A Thousand Years

.

.

.

I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more

.

.

.

Disclaimer: Maid-sama! bukanlah punya saya melainkan punya Hiro Fujiwara-sensei

A Thousand Years adalah lagu Christina Perry sekaligus OST Breaking Dawn part 1. One of the best OST ever.

Beberapa plot adalah plot asli Kaichou wa Maid-sama!, dengan beberapa penyesuaian

.

.

.


"Misa-chan, cowok itu datang lagi tuh!"

Misaki mengintip dari balik tirai dapur dan mendapati kata-kata manajernya barusan benar adanya. Cowok itu duduk di sana, di mejanya yang biasa, dan sedang menatap keluar jendela tanpa minat. Tiba-tiba dia menoleh menatapnya, seolah tahu dia sedang menatapnya sedari tadi, dan tersenyum lebar. Senyuman yang bakal membuat hati wanita manapun takluk, Misaki mengakui dalam hati, kecuali aku, tambahnya. Ya, setidaknya itulah yang Misaki yakini selama ini.

Karena kafe sedang ramai-ramainya dan tidak ada maid lain yang luang, Misaki menghela napas panjang sebelum berjalan ke mejanya.

"Selamat siang, tuan. Mau pesan apa?" tanyanya dengan senyum yang diusahakan sewajar mungkin. Pemuda itu nyengir lebar menatapnya.

"Aku ingin memesan Misa-chan untuk diriku sendiri..."

"Maaf, tuan. Itu tak ada dalam menu kami," sela Misaki segera, yang baru kemudian sadar bahwa tindakannya barusan tidak sopan terhadap tamu, tapi pemuda itu tak terlihat marah atau keberatan.

"Begitu ya? Sayang sekali..." dia terlihat benar-benar kecewa, membuat Misaki gatal ingin memukul kepalanya. Tapi ini di kafe. Dia pelanggan dan aku pelayannya, batin Misaki sambil menarik napas dalam-dalam. Dengan berat hati dia urungkan ide menarik itu.

"Kalau begitu aku mau parfait, omelet, dan..." kemudian keluarlah sederetan nama makanan yang jumlahnya cukup untuk memberi makan satu kompi pasukan militer kecil dari mulutnya sementara Misaki ternganga mendengarnya. Apa dia serius? Misaki bertanya-tanya dalam hati sementara daftar yang keluar dari mulut Usui terus bertambah.

Setelah pulih dari rasa syoknya, Misaki berjalan sedikit limbung menuju dapur dan menyebutkan semua pesanan Usui pada koki tanpa melihat catatannya. "Eh? Itu... tidak mungkin untuk satu orang kan, Misa-chan?" tanya Chiharu, koki hari ini.

"Untuk satu orang," jawab Misaki sesingkat mungkin sebelum mengatupkan mulutnya rapat-rapat, takut kalau dia berkata lebih banyak, emosinya bakal meledak. Chiharu paham arti ekspresi Misaki dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Sementara menunggu pesanan pemuda alien itu selesai dibuat, Misaki memutuskan untuk menenangkan diri sejenak dengan menempelkan dahi di konter ubin yang dingin.

Sudah satu minggu berlalu semenjak Usui Takumi mengetahui rahasianya. Sejak saat itu hampir setiap hari pemuda itu datang ke kafe untuk... untuk... Misaki tidak tahu untuk apa. Tadinya dia pikir Usui ingin meledeknya tapi ternyata dia tak melakukan apa-apa kecuali menggodanya seperti tadi dan, nyaris sepanjang waktu, menatapnya. Hanya menatapnya. Bukan dengan tatapan yang aneh-aneh tapi tetap saja membuat Misaki risih dan kesal.

Ah, itu dia! Dia datang ke sini untuk membuatku kesal setengah mati! Misaki menyimpulkan, seratus persen yakin dengan kesimpulan yang baru saja dipikirkannya. Tangannya mengepal dan bibirnya gemetar menahan jeritan frustasi yang bercokol di tenggorokan. Kalau tidak begitu, apa lagi alasannya kedatangannya? Bukankah waktu itu dia bilang tidak tertarik dengan masalahku?

Misaki mengangkat wajahnya dan mengintip dari balik tirai dapur sekali lagi. Harus dia akui, pemuda itu memang sangat tampan. Tinggi, pandai, jago olah raga, dan konon bisa segalanya. Saking sempurnanya sampai membuat Misaki yakin dia bukan manusia biasa tapi alien. Bukan sekedar alien tapi juga alien mesum. Dan bukan hanya sekedar alien mesum tapi juga alien mesum sakit jiwa. Mana ada pemuda biasa yang setiap bertemu selalu bilang bahwa Misaki adalah maid pribadinya? Jelas-jelas itu salah satu jenis pelecehan, kan?

Serombongan gadis di salah satu meja menatap ke arah Usui dengan mata berbinar-binar dan saling berbisik satu sama lain. Pasti membicarakan betapa kerennya pemuda itu. Pemandangan semacam itu sering terlihat di sekolah dan walau awalnya Misaki tidak mengerti kenapa para gadis begitu memuja cowok yang setiap hari kerjanya hanya mematahkan hati itu, lama-lama dia mengerti alasan mereka. Minus sikap-sikapnya yang absurd di sekitar Misaki, kalau sedang diam seperti sekarang, Usui Takumi benar-benar menawan. Seandainya aku sama seperti gadis-gadis itu, mungkin aku juga sudah tergila-gila padanya...

