Characters : Masashi Kishimoto

Story : Izumi Kim

(Ide pasaran! Maaf jika terdapat kesamaan cerita!)

20 Januari 2017

.

[WARNING! RATED 19+ / ADULT STORY]


Previous Story

.

(Itachi POV)

.

.

.

Setelah Ino keluar dari ruanganku, aku mendudukan diriku di kursi kerjaku dan membuka laci yang terdapat di meja kerjaku dengan kunci yang selalu aku bawa di dalam jasku. Siapa yang akan menduga bahwa isi dari laci tersebut bukanlah dokumen-dokumen penting bernilai ratusan juta yen. Ya! Isi laci rahasia ini adalah celana dalam milik Ino dalam berbagai warna. Celana dalam yang aku sita setiap kali kami habis berhubungan seks karena aku sangat suka sekali dengan bau celana dalam Ini.

Karena gadis, ah- maksudku wanita itu, aku mulai berubah. Aku sudah tidak pernah lagi bermain wanita dari club, aku sudah tidak pernah meminta Kisame menyarikan wanita-wanita penghibur yang dapat melepaskan penat serta menyalurkan hasrat sex-ku yang tak terbendung lagi. Hanya karena Ino... Dia wanita yang dapat meruntuhkan imanku. Dia adalah partner sex-ku yang terhebat! Kuhirup dalam-dalam celana dalam Ino dan aku masih bisa meraskaan aroma khas vagina Ino menempel di celana dalam ini. SHIT! Hanya dengan mengendusnya saja, penisku langsung bereaksi seperti ini.

Kulihat jam tanganku yang masih menunjukkan pukul 11.30, itu artinya masih harus menunggu satu jam lagi untuk bisa bercumbu dengan Ino di apartemennya. Sial! Aku benar-benar tidak tahan! Masih ada waktu 30 menit sebelum istirahat, aku akan melakukan self service dengan celana dalam Ino ini. Dengan cepat, kubuka belt dan resleting celanaku lalu mengeluarkan penisku yang kembali tegak lagi.

"Damn ! Penisku benar-benar cepat beraksi dengan apapun yang ada pada Ino." umpatku sambil mengocok penisku dan menghirup aroma celana dalam Ino.

Sebenarnya aku tidak suka bila harus mengeluarkan spermaku sia-sia, Ino sangat tahu itu. Setiap kali kami melakukan seks, maka aku akan selalu mengeluarkan spermaku di mulut ataupun rahimnya. Itulah prisipku. Tidak butuh waktu lama, aku merasakan pre-cum mulai meuncul di ujung penisku. Semakin lama, kocokan di penisku semakin cepat dan saat aku merasa ingin meledak, aku membungkus ujung penisku dengan menggunakan celana dalam Ino.

"Ngghhh... Ahhh~" desahku. Setelah memberishkan penisku dari cairan sperma, aku masukkan kembali celana dalam Ino yang penuh spermaku itu di laci rahasiaku kemudian menguncinya. Lalu aku merapikan diriku dan memasang celanaku dengan benar kembali.

Setelah rapi, aku mulai turun dari ruanganku menuju lantai satu untuk pergi ke restoran. Aku berencana mengisi perutku terlebih dahulu sebelum memulai 'perang' dengan Ino. Saat itu, jam tanganku menunjukkan pukul 12.15. Setibanya di restoran, aku melihat Kisame sedang makan siang bersama dengan Sasori. Bukannya dia harusnya mengantar Ino ke apartemennya? Kenapa dia malah duduk dan makan di situ bersama Sasori? Aku mendekati meja Kisame dan berdiri tepat disebelahnya.

"Selamat siang bos." sapa Sasori.

"Kisame, kenapa kau ada disini? Bukannya aku menyuruhmu untuk mengantarkan Yamanaka pulang?" tanyaku to the point.

"Iya bos. Saat itu saya sudah akan mengantar Yamanaka-san pulang tapi saat di depan gedung ada laki-laki yang keluar dari mobil dan mengajaknya mengobrol." jelas Kisame.

"Apa? Laki-laki?" ulangku.

"Benar bos. Yamanka-san kemudian menghampiri saya dan berkata bahwa dia akan pulang dengan laki-laki tersebut."

"Siapa? Siapa laki-laki itu?" tanyaku tak sabar. Sial! Rasanya aku ingin menghajar seseorang.

"Saya tidak tahu bos, tapi saya rasa dia itu teman atau mungkin kekasih Yamanaka-san."

