Katekyo Hitman Reborn selalu milik Akira Amano-sensei, kalo saya yang punya, ceritanya bakal hancur ditengah dan kemunculan Hibari bakal aku banyakin :p

Hak milik saya hanya Aihara Sakura dan ceritanya, itu aja, gak lebih, gak kurang.

Read, Enjoy, and Review!

Tulisan miring berarti kisah masa lalu.

Chapter ini jadi Sakura's POV.


Sakura Addiction

Dengan hanya satu kalimat itu, dunianya seketika berubah

Chapter Two: Rooftop Revelations


Aku memasuki kelasnya dengan kesal, hanya karena nyaris telat dia sampai diserang oleh Hibari-senpai? Yang benar saja! Menjadi kejam dan haus darahpun ada batasnya, Hibari-senpai bodoh!

"Sakura-chan, kamu baik-baik saja?" tanya salah satu teman sekelasku yang cukup dekat denganku, Sasagawa Kyoko-chan. "Lagi-lagi kamu ditahan oleh Hibari-san."

"Secara fisik aku memang tidak apa-apa," jawabku dan berjalan ke arah tempat dudukku dan menaruh tasku. "Tapi, rasanya aku ingin memukul kepalanya, sekali saja tidak apa! Aku ingin membuat wajah dinginnya berubah! Serius!"

Kyoko tertawa kecil mendengar jawabanku, dan aku ikut tersenyum bersamanya. Kelas ini benar-benar mengasyikan, padahal mereka tahu aku lebih muda daripada mereka, tapi mereka tetap melihatku sebagai seorang teman yang sebaya dengan mereka, bukan sebagai seorang anak jenius yang masih berumur 12 tahun.

"Yo, Aihara!" sapa salah satu teman sekelasku yang cukup dekat denganku selain Kyoko-chan, Yamamoto Takeshi-kun bersama kedua temannya yang selalu bersamanya, Sawada Tsunayoshi-kun dan Gokudera Hayato-kun. Kalau boleh jujur…mereka agak aneh, selalu bergerombol. Apalagi panggilan Gokudera-kun kepada Sawada-kun, 'Juudaime', apa itu?

"Aihara-san, kamu hari ini tertangkap oleh Hibari-san lagi, yah?" sahut Sawada-kun membuka pertanyaan yang sangat ingin kuhindari. "Lagipula, awal kalian bisa seperti itu bagaimana? Sepertinya pas hari pertama, pas kamu datang semuanya masih baik-baik saja."

"Uuuh, soal itu…" sahutku dengan tawa garing, mengingat kembali bagaimana aku dan Hibari-senpai bisa bertemu. "Aku hanya telat pada hari kedua aku disini. Itu saja. Tapi karena aku…ehm, sedikit adu mulut dengannya, yah…"

"Adu mulut?" potong Sawada-kun terkejut. "Kamu adu mulut dengan Hibari-san yang itu?". Aku mengangguk dan tertawa garing, ya, aku tahu itu reaksi orang-orang saat aku mengatakan aku adu mulut dengan Hibari Kyouya-senpai yang sangat ditakuti itu. Orang-orang menganggapku luar biasa, padahal, aku hanya gadis biasa dengan rambut hitam panjang dan mata hijau yang tidak ada suatu hal yang bisa dikatagorikan sebagai 'luar biasa'.

"Kau punya keberanian yang menakutkan," sahut Gokudera-kun dan memasang wajah terkejut. "Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan adu mulut dengan manusia itu. Mengerikan."

"Yah, benar. Sejak saat itu, dia terus menerorku seakan-akan aku ini mangsanya! Dia terus saja memanggilku 'Herbivora'! Aku 'kan punya nama yang benar!" protesku kesal.

"Tunggu, nama lengkapmu Aihara Sakura, bukan?" tanya Sawada-kun memastikan, aku mengangguk. "…Uuh, sepertinya lebih baik Hibari-san tidak mengetahui namamu. Itu jauh lebih baik, Aihara-san."

"Kenapa?"

