Switch!

Chapter 2: Segalanya menjadi Kacau

.

.

Baik, ini sudah di lanjut, terimakasih yang sudah mau favs dan follow fanfic ini, dan terimakasih Reviews nya, untuk RinTYC, Yu-YuDei,Shiroi no Yuki. :D XD

Ngomong ngomong ini tata bahasanya agak membingungkan, jadi usahakan agar anda tidak bingung saat membacanya. (?)

.

.

Switch!

Chapter 2: Segalanya menjadi Kacau

Author: Yurina305
Rated: K+
Genre: Humor (gaje), Friendship(aneh), Romance(gagal) (mungkin nanti akan bertambah)
Warning: OOC, Typo bertebaran, Gaya penulisan berubah-ubah, Bahasa Amburadul, Dan kekurangan lainnya.

.

.

-Happy Reading-

.

.

Saat ini perasaan Nagisa sedang was-was. Kenapa?

Pertama, saat ia bangun tidur, ternyata do'a yang di panjatkannya tadi malam tidak terkabul (?). Intinya sekarang dia masih menjadi Karma.

Kedua, kemana perginya Karma yang memakai tubuhnya itu!? Jam pelajaran sudah hampir tiba dan ia masih belum melihat sosok tubuhnya dengan jiwa Karma itu.

Jangan bilang Karma bolos sekolah menggunakan tubuhnya. Tidak! Nagisa tidak mau dicap sebagai anak nakal dan bandel (?). Nagisa ingin jadi anak baik dunia akhirat (?).

Di tengah kewas-wasan yang di derita nya, Seluruh murid di kelas 3-E memandang takjub pada sosok Karma yang tumben datang pagi-pagi sekali. Ini hal langka, kau tahu?

Sayang sekali, mereka tidak tahu kalau sosok Karma itu adalah Nagisa. :P

Tak lama kemudian orang yang ditunggu pun tiba. Dalam hati, Nagisa lega karena ternyata Karma tidak membuat imagenya berantakan.

"Pagi, Nagisa!" Sapa Sugino.

"Pagi." Balas Karma. Ia lalu berjalan menuju tempat duduknya.

Tapi tempat duduk milik Nagisa terlewati.

'Karma-kun! Tempat dudukku di sebelah sana! Jangan lupa!' Teriak Nagisa dalam hati sambil membuat kode dengan tangan, tapi Karma tidak mengetahuinya.

Kayano dan Sugino menatap heran pada Karma-dengan tubuh Nagisa-.

"Nagisa, kau mau kemana?"

Saat itu barulah Karma sadar dengan kesalahannya. Ia lalu menatap Nagisa yang sedang duduk di tempat duduknya tengah ber- facepalm -ria.

Karma memegang rambutnya, biru.

"Maaf, aku melamun."

Lalu Karma segera mengambil alih tempat duduk milik Nagisa. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena melupakan perannya sekarang.

"Kenapa? Apa kau ada masalah sampai melamun begitu?"

"Yah, begitulah.."

"Kalau ada masalah seharusnya kau katakan pada kami."

Karma langsung melirik tajam kearah Sugino.

'Apa-apaan ini maksudnya? Sugino mengkhawatirkan Nagisa ya? Jangan-jangan dia..' please deh, Karma, kau ini terlalu curigaan. -,-

Pada saat itu pula Nagisa langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Karma dengan cepat sampai karma sendiri kaget melihat Nagisa tiba-tiba ada di depannya.

"Nagi-, Karma-kun, jangan tiba-tiba datang, kau membuatku kaget!" Ucap Karma berusaha menjiwai perannya sebagai Nagisa. Meskipun dia merasa aneh memanggil dirinya sendiri.

Kayano dan Sugino menatap heran kembali. 'Barusan Nagisa mau memanggil Karma dengan namanya sendiri kan?'

Mengabaikan pernyataan Karma barusan, Nagisa mendekat kearah Karma dan berbisik.

