of Butterflies, Umbrellas and Shim Changmin
part ii a
.
Disclaimer: All publicly recognizable characters, settings, etc. are the property of their respective owners. The original characters and plot are the property of the author of this story. The author is in no way associated with the owners, creators, or producers of any preciously copyright material. No copyright infringement is intended.
.
.
.
.
Jung Yunho saat berusia 6 tahun, kedua orang tuanya memutuskan untuk menetap di Kanada, Amerika Utara, dengan alasan sang ayah direkomendasikan oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja di Korea untuk memimpin cabang perusahaan yang ada di Kanada.
Yunho kecil sempat kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah barunya, ia lebih memilih untuk menyendiri di kelas atau jika merasa bosan ia akan duduk santai di bawah pohon besar yang tumbuh di halaman belakang sekolah sambil membaca buka dongeng dalam Bahasa Inggris—inilah cara yang dianjurkan oleh Ibunya untuk meningkatkan kualitas berbahasanya.
Saat itu Yunho kecil sedang membaca buku 'Little Mermaid' di bawah pohon besar yang ia sebut sebagai sahabat barunya di sekolah ini, ia bergumam kecil membaca setiap kata yang terangkai dalam buku tersebut, seolah-olah berbagi cerita kepada sabahat pohonnya itu.
Yunho sempat merasakan geli disekitar kakinya, seperti ada benda berbulu bergesekan dengan kakinya. Tapi ia tak mempedulikan hal tersebut dan melanjutkan kegiatan membacanya kembali.
Baik, Yunho mulai terganggu akan benda berbulu yang ia rasakan di kakinya tersebut. Meletakkan bukunya perlahan, Yunho kecil memutuskan untuk mencari tahu apa sebenarnya benda berbulu yang bergerak-gerak di kakinya itu. Mata kecil Yunho membulat sempurna menatap objek yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut.
Seekor anak kucing sedang meringkuk manja di kakinya.
Yunho bergerak secara perlahan, takut akan membangunkan anak kucing yang sedang tertidur damai. Dengan jemari mungilnya, Yunho kecil memberanikan dirinya untuk mengelus bulu halus anak kucing itu. Melihat bagaimana anak kucing tersebut merespon terhadap belaiannya, Yunho mengangkatnya kedalam dekapannya sambil terus membelai bulu putih tak bernoda tersebut.
"Hello Kitty, I'm Yunho." (Halo, Kitty, Aku Yunho.) Ucap Yunho pada anak kucing yang berada di dekapannya.
Yunho tertawa kecil saat anak kucing tersebut mengeluarkan suara 'Mew', seperti seorang bayi, pikir Yunho.
"Here you are!" (Disini rupanya!)
Yunho mengangkat kepalanya saat mendengar suara melengking yang mendekat kearahnya, ada seorang anak perempuan sedang berlari kecil menuju tempatnya berada. Dengan cepat Yunho berpikir bahwa anak perempuan tersebut pasti sedang mencari anak kucing ini.
Mata Yunho tak lepas se-inchi pun dari anak perempuan yang sedang terengah-engah dihadapannya. Ia memperhatikan dengan seksama anak perempuan itu. Rambut hitam legamnya terlihat sangat halus di bawah sinar matahari, walaupun sedikit aneh karena potongan rambutnya terlalu pendek untuk seorang perempuan sepertinya. Kulit anak perempuan itu sangat pucat terbalik dengan kulitnya yang sedikit kecoklatan. Dari itu semua yang paling Yunho suka adalah mata besarnya yang memancarkan keluguan dan keceriaan seorang anak kecil. Anak dihadapannya ini tidak terlihat seperti orang-orang yang ada disekitarnya, ia lebih terlihat seperti dirinya.
"You are Yunho, right?" (Kau Yunho, kan?)
Sebuah suara halus bertanya padanya.
Sedikit terkejut Yunho hanya bisa tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya iya. Walaupun ia ingin mengetahui bagaimana anak perempuan itu bisa mengetahui namanya, sedangkan ia sama sekali tidak pernah melihat anak itu di sekolah ini, atau mungkin dirinya sendiri tidak pernah memperhatikan orang-orang disekitarnya, yang pasti Yunho kecil tidak tahu.
"Why you no speak? You never talk, Yunho." (Kenapa kau tidak menyahut? Kau tidak pernah berbicara, Yunho.) Ucap anak perempuan itu sambil menyibir bibir mungilnya.
Yunho kecil hanya tertawa kecil melihat eksperi lucu yang diberikan oleh anak perempuan tersebut. Sangat menggemaskan, bahkan lebih menggemaskan dari anak kucing yang sekarang sudah berpindah tempat ke dalam dekapan anak perempuan itu.
"You know me, Yunho?" (Apa kau mengenalku, Yunho?) Tanya anak perempuan itu sambil duduk di tempat dimana Yunho sempat duduki. Dan Yunho menyusulnya dan duduk di sampingnya.
Yunho menggeleng kepalanya tidak. Ia benar-benar tidak mengenal anak perempuan dihadapannya ini.
Yunho hampir saja mengeluarkan suara tawanya kalau saja ia tidak segara menutup dengan telapak tangannya melihat bagaimana pipi anak perempuan itu mengembung dengan bibir yang maju kedepan. Ini mengingatkan Yunho kecil pada salah satu karakter imajiner yang sering ia saksikan di layar kaca; Theodore dalam animasi Chipmunk saat sedang mengunyah makannya dengan lahap. Lucu.
Yunho menjadi tertarik pada anak perempuan tersebut.
"I'm Jaejoong, your classmate, Yunho!" (Aku Jaejoong, teman sekelasmu, Yunho!) Seru anak itu sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Yunho.
Teman sekelasnya? Yunho sama sekali tidak tahu akan hal ini. Ia terkejut, tentu saja.
