Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto (-sama)

My white cat chapter 2

.

.

.

Sai terbangun dengan (tetap) berwujud kucing. Setelah menyendiri dan marah-marah pada Orochimaru serta berniat untuk melaporkannya pada kakeknya, akhirnya Orochimaru berjanji untuk membuatkan ramuan penawar untuk mengubah Sai menjadi manusia lagi. Pada awalnya Orochimaru sangatlah terpaksa, namun bayangan imbalan jika ramuan beserta penawarnya yang berfungsi secara efektif segera membayang-bayangi matanya.

Setelah beberapa hari mengkarantina diri di rumah, akhirnya Sai bosan juga. Dia mencoba untuk melompat dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi.

Dia hanya menatap 'nanar' pada gayung yang tidak bisa dia pegang. Ujung-ujungnya dia hanya mendorong bak plastic sebagai pijakan untuk menyalakan shower. Dengan bersusah payah akhirnya dia berhasil untuk mandi.

Setelah berguling-guling di atas handuk akhirnya dia berjalan menuju ke ruang makan. Dilihatnya Kabuto, seorang guru dari sebuah sekolah sihir yang merupakan mantan murid Orochimaru sedang ada di ruang tamu. Sai berniat untuk datang dan menyapa namun menyadari bentuknya yang sekarang ini ujung-ujungnya dia hanya menatap dari kejauhan.

Merasa diawasi, Kabuto menoleh ke arah Sai. dia menghampiri Sai. Sai yang belum terbiasa dengan wujud barunya mengucapkan sapaan yang terdengar 'meong-meong' di telinga Kabuto.

" Heh? Ternyata kau menyapaku? Sebagai kucing kau imut juga ya…. Kalau kau datang ke arah sekumpulan cewek, kujamin kau akan dimanja. Kau penghuni baru ya disini?" ucap Kabuto seraya mengusap kepala Sai.

Muncul perempatan di jidat Sai.

'Penghuni baru apanya! Aku ini Sai!'

Namun yang terdengar hanya suara kucing biasa. Sai yang 'putus asa' segera meninggalkan Kabuto keluar rumah. Kabuto yang melihat itu merasakan keganjilan.

"Aneh, bukankah kucing berjalan dengan empat kaki? Ini malah dua kaki. Apa ini hasil dari eksperimen Orochimaru-sensei ya?" ucap Kabuto seraya memegang dagunya.

Sai's POV

Gila! Masa aku dikira penghuni baru! Memang sih, aku baru jadi kucing selama seminggu. Tapi setidaknya! Dia kan guru di sekolah sihir. Bahkan aku pernah sekolah disana dan parahnya lagi katanya dia bsia melihat jiwa seseorang. Dan sekarang?

Masa bodoh lah!

Aku melihat ada segerombolan anak kecil yang berjalan ke arahku. Aku segera membetulkan posisiku dan bersikap selayaknya kucing putih yang imut-imut. Mereka melihat ke arahku. Seorang anak perempuan yang kuperkirakan masih TK menghampiriku dan mengelus kepalaku.

Yah, meskipun bisa dibilang 'gerakannya' itu mirip seperti seseorang yang mau menguliti kulit kepalaku. Seorang ibu muda datang menghampiri kami.

" Aduh Misa-chan, jangan kasar-kasar donk! Nanti kalau dia marah dan mencakar ataupun menggigit kamu, nanti bisa rabies," ucap ibu muda itu yang bisa kuasumsikan sebagai ibu dari anak ini.

Sebentar…..

.

.

Rabies?

.

.

Woy! Menasehati sih menasehati! Tapi tidak begini juga kali!

"Kaa-san. kucingnya lari…..huwe…."

Hah! Lebih baik aku pergi daripada sakit hati melulu mendengarkan suara seorang ibu muda yang ingin membujuk secara halus anaknya tanpa memikirkan perasaan lain di sekitarnya! Dari jauh aku bisa mendengar anak perempuan itu menangis. Sebenarnya sih tidak tega melihat anak sekecil itu menangis. Tapi apa boleh buat?

Aku memang egois ne?

Aku mulai membenarkan posisiku sebagai kucing. Aku mulai belajar berjalan dengan empat kaki. Meskipun agak susah sih…

Satu dua satu dua

Oh ya, kalau dipikir-pikir kenapa aku berjalan ke arah kampus ya? Yah, lebih baik main-main ke kampus sajalah daripada mengkarantina diri di rumah Oro-jiisan. Tapi…

.

.

.

Ini sudah dua jam dan aku masih menempuh setengah perjalanan. Capek….

Tapi aku harus berusaha. Tidak kusangka ketika aku berwujud manusia aku sanggup berlari sampai ke kampus dan masih menyimpan cukup tenaga. Tapi sekarang? Yah! Ganbatte Sai!

