Maaf kelamaan updet! Hal ini disebabkan karena suatu alasan! So, enjoy it!

Lost Hope

Chapter 2

The Truth

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated:

T

Genre:

Angst/Romance

Pair:

Uzumaki Naruto

Uchiha Sasuke

Warning:

OOC Parah! Jadi tolong dimaafkan! BL/

Miss Typo (s)/pergantian POV

Ket.

xxxxx : artinya pergantian tempat, waktu atau POV

Naruto: I7 tahun

Sasuke: 15 tahun

Tidak mungkin dia merasa senang hanya gara-gara kejadian itu! Tidak mungkin! Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Apa yang terjadi padaku, yah?" gumamnya pelan, lalu kembali tenggelam dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu yang penting yang berhubungan dengan Uzumaki.

"Aku lupa mengembalikan bukunya!" kata Sasuke pelan.

"Mengembalikan buku siapa, Uchiha?" bisik Shino pelan.

"Hn, bukan urusanmu!" kata Sasuke datar lalu kembali memperhatikan Kakashi yang sibuk menerangkan rumus-rumus Trigonometri: sin, cos, tan. *A/N: Argh! Aku benci pelajaran ini!*. Melihat sikap Sasuke yang dingin, Shino hanya mengangkat bahunya lalu kembali memperhatikan papan tulis yang kini penuh berisi rumus yang kalau dilihat sekilas memusingkan kepala!

xxxxx

Kantin sangat penuh oleh orang-orang yang kelaparan, termasuk Sasuke dengan kedua temannya.

"Hei, Shika! Kiba mana?" tanya Shino karena tidak biasanya Kiba absen dari kantin.

"Hoamh~, tadi dia buru-buru ke kelas sebelah. Dia bilang duluan saja! Nanti dia menyusul." kata Shikamaru sangat mengantuk.

"Sasuke!" teriak Kiba dari pintu kantin lalu buru-buru menghampiri ketiga temannya itu.

"Jangan teriak! Kurang kerjaan!" gertak Sasuke tapi Kiba tidak mempedulikannya, mukanya berseri-seri sepertinya dia baru dapat berita yang menyenangkan.

"Ne, Sasuke kenapa kamu tidak bilang-bilang soal kejadian 'itu'?" tanya Kiba sambil senyum-senyum, Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Kejadian apa?" tanya Sasuke tanpa ekspresi tapi dengan nada heran.

"Yang itu lo!"

"Apa?"

"Sudah jangan berbelit-belit, Kiba!" kata Shino.

"Hm...kejadian sewaktu kau..." ucapan Kiba terputus karena tiba-tiba ada suara ribut di depan kantin, semua penghuni langsung terdiam dan melihat kejadian itu termasuk Sasuke dan teman-temannya. Seorang anak cewek berambut pink yang dikenal Sasuke sebagai seniornya menghadang kelompok Uzumaki yang sedang berjalan untuk masuk ke kantin.

Anak cewek yang kemudian sasuke ketahui bernama Haruno Sakura menghadang langkah sang Uzumaki membuat Uzumaki memandang Haruno dingin seakan ingin membunuhnya.

"Ada apa kau menghalangiku?" tanya sang Uzumaki datar dan sangat dingin.

"Er- a...no Naruto-kun, a...ku mau tanya! Apakah anda pacaran dengan anak kelas satu itu?" tanya Haruno menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Mendengar pertanyaan itu Uzumaki langsung menatap tajam Haruno.

"Memang apa urusannya denganmu?" tanya Uzumaki dengan nada menghina.

"Sa...ya hanya ingin tahu!" kata Haruno sekarang gemetaran.

"Lalu... kalau saya bilang iya, kau mau apa? Dan kalau saya bilang tidak, kau mau apa?" katanya pedas, Haruno langsung terdiam. Tampaknya dia menangis karena bahunya terguncang pelan. Melihat hal ini Uzumaki itu mendengus lalu berjalan tanpa mempedulikan gadis itu lagi. Mereka terus berjalan sampai ke pojok kantin. Sasuke yang melihat kejadian tersebut hanya melongo, hanya satu di pikirannya 'Sama sekali tidak bisa didekati!'

"Kiba! Apa maksudnya dengan 'pacaran dengan anak kelas satu' itu?" tanya Shikamaru.

