkin memang begitu. Tetapi, untuk yang satu ini akan sangat berbeda. Kau pasti tidak akan percaya." Hanji mengeluarkan setumpuk dokumen yang tidak diaturnya dengan rapi dari kotak penyimpanan di bawah stiran mobil miliknya. Menyerahkan seluruhnya pada Levi meski ada beberapa lembar kertas yang ikut terjatuh. "Ups. Sorry." Kemudian, menyetir dengan velositas ringan. "Namanya Eren Yeager. Lima belas tahun—"

Levi menampilkan selembar foto anak kecil yang tengah memainkan bola karet berwarna biru. Senyum ciliknya yang gemas tampak sangat imut. Hanji menoleh dan memerah tanpa sebab. Ia nyaris membuat kendali stirannya membelok ke arah yang salah karenanya. Si pria memekik, tetapi si wanita hanya tertawa. Membuat seisi mobil seperti sedang memainkan rodeo.

"Kau gila!" seru Levi tak peduli. Ia memijit-mijit keningnya. Cukup dibuat pusing dengan kelakukan abnormal sosok ahli bedah rekonstruksi di samping kirinya itu. "Dan! Dia bukan bocah berusia lima belas tahun!"

"Hoho. Foto yang terlampir bersama dokumennya hilang, jadi aku mencari foto yang sama melalui situs pertemanan miliknya. Sialnya, aku malah mencetak foto saat ia masih berusia lima tahun. Dia sangat imut, 'kan? Kuharap aku menyimpan foto dari orang yang sama. Hahaha." imbuh Hanji yang diakhiri dengan kekehan panjang. Levi membatin jika perjalanan yang dilaluinya saat ini akan berlalu cukup panjang. Sangat-sangat panjang.

Suara bising mengalun dari radio setengah butut. Memainkan musik bernada retro yang sedikit bercampur alunan reggae. Hanji bernyanyi kecil sepanjang menyetir kendaraan unik yang berhasil dimilikinya dari sebuah galeri mobil kuno. Kecintaannya pada benda unik sama seperti kesukaannya pada komik. Tetapi, pekerjaannya di dunia nyata menuntut konsentrasi lima kali lebih banyak kali ini. Diperparah dengan tumpukan kasus yang harus diselesaikannya bersama asisten-asistennya di ruang operasi. Karena itu, secara khusus, Professor Zacklay memberi wanita ini hari kosong untuknya sekadar menikmati hidup sebelum kembali ke bilik kerja. Bukannya dipakai untuk bersembunyi di bawah selimut, menyeruput secangkir Frappuccino, dan menggambar babak baru dari edisi komik yang dibuatnya; kini ia hanya mendesah penuh sesal sembari menyetir mobilnya itu. Sudut matanya melirik sosok Levi yang sibuk mengamati data-data riwayat pengobatan Eren.

"Operasi pemasangan pacemaker*, huh? Pacemaker yang temporer."

Hanji mengangguk lemas. "Karena sejak awal memang bukan karena kesalahan jantungnya yang lemah, tetapi sistem kerja otaknya. Pacemaker yang dimasukkan di dalam jantungnya membantu agar jantungnya tetap bekerja sesuai fungsi—memompa darah. Professor Zacklay bersama rekannya sesama ahli bedah syaraf menyimpulkan jika kondisi bocah itu sesungguhnya berasal dari kemampuan kerja sel tubuhnya yang menghasilkan listrik dalam jumlah kecil. Saat pemeriksaan kejut otot listrik setahun lalu, bisa terlihat jelas jika pompa ion-ion selnya terganggu. Entah apa yang membuatnya, yang jelas masih diselidiki. Sindrom langka, menurutku."

Pria itu berdehem sembari membalik-balik lembaran demi lembaran dokumen. Lalu, menemukan salinan kopi riwayat kejadian tabrakan lalu lintas yang dialami si bocah dua tahun lalu. Tulisan yang dibuat berdasar rekaman percakapan antara si bocah dengan seorang petugas kepolisian.

"Kecelakaan yang dialaminya dua tahun lalu hanya pemicu. Sebenarnya dia sudah mendapatkan gejala-gejala minor jauh sebelum tragedi itu terjadi padanya. Seperti—umm—riwayat pingsan yang minimal didapatnya sekali sebulan. Kasihan sekali bocah itu. Asal kau tahu, ayahnya bekerja sebagai tokoh penting di parlementer—Grisha Yeager—yang naasnya malah memilih melayangkan gugatan cerai pada istrinya setahun lalu. Kini, si bocah dan ibunya hidup berdua di sebuah rumah lantai dua di Leipzig."