Sedikit ragu, Yunho membalas jabatan tangan anak itu dan berkata dengan malu-malu, "I'm Jung Yunho, Jaejoong…" (Aku Jung Yunho, Jaejoong…)
Senyuman manis terlukis di bibir merah teman sekelasnya itu, "And this is Kiki, my little Kitty!" (Dan dia adalah Kiki, kucing kecilku.)
"Jae, you found Kiki?" (Jae, kau sudah menemukan Kiki?)
Sebuah suara menginterupsi mereka dari kejauhan. Yunho menemukan anak laki-laki tengah berlari kearah mereka.
"Chun!"
Yunho mendengar Jaejoong meneriakkan nama anak itu dan melambaikan tangan mungilnya ke udara.
"Chun, I want you to meet with my friend. Chun, this is Yunho." (Chun, aku ingin kau bertemu dengan temanku. Chun, dia adalah Yunho.) Jaejoong kembali menatap Yunho dan berkata, "Yunho, this is Yoochun, my soulmate." (Yunho, dia adalah Yoochun, soulmate-ku.)
Yunho memautkan alisnya begitu mendengar kata asing tersebut. Soulmate? Ia sepertinya belum pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Anak yang dipanggil Chun itu hanya mengangguk sambil menatap Yunho. "I'm Yoochun." (Aku Yoochun.) Kata Yoochun ramah.
"I'm Yunho." (Aku Yunho.)
.
.
Semenjak hari itu—dari dimana Yunho menemukan anak kucing peliharaan Jaejoong, mereka bertiga; Jung Yunho, Kim Jaejoong dan Park Yoochun, resmi menjadi sahabat.
.
.
(Dan beberapa hari kemudian, dari apa yang dikatakan teman-teman sekelasnya, Jung Yunho baru menyadari bahwa Kim Jaejoong—anak perempuan yang baru beberapa hari ini menjadi teman baiknya—adalah seorang anak laki-laki seperti dirinya. Itu cukup membuat Yunho kecil tidak percaya dan terkejut, karena Jaejoong itu terlalu cantik untuk seorang anak laki-laki.)
.
.
.
.-00-
.
.
.
Persahabatan mereka terjalin sangat erat sampai mereka bertiga tumbuh menjadi remaja yang dikagumi teman-teman di sekolah mereka, terutama Jung Yunho, semenjak melewati masa pubertas banyak hal yang berubah pada dirinya. Dulu pipinya yang tembam kini lebih terlihat tirus dan ia juga membiarkan rambutnya tumbuh panjang hingga menyentuh tengkuk lehernya yang menambah kesan sempurna pada wajah mungilnya. Tubuhnya semakin meninggi dan dialah yang tertinggi diantara dua sahabatnya. Otot-otot mulai tumbuh ditubuhnya yang membuatnya terlihat tegas dan manly, sangalah sempurna untuk dipandang—itulah yang dikatakan seorang Kim Jaejoong saat membicarakan apapun itu tentang sahabatnya, Jung Yunho. Tidak akan pernah ada habisnya.
Dan Kim Jaejoong, banyak yang mengatakan bahwa setiap hari ia tumbuh semakin cantik dan menawan, (tidak jarang orang-orang disekitarnya menggodanya—bukan dalam artian negatif—dengan memanggilnya cantik atau bentuk kata pujian lainnya yang semestinya ditujukan untuk anak perempuan). Dan tentunya itu langsung membuatnya kesal, bagaimanapun juga ia adalah seorang laki-laki yang lebih pantas untuk disebut tampan dibandingkan cantik. Tapi tidak untuk Jung Yunho, saat sahabatnya itu menggodanya dengan menyebutnya cantik dan terlalu feminin, Jaejoong tidak mempermasalahkannya sama sekali, justru ia merasa senang, dan itu adalah sebuah rahasia.
.
.
.
-00-
.
.
.
Saat Yunho menginjak usia 16 tahun, ada seorang anak perempuan yang menyatakan perasaan padanya dan mengajaknya untuk berpacaran. Yunho yang pada dasarnya memiliki hati seorang pria gentle dan tidak bisa menolak permintaan yang diajukan kepadanya, langsung menerima dan menyetujui ajakan untuk berpacaran tersebut. (Dan tentu saja anak perempuan yang sekarang resmi menjadi kekasihnya itu bahagia bukan main.)
Selama seminggu penuh, semenjak ia mengabarkan bahwa ia memiliki seorang kekasih sekarang, Kim Jaejoong mengacuhkan dan menghindar darinya. Itu membuat Yunho sedih dan sakit di dadanya. Yunho sempat bertanya pada sahabatnya Yoochun alasan mengapa Jaejoong mengacuhkan dirinya, namun Park Yoochun tetaplah seorang Park Yoochun, ia hanya memberi seringai kecil pada sahabatnya itu.
(Pada akhirnya Jaejoong berhenti mengacuhkan Yunho setelah sahabat tampannya itu memberikan sebuah boneka gajah, pernak-pernik Hello Kitty dan seratus tangkai bunga mawar merah sebagai permintaan maaf dihadapan teman sekelasnya. Tentu saja Jaejoong langsung memaafkan Yunho yang memang pada dasarnya sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan langsung padanya. Kesalahan Yunho disini hanyalah ia berpacaran dengan wanita berambut pirang itu dan Kim Jaejoong tidak menyukai akan hal itu. Cemburu? Kalian bisa menafsirkan demikian.
Kim Jaejoong, tidakkah kau tahu, bahkan Yunho belum sempat memberikan hadiah seromantis ini pada kekasih cantiknya itu, melainkan padamu.)
Segala sesuatu pasti ada batasan waktu untuk mengakhirinya, begitu pula dengan hubungan Yunho dengan kekasihnya, masa berpacaran mereka hanya bertahan selama satu setengah bulan. Karena kekasih Yunho itu sudah tidak sanggup bersabar lagi menghadapi sang kekasih yang sering menghabiskan waktu bersama dua sahabatnya, terutama bersama Jaejoong, yang membuatnya semakin terbakar oleh rasa cemburu, (tapi harus ia akui Yunho adalah pacar yang penuh pengertian dan penyabar, berhati lembut, dan tipikal pria yang romantic secara natural).
