Memory 2:
Kazuto belum siap untuk melawan member Templar karena tubuhnya kelelahan. Dia merasa kesulitan untuk menyerang balik.
Member Templar berusaha menikam tepat ke jantung Kazuto. Tetapi ditepis dengan Hidden Bladenya. Dia merunduk dan menikam member itu hingga tewas. Member Templar itu tewas. Kazuto bersyukur karena telah berhasil membunuhnya. Meski pertarungannya cukup singkat, tetapi ada yang aneh. Dia melihat ada Smartphone yang berdurasi 1 menit. Kazuto membuka file tersebut, dan melihatnya.
"Halo, Kirigaya bersaudara. Lama tak jumpa. Sayang sekali aku tidak bisa membunuhmu pada saat di Rumah Sakit. Aku memang mengusir kakak jahanammu dari Templar karena dia arogan. Dia seenaknya tidak menyetujui rencanaku untuk mengembangkan animus 2.0 bersama keluargamu. Aku bersusah payah mengembangkannya, ternyata mereka merenggut hasil karyaku, dan aku dipecat dari Abstergo. Tetapi jangan khawatir karena aku tahu kau hanya seorang bocah tidak ngerti apa-apa tentang masa lalu ortumu. Yang jelas, aku tidak akan sudi jika kau membunuh 'kesayanganku'. Jika kau membunuhnya, aku akan memburumu sampai tua nanti, dasar bocah tidak tahu diri!"
Penayangan video telah berakhir, tetapi Kazuto bertanya-tanya apa maksud 'kesayangan'? apakah Sudou punya anak? Dia menggeleng-geleng tidak mungkin. Menurutnya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Satoru dan tidak ingin dia tahu. Seandainya kakaknya paham soal pernyataan barusan, bisa-bisa dia mengalihkan pembicaraan.
Sesaat kemudian, muncul Asuna, Keiko dan Rika yang berlari sambil ngos-ngosan. Mereka juga membawa sensei untuk dibawa ke kantornya. Namun, semua terlambat karena Kazuto telah membunuhnya.
"Kau…kau membunuhnya!" kata guru tersebut.
"Tidak! Aku berusaha untuk membela diri!"
"Sensei, apa maksud sensei berkata seperti itu?!" bela Asuna kepada Kirito.
"Kirito-san tidak mungkin melakukan seperti itu. Kalaupun dia melakukannya, dia hanya terpaksa untuk membela diri," bela Keiko.
"Itu benar, sensei. Apa kau tidak percaya reaksinya Kazuto saat membela diri?!" bela Rika kepada Kazuto.
Tidak disangka-sangka, ternyata, dia dibela oleh teman-temannya selain pacarnya sendiri. Kazuto ingin mengatakan hal yang sama dengan mereka. Tetapi, melihat reaksi sensei tersebut membuat dia hanya diam saja menerima dimarahi oleh Sensei.
"Tidak mungkin seorang anak bisa mengalahkan orang itu dengan cepat. Apalagi, dia lebih tinggi dan besar. Tidak mungkin—" tiba-tiba, smoke bomb dilempar, hingga semua orang pingsan. Termasuk Asuna sendiri.
Kazuto mencoba menyadarkan diri dan dia melihat Satoru yang berdiri di situ sambil menyodorkan masker kepadanya.
"Kazuto. Sebaiknya kau harus pergi dari sini. Yumesaki Taro mengejarmu, dan bawa Asuna keluar dari zona bahaya. Aku yang akan lindungi mereka. Itu benar kan, Koichirou?" kata Satoru.
Koichirou mengenakan hoodie berwarna biru, dan mengenakan emblem templar yang sama persis. Bedanya, lebih dominan biru putih ketimbang templar. Dia membawa pedang katana dan hidden blade di sepatunya.
"Tentu saja, Mentor Assassin. Sudah saatnya lindungi sekolah ini." Ujar Koichirou tersenyum.
