Father And Daughter

Summary:

Kontras dengan penampilan dan cara pandangnya yang sangat toleran, ternyata Aizen ayah yang konservatif. Pada akhirnya, dia merestui putrinya dengan Ichigo. Extended.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Semua karakter yang ada hanyalah milik Kubo Tite-sensei.

.-.-.

Rukia sudah sampai halaman depan ketika ayahnya memanggilnya.

"Mau kemana?" tanya Aizen sembari tetap mencuci mobil coklatnya.

Si putri tidak menghentikan langkahnya. "Ke convenient store sebentar, Yah. Beli roti."

"Eh eh, sebentar," seru ayahnya lantang.

Rukia terkejut, apalagi diperhatikannya wajah sang ayah sangat serius. Buru-buru dia mengitari mobil. "Ada apa?" tanyanya cemas.

Ayahnya malah melirik kakinya. "Pakai sandal yang Ayah belikan kemarin saja. Jangan yang itu, nanti kau tersandung."

"Hmmph," Rukia mendengus dongkol. Dia memang pendek dan kecil, tapi tidak sekecil itu sampai bisa terjerembab gara-gara sandal.

Aizen nyengir kecil, mencoba menahan tawa melihat raut muka jengkel Rukia. "Kalau wajahmu seperti itu, nanti tidak dapat pacar, lho," guraunya.

"Ayah, sih," balas Rukia keki. Dia sudah mau beranjak ketika ayahnya memanggilnya lagi.

"Omong-omong Rukia, kau mau keluar rumah pakai baju seperti itu?" kali ini Aizen berkata lembut sekali, sampai-sampai Rukia kembali cemas. Bukannya tanpa alasan. Aizen hanya menggunakan nada seperti itu kalau Rukia melakukan suatu kesalahan yang hampir tidak bisa ditoleri lagi.

Rukia meneliti yang dikenakannya. Kaus rumahan dan bermuda. Lebih tepatnya celana pendek di atas lutut beberapa senti. "Memang kenapa, Yah?" ujarnya penasaran.

"Masuk ke dalam, ganti celana," kata Aizen serius. Wajahnya tak kalah serius.

"Aduh, Ayah, tidak akan ada yang memperhatikan, kok," protes Rukia. "Kakiku kan kecil, tidak menarik kok. Lagi pula, letaknya dekat. Tidak akan banyak ketemu orang," ucapnya lagi mencari alasan.

Aizen menghela napas, rupa wajahnya sangat tenang. Saking tenangnya, Rukia sampai menelan ludah. "Kau cantik, Rukia. Tapi cantiknya hilang sedikit kalau keluar dengan baju seperti itu. Kalau di rumah, memang tidak apa-apa."

Tanpa banyak komentar Rukia masuk dan memakai celana agak panjang. Berbeda sekali dengan Ibu, katanya dalam hati. Ibu Rukia tidak banyak komentar tentang busana yang dikenakannya. Mau pakai tertutup atau agak seksi, tidak ada larangan. Ayahnya lebih galak dan konservatif.

"Kau lebih beruntung, Rukia," komentar Senna, teman satu kampusnya. "Aku saja sampai tidak diakui anak sama ayahku gara-gara hal sama sepertimu." Rukia tergelak. "Ayah menyuruhku membantunya mendorong mobil. Ketika tahu-tahu aku keluar dengan tank top dan hot pants super duper mini –namanya saja hot pants, kubeli di convenient store terdekat dengan harapan sebagai dalaman untuk rok, untuk info saja. Tipis banget kok, gak akan kupakai keluar rumah untuk jalan-jalan. Sekedar info, sekali lagi- Ayah langsung heboh. Dengan menggelegar dia berteriak tidak mengakuiku sebagai anak. Berat hati, aku kembali masuk dan pakai jaket."

Rukia terpingkal-pingkal sampai keluar air mata. Untungnya, Aizen tidak pernah sampai tidak mengakuinya anak cuma gara-gara baju pendek. Ayahnya tidak pernah menegurnya dengan keras. Kata-katanya pelan tapi dalam. Lembut namun menusuk.

Sering Rukia membatin, pria macam apa yang bakal mendapat restu ayahnya. Setengah bercanda, dulu Aizen pernah mengungkapkan,"Pokoknya harus lebih pintar, lebih cakep dari Ayah. Kalau kurang sedikit saja, tidak akan Ayah izinkan."

Saat itu Rukia menertawakan ayahnya. "Ayah pede sekali," katanya kemudian sambil cemberut.

Pertemuannya dengan Ichigo terjadi di rumah sakit. Musim panas itu Rukia sakit mata. Obat tetes yang biasanya diiklankan di tv tidak mempan, jadi akhirnya dia memutuskan ke dokter.