"Karma-kun, syukurlah kau datang. Aku pikir tadi kau mau bolos sekolah dengan tubuhku."

"Tidak mungkin aku lupa, Nagisa-kun."

Karma menyeringai. Sebenarnya barusan dia sempat lupa dan hendak bolos sekolah. Sedangkan Nagisa sweatdrop, padahal barusan jelas-jelas Karma lupa tempat duduk. Mencurigakan.

"Ngomong-ngomong, kau tidak memanfaatkan hal ini untuk melakukan 'sesuatu' kan?" Bisik Nagisa, ia kembali was-was menunggu jawaban Karma. Ini menyangkut hidupnya.

Karma hanya terdiam. Lalu ia tersenyum saat menyadari maksud dari perkataan yang di bisikkan Nagisa.

"Menurutmu?" Seketika tingkat kepanikan Nagisa meningkat.

"Kau sendiri bagaimana? Apa kau melakukan sesuatu?" Tanya Karma balik. Nagisa kalang kabut. Bagaimana kalau Karma tahu dia membongkar ponsel Karma tadi malam?

"Dari tadi bisik-bisik, membicarakan apa sih?" Tanya Kayano kepo. Selain itu juga cukup tidak enak melihat orang lain berbisik-bisik di depannya.

"Ah, itu.. bu-bukan, tidak ada apa-apa kok. Aku harus segera kembali ke tempat dudukku." Bagus. Nagisa kabur.

Sugino dan Kayano kembali di buat terkejut dengan sikap Karma. Sejak kapan Karma jadi bisa gugup seperti itu?

"Baiklah, mari kita mulai pelajarannya, sebelum itu sensei akan meng-absent kalian satu persatu."

Tiba-tiba entah dari mana muncul Gurita kuning besar di meja guru. Murid-murid di kelas sontak kaget karena tidak meyadarinya.

"Sensei, jangan bikin kaget, dong!"

"Sejak kapan sensei ada di situ?"

"Baru saja."

Koro-sensei mulai mengabsent muridnya satu-persatu, dan juga dia sempat menatap takjub pada Karma-dengan jiwa Nagisa- karena tumbennya tidak bolos. -,-

Karma mendengus kesal, dari tempat duduknya sekarang dia tidak bisa lagi memandangi Nagisa. Sekalipun bisa memandang, yang terlihat hanya dirinya sendiri. Ini suatu kerugian.

Yah, meskipun tadi malam dia sudah memandangi tubuh Nagisa lewat pantulan cermin sampai malam./puas!?/

Tidak, bukan itu masalahnya. Mendengarkan pelajaran di kelas membuatnya bosan dan tidak sanggup berlama-lama berada di dalam kelas. Untuk mengurangi kejenuhan, biasanya dia berusaha membunuh Koro-sensei.

Memandangi tubuh Nagisa merupakan hiburan pribadi untuk Karma agar bisa betah di dalam kelas.

Lalu dia sekarang harus bagaimana? Bawa cermin? -,-

"Shiota Nagisa."

"Ha'i!"

Koro-sensei berhenti mengabsent. Seluruh murid juga ikut terdiam.

Karma yang sedari tadi melamun heran dengan keadaan kelas yang mendadak hening. Ia lalu mengalihkan pandangan pada teman-teman sekelasnya yang mengarahkan pandangan matanya pada satu arah. Arah tatapan itu ke bangku bagian belakang.

Firasat Karma semakin menjadi-jadi. Jangan-jangan..

Karma segera mengikuti arah pandangan teman sekelasnya.

Itu..

Nagisa yang sedang mengangkat tangan..

.. Menggunakan tubuhnya.

"Eh?" Terlihatlah Nagisa saat ini tengah panik saat sadar dia saat ini berada di tubuh Karma. Di tatap murid sekelas lagi.

Oke. Sekarang yang terlihat di mata orang lain adalah Karma mengangkat tangan saat nama Nagisa di panggil, dan Nagisa sendiri malah diam-sibuk melamun.

