AN ISLAND GIRL

DISCLAIMER: TITE KUBO

Rated: T

Pairing: Ichigo X Rukia

WARNING: geje, abal, tombol back menanti anda jika anda muak membaca ff geje ini *plakk

XOXOXO

Suara gedoran pintu serta teriakan Yuzu dan Karin sudah berlangsung kira-kira selama 20 menit. Selama itu pula aku terus membenamkan kepalaku dibawah bantal, aku tidak memerdulikan semua itu. Biar saja mereka berteriak-teriak, toh nanti mereka sendiri yang akan kecapekan.

Semua teriakan dan gedoran di pintu kamarku itu dimulai ketika aku pulang dan tidak membawa Rukia bersamaku. Yuzu yang melihatku pulang sendirian pun bertanya, namun aku berbohong kalau aku tidak menemukan Rukia ketika mencarinya, setelah itu aku langsung saja mengunci diri di kamarku. Yuzu yang tidak puas akan jawabanku pun mengikutiku dan memanggil Karin, dan melodi kemarahan Si Kembar pun dimulai.

"Onii-chan! Buka pintunya!" teriak Yuzu sambil kembali menggedor pintu kamarku kali ini suaranya lebih tinggi dari sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal yang sama, menggedor pintu kamarku dan menyuruhku keluar. Padahal percuma saja, aku tidak akan keluar kamar. Amarahku masih tersulut dan aku tidak mau melampiaskan amarahku pada kadua adikku, cukup Rukia saja. Ya, cukup dia saja.

"Ichi-nii, apa kau tidak kasihan pada Rukia-nee? Dia perempuan, dia masih di luar sana, dan ini sudah hampir jam 11 malam," kini suara Karin mengambil alih.

Heh? Kasihan? Memang kalian tidak kasihan padaku, kakak kandung kalian? Aku sudah kedinginan di luar sana hanya untuk mencari gadis bodoh itu dan objek yang sedang kucari malah sedang tertawa bahagia dengan para pria asing yang baru dikenalnya. Kenapa aku harus kasihan padanya? Percuma saja kalian kasihan padanya, dia juga pasti sedang bersenang-senang dengan 'teman barunya'.

"Onii-chan!" teriak Yuzu dengan gemas disusul suara gedoran pintu yang lebih menggelegar daripada gedoran-gedoran sebelumnya, mungkin ia sudah hilang kesabaran karena keegoisanku.

"Ichi-nii! Kenapa Ichi-nii egois sekali sih?" Suara Karin pun ikut bertambah satu oktaf. Aku pun semakin membenamkan kepalaku ke bantal.

"Ichi-nii, Rukia-nee itu perempuan! Bagaimana kalau dia kenapa-napa? Bagaimana kalau dia diculik? Bagaimana kalau dia dibawa oleh laki-laki asing dan diper-...arggghhh!" nada frustasi menyertai suara Karin yang tidak dapat menyelesaikan kata terakhirnya.

Tubuhku seketika menegang ketika mendengar perkataan Karin barusan, detak jantungku tiba-tiba saja berdetak cepat. Kata-kata Karin kembali terngiang.

"Bagaimana kalau dia diculik?"

Iya. Bagaimana kalau gadis bodoh itu diculik? Dia kan bodoh, pasti gampang sekali diculik, apalagi dia belum begitu tahu daerah sekitar sini. Kalau ia diculik pasti aku akan disalahkan oleh ayah, Yuzu dan Karin, dan pasti aku akan dihantui oleh rasa bersalah.

"Bagaimana kalau dia dibawa oleh laki-laki asing dan diper-..."

Kalimat terakhir Karin membuatku terpenjat. Bagaimana kalau ia dibawa oleh laki-laki asing dan di-...dan diperkosa? ARGHHHH...Bodohnya aku! Aku tidak sempat memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu ketika meninggalkannya tadi. Perutku tiba-tiba saja terasa mulas dan keringat dingin tiba-tiba saja merembes dari lubang pori-poriku.

"Sudahlah Yuzu, kita suruh ayah saja untuk mencarinya," kata Karin, sepertinya gadis itu telah menyerah untuk membujukku.

"Tapi Karin-chan, ayah kan sedang lembur di rumah sakit," kata Yuzu dengan nada putus asa pula.

Keadaan diluar kamarku hening sejenak, "ya sudah, aku saja yang mencari Rukia-nee," kata Karin.

"Ta-tapi Karin-chan ini kan sudah malam lagipula kakimu belum sembuh," protes Yuzu.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?" sindir Karin.

"Kalau begitu aku ikut!" sela Yuzu.

Terdengar hembusan nafas sejenak, "sudahlah, tidak perlu. Cukup aku saja. Lebih baik kau diam saja di rumah," kata Karin.

"Tidak! Tidak! Aku harus ikut!" paksa Yuzu. Suasana kembali sunyi sesaat.

"Baiklah"

Seketika itu juga aku membuang bantal yang sedari tadi menutupi kepalaku. Aku tidak akan membiarkan Karin ataupun Yuzu keluar dari rumah selarut ini, tentu saja terlalu bahaya bagi mereka, mereka perempuan dan masih kecil. Biar aku saja yang akan mencari Rukia lagi.

Tanpa menunggu lama aku segera membuka kunci pintu kamarku dan membuka pintunya, "biar aku saja! Kalian tidak boleh pergi!" perintahku dengan tegas.

Kulihat dua wajah di depanku teheran sebentar disusul kemudian sebuah seringai bertengger di wajah keduanya.

XOXOXO

Kukayuh sepedaku tak tentu arah. Tak kupedulikan lagi hawa dingin yang menusuk sum-sum tulangku. Detik-detik waktu semakin mendekati tengah malam. Rasa sesal terus menggerogoti semakin menguap. Kekhawatiran yang memunculkan dugaan-dugaan aneh dalam otakku. Bagaimana jika gadis itu ternyata benar-benar kembali ke laki-laki asing itu? Kalau laki-laki itu baik, mungkin sekarang ia baik-baik saja, tapi kalau tidak, mungkin saja gadis itu hanya akan menjadi pemuas nafsunya, atau mungkin juga ia akan dijual ke luar negeri untuk dijual organ-organ dalamnya. Atau bagaimana kalau kata-kata Karin tadi benar? Rukia diculik? Aku bergidik ngeri memikirkan semua kemungkinan itu.