Kata-kata yang keluar dari mulut Kisame itu pada akhirnya merobohkan tembok kesabaranku. Aku langsung berlari menuju parkiran tanpa mempedulikan panggilan Kisame dan Sasori. Sialan! Sesampainya di parkiran, aku langsung mengemudikan Lotus merahku kesetanan menuju apartemen Ino.

"Brengsek! Baru saja aku mengatakan jangan pernah memberikan tubuhnya pada laki-laki lain tapi dia malah melanggarnya!" teriakku kesal sambl memukul stir mobilku.

Jarak antara kantor dengan apartemen Ino biasanya memerlukan waktu sekitar 45 menit, tapi karena aku ingin cepat-cepat membuktikan kata-kata Kisame maka aku menempuhnya hanya dengan waktu 30 menit. Aku memberhentikan mobilku tepat di depan gate apartemen Ino dan aku bisa sangat jelas melihat siapa saja mobil dan orang-orang yang masuk menuju apartemen itu. Dan aku melihatnya! Aku melihat Ino turun dari mobil CR-V berwarna putih disusul seorang laki-laki berambut hitam dikuncir menyerupai nanas yang sepertinya tidak asing untukku.

"Brengsek kau Ino! Bitch !" umpatku memukul stirku lagi lalu menyenderkan kepalaku ke belakang dan memejamkan mata.


WE BELONG TOGETHER

.

.

.

.

.

Itachi's Flashback

.

BRAAKK! Suara pintu kamarku terbuka lebar, aku yang masih berkutat dengan laptop pun memindahkan atensiku ke seseorang yang dengan kasar membuka pintu kamarku.

"Okaasan?" ucapku melihat ibuku sudah berkacak pinggang memasukki kamarku dengan wajah garang. Ah, sial! Ini pasti masalah yang sama dengan yang kemarin-kemarin.

"Ada apa denganmu, Itachi-kun?!" tanya Okaasan dengan nada tinggi. Aku hanya berdecak tak peduli. "Kau selalu saja menghancurkannya!"

"Dia bukan tipeku." jawabku enteng.

"Lalu seperti apa tipemu? Ini sudah kali ketujuh kau menghancurkan acara perjodohanmu, Itachi-kun!". Benar bukan? Lagi dan lagi, pasti Okaasan memarahiku karena gagalnya acara perjodohan yang telah ia siapkan.

"Aku bisa mencari pendampingku sendiri, Okaasan. Lagipula wanita-wanita yang Okaasan pilih itu serigala berbulu domba." jawabku sambil mengerjakan pekerjaan kantorku kembali.

"Sabtu sore ini datanglah ke Sharingan Hotel and Resto. Okaasan sudah mengatur semua. Ini perjodohan terakhir yang Okaasan lakukan." ungkap Mikoto menyerah.

"Nani? Perjodohan terakhir?" ulangku menatap Okaasan ragu.

"Hmm... Jika kali ini gagal juga, Okaasan akan menyerah dan menunggumu sampai kau mendapatkan wanita-mu."

"Baiklah." jawabku melihat Okaasan keluar dari kamarku. Ah, sial! Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengecewakan Okaasan tetapi dari semua wanita yang dipilihkan pasti saja mempunyai maksud lain. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan menampilkan nama teman kuliahku dulu 'Sasori'.

"Ada apa?" tanyaku to the point.

[Sabtu malam ini ada acara di bar milik Hidan. Kau harus datang!]

"Apa ada 'mereka'?" tanyaku yang dengan pasti Sasori tahu maskudnya.

[Tenang saja! Sudah kita siapkan semuanya~] Sasori mengatakan itu sambil terkekeh.

"Hn." ucapku langsung menutup telepon.

Kulihat jam di ponselku yang sudah menjukkan pukul 2 siang, dengan malas aku menutup semua berkas laporanku dan mematikan laptop. Saat ini aku harus bersiap-siap untuk pergi ke acara perjodohan yang diatur oleh ibu, biarlah kedatanganku hanya menjadi formalitas saja yang ujung-ujungnya akan kutolak gadis pilihan ibu. Setelah rapi, aku turun dari kamarku dan bergegas mengeluarkan mobil untuk pergi ke Sharingan Hotel and Resto, kulihat ibu duduk di ruang tamu sambil membaca majalah fashion favoritnya.

"Jaga sikapmu." ucap Okaasan tanpa mengalihkan atensinya dari majalah yang ia baca.

"Aku mengerti, Okaasan." jawabku mengancingkan lengan kemeja panjangku.

"Bawalah gadis itu."

"Apa maksud Okaasan?"

"Okaasan yakin kau akan menolak mentah-mentah gadis perjodohan itu, jadi segeralah membawa gadis idamanmu untuk bertemu Okaasan." jawab Okaasan menutup majalahnya dan berjalan ke arahku.