'Aku lupa..!' Nagisa berteriak dalam hati. Dia menurunkan tangannya dengan perlahan dan gugup.

"Ciee.. Yang di panggil Nagisa, kok yang menjawab Karma..?" Mulailah Nakamura menggoda Karma dan Nagisa.

Karma sendiri juga sebenarnya tidak sadar. Seharusnya dia mengangkat tangan saat nama Nagisa di panggil/dia sendiri juga tidak memperhatikan namanya di panggil atau tidak/.

Keadaan mulai kembali normal meskipun ada beberapa yang masih terheran-heran.

.

.

Jam istirahat tiba. Dan Koro-sensei sudah pergi menjelajah dunia (?).

Dengan sigap Nagisa kembali menghampiri Karma."Stt.. Karma-kun! Ayo cepat kita keluar!"

"Hum.. Oke." Jawab Karma.

Nagisa langsung menarik tangannya dan menyeretnya keluar kelas. "Wah.. mesranya, gandengan tangan.." goda Nakamura. Dan masa bodoh mau mereka gandengan tangan, mau dikira pacaran, yang jelas Nagisa hanya ingin kabur.

Kayano dan Sugino saling berpandangan dan menatap heran pada kepergian Nagisa dan Karma. Entah kenapa hari ini sikap Nagisa dan Karma cukup aneh bagi mereka.

Pertama, tadi Nagisa –dengan jiwa Karma- salah tempat duduk dan sempat keceplosan memanggil Karma dengan namanya sendiri.

Kedua, Sikap Karma-dengan jiwa Nagisa- tadi benar-benar aneh. Dan saat nama Nagisa dipanggil saat Absent tadi, kenapa Karma yang mengangkat tangan sedangkan Nagisa hanya diam?

Fix. Mereka aneh.

"Bukankah mereka terlihat mencurigakan?" bisik Kayano.

"Aku juga berpikir begitu." Balas Sugino.

.

.

Nagisa dan Karma terengah-engah setelah berlari. Kini mereka sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dari sekolah. Tentunya agar tidak ada yang bisa mendengar atau melihat mereka.

"Karma-kun, mereka tidak akan curiga kan? Ya kan?" Nagisa mulai panik. Entah kenapa Karma merasa lucu melihat dirinya sendiri sedang panik.

"Tadi itu cukup mencolok, sampai di lihat satu kelas." Ujar Karma.

"Itu refleks! Saat namaku di panggil, tangan ku langsung terangkat tanpa kusadari." Nagisa memberi pembelaan.

"Sudah lupakan saja, lagipula tadi aku juga sempat kelepasan."

Jalan keluar untuk menghindar dari masalah ini adalah kabur. Kau tahu? Kabur ke bukit belakang sekolah itu keren (?).

"Ngomong-ngomong, pertanyaanku barusan di kelas belum sempat kau jawab kan?" Nagisa kembali panik.

Entah kenapa dimata Karma gerak-gerik Nagisa terlihat mencurigakan.

"Dan juga, apa maksud dari jawaban Karma-kun tadi di kelas!?" Nagisa bertanya balik untuk mengalihkan pembicaraan. Karma hanya tersenyum.

"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Karma, tapi dalam hati dia menambahkan kata 'belum'.

"Bohong."

"Aku tidak berbohong."

"Karma-kun bohong. Jawab, apa yang kau lakukan dengan tubuhku!?"

Karma melirik Nagisa yang tengah menatapnya tajam.

"Apa yang membuatmu berpikir aku melakukan sesuatu dengan tubuhmu?"

"Itu karena Karma-kun menyimpan foto crossdressing ku yang waktu itu! Jadi pasti Karma-kun melakukan sesuatu kan!?" rasa was-was Nagisa makin menjadi. Bisa saja Karma memakaikan baju lainnya pada tubuhnya kan?

"Tapi kau terlihat manis dengan baju itu."

"Tapi aku bukan perempuan, Karma-kun!"