Untuk Yunho sendiri, ia hanya menerima dengan lapang dada saat kekasih yang tak lebih dari dua bulan-nya itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Yunho banyak mendengar kalau diputuskan oleh kekasih itu sangat menyakitkan hingga terasa hampa di hati. Tapi ia sama sekali tidak merasakan hal itu. Bahkan hatinya terasa lebih sakit saat Jaejoong mengacuhkan dirinya, seribu kali lebih sakit, untuk mengingat hal itu saja membuatnya sakit.
"You secretly have feeling for Jae, Mr. Jung." (Kau diam-diam menaruh perasaan pada Jae, Tuan Jung.) Itulah yang dikatakan Park Yoochun setelah ia menceritakan perasaanya yang membuatnya kebingungan belakangan ini.
Yunho tidak sebegitu mempercayai perkataan yang terlontar dari sahabatnya itu, bagaimanapun juga ia adalah seorang pria begitu pula dengan Jaejoong sendiri. Jadi itu tidak mungkin ia menaruh perasaan pada seorang Kim Jaejoong, sahabatnya selama 10 tahun terakhir.
Tapi, benarkah? Entah mengapa ia mulai merasakan keraguan, ragu mungkin saja ia memang sudah menaruh perasaannya pada seorang Kim Jaejoong. Apalagi ia belakangan ini merasakan sensasi yang aneh pada dirinya saat menatap mata Jaejoong, berdekatan dengan Jaejoong, menyentuh Jaejoong, mendengar suara halus Jaejoong, memikirkan tentang Jaejoong, Jaejoong, Jaejoong dan Jaejoong. Aah, menyebut nama sahabat cantiknya itu saja bisa membuat Yunho seperti melambung tinggi ke surga.
Semuanya itu membuat kupu-kupu menggelitiki perutnya.
Tapi apakah itu yang namanya jatuh cinta? Yunho belum pernah merasakan hal demikian bahkan untuk kekasih dulu. Ia ragu, ia bingung.
"This is America and you live in 21st Century, my best friend. Gay relationships are so welcome here. If you are in relationship with Jae, I don't mind at all, I'll support you both." (Ini adalah Amerika dan kau hidup diabad ke-21, temanku. Hubungan sesama jenis sangat diterima disini. Jika kau berpacaran dengan Jae, aku tidak keberatan sama sekali, aku akan mendukung kalian berdua.)
Yunho tidak berkata apapun setelah itu, hanya membisikkan 'thank you' sebelum keluar dari kamar Yoochun, pulang menuju rumahnya.
.
.
Jae, do I have feeling for you? Do I—Do I love you? (Jae, apa aku menaruh perasaanku padamu? Apa aku—Apa aku mencintaimu?)
.
.
Jung Yunho memutuskan memikirkan perasaanya nanti. Ia ingin tidur dahulu. Tubuh sangat lelah, tapi perasaannyalah yang lebih lelah.
.
.
(Beberapa hari kemudian Jung Yunho memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Kim Jaejoong, setelah ia yakin penuh bahwa ia mencintai pria cantik tersebut sepenuh hatinya. Terima kasih untuk tuan-serba-tahu Park Yoochun yang membantunya menyadari perasaanya terhadap Jaejoong.
Ia sempat ragu dan takut; ragu kalau Jaejoong tidak memilki perasaan yang sama dengannya dan takut kalau Jaejoong akan menjauhinya karena ia adalah seorang yang aneh; aneh karena memiliki perasaan terhadap sesama jenisnya.
Memang pikiran dan perasaan seorang Jung Yunho tidak pernah sejalan dengan kenyataan yang terjadi dihadapannya. Kim Jaejoong yang berdiri dihadapannya kini tengah tersenyum sangat, sangat manis, membuatnya terlihat sangat cantik dan bersinar dimata Yunho, dan Yunho memperingati dirinya senyuman manis itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya; selalu membuat berdebar tak karuan dan berhenti selama beberapa saat.
Belum dapat mencerna keadaan sekitar, Yunho sempat merasakan jantungnya berhenti untuk beberapa detik saat Jaejoong memeluknya erat dan menyerukan, "I love you too, Moron! Took you long enough to realize your feeling for me, Jung!" (Aku juga mencintaimu, bodoh! Cukup lama juga bagimu untuk menyadari perasaanmu padaku, Jung!)
Dan detik itu juga Jung Yunho ingin menyanyikan lagu Jason Mraz dan Colbie Caillat, 'Lucky'—Lucky I'm in love with my best friend—sekencang-kencangnya.
.
.
May 10th, 20xx
Jung Yunho dan Kim Jaejoong resmi menjadi sepasang kekasih. Dan Park Yoochun—mendeklarasikan dirinya—sebagai suporter no. 1 mereka; The President of YunJae couple.)
.
.
'Boojae.'
'Boo—What?!'
'Boo Jaejoong, I love you.'
'What kind of nickname is that? That sounds ridiculous!'
'Yes, a ridiculously cute nickname, Boojae.'
'Then, you Jung Yunho, my big Yun-Bear.'
('Boojae.'
'Boo—Apa?!'
'Boo Jaejoong, aku mencintaimu.'
'Nama panggilan apa itu? Terdengar sangat bodoh!'
'Ya, nama pangilan bodoh yang lucu, Boojae.'
'Kalau begitu, kau Jung Yunho, Yun-bear besarku.')
.
.
.
-00-
.
.
.