Sayangnya, dia tidak sama seperti mereka.

Dia membenci laki-laki, amat sangat benci. Semua salah si bodoh Sakkun itu. Sosok yang dia percaya dan andalkan ternyata dengan mudahnya pergi meninggalkan keluarganya. Dia sok bersikap ksatria dengan niat mencari cara mengatasi masalah hutang keluarga mereka dengan pergi seorang diri, entah dengan rencana apa di kepalanya.

Begitulah sosok lelaki di mata Misaki: arogan, sok tahu, dan tidak bertanggung jawab.

Kelakuan liar siswa di SMA Seika membuat stereotip nya terhadap kaum laki-laki semakin kuat. Mereka jorok, menjijikkan, dan kasar. Berapa kali dia melihat para siswi yang jumlahnya tak seberapa itu terdesak, menangis, dan tak berdaya menghadapi kelakuan para hewan liar itu? Misaki tahu tidak semua laki-laki seperti itu. Tidak adil kalau menyama ratakan pribadi orang sesuai dengan sentimen pribadi. Jauh di lubuk hati dia masih menyimpan sosok ideal laki-laki impiannya: baik, dapat diandalkan, dan ksatria. Dia percaya bahwa, entah di bagian mana bumi ini, pasti ada pria seperti itu.

Waktu kecil ibunya sering membacakan dongeng sebelum tidur. Sosok para pangeran dalam cerita-cerita itu terpatri jelas dalam benak Misaki sampai sekarang. Pangeran yang rela menjelajahi dunia, mengalahkan sihir jahat, dan berkeliling negeri demi gadis yang dicintainya. Yang menggandeng tangannya dalam waltz yang anggun. Bersumpah demi rembulan akan selalu mencintainya sampai mati. Klise. Gombal. Tapi dalam dongeng, semua pemuda selalu menepati janji mereka.

Pemuda seperti itulah yang ditunggu Misaki selama ini.

Misaki tertawa pelan memikirkannya. Mimpi yang sangat kekanakan. Sangat perempuan. Mimpi yang pantas dimiliki gadis manis seperti Sakura, bukan dia. Seandainya pun ada pria seperti yang diimpikannya itu, memangnya dia mau dengan gadis yang dijuluki dengan sebutan iblis, setan, dan julukan-julukan mengerikan lain? Ah, sadar Misaki! Sudah saatnya kau terbangun dari impian konyol itu!

"Misaki-chan, pesanannya sudah siap!" seru Chiharu, membuyarkan lamunan Misaki.

"Ah, baik!" sahut Misaki sambil tergopoh-gopoh menghampiri konter di seberangnya. Sebelum keluar dari dapur, dia menarik napas dalam-dalam sekali lagi untuk menghadapi Usui kembali. Yang jelas, pikirnya sembari menatap lurus ke arah Usui yang tersenyum jahil begitu menyadari kedatangannya, Usui Takumi tidak mungkin adalah pria yang kutunggu selama ini.


Sudah jam 5 sore.

Misaki melirik jam dinding di ruang OSIS untuk yang kesepuluh kalinya sejak dua jam terakhir dan mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut. Kemana alien itu? Biasanya jam segini dia sudah datang. Misaki kaget dengan pikirannya barusan dan menggelengkan kepala kuat-kuat. Bukan... aku bukannya menunggunya. Aku hanya... waspada! Ya, waspada karena kedatangannya selalu membuat pekerjaan OSIS terganggu! Jadi wajar kalau aku bertanya-tanya kenapa dia belum datang jam segini seperti biasa, karena aku waspada!

"Eh, ketua?" panggil Yukimura takut-takut. Dia agak ngeri melihat kerutan dalam di dahi ketua OSISnya.

"Hm, ada apa Yukimura?"

"Semua pekerjaan OSIS untuk hari ini sudah selesai. Apa kami boleh pulang?" tanya pemuda berwajah imut itu. Misaki menyadari kalau hari sudah semakin sore dan tersentak kaget melihat langit mulai memerah. "Ah, maaf! Tentu saja kalian boleh pulang!" seru Misaki sambil menatap anggotanya satu-satu dengan sorot mata minta maaf.

"Tak apa, ketua. Kami pulang dulu," ujar salah satu anggota OSIS sebelum dia dan anggota lainnya mulai berkemas. Yukimura yang terakhir hendak keluar dari ruangan sementara Misaki masih duduk di mejanya.

"Ketua tidak pulang?" tanyanya melihat Misaki mencari-cari sesuatu di laci.

"Se, sebentar lagi. Aku akan pulang setelah menemukan benda yang kucari," gumam Misaki tanpa menatap Yukimura.

"Butuh bantuan, ketua?"

