DISCLAIMER: J.K. ROWLING


Selama beberapa saat, yang Hermione rasakan hanya sensasi terhimpit tak nyaman di seluruh tubuhnya- membuatnya tak bisa bergerak. Ia masih tidak dapat melihat apapun; karena ia menutup matanya dan karena ia tau jika ia membuka matanya, ia hanya akan disambut oleh kegelapan yang pekat dan mencekik. Seluruh tubuhnya masih terasa seperti diikat oleh rantai besi panas yang membakar permukaan kulitnya. Ia berusaha menjerit, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar dari tenggorokannya.

Kemudian Hermione merasa terhempas dengan keras ke suatu permukaan yang solid. Ia pun mengerang pelan. Ia dapat merasakan sesuatu yang menggelitik wajahnya- yang ia sadari ternyata adalah rumput. Hermione menarik napas dalam-dalam, mencium aroma rumput dan embun yang menggelitik indra penciumannya. Udara terasa lembap di sekitarnya. Kemudian ia memberanikan diri untuk membuka kedua kelopak matanya.

Hermione merasa bingung beberapa saat, lalu ia disapa oleh pepohonan tua dan besar yang mengelilinginya. Suara-suara binatang nokturnal mengisi keheningan malam yang menenangkan. Sinar rembulan yang lemah menemani langit yang gelap tak berbintang.

Ia terlungkup lemah di tanah berumput. Hermione mencoba menggerakkan tubuhnya, yang disusul rintihan kesakitan yang keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhya sakit. Kepalanya berdenyut nyeri sekali. Tetapi, ia tetap memaksakan diri untuk duduk dan bersender lemah ke pohon besar tepat di belakangnya, yang diiringi oleh geraman yang keluar dari tenggorokannya.

Hermione merasa sangat mual, tetapi tidak memiliki cukup tenaga untuk memuntahkan isi perutnya. Seluruh tubuhnya masih lemas dan ia membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan lingkungan dan waktu yang berbeda di sekitarnya. Kemudian rasa gembira membuncah dari dalam dadanya.

Aku berhasil! batinnya.

Lalu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuhnya, mengecek jika ada luka-luka serius. Tetapi ia mengalami kesulitan karena kegelapan yang menyelimuti di sekelilingnya. Ia pun hanya mengerang pelan dengan pasrah. Lalu ia merasa kepalanya kembali berdenyut- kali ini lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Membuatnya merasa kepalanya ingin pecah.

Di tengah-tengah kenyerian di kepalanya yang semakin parah, tubuhnya yang semakin lemas, dan kelopak matanya semakin memberat, Hermione mendengar suara-suara rumput yang terinjak dan suara langkah-langkah kaki. Ia membuka matanya kembali penuh waspada, meskipun tidak bisa melakukan melakukan apapun karena seluruh tubuhnya masih terasa terbakar oleh rasa sakit. Sambil meringis, ia mencoba mencari sumber suara.

Lalu ia mendengar ringkikan halus seekor kuda dan bunyi kepakan sayap pelan. Dan ia menangkap kilatan-kilatan mata putih di tengah kegelapan malam.

Kemudian, Hermione mendengar suara langkah kaki lain. Ia kembali menajamkan indra pendengarannya dan melawan keinginan beratnya untuk tidur. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kuda-kuda hitam tadi dan menangkap siluet manusia yang menggunakan jubah bertudung berwarna hitam. Agak sulit untuk menangkap siluet orang berjubah hitam itu di tengah kegelapan malam.

Hermione pun berasumsi bahwa orang itu penyihir, melihat dari jubah dan tudung yang tengah ia pakai. Hermione tak begitu yakin apakah penyihir itu laki-laki atau perempuan- ia terlalu lelah untuk peduli. Bahkan ia tak peduli apabila penyihir itu melihatnya atau tidak. Ia memperhatikan dalam diam bagaimana penyihir berjubah itu mengeluarkan semua isi yang ada di dalam karung besar yang ia bawa, lalu kuda-kuda hitam itu segera mengerumuni penyihir itu. Hal terakhir yang ia lihat sebelum ia menyerahkan diri sepenuhnya ke alam bawah sadarnya adalah sinar lemah rembulan yang memantul ke arah sang penyihir yang tengah melangkah pergi dan sebuah seringaian yang terlihat samar dari balik tudungnya.