Jalinan hubungan antara Yunho dan Jaejoong tumbuh hingga mereka berdua menginjak usia 22 tahun. Enam tahun sudah terlewati bersama-sama; dalam suka maupun duka. Banyak orang yang iri akan hubungan mereka yang sangat harmonis dan selalu terlihat penuh kasih sayang dan cinta. Mereka saling mengerti akan perasaan, hati, dan keinginan masing-masing. Namun tetap saja disegala hubungan kekasih pasti ada pertengkaran yang terjadi, Yunho dan Jaejoong pernah sekali berdebat hebat sampai mempertaruhkan hubungan mereka karena Yunho yang tak mengijinkan Jaejoong untuk menjadi seorang model majalah yang menjadi cita-cita Jaejoong semenjak kecil. (Jaejoong sempat mengatakan Yunho terlalu egois dan hanya memikirkan tentang dirinya, bahkan terlalu posesif terhadap Jaejoong hingga tak mengijinkan dirinya menjadi seorang model dengan mengatakan, 'Model itu menjual tubuh mereka untuk diperlihatkan ke para konsumen dan kau tahu itu aku tidak suka membagi apa yang menjadi milikku.')
"What you said as if I'm your property, Jung Yunho." (Apa yang kau katakan itu seolah-olah aku ini adalah benda milikmu, Jung Yunho.)
"Boo, you are not my property! You are my lover, my other half! I did this because I love you and I don't want something bad happen to you." (Boo, kau bukanlah sebuah benda! Kau adalah kekasihku, separuh jiwaku! Aku melakukan hal ini karena aku mencintaimu dan tidak ingin hal buruk terjadi padamu.)
"If you do love me then let me do this, Yun-Bear. This is my dream ever since I was little. Please, please be more understanding for me just for this time, Yun." (Jika kau benar-benar mencintaiku ijinkan aku melakukan ini, Yun-Bear. Ini adalah impianku semanjak aku kecil. Kumohon, tolonglah lebih mengerti aku untuk kali ini saja, Yun.)
Yunho menggeleng kelapanya, "I still can't let you do, Jae." (Aku tetap tak mengijinkanmu melakukan ini, Jae.)
"Fine! If you don't like sharing what is yours, then break up with me, Jung! You don't have to worry anymore for sharing your property to anyone then!" (Baiklah! Jika kau tidak suka membagi apa yang menjadi milikmu, kalau begitu putuskan saja aku, Jung! Kau tidak perlu khawatir lagi membagi benda milikmu pada semua orang lagi!)
"KIM JAEJOONG!"
.
.
Seminggu penuh semala masa hidupnya di dunia ini, belum pernah sekalipun Yunho merasakan kehampaan teramat sangat dihatinya—bahkan ia lupa cara bernafas—detakkan jantungnya serasa berhenti seketika saat Jaejoong pergi darinya malam itu.
Ia sungguh sangat menyesal atas apa yang ia lakukan; tidak mengijinkan kekasihnya untuk mengejar impiannya semanjak kecil. Egois memang, Yunho tahu betul itu.
Jung Yunho bahkan lupa tujuan utamanya sebelum pertengkaran mereka itu terjadi malam itu; melamar Kim Jaejoong untuk menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat nanti. Menjadikan Kim Jaejoong sebagai istri bagi Jung Yunho.
.
.
Beberapa jam lagi menunjukkan pukul tengah malam yang berarti hari esok yang segera tiba dan hari esok; tepatnya tanggal 10 Mei, adalah hari peringatan ke-6 bagi pasangan Jung Yunho dan Kim Jaejoong.
Seharian ini Yunho sudah memutuskan akan menemui Jaejoong malam ini juga. Mempersiapkan hatinya dengan mantap, Jung Yunho siap melamar Kim Jaejoong di hari peringatan mereka yang ke-6. (Meskipun dengan segala resiko yang akan ia dapat; ditampar Jaejoong, dimaki Jaejoong dan yang terburuk, ditolak oleh Jaejoong.)
Yunho mengatur nafasnya perlahan, memejamkan matanya dan membukanya perlahan kembali, jari telunjuk Yunho menekan bel rumah keluarga Kim.
Ia menunggu.
"Oh, finally you come, Jung, took you long enough." (Oh, akhirnya kau datang juga, Jung, lama juga.)
Yunho tidak sebegitu terkejut mendapati Yoochun yang membuka pintu untuknya. Keluarga Kim sering menyuruhnya untuk menemani Jaejoong di rumah jika mereka bepergian jauh. Itu berarti Jaejoong sekarang seorang diri di rumah.
"What you are thinking is right, Jung. His parents are at his sister's at the moment, so I have to look after him." (Apa yang sedang kau pikirkan itu benar, Jung. Kedua orang tuanya sedang berada di rumah kakaknya sekarang, jadi aku harus menjaganya.)
Yunho menangguk mengerti. "Thank you, Chun." (Terima kasih, Chun.)
"What's for?" (Untuk apa?)
"For staying by his side when I'm not there for him." (Untuk tetap berada disampingnya selama aku tidak ada di sisinya.)
"No need, Jung, he is my best friend, so are you." (Tidak perlu, Jung. Dia adalah teman baikku, begitu pula denganmu.)
Yoochun mengambil jaket yang tergeletak di atas sofa dan berkata, "I have heard about what have happened between you two. And you were pretty egoist, Jung." (Aku sudah mendengar semua tentang apa yang terjadi diantara kalian berdua. Dan kau cukup egois, Jung.)
Yunho tersenyum kecut, menggumamkan, "I know. That's why I'm coming here, to apologize to him." (Aku tahu. Itulah sebabnya aku datang kemari, untuk meminta maaf padanya.)
"And he is also too short-minded for not thinking about your feeling and for not understanding why you did this to him." (Dan dia juga terlalu berpikir pendek karena tidak memikirkan perasaanmu dan mengerti alasan mengapa kau melakukan hal tersebut padanya.)
"Chun?"
"Jae said he missed you so much." (Jae bilang ia sangat merindukanmu.)
Yunho terdiam, namun seulas senyuman kecil muncul di bibirnya.
"Go make up with your lover boy, Jung." (Cepat berbaikan dengan kekasihmu itu, Jung.)
"Thank you so much, Chun." (Terima kasih banyak, Chun.)
