Previous Chap

"Ada apa, Hyuuga?"

"A-Ah, tidak. Tidak apa." Hinata berdiri. Ia rapikan roknya yang sempat terlipat dan kemudian balas ber-ojigi. "Mohon bantuannya..."

Di sana Naruto tersenyum, pria yang memiliki tiga garis di masing-masing pipinya itu menciptakan suatu firasat ganjil di hati Hinata. Entah kenapa ada sebuah hal di dalam pria ini yang membuatnya tak nyaman. Tapi anehnya dia tidak tau apa sebabnya.

Ia sama sekali tidak mengenal pria jabrik itu, hanya saja... ia merasakan ada yang janggal.

Hinata menelan ludah.

Tatapan pria itu kepadanya...

Terlihat berbahaya dan memiliki maksud tersembunyi.

.

.

Terlalu lama memandangi penampilan Naruto, Hinata tidak tau bahwa dirinya telah diamati oleh Tsunade yang terheran. Wanita ber-lipstick merah itu memiringkan kepala dan menyentuh tangan Hinata; menyadarkannya.

"Ada apa dengan Naruto? Kau sudah dua kali melamun saat melihatnya..."

Hinata menatap Tsunade. Ia menggeleng cemas. "Ma-Maaf... aku tadi lagi banyak pikiran..."

"Benarkah?"

Manik hijau muda sang atasan kembali memandang Naruto. Pria itu masih di posisi santun. Pandangan yang ia berikan terkesan ramah—tidak penuh selidik seperti yang Hinata lakukan.

"Atau jangan-jangan kau tertarik kepadanya?"

Hinata panik dan Naruto hanya mendengus geli. "Tentu saja b-bukan..."

"Kupikir kenapa."

Trrrr...

Tsunade merasakan getaran di saku blazer-nya. Wanita cantik itu segera berdiri, meminta izin keluar agar bisa mengangkat telfon.

Blam.

Kini tertinggal Hinata dan Naruto yang berada di dalam kamar. Hinata gugup seketika. Jemari tangannya bergerak-gerak di atas paha; saling meremas. Dia juga menunduk, sama sekali tak berani membuka topik atau sekedar bertatap muka dengan Naruto yang masih berdiri di hadapannya.

Sedangkan kedua mata Naruto terus mengamati gerakan wanita itu. Tak lupa dengan senyum tenangnya.

.

.

.

1ST ONESHOOT

"1st Oneshoot" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga]

Action, Crime, Romance, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

(anggap LAJ sebagai DPR dan CEC sebagai KPK)

.

.

SECOND. Nona Politisi

.

.

Masih di ruangan yang sama, tiga menit berlalu dan Tsunade tetap belum kembali. Hinata merasa suasana di dalam ruang kamarnya ini semakin canggung—khusus untuk dirinya sendiri. Sebab ia sendiri tidak tau harus melakukan apa.

Hinata melirik singkat. Iris biru safir dan lavender bertemu lagi. Kalau dipikir-pikir, dari tadi Naruto terus memandanginya tanpa henti. Hinata palingkan wajah dan mengerutkan kening. Ada apa dengan tatapan pria itu? Dirinya jadi tidak nyaman.

"Kau malu berduaan denganku?"

Sebuah pertanyaan membuat Hinata tercubit. Jantungnya berdegup kencang

Sekalipun tepat, rasanya agak kurang sopan jika ada bodyguard yang menanyakan itu ke seorang atasannya.

Buru-buru ia menggeleng. "Ti-Tidak."

"Tapi kau terbata."

"Ini... mm, keturunan..."

"Begitu, ya?"

Naruto mulai tertawa, menunjukkan sederetan giginya yang putih. Ia mengangguk singkat. Kedua matanya masih tak berpaling dari wajah ayu di depannya.

Bagai terpikat oleh daya tarik sang nona Hyuuga, Naruto berjalan mendekat. Sebuah tempat luang di sofa membuat pria itu mendudukinya; mengisi tempat di sebelah Hinata.