Hermione terbangun sambil menggeram pelan. Ia terbangun karena sesuatu yang basah tengah menjilati tangan kirinya. Entah tenaga dari mana, ia membuka matanya dan mengacungkan tongkat sihirnya yang baru ia sadari berada di sampingnya dengan tangan kanannya. Refleks yang telah ia miliki sejak perang dahulu. Dan ia disambut oleh Thestral yang tengah meringkik kaget karena acungan tongkat sihirnya yang mendadak. Ia pun menurunkan tongkat sihirnya dan merasa rileks begitu tahu yang ia hadapi hanya seekor Thestral. Ia mencoba bangun dengan susah payah. Setiap otot di tubuhnya masih menjerit karena kelelahan dan kesakitan. Tetapi ia tetap berusaha berdiri sambil berpegangan ke pohon besar di belakangnya. Setidaknya sakit kepalaku sudah hilang, batinnya. Ia pun memasukkan tongkat sihirnya ke saku dan mengangkat tangan kanannya- bermaksud untuk mengelus kuda hitam di hadapannya.

"Tidak apa-apa, Thestral baik. Aku tidak bermaksud menyerangmu tadi," kata Hermione serak. Ia berdeham sambil memperhatikan Thestral yang tengah balas menatapnya tak yakin. Ia pun memberi senyuman kecil- yang sedikit ia sesali karena bibirnya terasa perih. Beberapa saat kemudian Thestral itu mendekat dengan sedikit tak yakin. Hermione mengelus surai Thestral tersebut dengan lembut.

Kemudian Thestral tersebut meninggalkan Hermione dan melangkahkan kaki menuju danau kecil di dekat Hermione berdiri. Hermione pun mengikuti Thestral tersebut dan mulai mencuci wajahnya dengan air danau.

Lalu ia melihat refleksi dirinya di permukaan danau yang jernih. Ia menemukan beberapa memar dan sayatan kecil di wajahnya- yang membuatnya teringat bahwa sekujur tubuhnya masih sedikit sakit. Ia pun menuju pohon tempat ia jatuh tertidur semalam.

Lebih baik dirikan tenda terlebih dahulu baru mengobati luka, batinnya.

Ia meraih tas maniknya dan menggunakan Mantra Panggil untuk mengambil tenda. Ia pun menaruh tenda di tanah, dan dengan satu lambaian tongkat sihir, tenda tersebut sudah berdiri tegak di hadapannya.

Hermione merapalkan beberapa mantra perlindungan di sekeliling tenda. Tak cukup kuat, karena tenaganya belum sepenuhnya kembali. Setidaknya nanti bisa kuperkuat, katanya dalam hati. Ia pun langsung memasuki tenda sihirnya.

Ia disambut oleh udara hangat dan perabot-perabot tenda yang tertata rapih di hadapannya. Tanpa tedeng aling, ia pun menuju sofa empuk yang terlihat menggoda untuk diduduki tak jauh darinya. Ia langsung roboh di sofa- yang kemudian ia sesali karena ia lupa masih ada sejumlah luka di tubuhnya. Sambil mengerang, ia memposisikan tubuhnya ke posisi duduk, lalu melepas jubah dan jaketnya, sehingga menyisakan kemeja dan celana jeans. Ia menggunakan Mantra Panggil untuk mengambil kaus tipis dan celana pendek.

Saat ia berganti pakaian, ia baru menyadari begitu banyak sayatan kecil, memar, dan kulitnya agak melepuh di beberapa tempat- yang mana tidak mengejutkan mengingat ia merasa seperti dijerat rantai panas kemarin. Setelah ia mengambil beberapa ramuan yang dibutuhkan, ia mulai berkutat dengan luka-luka di tubuhnya.

Untungnya, ia tak mengalami cedera yang terlalu serius, seperti patah tulang dan sebagainya. Tetapi, luka bakarnya cukup parah. Memar di tubuh dan wajahnya juga lumayan menyakitkan- mungkin Hermione mendapatkannya ketika ia terhempas dengan keras ke tanah kemarin. Hermione mulai mengolesi Sari Murtlap ke sayatan-sayatan dan luka bakar di tubuhnya sambil berpikir mungkin seluruh luka ini ia peroleh karena perjalanan waktu.

Ia tak pernah tahu jika melakukan perjalanan waktu akan mengakibatkan sang pengelana akan mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Dalam percobaan perjalanan waktu sebelumnya, tak pernah tersebutkan hal serupa. Karena tak lama setelah Eloise Mintumble kembali ke masa seharusnya ia berada, ia meninggal dunia.

Kemudian senyuman kecil tercuri di bibirnya. Aku berhasil! Gumamnya dalam hati. Ia lupa bagaimana rasanya sebahagia ini sebelumnya. Rasanya seperti berhasil menjawab pertanyaan profesor dengan tepat dan diberi banyak poin, hanya saja kali ini berlipat-lipat ganda.

Kemudian senyuman hilang dari bibirnya setelah ia merasakan tangan dingin mencengkram jantungnya. Aku masih belum tahu jika aku ada di tahun yang benar atau tidak, batinnya dengan gelisah.