"Ck. Kau benar-benar merepotkan, Rukia," gerutuku.

Sudah sekitar 30menit aku mencarinya, tapi waktu itu seakan terbuang sia-sia karena aku sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Jantungku semakin berdetak menyakitkan, keringat dingin mulai memenuhi tubuhku karena rasa sesal dan khawatirku yang terus membesar.

'Dimana kau, Pendek?' gumamku dalam hati.

Kupelankan laju sepedaku karena nafasku yang mulai memburu. Perutku terasa aneh karena rasa khawatir dan sesal yang menumpuk.

Saat aku melewati sebuah taman bermain, sayup-sayup terdengar sebuah suara. Seketika telinga kiriku menegang ketika mendengarkan suara itu, kutajamkan indra pendengaranku. Sebuah suara tangis. Begitu lirih, hampir tidak terdengar saat terbawa angin.

Bulu kudukku seketika meremang. Aku menoleh ke selilingku dan tidak menemukan seorangpun selain diriku sendiri di sana.

Jangan-jangan suara tangis itu adalah suara roh perempuan yang tertabrak truk satu bulan lalu di taman itu? Bulu kudukku semakin meremang, kukayuh sepedaku lebih kencang untuk segera pergi menjauh dari taman itu.

Eh! Tunggu dulu! Bagaimana kalau itu bukan suara hantu? Bagaimana kalau itu suara gadis yang kucari saat ini?

Mungkin lebih baik aku mengeceknya dulu, siapa tahu itu memang Rukia. Tapi bagaimana kalau suara itu benar suara hantu? Kugelengkan kepalaku pelan untuk menepis dugaan itu. Lebih baik aku melihatnya dulu.

Kuputar arah sepedaku dan memacunya masuk ke dalam taman. Kupertajam indra pendengaranku, dan lagi-lagi aku menangkap suara tangis samar-samar itu.

Suara itu terasa semakin jelas ketika aku mendekati sebuah rumah bermain berbentuk kubah. Aku turun dari sepedaku, lalu berjalan mendekat. Suara itu terdengar lirih, teramat lirih, kadang ada, kadang tidak, tetapi semakin terdengar jelas ketika aku berjalan mendekat ke sumber suara itu.

Sesampainya kira-kira 2 meter di samping kubah itu, hatiku kembali bimbang. Bagaimana kalau itu bukan suara Rukia? Bagaimana kalau itu memang suara hantu? Apa yang harus kulakukan ketika bertemu hantu itu nanti?
Argh! Aku mengacak-acak rambutku karena frustasi.
Mungkin memang aku harus mengeceknya lebih dahulu, kalau tidak, mana mungkin aku akan tau nantinya?

Kulangkahkan kakiku pelan. Suara isak itu kembali terdengar lirih, membuat sekujur tubuhku merinding sekarang.

Kulongkokkan kepalaku ke dalam bangunan berbentuk kubah itu. Ukuran kubah itu tidak terlalu besar, aku yakin aku masih bisa masuk kedalamnya. Bangunan itu memiliki dua lubang sebagai pintu, di bagian dalam kubah terdapat dua bangku keramik yang saling berhadapan.

Manik mataku seketika tertuju pada sesosok gadis yang terbujur di salah satu bangku. Seorang gadis bergaun merah. Rukia.

Tanpa ragu, aku merunduk untuk memasuki kubah itu yang tinggi pintunya lebih rendah dari tinggi badanku. Tak lama, aku sudah berjongkok di hadapannya.

Kutatap gadis itu lamat-lamat dari ujung kepala sampai kaki. Setengah badannya terbujur miring di bangku itu, mata ungunya tertutup rapat, sedangkan kedua kakinya berjuntai menyentuh tanah.

Ia tampak seperti peri dengan gaun merahnya, begitu mungil, pucat dan rapuh. Rambut hitamnya terkulai menyentuh keramik, beberapa diantaranya menempel di wajah. Ia begitu cantik. Wajah peri itu basah karena air mata, hembusan nafasnya terdengar berat, sesekali terdengar isakan dari bibirnya. Udara di sekitarku terasa berat untuk kuhirup. Aku menyadari satu hal bahwa akulah penyebab peri itu menangis, bahkan dalam tidurnya sekalipun. Sebegitu besarkah efek kata-kata yang telah kuucapkan padanya?

Kuulurkan tangan kananku mendekati wajahnya. Kuhapus jejak air mata di pipi kirinya dengan ibu jariku. Ah. Lagi-lagi perasaan menyesakkan itu memenuhi rongga dadaku ketika kulit jariku bersentuhan dengan kulit pipinya yang sembab. Aku menyadari aku telah mengatakan hal yang terlalu kejam untuknya.

Kudekatkan wajahku. Kukecup pelan kelopak mata kirinya.
"Maaf" bisikku lirih.

Tanpa kusadari tangan kananku beranjak menyentuh lengannya, dan seketika itu pula aku terlonjak. Kulitnya terasa dingin. Aku kembali sadar kalau udara malam itu begitu menusuk sum-sum tulang, dan gadis di depanku ini tertidur di tempat terbuka dengan mengenakan gaun pendek berbahan tipis.

Segera kualihkan tanganku untuk menyentuh dahinya. Hangat. Itulah yang kurasakan pertama kali saat kulit tanganku bersentuhan dengan kulit dahinya, tapi bukan kehangatan suhu normal.
Tiba-tiba aku panik. Sepertinya ia agak demam.
Tanpa pikir panjang segera kulepas jaket yang sedari tadi kupakai dan menyampirkan pakaian hangat itu menyelimuti tubuh mungilnya. Aku harus segera membawanya pulang sebelum demamnya bertambah parah.

Tanpa menunggu lama, aku segera berdiri, kedua tanganku sudah terulur untuk mengangkat tubuhnya.

"N-nenek. .a-ak. .," gumaman lirih dari bibirnya membuat kedua tanganku berhenti di udara. Aku kembali menatap violet masih terpejam, tetapi lagi-lagi sebutir air mata keluar dari sana.

Hey! Apa yang sebenarnya kau mimpikan? Apa kau bertemu nenekmu disana? Kenapa kau kembali menangis?