"Setahuku semua keluarga Hyuuga memiliki dasar sikap yang dingin." Ujarnya terus terang. "Dan sepertinya 'terbata' bukanlah ciri khas asli klan Hyuuga yang bermartabat tinggi."

Hinata tercenung.

Eh? Apa maksudnya? Apa secara tak langsung Naruto mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki martabat? Benar-benar tidak sopan. Rasa tersinggung itu memperkeruh suasana hati Hinata yang diliputi keresahan.

Segeralah ia memejamkan mata, menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia kumpulkan keberanian untuk mengeluarkan kata-kata. "Daripada membicarakan keluargaku... lebih baik kau menolak penawaran Tsunade-sama."

"Penawaran apa?"

"Me-Menjadi bodyguard."

Alisnya naik sebelah. "Kenapa?"

"Mengawalku sama saja seperti bunuh diri; nyawamu dapat dipastikan terancam."

"Aku memang selalu mempertaruhkan nyawaku tiap kali bekerja."

"Ti-Tidak..." Hinata berdesis pilu. "Kali ini lebih rumit. Aku yakin dirimu tidak akan sanggup menjagaku..."

Coba bayangkan, pembunuh yang mengincar nyawanya ialah G-Parade, pembunuh bayaran—yang diduga—sewaan keluarga Uchiha. Ia bahkan bisa membunuh Tenten dalam hitungan detik tanpa diduga. Padahal sudah ada banyak polisi yang berjaga di sekeliling gedung pengadilan. Mana bisa Naruto bisa melindunginya dari semua itu?

"Ja-Jadi... kumohon, lebih baik kau pulang."

Ucapan Hinata memberikan keheningan selama beberapa saat. Di akhir menit Naruto tergelak. Tawa lepas layaknya menonton acara komedi di televisi. Hinata memandangnya tanpa berkedip. Sambil memegangi perutnya, Naruto meredakan suaranya dan berkata pelan.

"Selamat, kau adalah orang keseratus yang pernah mengatakan itu kepadaku."

Dilihat dari gerak-gerik dan juga gaya bicaranya, jelas Naruto memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi—entah dari segi kemampuan atau mental. Yang jelas reaksi pria pirang itu membuat Hinata menghela nafas pasrah. Tubuhnya membungkuk, wajahnya ia tutup dengan telapak tangan.

Bagaimana bisa ia menyerahkan nyawa kecilnya ke perlindungan bodyguard yang terlihat seenaknya ini?

Naruto pun melemparkan sebuah seringai.

"Siap-siap, Nona. Setelah kau dikonfirmasi menjadi ketua CEC, petualangan akan dimulai."

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Mesin beroda empat berjalan pelan, menggilas jalanan aspal yang diselimuti dedaunan rontok musim gugur. Mendekati kediaman Hinata Hyuuga, mobil berwarna biru metalik itu berbelok, dan kemudian parkir di sisi trotoar.

Di dalam sana ada dua orang yang menempati kendaraan itu. Yang pertama adalah Sabaku Gaara, pria yang memiliki rambut merah. Ada tato kanji 'ai' di keningnya yang ditutupi oleh poni tak beraturan. Ia berada di bangku kemudi. Sementara satunya lagi adalah Sakura Haruno, wanita berusia awal dua puluhan.

Telinga wanita bersurai merah muda itu terpasang earphone. Ia bukan mendengarkan lagu ataupun menelfon, ia sedang mengikuti perbincangan yang terekam dari alat penyadap yang sudah mereka pasang sejak lama di kamar seseorang.

Siapa lagi kalau bukan Hinata Hyuuga—target mereka saat ini?

Ya, itulah identitas mereka. Dua pembunuh bayaran yang diberi julukan G-Parade. Gaara dan Sakura memang disewa penuh oleh keluarga Uchiha untuk menghambat pengadilan Kasus Uchiha. Dan saat ini Fugaku belum dipanggil lagi ke meja hijau, jadi satu-satunya tugas yang bisa dilakukan adalah mengawasi Hinata.

Mendadak Sakura mendapatkan obrolan penting. Ia tarik lengan mantel partnernya.

"Hm?"