"Siapa anak kelas satu itu?" tanya Shino. Kiba hanya senyum-senyum lalu menoleh ke Sasuke yan masih melongo.

"Anak kelas satu itu, yah dia!" kata Kiba sambil menunjuk Sasuke. Shikamaru dan Shino mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Kiba dan melongo.

"Dia? Apa maksudnya?" tanya Shino tidak percaya. Sedangkan Sasuke yang tadi melongo tambah melongo.

"Hehehe...tadi pagi Sasuke diantar oleh tuan Uzumaki itu naik mobil miliknya! Bayangkan di antar! Bahkan, saat keluar dari mobil mereka berdua berpegangan tangan! Hebat kan?" kata Kiba bersemangat.

"Eh?" Sasuke merasa mukanya panas, "Kami tidak berpegangan tangan! Uzumaki itu yang menarikku!" bela Sasuke.

"Lalu kenapa bisa kamu diantar olehnya?" tanya Kiba.

"Eh, itu..."

"Kau hampir ditabrak olehnya! Lalu dia mengajakmu untuk ikut naik ke mobilnya?" potong Shikamaru.

"Hn, bagaimana kau tahu?" tanya Sasuke heran.

"Kan alasan waktu kamu terlambat datang tadi karena hampir tertabrak, kan?" Kiba mengangguk-angguk semangat.

"Lalu apa yang tejadi?" tanyanya.

"Tidak ada!" kata Sasuke singkat.

"Ah, jangan begitu!" kata Kiba tidak puas dengan jawaban Sasuke, "Pasti ada yang terjadi kan?"

"Hn," Sasuke langsung berdiri, dia ingat sesuatu.

"Sasuke, kamu mau kemana?" tanya Kiba.

"Hn, aku mau ke kelas dulu! Ada yang ketinggalan." balasnya.

xxxxx

"Seperti biasa, sadis dan dingin!" komentar pemuda berambut hitam dan bermata onix itu sambil tersenyum. Sedangkan Uzumaki hanya mendengus.

"Naruto! Siapa anak kelas satu yang mereka bicarakan itu?" tanya pemuda berambut merah yang duduk di samping Naruto.

"Aku tidak tahu, Gaara!" kata Naruto pelan.

"Apa betul kau mengantarnya? Wah, hebat! Siapa seh dia?" seru gadis berambut pirang pucat sambil tersenyum.

"Sudah kubilang aku tidak tahu, Ino!" kata Naruto sedikit membentak.

"Sudah, tidak usah marah-marah! Jadi, kenapa sikapmu berubah saat bersamanya? Jadi penasaran!" ujar pemuda berambut hitam bernama Sai itu lagi.

"Kalian ini kenapa, seh? Aku sudah bilang aku tidak tahu apa-apa! Aku hampir menabraknya tadi pagi jadi, aku menawarkan untuk mengantarnya ke sekolah, tidak salah kan?" ketus Naruto.

"Iya, kami mengerti! Tapi, biasanya kau sangat tidak peduli dengan hal beginian! Siapa yah anak itu?" kata Gaara lagi.

"Hm... namanya Uchiha Sasuke, kelas X.1. Alamatnya jalan Kirakuen. Ayahnya bernama Uchiha Fugaku dan ibunya Uchiha Mikoto. Dia mempunyai seorang kakak bernama Uchiha Itachi yang sekarang menjadi seorang ilmuwan di kota Otogakure." jelas seorang pemuda berambut hitam panjang dengan warna mata lavender bernama Neji seperti membaca sesuatu di laptopnya.

"Kau dapat darimana data-datanya?" tanya Ino sedangkan Naruto hanya terdiam.

"Rahasia!" kata Neji masih menekuni laptopnya.

"Apa pekerjaan orang tuanya?" tanya Naruto sejurus kemudian.

"Biar kulihat!" kata Neji sambil mengutak atik laptopnya "Sang ayah bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan bernama.. hm...menarik!" kata Neji sambil tersenyum "Perusahaan itu bernama Namikaze Corp." Naruto terkejut mendengarnya, astaga!

"Yah, seperti yang kau bilang! Menarik! Sangat menarik!" kata Naruto sambil tersenyum samar, membuat ketiga temannya yang lain jadi sedikit cemas apalagi Gaara.