Pandangan Levi berubah. Hanji memerhatikan sekilas saja, tetapi ia bisa memerkirakan apa yang sedang dipikirkan pria di sebelahnya itu. Rasa sesak di dalam kendaraan berukuran mini itu memberi alasan untuknya membuka kaca jendela yang tertutup rapat. Mematikan mesin pendingin dan membiarkan angin bersalju di kota Berlin menerbangkan wajah-wajah yang ditutupi kekalutan. Wanita itu nyengir kuda.

"Kalau kau ragu, jangan sungkan untuk meminta salju mencium wajahmu. Haha."

Walau menjawab dengan dengusan serta decihan, Levi menarik sudut bibirnya. "Che, kau seperti nenek-nenek tua."

"Yah, begitulah cara ibuku membesarkanku. Just like the old times!"

Wanita itu kembali bersenandung, tetapi kali ini ia memilih lirik dalam bahasa Jerman. Lagu tua yang sering dimainkan bersama ukulele. Levi tak ambil pusing. Merasa sudah cukup tenang meski suara Hanji terlalu sumbang untuk diingat. Pualam hitam miliknya berfokus amat erat pada sebuah foto. Seolah, ada benang merah yang baru saja mengikat keduanya.

Mobil itu mulai melambat saat mencapai jalan yang tidak terlalu ramai. Mereka memilih jalur khusus yang sering dipergunakan oleh para petugas medis. Dengan area parkiran bawah tanah, segalanya terlihat remang dan gelap. Hanji turun terlebih dahulu bersama tumpukan sampah makanan dan kaleng bir yang turut jatuh saat ia berdiri. Buru-buru dimasukkannya kembali sampah-sampah itu sebelum salah satu satpam penjaga menceramahinya tentang aturan jaga kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman. Levi memastikan wanita setengah gila di hadapannya itu benar-benar mengganti mantel berjumbai yang dikenakannya dengan jas putih saat masuk ke ruang ganti pakaian steril. Meski dalamnya masih terbungkus piyama tidur, tentunya.

Meski hari itu adalah awal di sebuah minggu, mengingat keduanya tiba di saat yang terlalu awal, dokter maupun perawat yang nampak bisa dihitung jari. Hanji menyapa seorang petugas pembersih yang baru saja dikenalnya beberapa hari terakhir. Tak lupa pula beberapa perawat wanita yang ikut membalas sapaan ramahnya meski tak saling mengenal. Belum lagi, seorang petugas beraksen Spanyol yang tiba-tiba saja menyerahkan setangkai bunga palsu yang dicabutnya dari pot di atas meja perawat pada wanita berkacamata ini. Tepat di depan pintu elevator, Hanji merinding.

"Setidaknya kau bisa bersyukur masih ada orang normal yang menyapa dan memberimu bunga."

Wanita itu terkekeh ngeri. Saat pintu elevator tertutup, ia terlihat menahan diri. "Huh, aku tidak menyangka orang Jerman bisa seramah itu."

"Dia bukan orang Jerman." imbuh Levi. "Sepertinya ia menyukaimu."

"Hiiii—jangan berbalik, jangan berbalik—" bisiknya berkali-kali, seperti mantra. Pada dirinya seorang. Tempat sampah di pojok elevator menjadi pot terakhir yang akan memusnahkan tangkai bunga pemberian lelaki tadi padanya.

Levi memutar bola matanya, menganggap ocehan Hanji hanya lawakan tak logis, dan membuang nafas panjang. Ia tak pernah menyangka jika bisa mengenal seorang mahasiswi medis bernama Hanji Zoe bisa semerepotkan seperti ini. Tingkahnya yang luar biasa aneh tak sanggup diterima akalnya yang terbilang melebihi kata normal. Atau itulah yang dipikirkannya.


Elevator yang membungkus keduanya berbentuk tabung silinder dengan kaca-kaca pelapis sintetik berbahan sekeras beton. Transparan hingga keduanya dapat melihat setinggi apa bangunan mereka berada dan pemandangan yang terlihat berubah di tiap titik ketinggian tertentu. Telunjuk Hanji tepat tertuju pada salah satu bangunan berlantai lima di sisi seberang keduanya berpijak.