"Hnn..." jawabku sambil mengecup dahi Okaasan. "Aku pergi." lanjutku.

Sesampainya di Sharingan Hotel and Resto, aku meminta valet untuk memarkirkan mobilku dan aku pun segera masuk dan disambut oleh pelayan sambil menujukkan meja yang dipesankan oleh ibuku. Aku melihat ada seorang gadis yang sudah menunggu di meja itu. Gadis dengan rambut hitam bergelombang dan mengenakan dress bunga berdada rendah. Aku berjalan dengan santai dan dia tersenyum saat menyadari keberadaanku.

"Izumi Kim?" tanyaku.

"Hai! Kau Uchiha Itachi, kan?". Aku mengangguk sebagai jawaban dan segera duduk dihadapannya. Aku harus berbasa-basi terlebih dahulu karena meskipun aku terkenal dingin, tapi aku juga masih memiliki rasa kasihan, tak mungkin kan aku langsung menolaknya? Kheh!

"Kau mau pesan apa?" tanya Itachi menerima buku menu dari pelayan.

"Aku pesan salad sayur dan green tea hangat tanpa gula." jawabnya sambil tersenyum.

"Aku pesan Hot Cappuccino." jawabku. Pelayan tersebut kemudian pergi untuk menyiapkan pesanan kami.

"Ternyata kau lebih tampan dari foto yang diberikan ibumu kepadaku." ungkapnya.

"Ah, hontou ni? Bagaimana kau bisa mengenal ibuku?"

"Ibumu dan aku bertemu di tempat spa dan ternyata kami berdua adalah VIP member."

"Hnn..."

"Kau menyukai gadis seperti seperti apa? Padahal kau sangat tampan tapi tidak memiliki kekasih, pasti kau sangat pemilih ya?" tanyanya penasaran.

"Tidak juga... Aku hanya terlalu fokus pada kerja.". Aku berusaha menjawab pertanyaan basa-basinya. Akhirnya pesanan kami datang dan dia masih tetap saja bertanya hal-hal yang tidak penting menurutku. Namun atensiku ditarik oleh suara gadis yang berada di belakangku.

"Kau mau menikah di usia berapa?" tanya Izumi Kim sambil memakan salad sayurnya. Tapi aku tidak menjawabnya dan fokus pada obrolan gadis di belakangku.

"Apa yang kau lakukan disini dengan Temari?" tanya gadis asing yang duduk di belakangku. Ah, sepertinya gadis ini bersama kekasihnya.

"Halooo~ Itachi-san?" panggil Izumi menyentuh tanganku yang terbebas di meja.

"Ah, tidak. Sepertinya gadis di belakangku sedang bertengkar dengan kekasihnya." jawabku asal. Sebenarnya aku kaget juga dengan ucapanku, Uchiha Itachi tidak peduli dengan hal-hal sepele yang ada di sekitar, tapi kenapa atensiku diambil alih oleh kisah picisan gadis asing di belakangku ini.

"Maaf?" kata Izumi.

"Lupakan!" ucapku. "Apa ada pertanyaan lain yang ingin kau tanya?"

"Kau bercinta dengan sahabat dari kekasihmu sendiri, Shika!" ucap gadis asing itu sampai di telingaku.

"Mendokusei Ino, itu tidak seperti yang kau lihat!" jawab pria yang kupikir adalah kekasih gadis yang bernama Ino itu.

"Kita sudah berpacaran 5 tahun, Shika. Kenapa? Kenapa?" tanya gadis itu yang sepertinya sedang menahan tangis.

"Itu alasannya. Kita sudah berpacaran 5 tahun dan kau selalu berusaha mengaturku, Ino! Aku muak dengan hal itu!"

"Kau muak denganku? Kau muak denganku karena selama 5 tahun ini aku tidak pernah melakukan sex denganmu, itu alasan sebenarnya 'kan?"

"... -dengarku, Itachi-san?" suara Izumi Kim membuyarkan konsentrasiku terhadap percakapan sepasang kekasih yang bertengkar karena sang pria ketahuan selingkuh.

"Nani? Aku tidak mendengarmu."

"Aku bilang bahwa saat ini kita sedang mengobrol dalam sebuah acara perjodohan tapi kau tidak mendengarku, Itachi-san."

"Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan obrolan yang kau bangun." jawabku tegas. Dapat kulihat air muka Izumi berubah menjadi marah, mungkin.

"Aku berusaha bersikap sopan tapi kau tidak menghargainya." ucapnya menaikkan nada bicaranya tanda ia marah.

