Teman?

Disclaimer: Naruto milik Mashashi Kishimoto.

Warning: AU.

.

.

Bocah berambut merah itu bebaju lusuh dan banyak sekali sobekan di sana sini. Langkah kakinya yang baru saja memasuki kawasan apartemen sederhana di pinggiran kota itu membuat sekumpulan bocah lainnya menoleh.

Cibiran terdengar, tentang betapa lusuh dan mengerikannya 'dia'. Sebelumnya atmosfir yang seperti itu tidak dihiraukannya, tapi berhubung kakinya melangkah ke sini karena tujuan lain, Gaara memilih diam tak menggubris. Senyum terukir di wajah pucatnya ketika menemukan gadis kecil berambut merah muda yang sedang dikelilingi beberapa anak lainnya.

Kerumuman anak-anak itu otomatis terbelah ketika Gaara mendekat bermaksud menghampiri Sakura. Tapi baru beberapa langkah, seorang anak laki-laki berambut hitam mendorong Gaara hingga terjatuh. "Pergi!"

Keberisikan di sekitar situ pun mendadak hening karena bocah berambut raven yang diketahui bernama Sasuke itu mendadak mendorong Gaara. "Pergi, kataku! Temanku bilang tidak boleh berdekatan denganmu. Jangan mengganggu kami!"

Gaara mengepalkan tangannya dalam keadaan terduduk di atas tanah, belum sempat ia berdiri suara mungil masuk indera pendengarannya. "Gaala-kun, ayo bangun."

Tangannya pun di tarik-tarik Sakura yang sedang membawa boneka itu. Namun, pergerakan Sakura sama sekali seperti tak ada tenaganya bagi Gaara.

Bocah merah itu bangkit, sempat ada rasa amarah sebelumnya, kini hilang. Ia menghela napas dan menurut saja saat digeret Sakura yang masih belum bisa bicara dengan benar ke tepi hutan.

Berpasang-pasang mata memerhatikan mereka. Tatapan bocah-bocah lainnya mengandung berbagai macam sorot. Ngeri, tak suka, gugup dan acuh.

"Sakura, kau akan membawanya kemana?"

"Ke lumah…" jawab Sakura cadel menggandeng tangan Gaara. Bocah pirang yang tadi bertanya pun menatap heran, "Tapi kan tidak boleh—"

"Boleh," Sakura memotong, "Gaala temanku."

Teman.

Batin Gaara membeo.

Kedua bocah yang terpaut umur lumayan jauh it pun berjalan beriringan. Mereka memasuki lorong apartemen yang tidak bisa dibilang mewah sama sekali. Tatapan beberapa mata orang dewasa tampak mengawasi.

Sampai seorang wanita melangkah selawanan dengan mereka, "Sakura-chan, siapa yang kaubawa?" tanya wanita berambut hitam pendek itu.

Sakura tersenyum, "Shizune-nee." Sakura melepaskan genggaman tangannya pada Gaara dan berlari kecil untuk menghampiri babi di pelukan Shizune. "Tonton, apa kabal?" tanyanya sambil mengelus ubun-ubun babi kecil bersih itu dengan halus.

Shizune tersenyum kecil dan berjongkok agar Sakura tidak lagi berjinjit untuk menggapai Tonton. Babi imut bernama Tonton itu menguik lucu, seperti menyukai sentuhan Sakura. Sampai akhirnya, Tonton tiba-tiba memberontak dengan menguik keras.

Shizune menautkan alis, lantas mendongakan wajah. Di belakang Sakura, bocah berambut merah dengan tattoo 'Ai' dan baju kusam yang baunya tidak sedap itu berdiri, posisinya sudah amat dekat—bahkan Shizune tidak sadar kapan Gaara melangkah.

Sepasang mata hijau limau Gaara melirik ke bawah, tatapannya bukan teruntuk Sakura mau pun Shizune tapi pada babi lucu di pelukan Shiznune. Tangan bocah merah berumur dua belas tahun itu terulur, tapi Tonton menguik lebih keras hingga Shizune pun harus jatuh terduduk karena terkejut.

Sakura yang sama terkejutnya pun melompat ke belakang hingga punggungnya menubruk tubuh Gaara. Gadis kecil berumur lima tahun itu menatap Tonton yang masih menguik berontak dengan ketakutan. Belum pernah Sakura melihat babi yang mengamuk...

Padahal Tonton masih kecil, babi itu melompat melewati bahu Shizune dan berlari ke belakang Shizune sampai menghilang di belokan.