"Jangan mempermainkannya, Naruto!" kata Gaara.

"Oh, tidak! Tentu saja tidak! Hanya menarik saja!" kata Naruto masih dengan senyumnya. Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.

"Maaf mengganggu," seru seorang pemuda berambut hitam tiba-tiba.

"Wah, ada apa?" tanya Sai ramah.

"Aku ingin..."

"Silakan duduk dulu, Sasuke-kun!" potong Ino mempersilakan Sasuke duduk, Sai mengambil kursi lain.

"Ayo, duduk saja Uchiha!" ajak Gaara tapi Sasuke masih berdiri, dia menatap Uzumaki di depannya yang terus menatapnya.

"Tidak apa-apa, Uchiha! Ya kan Naruto?" tanya Neji pada Naruto begitu melihat Uchiha di depannya hanya diam. Naruto langsung mengubah ekspresinya.

"Oh, tentu saja tidak apa-apa! Silakan duduk, Uchiha-san!" kata Naruto ramah sambil sedikit er- tersenyum membuat teman-temannya yang lain meskipun heran tapi mengangguk.

Sedangkan Sasuke merasa heran melihat Uzumaki itu tersenyum, walaupun sedikit. Dia duduk, dan sadar bahwa seluruh kantin sekarang terdiam dan memandang ke arah mereka berenam.

"Lalu, ada keperluan apa Sasuke-kun?" tanya Sai.

"Hn, saya hanya ingin bicara dengan Uzumaki!" kata Sasuke datar.

"Untuk apa kamu mau bicara dengan Naruto, Uchiha?" tanya Gaara, matanya menyipit curiga.

"Itu untuk..."

"Ah, tidak apa-apa Gaara! Ayo, ikut aku Uchiha-san!" potong Naruto lalu mengajak Sasuke beranjak dari situ. Sasuke mengikuti Naruto keluar dari kantin, semua pasang mata memandang mereka berdua.

"Ah, sepertinya Naru-chan sudah berubah!" kata Sai.

"Aku tidak yakin, Sai!" kata Gaara pelan.

"Kita lihat saja nanti!" kata Ino.

xxxxx

Sasuke mengikuti Uzumaki di depannya menuju atap sekolah. Sekarang hanya ada mereka berdua.

"Ada apa?" tanya Naruto kembali jadi dingin.

"Oh, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas tumpangannya tadi pagi!"

"Jadi, kau pikir aku supir bus begitu?"

"Kau yang bilang!"

"Hm... hanya itu?"

"Hn," Sasuke mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikan pada Uzumaki di depannya "Aku hanya ingin mengembalikan bukumu yang terjatuh di depan gerbang."

Sejenak, Uzumaki itu terlihat terkejut lalu cepat-cepat mengubah ekspresinya, dan mengambil buku di tangan juniornya itu.

"Kau membaca buku ini?" tanya Uzumaki itu.

"Hn, sedikit."

Uzumaki membalik badannya membelakangi Sasuke, perasaannya tiba-tiba berkecamuk dan sakit, "Apa kau mengerti isi buku ini?"

"Tidak!" jawab Sasuke singkat, dia merasa heran melihat perubahan pada nada suara Uzumaki di depannya.

"Kau tahu! Sepertinya aku mirip cerita dalam buku ini dengan akhir yang sama dalam buku ini! Lagipula..." Uzumaki terdiam, dia mengingat sesuatu. Samar-samar potongan bayangan mulai membentuk sebuah kenangan di kepalanya.

xxxxx

"Maafkan aku, Kushina! Aku tidak mau menyakitimu!" kata seorang pria berambut pirang memelas.

"Bagaimana dengan, Naruto?" tanya wanita berambut merah panjang itu tajam, wajahnya menyiratkan keputusasaan. Di sampingnya, seorang anak kecil berusia 7 tahun sedang menangis melihat dua orang dewasa di depannya bertengkar.

"Aku berjanji akan melindunginya!"

"Melindungi?" nada suara wanita itu meninggi "Melindungi bagaimana maksudmu?"

"Aku tidak tahu! Tapi, aku pasti akan melindunginya!"