"Kau bersikap sopan karena kau tahu aku adalah Uchiha. Aku sudah banyak makan asam garam dengan gadis-gadis sepertimu."

"Apa maksudmu?! Jadi yang dikatakan orang-orang tentangmu yang bermulut pedas itu fakta dan bukan hoax!" sengitnya.

"Dari gaya pakaianmu, rambut, wajah, kuku dan tasmu itu kau sangat menyukai kemewahan. Tadi kau bertanya gadis seperti apa yang aku suka, bukan? Aku akan menjawabnya! Yang pasti bukan gadis sepertimu." ucapku santai sambil menyeruput cappuccino yang tadi cukup lama menganggur.

"Brengsek kau!" SPPLAASHH

"Ino! Apa yang kau...?!"

"Ini tidak seberapa dengan rasa sakit hatiku! Baiklah! Hubungan kita berakhir!" teriak gadis asing itu pergi dari meja itu entah mau kemana. SPPLAASSH! Kurasakan air menghantam wajahku dan pelakunya adalah gadis di depanku, Izumi Kim. Sial! Baru saja aku ingin tertawa mengejek karena pria di belakangku disiram oleh air. Karma memang ada!

"Itu sepadan dengan sikap yang kau tunjukkan padaku, Uchiha-san!" seru Izumi pergi meninggalkan meja.

"Uchiha-sama, anda baik-baik saja?" tanya seorang pelayan sambil membawa handuk dengan wajah ketakutan. Aku mengambil handuk tersebut dan mengelap wajahku. Sial! Kemeja dan rambutku menjadi basah.

"Aku tidak apa-apa. Kalian kerja seperti biasa, aku akan ke toilet." ucapku lalu bangkit dari kursi dan pergi menuju toilet terdekat di lantai dasar itu.

Cklek. Kututup pintu toilet dan bergegas ke wastafel yang terdapat cermin besar disana. Gadis sialan itu! Kunyalakan air dan kubasuh wajahku. Saat sedang mengeringkan wajahku dengan handuk yang diberikan pelayan restoran tadi, aku mendengar suara seseorang terisak di salah satu bilik toilet. Aku keluar sesaat untuk melihat bahwa aku tidak salah memasuki toilet. Ya! Plang yang tertera adalah Men's dan akupun masuk ke toilet lagi, namun suara isakan itu tak kunjung reda. Mana mungkin ada laki-laki yang menangis diam-diam seperti itu? Apa dia benar laki-laki? Tak mungkin ada hantu, kan? Aku adalah Uchiha Itachi yang rasional dan pasti isakan itu bukan suara hantu. Aku mendekat ke bilik tertutup dimana sumber isakan itu terdengar.

"Ada orang di dalam?" tanyaku mengetuk pintu. Tak ada jawaban tapi suara isakan mulai berkurang. "Keluarlah."

"Siapa... hiks... kau... hiks...?". Suara gadis terisak terdengar menjawab ucapanku.

"Nona, aku tidak tahu ada masalah apa, tapi jangan menangis di sini karena itu mengganggu." ujarku dingin.

"YAA! Kau tidak tahu rasanya dikhianati! Huuhuuu... Dasar semua laki-laki brengsek!" seru gadis itu membuka pintu bilik toilet dengan kasar. Aku melihat gadis pirang keluar dari bilik itu dengan wajah yang cukup hmm... mengerikan. Entah apa namanya benda berwarna hitam yang sering dipakai wanita di sekitar mata, tapi wajahnya penuh dengan lelehan hitam itu, lalu rambut yang dikuncir asal-asalan serta kemeja yang ia kenakan terlihat kusut dan tak rapi dengan dua kancing atas yang terbuka. Gadis yang mengerikan.

"Ah, kau keluar juga."

"YA! Apa yang anda lakukan di sini? Jangan menganggu kegiatan menangisku! Dan... Anda laki-laki kenapa masuk toilet wanita?! Orang mesum?!" teriak gadis itu yang kemudian secara refleks aku bekap mulutnya.

"Nona, tenanglah!" perintahku saat gadis pirang itu meronta-ronta. "Kau mengataiku mesum? Bukankah itu yang harusnya kukatakan." lanjutku melepas tanganku dari mulutnya setelah kulihat dia mengangkat tangannya tanda ia menyerah dan tak akan berteriak lagi.

"Apa maksud anda? Ini adalah toilet wanita!" ujar gadis pirang itu. "Dasar pria mesum, akan kulaporkan ke security!" lanjut gadis itu keluar dari toilet, sepertinya untuk melihat plang yang tertera di pintu utama toilet. Lalu tak berapa lama kulihat gadis itu masuk sambil menundukkan kepalanya.