"I said no need, Jung. But if you made my soulmate cry again, I would throw you to Bermuda triangle for sure. I'm counting on you, Jung." (Aku sudah katakan tidak perlu, Jung. Tapi kalau sampai kau membuat soulmate-ku menangis lagi, aku bersungguh-sungguh akan membuangmu ke segitiga Bermuda. Aku serahkan sisanya padamu, Jung.) Ia berbalik menatap sabahatnya dari ambang pintu, "He is not asleep yet." (Dia masih belum tertidur.)
Dan Yoochun menghilang dibalik pintu masuk itu.
Yunho menganguk dan segera berlari menuju kamar Jaejoong yang terletak di lantai atas. Ia benar-benar tidak sabar bertemu dan mengatakan betapa rindu dirinya pada Kim Jaejoong.
Mengetuk pintu putih dihadapannya beberapa kali, Yunho mencoba memanggil kekasihnya dari balik pintu, "Boo, are you there?" (Boo, apa kau ada di dalam?)
Tidak ada balasan dari Jaejoong.
"Boo, Can I come in?" (Boo, apa aku boleh masuk?) karena merasa sudah tidak bersabar lagi, Yunho membuka pintu kamar Jaejoong perlahan, lagipula ia sudah meminta ijin, bukan?
Namun hal pertama yang ia lihat adalah kegelapan yang menyelimuti kamar yang biasanya terlihat terang dengan nuansa hijau muda dan putih itu. Hanya cahaya keperakan dari bulan yang menyusup melalui sela-sela jendela yang tidak tertutup rapat.
"Boo, are you there?" (Boo, apa kau ada?) panggil Yunho lagi memastikan. "Boo—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sepasang tangan sudah melingkar erat di tubuhnya. Tanpa diberitahu pun ia sudah mengetahui siapa pemilik tangan ini. Kim Jaejoong.
"Boo, I missed you." (Boo, aku rindu padamu.)
"I missed you too, Bear." (Aku juga rindu padamu, Bear.)
Yunho menggigit bibir bawahnya, Kim Jaejoong saat ini sedang menangis.
Yunho mencoba mengendorkan pelukan Jaejoong di tubuhnya namun Jaejoong semakin memperkuat pelukannya. Samar-samar ia mendengar Jaejoong bergumam, 'Don't, I don't want you to see my ugly sobs.'—Jangan, aku tak ingin kau melihat wajah jelekku—dan Yunho tersenyum mendengar hal itu, walaupun sedang menangis Kim Jaejoong tetaplah terlihat cantik.
Mengusap perlahan rambut Jaejoong yang kini sudah mulai menyentuh tengkuk lehernya itu, Yunho berbisik, "I'm sorry, Boo. I was so selfish that time." (Boo, maafkan aku. Aku terlalu egois saat itu.) Menarik napas dalam-dalam, Yunho melanjutkan dengan berkata, "Boo, I have been thinking about this for awhile and I have decided I will let you—" (Boo, aku sudah memikirkan hal ini and sudah aku putuskan aku akan mengijinkanmu—)
"DON'T!" (Jangan!)
"Boo?"
"No, Yunho. I'm sorry, I'm so sorry for yelling at you and saying I wanted to break up with you." (Tidak, Yunho. Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal karena berteriak padamu dan berkata aku ingin putus denganmu.) Jaejoong mengangkat kepalanya dan menatap Yunho dengan mata yang basah akan air mata.
Yunho dengan segera mengusap air mata itu, membisikkan, "No, Boo. Don't be sorry, I'm the one who is in fault here for not letting his lover to make his dream come true. I'm sorry, Boo, I'm sorry." (Tidak, Boo. Jangan meminta maaf, akulah yang bersalah disini karena tidak membiarkan kekasihku untuk mengejar cita-citanya. Aku minta maaf, Boo, aku menyesal.)
"No, Yunho. I don't care about my dream anymore. I just, I just want to be with you, with Jung Yunho, not with anyone else but you alone, Jung Yunho. I love you so please let me by your side forever." (Tidak, Yunho. Aku sudah tidak peduli lagi pada impianku itu. Aku hanya, aku hanya ingin bersamamu, bersama Jung Yunho, bukan dengan yang lain hanya kau seorang, Jung Yunho. Aku mencintaimu jadi inginkan aku tetap berada disisimu selamanya.) Mendekap Yunho kembali, Jaejoong tertawa pelan, "God, far from you only for a week has gotten me this crazy, Bear. I miss you so much, Bear. Miss you." (Tuhan, jauh darimu hanya untuk seminggu sudah membuatku gila seperti ini, Bear. Aku sangat merindukanmu, Bear. Rindu padamu.)
"Miss you so much too, Boojae and I love you too." (Aku juga sangat merindukanmu, Boojae dan aku mencintaimu.)
Mereka berdua diam sejenak, berada dalam dekapan masing-masing, saling menyalurkan rasa kerinduan mereka selama seminggu berpisah.
"Boo, I have something to tell you." (Boo, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu.)
Jaejoong menatap lekat pada kekasihnya itu lalu mengangguk, "What is it?" (Apa itu?)
Dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, Jung Yunho berlutut dihadapan Kim Jaejoong dan menyodorkan sebuah kotak kecil berisikan dua buah cincin emas yang bersinar di bawah cahaya rembulan. "Bear, you—" (Bear, kau—)
"My Boo, Kim Jaejoong whom I cherish the most in this world and the most beautiful guy who have a half of my heart, soul, and love. Kim Jaejoong who will be the mother of my children someday. Kim Jaejoong who soon-to-be Jung Jaejoong, would you marry me?" (Sayangku, Kim Jaejoong yang aku sangat hargai di dunia ini dan pria tercantik yang mendapatkan separuh hati, jiwa dan cintaku. Kim Jaejoong yang akan menjadi ibu dari anak-anakku suatu hari nanti. Kim Jaejoong yang sebentar lagi akan menjadi Jung Jaejoong, maukah kau menikah denganku?)