"Hibari-san…ehm, dia…"

"Dia?"

"Uuuh, bagaimana cara mengatakannya, yah?" sahut Sawada-kun ragu-ragu. "Tentang Sakura. Dia—"

Sreg. Pintu kelas terbuka, dan disana berdiri…ugh. Hibari-senpai? Untuk apa dia kesini? Jangan-jangan…dia ingin melanjutkan serangan-serangannya yang secara refleks bisa kuhindari? Oh, Tuhan. Aku masih ingin hidup.

"Kau. Herbivora," panggil Hibari-senpai dengan mata tertuju kearahku. Oh sial. "Ikut aku sekarang."

"Eeeh? Hi-Hibari-senpai, tapi pelajaran sudah mau mulai! Aku tidak mau ketinggalan pelajaran!" protesku dan menghampiri Hibari-senpai. Sedangkan teman-teman sekelasku sudah mulai menjaga jarak, cari aman, daripada mereka berakhir digigit sampai mati!

"Dengar, aku memanggilmu bukan karena aku mau. Tapi terpaksa. Turuti perintahku atau kau akan kugigit sampai mati," sahut Hibari-senpai dengan suara dingin dan mengancam, membuat termometer rasa kesalku padanya naik. "Dan aku serius. Cepat, ikut aku. Kau tak ingin berakhir—"

"—Berakhir digigit sampai mati? Coba saja sekarang, senpai!" potongku dengan berani. Aku mendengar suara teman-teman sekelas tercengang, namun aku tidak peduli.

Dan, ya. Wajah Hibari-senpai sepertinya sangat, amat kesal.

"Kalau itu yang kau minta," respon Hibari-senpai dan bersiap-siap mengeluarkan tonfa-nya. Aku menelan ludah, bersiap-siap bertanggung jawab atas kata-kata yang barusan kukatakan.

"Baaaaik, sampai disitu saja, Kyouya!" potong seorang pria berambut pirang yang sepertinya orang asing. Dia menarik kerah baju Hibari-senpai dan menariknya mundur, membuatku bisa melihat wajahnya lebih jelas. Dia tersenyum padaku dengan ramah, membuatku sedikit tersipu.

"Ah…Dino-san!" panggil Sawada-kun, mengenali sosok orang asing itu. "Sedang apa disini?"

"Ah, Tsuna!" sahut sesorang yang Sawada-kun sebut sebagai Dino-san itu menyapa Sawada-kun akrab. Wah, aku baru tahu kalau Sawada-kun kenal dengan orang asing. "Aku kesini ada sedikit urusan dengan nona yang ada disini."

"Nona…maksudnya…aku?" tanyaku memastikan. Untuk apa orang asing yang sama sekali tidak kukenal memiliki urusan denganku?

Dino-san tersenyum padaku, dan menepuk kepalaku. "Kita akan bicarakan nanti. Sekarang, ikut Kyouya, oke?" sahutnya dan beranjak pergi, meninggalkan aku dan…tunggu. Hibari-senpai masih disini! Sial, sial, sial!

"Herbivora," panggil Hibari-senpai dan melihatku dengan mata yang membunuh. Oh Tuhan, sungguh, aku masih ingin hidup, aku masih terlalu muda untuk mati. "Kalau kau tak ingin ikut, aku harus memaksamu. Diam dan jangan berontak."

"Hah? Apa maksu—KYAA!" teriakku kaget saat Hibari-senpai tiba-tiba mengangkatku dan menaruh tubuhku yang sepertinya sangat ringan di bahunya, seakan-akan aku sebuah barang. "Hi-Hi-Hi-Hibari-senpai! Turunkan aku!" protesku dan mulai memberontak. Tapi, sepertinya Hibari-senpai tidak mempedulikanku dan langsung berlari keluar dari kelas, dan menuju atap sekolah.

Jangan tanya bagaimana rasanya digendong oleh Hibari-senpai. Kau hanya akan mengingatkanku pada siksaan yang kuharap hanya terjadi sekali seumur hidupku.