"Gaara, kau harus dengar ini..." Sakura menaruh earphone khususnya ke telinga Gaara. Ia menekan beberapa tombol di gadget-nya untuk mengulang suara.

'Siap-siap, Nona. Setelah kau dikonfirmasi menjadi ketua CEC, petualangan akan dimulai.'

"Itu suara bodyguard yang sudah disiapkan Tsunade Senju untuk menjaga Hinata."

Gaara mengangguk. Wajar jika CEC melakukan penjagaan ketat ke calon ketua CEC yang baru.

"Berapa jumlah bodyguard yang mereka sewa?"

"Sepertinya satu."

Gaara mendengus kesal. "Cuma satu? Mereka meremehkan kita?"

Sakura menggeleng pelan.

"Tidak. Kalau penjaga yang lain sih sepertinya ada banyak, tapi khusus bodyguard utama, mungkin hanya dia yang ditugaskan mengawal Hinata." Sakura kembali fokus ke earphone. "Aku menduga dia bukan orang biasa."

Sakura mengambil alatnya yang lain, sebuah tab, lalu menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke layar. Setelah beberapa detik gambar di sana berganti-ganti, akhirnya Sakura memperlihatkan sebuah foto wajah pria beserta datanya.

"Lihat. Kalau dari apa yang kudengar, bodyguard itu bernama Naruto Namikaze. Dia seorang mantan agen ber-codename UZU. Record misinya nyaris sempurna. Citranya di mata para atasan pun juga bagus." Lanjutnya. "Ini dari data rahasia yang berhasil kita hack setengah tahun yang lalu."

"Mantan agen?" Gaara masih memasang wajah datarnya.

"Ya. Mungkin kembali dipekerjakan lagi." Sakura menatapnya. "Meski begitu dia tangguh, Gaara."

Gaara mendengus. "Aku bisa mengatasinya."

"Ralat. 'Kita' bisa mengatasinya."

"Ya." Pria yang terlihat emotless itu mengangguk singkat. "Kalau kau berguna."

Sakura mengernyit, memandang sinis ke arah Gaara yang sedang mengelap pistol SMG-nya. Bukannya selama dua tahun bekerjasama dia selalu menjadi pihak aktif untuk memperoleh informasi? Kenapa Gaara tak pernah mengakuinya sih?

Menyebalkan—Sakura membatin. Ia alihkan pikirannya dengan meraih ponsel.

"Ada baiknya kita laporkan ini ke Sasuke-sama..."

Di deringan keempat sambungan itu dijawab.

'Ada apa?' suara Uchiha Sasuke, sang politisi muda, mengalun pelan. Nada yang khas. Datar dan terkesan dingin—tapi setidaknya masih sedikit berekspresi dibandingkan suara orang di sebelahnya, Sabaku Gaara.

"Kami mau melapor..."

Sakura pun menjelaskan kehadiran seseorang yang mulai detik ini akan menjaga Hinata di CEC. Pada awalnya tanggapan Sasuke hampir menyerupai Gaara—meremehkan. Namun setelah ia memberikan penjelasan bahwa orang itu adalah agen rahasia, Sasuke malah kesal sendiri.

Itu tandanya CEC sudah bersiap siaga mendapatkan serangan.

'Tapi tak apa...' Sasuke menghela nafas. 'Aku punya ide.'

"Ide apa, Sasuke-sama?"

'Hinata Hyuuga kan yang akan menjadi ketua CEC?'

"Ya."

'Aku akan membujuknya untuk membatalkan pengangkatan itu.'

Sakura terdiam dan berpikir sebentar. Ah, iya, ya. Dulu sempat ada kabar bahwa Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga adalah sahabat sekaligus mantan kekasih. Tentu Sasuke mendekati Hinata dengan niatan ingin tau CEC lebih banyak. Dan barangkali dari hubungan itu Sasuke bisa memanfaatkan situasi.

"Tapi kalau dia tidak mau, bagaimana?"

Di seberang sana, tanpa ada satu orang yang melihat, si raven menaikkan sudut bibirnya.

'Dia akan kubunuh.'

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Hinata's House, Tokyo.