"Di sanalah pasien kita diinapkan. Di lantai ketiga, ya. Kalau kau tiba-tiba berminat menjenguk pasien cilik kita ini, kau boleh berkunjung ke sana. Dan, voila. Kita sudah sampai di tujuan pertama."

Bunyi ting tong dari mesin elevator membawa benda berbentuk tabung itu jatuh kembali ke lantai terbawah. Hanji mengarahkan pria bertubuh kecil itu menuju ruangan yang menyerupai kantor. Masih sepi dan hening. Ia mencapai salah satu ruangan berpintu kaca yang terkunci rapat. Setelah memutar anak kunci ke dalam lubangnya, ia memersilakan Levi untuk masuk.

"Masih ada kira-kira satu setengah jam sebelum ruangan sana dijejali oleh petinggi rumah sakit. Jangan khawatir, kupastikan takkan ada yang berani masuk ke sini tanpa sepengetahuanku. Nah, buat dirimu merasa nyaman, ok? Lagipula ini bukan kantorku, hanya ruangan yang disediakan Professor sementara padaku. Yah, begini-begini aku juga butuh privasi. Haha. Kalau kau haus, ambil saja cup karton di sana dan kau bisa menyeduh apapun lewat mesin vendor. Gratis." bisiknya. Wanita itu menguap berkali-kali setelah menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa yang kosong.

"Hei, Hanji." Hanji merespon dengan gumaman. "Apa yang akan mereka lakukan terhadap bocah ini? Menjadikannya semacam kelinci percobaan atau memasukkannya ke dalam buku rekor dunia?"

"Hmmm, kalau tidak salah dengar, mereka mencoba membuat semacam jalur berukuran mikro dari otaknya ke berbagai reseptor penerima di jantungnya. Demonstrasi Erwin dalam tesisnya sudah ia lakukan pada pasien-pasien yang mengalami total AV-block* yang sulit diperbaiki dengan sistem pacemaker. Jadi, gabungan antara pembedahan syaraf dan jantung, tentu. Mike yang nantinya akan bertanggung jawab untuk urusan jantung Eren. Hoaaheem." jawabnya diselingi dengan rasa ngantuk.

"Hn. Mereka memanggilku untuk membuat jantung anak ini berhenti agar mereka dapat melakukan operasinya?" simpul Levi kemudian. Mata letih Hanji menyipit. "Ide yang bagus karena mungkin aku bisa membunuh bocah ini sesaat setelah Mike menutup akses aorta* dan vena* jantungnya untuk mengurangi perdarahan yang pasti terjadi."

"Hmmmm, kau pernah melakukan hal yang sama sebelumnya, bukaaaan?" kilah si wanita berkacamata. Rambutnya sudah mencuat ke mana-mana. "Di sini bersama Erwin." imbuhnya yang entah mengapa malah membuat kilat penuh benci dari arah tatapan Levi.

"Pasien itu meninggal dua tahun setelahnya. Apa itu berita baik untukmu?"

Hanji mengerucutkan bibir. Memandangi langit-langit dengan mata kosong. "Setidaknya ia punya alasan baik untuk hidup dan bukannya sekadar bertahan hidup. Kita bukan Tuhan, Levi. Kau selalu tahu itu, bukan? Lalu—jangan lupa dengan kata terima kasih yang kau dapatkan setelahnya."

"Tsk."

Wanita itu kembali terkekeh dan membalikkan tubuhnya. Menawarkan punggung pada sosok Levi hingga dengkuran menjadi titik finale percakapan mereka.

"Dasar wanita sinting." ejeknya. Tetapi, ia jelas memikirkan makna di balik kata-kata Hanji sebelum menemui mimpi di alam lain.

Selama lima belas menit, lembaran dokumen Eren dipelajarinya sembari membuat monolog tak bersuara. Menarik secarik kertas dan sebuah pena untuk membuat detil informasi yang dibutuhkannya, semacam riwayat alergi serta pengobatan, berat badan, tinggi badan—yang sepertinya terdengar meragukan—dan riwayat hasil sampel darahnya selama beberapa bulan terakhir. Rasa haus mengantarkannya pada tawaran Hanji sebelum wanita itu bertemu dengan mimpi-mimpi aneh seperti monster, raksasa, dan titan. Sialnya, ia harus membuat pilihan antara kafein atau soda.