-Sakura Addiction-

Setelah siksaan menyebalkan itu, Hibari-senpai berhenti ketika ia sudah sampai di atap sekolah. Aku melihat Dino-san dan seorang pria besar memakai tuxedo rapih memakai kacamata berdiri disisinya. Uh, ada apa ini?

"Waduh, Kyouya, jangan seperti itu dengan seorang gadis!" omel Dino-san dan aku mendengar langkah kakinya mendekatiku. Dia menepuk kepalaku dan mengelusnya. "Dia ini masih rapuh dan muda, harus kau hargai!"

Jujur, aku sedikit tersanjung mendengar hal itu.

"I—Iya, Hibari-senpai! Turunkan aku!" sahutku kesal dan mulai memberontak, menghentakkan kakiku dan sepertinya aku menendang punggung Hibari-senpai tanpa sengaja. Oh, gawat.

Tanpa membalas perkataanku, Hibari-senpai dengan kasar melepaskan pegangannya dari tubuhku, membuatku jatuh ke lantai dengan keras. Bagus, sekarang sekujur tubuhku terasa sakit dan aku semakin dibenci Hibari-senpai. Pintar sekali kau, Sakura!

"A—Aduuuh…" gumamku kesakitan.

"Kyo—Kyouya jangan perlakukan—" sahut Dino-san namun terpotong karena tonfa milik Hibari-senpai sudah berada tak jauh dari lehernya. Aku bisa melihat wajah Dino-san memucat.

"Kalau kau melanjutkan pidatomu tentang perlakukan gadis herbivora ini, kau akan kugigit sampai mati," potong Hibari-senpai dan membuat Dino-san terdiam. Dia menghela nafas dan membantuku berdiri, lalu menggaruk-garuk rambut pirangnya itu.

"Baik. Namamu…Aihara Sakura, bukan?" tanya Dino-san dan aku mengangguk kepalaku. "Hmm, bagaimana menjelaskannya padamu yah? Ini termasuk hal penting dan kau mesti tahu, tapi…"

Dino-san menghela nafas lagi. Aku makin merasa heran.

"Aku ini mafia,"

Uuuuh…ya? Apa tadi? Mafia?

"Aku tahu kau pasti bingung. Aku ini benar-benar mafia dari Italia. Jangankan aku, teman sekelasmu juga ada yang anggota mafia. Bahkan boss-nya," lanjut Dino-san seakan-akan pernyataannya tadi bukan apa-apa.

"Hiii…ya? Uh, mafia? Teman sekelas? Tunggu, pembicaraan ini mau diarahkan kemana?" tanyaku beruntun penuh tanya. Yang benar saja teman sekelasku ada yang merupakan boss mafia!

"Iya. Sawada Tsunayoshi. Tsuna merupakan boss mafia Vongola. Yamamoto Takeshi dan Gokudera Hayato juga anggotanya," jelas Dino-san.

"Sawada-kun? Sawada-kun itu boss mafia?" teriakku tidak percaya. "Yamamoto-kun dan Gokudera-kun juga?"

"Orang ini juga," sahut Dino-san dan menunjuk Hibari-senpai. Oh, Tuhan. Hibari-senpai itu anggota mafia? Bagus, berarti aku diincar oleh anggota mafia yang sekaligus makhluk haus darah.

"Lalu, tadi aku lihat kau bisa menghindari serangan-serangan Kyouya yang cepat," sahut Dino-san dan menaruh kedua tangannya di bahuku. "Aku memutuskan kaulah yang menjadi partner Kyouya!"

...Hah?

To be Continued…


Yay! Chapter 2 sudah selesai! Terima kasih yah, buat yang udah nge-review chapter sebelumnya, rotten card, TetsuHideyoshi, dheeSafa dan setsu! Semoga kalian menikmati (?) chapter dua ini!

Maaf kalo ada typo atau ceritanya aneh, kalau ada kritik, saran dan yang lain-lain, pencet tombol review yang imut-imut dibawah ini, supaya saya bisa ngebuat cerita yang lebih bagus lagi!

Thank You~