Kuulurkan tanganku menyentuh wajahnya. Kuhapus jejak airmata di pipinya pula tiap helai anak rambut yang berjuntai jatuh di wajahnya.

Entah kenapa kali ini Manik mataku tetap tidak mau melepaskan tatapannya dari wajah Sang Peri. Dadaku terasa sesak.

"Maaf." Hanya kata itu yang dapat terlontar dari bibirku. Segera setelah itu, aku mengangkat tubuhnya dengan mudah. Tubuh yang begitu kecil dan ringan. Benar-benar seperti Peri.

"Ngghh," erangan lirih keluar dari bibirnya, tubuhnya menggeliat pelan. Nampaknya ia merasa terganggu dalam tidurnya. Aku tersenyum kecil ketika kulit wajahnya bergesekan dengan kulit lenganku. Syaraf-syarafku seperti tergelitik, begitu geli.

Tak lama kemudian, aku sudah berdiri di depan sepedaku yang tergeletak di atas tanah. Alisku mengernyit.

Sekarang, bagaimana caranya aku pulang membawa Rukia yang tertidur dengan menaiki sepeda? Tentu saja aku tak akan bisa mengayuh sepeda sambil menggendongnya.

Apakah aku harus meninggalkan sepedaku di sini?
Atau, haruskah aku membangunkan Sang Peri? Kedua pilihan yang buruk. Kalau kutinggalkan sepedaku, bisa-bisa kendaraan itu sudah menghilang ketika aku mengambilnya nanti. Tapi kalau aku membangunkan Rukia, rasanya aku sangat keterlaluan. Aku sudah membuatnya menangis, masa aku juga harus mengganggu tidurnya?

Belum selesai aku memikirkan jalan keluar akan kebingunganku, kurasakan kaos yang kupakai dicengkeram. Sesuatu menggesek lenganku. Kuarahkan pandangan mataku ke sana.

Kulihat kepala gadis itu terangkat, mata violetnya masih tertutup dan desahan nafasnya terdengar berat. Cengkeraman dikaosku terasa makin kuat, dan Sang Violet perlahan mulai terbuka. Manik ungu itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya keadaan sekitarnya, sampai akhirnya terbelalak lebar ketika melihatku.

"I-Ichigo. ," suaranya yang terdengar serak menyebut namaku.

"Hoy!"

"A-ah. ." ia mengerang pelan, kepalanya kembali tertunduk.

"Kenapa? Ada yang sakit"

Ia tak menjawab, namun suara isaknya kembali terdengar, "ma-maafkan aku, ichi. . Hiks. . A-aku tidak tahu k-kalau kau. .hiks. ," ia terdiam sejenak, mata indahnya menatapku sejenak, namun sedetik kemudian kembali tertunduk.

"K-kau tidak menyukai kehadiranku," katanya terbata. Dadaku kembali terasa sesak karena rasa bersalah.

Bukan begitu, pada awalnya aku memang tidak menyukainya, t-tapi aku tidak suka melihatnya menangis karena salahku. Karena salahku yang memarahinya dengan kata-kata kasar dan membuat hatinya terluka. Bibirku terbuka, bersiap membantah kata-katanya.
"Maaf, bukannya aku-. ."

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa,"Ia nampak mengambil nafas dengan susah payah. Kepalanya terangkat dan Sang Violet menatapku. Pipinya kembali basah oleh air matanya.

"Ini bukan salahmu, Ichigo. Jadi jangan minta maaf."

"Hey! Dengarkan a-. . ."

"Aku memang bodoh." Alisku mengernyit heran. "Harusnya dulu aku tidak ikut paman Isshin. H-harusnya aku tinggal saja di pulau," suaranya terdengar makin serak seperti menahan tangis, kepalanya kembali terkulai.

"Seharusnya aku tidak datang ke rumahmu. Tidak merepotkanmu dan juga keluargamu. Aku tidak pantas menerima semua kebaikan kalian, karena a-aku bukan siapapun di sana. Dan seharusnya. . . A-aku. ." suaranya bertambah serak dan isaknya kembali terdengar.

Cukup. Aku sudah tidak tahan lagi melihatnya menangis. Di dalam sìni terasa sesak dan menyakitkan. "Cukup, Rukia."

"Harusnya a-aku tidak merepotkanmu d-dengan se-semua kelakuan tololku. .hiks. ." dia menangis. Dia kembali menangis ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

Cukup. Aku tidak tahan. "Cukup!"

"Hiks. . . A-aku tidak tau kalau kau m-membenciku. A-aku. ."

"Berhenti!"

"H-harusnya a-a-aku menjaga sikapku. Hiks. . Tidak menyusahkanmu. Ti-tidakh membuatmu marah. . . Tid. . ."

"Berhenti, Rukia!" Sorot mataku menatapnya tajam. Kepalanya terangkat, dan Sang Violet yang terlanjur basah menatapku.

"A-aku tahu, I-ichigo. Kau marah padaku. Aku tahu itu, m-maka dari itu a-aku akan per-. . ."

Kata-katanya terpotong karena ulahku. Karena ulahku yang tiba-tiba saja membungkam bibirnya dengan bibirku. Biar saja. Aku tidak peduli jika itu ciuman pertamanya ataupun ciuman pertamaku dengan gadis lain, yang terpenting sekarang aku tidak mau mendengar kelanjutan kata-katanya.

Beberapa detik kemudian kujauhan wajahku darinya. Dapat kulihat iris ungunya terbelalak lebar. Dan sesaat kemudian, reaksi yang ia tunjukkan sungguh membuatku panik.

"Huaangh! Ichigo! Kau Jahat! Kau jahat!" Gadis dalam gendonganku ini berteriak sambil memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya.

"Hey! Hey! Hentikan! Kau bisa jatuh nanti! H-hey!" Aku hampir saja kehilangan keseimbangan dan menjatuhkannya karena pukulannya yang bertubi-tubi itu. Lalu kuturunkan saja tubuhnya dari gendonganku.

"Kau jahat, Ichigo! Kau jahat!" raungnya dengan suara keras serta kedua tangannya yang terus memukuli dadaku.

Aku bertambah panik, "hentikan Rukia! Kau bisa membangunkan orang-orang! Dan. . Hentikan ini!" perintahku sambil mencengkeram kedua tangannya yang terus memukuliku.

