Chapter Two: Kencanmu, Kencanku.
A/N: Aaahhh senangnya! Tadinya author bikin fanfic ini karena galau belum ada fanfic Yuri on Ice padahal fandomnya udah lit banget! Dan sekarang udah mulai banyak fanficnya uhuuuyy! Author juga gak nyangka bakal dapet respons sebanyak ini! Makasih kalian para readers baik hati dan tidak sombong! Sooo, author persembahkan chapter dua dan selanjut-selanjutnya untuk kalian.
(Author's POV)
"H-HEEE?! APA MAKSUDNYA INI?"
Victor berkedip sekali-dua kali. Bulu matanya yang kelewat lentik (dan diam-diam bikin Yuri iri abis) menyapu pipinya dengan anggun. Manik birunya melayang cepat ke arah album foto yang sedang dipegang Yuri tinggi-tinggi.
"Ada apa? Apa diriku sewaktu kecil se-memesona itu sampai kau ngiler begitu, Yuri?" Victor bertanya dengan polosnya.
Urat-urat iritasi muncul di kening Yuri. Ia melempar album foto itu ke arah Victor, masih syok dengan apa yang dilihatnya. Album foto itu sukses mengenai kening sang jagoan Rusia, menghasilkan suara 'BLETAK' kencang. "Oww, Yuri. Agresifnya…" Victor meringis, "Ah, tapi aku sangat mengerti."
"Sungguh?" Yuri menatap Victor penuh harap.
Dengan percaya diri, Victor manggut-manggut, "Ya. Kau sedang datang bulan, kan? Mau kubelikan kir*nti?"
Alhasil, sang penggila katsudon ingin sekali membanting-bantingkan kepalanya ke tembok. Ya Tuhan, dosa Yuri apa sampai dapat pacar ganteng nan autis seperti Victor? Seingatnya, dulu dirinya adalah sosok pemalu yang tidak akan pernah melukai orang lain. Namun sejak menghabiskan hari-hari bersama Victor, Yuri mulai meragukan identitas dirinya sekarang. Kalau Yuri sampai jadi yandere sadis, jelas itu bukan salahnya.
"Sayang," Victor menoel-noel pipi Yuri. "Kok diam saja? Sakit?"
Pipi Yuri memerah selama sepersekian detik, membuatnya mirip dengan bakso ikan yang dilumuri saus sambal. Yuri menunjuk album foto yang tergeletak di lantai, menyuruh Victor untuk melihatnya sendiri.
Victor merangkak untuk melihat apa yang telah membuat kekasihnya begitu syok. Gaya merangkaknya amat mengingatkan Yuri pada Vicchan. Tidak, Yuri tidak akan memeluk Victor hanya karena ia mirip anjingnya yang sudah mati itu.
"Oh, foto ini?" Victor menunjuk foto dirinya dan Yuri semasa kecil, memakai yukata musim panas. Yuri bersembunyi di balik punggung Victor yang memegang dua kembang api warna warni. "Ini foto kita. Memangnya kenapa?"
Mata Yuri berkedut, tidak percaya. Bagaimana mungkin Victor begitu tenang menghadapi fakta baru ini. Yuri betulan tidak menyangka mereka pernah saling mengenal sewaktu kecil. Jangankan mengenal, mereka terlihat sama akrabnya seperti pasangan kakak adik. Ada foto di mana Victor merangkul erat pundak Yuri yang tersenyum malu-malu.
Yang Yuri ingat, ia memang pernah punya sahabat dekat sewaktu kecil di penginapan kakek neneknya. Tapi ingatannya berakhir di situ. Jangan salahkan Yuri, dirinya baru berusia 6 tahun waktu itu, wajar otaknya tidak bisa mengingat lebih banyak detail lagi. Namun siapa sangka anak itu justru pacarnya yang luar biasa tampan dan menggoda iman? Demi koleksi DVD Uttaran milik Victor, Yuri tidak bisa percaya ini!
"Yuri," tangan Victor membelai pipi Yuri perlahan. "Kau marah?"
Yuri menggeleng, "Aku cuma… bingung. Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini? Dan kenapa kau tak pernah cerita?"
Victor kembali meraih album foto tersebut. Ia membolak-balik halamannya, berusaha menemukan foto yang akan menjelaskan semuanya. Sampai di halaman terakhir, Victor berhenti. Ia menarik keluar foto itu dari album dan meletakkannya di tangan Yuri.
"Agustus 1999. Tahun yang sama ketika foto tadi diambil. Namun yang ini," Victor tersenyum miris, "foto pemakaman kakek dan nenekmu."
"Maaf ya, Yuri. Sudah lama aku ingin menceritakan kembali kisah-kisah manis kita sewaktu kecil dulu. Tapi aku tahu, bila aku membahas kembali cerita-cerita itu, kita akan sampai di titik ini. Momen ketika kakek dan nenekmu meninggal. Aku tak ingin melihatmu menangis lagi seperti dulu, Yuri. Lebih baik kau tak ingat tentang cerita kita daripada aku harus melihatmu sedih."
Mata Yuri berkaca-kaca, "Victor bodoh."
Lalu Yuri mendorong Victor dan memeluknya erat. Ia tidak sedih, ia terharu. Yuri memang sangat terpukul ketika kakek dan nenek yang amat disayanginya meninggal, dalam waktu yang sama pula. Namun kecelakaan itu tak terelakkan. Kakek dan nenek Yuri baru pulang dari mengantar Yuri dan Victor ke ice rink ketika mobil mereka ditabrak truk. Yuri menangis habis-habisan saat itu, dengan Victor yang terus memeluknya.
Sejak saat itu, penginapan ditutup dan keluarga Nikiforov tidak pernah berlibur ke Kyoto lagi. Victor semakin disibukkan dengan skating dan nyaris tidak punya waktu untuk berlibur.