"Tonton!"

Sakura hanya bisa menatap Shizune meneriaki Tonton, lalu menyaksikan Shizune menatap Gaara tidak percaya.

Tatapan itu. Mata Gaara sedikit terbuka lebih lebar mendapatinya. Tatapan yang dilemparkan Shizune adalah tatapan yang seperti biasa diberikan orang-orang pada Gaara.

Seolah berkata 'kau-monster'.

Shizune segera meraih tangan Sakura. Bermaksud membawa gadis kecil itu berlari secepatnya! Tapi tatapan mata Gaara mendadak jahat, gigi bocah dua belas tahun itu bergemeletuk lebih besar dengan separuh tubuh yang berubah menjadi tubuh rakun besar.

Sebelah tangan Gaara yang sudah berubah menjadi cakar rakun raksasa itu bangkit ke atas, siap mencabik Shizune, dengan sebelah tangan normalnya menahan tangan Sakura.

Shizune ingin berteriak meminta pertolongan, tapi tidak ada suara yang berhasil keluar dari tenggorokannya. Mungkinkah ini sosok bocah merah itu yang lebih dahulu dilihat oleh Tonton?

Sakura cukup bingung, menatap bergantian wajah Shizune yang ketakutan, dan wajah Gaara yang datar. Di mata gadis kecil itu, Gaara tetap Gaara. Tidak seperti pandangan Shizune yang sudah melihat sosok lain Gaara yang benar-benar mengerikan.

Shizune masih ingin berteriak. Ia tidak ingin Sakura yang masih balita, bersama Gaara. Tapi wanita itu justru merasakan sakit pada pita suaranya yang terus ia paksakan. Akhirnya Shizune melepaskan tangan Sakura dan segera bangkit untuk berlari ke belakang.

Sakura semakin bingung, ia masih tidak mengerti ekspresi Shiznue yang lari tunggang langgang dan ekspresi Gaara yang datar saat ini.

Wajah Gaara yang semula datar itu tertunduk setelah Shizune menghilang di belokan. Masih dengan boneka beruang cokelat di tangannya, Sakura kembali menggandeng tangan Gaara dan kembali menuntunnya untuk berjalan ke apartemen.

"Gaala kenapa sedih?"

"Sedih?" Gaara membeo. Harusnya ia masih merasa asing atau lucu dengan suaranya sendiri yang baru ia dengar. Tapi memang sepertinya hatinya kini terlalu sedih.

"Sedih? Sepertinya… Aku tahu rasanya itu… aku… hampir merasakannya… setiap waktu." Gaara terbata dalam nada ragu. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Gaara keluarkan melalui pita suaranya. Begitu lancar. Padahal dalam dua belas tahun hidupnya, menangis saja ia tidak pernah punya suara.

Sakura mendongak ke samping untuk menatapi wajah Gaara yang benar terlihat murung. Ia tersenyum, "Mungkin kalena Gaala tidak punya teman."

"Semua orang takut padaku. Dan bilang aku bocah setan." Gaara memicingkan matanya, sedih, "Aku hanya ingin bermain…" suaranya berubah menjadi bisikkan, "Bermain."

Sakura meramas tangan Gaara, "Kalau gitu, ayo belmain!" tapi gadis kecil itu merasa tangan Gaara kaku. Ia tidak bisa menariknya. Sakura membalikkan badan dan mengerut sebal. "Ayo, Gaala, main!" ucapnya terus menarik Gaara.

Tapi sekeras apa pun Sakura mencoba, Gaara tidak bergerak sedikit pun. Sakura jadi merasa menarik batu! Batu besar yang tak kan terpengaruh meski ia melompat-lompat di atasnya.

"Gaala!"

Merasa tak ditanggapi, Sakura kesal dan menghentakan kakinya. "Gaala! Gaala!"

Tapi Gaara masih bergeming. Bocah itu menajamkan pendengarannya. Di belakang suara cempreng Sakura yang berteriak melengkingkan namanya dengan kesal, ada derap-derap langkah beberapa orang yang seperti tergesa-gesa.

Gaara merasa aneh, biasanya indra pendengaran, penglihatan dan penciumannya menajam kalau-kalau sedang dirasuki Shukaku, siluman rakun liar yang menaunginya sejak ia dilahirkan.

"Gaala!" wajah Sakura basah dan pipinya memerah. Gadis kecil itu tampak kesal sekali hingga menangis karena Gaara tak kunjung menyahutinya. "Gaala, BAKA! Gaala, BAKA!"