"Che."—ujung lidahnya berdecak. Menahan sumpah serapah yang akan dimuntahkannya sebelum dengkuran dahsyat Hanji bergerilya seperti terkaman beruang.

Mata opal itu menelisik seisi ruangan kantor yang tidak terlalu luas. Banyak foto yang dipajang di tembok-temboknya tetapi ia tidak mengenali satupun pemilik wajah di sana. Yang kini lebih menarik perhatiannya adalah gedung yang dibangun dengan konstruksi unik di seberang ia berdiri saat ini. Ia mendesah dan menyapu anak-anak rambutnya yang terjatuh. Selagi menunggu Hanji terbangun, rupanya menghisap sebatang tembakau tidak akan membuang waktu yang terlalu lama.


Bocah itu memandangi dimensi dirinya melalui cermin segiempat yang hanya mengekspos daerah wajah. Setelah yakin semuanya berjalan sesuai rencana, ia juga memasukkan beberapa buah kapsul dan robekan kertas berisi jadwal minum obatnya ke dalam saku celana piyama tidurnya. Ditambah pula dengan peta rumah sakit yang diperolehnya secara ilegal dari salah satu perawat baik hati. Dengan ini, ia yakin dapat kabur dari biliknya tanpa ketahuan siapapun. Sukses meletakkan bantal-bantal yang disusunnya di bawah selimut, ia segera melompat dan membuka pintu saat keadaan di sekitar masih tampak sepi. Lalu lalang pekerja rumah sakit masih bisa dihitung jari. Jas kulit berwarna coklat pemberian sang ayah dikenakannya sebagai kamuflase. Lalu, ia mengekori seorang petugas pembersih yang mendorong peralatannya hingga ke ujung koridor. Tanpa jejak, ia menyusup keluar dari bangunan ia disekap—oh begitulah ia menyebut dirinya—dan mengambil udara sebanyak mungkin. Udara kebebasan.

"Yahoo!" pekiknya kekanakan. "Ah, sebaiknya aku memberitahu Mikasa bagaimana aku bisa keluar dari sana. Atau—tidak? Hmm, aku ragu dia malah berkhianat dan memberitahu Mum. Ya sudahlah, aku pergi saja. Lala."

Kaki-kakinya melangkah ringan. Menyusuri tapak-tapak jalanan di pelataran halaman rumah sakit dan mencapai lokasi di mana sebagian besar pasien yang sudah bisa berjalan sendiri menghabiskan waktu. Namun, pagi yang dingin diperparah juga lapisan salju yang menutupi daratan tertentu di pelataran halaman yang biasanya diwarnai dengan bunga tulip, terkesan jauh lebih sepi. Tidak terlalu menguntungkan bagi si bocah sepertinya. Tapi, mata hijaunya yang cermat menangkap pemandangan tak biasa. Dekat dari danau kecil di episentrum taman, ia melihat sesosok manusia tengah berdiri tenang. Sontak, ia melangkah perlahan untuk mendekat.

Sekitar dua meter dari sana, si bocah berhenti melangkah. Dilihatnya asap keabuan mengepul dari sosok berwujud lelaki itu. Sepertinya jauh lebih tua darinya.

"Guten morgen—selamat pagi." sapanya halus. Berusaha memulai percakapan kecil dengan pria berwajah kusut itu. Belum lagi sebatang rokok bertengger di antara bibirnya yang kemerahan. Si bocah meneguk ludah. Ternyata, sapaannya diacuhkan. Ia mengerucutkan bibir kemudian. "Apa Anda pasien di sini? Kebetulan aku dirawat di gedung sana. Di lantai tiga, kamar 312. Namaku Eren. Eren Yeager. Anda?"

Anehnya, pria itu seakan membeku. Walau matanya terlihat sipit, ia seakan melebarkan sedikit kelopaknya. Seperti terkejut? Bocah bernama Eren itu menggaruk tengkuknya dan maju selangkah. Ia berkicau kembali. "Kudengar pasien di sini tidak boleh ugh—merokok—" ia berbisik kecil. "—dan, err apa aku mengganggu?"