Kurasakan tangannya meronta meminta dilepas, dan aku pun semakin mengeratkan cengkraman tanganku padanya. Wajahnya tertunduk dan isak tangis masih terdengar dari bibirnya. "Aku tahu kau membenciku Ichigo, tetapi kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya, gerakan tangannya melemas.

Kurasakan alisku bertaut karena bingung, "melakukan apa?"

Tiba-tiba saja kepalanya terangkat. Mata amethyst-nya menatapku tajam dan kilat-kilat kemarahan berpendar di sana. Kulihat juga aliran sungai kecil di sepanjang garis-garis pipinya. Tangan gadis itu kembali menegang. "Kau jahat! Kau makhluk orange terjahat yang pernah kutemui!" ungkapnya dengan nada berapi-api karena amarah.

Bukannya semakin sadar akan kesalahan apa yang telah kuperbuat, aku malah semakin memasang wajah bingung. Kenapa tiba-tiba Rukia marah padaku? Padahal selama ini ia tak pernah marah sekalipun jika aku menjahilinya. Eh... Tunggu, tadi aku memang menciumnya, dan ciuman itu bukan bermaksud untuk menjahilinya, apa dia marah karena itu?

"Kau marah k-karena aku menciummu?" tanyaku ragu-ragu.

"DAN KAU MEMBUATKU HAMIL!" lanjutnya cepat.

Seketika itu pula bibir bawahku terjatuh beberapa centi, mataku terbelalak lebar. Apa katanya tadi? Aku membuatnya hamil? Memang apa yang telah kulakukan? 'Menyantuh' tubuhnya juga tidak. Lalu kenapa bisa dia hamil karenaku?

Beberapa detik hanya kulalui dengan menatap wajahnya tanpa ekspresi, dan itu membuat cengkraman tanganku mengendur, gadis di depanku ini memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan kedua tangannya dari cengkramanku. Gerakan tangannya itu seketika membuat urat-urat sarafku yang tadinya kaku kembali bereaksi.

"A-apa katamu tadi? A-aku membuatmu hamil? Bagaimana bisa?" tanyaku, masih dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya.

Kini matanya berpendar khawatir tapi kilat amarah juga masih berbekas di sana, "kau harus bertanggung jawab!" Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah meminta pertanggung jawabanku, dan itu sungguh membuatku bertambah panik. Aku tidak mau menjadi orang tua muda! Tidak mau!

"Ba-bagaimana bisa?" ulangku, masih terbata.

"T-tadi kan kau menciumku," jawabnya, kini matanya dipenuhi pendar kekhawatiran sepenuhnya.

Kembali. Kembali kuperlihatkan bawah bodohku karena mendengar perkataannya tetapi sedetik kemudian gelak tawaku meledak. Hahaha. Dasar gadis bodoh! Ketahuan sekali kalau ia tidak pernah berciuman dengan laki-laki manapun. Masih suci dan polos. Hahahaha bagaimana ciuman bisa membuat perempuan hamil? Memangnya di dalam mulut ada ovum dan sperma? Haha dasar bodoh!

"I-Ichigo! Kenapa kau tertawa?" tanya gadis pulau di depanku dengan nada panik. Bukannya berhenti, tawaku malah semakin menjadi. Kini malah aku sedikit merunduk untuk memegangi perutku yang terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa.

"Ini tidak lucu! B-berhenti tertawa!" perintahnya. Aku tidak menggubrisnya sama sekali.

"Ichigo! Berhenti tertawa dan katakan kau akan bertanggung jawab karena membuatku hamil!" perintahnya lagi, kini dengan nada putus asa.

Sebenarnya tawaku hampir saja meledak kembali, tapi aku cepat-cepat membungkam mulutku dengan tangan. Kudongakkan kepalaku dan melihat wajah Rukia penuh dengan berbagai ekspresi negatif. Pucat, kesal, khawatir, dan sedih.

"Hmph. . D-darì mana k-kau tau kalah ciuman dapat menyebabkan ham-hmpph. .hamil?" tanyaku, masih dengan berusaha menahan tawaku yang dapat meledak kapan saja ketika mengucapkan kata 'ciuman' dan 'hamil'.

Alisnya mengernyit, "kau ingat video cara perkembangbiakan manusia yang kupinjam dari Asano-san?"

Oh tentu saja aku ingat. Aku lebih suka menyebutnya video porno daripada video cara perkembangbiakan manusia.

"Ya"

"Disitu ada laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman."

Pikiranku melayang mengingat kejadian itu, lalu menggangguk.

"Ketika kutanyakan adegan bersentuhan bibir itu pada Chizuru-san, katanya itu yang namanya ciuman, dan itu adalah salah satu tahap agar manusia dapat mempunyai anak. Lalu ketika kutanya lagi bagaimana tahap-tahap selanjutnya, dia malah tertawa keras, katanya aku terlalu polos, dia malah menyuruhku meminjam kaset perkembangbiakan manusia lagi pada Asano-san untuk mengetahui tahap-tahap yang lain, katanya Asano-san punya banyak koleksi kaset tentang itu, kalau tidak dia menyuruhku bertanya padamu," jelasnya.

Aku kembali tertawa. Bersentuhan bibir? Istilah yang aneh. Lalu, ternyata dia masih saja penasaran tentang video porno itu. Dasar bodoh! Kenapa dia selalu bertanya pada orang yang salah sih? Bukannya bertanya pada orang yang berilmu, malah bertanya pada orang mesum. Atau dia belum tahu kalau orang yang ia tanyai (Keigo dan Chizuru) adalah orang mesum? Aku juga sampai heran, kenapa mereka (Keigo dan Chizuru) tidak pacaran saja? Mereka kan jadi bisa saling melengkapi 'ilmu' mereka.

Kuhentikan gelak tawaku ketika mendengar gadis di depanku bersin. Manik mataku tertuju pada parasnya yang terlihat pucat dan tubuhnya yang mengigil. Baru kusadari, jaket yang tadi kusampirkan pada tubuhnya Kini terkulai di tanah entah sejak kapan. Segera saja kuambil pakaian hangat itu dan menyampirkannya di tubuh Rukia.

Kutarik nafas sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paruku yang kehabisan udara karena tertawa tadi, sebelum akhirnya aku menjawab kata-katanya, "dengar, ciuman tidak akan membuat perempuan hamil. Ciuman itu menunjukkan rasa kasih sayang seseorang kepada orang yang disayanginya."