Yunho hanya bisa berharap cemas jika Jaejoong menolak lamarannya yang bisa dibilang terlalu mendadak, dan pelaksanaanya tidak tepat pada waktunya. Tapi yang terpenting adalah rasa cinta dan ketulusan hati saat melakukannya, tidak?
Yunho memperhatikan kekasihnya yang masih berdiri dihadapannya kembali terisak, namun lebih keras dari sebelumnya. Ingin rasanya ia memeluk tubuh itu namun, itu akan ia lakukan jika Jaejoong menerimanya.
"You know this is not the most romantic proposal I have ever seen, Jung." (Kau tahu, ini adalah lamaran pernikahan yang paling tidak romantis yang pernah aku lihat, Jung.) Canda Jaejoong menggoda kekasihnya itu.
Yunho tersenyum saat menyadari kekasihnya yang tengah menangis itu tersenyum padanya, "I know, my Boo. So, would you marry me?" (Aku tahu, sayangku. Jadi, maukah kau menikah denganku?)
Jaejoong ikut berlutut dihadapan Yunho, ditanggupnya wajah mungil kekasihnya dan memberlainya yang ibu jarinya secara perlahan, Jaejoong membisikkan, "Of course I would love to, Jung Yunho." (Tentu saja aku mau, Jung Yunho.) Tertawa kecil, walaupun air matanya masih mengalir di pipi pucatnya, Jaejoong berkata, "I have been waiting for this moment a long ago from you, Yunho. Let's say I have been dreaming you would do this for me someday, and now, this time—right here, right now—my dream has become true, Jung Yunho. Thank you." (Aku sudah menanti-nanti akan hal ini darimu, Yunho. Katakanlah aku sudah memimpikan kau melakukan hal ini untukku suatu hari, dan sekarang, pada waktu ini juga, disini, impianku sudah terwujud, Jung Yunho. Terima Kasih.)
"Boo." Tanpa pikir panjang lagi Yunho menyematkan cincin emas itu ke jari manis Jaejoong dan ia tersenyum lega karena cincin yang ia pilih untuk Jaejoong sangat pas melingkar di jari lentik kekasihnya itu.
Jaejoong mendekatkan cincin yang tersemat di jari manisnya sejajar dengan matanya, memperhatikan dengan seksama bagaimana cincin itu berkilau di bawah cahaya bulan malam itu. "Bear, this is so beautiful." (Bear, ini benar-benar indah.)
"Just like you." (Seperti dirimu.) Sahut Yunho asal.
Yunho membelai lembut wajah sang kekasih yang masih basah karena air mata, dan mata mereka saling bertemu pandang. Tanpa diberi aba-aba, sedetik kemudian mereka mempersingkat jarak diantara mereka dan mempertemukan bibir mereka bersama. Sebuah ciuman yang menunjukkan betapa besar cinta mereka malam itu.
.
.
.
-00-
.
.
.
Pernikahan mereka berlangsung sebulan kemudian di sebuah gereja yang terletak di lingkukan mereka tinggal.
Yunho dan Jaejoong memutuskan untuk membuat pesta pernikahan yang sedehana saja dengan mengundang keluarga besar mereka, beberapa tetangga dan sahabat mereka saat masih bersekolah serta rekan-rekan ditempat bereka bekerja.
Semua tamu berkata bahwa mereka turut bersyukur dan senang akhirnya mereka memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan, walaupun diusia mereka yang belum bisa dikatakan dewasa sepenuhnya. Terutama kedua orang tua mereka, mereka berempat tampak bahagia melihat Yunho dan Jaejoong saling mengucapkan janji suci di atas altar sana.
"Oh my Joongie, you have grown into a beautiful young man. You know that my love?" (Oh Joongie-ku, kau tumbuh menjadi seorang pemuda yang cantik. Kau tahu itu sayangku?) tutur ibu Jaejoong yang kini sudah berlinangan air mata saat menyaksikan bagaimana putra kecilnya tersenyum bahagia setelah ia resmi menjadi pasangan hidup Jung Yunho. "I'm happy." (Aku bahagia.)
(Yoochun, yang menjadi Best Man pada pernikahan kedua sahabatnya itu, hanya bisa menangis bahagia—ia adalah orang yang emosional—menyaksikan sahabatnya tersebut saling mengucapkan janji suci, mengaitkan cincin pada jari masing-masing dan—bagian yang paling ia sukai—bagaimana mereka berdua berciuman dengan penuh rasa cinta (tentu saja ia tak lupa mengabadikan momen itu di ponsel pribadi miliknya), dan ia bergumam, "Perfect, this is the most perfect and beautiful ending ever, even fairy tales lose."—Sempurna, ini adalah akhir yang paling sempurna dan terindah yang pernah ada, bahkan cerita dongeng terkalahkan.)
.
.
June 10th, 20xx
Jung Yunho dan Kim-Jung Jaejoong resmi menjadi sepasang suami-istri.
.
.
'Kim-Jung Jaejoong, my beautiful wife whom I love the most, I think I have fallen for you again.'
'Stop it, Bear! And why I must be your wife again?'
'Boo, I know that you love it when I say that thing. You are my wife because you are very beautiful, Boo.'
'But still, I'm a guy, Bear.'
'Hmm, a very breathtakingly beautiful guy alive.'
('Kim-Jung Jaejoong, istri tercantiku yang sangat aku cintai, aku rasa aku jatuh cinta lagi padamu.'
'Hentikan, Bear! Dan kenapa aku harus menjadi istrimu, lagi?'
'Boo, aku tahu kalau kau menyukainya saat aku mengatakan hal itu. Kau istriku karena kau sangat cantik, Boo.'
'Tapi tetap saja aku ini pria, Bear.'
'Hmm, seorang pria yang sangat teramat cantik di dunia.')
.
.
.
-00-
.
.
.