Sudah berapa lama memangnya Gaara membiarkan Sakura dengan teriakan memanggil namanya hingga mengundang penghuni apartemen kumuh lantai bawah ini keluar, seluruhnya?

"Hiks, hiks, Gaala, baka… kenapa kau tidak mendengalkanku?"

Sementara itu di belakang Sakura, Gaara menatap lorong panjang itu, mendadak seperti jadi memendek dan menyiutkan nyali. Terlihat beberapa orang berseragam security muncul di ujung lorong dengan Shizune yang berlari di antaranya.

"Itu dia!" Shizune berteriak, "Sakura!"

Sakura menoleh, wajahnya masih merah dan basah. Nampak sekali Shizune bertambah cemas mendapati wajah Sakura yang tahu-tahu sudah menangis! Demi Tuhan, Shizune semakin takut jikalau Gaara sudah berbuat tindakan berbahaya pada Sakura hingga menangis seperti itu.

Tapi, di pandangan Shizune saat ini, Gaara normal. Tidak separuh rakun seperti tadi. Bocah merah itu memasang wajah bingung seperti tak punya dosa, saat tiga orang security membekuk tubuhnya. Shizune langsung merebut Sakura dan menggendongnya.

Wanita itu mencoba menenangkan Sakura yang menangis.

Gaara terkejut. Kedua tangannya yang kurus dipaksa ke belakang dan diborgol cepat. Belakang lututnya di tendang hingga ia meringis kesakitan karena kedua lututnya membentur keras lantai. Tangan besar security itu mendorong belakang kepalanya hingga terbentur lantai dengan keras dan menahannya.

Membuat Gaara merasakan sakit pada tulang pipi dan pelipisnya yang mungkin remuk.

Sakura kaget melihatnya. Gaara yang diperlakukan seperti itu, membuat balita kecil seperti Sakura menjerit histeris dan menangis makin keras. Sesunggukan membuat Sakura tidak bisa berkata-kata. Ia ingin sekali bertanya, mengapa mereka menyakiti Gaara?

"Gaala… hiks."

Gaara yang masih pening karena kepalanya terbentur keras, kini membuka mata perlahan. Ia dengar, lengkingan tangis Sakura. Ia berusaha mengangkat kepalanya yang masih sakit, tapi security mengardiknya dan menjedotkan kepalanya lagi ke lantai hingga berdarah.

Sakura semakin menjerit dalam gendongan Shizune yang telah melangkah menjauh. Balita itu menangis histeris dengan tangan terulur ke belakang. Ia memanggil Gaara, tangan mungilnya tak berhenti untuk mencoba menggapai Gaara.

Gaara mati-matian mengangkat kepalanya meski sakit dan ditahan tenaga besar tangan security. Gaara terlihat sangat tak berdaya namun ingin sekali berusaha keras menatap Sakura yang sudah dibawa pergi oleh Shizune.

"Sa… kura." Bisiknya lemah, ia kembali dijedoti ke lantai hingga kesadarannya hampir habis.

Shizune melangkah menjauh sambil terus menenangkan Sakura yang ia pikir sedang ketakutan karena Gaara. Ia terus mengelus rambut merah muda balita itu yang tidak kunjung diam. Tangan kecil Sakura tak henti-hentinya berusaha memukul wajah Shizune agar berhenti sambil meneriaki Shizune jahat.

Wanita itu berusaha sabar untuk tetap menenangkan, tapi tangan Sakura yang mungil sudah berhasil mencolok matanya dan mencakar pelipis Shizune hingga sedikit tergores. Shizune tanpa sadar tersulut dan menampar keras bocah dalam pelukannya. "DIAM!"

Dan setelah suara teriakan Shizune, hening sudah lorong itu. Termasuk tangisan Sakura lenyap. Balita itu pingsan karena tamparan Shizune terlalu keras.

Gaara yang sudah hampir pingsan, kini membuka matanya spontan. Ia tak lagi mendengar suara Sakura. Dan ia seolah tahu bagaimana rasa perih pada pipi Sakura. Bocah itu menggeram. Geramannya terdengar keras hingga beberapa security yang menahannya sedikit terkejut dan ngeri.