Hermione meraih jam tangan yang ia kenakan dan melepasnya. Ia pun mengernyitkan dahinya ketika mendapati jam tangannya rusak. Jarum-jarum jamnya terlepas dari porosnya. Ia pun mengoleskan Sari Murtlap ke daerah kulitnya yang terluka yang tadi tertutup jam tangan. Mungkin jamku kaget dengan perubahan waktu yang mendadak, simpulnya. Ia pun mengangkat bahunya lalu menaruh Sari Mutlap ke meja di depannya.

Sambil menunggu efek ramuan di tubuhnya, Hermione menyender ke sofa lalu memutar ulang kembali dan mencerna kejadian sebelum ia sampai di sini sambil memainkan bandul kalung di lehernya. Hermione datang ke Grimmauld Place untuk melakukan ritual bersama Harry, untuk membawanya kembali ke masa lalu- ke sepuluh tahun yang lalu. Mr. Clearwater datang untuk menemaninya. Lalu ia mempersiapkan pentagram, mengambil darahnya dan darah Harry dan mencampurnya dengan ramuan, lalu ia meminum sisa ramuan. Kemudian Hermione berdiri di tengah pentagram sedangkan Harry merapalkan mantra. Dan sebuah patronus milik Mr. Weasley datang sebelum ia tiba di sini dengan luka-luka dan kenyerian di bagian kepalanya dan ia melihat penyihir berjubah hitam.

Kemudian suatu kesadaran menyambar Hermione seperti petir. Ron..., ingatnya sedih. Ia merasa seperti organ-organnya dilapisi es. Tangisnya pun pecah. Keputusasaan dan kesedihan menyelimuti pikirannya. Tubuhnya berguncang hebat. Hermione terisak sangat keras, membiarkan emosinya mendominasi dirinya. Ia tak bisa menghentikan perkataan Mr. Weasley yang bergaung di telinganya,

"Ro- Ron tewas. Kami sedang di St. Mungo sekarang. A- aku akan menjelaskan nanti."

Air matanya mengalir deras. Selama sesaat, ia tidak bisa berpikir. Tak bisa melakukan apapun, selain bergelung lemah di sofa. Hermione mendekap kakinya di depan dadanya dan memeluknya sangat erat- seolah kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Ia tidak bisa percaya- ia tidak mau percaya kalau Ron benar-benar telah pergi. Ia berusaha menyangkal berita itu- karena ia belum sempat melihat jasad Ron. tetapi perkataan Mr. Weasley kembali berputar di otaknya. Dan ekspresi syok di wajah Harry terlintas di pikirannya. Membuatnya tidak memiliki alasan untuk tidak percaya.

Bagaimana jika itu tipuan? Tanya Hermione dalam hati sambil berharap. Tetapi itu tidak mungkin, karena patronus tiap orang berbeda- kecuali jika seseorang sangat berpengaruh bagi orang lain sehingga mereka memiliki patronus yang sama.

Baru sebentar ia berada di sini, ia sudah merindukan teman-temannya. Harry... Ron..., renungnya miris. Diam-diam, ia menyesali keputusannya untuk melakukan perjalanan waktu, menyesali untuk menjalankan misi pecobaan yang di berikan Kepala Divisinya. Tetapi ia berusaha menutupi rasa penyesalan dengan rasa kepuasan atas keberhasilannya- yang mana agak sia-sia.

Bahkan rasa kepuasan itu sedikit demi sedikit memudar.

Jika saja aku tidak di sini, aku bisa pergi ke Ron. Kenapa aku begitu egois memilih untuk pergi dan meninggalkan Ron?

Ron sudah tidak ada... meninggalkan Hermione dan Harry... sekalipun ia kembali, Ron tidak akan ada di sana menyambutnya...

Dan kenangan-kenangan kembali terputar tanpa henti di otaknya. Bagaimana Hermione menghabiskan waktu bersama dengan Ron berdua untuk terakhir kalinya. Bagaimana Ron tidak bisa menutupi rasa curiga dan khawatir ketika menjadi pihak ketiga dalam ritual ikatan darahnya dengan Harry. Bagaimana mereka menghabiskan satu tahun terakhir ini bersama- meskipun banyak pertengkaran di sana-sini. Bagaimana mereka selalu berbaikan setelah pertengkaran-pertengkaran mereka. Bagaimana Ron memeluknya. Bagaimana Ron tersenyum. Bagaimana mata biru langitnya memancarkan kasih sayang yang jelas dan nyata di matanya, dihiasi oleh bintik-bintik di pipi dan hidungnya. Bagaimana mereka berciuman untuk pertama kalinya saat mereka menghancurkan Piala Hufflepuff di Kamar Rahasia. Bagaimana mereka bertemu untuk pertama kalinya di Hogwarts Express saat tahun pertamanya...