Nagisa tampak memasang wajah kesal sedangkan Karma hanya terdiam.

"Tunggu, bagaimana kau tahu kalau aku menyimpan foto itu, Nagisa-kun?"

Nagisa terdiam. Karma terdiam. Hanya terdengar suara hembusan angin di sekitar mereka.

Nagisa merutuki dirinya sendiri. 'Gawat, kalau begini Karma-kun bisa mencurigaiku!'

Suasana masih hening dan belum ada salah satu dari mereka yang membuka mulut. Karma menunggu jawaban dari Nagisa dan Nagisa sibuk mencari alasan.

Karma lalu memasang wajah serius. "Yang lebih penting, sepertinya aku tahu cara agar kita bisa kembali."

"Bagaimana caranya?" Nagisa penuh rasa penasaran, selain itu dia cukup bersyukur Karma kembali mengalihkan pembicaraan. Cukup, dia sudah tidak kuat menjalani hari dengan menjadi Karma. Ia ingin bisa kembali ke tubuhnya dengan segera.

Karma mendekatkan wajahnya pada Nagisa."Kita harus tabrakan lagi."

"..."

"..."

Nagisa facepalm.

"Karma-kun, kau yakin?" Tanya Nagisa. Setelah kejadian kemarin entah kenapa dia jadi parno sendiri.

"Ya kita coba saja. Lagipula saat pertama kali kita bertukar saat kejadian kemarinkan?" Nagisa mengangguk ragu, dia bingung ingin menyetujui saran Karma atau tidak.

"Baiklah, kita coba."

.

Karma menaruh kedua tangan nya masing-masing di samping kepala Nagisa. Setelah itu dia bersiap untuk mempertemukan kepala mereka dengan keras.

Jantung sudah berdetak dengan tidak karuan. Membayangkan rasa sakit setelah ini. keduanya meneguk ludah secara bersamaan. Cih, hambar!

Kalau di lihat-lihat, sebenarnya pose mereka cukup ambigu. -,- /Lupakan/

"Siap?" Tanya Karma membuat adegan ini semakin horror.

Nagisa menjawabnya dengan anggukan perlahan. Dia sudah pasrah jika Karma akan menabrakkan kepala mereka head-to-head.

DUAK!

Ini entah karena Karma terlalu bersemangat atau karena tangannya benar-benar lentur sehingga tabrakan kepala mereka benar-benar keras.

Baik Karma maupun Nagisa, keduanya sama-sama merasakan rasa sakit di kepala mereka.

Keduanya saling berpandangan.

"Karma-kun! Kita tidak kembali!" teriak Nagisa saat ternyata keadaan mereka sama sekali tidak berubah. Ia masih melihat tubuhnya sendiri di depan matanya.

Karma kembali berpikir, cara apa lagi yang harus dia lakukan?

"Entahlah, Nagisa-kun, akan kupikirkan cara lainnya."

Dan sudah cukup dengan berjedukannya, sakitnya tidak main-main.

"Karma-kun.." Panggil Nagisa, Karma lalu mengalihkan pandangannya pada Nagisa yang saat ini tengah menatapnya tajam. Entah apakah ini hanya perasaan Karma saja, rasanya tatapan Nagisa penuh dengan keyakinan.

"Kita coba sekali lagi, dengan lebih keras."

"..."

"..."

"Tidak." Karma menjawab dengan satu jawaban pasti. Sepertinya kini giliran Karma yang parno.

"Ayolah.."

"Selain itu, Ayo kita segera kembali ke kelas." Ajak Karma berusaha untuk mengalihkan perbicaraan dari tabrakan head-to-head, karena kalau di biarkan lebih jauh, mereka akan berakhir di rumah sakit, kemudian keesokan paginya akan ada berita di koran 'Dua orang siswa SMP ditemukan gagar otak di bukit belakang sekolah', kan tidak keren.

Nagisa hanya menurut dan mengikuti Karma dari belakang.

.

.

-TBC-