Pasangan Yunho dan Jaejoong memang semenjak mereka menikah sudah disarankan untuk cepat-cepat mengadopsi anak, karena tanpa kehadiran seorang anak di dalam suatu rumah tangga tidak bisa dikatakan sebagai keluarga bahagia dan sempurna. Awalnya mereka menolak karena kesibukan mereka masing-masing dalam masalah pekerjaan; Yunho yang sibuk mengurus perusahaan keluarganya dan Jaejoong akan pekerjaannya sebagai perancang busana. Mereka hanya takut jika mengadopsi anak sekarang, mereka hanyalah menelantarnya malaikat mungil itu tanpa kehadiran mereka disisi si kecil. Mereka bukanlah belum siap.
Memang benar apa yang dikatakan keluarga mereka, tanpa kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga terasa begitu sepi, walaupun bahagia dengan pasangan masing-masing tetap saja itu terasa kurang karena tidak ada senyuman, tawa, tangisan khas anak kecil di sekeliling rumah. Itulah yang dirasakan pasangan bahagia Yunho dan Jaejoong.
Pasangan Jung Yunho and Kim-Jung Jaejoong memutuskan untuk mengadopsi seorang anak setelah menikah selama 6 bulan lamanya.
Saat itu hampir dipenghujung tahun, tepatnya pada tanggal 24 Desember, malam natal. Yunho dan Jaejoong sudah merencanakan akan berkunjung ke panti asuhan yang sudah direkomendasikan oleh keluarga mereka. Sebuah panti asuhan yang banyak memiliki anak-anak yang masih balita yang ditelantarkan oleh orang tuanya begitu saja, mendengar akan hal itu Jaejoong sampai menitikkan air matanya sambil berkata betapa kejamnya orang tua mereka membuang malaikat kecil yang tak memiliki kesalahan apapun untuk menanggung ini semua.
Dengan berbagai hadiah yang sudah mereka persiapkan untuk anak-anak di panti asuhan yang mereka kunjungi—karena malam ini adalah malam natal yang berarti adalah hadiah bagi semua orang—pasangan Jung tersebut disambut ramah oleh kepala suster panti asuhan. Beliau mengajak pasangan tersebut berkeliling untuk menemui satu per satu anak-anak yang ada di bawah asuhan mereka.
Senyuman terus terlukis di bibir pasangan Jung saat mendapati anak-anak mengelilingi mereka dengan tatapan polos dan lugu. Mereka semua terlihat seperti malaikat suci pada malam kudus.
Yunho dan Jaejoong membagikan satu per satu hadiah yang mereka bawa kepada semua anak panti yang dengan senang menerimanya. Hanya dengan melihat betapa bahagia wajah malaikat tersebut sudah membuat hati mereka berdua terasa hangat.
Jaejoong memperhatikan sang suami dengan pandainya membuat anak-anak kecil tersebut tertawa lepas dengan menceritakan berbagai cerita lucu. Melihat disekelilingnya, mata Jaejoong tertuju pada bayi mungil yang sedang menangis di dalam dekapan salah satu seorang suster panti. Oh hati Jaejoong seperti terpanggil mendengar tangisan dari bayi mungil tersebut, dengan segera ia menghampiri mereka.
"Can I carry him?" (Boleh saya mengendongnnya?) Tanya Jaejoong perlahan menyadari bayi tersebut terus menangis dan menolak untuk meminum susunya. Dan suster muda tersebut dengan senang hati memberikan bayi mungil tersebut ke dalam dekapan Jaejoong.
"Hey, little angel, don't cry my love. I'm here for you so don't be afraid. I love you little one so don't cry, love." (Hai, malaikat kecil, jangan menangis sayangku. Aku ada disini untukmu jadi jangan takut. Aku mencintaimu sayang jadi jangan menangis lagi, sayang.) Bisik Jaejoong lembut pada bayi yang terus menangis itu dan seperti sebuah mantra bayi mungil tersebut langsung berhenti menangis dan yang terdengar hanyalah cegukan kecil. Jaejoong tersenyum lega mengetahuinya, diusapnya secara perlahan pipi merona bayi tersebut dengan jari kelingkingnya untuk menghapus sisa air matanya. "My baby." (Bayiku) Tanpa disadari kata itu terlondar dari mulutnya.
"What a sweet baby." (Bayi yang sangat manis.)
Jaejoong mengangkat kepalanya dan menemukan suaminya sudah berdiri dihadapannya sambil mengelus lembut pipi bayi di dalam dekapannya tersebut.
"He is so lovely, don't you think so, Boo?" (Dia sangat lucu, bukankah begitu, Boo?)
Jaejoong hanya mengangung menanggapi pertanyaan suaminya, bayi mungil ini memang sangat menggemaskan.
"Do you think he can be our baby, Boo?" (Apa kau berpikir dia bisa menjadi anak kita, Boo?)
Jaejoong terdiam sejenak, "I wish he could, Bear." (Aku berharap demikian, Bear.) Ia mengecupi kening bayi mungil itu.
"So, is he, Mr. Jung?" (Apakah dia orangnya, Tuan Jung?) Tanya suster kepala pada pasangan Jung yang sejak tadi beliau perhatikan dari kejauhan. "His name is Minho, 15 days old baby boy." (Namanya Minho, bayi berumur 15 hari.)
"Minho? His name sounds like Korean." (Minho? Namanya terdengar seperti Orang Korea.) Kata Yunho yang terus memperhatikan istrinya mengelus dengan penuh kasih sayang bayi mungil tersebut. Ia bisa menebak istrinya itu sudah jatuh hati pada pandangan pertama pada bayi Minho.
"He is, Mr. Jung. There is a family in South Korea who has sent this precious angel to us for some reason. That time he was just a week old baby." (Dia memang Orang Korea, Tuan Jung. Ada keluarga dari Korea Selatan yang mengirim malaikat ini pada kami untuk beberapa alasan. Waktu itu dia hanya berumur seminggu.)