"Silakan saja jika kau mau melaporkanku ke security." ucapku tersenyum sinis.

"Ah... Maafkan saya. Hontou ni Gomenasai!" seru gadis itu ber-ojigi berkali-kali kemudian berlari pergi. Kheh! Dasar gadis aneh!

Malam harinya, aku dan teman-temanku (Kisame, Sasori, Hidan, Pein dan Nagato) mengadakan reuni di sebuah bar milik Hidan. Setelah gagalnya acara perjodohan dengan adegan tersiramnya wajahku, aku segera membeli baju tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah dan langsung meluncur ke bar milik Hidan untuk melepaskan penat. Hidan menyediakan bar-nya khusus untuk pertemuan kami, jadi tidak ada pengunjung lain selain kami. Di sana kami memesan bayak sekali mojito, sake, beer, wine dan whiskey serta tidak lupa para wanita-wanita muda penghibur untuk kami. Ya~ Kami memang menyukai kenikmatan duniawi.

"Hei, ayo kita bermain game!" seru Kisame tiba-tiba.

"Bagiamana dengan permainan kartu ini?" tanya Hidan.

"Setuju!" seru lainnya kecuali aku.

"Hei Itachi, bagaimana?" tanya Kisame.

"Aku tidak minat." jawabku singkat.

"Kau tidak minat atau takut kalah?" ejek Sasori sambil meminum beernya.

"Aku punya ini!" seru Pein tiba-tiba mengeluarkan bungkusan kecil.

"Apa itu? Shabu?" tanya Nagato.

"Bukan! Ini obat perangsang." jawab Pein sambil menyeringai.

"Bubuk obat perangsang?" tanya Sasori. "Apa hubungannya dengan permainan kartu ini?"

"Bagaimana jika kita taruhan?" ungkap Pein melihat ke arahku. "Yang kalah, harus meminum sake yang telah dicampur bubuk perangsang ini. Bagaimana?"

"Berapa lama bekerjanya?"

"Lima belas menit setelah diminum dan bertahan hingga tujuh jam."

"Berapa ronde?" tanya Nagato asal. Aku hanya bisa meliriknya sambil meminum wine-ku.

"Kalau kau expert, kau bisa melakukan 10 ronde dalam waktu tujuh jam." jawab Pein sambil tertawa.

"Bagaimana Itachi?" tanya Sasori.

"Cih! Baiklah aku ikut!" jawabku terpaksa karena tidak ingin diremehkan. Kami berenam kemudian memainkan kartu remi standar selama tiga jam.

"Hahha! Kau kalah paling banyak Itachi!" ejek Hidan menunjukku.

"Sial! Ayo dua kali bermain lagi!" pintaku tidak terima.

"Hei, Itachi! Sudah cukup. Sekarang sudah jam 12! Terima saja kekalahanmu." sambung Sasori. Aku hanya bisa mendecih sambil melihat Pein memasukan satu bungkus obat perangsang itu ke dalam botol sake dan menyodorkannya padaku.

"Silakan meminumnya Itachi-sama~" ledek Pein. Sementara yang lain hanya tertawa.

Aku pun menuangkan sake ke gelasku yang kosong dan dengan cepat, kuminum satu gelas penuh sake bercampur bubuk perangsang itu. Sial! Setelah sampai apartemen, aku harus mengurung diri di kamar dan membuang kunci kamarku agar aku tidak melakukan tindakan gila karena reaksi obat ini.

"Woaahh~ Oneshot!" seru Nagato tertawa.

"Sialan kalian! Aku akan pulang sekarang!"

"Hei Itachi, kenapa pulang? Bukankah disini banyak wanita muda yang bisa kau gunakan untuk menetralisir reaksi obat itu?"celetuk Kisame.

"Aku tidak mau wanita-wanita itu menuntutku karena vagina mereka robek atau mereka tidak bisa berjalan." jawabku asal.

"Astaga! Kau benar-benar bajingan!" ledek Hidan.

"Aku pulang." ucapku.

Setelah berpamitan pada mereka, aku langsung pergi menuju parkiran mobilku. Meski aku meminum cukup banyak alkohol tapi aku tidak semudah itu mabuk karena aku memang kuat minum. Setelah menemukan mobilku, langsung saja kunyalakan mobilnya dan melaju ke apartemenku, aku tidak akan pulang ke rumah sampai reaksi obat ini benar-benar hilang. Gila! Aku tak ingin Okaasan pingsan karena melihat putra sulungnya terangsang! Aku berharap obat itu tidak bereaksi saat aku masih di jalan. Namun, harus aku akui bahwa Kami-sama tidak berpihak padaku karena baru beberapa menit aku melajukan mobilku, hujan turun dengan cukup deras.