"Aku akan keluar dari rumah sakit ini siang nanti. Jadi—"

Seketika, sepasang mata turquoise Eren berbinar-binar seperti bintang kejora. "Boleh kutahu Anda dirawat di mana? Oh ya, Anda sakit apa sampai dirawat di rumah sakit ini?" cecar si bocah tak pandang bulu.

Tampang tak berdosa si bocah membuat pria itu lagi-lagi membuat kisah berbumbu dusta. Setelah menginjak puntung rokoknya diam-diam, ia memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan sosok si bocah yang diketahuinya bernama Eren. Mata opalnya menyimpan baik-baik bentuk serta rupa pasien berjaket kulit itu.

"Temanku mengira aku terlalu depresi sehingga nyaris memutuskan bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk membawaku ke sini." Bohong besar jika bangsal perawatan jiwa disamakan dengan penyakit fisik. Tetapi, Eren semakin dibuat terpesona dengan cerita penuh drama milik pria asing yang belum menyebutkan namanya itu. Ia menambahi dengan alasan-alasan fantastis perihal cara ia bunuh diri. Awalnya, ia ingin menggunakan pisau dapur untuk mengiris pergelangan tangan sendiri, tetapi sepertinya ia terlalu berhalusinasi oleh efek kokain sehingga melihat gagang telpon sebagai pisau. Lalu, saat ingin menggantung kepala, ia malah terpeleset dari bangku untuk berpijak dan tak sadarkan diri selama dua hari. Yang terakhir, ia mengira lokasi terakhir untuknya mengakhiri hidup—si jembatan tadi—setinggi sepuluh kaki lebih. Ternyata, ia jatuh di sebuah kolam ikan. Antara membuat lelucon atau sangat pandai mengarang cerita. Eren masih terkagum-kagum.

"Umm, begitu ya? Boleh aku bertanya satu hal lagi?" Si bocah meneguk ludah banyak-banyak sebelum membuka mulut. "Apa yang membuat Anda memilih untuk terjun dari jembatan itu?"

"Hm?" dehem si pria. Dari cara pria ini memandang, Eren lekas teringat pada karakter guru sihir di sebuah novel terlaris yang pernah dibacanya. Wajah yang tidak bersahabat, minus hidung bengkok. Alih-alih menjauh, Eren semakin menempel padanya. "Apa patah hati termasuk alasan untuk bunuh diri?" Sebagai respon, Eren memerlihatkan ekspresi bercampur heran dan tak percaya. Remaja itu terkekeh aneh.

"Oh."—datar dan pendek. Jawaban semacam bunuh diri karena patah itu terkesan terlalu—normal. Atau picisan? Entah ia harus bahagia atau bersedih. "Lalu, kekasihmu? Apa yang terjadi padanya?"

Pria itu mengudikkan bahu. Membiarkan angin bersalju meniup sisi wajahnya yang pucat. Eren menyimak sembari memeluk kaki-kakinya erat.

"Kalau aku jadi Anda, aku akan berhenti mengejar gadis itu. Ya. Ibuku bilang cinta pertama belum tentu adalah cinta sejati. Sama seperti ayahku. Kurasa, itulah alasan mengapa ia menceraikan Mum. Dan, bunuh diri adalah perbuatan terkonyol. Wanita di dunia ini tak cuma dia, 'kan?" bisik Eren membatin. Ia mengamati sedari tadi pria di sampingnya hanya memberi ekspresi kosong yang tidak berarti apa-apa. Bocah itu merasa grogi. "Aku ngomong hal aneh ya?"

Tatapan bersama tampang si pria jauh lebih datar dari ekspresi sehari-hari Mikasa, pikir Eren. Ia tidak bisa membaca isi kepala orang itu meski dari wajahnya saja. Terlalu sulit untuk sekadar ditebak. "Nein. Lagipula masih banyak hal menarik di luar sana. Kalaupun dia ingin pergi, dia punya hak untuk pergi. Aku punya kewajiban untuk tetap hidup dan menjaga kehidupan."

"Lho? Bukannya tadi Anda berkata malah ingin bunuh diri, eh?"

Ups. Pria itu cepat berdiri dari posisinya semula, membuat Eren memberi pandangan bertanya.

Belum sempat si bocah Yeager itu membuka suara, keributan lain terjadi dari arah kejauhan. Ia mendapati sesosok wanita bersama seorang perawat berlari menuju arahnya. Carla mengejar putranya dengan tampang pongah.