Misaki terlonjak mendengar tawaran barusan. "Tidak usah! Sudah, cepat pulang sana! Sebentar lagi gelap," ujar Misaki. Yukimura bingung melihat penolakan yang terlalu kuat itu tapi memutuskan untuk tidak bertanya.

"Kalau begitu, aku pulang dulu."

"Ya, selamat jalan!"

Setelah pintu ruang OSIS tertutup, Misaki bersandar di kursinya. Ah, apa yang kulakukan sih, sampai berbohong segala? rutuknya sambil lagi-lagi mengacak-acak rambut. Pekerjaannya juga sudah selesai dari tadi. Lalu apa lagi yang dia tunggu sampai menunda waktu kepulangannya?

Tentu saja dia tahu jawabannya, tapi untuk alasan yang tidak dia mengerti, rasanya enggan mengakuinya walau pada diri sendiri. Mungkin karena itu memalukan. Atau tidak masuk akal. Atau gabungan keduanya.

Dia enggan mengakui bahwa dia sedang menunggu Usui Takumi.

Entah sejak kapan Misaki terbiasa dengan keberadaan pemuda satu itu. Benar, dia menyebalkan. Benar, dia sering menggodanya. Dan benar, dia selalu membuat darahnya naik ke kepala. Tapi Usui juga, untuk alasan yang tidak dia pahami, selalu ada di sisinya. Membantunya tanpa diminta, mengajarkannya hal-hal mendasar yang tidak dia mengerti seperti cara bertoleransi pada orang lain secara adil, dan masih banyak lagi sampai Misaki tak bisa mengingatnya satu persatu. Usui Takumi, dengan alasan misterius sebagaimana dirinya sendiri, seakan-akan menjaga Misaki.

Sesuatu dalam diri Misaki bergerak-gerak gelisah. Dia biasa menjaga dan bukan dijaga. Perlakuan semacam itu membuatnya merasa lemah dan tak nyaman. Dia takut merasa tergantung terhadap hal itu. Cukup sekali dia merasa sakit karena menggantungkan diri pada orang lain yang pada akhirnya meninggalkannya. Kenapa sekarang, saat dia berhasil membulatkan tekad untuk jadi sosok yang diandalkan semua orang? Kenapa harus Usui Takumi?

Misaki bergidik menyadari bahwa dengan memikirkannya saja sudah membuktikan bahwa dia sudah terlibat terlalu jauh dengan pemuda bermata hijau itu. Sebegitu jauhnya sampai tanpa sadar, tanpa bisa dicegah, dia menunggunya saat ini. Bukan karena waspada tapi karena Misaki membutuhkan keberadaannya. Sudah sedalam itulah dia terperosok ke dalam situasi yang paling dia takuti selama ini.

Dulu, dimasa-masa awal perkenalan mereka, Misaki ingat pernah memikirkan tentang sosok pria idaman yang selama ini dia tunggu. Sosok yang baik, dapat diandalkan, dan ksatria. Dia juga ingat bahwa saat itu dia yakin bahwa siapapun orang yang memiliki kemungkinan menjadi sosok yang dia tunggu seumur hidupnya itu, sudah pasti bukan Usui Takumi. Sekarang pemikiran itu berbalik bagaikan bumerang kepadanya, menghantamnya keras-keras. Membuat dinding kokoh dalam hatinya retak dan hanya butuh waktu untuk hancur berkeping-keping. Membunuhnya pelan-pelan setiap kali dia berusaha menahan kekuatan penghancur keteguhan hati itu; setiap kali dia menyadari bahwa dia selalu, setiap hari, tanpa dia sadari sejak dulu, menunggunya. Pertama menunggu kedatangannya dalam hidupnya dan sekarang menunggu kehadirannya di sisinya.

Kenapa?

Itu pertanyaan besarnya tapi Misaki belum, dan tidak siap, untuk mengetahuinya. Setidaknya untuk saat ini.

"Hei, ketua. Kenapa masih ada di sekolah jam segini?"

Misaki berpaling cepat ke arah sumber suara barusan. Pemuda yang sejak tadi ditunggunya sedang bersandar di pintu sambil tersenyum kecil seperti biasa. Sinar matanya jahil. Misaki bisa menduga apa yang akan dia katakan selanjutnya.

"Apa ketua menungguku?"

Sang ketua OSIS langsung meledak marah dengan wajah merah padam. "Enak saja!" bantahnya sekuat tenaga, membuat Usui tertawa pelan sambil berjalan menuju meja Misaki.

"Ayo kita pulang, ketua," ujarnya sambil tersenyum.

Dengan wajah yang masih merah, Misaki mengangguk dan mulai berkemas.

Kelak, tidak lama lagi, Misaki akan segera mengetahui alasan mengapa dia selalu menunggu pemuda yang saat ini berjalan di belakangnya.


Kenapa aku merasa sangat kecewa saat dia melepas tanganku?

Misaki berdiri di tengah keramaian festival SMA Yumesaki sambil memandangi tangan kanannya. Beberapa saat lalu dia dan Usui baru saja memenangkan kontes konyol yang mereka ikuti karena ramalan gadungan yang menyatakan bahwa mereka tak ditakdirkan bersama. Ramalan bodoh. Karena itulah dia tidak menyukai hal-hal semacam itu. Semua ramalan itu tidak ada yang benar, hanya sekedar seni menebak jitu. Orang yang percaya ramalan hanya orang yang tidak punya pendirian dan tidak tahu cara menjalani hidup mereka.