.

.

.

Akhirnya aku sampai juga di kampus. Suasananya memang rame seperti baisanya. Aku bisa melihat para kouhai yang sibuk berlalu lalang. Aku hanya duduk di atas pegangan tangga yang bawah sambil mengerak-gerakkan ekorku ke kiri dan ke kanan. Sejak kapan aku menikmati peranku menjadi seekor kucing?

Beberapa mahasiswi yang lewat masih menyempatkan diri untuk mengelus kepalaku. Bahkan ada yang duduk di sampingku dan membagi makanan yang sedang mereka makan. daripada kelaparan, mendingan terima saja.

Waktu terus berlalu dan kampus mulai sepi. Sudah jarang ada yang lewat disini. tapi aku masih ingin tinggal disini.

"Wah… imutnya kusing itu! Ayo Tenten! Kita datangi tuh kucing!"

Aku menoleh ke arah sumber suara. Kulihat seorang mahasiswi yang berlari ke arahku sambil menggandeng seorang mahasiswi lain. Kulihat poni pirangnya yang bergerak-gerak ditiup angin.

Hmmmm cantik juga. Tapi kurasa dia agak centil dan lebih mementingkan mode.

Dia menggendongku tanpa ijin. Lalu dia meletakkanku di atas pangkuannya. Aku hanya menurut. Ternyata benar apa yang telah dikatakan oleh Kabuto-san. Aku benar-benar dimanja. Dia mengelus tubuhku dengan lembut dan aku pun berbaring di pangkuannya. Kurasa dia senang bukan main.

" Ih! Imutnya! "

Dia mulai mengangkatku dan memelukku…..

Woi!

Ini terlalu dekat !

Terlalu dekat!

Tolong!

Sai's POV end

Beberapa menit yang lalu….

Ino yang merasa melihat 'penampakan' kucing idamannya segera berjalan sambil menggandeng tangan teman se-fakultasnya. Tenten.

" Wah… imutnya kucing itu! Ayo Tenten! Kita datangi tuh kucing!"

Mereka segera berlari kea rah sang kucing dan dengan secepat kilat Ino menggendong kucing itu dan memangkunya. Lalu dia mengelus tubuh kucing itu. Yang dipangku hanya menurut. Membuat Ino senang bukan main. Tak jarang dia 'memungut' kucing di jalan dan berakhir dengan cakaran yang tidak bisa dibilang sedikit.

Entah karena saking imutnya, Ino menjadi gemas dan berniat untuk memeluk kucing itu. Awalnya kucing itu menurut namun ketika wajah kucing itu mendekati dadanya, sontak kucing itu meronta-ronta dan meminta untuk dilepaskan. Ino sweatdrop, aneh sekali kelakuan si kucing ini. namun hal itu tidak membuat semangatnya untuk memiliki kucing itu pudar. Malah semakin menjadi-jadi.

" Hey Tenten, kira-kira kucing ini punya majikan ga ya?" Tanya Ino pada Tenten. Tenten hanya menggeleng.

" Kurasa dia punya. Lihat saja bulunya yang bersih itu. Kurasa dia punya majikan yang tiap hari memandikannya. Tuh lihat, telinganya, bulunya, bersih semuanya," jawab Tenten. Ino memeriksa keadaan kucing yang masih meronta-ronta itu. Dia bahkan bisa mencium wangi sabun di tubuh sang kucing.

" He? Tapi bener juga ya? Dia juga wangi sabun. Pasti yang punya orang kaya nih. Tiap hari dimandiin terus," ucap Ino seraya mencium kepala kucing itu. " Wangi."

Diam-diam Ino memandang dengan tatapn mencurigakan ke arah Tenten. Tenten yang menyadari hal itu mulai was-was. Pandangan itu benar-benar pandangan yang berbahaya.

" Ne Tenten, kalo aku bawa ke rumah nih kucing, kira-kira da yang nyari ga ya?" Tanya Ino. Tenten menghela napas.

'tuh kan! Sudah kuduga!' ucap Tenten dalam hati. sisi 'kriminalitas' Ino mulai muncul. Kalo sudah begini, Tenten yakin tidak ada yang bia menghentikan Ino.

" Heh! Kau mau mencuri kucing? Gimana kalau ada yang nyari? Nih kucing pasti punya majikan tahu!" ucap Tenten. Sedangkan kucing yang masih didekap oleh Ino mulai menggeliat berusaha untuk melepaskan diri namun pegangan Ino sangat kuat sehingga kucing itu hanya pasrah.

Ino tersenyum kea rah Tenten. Senyum bahagia dan antusias.

" Aku tak peduli. Ne kucing yang imut,kau mau kan ikut denganku?"

.

.

.

.

To be continued

.

.

Ada yang mau review? Gomen update-nya lama ==.