"Jadi, kau menyayangiku, Ichigo?" potongnya, matanya berbinar dalam keremangan lampu taman.

"Tidak. Aku membencimu," jawabku asal. Binar matanya kembali meredup, dan itu membuatku reflek melanjutkan kata-kataku, "tapi mungkin aku sudah sedikit menyayangimu." Ya, mungkin hanya sedikit, lagipula ciuman tadi bukan ciuman kasih sayang, hanya ciuman yang tidak sengaja kulakukan untuk membungkam bibirnya. OK, anggap saja aku tidak pernah berciuman dengannya.

Kulihat binar matanya kembali menyala, walaupun tidak sejelas tadi, dan sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Lalu soal cara perkembangbiakan manusia, kau tidak perlu meminjam kaset itu lagi pada Keigo. Tidak boleh!"

Sang violet menatapku tajam, dan bibirnya siap menepis kata-kataku, tetapi aku terlebih dahulu memotongnya, "akan kujelaskan sedikit," lanjutku, lebih baik ia kuberi penjelasan garis besarnya daripada ia terus-terusan penasaran akan hal konyol tersebut.

"Jika sepasang manusia, tentu saja laki-laki dan perempuan berada dikamar yang sama bahkan berada di bawah selimut yang sama melakukan hubungan 'itu', maka si perempuan akan hamil dan memiliki anak 9 bulan kemudian," jelasku.

Gadis beriris violet di depanku terdiam sejenak, sepertinya ia sedang memahami kata-kataku barusan, "jadi, aku tidak hamil?" tanyanya dengan nada polos.

Aku mendengus menahan tawa, "tentu saja tidak."

Dia menghembuskan nafas lega, "aku tidak mau menjadi ibu muda!" Dan aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Selang beberapa saat kami terdiam.

Aku yang pertama membuka percakapan untuk mengajaknya pulang, tetapi bukannya menjawab ajakanku ia malah menundukkan kepalanya.

"Aku tidak mau pulang ke rumahmu, Ichigo. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dan keluargamu di sana. Aku mau pulang ke pulau saja," jawabnya lirih. Aku kembali menghela nafas, pasti ini efek perkataanku dua jam yang lalu.

"Memangnya kau mau pulang ke pulaumu naik apa? Jalan kaki?" sindirku.

"Kalau itu memang perlu," jawabnya.

Aku kembali menghela nafas, "Rukia, ini sudah malam, kau itu perempuan, kalau kau kenapa-napa kau akan merepotkan kami lebih banyak, lagipula kau tidak punya uang untuk bepergian jauh, kau juga tidak membawa barang-barangmu dan juga kau sudah tidak memiliki siapapun di pulau itu, lebih baik kau di sini, di rumahku, bersama ayah, aku, Yuzu dan Karin. Tidak ada yang menganggapmu merepotkan..."

Saat aku mengatakan kata terakhir, iris Rukia menatapku, "anggap saja aku tidak pernah mengatakan kata-kata menyakitkan itu padamu. Kau tidak merepotkan kok, aku saja yang belum dapat beradaptasi denganmu," hiburku, tetntu saja aku membohonginya sedikit. Kalau aku tidak berkata seperti itu pasti dia akan tetap pada pendiriannya.

Seukir senyum bertengger manis di bibir gadis itu dan senyum itu menular padaku. Air mata sudah tidak terlihat, tetapi masih meninggalkan bekas di kedua pipinya.

Semilir angin malam menyadarkanku dari lamunan sesaatku, menyadarkanku akan semakin dinginnya malam ini dan menyadarkanku akan semakin pekatnya langit di atasku. Aku sedikit bergidik kedinginan. Segera kuulurkan tanganku, "ayo kita pulang," ajakku untuk kedua kalinya.

Sang peri kembali tersenyum, tangan kanannya terulur meraih tanganku.

XOXOXO

Aku meletakkan sebuah guling di antara tubuhku dan tubuh Rukia untuk dijadikan pembatas wilayah tidur kami masing-masing. Malam ini kusuruh Rukia tidur bersamaku. Mau bagaimana lagi? Aku kasihan melihat wajahnya yang terlihat gelisah dan ketakutan ketika mendengar gemuruh dari langit. Sepertinya malam ini akan terjadi badai, dan aku yakin pasti akan ada petir, dan aku tahu Rukia sangat takut petir, maka dari itu, daripada ia membangunkanku ditengah malam seperti beberapa hari yang lalu, lebih baik aku langsung saja menawarinya tidur bersamaku. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena membuatnya menangis hari ini.

Reaksi Rukia? tentu saja langsung menyetujui tawaranku itu dengan wajah gembira.

"Jangan sampai kau melewati batas ini," kataku ketika meletakkan guling pembatas itu diantara tubuh kami. Gadis itu hanya mengangguk patuh, sepertinya ia sudah sangat lelah untuk menjawab perkataanku.

"Kau boleh memeluk guling itu, tapi jangan melewatinya," kataku lagi. Dia kembali mengangguk.

"Boleh aku tidur sekarang, Ichigo?" tanyanya.

"Ya," jawabku singkat.

Ia tersenyum kecil, binar matanya meredup karena kantuk, "oyasumi, Ichigo," katanya sebelum menutup mata.

"Hnn."

XOXOXO

"Nggh," suara erangan lirih terdengar begitu dekat, membuatku setengah tersadar dari mimpiku, tetapi aku tidak segera membuka mata, terlalu malas, paling-paling itu suara erangan Rukia yang tadi malam menumpang tidur di atas tempat tidurku.

Kueratkan pelukanku pada bantal gulingku yang entah kenapa rasanya begitu hangat dari biasanya. Hangat dan nyaman. Merasakan hal itu, aku pun membenamkan kepalaku semakin dalam untuk mencari kehangatan yang lebih. Kali ini, aku merasakan kehangatan dan kelembutan menyengat kulit wajahku. Wangi mawar juga menguar dari sana. Tetapi aku juga merasa suatu keanehan pada tekstur gulingku yang menjadi tak beraturan. Dahiku serasa panas saat menyentuh tekstur kain guling yang menempel di sana. Hidungku juga seperti menyentuh tekstur yang terlalu menonjol dan mengeluarkan udara. Apalagi bibirku, di sana aku merasakan tekstur yang rasanya begitu lembut, kenyal dan hangat. Lalu di tubuh guling itu sendiri, sejak kapan gulingku memiliki lekukan-lekukan? Sejak kapan gulingku dapat memelukku? Dan sejak kapan gulingku berdetak-detak seperti memiliki jantung?