Makanya dia kaget saat melihat Usui sangat percaya dengan ramalan itu. Misaki selalu berpikir bahwa pemuda itu bukan tipe orang yang mempercayai hal-hal seperti ramalan tapi buktinya dia...

"Ternyata kita tidak ditakdirkan bersama. Buktinya ketua selalu marah padaku."

Hei, hei, tunggu dulu. Apa-apaan itu? Aku selalu marah padamu karena kelakuanmu membuatku naik darah! Lagipula selama ini kau tidak terlihat keberatan menghadapi temperamenku tapi kenapa sekarang kau bicara seolah-olah...

... kau mau pergi dariku?

"Apa hal semacam itu akan membuatmu begitu mudah meninggalkanku?"

Misaki tidak sempat menghentikan kata-kata itu keluar dari mulutnya dan membelalak ngeri saat melihat ekspresi terkejut Usui di hadapannya. Belum sempat dia mengarang alasan kenapa dia mengatakannya tiba-tiba muncul orang-orang yang menyarankan agar mereka mengikuti kontes bernama love trial, yang dengan mudah mereka menangkan walaupun mereka harus bergandengan tangan sepanjang waktu. Rasanya aneh dan tidak nyaman hanya bisa memakai sebelah tangan tapi saat Usui melepaskan genggamannya barusan, Misaki merasa sesuatu yang penting tiba-tiba hilang dari genggamannya.

Beberapa saat kemudian ponsel Misaki berbunyi dan ternyata telepon itu dari Sakura. "Misaki? Misaki? Dengar, dengar! Sesuatu yang luar biasa terjadi! Saat ini, aku dan Shizuko..."

"Tu... tunggu Sakura. Pelan-pelan sedikit bicaranya..."

"... karena ituuu, kami sekarang..."

"Sebentar, Sakura..."

"Sini, biar aku yang bicara!" terdengar suara Shizuko di seberang sana. "Halo, Misaki."

"Shizuko? Ada apa?" tanya Misaki bingung.

"Begini Misaki, setelah konser, kami bertemu dengan anggota Yumemishi di belakang panggung dan mereka minta tolong sesuatu pada kami."

"Minta tolong apa?"

Shizuko menarik napas dalam-dalam sebelum berkata dengan nada sedatar mungkin. "Mereka minta kami membantu mereka agar bisa berkeliling festival seperti orang biasa."

Tepat saat itu seseorang muncul di hadapan Misaki. Dia memakai seragam siswa SMA Yumesaki dan kacamata tapi ada sesuatu yang sangat familier mengenai orang itu. Dia...

"Geh! Cewek kasar!"

"Kau!"

"Misaki? Ada apa?" tanya Shizuko. Nada bicaranya terdengar khawatir.

"Ti, tidak ada apa-apa," dusta Misaki sambil memelototi Sakurai Kuuga yang balas memelototinya. Diamnya Shizuko terdengar skeptis tapi sahabatnya itu tidak berkata apapun mengenai kebohongannya barusan.

"Jadi maafkan kami, Misaki. Sepertinya kita tidak bisa berkumpul lagi," ujar Shizuko.

"Begitu? Baiklah."

"Sekali lagi, maaf, Misaki," ujar Shizuko sebelum menutup teleponnya. Misaki menutup flap ponselnya dan memasukkannya ke kantong sebelum kembali memelototi Kuuga.

"Ternyata kau ada di sini juga," gumam pemuda itu.

"Tentu saja! Aku tidak mungkin membiarkan Sakura pergi menemuimu sendirian!" seru Misaki sambil melipat lengannya di dada.

Kuuga ber-cih melihat sikap protektif Misaki yang berlebihan. "Kau terlalu berlebihan melindunginya!" komentarnya sinis.

"Memangnya salah? Walau Sakura bilang kau sudah berubah, mana bisa aku percaya begitu saja!"

Wajah Kuuga memerah mendengar kata-kata Misaki barusan. "Dia bilang aku sudah berubah?" tanyanya dengan nada tak percaya. Misaki mengangguk mengiyakan.

Perlahan-lahan senyuman lembut memenuhi wajah sang vokalis band SMA itu. "Begitu ya?" gumamnya dengan nada lembut yang senada dengan senyumannya, membuat Misaki tercengang melihatnya. Kenapa dia berwajah seperti itu saat tahu Sakura menganggapnya sudah berubah? Seolah dia... terhadap Sakura...

Misaki menggelengkan kepala saat memikirkannya. Tapi tetap saja! Aku tetap tidak boleh lengah menghadapinya! Putusnya sambil lagi-lagi memelototi Kuuga. "Pokoknya ingat, kalau kau membuat Sakura menangis lagi..."

Kuuga mengibaskan tangan sebelum Misaki meneruskan kata-katanya. "Sudahlah, jangan urusi urusan kami! Urusi saja pacarmu itu!" selanya yang bosan mendengar ancaman Misaki. Begitu mendengar kata 'pacar,' wajah Misaki langsung merah padam.