"Tidak! Biar aku saja yang merawatnya, Minato! Aku tidak mau keluargamu menyakitinya!" kata perempuan bernama Kushina itu sambil menggendong anak kecil berambut pirang itu.

"Tapi, Kushina..."

"Tidak ada tapi-tapian, Minato!" kata Kushina lalu sebuah aliran air mengalir dari matanya yang berwarna hijau emerald itu "Lanjutkanlah hidupmu, Minato! Aku berjanji akan merawat Naruto dan menjadikannya orang sukses."

"Kushina!" Minato menghampiri istri dan anaknya itu "Bolehkah aku memeluk kalian untuk terakhir kalinya?" tanyanya, Kushina menganngguk.

Minato lalu memeluk mereka berdua dengan Naruto masih berada dalam gendongan Kushina. Minato mencium Naruto, airmatanya berjatuhan membasahi muka Naruto. Dia juga mencium Kushina.

"Yakinlah! Kalian berdua! Aku akan selalu mencintai dan menyayangi kalian!"

"Aku yakin dengan hal itu! Minato!" Minato lalu pergi meningglkan istri dan anak yang sangat dicintainya.

xxxxx

Sasuke memandang heran sekaligus bingung dengan Uzumaki di depannya yang tiba-tiba terdiam seperti orang bingung. Dia lalu menghampiri pemuda berambut pirang itu dan menepuk bahunya pelan.

Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, keadaan ini membuatnya bingung. Dia belum pernah melihat Uzumaki yang ini. Yang ini begitu rapuh dan sangat butuh pijakan. tanpa sadar Sasuke menarik Uzumaki ke dalam pelukannya, hangat! Uzumaki terisak di bahu Sasuke.

"Jangan menangis, Naruto!" bisik Sasuke pelan sambil mengusap punggungnya. Tidak lama kemudian tidak ada lagi isak dari sang Uzumaki, tergantikan dengan suara dengkuran halus. Sasuke tertegun, apa yang dilakukannya sekarang? Uzumaki tertidur di bahunya. Terpaksa Sasuke bertahan berdiri dengan Uzumaki yang tertidur di pelukannya.

Selama satu jam, Sasuke terus memeluk Naruto yang masih tertidur dan akhirnya, Naruto membuka matanya. Dia belum sadar sedang berada dimana tapi, dia merasa hangat. Setelah kesadarannya kembali. Naruto sadar bahwa dia tertidur dengan memeluk seseorang. Terkejut! Dia cepat melepaskan pelukannya dengan muka yang memerah dan melotot pada Sasuke didepannya.

"Anda tidur nyenyak sekali, Uzumaki-san!" kata Sasuke sedikit geli melihat muka Uzumaki didepannya memerah. Kegugupannya jika berbicara dengan sang Uzumaki langsung hilang, Sasuke jadi santai berbicara.

"Apa yang terjadi?" tanya Naruto bingung sekaligus malu sekali.

"Oh, tidak ada yang terjadi! Hanya anda begitu nyenyak tertidur dalam pelukanku, Uzumaki-san." kata Sasuke dengan nada geli, membuat Naruto menunduk dengan muka yang sangat merah. Entah kenapa Sasuke suka melihat tuan muda di depannya menjadi malu dan salah tingkah.

"Kau... beraninya!" kata Naruto kehabisan kata-kata dan kesal melihat Sasuke di depannya menyeringai licik. "Ini sudah jam berapa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Oh, ini sudah jam 11.45, Uzumaki-san!"

"Kau tidak masuk?"

"Anda sendiri?"

"Aku bolos sampai pulang!" lalu Naruto menuju pinggir atap dan duduk di sana. Sasuke mengikutinya dan duduk di samping Naruto membuat Naruto mendengus tidak suka.

"Kenapa kamu berada disini? Kenapa tidak masuk?" ketusnya.

"Lalu kenapa anda tidak masuk?" Sasuke balik bertanya.

"Aku kan sudah bilang, aku bolos!"

"Oh, kalau begitu aku juga bolos!" kata Sasuke membuat Naruto mengalihkan pandangannya dan membelakangi Sasuke. Naruto menggerutu tidak jelas dan marah marah.