Apa? Jantung? Hangat? Lekukan? Mengeluarkan udara? Memelukku?

Tanpa pikir panjang aku langsung saja membuka kelopak mataku, dan hal yang pertama kali kulihat adalah iris ungu yang terbelalak lebar beberapa mili di depan mataku disusul kemudian aku yang merasakan gerakan pelan dan sensual di atas bibirku. Seketika itu pula mataku terbuka lebar.

Aku memeluk tubuh Rukia dengan erat. Rukia memeluk tubuhku dengan erat. Bibir kami bersentuhan. Tak ada jarak.

"HUAGGHH!" Kami berdua sama-sama berteriak kaget dan menjauhkan diri satu sama lain. Aku terduduk di ujung tempat tidurku dan merapatkan diri ke tembok, sedangkan Rukia terduduk di ujung tempat tidur yang berseberangan denganku.

"A-apa yang kau lakukan?" kami bertanya bersamaan. Aku dapat merasakan sekujur tubuhku memanas dan detak jantungku yang terpacu maksimal, kulihat juga wajah gadis di depanku merah padam.

Ia menatapku dengan mata terbelalak lebar dan ekspresi yang sulit dijelaskan. Aku tidak memperdulikan tatapannya, iris mataku sibuk menelusuri bagian tubuhku yang tertutup selimut, dan seketika itu juga aku menghembuskan nafas lega karena aku masih mengenakan pakainku secara lengkap, begitu pula dengan Rukia yang masih mengenakan piyama tidurnya.

'Fuuh. Kalau begitu semua aman. Tidak terjadi apapun antara aku dan Rukia tadi malam. Ciuman tadi tidak disengaja. Ya, tak disengaja,' ucapku menenangkan diri. Tetapi bukannya bertambah tenang, jantungku malah semakin cepat memacu detaknya ketika aku mengingat ciuman itu. Ciuman yang hangat, lembut, dan basah.

Oh tidak! Kini aku juga dapat merasakan aliran darah yang berkumpul di wajahku dan memanas di sana. Gejolak aneh yang menyenangkan juga kurasakan di perutku. Tiba-tiba saja terlintas di otakku untuk mengulang ciuman itu, tapi akal sehatku segera menepis keinginan itu. Sungguh aku merasa diriku dibuat sinting karena ciuman tak disengaja itu.

"A-apa yang kau lakukan padaku?" tanya Rukia terbata.

Aku mengarahkan pandangan mataku padanya, tetapi saat irisku dan irisnya saling bertemu, aku segera memalingkan wajahku ke arah lain. Aku tidak mau keinginan tidak warasku muncul kembali ketika bertatapan dengannya.

"Aku tidak melakukan apapun," jawabku.

"Bohong!" teriaknya.
Aku menatapnya sekilas untuk melihat ekspresi wajahnya. Masih seperti tadi, sulit dijelaskan.

"Kau memelukku. . menciumku. .diatas 1 tempat tidur, dalam 1 selimut," katanya dengan tatapan menerawang dan suara bergetar.

"Bukan aku yang memel-"

"Kita melakukannya," potongnya, masih dengan mata menerawang.

"Hah?"

"Kita melakukannya. Seperti yang di video milik Asano-san dan juga seperti kata-katamu tadi malam."

Aku hanya terpaku mendengarkan kata-kata Rukia yang terdengar membingungkan.
"Apa maksudmu?"

Rukia terkesirap, ia menatapku dengan tajam seperti tadi malam, "tadi malam kau mengatakan, jika laki-laki dan perempuan melakukan hal itu, di dalam satu kamar atau tepatnya di atas tempat tidur yang sama maka si perempuan akan hamil dan memiliki anak. Hal yang kau maksud itu ciuman, kan?" tanyanya. Matanya kembali menerawang.

"Berarti sekarang aku hamil?" lanjutnya tanpa sadar.

Kontan bibir bawahku terjatuh beberapa centi ke bawah kembali dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Rasa panas ditubuhku mendadak hilang dan tergantikan oleh rasa gemas pada gadis pulau di depanku. Jadi dia belum mengerti hal yang kumaksud itu? Dasar bodoh! Bisa-bisanya ia mengartikan hal yang kumaksud adalah sebuah ciuman?

Dia memang benar-benar terlalu bodoh! Mungkin kalau aku membohonginya dan mengatakan kalau dia benar-benar hamil dia akan percaya. Ya. Apa salahnya menjahilinya seperti itu? Pasti akan lucu dan menjadi hiburan tersendiri untukku. Ya. Ya.

Sekuat tenaga, kutahan diriku untuk tidak tertawa agar rencanaku tidak terbongkar, "ya, tentu saja kau hamil," kataku dengan nada serius.

Seketika itu pula iris violet di depanku terbelalak lebar, wajahnya yang polos terlihat shock, dan mulutnya sedikit ia sadari, hatiku tertawa keras di dalam sana.

"A-apa?"

"Kau ha-mil"

"Rukia-nee hamil?" suara itu mengalihkan perhatianku, itu bukan suara Rukia.

Pandangan mataku dan Rukia kini tertuju pada sosok salah seorang adikku yang berdiri di ambang pintu, Yuzu.

Ekspresi Yuzu terkejut bukan main, matanya lurus menatap tajam pada Rukia.

Selama beberapa saat tak ada suara, atmosfir di sekitar kami pun tak dapat dijelaskan.

"Rukia-nee ha-mil," kata-kata yang keluar dari bibir Yuzu seperti tak disadari.

Aku mulai merasakan firasat tidak enak.

"Ayaaah! Kariin! Rukia-nee hamil!" teriak Yuzu dengan suara super keras. Ada nada bahagia dalam suaranya.

Tiba-tiba keringat dingin merembes dari sela pori-poriku. Aku kan hanya bercanda! Kenapa jadi seperti ini? Rukia tidak hamil! Aku tidak menyentuhnya sama sekalì!