Bocah lelaki itu sedang menyusun alasan dan akal, tetapi ia punya rencana lain. Karenanya, ia memekik sementara si pria sibuk mencuri celah untuk kabur.

"Apa kita bisa bertemu lagi, Tuan err—"

Pria itu hanya melambaikan tangan. Lalu, pergi. Eren memajukan bibirnya. "Buu, pria aneh."

Dalam bisikan, Levi mengeluarkan seringainya. "Ya. Setelah ini kita akan banyak bertemu, Eren."

Dan, proses penangkapan tersangka muda bernama Eren Yeager yang berhasil kabur dari bilik perawatannya berakhir dramatis. Untuk hari-hari berikutnya, akan ada penjagaan super ketat yang dikenakan untuknya.


Seorang kakek tua botak melangkah diikuti setidaknya satu barisan kecil di belakangnya. Visitasi pasien berlangsung lebih cepat kali ini, selain dipengaruhi kedatangan kerabat sesama neurosurgeon dari Inggris, rencana pertemuan besar untuk membahas kasus salah satu pasien unik mereka yang dirawat di rumah sakit pusat penelitian dan pendidikan universitas medis ternama di Berlin itu akan diadakan setelahnya. Para petinggi dan ahli berbalut jas putih mulai mengisi ruangan yang di tengahnya terdapat meja oval panjang, sekiranya mampu memuat dua hingga tiga puluh orang. Kursi-kursi kecil disiapkan sepanjang sisi tembok—sebagian besar diduduki oleh residen* yang tergabung di dalamnya berasal dari berbagai studi multidisiplin. Layar dijatuhkan, lampu dimatikan, sinar biru menyiarkan gambar melalui mesin LCD.

Professor Dot Pixis, kepala bagian neurosurgeon, memulai pertemuan mereka dengan sambutan singkat.

"Sangat senang rasanya saat faksimili yang kukirimkan tidak diabaikan oleh Zacklay, sahabatku sejak kami masih tergabung bersama sebagai prajurit pembantu di barak-barak kemiliteran Jerman. Karena itu, rasa terima kasihku kuberikan dengan penuh penghormatan pada Professor Darius Zacklay."

Mereka bertepuk tangan. Kakek berjanggut bernama Zacklay itu berdiri dari kursinya dan mengangguk. Dot Pixis membuka suara kembali. "Tak lupa juga sepertinya aku harus berbangga hati karena salah satu murid kebanggaan Zacklay ada bersama kita di sini. Doctor Erwin Smith!" Pria pirang itu turut mengangguk takzim. Bisik-bisik kecil mulai terdengar samar-samar. "Ah, kurasa kita juga melupakan satu orang lagi. Apakah dia ada di sini atau—"

Brak! Pintu ruangan menganga lebar. Menampilkan wajah seperti baru saja berlari mengitari ribuan kilometer trek. Seorang wanita mengambil nafas dengan serakah, cuping hidung yang kembang-kempis, dan keringat bercucuran di sisi wajahnya. Ia terkekeh-kekeh kemudian. Membuat puluhan pasang mata tertuju padanya. Artist of the week.

"Hiyaaa. Maaf, maaf. Sepertinya aku terlambat ya. Haha." cerocosnya tanpa rasa malu. Ia maju dengan cengiran bodoh, belum lagi sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Sepasang piyama tidur masih terbungkus oleh jas putih yang awut-awutan. "Err, kalian belum memulai apapun, 'kan? Karena si brengsek Levi itu tidak membangunkanku sama sekali. Malah, ia lari dari pengawasanku." cibirnya membela diri.

Masih terkekeh-kekeh dengan senyum kaku di bibirnya. Rasa-rasanya ingin membeku bersama balok-balok es di kutub utara. Mata-mata yang berusaha menelanjanginya menyipit tajam, ditambah pula bisik-bisik tak enak mulai kedengaran dari berbagai sudut. Si wanita menyelesaikan sesi monolognya dengan deheman. Lalu, buru-buru menunduk.

"Maafkan atas keterlambatan saya, Professor Zacklay. Dan, juga Anda—Professor Dot."