Dia heran! Sejak kapan dia mempunyai ekspresi seperti itu? Jelas saja marah-marah, blushing, dan menggerutu tentu saja bukan sifatnya. Naruto kaget! Dia menjadi begini gara-gara Uchiha di belakangnya itu. Dan lihatlah dia! Hah! Menyebalkan sekali! Senyum-senyum tidak jelas kayak Sai! Naruto berbalik menghadap Sasuke.

"Kenapa kamu senyum-senyum sambil melihatku, hah? Ada yang lucu?" tanya Naruto kesal.

"Oh, tidak! Hanya saja aku baru lihat ekspresi di wajah anda! Kenapa yah? Apa gara-gara aku?" kata sasuke narsis, membuat Naruto cemberut.

Eh, kalau dipikir-pikir benar juga kata Uchiha sialan ini! Dia menjadi suka marah-marah dan sepertinya sudah mulai peduli pada orang lain karena dia! Tapi, tentu saja Naruto tidak aka mengatakannya! Nanti Uchiha sialan itu tambah narsis jadi dia diam saja.

"Uzumaki-san! Bolehkah aku bertanya?"

"Hm..." gumam Naruto.

"Siapa orang yang berinsial N.M dalam buku itu?" tanya Sasuke hati-hati, Naruto kembali terdiam. Setelah lama Naruto diam, Sasuke jadi khawatir. Dia menepuk bahu Uzumaki itu.

"Tidak apa-apa, jika anda tidak mau memberitahu."

"Namikaze Minato!" kata Naruto tiba-tiba.

"Eh, dia adalah..."

"Dia ayahku!" kata Naruto pelan membuat Sasuke kaget, siapa di kota ini yang tidak mengenal keluarga Namikaze! Yang merupakan keluarga terkaya di kota sekaligus negera ini. Bahkan ayahnya bekerja di salah satu perusahaan Namikaze. Tapi, setahunya Namikaze Minato sudah meninggal lima tahun yang lalu dan yang meneruskan perusahaannya adalah anaknya.

"Yah, dia sudah meninggal! Tidak lama setelah ibuku meninggal! Bodoh sekali! Dia meninggal tepat diatas makam ibu. Menembak dirinya!" kata Naruto, bahunya bergetar. Sasuke hanya terdiam, membiarkan Naruto berbicara.

"Sejak kecil, kami bertiga hidup bahagia. Ayah seorang penulis buku dan ibu seorang rumah tangga. Walaupun gaji ayah tidak seberapa, tapi kami semua senang. Sampai suatu ketika keluarga ayah yang sejak awal menentang pernikahan ayah dan ibu datang kerumah, menyuruh ayah kembali untuk meneruskan perusahaan. Tentu saja ayah menolak keras karena keluarganya masih belum menerima kami. Lalu keluarga ayah mulai meneror ibu dengan cara menculikku, aku berhasil diselamatkan tapi ibu sangat ketakutan. Akhirnya, ibu memutuskan untuk berpisah dengan ayah lalu membawaku ke Suna. Lima tahun kemudian ibu meninggal karena sakit-sakitan, ayah yang mendengar ibu meninggal segera ke Suna dan hanya mendapati pemakaman ibu,. Ayah sangat terpukul! Dia menembak dirinya tepat diatas pemakaman ibu di depan mataku! Karena, tidak ada yang menjadi pewaris Namikaze selanjutnya, maka aku diangkat jadi pewarisnya! Hah! Aku tidak butuh itu! yang kubutuhkan hanya ayah dan ibuku!" kata Naruto sambil berurai airmata. Sasuke membeku, ternyata kehidupan Uzumaki sangat tragis. Dia tidak pernah menyangkanya! Karena, selama ini Uzumaki tidak pernah menunjukkan ekspresinya.

"Aku seperti ayah yang menulis buku ini setelah kehilangan ibu, harapan yang hilang!" tiba-tiba Naruto memeluk Sasuke, masih terisak. Sasuke membiarkan saja Naruto menangis dalam pelukannya.

xxxxx

Sasuke berbaring diranjangnya memegang buku bersampul merah itu. Dia teringat dengan percakapannya tadi dengan Uzumaki.

"Kau belum selesai membaca buku itu kan?" tanya Naruto, Sasuke mengangguk, "Kalau begitu bacalah!" katanya sambil menyerahkan buku bersampul merah itu.