T-tapi mereka mengira Rukia hamil! Bagaimana kalau nantinya aku malah disuruh menikahinya?
Aku tidak mau! Aku tidak mau!
Aku tidak mau menikah muda!
Aku harus menjelaskan semuanya. Ya. Ya, harus kujelaskan.

"Yuz-. . ," belum sempat aku menjelaskan, Ayah dan Karin sudah berada di samping Yuzu. Ekspresi ayahku tak dapat di tebak, matanya berbìnar tidak jelas, senyumnya merekah lebar, dan tatapannya terlihat sangat mengkhawatirkan bagiku. Sedangkan ekspresi Karin terlihat shock.

"Benarkah Rukia-chan hamil?" tanya Oyaji pada Yuzu. Yuzu hanya mengangguk dan tersenyum lebar, matanya berbinar.

"My Sooon~ kau hebat sekali sudah membuatkanku cucu~" Si Oyaji itu merentangkan tangannya dan berlari bersiap memelukku.

Ok. Kutarik kembali perkataanku beberapa saat yang lalu. Ini tidak lucu. SANGAT tidak lucu.

XOXOXO

BEHIND THE SCENE

Chapter 1

Keigo POV (saat Keigo meminjamkan kaset 'perkembangbiakan' manusia pada Rukia)

Aku menatap seisi kelasku yang mulai terlihat sepi karena jam istirahat. Rasanya tidak nyaman sekali sedetik saja tidak menggoda sìapapun. Lalu mataku tertuju pada seorang gadis cantik yang sedang melamun di mejanya. Tanpa menunggu lama, aku pun menghampirinya.

"Hy, Kuchiki," sapaku.

Ia mendongak untuk menatapku, "oh. .hy, Asano-san," jawabnya sambil tersenyum kecil.

Aduh, . .kenapa gadis ini imut sekali sih!

"Kau kenapa, Kuchiki? Sepertinya sedang bingung?" tanyaku sok perhatian.

Ia menghembuskan nafas sejenak, "Ya. Aku sedang bingung dengan beberapa pertanyaan, Asano-san."

"Pertanyaan apa?"

"Bagaimana cara perkembangbiakan manusia itu sebenarnya, Asano-san? Bagaimana cara manusia seperti kita kawin, hamil, dan memiliki anak? Ichigo tidak mau menjawab pertanyaanku itu, katanya nanti aku pasti akan mengalaminya sendiri," katanya dengan nada murung.

Aku ternganga sejenak. Di zaman modern seperti ini masih ada gadis sepolos dia? Aduduh. . Aku jadi tambah menginginkannya.

"Tenang saja, Kuchiki. Aku akan membantumu," kataku sambil mengedipkan mata kananku dan mengacungkan jempol.

Matanya berbinar, "benarkah?"

"Ya. Aku memiliki kaset tentang cara 'perkembangbiakan' manusia. Aku akan meminjamkannya padamu," jawabku mantap.

Ekspresi wajahnya gembira, "benarkah? Kau sangat baik, Asano-san," katanya sambil tersenyum lebar. Oh, oh. .senyumnya itu membuatku melayang.

"Ok. Tunggu sebentar," kataku. Aku pun melesat mengambil kaset itu dari tasku dan menyerahkannya pada gadis manis itu.

"Tontonlah bersama Ichigo," kataku sambil mengedipkan sebelah mataku. Aku yakin besok pasti Ichigo akan berterima kasih padaku.

"Terima kasih, Asano-san. Kau baik sekali! Aku pasti akan menontonnya bersama Ichigo," katanya sambil tersenyum lebar.

Aku juga tersenyum lebar. Aku memang sangat baik.

Esoknya....

Aku memandangi kaset yang kupinjamkan pada Kuchiki kemarin dengan ternganga. Kasetku terpecah menjadi dua!

"Maafkan aku, Asano-san. Ichigo marah ketika aku menonton kaset itu dan dia memecahkannya," kata Kuchiki dengan nada menyesal.

Aku menyunggingkan senyum lebar, "tidak apa-apa, Kuchiki. Apa kalian sudah menontonnya?" tanyaku antusias.

Kuchiki hendak membalas pertanyaanku, tapi Ichigo yang tiba-tiba berdiri di belakangnya mendahului, "tentu saja belum, bodoh! Berani-beraninya kau meminjamkan Ru- eh Kuchiki kaset seperti itu dan menyuruhnya menonton bersamaku!" ucapnya dengan nada marah.

"Oh jadi belum? Aku bisa meminjamkannya lagi kalau Kuchiki mau," tawarku.

"TIDAK BOLEH!" bentak Ichigo.

Kenapa sih dia ini? Aku kan menawarkan pada Kuchiki, kenapa dia yang marah?

Kuchiki menatapku dengan tatapan bersalah, "maaf, Asano-san," ucapnya.

Aku sungguh tidak tega melihatnya memasang wajah bersalah itu, aku pun merentangkan tanganku bersiap memeluknya, "tidak apa, Kuchiki. Aku pasti akan meminjamkannya lagi kal-. ."

BUGGGHH.
Tubuhku melayang beberapa meter dan hidungku berdarah-darah.
"Mati saja kau!" ucap Ichigo.

Aku menangis meraung-raung, "kau jahat sekali, Ichigoo!"

.

.

Nell POV (saat Ichigo tidak jadi pulang dengannya)

"Sial! Apa-apaan si Kuchiki itu! Padahal baru kali Ichigo mau pulang bersamaku," gerutu Sena di sebelahku.

"Iya! Baru kali ini juga Ichigo mau pulang bersamaku," kataku mendukungnya. Aku memang kesal kepada gadis pendek bernama Kuchiki Rukia itu, sejak kepindahannya kemari beberapa bulan yang lalu, ia selalu saja berada dekat dengan Ichigo, padahal ia bukan pacar Ichigo, saudara juga bukan. Sejak kedatangannya tadi yang mengacaukan rencanaku pulang bersama Ichigo, aku semakin bertambah kesal kepadanya. Padahal jarang-jarang Ichigo mau pulang bersama seorang gadis.

Aku dan Sena terdiam beberapa saat. Masih memendam amarah pada si Kuchiki yang tidak dapat disalurkan dengan kata-kata.

"Nell, aku punya ide bagus!" kata Sena tiba-tiba.

Aku menoleh padanya karena penasaran, "apa?"