Dammit! Tubuhku mulai terasa panas dan mulai beraksi terhadap obat tersebut dan sialnya lagi aku masih terjebak di jalanan yang gelap dan diselimuti hujan lebat. Aku mencoba untuk fokus dengan membuka dua kancing atas kemejaku agar hawa dingin dapat kulitku rasakan. Pein benar-benar sialan! Harusnya dia tahu, tanpa aku memakai obat perangsang itu aku sudah sangat hyper. Aku mencoba menaikkan kecepatan mobilku agar bisa sampai tepat waktu ke apartemen sebelum aku hilang kendali. Mungkin ini memang hari tersialku. Tiba-tiba entah dari mana ada seseorang yang menyebrang tepat di depan mobilku yang sedang melaju cukup kencang, dengan kasar aku mengijak rem mobilku agar tidak menabrak orang itu.

"Berengsek! Aku tidak ingin ada berita bahwa pewaris Uchiha Corp membunuh pejalan kaki akibat terangsang!" umpatku keluar dari mobil.

Aku sudah tidak peduli lagi dengan guyuran hujan, malah aku sangat ingin hujan-hujanan agar hawa panas obat perangsang ini cepat menghilang. Aku berjalan ke depan mobilku dan melihat seorang gadis tergeletak di sana. Aku mendekat dan menangkat kepalanya menyender di dadaku.

"Hei nona! Bangun! Kau tidak apa-apa 'kan?" tanyaku sambil meihat wajahnya yang tidak terluka. Tidak hanya wajah, seluruh tubuhnya tidak ada luka.

"Dasar laki-laki berengsek! Tega sekali kau padaku!" rancau gadis itu memukul-mukul dadaku.

"Nona, kau mabuk? Hei, bangunlah! Ini jalanan umum!" seruku menggoncangkan tubuhnya. Deg! Tanpa sengaja aku melihat bra yang tercetak jelas dari kemeja putihnya yang basah terkena guyuran hujan. Berengsek! Aku jadi semakin horny!

"Apa yang kurang dariku? Hah?! Kau ingin bercinta denganku? Baik akan kulakukan!" rancaunya. Cih! Apa dia bisa membaca pikiranku? Atau dia memang mengizinkanku untuk bercinta dengannya?

Aku yang benar-benar sudah tidak tahan kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya di kursi sampingku. Jika dilihat-lihat gadis pirang ini cantik dan memiliki tubuh yang indah. Apa ini namanya beruntung diantara kesialan? Kulaju mobilku bukan menuju ke apartemen melainkan motel yang berada di pinggir jalan. Aku tidak pernah membawa gadis asing ke apartemenku untuk bercinta.

Setelah sampai di Love Motel, aku langsung memesan satu kamar sambil menggendong gadis itu dipunggungku. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di atas kasur tidak peduli itu akan membasahi springbed motel itu.

"Ngghhh...". Gadis itu menggeliat dan aku bisa sangat jelas melihat dadanya yang cukup besar tertutup bra berwarna biru gelap.

Sebenarnya, aku benar-benar tidak tahan tapi aku berusaha untuk melakukan foreplay terlebih dahulu. Alasannya? Karena obat perangsang bodoh itu bertahan 7 jam, jika aku langsung bermain inti, berapa ronde yang akan kulakukan kepada gadis tak berdaya ini? Sialan!

Aku turut berbaring di samping gadis itu dan memeluknya erat, baju kami sudah sama-sama basah jadi aku tak peduli lagi, kuturunkan wajahku ke perpotongan lehernya yang mulus. Aku mulai meniup, mengecup dan menjilati lehernya dan ternyata gadis itu mendesah dan menggeliat. Hmm... Gadis yang menarik, dia bahkan terangsang meskipun dalam keadaan mabuk. Dia bahkan mendesah dengan erotis. Dia bahkan menggeliat yang tanpa sengaja pahanya menggesek penisku. Holy Fuck! Gerakan seduktif dari gadis inipun tak lagi bisa kubantah. Betapa nikmat itu menghantam penisnku. Aku pun mulai meremas kedua payudara sintalnya.

"Ngghhh... aahhh... hentikan ahh~~"

"Kau akan menyukainya, nona~" ucapku penuh kemenangan.