Sasuke membuka halaman keenam, yang belum sempat dibacanya kemarin.

"Kau tahu!

Aku sangat mencintaimu!

Sangat!

Tapi kenapa takdir memisahkan kita?

Aku tidak pernah menyalahkan takdir

Tapi,

Aku tidak pernah menerima dia memisahkan kita.

Apakah kau ingat?

Saat pertama kita berjumpa?

Kau memukulku!

Hahaha...kau mengira aku pencuri!

Semua kenangan itu seharusnya menjadi indah

Dan seharusnya aku tertawa saat mengingatnya!

Tapi,

Kenapa saat aku mengingatnya

Yang kurasakan hanya kehampaan?

Dan dadaku sesak sehingga sulit bernapas."

Sasuke tertegun! Satu dalam pikirannya, keluarga Namikaze itu jahat sekali! Dia membalik halaman selanjutnya,

"Aku mendengar kamu sakit

Wahai! Malaikatku.

Kau tahu mengapa aku memberi sampul buku ini berwarna merah?

Karena merah adalah warna rambutmu yang hanya bisa kuingat

tanpa bisa kubelai lagi

Dan warna judulnya adalah hijau emerald karena

Seperti warna matamu,

Yang hanya bisa kubayangkan

Tanpa bisa kulihat kehangatannya lagi!

Apakah memang aku telah kehilangan harapan untuk bertemu denganmu?

Aku merindukanmu,

Malaikat berambut merahku!"

"Jadi, disini ibu Uzumaki sudah sakit yah? Apa kira-kira yang dia katakan saat ibu Uzumaki meninggal?"

"Aku ingin menemuimu!

Aku memberontak!

Tapi,

Apa dayaku?

Mereka mengekangku?

Bahkan berniat menikahkanku dengan seorang gadis

Yang katanya sederajat denganku,

Peduli apa aku dengan derajat?

Aku hanya ingin menemuimu

Dan buah hati kita berdua,

Membelainya bersama

Dan menidurkannya

Seperti dulu."

Sasuke membuka halaman terakhir, dia terkejut dengan apa yang dibacanya.

"Harapan yang hilang!

Begitulah keadaanku!

Jiwaku sudah tidak ada!

Aku hanya

Seonggok tubuh tanpa nyawa

Tanpa perasaan lagi,

Mengapa?

Mengapa?

Semua ini bisa terjadi padaku?

Aku hanya ingin hidup bersamanya!

Aku benci hidupku!

Aku benci diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa!

Kau pergi meninggalkanku!

Selamanya!

Mengapa malaikatku?

Aku belum sempat melihatmu,

Membelaimu,

Mengucapkan kata cinta untukmu!

Tapi, mengapa kamu pergi

Sebelum aku sempat melakukan semua itu?

Harapanku telah hilang,

Maafkan aku Naruto!

Maafkan aku sayang!

Aku tidak bisa hidup tanpa malaikatku?

Yakinlah!

Naruto,

Aku

Menyayangimu!

Selalu!

Selamat tinggal!

Anakku!"

xxxxx

Sasuke menutup buku itu, dia menghela napas seakan-akan dia juga merasakan penderitaan Naruto. Dia jadi mengerti bagaimana perasaan Naruto selama ini? Pantas saja, dia jarang menunjukkan ekspresinya! Rasa marahnya! Itu karena Naruto sudah tidak bisa marah lagi! Hatinya sudah sangat sakit sehingga tidak bisa menunjukkannya lagi? Sasuke jadi kagum pada Naruto, yang masih bisa menerima perintah dari keluarga Namikaze itu. kalau dia yang berada diposisi Naruto mungkin dia sudah membantai keluarga Namikaze itu sampai habis. Dan juga pantas dia tidak mau memakai marga Namikaze dan memilih marga ibunya. Sasuke menutup matanya, perasaan aneh mulai menjalari dirinya hingga ke relung hatinya. Tiba-tiba dia merasakan perasaan sayang pada Naruto!

Sejurus kemudian Sasuke tertidur masih dengan perasaan aneh yang masih mengganjal di hatinya itu.

To Be Continued...

Gomen, kalo jelek dan mengecewakan!

~Airu Haruza~