"Aku tidak apa, Victor. Kau terlalu mencemaskanku." Yuri melepas pelukannya dan menarik tangan Victor untuk meraba pipinya. "See? Aku saja tidak menangis."
"Syukurlah. Apa kau ingat janjiku waktu kita resmi bersama?" Victor mengusap kening Yuri perlahan.
Yuri mengangguk, lalu terkekeh. "Janjimu untuk menghajar setiap orang yang membuatku menangis dengan sepatu skating tajam? Tentu saja aku ingat."
"Kalau kau menangis karena aku, aku takut kau jadi kesepian karena aku pasti akan menghajar diriku habis-habisan sampai dirawat di rumah sakit." Seru Victor tertahan, "Nah, ayo. Mari kutepati janjiku yang tadi pagi."
"Ke taman bermain? Ayo!" Yuri menjawab dengan antusias.
Pasangan itu terlihat sangat mencolok dan menyita perhatian seluruh pengunjung taman bermain. Bagaimana tidak? Seorang Victor Nikiforov yang digilai hampir semua populasi perempuan di Hasetsu berjalan-jalan dengan Yuri Katuski sang harapan terbesar kota mungil tersebut. Belum lagi tingkah Victor yang hobi tebar pesona dan kibas-kibas rambut. Bahkan setiap lima menit sekali, ia terus berusaha memeluk atau mencuri kecupan ringan di pipi Yuri, membuat si pemilik surai legam menunduk malu.
Victor suka sekali dengan roller coaster berwarna pink mencolok di taman bermain itu. Ini keempat kalinya berturut-turut ia meminta Yuri menemaninya naik roller coaster. "Sekali lagi, ya? Yang tadi aku lupa berteriak, jadi tidak terasa sensasinya. Ya? Ya?"
Isi perut Yuri sudah terkocok habis-habisan. Bahkan jika ia disodori sepiring penuh katsudon saat ini, dengan berat hati Yuri harus menolaknya. Kalau tidak, perutnya terancam memuntahkan seluruh sarapannya tadi pagi, yang juga adalah katsudon. Namun demi memuaskan Victor, Yuri memang telah banyak berkorban.
Tidak apa, pikir Yuri. Victor pun rela menemaninya bolak-balik masuk rumah hantu. Muka pucat pasi Victor tidak luput dari penglihatan Yuri, seberapa kuatnya pun Victor berusaha terlihat tangguh di depan Yuri. Victor juga menemani Yuri naik komedi putar yang melantunkan lagu cempreng yang sebetulnya membuat telinga Victor sakit.
Kini mereka tengah mengantri di depan roller coaster. Jam tangan Yuri menunjukkan pukul empat sore. Sebentar lagi wahana bianglala akan dibuka. Yuri sudah seharian menantikan itu, momen berduaan dengan Victor di dalam kotak bianglala, menatap kerlap kerlip lampu di tengah gelapnya malam dari ketinggian. Dan barangkali, bila Yuri beruntung, ia akan mendapat ciuman nan romantis di hari jadi mereka, berduaan, di dalam bianglala.
Yuri harus menahan diri agar tidak memekik girang ala gadis SMA yang kesemsem diajak kencan dengan orang yang disukainya. Sesaat sebelum giliran mereka naik roller coaster, telepon genggam Victor berdering.
There'll be no more darkness
When you believe in yourself you are unstoppable
Where your destiny lies, dancing on the blades
You set my heart on fire
Ah, lagu itu. Lagu kesukaan Yuri yang Victor buat sendiri untuk mengutarakan perasaannya pada Yuri. Siapa yang menyangka Victor berbakat juga dalam membuat lagu? Victor memberinya judul History Maker dan Yuri langsung menyetujuinya. Mereka memang akan menorehkan kisah cinta mereka dalam sejarah.
"Halo? Yakov?"
Yuri melirik Victor yang berbicara di telepon. Yakov menelepon? Tumben sekali. Victor mengaktifkan mode speaker agar Yuri juga dapat mendengar percakapan mereka.
"Oi, Victor. Kau sedang ada di taman bermain Hasetsu, kan? Jangan tanya bagaimana aku tahu. Aku memang tahu segalanya. Ya, ya. Aku titip Yuri padamu ya."
Yuri menaikkan sebelah alisnya, "Kau menitipkan aku?"
"Bukan kau, bodoh. Yuri Plisetsky. Dia sudah ada di sana. Aku sedang kencan dengan Lilia, jadi jangan ganggu lagi. Kau tahu betapa susahnya membujuk Lilia untuk sekedar makan malam denganku? Dah."
Yakov memutuskan sambungan teleponnya. "Dasar Yakov. Padahal dirinya yang mengganggu kencan kita, malah bilang jangan mengganggunya." gerutu Victor.
Yuri melihat sekeliling dengan bingung. "Ia mau menitipkan Yurio? Untuk apa jauh-jauh dari Rusia ke sini untuk…"
"Itu dia!"
Yurio dan dua orang pria bertubuh tinggi, yang kemungkinan adalah bodyguard sewaan Yakov, tengah bertengkar. Atau setidaknya begitu yang terlihat dari kejauhan. Kedua bodyguard itu berusaha menahan tubuh mungil Yurio yang terus memberontak.
Victor dan Yuri buru-buru keluar dari antrian roller coaster dan menghampiri mereka. "Yurio!" panggil pasangan itu bersamaan.
Yang dipanggil menoleh dan membulatkan matanya dengan sempurna. Mulutnya terbuka dan lollipop terjatuh dari sana. Ia menerjang Victor dan Yuri sampai kedua orang itu terjatuh ke tanah. "Mama! Papa!"