Dia memilih ke rumah sakit umum, dan saat tidak ada kelas hari itu, dia ke sana sendiri. Rasanya aneh sekali ke rumah sakit tanpa ada yang menemani. Ayah dan ibunya bekerja, dan karena sejak masuk bangku perkuliahan sudah memutuskan untuk belajar mandiri dan mengerjakan semuanya sendiri, dengan tekad baja Rukia berangkat sendiri.

Ternyata sudah banyak pasien yang mengantri, semuanya dengan keluhan yang sama dengannya. Ketika berhadapan dengan dokter muda yang menanganinya, Rukia tidak bisa menahan rasa herannya melihat warna oranye menyala. Warna rambut dokternya.

Selain warna rambutnya yang menjengkelkan, Dokter Ichigo Kurosaki –berdasarkan nama yang tersemat- lumayan tampan.

"Nona Rukia, saya akan memeriksa mata Anda," katanya. "Buka matanya, pejamkan, buka lagi."

Rukia menurut.

"Ada kebiruan di sekitar mata," gumam si dokter pada pasiennya. "Sakit kan?"

"Iya, Dok," jawab Rukia. "Sudah lama tapi kok belum sembuh?"

"Alergi debu," kata Dokter Ichigo langsung. "Musim seperti ini hal itu wajar terjadi. Hmm, sepertinya alergi sinar matahari juga." Melihat Rukia yang melotot tidak percaya, dia melanjutkan. "Kalau keluar, pakai topi atau payung," sarannya.

"Baik," sahut Rukia ragu.

"Ini resepnya," si dokter mencoret di kertas putih, tulisannya seperti cakar ayam. "Meski obat tetes, rasa pahit bisa mampir di tenggorokan," katanya mengingatkan. "Minggu depan kontrol lagi, Nona."

"Iya, Dok," ujar Rukia pendek.

"Hentikan dulu mengkonsumsi daging, telur dan hasil laut," sarannya lagi.

Ternyata obat tetes dengan resep yang dibelinya di apotek itu benar-benar pahit. Temannya dulu pernah memperingatkan tapi gadis muda itu tidak percaya. Mana ada obat tetes mata yang bisa menyebabkan rasa pahit di tenggorokan? Tapi sayangnya itu benar.

Di pertemuan kedua mereka di rumah sakit, Ichigo berbincang dengan Rukia. Dari situ mereka bertukar nomor ponsel, berlanjut ke pertemuan berikutnya –diluar rumah sakit-, sampai akhirnya menjalin hubungan dan bertunangan.

Rukia menyangka Aizen akan banyak berkomentar tentang Ichigo. Mengherankan sekali ternyata sang ayah malah memberikan dukungan dan restunya.

"Ichigo pria yang baik untukmu," jawab Aizen saat Rukia bertanya. "Dia muda, tidak jelek, tidak bertato atau bertindik, dan rambutnya pendek. Apa lagi?"

Oh oh, ternyata kriteria calon menantu masih berlaku bagi Aizen. Toh Rukia tidak protes. Dia benar-benar menyayangi Ichigo dan bahagia bisa bersama dengannya.

.-.-.

"Rukia, tunanganmu sudah datang," kata Aizen membuyarkan lamunan Rukia.

Sekali lagi mengerling ke cincin emas polos di jari manisnya, kemudian gadis itu bangkit menyambut Ichigo.

"Halo, Rukia sayang," Ichigo tersenyum melihat tunangannya.

"Halo juga, Pak Dokter."

.-.-.

The End

A/N: Sebenarnya yang di chapter kemarin, saya merasa masih banyak yang ingin saya gali tentang Aizen, Rukia dan Ichigo. Tapi karena sudah lebih dari dua ribu kata, saya akhirnya menghentikan cerita saya. Maksud hati hanya ingin menjadikan Father And Daughter one-shot, tapi karena terlanjur kebelet, saya tambahkan satu episode/chapter terakhir.

Seperti Aizen, bapak saya juga seperti itu. Kadang kalau saya mau keluar, dengan serius beliau memanggil saya. Saya sudah tergopoh-gopoh menghampiri, eh, bapak cuma mengingatkan supaya saya memakai sandal jepit yang terkecil. Takutnya nanti di jalan saya terserimpet. Hmph. Diantara saudara saya, meskipun anak pertama, saya yang terkecil dan terpendek. Adek lebih tinggi dari saya. Tapi sebal juga diingatkan seperti itu.

Dua musim kemarau berturut-turut saya sakit mata. Memang dokter di rumah sakit masih muda dan cakep. Namun saya tidak seberuntung Rukia yang akhirnya bisa berkenalan dan bertunangan dengan Dokter Ichigo.