Beberapa hari terlewat, tepat di pagi buta, Hinata masih terlelap di kasur berukuran queen size-nya. Wanita bersurai indigo itu terlihat lelah. Bahkan saat alarm di mejanya berdering, ia sekedar mematikan bunyi nyaringnya tanpa membuka mata. Kegiatan kemarin malam benar-benar merampas energinya.

Tentu saja. Mempelajari belasan buku Tatanan Hukum yang tebal selama dua malam tidaklah mudah, kan? Itu sama sekali bukan bacaan santai yang bisa membuat isi kepalanya rileks.

Merasa sudah terlalu lama berbaring, cicitan burung di luar jendela membangunkannya. Hinata menguap pelan dan meregangkan tubuh. Masih dengan posisi terbaring, ia menoleh dan menatap jam. Ini pukul delapan pagi. Ia terlambat satu jam dari rutinitasnya yang biasa.

Ia pun menuruni ranjang dan berjalan menuju meja rias. Ia memandangi refleksinya di depan cermin. Surai indigonya yang kusut, matanya yang masih menyipit, dan tak lupa bibirnya yang kering. Tampaknya ia harus mandi.

Mumpung prosesi pengangkatan ketua CEC itu akan dilangsungkan minggu depan, ia harus menggunakan waktu luangnya secara maksimal. Jangan cuma tidur dan bermalas-malasan saja.

Jemari tangan Hinata bergerak pelan, melepaskan satu per satu kancing bulat yang mengaitkan kain piyamanya.

Kain berbahan satin itu akan ia lepaskan dengan damai—kalau saja tidak ada orang yang memasuki kamar dengan seenak hati.

Cklek.

"Ohayou."

Seorang agen bernama Namikaze Naruto masuk begitu saja. Hinata tersentak. Segeralah ia menutup tubuh bagian depannya dan memunggungi Naruto.

"Ke-Kenapa kau selalu masuk t-tiba-tiba tanpa mengetuk!?" Pekikan itu keluar. Matanya membulat dan wajah paniknya yang dihiasi semburat merah terpampang jelas.

Hampir seminggu Naruto tinggal di sini (sebagai bodyguard) ternyata tidak membuat pria itu tau tata krama; dia masih saja enggan mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang pribadinya—seperti tadi. Dan untuk sekedar informasi, Hinata tidak cuma tinggal berdua dengan Naruto. Masih ada seorang maid tua yang bekerja di lantai bawah. Tapi tentu saja maid tersebut tak akan selancang Naruto sekalipun dirinya sudah akrab dengan Hinata.

Naruto meliriknya dengan tatapan heran.

"Memangnya kau sedang apa? Ganti baju?"

Dalam diam Hinata mengangguk. Sorot mata iris lavender Hinata seolah meminta Naruto supaya cepat keluar. Tapi karena dia merupakan tipikal pria yang seenaknya, dengan santai Hinata diabaikan. Naruto malah lanjut menjelajahi kamar Hinata yang luas tanpa sepatah kata maaf ataupun permisi.

Benar-benar tak nyaman dengan keadaan ini, akhirnya Hinata yang menyerah. Begitu bibirnya mengerucut dan tangannya kembali mengancingi piyama, Naruto terkekeh di balik punggungnya. Ia tampak menikmati gerak-gerik Hinata. Terutama pipi putihnya yang dilapisi rona merah serta tubuh seksinya yang hanya terbalut kain tipis. Wanita yang memiliki ras oriental itu selalu menggemaskan jika dikerjai.

"Aku datang ke sini untuk memeriksa kamar. Kau boleh keluar jika merasa terganggu."

Sambil memasang sarung tangan karet bewarna putih, Naruto berjalan, matanya bergerak ke sana kemari mengamati perabotan kamar. Hinata tidak nyaman. Ia ingin mengusir Naruto, tapi dirinya tak berani. Jadinya ia hanya berharap Naruto akan segera pergi apabila ia terus mendelik ke arahnya.

Tapi karena kelewat peka, malah senyum jahil di wajah tan-nya lah yang kembali tercipta.