Aku mulai melucuti pakaianaku yang basah dan pakaiannya satu persatu hingga tidak ada satu helai benang pun menempel di tubuh kami. Aku melihatnya dari atas sampai bawah, ternyata tubuhnya sempurna! Dia memiliki kulit susu halus, dada yang besar dan vagina yang menggoda. Tanpa aba-aba lagi, aku mulai melakukan foreplay.

Aku dapat mencium aroma parfum dan alkohol dari gadis yang berada di bawahku ini. Tak peduli apapun lagi, aku mulai menciumi bibir pinknya dan menghisapnya pelan, dia hanya melenguh. Lalu kuturunkan ciumanku ke potongan leher mulusnya dan memberikan beberapa kissmark bahkan bitemark di sana. Gadis itu mengerang pelan karena aku menggiggiti lehernya, mungkin itu bagian sensitifnya. Kuremas kedua dadanya dan kujilati putingnya yang menggoda itu. Gadis ini benar-benar sempurna! Tubuh gadis ini benar-benar mulus tanpa cacat. Putih bersih terawat dan sangat menggairahkan. Saat ini posisi wajahku sudah berhadapan dengan vaginanya.

"Ahhh~~" gadis itu mengerang, menggeliat dan mencengkram rambutku saat kutenggelamkan wajahku tepat di vagina miliknya. Bukan hanya sekedar menciumi, kini aku sudah menjilati seluruh permukaan vagina itu dan sesekali kupermainkan dan kugigit klitoris yang membuat gadis pirang ini semakin mengerang liar. Semakin lama isapan demi isapan yang kulakukan semakin kuat. Secara refleks kedua kakinya merapat dan tangannya menekan kepalaku untuk semakin tenggelam dalam disana. Hahaha... Respon yang bagus! Mabuk pun, gadis ini tahu bahwa yang kulakukan padanya membuat tubuhnya nikmat. Gadis ini hilang kesadaran karena alkohol dan akan kehilangan akal karenaku.

"Kau menikmatinya?" tanyaku berhenti memainkan vaginanya dan mulai mencumbu perut datarnya.

"Nggghhh~~" desahnya sambil mencengkram sprei kuat-kuat.

"Kau sudah basah, nona. Aku akan melakukan permainan inti. Bagimana?" tanyaku sambil memainkan nipple-nya yang sudah mengeras akibat sentuhan-sentuhanku di titik sensitifnya. Vagina gadis pirang yang sudah merekah merah, licin dan siap untuk dimasuki mengundang penisku yang sudah tegang akibat obat perangsang untuk segera menjemput kenikmatan berdua.

"Ahhh~ Shikaaaa~~" rancau gadis itu memanggil nama seseorang. Ah! Jadi dia mengira sedang melakukannya dengan... Shika? Kheh! Baiklah, aku takkan segan-segan jika begitu.

"Anggaplah aku Shika. Ini akan menyenangkan, percayalah." bisikku sambil memulai memasukan ujung penisku ke dalam vaginanya yang terasa sangat sempit. Shit! Meski sudah basah tapi vagina ini rapat sekali. Kudengar erangan kesakitar keluar dari mulutnya, dengan hantakkan kasar kumasukkan seluruh penisku ke dalam lubang kenikmatannya.

"AAAHHHH Itaaaiiii !" teriaknya kesakitan. Kupeluk tubuhnya yang berada di bawahku lalu kecumbu bibir merahnya untuk mengurangi rasa sakit. Kenyataan yang kudapat kali ini adalah aku telah merobek selaput dara gadis ini yang artinya ia masih perawan dan aku adalah pria asing yang merenggut keperawanannya karena terangsang akibat efek obat.

Masa bodoh dengan semua itu. Ini adalah hal yang nikmat! Aku mulai melakukan gerakan in-out secara perlahan, erangan dan desahan erotis gadis ini menambah gairahku. Vagina sempitnya mencengkram erat penisku, pijatan-pijatan yang dihasilkan vaginanya membuatku hilang akal. Kutambahkan tempo in-out ku dan kurasakan penisku menghantam sesuatu yang kuyakini adalah mulut rahimnya. Tubuh gadis ini memiliki reaksi yang sangat bagus.

"Ngghh~~ Shikaaaa terusss ahhhh~~" desahnya ikut menggoyangkan pinggulnya.

"Aahhh... Sial! Vaginamu nikmat sekali!" ujarku sambil menjilati nipple-nya.

Kurasakan mulut rahimnya turun yang artinya rahim itu menginginkan penisku untuk masuk lebih dalam dan menyemburkan benih-benihku. Ahhh! Aku tidak tahan lagi... Kuhentakkan pinggulku keras-keras untuk mencapai klimaks.

