Joonmyeon-Yixing: Histoire!
Su-Lay / Joon-Xing
Romance-Friendship-School life
#Disclaimer: Daddy-Joon sama Mommy-Xing bukan punya saya. Saya yang punya ide, plot dan cerita ini. Ide cerita diambil dari kisah nyata saya di sekolah baru –silahkan percaya atao nggak/? Pokoknya, ini fic dibawah kuasa Hwang0203
.
Our story part 2: Lorong!
.
Suara riuh para supporter –baik di pinggir lapangan maupun di bangku penonton– itu membuat telingaku berdenging ngeri. Baekhyun apalagi; dia tengah menyemangati Park Chanyeol dari kelas sebelah daripada harus tim dari kelasnya sendiri. Dasar. Ngomong-ngomong, kami teman sekelas.
Aku ingin ke perpustakaan. Disana tenang dan aku bisa sebebas apapun. Atau aku ingin ke ruang musik yang selalu kosong. Disana aku bisa memetik senar gitar menghasilkan nada yang bagus.
"Kamu sendirian aja sana! Chanyeol lagi tanding sama kakak kelas nih!"
Sekali lagi, aku ingin mengumpat pada Baekhyun.
Aku tidak peduli lagi, mencoba menerobos kumpulan manusia yang ingin menonton pertandingan antar kelas. Aku tidak peduli. Karena nyatanya aku benci keramaian pada objek yang tidak membuatku tertarik.
Lorong yang kulewati sepi. Hanya sedikit murid yang memilih tinggal di kelas. Apalagi lorong satu-satunya menuju lapangan adalah lorong para kakak kelas paling atas. Hierarki paling tinggi, kata Kyungsoo tempo hari lalu saat pemuda mungil itu terkena gertakan senior yang sok berkuasa di lorong ini juga.
Dan di ujung belokan menuju Hierarki Senior-Kelas-Sebelas, pemuda pendek (yah, aku lebih pendek sekitaran 5 senti sih) itu berjalan berlawanan arah denganku. Ah, sepertinya dia juga ikut bermain futsal nanti atau jadi wasit. Bisa dilihat dari pakaian olah raga yang dipakai dan juga peluit yang dikalungkan.
"Kamu!" telunjuknya mengarah padaku. Matanya memincing tajam dan aku tidak suka caranya memperlakukanku seperti siswa kurang ajar.
"Kamu peserta futsal ya? Kok masih pakai seragam putih abu-abu?"
"Saya nggak main, Kak. Nggak bisa futsal."
"Kalo gitu kok pakai kaos kaki hitam? Senin sampai Rabu jadwalnya pakai yang putih!"
"Kan mana tahu. Dari awal LOS sampai sekarang nggak ada undang-undang kaos kaki."
"Kenapa masih keluyuran?! Nggak denger speaker pengumuman bilang 'Semua murid harus berada di lapangan utama'?!" bola matanya sudah melotot marah. Aku ingin tertawa tapi bukan saatnya.
"Tuh," daguku menunjuk kelas yang dihuni senior kelas Sebelas. Beberapa dari mereka ada yang tidur, bermain ponsel atau sekedar iseng mencoret-coret papan tulis yang bersih. "Mereka nggak Kakak hukum? Mereka juga ada di dalam kelas kan?"
Si Ketua Umum ber-tagname 'Kim Joonmyeon' itu mendengus sebal, lalu segera menghilang di hadapanku beralih pada kumpulan kelas anak Kelas Sebelas yang masih saja seenaknya berada di dalam kelas.
Aku?
Segera melesat bagaikan anak panah yang ditembakkan. Berlari kecil di lorong-lorong. Tidak lupa senyuman kecil terus saja aku perlihatkan pada siapa saja yang berpapasan denganku.
Akhirnya...
Mataku menangkap satu tempat yang paling aku inginkan.
Selamat datang, Perpustakaan.
Selamat tinggal, Keramaian...
... dan juga Kim Joonmyeon.
Omake:
Sial! Aku hilang jejaknya lagi. Dia pintar sekali menggunakan kesempatan. Bahkan aku juga ikut kalah saat pertandingan futsal ketika pikiranku tentang dia terus meracau tidak karuan.
Kemana sebenarnya si Kurus itu?
Bahkan sampai bel pulang, aku tidak menemukan batang hidungnya sama sekali. Semua orang yang berpapasan denganku hanya menyunggingkan senyum kecil mereka. Yah, mood-ku sedang buruk. Apa itu terlihat jelas oleh mereka?
Hingga pupilku menangkap satu bayangan. Yang berjalan diantara lorong Kelas Sebelas menuju gerbang utama.
Aku tahu itu dia. Punggung seseorang yang ditutupi ransel hitam bercampur biru; senada dengan sepatu kets biru dan rambutnya yang hitam kelam.
Langkahku semakin cepat bahkan jarak kami hanya beberapa senti. Kutarik lengan kurus itu untuk berbalik.
Jangan lupa, Joonmyeon, untuk tampilkan smirk yang membuat siapa saja jatuh terpesona.
"Hai…" oh, tag name-nya! "... Zhang Yixing-ssi. Nggak baik lho pergi dari pengawasan Organisasi pas pertandingan masih berlangsung."
Dan aku rasa, aku sudah berlagak ganteng.
… tanpa aku sadari, beberapa siswi yang tidak sengaja melihat smirk-ku langsung pasang wajah ingin muntah.
.
.
|| end ||
.
.
A/N: Aku nggak nyangka aja drabble yang masih kekurangan/? kek gini bisa dapet respon bagus, TERIMA KASIH BANYAK~~! Aku udah bikin sampe chap 10 sih, tinggal nunggu posting waktu yang tepat aja.
Sebagai penjelas, Junmen disini kelas 12 sedangkan si Icing masih kelas 10. Maaf ya kakak-kakak yang nebak ini mungkin jalan cerita anak kuliahan, nyatanya ini cerita anak sekolahan yang biasa aja (Yup, jas kuning almamater di sekolahku cuma khusus untuk Anggota Organisasi).
See ya in next chap!