"A, aku... siapa yang kau maksud?" gumamnya terbata-bata. Kuuga memutar bola mata mendengar pertanyaan barusan.

"Orang yang menyebut dirinya stalker di kafe waktu itu pacarmu, kan?"

Wajah Misaki semakin memerah mendengarnya. "Bu, bukan! Aku dan Usui bukan pasangan kekasih!" bantahnya sekuat tenaga. Kuuga terbelalak mendengar bantahan keras barusan.

"Kau serius ngomong begitu?" tanyanya tak percaya. Misaki menatapnya dengan tatapan bingung.

"Apa maksudmu?"

Kuuga mengerang putus asa sebelum menatap gadis yang berwajah bingung di hadapannya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat kasihan kepada pemuda yang... siapa namanya tadi? Usui? Kasihan dia, menyukai gadis tidak peka seperti ini. Lalu dia kembali menatap Misaki dan entah kenapa merasa kesal sekali melihat ketidak pekaan gadis itu.

"Dasar bodoh! Sikapmu yang seperti itu pasti yang membuatnya menahan diri selama ini!"

Setelah berseru begitu, Kuuga berjalan pergi sebelum emosinya bertambah tinggi, meninggalkan Misaki yang terbengong di belakangnya.

Menahan diri? Menahan diri dari apa? renung Misaki dan sadar bahwa ada saat-saat tertentu yang membuatnya berpikir kalau pemuda itu – maksudnya Usui – sedang menahan diri. Seperti saat menolongnya dari Igarashi Tora, di pantai setelah pertandingan voli, dan di sekolah alam liar. Cara pemuda itu menatapnya sangat berbeda dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan, ingin dia lakukan, tapi akhirnya tidak dia katakan dan lakukan.

Apa yang selama ini dia tahan?

Misaki juga sadar bahwa terkadang dia merasakan hal itu tapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Saat Usui menolongnya, saat mereka bersama, selalu... ada perasaan itu. Yang selalu ingin melompat keluar setiap kali wajahnya membara karena rasa malu yang amat sangat. Yang membuatnya melakukan dan mengatakan hal-hal yang tak dia mengerti seperti memeluk balik Usui yang menyusulnya saat ketakutan di hutan menuju pemandian dan seperti tadi, berkata secara tersirat bahwa dia tak ingin Usui meninggalkannya.

Peringatan tanda bahaya itu berdering lagi dalam hatinya.

Saat sedang berpikir begitu...

"Hei, ketua."

... tiba-tiba Usui datang, membuat jantung Misaki nyaris copot saking kagetnya. "Ada apa? Kenapa kaget begitu?" tanya pemuda itu saat Misaki menjerit melihatnya.

"Ka, kau..." Misaki membuka mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu tapi dia mengurungkan niatnya, "Tidak ada apa-apa," dia melanjutkan. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Usui mengerutkan dahi melihatnya.

"Pasti ada sesuatu," tuduhnya tepat sasaran.

"Sudah kubilang tidak apa-apa."

"Ketua, kau tidak pandai berbohong."

"..."

Usui kelihatan habis kesabaran melihat kebungkaman Misaki. "Ketua," ujarnya dengan nada mengancam, "apa yang terjadi?"

Saat itulah Misaki mengangkat wajahnya sedikit dan menjerit, "Sudah kubilang tidak apa-apa!" Wajahnya memancarkan ekspresi marah, bingung, campur frustasi. Dia juga tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Dia bingung. Sesuatu memberitahunya bahwa jawabannya sebenarnya sangat mudah, sudah beberapa lama dia ketahui dalam hatinya, tapi dia tahu dinding kokoh yang sudah retak-retak itu akan hancur seketika jika dia mengakuinya. Dan dia belum yakin apa dia siap untuk menghadapi apa yang ada dalam hatinya.

Melihat ekspresi Misaki yang terlihat bingung dan menderita, Usui memutuskan untuk tidak memaksanya lagi. "Maafkan aku, ketua. Bagaimana kalau kita menunggu kedua gadis itu di dekat gerbang saja?" usul Usui, jelas-jelas mencoba mengalihkan arah pembicaraan mereka.

"Ah, soal itu..." gumam Misaki, "belum lama Sakura menelepon kalau mereka tidak bisa berkumpul dengan kita," lanjutnya dengan suara sedikit lebih keras.

"Kenapa?"

Misaki bergerak-gerak gelisah mendengar pertanyaan itu. Setelah berbicara dengan Kuuga barusan rasanya untuk sementara dia tak sanggup membicarakan hal yang berhubungan dengan pemuda itu. Padahal alasan Sakura dan Shizuko tidak bisa berkumpul dengan mereka berhubungan erat dengannya. "Karena satu dan lain hal... semacam itulah," jawabnya. Usui menaikkan alis mendengar jawaban ambigu itu tapi ekspresi kalut Misaki membuatnya memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Kalau begitu, karena kita tidak ada urusan lagi di sini," Usui memulai, "bagaimana kalau kita pulang saja sekarang?"