Isakannya mulai melemah. Hermione merasakan rasa lelah merenggut tubuhnya. Entah berapa lama ia terlarut dalam kesedihannya. Ia tak bisa menampung semua rasa sakit dan kesedihan yang masih mendominasi tubuh dan pikirannya tanpa henti. Tanpa ia sadari, kelopak matanya memberat dan ia terjatuh ke alam mimpi. Dan mendapati bayang-bayang wajah Ron yang tengah terluka tersenyum sedih kepadanya.


"Protego Totalum."

"Salvio Hexia."

"Repello Muggletum."

"Muffliato."

Hermione menyelesaikan mantra terakhirnya lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Ia juga telah memasang Mantra Fidelius atas tenda tempat ia tinggal sekarang, menjadikan dirinya satu-satunya Pemegang Rahasianya. Ia memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempatnya berkemah untuk sementara ini.

ia juga sudah mengobati luka-lukanya tadi. Hermione memperkirakan luka-lukanya baru akan hilang selama beberapa hari. Setidaknya, luka-lukanya telah membaik.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tenda. Saat pertama kali ia tiba di sini, ia melihat seorang penyihir berjubah yang membawa karung berisikan benda yang entah apa. Jika dilihat dari Thestral-Thestral yang mengerumuninya setelah menumpahkan isi karung yang ia bawa, mungkin saja benda itu adalah daging mentah. Tetapi tetap saja, penyihir itu kelihatannya mencurigakan. Dan untung saja kelihatannya penyihir itu tidak melihatnya karena semak-semak yang tak jauh darinya menutupinya.

Asalkan penyihir itu tidak menyerangku, itu tak masalah, kata Hermione dalam hati.

Ia menghirup napas dalam-dalam dan menutup kelopak matanya perlahan. Menghapus rasa lelah yang masih tersisa setelah istirahatnya yang menyiksa semalam. Matanya masih berat dan merah karena menangis sangat lama. Rasa sedih itu masih ada- mengikutinya hingga ia pergi ke alam mimpi. Dan rasa penyesalan juga masih terlarut bersama emosi-emosi lain yang ia rasakan.

Ron..., batin Hermione sedih. Dan tanpa ia sadari pipinya sudah basah karena air mata.

Hermione menghembuskan napasnya keras dan menghapus air matanya. Ia tak bisa terus terlarut dalam kesedihan- meskipun sangat sulit untuk dilakukan. Ia harus mengutamakan prioritasnya saat ini. "Dahulukan misi, baru emosi," kata Mr. Clearwater berulang kali kepadanya. Menjadikan kalimat itu sebagai doktrin di otaknya. Alasan mengapa ia selalu mengedepankan pekerjaannya ketimbang hubungannya dengan Ron- yang sangat ia sesalkan sekarang karena Ron sudah pergi meninggalkannya.

Hermione menarik napas dalam-dalam sambil menahan air mata yang hampir tumpah. Bagaimanapun, ia harus memastikan apakah ia berada di waktu yang tepat. Ia menguatkan pikirannya dan menyisihkan bayang-bayang Ron di pikirannya- setidaknya untuk sekarang.

Sambil mengancingkan jubahnya, ia mengedarkan pandangannya lagi ke sekitarnya. Tempat ini terasa sedikit familiar baginya. Tetapi ia tetap tidak tahu dimana ia berada. Setidaknya, ia cukup bersyukur ia tiba di hutan seperti ini. Lebih baik dibandingkan jika harus terdampar di tempat yang ramai oleh penyihir ataupun muggle.

Kemudian ia melihat Thestral yang kemarin ia temui. Thestral itu tengah tertidur di pinggir danau. Hermione menghampiri kuda-berkepala-reptil tersebut. Dalam hati memuji keindahan sang kuda hitam tersebut.

Sebenarnya Hermione tak ingin membangunkan sang Thestral yang kelihatannya tengah tertidur pulas, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Ia telah mencoba untuk ber-Apparate tetapi mendapati adanya Mantra Anti Apparate di sekitarnya- yang memberinya kemungkinan bahwa ia tengah berada dekat dengan pemukiman penyihir. Tetapi ia memilih untuk mencari teman berjelajah. Lagipula Thestral adalah teman berjelajah yang sangat baik.

"Hei Thestral baik, maafkan aku mengganggu tidurmu. Tetapi, bisakah kau menemaniku mencari populasi penyihir yang hidup di sekitar sini?" pinta Hermione sambil mengelus-elus leher berkilat sang Thestral dengan lembut.

Thestral itu pun terbangun dan berdiri perlahan dengan anggun. Kemudian menyodokan moncongnya ke telapak tangan Hermione. Hermione pun terkekeh pelan.

"Jika aku menemukan daging mentah, aku janji akan membelikan untukmu, oke?" janji Hermione.