"Bagaimana kalau kita mencarikan Kuchiki seorang pacar? Jadi kan dia tidak akan dekat-dekat lagi dengan Ichigo," katanya dengan mata berbinar. Seakan baru saja mendengar ide terbriliant di dunia aku pun cepat-cepat mengangguk.

"Idemu bagus sekali, Sena! Bagaimana kalau kita ajak saja Kuchiki ke gokon sabtu malam nanti? Tadi Sun-Sun juga mengajakku ke acara itu," balasku dengan mata tak kalah berbinarnya.

"Ide bagus! Aku akan menjemputmu sabtu sore nanti untuk mengajak Kuchiki, bagaimana?" tanyanya meminta pendapat.

"Ok! Kita dandani Kuchiki semenarik mungkin agar dia mendapatkan pacar saat acara gokon nanti," jawabku.

"Ya! Dan dia pun tidak akan dekat-dekat lagi dengan Ichigo."

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Sebuah senyum kemenangan terukir diantara wajah kami berdua.

Sabtu malam...

Aku menatap Ichigo yang berdiri di ambang pintu bilik karaoke. Matanya tertuju ke segala penjuru ruangan sempit itu dan pandangannya seketika termbuk pada Kuchiki Rukia yang sedang asik bercanda dengan Shiba Kaien. Sang Amber menunjukkan kilat-kilat amarah ketika melihat hal itu.

"I-Ichigo..," suara Kuchiki sepertinya terkejut akan kedatangan Ichigo yang tiba-tiba. Jujur, sebenarnya aku juga terkejut, bukankah kemarin saat aku mengajar Ichigo berkencan pada sabtu malam ia menjawab akan menemani ayahnya ke Kyoto? lalu kenapa ia masih di sini?

Seringai menghiasi bibir Ichigo, dan tanpa menunggu lama ia mendekati Kuchiki dan menyambar tangannya dengan kasar, lalu ia menyeret keluar Kuchiki dengan paksa.

"Ichigo, tunggu!" kataku.

Ichigo berhenti sejenak lalu berbalik menatapku, tatapannya penuh amarah, aku sendiri ngeri melihatnya, tetapi kupaksakan saja bibirku untuk bertanya pertanyaan yang terpikirkan olehku, "kenapa kau masih di sini? B-bukannya kau menemani ayahmu ke Kyoto?"

"Perjalanan dibatalkan karena badai salju," jawabnya asal, lalu melengos meninggalkan kami begitu saja.

Aku ternganga mendengar jawaban Ichigo barusan. Ini kan awal Juni, kenapa bisa ada badai salju?

.

.

Chapter 2

Normal POV (saat Karin dan Yuzu memaksa Ichigo untuk keluar dari kamarnya)

"Sudahlah Yuzu, kita suruh ayah saja untuk mencari Rukia-nee," sepertinya Karin sudah mulai bosan membujuk kakak aki-laki satunya itu untuk keluar kamar.

"Tapi Karin-chan, ayah kan sedang lembur di rumah sakit," kata Yuzu dengan nada putus asa pula.

Mereka terdiam sejenak, namun tiba-tiba Karin tersenyum kecil, gadis berambut hitam itu pun mencolek lengan Yuzu. Kembarannya itu pun menoleh, "ada ap-"

Karin keburu membekap mulut Yuzu sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Jangan keras-keras, Yuzu," bisik KArin lirih.

"Apa?" tanya Yuzu setelah tangan saudari kembarnya itu sudah tidak lagi membekap mulutnya.

Karin menyeringai kecil, "bagaimana kalau kita pura-pura akan mencari Rukia-nee? Ichi-nii pasti tidak akan membiarkan kita pergi," katanya.

Mata Yuzu seketika berbinar, "ide yang bagus, Karin-chan! Ayo kita lakukan!" katanya dengan lirih namun semangat. Karin hanya mengangguk menanggapi.

"ya sudah, aku saja yang mencari Rukia-nee," kata Karin dengan suara dikeraskan.

"Ta-tapi Karin-chan ini kan sudah malam," protes Yuzu.

"Kalau bukan aku, siapa lagi? Ichi-nii yang egois dan tidak dapat diandalkan?" sindir Karin. Sesaat mereka terkikik geli.

"Kalau begitu aku ikut!" sela Yuzu.

Terdengar hembusan nafas sejenak, "sudahlah, tidak perlu. Cukup aku saja. Lebih baik kau diam saja di rumah," kata Karin.

"Tidak! Tidak! Aku harus ikut!"

"Baiklah. Kau boleh ikut."

Terdengar bunyi berdebum dari dalam kamar di depan kedua gadis itu, lalu disusul kemudian suara kunci yang diputar dan pintu yang terbuka. Dari sana muncul kakak orange mereka dengan wajah gelisah, "biar aku saja! Kalian tidak boleh pergi!" perintahnya dengan tegas.

Seketika itu pula sepasang gadis kembar itu menyeringai.

.

.

Rukia POV (saat Ichigo menjelaskan tentng perkembangbiakan manusia)

"Lalu soal cara perkembangbiakan manusia, kau tidak perlu meminjam kaset itu lagi pada Keigo. Tidak boleh!"

Mata violetku menatapnya tajam. Aku hampir saja membantah kata-katanya ketika Ichigo keburu mendahuluiku, "akan kujelaskan sedikit," katanya.

Lalu Ichigo nampak mengambil nafas sejenak,"Jika sepasang manusia, tentu saja laki-laki dan perempuan berada di kamar yang sama bahkan berada di bawah selimut yang sama melakukan hubungan 'itu', maka si perempuan akan hamil dan memiliki anak 9 bulan kemudian," jelasnya.

Aku terdiam sejenak untuk meresapi kata-katanya. Jadi kalau misalnya ada laki-laki dan perempuan melakukan hubungan 'itu' di bawah selimut yang sama, maka si perempuan akan hamil dan memiliki anak 9 bulan kemudian. Hmm... Berarti jika aku tidak ciuman di bawah selimut yang sama, maka aku tidak akan hamil kan?

"jadi, aku tidak hamil?" tanyaku dengan nada polos.

Ichigo nampak menahan tawa, "tentu saja tidak."

aku menghembuskan nafas lega, "syukurlah. Aku tidak mau menjadi ibu muda!"