Misaki mengangkat wajahnya secepat kilat. Iris keemasannya melebar menatap pemuda berambut madu di hadapannya. Dia ingin mengatakan sesuatu... bukan, dia harus mengatakan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat perasaan campur aduk yang sedang berkecamuk dalam hatinya berhenti membuatnya sesak napas.

Sesuatu yang bisa membuatnya bisa bersama Usui sedikit lebih lama lagi.

"Mu... mumpung sudah memenangkan tiket khusus, bagaimana kalau kita memakainya?"

Kata-kata itu keluar dari mulutnya begitu saja, dan tak hanya membuat Usui terbelalak kaget, tapi juga dirinya sendiri. Dengan cepat Misaki menguasai diri dan menambahkan buru-buru, "Kalau kau tidak mau, aku akan pergi sendiri..."

"Aku mau."

Lagi-lagi – entah untuk yang keberapa kalinya hari ini – mata Misaki terbelalak lebar. Di hadapannya Usui Takumi, pemuda yang diberinya julukan khusus 'alien stalker mesum sakit jiwa,' tersenyum lembut memandangnya. Senyuman yang berbeda dengan senyum jahilnya yang biasa, jenis yang membuat Misaki merasakan sensasi klise yang sebelumnya hanya pernah dia baca di novel-novel roman picisan:

Seolah kupu-kupu beterbangan di perutnya.

Jauh di lubuk hatinya, retakan tembok yang mengelilingi hatinya terancam luruh sepenuhnya.

.

.

.

Romeo dan Juliet? Yang benar saja...

Misaki merasa gugup saat diberitahu seperti apa tepatnya hadiah utama kuis yang dimenangkannya bersama Usui: menikmati acara kembang api sambil memakai kostum cantik. Dan karena kostum untuknya adalah kostum Juliet, dia tahu apa yang akan dipakai Usui dan tebakannya terbukti benar. Tapi tetap saja... ugh! Kenapa kostum pasangan kekasih tragis ini?

Saat ini Misaki dan Usui sedang berada di salah satu ruang kelas karena menurut tuan – serba – sempurna – yang – tahu – segala, pemandangan kembang api akan terlihat lebih jelas di sana. Misaki yang sibuk merasa gugup, malu, dan bingung setengah mati tidak sempat memikirkan alasan untuk menolak usulan Usui itu, terlebih karena argumennya masuk akal.

Mereka berdua terdiam sambil menatap keluar jendela, menunggu acara kembang api dimulai. Misaki bergerak-gerak gelisah sambil sesekali melirik Usui dari sudut matanya. Kata-kata Kuuga tadi siang kembali terngiang di telinganya.

"Dasar bodoh! Sikapmu yang seperti itu pasti yang membuatnya menahan diri selama ini!"

Apa selama ini dia benar-benar sedang menahan diri? Tapi menahan diri terhadap apa? Hampir sepanjang waktu pemuda bernama Usui Takumi ini selalu bertindak dan mengatakan hal-hal yang tidak serius. Saat sepertinya dia sedang serius, tiba-tiba keluar komentar konyol dari mulutnya. Di lain pihak saat dia kelihatan bercanda, tahu-tahu kata-kata dan tingkahnya membuat perasaan Misaki campur aduk.

Usui Takumi – tidak diragukan lagi – adalah sebuah enigma.

"Um, Usui..."

Gumam pelan Misaki membuat pemuda itu menoleh ke arahnya. Misaki berbalik menghadap Usui, menatap iris hijaunya , dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum perasaan itu datang lagi.

Rasa ragu itu.

Alarm tanda bahaya itu kini berdering nyaring di kepalanya. Apa aku siap menerima jawabannya? Dan yang lebih penting lagi, apa aku siap menghadapi perasaanku setelahnya?

'Konyol sekali, Misaki,'suara kecil dalam pikirannya seolah meledek. 'Sebenarnya sudah lama kau menyadari perasaannya dan perasaanmu, kan? Tapi kekeras kepalaanmu, seperti yang dibilang vokalis Yumemishi tadi siang, membuatmu menolak mengakui hal itu. Sekaligus membuat pemuda ini menahan diri, tak hanya sekali melainkan berkali-kali, demi dirimu.'

'Hentikan.'

'Tak heran Sakurai Kuuga kesal sekali tadi siang. Melihat kekeras kepalaanmu.'

'Kubilang hentikan.'

Misaki terus berdebat dengan suara kecil dalam kepalanya tapi ada satu hal yang dia setujui dari suara yang mengganggu itu, bahwa dia harus memberanikan diri untuk memastikan apa yang membuat Usui menahan diri selama ini.

'Padahal kau sudah tahu.'

'Itu tidak benar!' Misaki membantah kata-kata itu sekuat tenaga. Di hadapannya Usui menunggu, menatapnya dengan ekspresi bingung. Dia harus memulainya. Dia harus membuktikan kalau... kalau...

Kalau apa?

Misaki menatap Usui semakin lekat, teringat semua yang telah pemuda itu lakukan untuknya. Pengorbanannya, senyum dipaksakan yang terkadang muncul di bibirnya...