Lalu Thestral tersebut memberikan isyarat kepada Hermione untuk naik ke punggungnya. Setelah ia memanjat ke atas punggung hitam sang Thestral yang sehalus sutra dan menempatkan lututnya di belakang sambungan sayap, Hermione membelitkan tangannya dengan erat ke surai Thestral tersebut. Thestral itu pun merentangkan sayapnya dan meluncur menuju angkasa.

Karena Hermione sudah pernah melakukan ini, pertama saat ia berada di tahun kelimanya, kedua saat misi pelatihannya ketika ia hendak menjadi Unspeakable. Ia sudah tak sekaku dulu saat berada di atas Thestral. Memang ia benci terbang, tetapi ada sensasi tersendiri saat terbang dengan menggunakan Thestral.

Saat tahun kelima, Ron masih ada bersamaku, Harry, dan yang lain. Terbang bersama dengan Thestral...

Hermione menggeram frustasi sambil mengeratkan cengkramannya ke surai Thestral. Ia merasa kesal pada dirinya karena tidak dapat mengontrol emosinya. Dahulukan misi, baru emosi. Dahulukan misi, baru emosi...

Thestral yang Hermione tunggangi terbang dengan tidak terlalu terburu-buru, sehingga ia bisa menikmati segala sesuatu yang ia rasakan di sekitarnya. Ia mendongakkan kepalanyanya dan menatap cakrawala yang bersinar terang. Cahaya matahari menghangatkan punggungnya. Terpaan angin menampar halus wajahnya, menghapus air mata yang sempat berlinang di matanya. Hermione menutup kelopak matanya perlahan.

Setelah Hermione membuka matanya, ia terkesiap kaget. Bahkan Hermione sampai lupa atas kesedihannya karena Ron beberapa saat. Pegangannya ke surai Thestral sampai mengendur- membuatnya hampir terjatuh.

Di hadapannya, sebuah kastil yang sangat familiar berdiri kokoh menjulang. Bahkan dari atas sini, ia dapat merasakan kehidupan yang ada di dalam kastil tersebut.

Hogwarts...

Bagaimana ia bisa terdampar di sini?

Ia pun bertanya dengan kencang, berusaha mengalahkan deru angin di sekelilingnya, "Alih-alih Hogwarts, bisakah kau mengantarku ke Hogsmeade?"

Hermione tidak tahu apakah Thestral yang ia tunggangi mendengarnya atau tidak. Tetapi kemudian Thestral tersebut berbelok sangat tajam- sampai-sampai Hermione hampir terjatuh karena Thestral tersebut berbelok sambil memiringkan tubuhnya jika saja ia tak memiliki refleks yang cepat untuk mengalungkan lengannya ke leher Thestralnya. Ia pun menjerit kaget dan kuda hitamnya melaju lebih cepat dari sebelumnya.

Mereka mendarat di dekat Shrieking Shack. Hermione memanjat turun dari punggung halus sang Thestral. "Bisakah kau menungguku di sini? Aku takkan lama. Aku akan mencari daging untukmu, oke?" pinta Hermione. Setelah mengelus surai Thestral di hadapannya untuk terakhir kali, ia melangkahkan kakinya menuju Hogsmeade.

Hermione mengedarkan pandangannya ke jalanan Hogsmeade. Menyadari tidak begitu banyak perbedaan pada Hogsmeade yang tengah ia telusuri sekarang dengan Hogsmeade pada zamannya. The Three Broomstick dan beberapa toko lainnya masih berdiri di tempatnya masing-masing. Hanya saja kondisi bangunan-bangunan toko masih terlihat lebih baik ketimbang pada zamannya. Hermione menyadari absennya Scrivenshaft's Quill Shop dan Dervish and Banges. Digantikan oleh sebuah toko buku bernama The Tomes dan toko keperluan bahan makanan sehari-hari. Ia pun memutuskan untuk menuju ke toko tersebut terlebih dahulu untuk memenuhi janjinya pada kuda tunggangannya untuk membawakan daging mentah.

Begitu keluar dari toko sambil membawa bungkusan daging, ia mendapati sebuah kios majalah dan koran kecil di pinggiran jalan di dekat Gladrags Wizardwear. Setelah memberi beberapa knut ke pedagang majalah, hal pertama yang ia cari adalah tanggal di ujung kanan Daily Prophet. Begitu mendapatkan apa yang ia cari, Ia menjatuhkan bungkusan daging di tangannya dan membelalakan matanya lebar- percampuran kaget dan ngeri. Lalu ia mengucek matanya dengan kasar dan ketika ia menatap Koran itu lagi, tulisan itu masih ada.

10 September 1944?!

Raut wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan. Hermione membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Membuka, lalu menutupnya lagi- seperti ikan. Orang- orang di sekelilingnya mulai menatapnya aneh. Ia pun menyadari bahwa selama beberapa saat ia berdiri di tengah-tengah jalan tanpa bergerak sama sekali dengan menunjukkan tampang bodohnya.

