Atsushi POV
Flash back on
Tak ada angin tak ada hujan, kejadian itu terjadi secara mendadak.
"Atsushi-kun, nanti kita dinner yuk" Ajak Dazai-san sambi bersisik memandangku dari balik tumpukan dokumen yang harus kuselesaikan. Tentu saja aku terkejut dengan rona merah dipipi.
'Akhirnya Dazai-san mengajakku, ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku padanya' kataku dalam hati dengan semangat.
"Kita harus lembur malam ini karena banyak pekerjaan Dazai-san" kataku mengingatkan walau dengan berat hati.
"Ah, gapapa. Masa iya kita tidak boleh makan di luar saat sedang lembur?" Jawabnya dengan santai nyerempet menyepelekan. Akhirnya aku hanya mengangguk saja.
"Baiklah" Ok, sekarang masalahnya bagaimana dengan pekerjaanku?. Bodo amat, aku harus segera menyelesaikannya. Aku sudah hafal tabiat Dazai-san yang sering bahkan selalu mengabaikan pekerjaannya. Jadi kecil kemungkinan dia akan mengajakku kembali ke kantor agensi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Bisa saja dia langsung mengajakku pulang lalu kita akan tidur sekamar, ah, aduduh. Apasih yang kupikirkan?. Ayo Atsushi, sadarlah dan berpikir positif. Mungkin dia akan melalang buana kemana saja demi mencari hal-hal aneh yang berhubungan dengan bunuh diri. Bisa jadi dia menemukan tempat yang pas lalu menyeretmu untuk bunuh diri ganda bersamanya.
"Eh, tapi kan Dazai-san hanya ingin bunuh diri ganda bersama wanita cantik" tak sengaja kata-kata itu lolos dari bibirku. Syukurlah suasana sedang bising karena semuanya juga sibuk bekerja. Aku merasa lega lalu mengelus dada menenangkan diri.
"Tapi kalau Atsushi memakai gaun dan sedikit berdandan pasti juga cantik kok, kan wajahmu memang sudah manis dan imut" Dazai-san berkata demikian dengan posisi kepala berada di dekatku. Kaget bukan main, pipiku pun langsung memerah. Ingin menyangkal namun hati ini sudah pasrah dan lidah kelu. Akhirnya aku tak mampu menyelesaikan pekerjaanku karena terus kepikiran ucapan dari Dazai-san.
Dan sekarang aku sedang berjalan beriringan dengan Dazai-san menuju kafe yang baru dibuka di blok sebelah. Dazai tertarik karena katanya mereka menyajikan hidangan kepiting yang rasanya amat lezat. Dan tentunya ini terjadi setelah perdebatan hebat dengan Kunikida-san yang dimenangkan oleh Dazai-san hingga kita diberikan izin makan diluar plus catatan 'cepet ga pake lama' darinya.
Rasanya menyenangkan bisa bersama dengan orang yang memberimu alasan untuk hidup ditengah keputus asaan. Apalagi orang itu hebat dan sering berada disekitarmu. Yha.. walau kadang Dazai-san jahil lagi menjengkelkan. Tapi sekali lagi dia itu orang yang hebat, setidaknya bagiku.
Tulisan 'we are open' dan selamat datang dari para pegawai kafe menyambut kedatangan kami dengan hangat. Dazai-san memilih duduk di dekat jendela, benar-benar tempat yang pas.
"Nee.. nee.. Atsushi-kun ingin makan apa? Tapi bukan berarti aku mau mentraktir lho ya."Dazai-san berkata demikian sambil tersenyum seperti biasa. Aku hanya bisa tertawa kikuk lalu membaca daftar menu. Setelah mengatakan pesanan, seorang pelayang segera mencatatnya dan pamit untuk menyiapkan pesanan kamu. Sip, situasi yang ideal untuk berbincang dengan Dazai-san.
"Daza-"
"Wooaaahhh.. lihat tali tambang yang bagus itu Atsushi-kun! Itu tampak kuat dan mudah dibuat simpul saat ingin bunuh diri menggunakan cara gantung diri." Belum juga aku selesai bicara, Ia langsung memotong ucapanku ketika melihat seseorang membawa tali tambang lewat jendela. Jadi inikah alasannya memilih meja ini? Agar dia bisa melihat sesuatu untuk bunuh diri. Dasar maniak bunuh diri!.
"Ah, ya... kurasa dengan tali tambang sepanjang itu mampu digunakan untuk dua orang yang ingin bunuh diri." Komentarku asal, tanpa diduga Dazai-san malah menghadap ke wajahku dengan cepat. Tak lupan dengan tatapan matanya yang berbinar antusias. Aku malah ketakutan dibuatnya.
"Akhirnya ada yang paham tentang betapa indahnya ilmu bunuh diri!" katanya dengan terkagum-kagum kearahku. Ah, jadi itu yang dia maksud. "Ah, alam sedang memanggilku untuk ke kamar mandi. Atsushi-kun, aku akan pergi menunaikan misi. Jaa~" setelah berkata demikian ia segera berlalu menuju kamar mandi di sudut kafe. Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
"Hhhh... hilang sudah kesempatanku untuk berbicara dengannya. Sebentar lagi pesanan kami datang, jika mengobrol sambil makan itu tidak sopan dan beresiko tersedak. Dan bila selesai makan pasti kita akan harus segera kembali" ditengah kecamuk pikiran yang mengganggu, aku melihat dua orang dengan tinggi yang berbeda dari jendela.
Yang satu berpakaian serba hitam dengan wajah tanpa alis namun matanya menatapku tajam dan yang satunya berambut jingga dan wajahnya mengekspresikan keterkejutan saat melihatku. Tanpa persiapan apapun, kaca jendela disampingku langsung pecah oleh serangan dari lelaki berambut hitam yang kukenal sebagai Akutagawa. Keributan di kafe langsung pecah seketika.
"Apa yang kau lalukan disini Akutagawa?" Tanyaku waspada.
"Tentu saja ingin menghalangimu bersama Dazai-san!" Jawabnya tegas.
Flash back off
Dazai-san terdiam dan menatap kami bertiga satu persatu. Jantungku berdegup kencang antara tegang dan penasaran akan jawaban Dazai-san. Kira-kira siapa yang akan ia pilih? Kuharap dia akan memilihku karena aku pun memilihnya sebagai alasan untuk hidup.
TBC
Apalah ini apalah, apapun itu semoga terhibur ya XD/
namidaneko12012 : Jangan dong, entar saya kebagian siapa coba? :v
Sabar neng, biarkan dia memilih saya /plaks. Makasih atas reviewnya . btw saya kan orangnya maruk, jadi saya bikin sudut banyak deh XD /plaks