Shizune sendiri begitu terkejut dengan apa yang telah dilakukannya, dan kini ia yang menangis minta maaf mengelus dahi dan menciumi pipi merah balita itu. "Gomen ne, Sakura…"

Ia hanya khawatir pada balita ini, dan ia terlalu kalap barusan. Ia sungguh menyesal. Shizune menangis terisak sambil terus membawa Sakura menjauh. Tapi langkahnya tersendat saat ia mendengar geraman besar nan mengerikan… ia menoleh…

Shizune mendapati security berusaha keras menekan punggung ringkih Gaara dengan lututnya. Bocah itu mengangkat kepalanya bersiap mengamuk menatap Shizune dengan tatapan penuh amarah. Tubuh Gaara terlihat akan bergerak tidak sabar menerkam Shizune jika saja tidak ada tiga security bertubuh besar menahan tubuhnya.

Salah satu security pun tampak mati-matian mendorong kepala Gaara agar kembali menempel di lantai. Namun nyatanya, bocah berambut merah itu masih ingin memelototi Shizune dengan berbagai ancaman di kedua matanya yang telah berubah.

Satu mata Gaara putih beriris hijau susu. Satu mata Gaara lagi hitam beriris kuning kecokelatan seperti mata siluman rakun.

Kasak kusuk terdengar di antara penghuni apartemen yang sudah keluar pintu karena kegaduhan sebelumnya.

"Matanya berubah!"

"Dia siluman!"

"Anak setan!"

"LARIIII!"

Tepat saat itu juga Gaara berontak hingga tiga security yang mencoba menahan Gaara, terpental. Borgol di tangannya sudah terputus.

Genma, penghuni salah satu apartemen lantai satu itu merebut Sakura dari Shizune dan menarik Shizune, berlari bersama dengan Sakura yang berada dalam gendongannya. Pria itu berusaha menyelamatkan keduanya dengan cepat, namun Gaara sudah melompat dengan geraman aneh selagi sebelah tangan dan wajahnya berubah menjadi rakun raksasa.

Genma menggendong Sakura sekaligus mendorong-dorong punggung Shizune, berlari ke arah pintu belakang apartemen. Ia bersyukur, pintu belakang terbuka lebar hingga tidak perlu dibuka terlebih dahulu. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan Gaara jauh-jauh dari ketiganya.

Namun Genma nyaris jatuh terkejut ketika Gaara sudah benar-benar di belakangnya.

Bocah separuh monster rakun itu mengeluarkan suara teriakan monster bersiap mencabik Genma.

Tapi…

Tepat setelah Genma jatuh dengan punggung menggapai tanah—berusaha menjaga Sakura agar tidak tertimpa, Gaara yang melompat keluar, terkena sinar matahari—serta merta tubuh rakunnya terbakar. Teriakan monster rakun terdengar dari mulutnya. Seorang kakek tua bernama Orochimaru segera melemparinya dengan seember air.

Dan padam sudah api itu seiring kembalinya wujud Gaara ke asal. Bocah itu jatuh tak sadarkan diri. Kerumunan langsung tercipta mengerumuninya. Gaara benar-benar hampir habis kesadaran.

Di sela-sela warga yang mengerumuninya, ia dapat melihat balita bernama Sakura yang baru saja kemarin malam bertemu dengannya, menjadi temannya, dan berjani bermain bersamanya, kini sudah tak sadarkan diri dalam gendongan Shizune yang menangis dan berterima kasih pada Genma.

Shizune segera membawa Sakura pergi masuk ke dalam mobil.

Dan Gaara, dengan tubuh yang mulai diinjaki kaki-kaki tak berperasaan, kini menitikan air mata.

Kau bilang, kau teman…

Kenapa,

Kau pergi?


The End.


Maaf ya tadi diselipin chibi Sasuke yang jahat. Sebenernya nggak maksud bashing, aku mau masukin scene klo dia itu cuma pengin lindungin Naruto dan Sakura karena pernah dikasih tahu bocah lain klo Gaara itu bahaya. Tapi apalah daya, tangan tak sampai… Huweee. Gaaraaaaaa ;-; nggak tega nulis Gaara teraniaya begini. Tapi sungguh deh ini ada sekuelnya kok! Sengaja ditamatin di sini dulu karena nanti cerita selanjutnya skip ke GaaSaku yang udah gede. Sakura lima belas tahun dan Gaara dua puluh dua tahun. Juga bakal dijelasin kenapa Orochimaru bisa tau-tau datang bawa seember air. Sabaku family juga akan muncul dll. Terima kasih buat yang mau baca sampai akhir ini. kalau ada keluh kesah dan pendapat, monggo kutunggu ^^