Kemudian Hermione menguasai dirinya kembali dan membenahi ekspresi di wajahnya. Sambil memungut kembali bungkusan daging yang ia jatuhkan, ia menghitung dengan cepat, lima puluh lima tahun?

Aku telah mundur lima puluh lima tahun?! Batinnya histeris.

Tanpa sadar ia telah berlari ke Shrieking Shack, menuju ke tempat kuda hitamnya menunggu. Ia berlari sambil memegangi sekantung daging mentah yang berayun-ayun di sisi kanannya karena berlari kencang dan Daily Prophet di dekapannya. Tanpa peduli tatapan aneh dari penyihir-penyihir di sekelilingnya.


Hermione tengah berjalan mondar-mandir di dalam tendanya. Ia menghiraukan rasa lapar yang amat sangat di perutnya. Dahinya mengernyit penuh konsentrasi sambil mencengkram buku catatan di genggamannya.

Ia sudah memprediksi kemungkinan-kemungkinan apabila ia tiba di waktu yang salah. Tetapi, ia tak pernah berpikir akan melompat sejauh ini. Kepala Divisinya- Mr. Clearwater- sudah menetapkan dan menyetujui untuk melompat ke tahun 1989- untuk mundur sepuluh tahun. Tetapi ia tak pernah berpikir jika ia akan melompat sejauh lima puluh lima tahun.

Apa ini karena Harry sempat menghentikan rapalan mantranya? Dan belum lagi ketika ia seharusnya menyebutkan kata decem- yang artinya sepuluh- ia tidak sempat menyelesaikan katanya. Padahal rapalan mantra tidak boleh terhenti. Dan ritual ini tidak mentolerir kegagalan sekecil apapun.

Dan Hermione baru menyadari bahwa seharusnya pola-pola mantra dan rune di sekelilingnya bergerak berputar mengitarinya waktu itu. Tetapi itu tidak terjadi, karena Harry tidak menyelesaikan mantranya. Dan alih-alih berdesing, justru pentagram, rune, dan pola-pola mantra di sekitarnya memendarkan cahaya hitam menyeramkan. Hermione merasakan sesuatu yang dingin melewati tengkuknya. Tidak bagus, batinnya.

Tetapi ia tidak bisa menyalahkan Harry. Harry sudah memberikan banyak hal kepada Hermione. Harry telah bersedia menjadi partner ikatan darahnya, dan bersedia melaksanakan ritual dengannya. Lagipula, ia tidak bisa menyalahkan Harry yang sempat menghentikan rapalan mantranya karena berita kematian Ron yang sangat tiba-tiba itu.

Mengingat Ron, Hermione merasakan cengkraman keras di hatinya. Ia merasakan matanya memanas. Tidak sekarang, Granger. Tidak sekarang...

Lalu Hermione kembali memfokuskan pikirannya ke permasalahan yang ia punya sekarang. Apa yang harus kulakukan? Tanyanya dalam hati.

Lalu perkataan Mr. Clearwater terlintas di pikirannya, "...apabila kau tiba di tempat yang bukan seharusnya kau tuju, ada baiknya kau cepat kembali jika itu terjadi..."

Ia pun duduk di sofa dan membuka buku catatannya dalam diam. Haruskah ia kembali sekarang?

Perkataan Mr. Clearwater kembali melintas di pikirannya, "Kau akan menemukan hal yang harus kau lakukan disana, Hermione. Ini bukan hanya sebuah percobaan. Kau pasti akan tau."

Haruskah ia kembali sekarang? Bahkan sebelum ia menemukan apa yang akan ia temukan di sini seperti perkataan Mr. Clearwater? Bahkan ini belum seminggu, hanya dua setengah hari.

Hermione pun menggelengkan kepalanya dan menggunakan Mantra Panggil untuk mengambil pena bulu dan tinta. Kemudian ia kembali menuliskan kejadian dari ia tiba di sini sampai sekarang.

Aku harus kembali, batinnya. Besok aku harus kembali.

Harus kembali tanpa menemukan apapun, tiba di waktu yang salah, dan tanpa Ron yang akan menyambutnya di masa depan membuatnya merasakan pukulan keras di dadanya. Semua sia-sia, sia-sia...

Dengan raut kesedihan di wajahnya, Hermione meletakkan catatan dan pena bulunya ke meja di hadapannya dan melangkahkan kaki menuju ranjangnya- kembali pergi ke alam mimpi dimana ia masih bisa bertemu Ron.


Hermione telah mengisi perutnya dan mengepak kembali tendanya. Sekarang, ia hendak menjelajah hutan untuk menemukan tempat yang cocok untuk melaksanakan ritual. Ia menemukan kuda hitam yang telah mengantarnya kemarin di pinggir danau- yang sepertinya tempat favoritnya. Seakan menyadari jika ia tengah diperhatikan, Thestral tersebut menolehkan kepala reptilnya dan menghampiri Hermione. Hermione pun membelai surai Thestral tersebut. "Terima kasih tumpangannya kemarin. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal," bisik Hermione kepada Thestral di hadapannya. Kuda hitam itu pun meringkik pelan.