"Se, selama ini kau menahan diri, ya?"

Usui terlihat kaget mendengar pertanyaan barusan. "Menahan diri? Menahan diri terhadap apa?" tanyanya bingung.

"Terhadap aku... dan yang lainnya... apa kau menahan dirimu?"

Jantung Misaki berdegup dua – tidak – tiga kali lebih cepat dari pada biasanya. Wajahnya yang memerah dipenuhi tekad kuat untuk mengetahui jawaban Usui, memutuskan mengesampingkan perasaannya sendiri untuk sementara.

Hening lama sebelum...

"... Kau curang sekali, Ayuzawa."

Perlahan Usui melangkah mendekatinya, membuat jantung Misaki yang sudah maraton sejak tadi berdetak lebih cepat, kalau itu mungkin. Pemuda itu menunduk sampai wajahnya sejajar dengan wajah Misaki dan semakin lama semakin dekat... dan dekat...

"Apa Ayuzawa juga menahan diri terhadapku? Hm?"

Misaki mundur selangkah begitu menyadari hidung mereka nyaris bersentuhan. "Bi, bicara apa kau, Usui? Aku bertanya padamu!"

Usui memiringkan kepala dan menatap kedua bola mata Misaki dalam-dalam. "Tapi aku juga ingin mengetahu perasaan Ayuzawa."

Itu dia.

Misaki meremas dadanya saat suara dalam kepalanya berseru kegirangan. 'Dia ingin tahu perasaanmu juga, gadis bodoh! Dia mengaku perasaannya dan menyadari perasaanmu!'

'Ti, tidak.'

'Kau bukan satu-satunya yang merasa bingung selama ini, tapi dia masih lebih baik karena mengakui perasaannya dan tidak pura-pura buta akan sekeliling seperti dirimu!'

Suara itu semakin keras dan berani, membuat Misaki ingin menutup telinga batinnya rapat-rapat. Wajahnya menyiratkan kebingungan, penolakan, dan ekspresi yang nyaris menyamai raut wajah orang yang sedang disiksa mentalnya.

Usui menyadari emosi-emosi itu dan perlahan mulai menjauh. "Maaf, aku terlalu jauh menggodamu, Ayuzawa," ujarnya lembut sebelum kemudian kembali menatap keluar jendela, "bagaimana kalau kita menonton kembang api dari halaman saja? Dari sana juga terlihat jelas," usulnya, sama sekali tidak menyadari Misaki yang menatapnya dengan sorot mata ngeri. Ngeri menyadari kekosongan di mata Usui sesaat sebelum berpaling darinya.

Seolah dia sudah menyerah terhadapku.

'Krak!'

Seketika tembok terakhir yang menamengi hatinya jebol, memperlihatkan sebentuk perasaan yang telanjang. Perasaan yang tidak kecil, menunjukkan bahwa, seperti yang dibilang suara dalam kepalanya, perasaan itu sudah lahir sejak lama. Hanya saja dia terlalu kekanakan dan keras kepala untuk mengakuinya. Dan saat Usui tampak mulai menjauh dari hatinya, perasaan yang menggelembung itu mengepakkan sayap lemahnya, mati-matian meraih akal sehatnya.

Aku sudah mencintainya sejak dahulu sekali.

Dan saat ini aku tidak boleh membiarkannya pergi dariku.

Misaki mengulurkan tangannya dan mencengkram ujung baju Usui yang berjalan menjauhinya.

"Benar, selama ini aku menahan diri." Misaki mulai buka suara. Usui terlihat kaget tapi tetap diam dan mendengarkan baik-baik apa yang akan Misaki katakan selanjutnya.

"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi... kenapa jadi begini? Kenapa Usui? Kau selalu menggodaku, mempermainkanku. Aku tidak tahu isi hatimu yang sebenarnya. Kau selalu saja membuatku bingung..."

Kata-kata itu mengalir dari bibir Misaki nyaris tanpa jeda, membuat Usui bingung. "Hei, Ayuzawa..."

"... aku tidak mengerti kapan kau serius, kapan kau bercanda..."

"Tenanglah, Ayuzawa."

"Kau..." Misaki berhenti sejenak untuk menatap mata Usui lurus-lurus sebelum meneruskan kata-katanya, isi hatinya. Kata-kata yang paling menunjukkan apa yang dia rasakan selama ini terhadap pemuda itu:

"... Hanya kau satu-satunya orang yang dapat mengacaukan hatiku."

Usui tercengang mendengar kata-kata Misaki barusan. Sejenak dia mengira bahwa dia salah dengar tapi melihat ekspresi Misaki di hadapannya, dia tahu kalau yang baru saja dia dengar bukan hanya perasaannya saja.

Usui berbalik dan kembali berdiri tepat di hadapan Misaki. Ekspresinya tak terbaca. "Mulanya aku berada di dekatmu karena merasa tertarik melihat ekspresimu," ujarnya setelah beberapa lama terdiam.

Misaki mendengarkan kata-katanya dalam diam. "Ketua OSIS galak yang memiliki ekspresi-ekspresi tak terduga," dia tertawa pelan seolah sedang mengingat hal lucu. Misaki, walau merasa agak kesal melihat Usui jelas-jelas menertawainya, tetap diam menanti kata-kata selanjutnya.