Sementara hening lama berlangsung, suara bariton berat terdengar dari ujung meja. "Semua ini adalah kesalahan saya, Professor. Saya tidak sempat menjemput ahli anestesiologi yang kami turut panggil untuk menangani kasus Anda di bandara pagi buta tadi. Maka dari itu, saya meminta tolong pada rekan saya, doctor Hanji Zoe yang juga baru tiba di Berlin tengah malam tadi setelah sehari sebelumnya harus terbang kembali ke Inggris untuk melakukan operasi yang ternyata sudah dijadwalkan. Saya rasa, ia benar-benar kelelahan sampai-sampai tertidur di ruangannya. Sekali lagi, saya meminta maaf atas kelalaian ini."

Bukannya marah, kakek botak itu hanya terkekeh. "Ya, ya. Aku paham akan hal itu, doctor Erwin. Dan, sepertinya akulah yang seharusnya meminta maaf di sini. Aku mengenal bocah itu dengan sangat baik dan aku tahu bagaimana perangainya. Tak usah kau khawatirkan dia. Jika dia sudah merasa butuh, pasti dia akan datang ke sini." Jelas yang dimaksud si kakek ini adalah Levi. "Biarkan ia membuat imajinasinya sendiri sebelum kita menanyakan pendapatnya tentang operasi kita kelak, ok?"

Mendengar kata 'Levi' seperti bom atom yang akan diledakkan. Keributan nyata membising sesaat setelahnya. Dot Pixis segera menenangkan situasi dan menyambut Hanji untuk duduk bersama-sama jejeran residen. Wanita itu mengangguk-angguk meminta maaf berbanyak kali sebelum akhirnya pertemuan yang akan membahas rencana operasi bocah bernama Eren Yeager dilaksanakan. Menimbang dan membuat kesimpulan berdasar temuan kini dan riwayat masa lalunya.

Hanji menemukan sosok Erwin yang sibuk membawakan presentasi tesisnya. Tentang gambaran fisiologi otak saat jantung bekerja. Tidak hanya terbatas pada sketsa kasar otak saja. Ia juga mengikutkan serangkaian syaraf yang ikut terinduksi saat jantung memompa sejumlah darah, kemudian diikuti oleh proses istirahat. Starting point hingga end point berjalan mulus.

Tidak hingga lagi-lagi ada orang lain yang muncul dengan menggerak-gerakkan pointer sinar ultraviolet di salah satu slide presentasi Erwin. Entah dari mana ia muncul. Seperti phantom.

"Bagaimana kau bisa memerkirakan dengan cara ini lifespan* pasien atau setidaknya pasien ini beradaptasi dengan benda asing dalam otaknya?"

Puluhan mata terkesima. Menatap penuh pesona pada sosok pria bertubuh pendek yang tiba dengan komentar eksplisit. Nama yang dibisik-bisikkan secara terkagum-kagum tidak pernah terdengar sama bagi Erwin.

"Kita belum mencapai titik di mana persetujuan diagnosa dibuat. Karena itu, terapi pembedahan semacam ini sangat konyol untuk dilakukan."

Presentator mengernyitkan keningnya. Membuang nafas untuk menenangkan diri. Belum ia kembali berbicara, Dot Pixis ada untuk menyela.

"Levi, my boy!" Yang secara mendadak bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati sosok Levi. Memeluk erat pria kecil itu seperti seorang ayah pada anak kesayangannya yang hilang selama bertahun-tahun lamanya. "Aku tahu kau pasti akan kemari. Dan, ah—awalnya aku tidak menyangka jika Zacklay-lah yang menghubungimu. Sangat senang bisa melihatmu lagi di sini."

Beberapa kali kakek itu menepuk punggung Levi yang meski terlihat ramping tapi begitu kokoh. Tak ada senyum di wajah si pria sekalipun ekspresi penuh keramahan ditawarkan Dot padanya. "Kuharap kita bisa bekerja sama untuk mensukseskan operasi ini kelak. Lalu—ya, ya. Perbedaan pendapat adalah hal yang sangat biasa terjadi, apalagi di antara kita sesama pekerja dunia medis. Untuk itulah, kita semua hadir di sini untuk saling bertukar pikiran. Bukan begitu, Levi?"

Disuguhi tampang beraroma kontradiktif dengan isi hati adalah sesuatu yang amat dibenci Levi. Tidak ingin sekadar menjustifikasi, tetapi ia jauh lebih tahu bagaimana kakek tua di depannya itu menggunakan tongkat kekuasaannya hingga saat ini. Sembari menghela nafas, yang dapat dilakukannya saat ini hanya mengikuti ritme permainan yang berusaha menariknya kembali ke dunia nyata.