"They are so heartless." (Mereka sangat kejam.) Jaejoong sudah tidak bisa membendung tangisannya lagi mendengar kisah dari bayi tak berdosa ini. Ia segera menghapus tetesan air matanya yang berjatuhan di pipi sang bayi dan mendekap bayi mungil itu lebih erat dan membisikkan, "I'm sorry I wasn't there for you that time, my love." (Maafkan aku karena tidak ada disana untukmu waktu itu, sayangku.)
"Mr. Jung, even though they are the heartless ones but still we have be greatful they are still letting this sweet angel to have a chance to see this beautiful world, yes?" (Tuan Jung, meskipun mereka itu orang-orang yang tak memiliki perasaan namun kita harus bersyukur karena mereka membiarkan malaikat kecil ini untuk mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia ini, bukankah begitu?) tutur suster kepala tersebut dan mendapat anggukan setuju dari pasangan Jung.
Jaejoong benar-benar ingin mengadopsi bayi mungil ini dan itu mendapat respon positif dari suami dan suster kepala panti.
.
.
Setelah menandatangani surat hak asuh anak untuk Minho, pasangan Jung segera berpamitan kepada semua anak dan suster di panti tersebut, dan pulang bersama bayi Minho yang terlelap di dalam dekapan hangat Jaejoong.
"Oh Bear, we are finally have a son for our own. I'm so happy." (Oh Bear, kita akhirnya punya anak juga.) Dengan itu Jaejoong memberikan ciuman bertubi-tubi pada keluarga barunya tersebut.
"I'm glad we found him at that orphanage." (Aku senang kita menemukannya di panti asuhan itu.) Yunho mendekat untuk menciuman kening istri dan anaknya.
Minho bergerak lucu di dalam tidurnya.
"No, I'm glad he found us. Thank you my baby." (Tidak, aku senang ia menemukan kita. Terima kasih sayangku.) Menciuman hidung mungil Minho, Jaejoong menoleh kearah suaminya yang sedang mengetir, berkata, "He is my best Christmas gift ever in my life after you." (Dia adalah kado natal terindah yang ada dihidupku setalah dirimu.)
"Our best Christmas gift." (Kado natal terbaik kita.) Timpal Yunho.
Jaejoong mengangguk pelan dan kembali menatap bayi mungilnya, mencium kedua pipinya, sepertinya Jaejoong tidak puas untuk menciumi bayi Minho.
"Welcome to our family, Jung Minho." (Selamat datang di keluarga kami, Jung Minho.)
.
.
December 24th, 20xx
Jung Minho resmi menjadi putra dari pasangan Jung Yunho dan Kim-Jung Jaejoong.
.
.
'Min, say Pa-Pa.'
'Mam-Ma'
'No, Min. Pa-Pa.'
'Ma-Ma!'
'No! Pa-Pa!'
'No! Mam-Ma!'
'Boo, just let him call you 'Mama', I think it sounds cute when he calls you, 'Mama'.'
'But, Bear. I'm a guy and I want Min to call me 'Papa', you are lucky enough, he calls you 'Papa'.'
'Mam-Ma! Mam-Ma!'
'Look, he keeps calling you 'Mama'. Just let him.'
'But, why?'
'I think, because you look beautiful, Boo.'
'Well, for you, Bear!'
'Absolutely.'
'My sweet Minho, call me 'Pa-Pa', baby.'
'Mam-Ma!'
'I give up.'
('Min, bilang Pa-Pa.'
'Mam-ma!'
'Bukan, Min. Pa-Pa.'
'Ma-ma!'
'Bukan! Pa-Pa!'
'Bukan! Mam-Ma!'
'Boo, biarkan saja dia memanggilmu 'Mama'. Aku pikir itu terdengar lucu saat ia memanggilmu 'Mama'.'
'Tapi, Bear. Aku ini seorang pria dan aku ingin Min memanggilku 'Papa' Kau beruntung ia memanggilmu 'Papa'.'
'Mam-Ma! Mam-Ma!'
'Lihat, dia terus memanggilmu 'Mama'. Biarkan saja dia.'
'Tapi, kenapa?'
'Aku rasa karena kau terlihat cantik, Boo.'
'Yeah, itu bagimu, Bear!'
'Benar sekali.'
'Minho sayangku, panggil aku 'Papa', sayang.'
'Mam-Ma!'
'Aku menyerah.')
.
.
.
-00-
.
.
.
Kehadiran Minho didalam keluar kecil Jung memang membawa kebahagiaan yang sangat teramat. Seperti susunan puzzle yang terasa akan tidak lengkap jika beberapa bagian hilang, dan kehadiran Minho kecil seperti puzzle yang hilang tersebut, membawa kebahagian dan kehangatan pada orang tuanya.
Dan Minho terus tumbuh menjadi anak yang periang dan penuh tawa. Pasangan Jung sangatlah bangga karena anak mereka bukan anak yang susah diatur dank eras kepala, Minho adalah anak yang manis dan penurut. Ia selalu dapat membuat orang-orang disekitarnya tersenyum dan tertawa bersamanya dengan berbagai tingkah polosnya.
Banyak yang mengatakan Minho itu adalah Papa's boy, karena ia tidak bisa jauh dari sang ayah, ia akan menangis jika Yunho tidak segera mengendongnya. Ia harus berada di dekat Yunho selalu, dan kadang kala itu membuat Jaejoong sedikit cemburu.
Minho kecil mengambil beberapa gabungan dari kebiasaan kedua orang tuanya. Ia memiliki kebiasaan akan menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya saat sedang tertawa, seperti hal yang dilakukan Mamanya, Jaejoong. Tidur dengan mulut yang terbuka sedikit—dan tentunya Jaejoong berusaha mengilangkan kebiasaan tersebut—yang sama seperti Papanya saat tidur terlelap. Minho kecil akan mecibirkan bibirnya kalau ia sedang kebingungan dan melipat kedua tangannya di depan dada, menunjukkan bahwa ia sedang kesal, seperti yang Jaejoong lakukan.
Kehadiran Minho adalah berkat bagi Yunho dan Jaejoong.
.
.
.
-00-
.
.
.
Onto part ii b