"Tapi lama-lama bukan hanya itu saja," desahnya sambil kembali menunduk hingga wajahnya dan Misaki sejajar. Kali ini ekspresinya terlihat jelas. Misaki bisa melihat semburat merah muda di wajahnya. "Kau bertanya selama ini aku menahan diri terhadap apa? Saat ini ada sesuatu yang terpikir olehku."

Perlahan namun pasti, kedua telapak tangannya menrengkuh wajah Misaki. Senyuman yang berbeda dari senyuman jahil ataupun senyuman lembut sebelumnya tersungging di bibirnya. Senyuman bahagia.

"Bahwa aku menyukaimu, Ayuzawa."

Dan dunia Misaki pun berubah.

Kata-kata Usui menggema di kepalanya, menyusupi seluruh pori-pori, tubuhnya, menggaungkan kata yang sama.

Aku juga menyukaimu.

Wajah Usui terlihat semakin dekat, dekat, dan dekat... sebelum...

Boom! Boom!

Acara kembang api sudah dimulai. Bunga terang berwarna-warni mekar di langit malam. Dentumannya menggema sampai ke jantung semua orang.

Berlatar langit penuh warna, sepasang insan yang saling jatuh cinta menyatakan ikrar cinta mereka tanpa suara.


Dua tahun kemudian...

"Hei, Ayuzawa."

Saat ini Misaki dan Usui sedang berada di Maid Latte sepulang kerja. Mereka duduk di salah satu konter dapur setelah selesai makan malam.

"Apa?" tanya Misaki tanpa melihat Usui, sibuk merapikan bekas makan mereka berdua dan berjalan ke konter seberang untuk mencuci piring di wastafel.

"Sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"

Misaki langsung menoleh cepat ke arah tunangannya dan bersiap mengomel sebelum melihat keseriusan di wajah yang sebelumnya dia kira sedang sedang menggodanya. Wajahnya langsung merah padam. "Ke, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Hanya penasaran."

Misaki terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara kecil. "Aku tidak tahu."

"Sungguh?"

Terdengar nada skeptis dalam pertanyaan barusan. "Sungguh!" jawab Misaki setengah berteriak. Usui tertawa melihat reaksi berlebihan tunangan tersayangnya barusan.

"Baiklah, kalau kau tidak mau bilang..." gumamnya dengan nada pura-pura kecewa. Sekilas, sesuatu melintas di sorot matanya. Sesuatu yang membuat Misaki otomatis mengatakan hal yang tidak terduga.

"Aku cinta padamu."

Usui dikejutkan oleh kata-kata barusan. Memang ini bukan pertama kalinya Misaki mengatakan hal itu tapi dia bukan tipe yang mengatakannya, seperti dirinya sendiri, tiga kali sehari. Jarang sekali.

Misaki menatapnya dengan wajah merona dari seberang konter. "Yang penting saat ini aku mencintaimu, kan? Apakah penting mengetahui kapan perasaan ini dimulai?" tanyanya sungguh-sungguh. Usui tersenyum sambil berjalan menghampirinya dan kemudian meraup gadis itu dalam pelukannya.

"Tidak," jawabnya sebelum menyentuhkan bibirnya ke bibir Misaki.

.

.

.

Sebenarnya sejak kapan perasaan ini dimulai?

Sebenarnya Misaki antara tahu dan tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Apa sejak dia menyadari bahwa Usui adalah sososk yang dia tunggu nyaris seumur hidupnya? Atau sejak dia sadar bahwa dia tidak tahan kalau Usui tidak ada di sisinya?

Lagipula, apa itu penting? Yang terpenting adalah kenyataan bahwa perasaannya sudah dimulai jauh sebelum hari ini... Benar begitu, bukan?

Mungkin, tanpa dia sadari, dia sudah menyukai pemuda itu lebih dahulu.

Misaki mengingat sorot mata yang terlintas di mata Usui sebelum dia berkata cinta pada pemuda itu. Seolah tidak yakin bahwa aku akan menanggapi pertanyaannya dengan serius, batin Misaki sambil memutar bola matanya.

Tak usah cemas, Usui.

Mungkin... sudah sejak lama sekali aku jatuh cinta padamu. Jauh sebelum aku bertemu denganmu.

Selama seribu tahun...

... dan aku akan terus mencintaimu seribu tahun lagi.


Author's note: Chapter dua kelar! Akhirnya!

Entah kenapa chapter ini lebih panjang dari sebelumnya. Mungkin karena perasaan Misaki lebih rumit dari perasaan Usui? Dia kebanyakan menolak perasaannya sebelum akhirnya mengakui bahwa dia menyukai Usui.

Itu, dan karena sampe setengah jalan liriknya stuck sampe bait pertama dan nggak lanjut-lanjut. *buka kartu*

Terima kasih atas review yang udah masuk di chapter pertama! Tanpa review-review itu, mungkin cerita ini di lanjutinnya entah kapan tau...

Well, please feel free to RnR!