Hermione pergi setelah memberikan pandangan terakhir ke Thestral tersebut dan mulai menjelajahi hutan. Pantas saja ia merasa sedikit familiar dengan hutan ini. Bagaimanapun, daerah ini masih termasuk dalam kawasan Hutan Terlarang. Pepohonannya di sekitarnya lebih besar dan lebih tua dari pepohonan di tempat ia berkemah tadi. Semakin dalam ia menyusuri hutan, semakin gelap dan terasa mencekik- karena rapatnya pepohonan.

Dalam hati ia bersyukur tidak ada makhluk hutan yang ia temui, baik itu centaurus, Acromantula, atau hewan liar lainnya. Ia pun menggaruk keras bagian atas kepalanya dengan tongkat sihir dan merapalkan Mantra Penyamar- membuatnya menjadi tak kasat mata. Well, bukan kasat mata, lebih tepatnya membuatnya menjadi seperti manusia-bunglon. Jangan sampai aku bertemu centaurus, batinnya. Centaurus lebih susah di ajak kompromi ketimbang hewan lainnya. Ia harus menjelaskan mengapa ia berada di sini jika harus bertemu centaurus. Dan ia bukan anak-anak lagi, sehingga tidak dapat membuat alasan untuk kabur dari jeratan para centaurus. Lagipula, ia juga tidak bisa menyakiti para centaurus begitu saja. Hermione tidak ingin memiliki musuh di sini.

Hermione melihat sebuah gua yang terbuat dari batu tak jauh darinya. Ia pun mempercepat langkahnya dan menginjakkan kaki di mulut gua. Kemudian ia mengacungkan tongkatnya dan merapalkan mantra secara nonverbal. Homenum Revelio, bisiknya dalam hati.

Setelah mendapati bahwa tidak ada orang lain di dalam gua, ia mengecek gua tersebut apabila ia menemukan hewan di dalam gua. Hermione menyalakan ujung tongkatnya dan merasa lega ketika mendapati gua itu kosong. Ia pun merapalkan mantra perlindungan di sekeliling gua. Setelah selesai, ia mengeluarkan bahan-bahan ritual dari tas maniknya.

Hermione mengeluarkan kapur, basin, dan sebotol ramuan dan menaruhnya di pinggir gua. Ia hanya membawa tiga botol Ramuan Derumpion Tempio untuk melakukan perjalanan waktunya. Kata Mr. Clearwater, tiga botol sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan bantuan cahaya dari ujung tongkatnya, Hermione mengambil kapur dan menggambar pentagram di lantai gua. Kali ini lebih kecil dari pentagram yang ia buat saat hendak melompat ke masa lalu. Runenya juga sedikit berbeda. Setelah selesai, ia berlutut di depan basin dan mengiris telapak tangannya, membiarkan darahnya mengalir ke basin.

Setelah mencampur tujuh tetes ramuan ke dalam basin, ia meminum sisa ramuan yang ada di dalam botol. Hermione menyelesaikan pentagram dengan mengoleskannya dengan darah yang bercampur ramuan dari dalam basin. Setelah selesai, ia kembali memasukkan bahan-bahan ritual ke dalam tasnya dan melangkahkan kaki ke tengah pentagram sambil mematikan cahaya dari ujung tongkat sihirnya. Membiarkan dirinya bermandikan kegelapan di dalam gua yang lembap.

Sebentar lagi, bisiknya dalam hati. Aku akan mengunjungi Ron dan bertemu Harry...

Hermione memfokuskan pikirannya dan merapalkan mantra sambil melambaikan tongkat sihir anggurnya dengan pola yang rumit,

"Tempus possum exsisto aversa," bisiknya pelan.

"Sed non decipio."

Ia pun mengacungkan tongkat sihirnya ke langit-langit gua dan melambaikan tongkatnya dengan pola-pola rumit dan beberapa rune. Sambil merapalkan mantra, ia bisa melihat pola dan rune yang telah ia buat dari ayunan tongkat sihirnya mulai mengitarinya. Pentagram, pola-pola mantra, dan rune di sekelilingnya mulai memendarkan cahaya iru terang. Lalu ia menusukkan udara di atasnya dengan tongkat sihir sambil berseru, "Reditum!"

Pola-pola mantra dan rune di sekelilingnya mulai berputar dan berdesing dengan cepat. Hermione pun menutup matanya perlahan dan mengeratkan cengkraman pada tongkat sihirnya. Jantungnya berdetak kencang. Ia memfokuskan pikirannya ke masa depan. Sebentar lagi..., bisiknya dalam hati. Ron... Harry...

Kemudian ia membuka matanya dan mendapati bahwa dirinya masih berdiri di tempat yang sama. Jantungnya masih berdetak cepat di dadanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, menunggu efek yang mungkin saja terlambat datang. Ia menyadari bahwa pola-pola mantra dan rune di sekelilingnya telah menghilang. Pentagram yang ia injak juga tidak memendarkan cahaya biru lagi. Dan Hermione bersumpah masih bisa merasakan sihir miliknya di sekitarnya- mantra perlindungan yang ia pasang di gua. Hermione kembali mengerjapkan matanya.

Ke- kenapa aku masih di sini? tanyanya pada diri sendiri.

Kemudian ia meninggalkan lingkaran pentagramnya dan mulai berpikir. Apa yang salah? Apa pentagramnya salah? Tanyanya dalam hati. Hermione menyalakan ujung tongkatnya dan memperhatikan lingkaran pentagramnya dan tidak menemukan kesalahan. Rune yang ia torehkan juga benar. Lalu apa? tanyanya lagi.

Ataukah mantra dan pola tongkat sihirku salah?

Ia pun memutuskan untuk mengulang kembali ritualnya. Ia menghapus pentagram di lantai gua dengan jentikan tongkat sihirnya, "Evanesco," bisiknya. Lalu ia mengeluarkan bahan-bahan ritualnya kembali dari dalam tas maniknya. Baru saja ia mengeluarkan ramuannya dan menaruhnya di pinggir gua, ia pun dikejutkan dengan suara derap kaki kuda yang berasal dari luar gua. Ia terlonjak berdiri dengan kaget dan tanpa sengaja menendang botol ramuannya hingga tumpah. Ia pun menatap ramuan itu dengan tidak berdaya dan dengan cepat menggarukkan ujung tongkatnya ke kepalanya untuk mengaktifkan Mantra Penyamar.

Hermione menahan napas ketika seekor centaurus menjulurkan kepalanya ke dalam gua dan berkata dengan suara yang berat, "Siapa di sana?"

Centurus itu masih menjulurkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya ke dalam gua. Yang hanya Hermione bisa lihat dengan jelas adalah kilatan cahaya dari mata sang centaurus. Hermione tidak dapat melihat wajah centaurus yang tengah berdiri di mulut gua dengan jelas. Meskipun Hermione tau Mantra Perlindungan yang ia pasang di gua itu masih berfungsi, Hermione masih tak berani bergerak. Bahkan ia tadi merapalkan Mantra Penyamar- yang mana agak tidak berguna karena toh centaurus itu tidak bisa melihat apa-apa. Dan Hermione bersumpah bahwa centaurus itu menatap tajam tepat dimana ia berdiri.

Hermione masih menahan napasnya ketika seekor centaurus datang menyusul centaurus yang berada di mulut gua. "Sedang apa kau, Firenze?"

"Entahlah, Magorian. aku merasakan seberkas sihir yang kuat di sekitar sini."

"Bicara apa kau, Firenze? Gua ini sudah tidak ditempati beratus-ratus tahun. Lagipula, aku tidak merasakan apapun. Ayo!"

Centaurus itu memberi pandangan curiga terakhir ke dalam gua sebelum pergi meninggalkan Hermione yang tercengang.

Firenze? Tanya Hermione dalam hati.

Hermione pun menghela napasnya lega sambil memegangi bandul kalung yang terlingkar di lehernya tanpa sadar. dalam hati Hermione sangat berterima kasih kepada Magorian.

Setelah menunggu kawanan centaurus itu menjauh dari gua. Ia menyalakan ujung tongkatnya lagi. Ia menatap ramuan di belakangnya dengan pasrah. Ramuan itu perlahan-lahan berubah warna, dari warna ungu anggur menjadi hitam. Kemudian ramuan tersebut lenyap perlahan-lahan tanpa meninggalkan sisa. Hermione merutuk dalam hati atas kecerobohannya.

Tinggal satu ramuan lagi, dan aku akan terjebak di sini, batinnya lemah.

Kemudian ia melakukan persiapan ritual lagi, melakukan proses yang sama dengan teliti dan hati-hati. Ia menggambar pentagram dan menggumamkan mantra dengan perlahan tapi pasti. Namun ia hanya mendapati dirinya masih di tempat yang sama. Tidak merasakan apapun. Ia pun menatap dengan horor pentagram di bawahnya yang tidak lagi memendarkan cahaya biru. Meninggalkan Hermione sendirian di kegelapan gua yang pekat.


Chapter kedua! makasih buat reviewnya:

Moku-Chan, , Nisa Malfoy, Guest(Mrs. Y Malfoy), Claudie, Beky.

Tom belum muncul di sini, mungkin chap selanjutnya hehe

review? :)

catsilhouette