"Shikaaaaa aahhh~~ Akuuuu keluaaar aahhh..." erangnya memeluk leherku kuat-kuat. Aku merasakan penisku diselimuti oleh cairan cintanya dan tiba saat aku melakukan klimaks dengan hentakan kuat ku keluarkan spermaku di dalam rahimnya.

"Ahhhh... I'm cuming!" desahku menindih tubuhnya. "Sial! Aku harap kau tidak akan hamil." ucapku mengeluarkan penisku setelah semua spermaku tertampung di rahimnya.

Setidaknya aku telah melakukan hubungan seks untuk menetralisir obat perangsang ini. Kurebahkan tubuhku di samping gadis itu. Ada sedikit rasa bersalah karena aku telah mengambil keperawanannya saat dia tidak sadar dan menyangka bahwa aku adalah orang lain. Aku akan menanggap bahwa ini adalah one night stand. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua, aku pun mulai tertidur.

Drreettt... Drreettt... Aku membuka mataku karena getaran yang ditimbulkan alarm ponselku sangatlah keras. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Rasanya aku baru tertidur selama 5 menit. Kemarin malam aku bercinta dengan gadis di sampingku ini, ah- apa aku masih bisa menyebutnya gadis? Kulihat dia masih tertidur pulas. Tunggu! Aku sepertinya pernah melihat wajah gadis ini, tapi dimana? Tidak mungkin di bar Hidan karena gadis ini masih perawan. Entahlah hanya perasaanku saja, mungkin karena aku sudah terlalu sering bercinta dengan banyak wanita. Kemudian aku turun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, setelahnya aku memakai pakaian lamaku dan bergegas pergi. Sebelum pergi aku meninggalkan sebuah memo dan selembar cheque di meja kecil yang ada di kamar itu. Segera aku turun dan menghampiri resepsionis untuk membayar sewa kamar yang kami pakai selama semalam itu.

"Tolong belikan beberapa pakaian dalam dan dress untuk gadis yang ada di kamar nomor 2006. Ah, dan juga antarkan sarapan ke kamar itu. Ini uangnya dan ini tip untukmu."

"Baik tuan! Terimakasih!" jawab resepsionis itu tersenyum senang.

.

Flashback End

.

.

.

Apakah aku harus menelpon Pein untuk mencarikanku wanita lain? Haruskah aku pergi ke bar milik Hidan untuk melampiaskan kemarahanku dan nafsuku? Kuambil ponsel yang ada di saku jas-ku dan mencoba menelpon Hidan tapi dengan cepat aku menyentuh tombol cancel. Sial! Aku tidak bisa! Aku tidak mau! Aku tidak mau wanita atau gadis lain selain Ino! Aku hanya ingin dengan Ino! Kubuka mataku dan kuangkat kepalaku untuk melihat Ino dan laki-laki itu tapi ternyata mobil CR-V putih itu telah menghilang dan Ino sudah tidak nampak lagi. Pikiranku kemudian melayang jauh. Apa jangan-jangan mereka sedang bercinta? Dammit! Shit! Brengsek! Tidak ada gunanya aku menunggu disini. Kulajukan mobilku dengan beringas dan kasar menuju apartemenku untuk menjernihkan pikiran.

"Ino... Kau benar-benar menjadi pelacur sekarang!" umpatku kesal.

.

.

.

.

.

つづく - To Be Continued


.

Hello~ Izumi disini ! Heheee... Ada yang masih ingat & menunggu fict ini? ㅠㅠ Mohon maaf jika di chap ini Mature Scene-nya kurang greget dan alurnya rush sekali~ Terkesan buru-buru, maju mundur (cantik xD), ruwet dan banyak typo/?

Ada beberapa alasan kenapa fict ini (sangat) lama updatenya ;

1. Di sekitar bulan Agustus - Desember, aku sibuk mengurus wisuda xD

2. Ternyata menulis fanfict rated M & ber-chapter itu menguras fisik dan mental. Soalnya aku lebih bisa oneshoot ㅠㅠ dan juga aku harus mencari & membaca banyak literatur /? -you-know-what-i-mean- Wkwkwk :P

3. Malas mengetik & buka laptop huhuu... Bahkan drama korea terbaruku tak tertonton tak tersentuh. Tapi tenang~ fict ini pasti selesai soalnya aku sudah punya draft / sistematika penulisannya jadi tinggal menggembangkan saja :)

Sekali lagi aku minta maaf atas terlambatnya fict ini di update. Terimakasih sudah menunggu ^^ Selamat membaca teman-teman ! Mind to review?