"Para rekan sejawat yang terhormat, sepertinya tamu yang ditunggu-tunggu sejak tadi baru saja muncul. Kuharap pengaruh jam terbang dari Dubai ke Berlin tidak mengganggu konsentrasimu, no? Dan, aku ingin sekali mendengar konklusi yang kurasa sudah kau buat perihal bocah Yeager ini. Hm?"

Ingin rasanya menantang kakek tua itu dengan tatapannya yang setajam belati. Sialnya, kali ini Levi akan memaksa tubuhnya beradaptasi terhadap efek kafein.


.

.

.

To be continued

.

.

.


Glossary:

Pacemaker itu semacam alat yang bisa dipasang di dalam perut atau di dalam dada (biasanya di jantung) yang gunanya untuk membuat supaya ritme jantung kembali normal. Ada yang bersifat temporer dan ada juga yang permanen. Terapi untuk pasien-pasien aritmia (ritme jantung abnormal). Untuk kasus Eren yang belum ketahuan sakitnya dia apa, guna si pacemaker itu sendiri selain untuk mengembalikan ritme listrik jantungnya, sekalian juga untuk membuat dia tetap hidup. Perlu diingat bahwa jantung kita terdiri dari otot-otot yang hanya bergerak jika ada aliran listrik. /maaf kalau penjelasannya gak bikin ngeh TT3TT

Aorta itu arteri terbesar di jantung, sedangkan vena adalah pembuluh darah balik yang membawa karbondioksida dari jaringan tubuh. Kalau mau tahu perbedaan mendasar antara arteri sama vena itu coba lihat pembuluh darah di tubuh sendiri. Yang nampak dan kasat mata dan warnanya hijau itu vena. Arteri gak bisa keliatan karena letaknya dalem dan arteri punya denyutan yang lebih keras dibanding vena karena tekanannya lebih kenceng. Hehe.

Total AV-block itu salah satu gangguan konduksi listrik jantung. Yang lumayan rumit untuk dijelaskan. /tepatnya karena saya bingung mau mulai dari mana. HIIIIIIIIIIIIIIIIIKS!

Residen itu dokter yang lagi ngambil pendidikan spesialis.

Lifespan dalam bahasa Indonesia artinya usia hidup/harapan hidup. Diukur dengan persentase, biasanya.

A/N:

OMGOMGOMGOMGOMGOMGOMGOMGOMG! INI GW NULIS APAAN! MAU BIKIN MAKALAH KALI YA! TT3TT

Mau ngerants dikit deh soal chapter ini. Hiks. Jadi, Hanji itu dimintatolongin sama Erwin buat ngejemput Levi. Sekalian juga dia emang dinobatin jadi semacam hublu yang gagal. Hahahahak. Maklum, dia kecapekan. /ngeles. Nyahaha. Btw, pertemuan pertama antara Levi dan Eren itu agak-agak gimanaaaaa gitu ya. /kamsud ente?

Daaaaaaaaaan, apa pula ini Levi tiba-tiba boongin Eren jadi korban patah hati yang mau bunuh diri. DERP, GW NULIS APAAAN INIII YAOWOHHH! ;3;

Jelas belu ketangkep sebenernya si Eren sakit apa sih. /penulis juga gak tau dan tiba-tiba dapet ide gak jelas gini. /mati

Anihong, saya mau bales review dulu ya.

Fujioka Saori, hehe heavy ya. Untung ada warning-nya. :'D Dan, mudah-mudahan bisa ngasih gambaran soal gimana dokter itu dan lalala hidupnya di rumah sakit. Hihi. Toru Mikami, *blushing* makacih. Moga tetep suka dan tetep baca ya. Hehe. Wintersia, sebenernya saya belum nyelesaiin nonton TMD. Lol. Dulu seringnya nonton gituan macam Code Blue juga pas masih di pre-klinik alias masih jadi mahasiswa yang kuliah gitu. ;3; Hihi. Suka sama yang berat-berat ya, moga-moga gak keberatan tetep suka dan tetep baca penpik ini yaaa. :D

Makasih juga buat para silent readers, followers, dan likers. Ehehehe. Sampai jumpa di chap yang berikutnya.

Thanks for reading. Reviews are pleased. :D