"Ada apa? Kau butuh bantuan? Tanganku cukup handal dalam menggeledah kancing pakaian, ritsleting dan juga kaitan bra."

"A-Apa?"

Hinata nyaris tak sanggup bernafas. Ia terkejut. Candaan Naruto benar-benar membuatnya harga dirinya tercoreng. Bagaimana bisa ia memiliki seorang bodyguard yang mulutnya kotor seperti ini?

"To-Tolong jangan kurang ajar..."

Naruto tertawa, kedua tangannya terangkat ke atas—pose menyerah. Politisi bermarga Hyuuga ini lucu juga. Ia mengecam namun tergagap. "Aku tidak kurang ajar kok. Aku hanya menawarkan jasa."

Hinata tak menjawab. Ia tampak tidak suka dengan pria berjas rapi itu.

"Kau ini agen, kan? Lalu kenapa—?"

"Aku agen lepas. Sudah lama aku tidak bertugas secara resmi." Tandasnya langsung. "Maka dari itu aku hanya menunjukkan sikap formalku ke orang-orang pilihan saja. Sisanya malas."

Hinata menahan nafas. Ia kesal. Cuma orang-orang pilihan, katanya? Benar-benar menyebalkan.

Segeralah ia mengubah rencana paginya. Berhubung Naruto ada di kamar, sebaiknya ia sarapan dulu di ruang makan. Siapa tau nenek Chiyo—maid-nya—menyiapkan sup sayur kesukaannya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia berbisik pelan.

"Sekalipun kau adalah agen pilihan Tsunade-sama, kalau kau main-main dengan tugas pengawalan ini... aku takkan ragu untuk memecatmu."

Blam.

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Naruto seorang diri di dalamnya. Di sana Naruto berdecak geli. Baru kali ini ia melihat ada seorang wanita pemalu yang selalu berusaha kuat jika di depannya.

Tapi tidak apa. Yang penting sekarang ia sudah berada di kamar Hinata tanpa kehadiran pemiliknya.

Diamati terlebih dulu ruangan bernuansa putih ini. Sekalipun desainnya terlihat simply elegant, ia masih memiliki beberapa perabotan yang memiliki warna ungu pastel. Perpaduan warna yang sangat indah. Memberikan kesan kekanak-kanakan yang tak terlalu kentara. Tidak heran sih, bagaimanapun juga kan Hinata masih dua puluh tiga tahun.

Suara sol dari patofel hitam yang Naruto kenakan mengetuk alas lantai. Ia berjalan ke sebuah lemari kaca yang sangat besar. Buku-buku tebal yang terjejer membuat Naruto malas untuk memeriksanya.

Manik matanya bergerak ke arah lain. Kasur. Dia periksa segala yang ada di sana dengan tatapan meneliti. Dimulai dari selimut, balik bantal dan juga permukaan seprai. Tak menemukan apa-apa, ia beralih ke toilet yang masih seruangan dengan kamar. Saat pintunya dibuka, terciumlah aroma manis yang menguar dari dalam. Perpaduan dari sabun dan sampo yang dikenakan Hinata. Inginnya ia memeriksa keadaan di dalam sana. Namun karena dirinya melihat beberapa pakaian dalam Hinata yang tergantung di hanger, langkahnya terhenti. Bra tanpa pad dan kawat itu menarik perhatiannya. Lama.

Entahlah fantasi apa yang melintasinya hanya karena itu.

Blam.

Pintu toilet dia tutup tanpa suara. Ia mem-blacklist toilet dari daftar pengamatannya—jika tidak ingin Hinata menyebutnya sebagai bodyguard mesum.

Yah, meski ia pria yang tak akan sungkan-sungkan menggoda Hinata dengan candaan menjurus, ia tetap tau batasan-batasannya.

Sreek.

Kali ini ia mengesampingkan gorden jendela ke masing-masing sisi yang berlawanan. Cahaya matahari yang lumayan hangat menerpanya. Ia pun menaikkan kaca jendela. Niat awalnya cuma mau mengeluarkan hawa dingin dari ruangan, tapi karena ada sesuatu yang sedikit mencurigakan, posisi Naruto tertahan.

Naruto menjulurkan kepalanya keluar dan memeriksa bagian luar jendela. Awalnya ia tidak menemukan apa-apa, tapi setelah melakukan pengecekan sebanyak tiga kali, ia mendapati sesuatu yang membuatnya menyeringai.

Ada sebuah alat penyadap yang terkait di bingkai jendela kamar Hinata Hyuuga.

"Great. Belum diangkat jadi ketua CEC saja dia sudah disadap..."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Aku mau ngasih spoiler nih biar kalian ngga bingung. Ngga bakalan berbelit-belit, tujuan NaruHina di fict ini cuma satu; ngejagain Hinata sampe dia nyelesein sidang Kasus Uchiha di pengadilan.

Nah, step per stepnya; 1) Hinata diangkat dulu jadi ketua CEC. 2) Tunggu tanggal pengadilan Kasus Uchiha dilanjutin, dan kemudian sidang deh sampe selesai (asal Hinata ngga mati di tengah jalan atau di persidangan—kayak Tenten, dll).

Ceritanya simpel. Sidang selesai langsung tamat. Tapi nanti ada banyak hal yang jadi kendala. Karenanya dimohon maklum kalo misalnya fict ini sampe belasan/dua puluhan chap, ya... :')

.

.

Glosarium

[1] LAJ (Legislative Assembly of Japan): Badan parlemen Jepang yang dianggotai oleh dewan perwakilan rakyat. Mengurus pemerintahan negara.

[2] CEC (Comission Eradication of Coruption): Badan pemerintah yang menangani kasus korupsi. Dipimpin oleh Tsunade Senju.

[3] G-Parade: Nama kelompok pembunuh bayaran yang dianggotai oleh Gaara dan Sakura.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to

author-nata, Utsukush hana-chan, amu-b, bohdong-palacio, uzumakimahendra4, Nauri Aconitumferox, Blue-senpai, dindaayudia, i hate u, tiara, mangetsuNaru, Childishpink, anon, kurama no yokay, stillewolfie, halo, aih, Misti Chan, bluerose, amexki chan, Yourin Yo, Rika Shimon, Ayuzawa Shia, yadiNHLsejati, Lilac, flowers lavender, rfly, Yumi Murakami, Durara, actiongun, kirei- neko, Kyoanggita, hyunkjh.

.

.

Pojok Balas Review

Fict ini beda dari yang lain. Ah, arigatou. Lumayan berat temanya, ya? Di awal emang berat, tapi di chap dua ke atas ngga gitu berat kok. Apa ada tembak-tembakannya di sini? Ada. Semua scene action di sini pake pistol. Penasaran sama niatan Naruto yang sebenarnya. :D Hm, politik, ya? Iya, tapi bukan masalah politik yang ribet. Kirain fict oneshot. Judulnya sih harusnya 1st One Shoot (tembakan satu pertama /halah). Tapi karena lebih keren disambung, ya aku sambung. Belum kerasa feel-nya. Feel apa dulu nih? Feel romance? Feel suspense? Feel crime atau apa? Jepang itu negara monarki parlementer. Hmm, iya aku tau. Makanya di fict ini aku nyocok-nyocokin ke sistem pemerintahan Indonesia (yang ala kadarnya). Jadi bayangin aja Fugaku/DPR di sini sebagai anggota parlemen (kekuasaannya masih di bawah Perdana Mentri/Presiden). Thanks penjelasannya :)

.

.

Next Chap

"Dia beda dari 'orang itu' dan anggota keluarga Hyuuga yang lain."

"Jangan cemas. Dia baik-baik saja bersamaku."

"Kenapa? Kau takut sendirian? Butuh ditemani dua puluh empat jam?"

"Sambil ke Tokyo Edifice, kita pikirkan cara lain untuk membunuhnya."

.

.

Warning

Fiksi ini murni karangan—dimulai dari nama tempat, tokoh dan badan organisasi yang disebutkan. Jadi mohon maaf jika ada kemiripan atau kesalahan yang tak sengaja tertulis di dalam sini.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU