DISCLAIMER
Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama
.
.
Rotten Girl
.
by Chi
Warning : (possibly) OOC, Typo(s), abal, gaje, dsb.
Buku tersebut adalah buku sakti bahan pelampiasan imajinasi Sasha yang suka meliar mendadak. Tak peduli mau itu di sekolah, di pasar, di rumah, di peristiwa gempa bumi atau tsunami, buku itu selalu setia bersamanya.
Berawal dari tiga tahun yang lalu, semenjak Sasha pertama kali mendapatkan pengalaman pahitnya melihat fan-art anime reverse-harem yang isinya cowok-cowok ganteng perkasa tapi tukang grapa-grepe. Kalo fan-art-nya normal-normal saja sih nggak masalah, tapi justru itu. Bukannya nge-gangbang cewek yang menjadi heroin dan protagonis cerita—yang notabene cerita romansa—malah nge-gangbang salah satu cowok yang kalo di anime aslinya ikutan nge-gangbang si heroin. Tapi mungkin karena tampangnya kalah sangar sama temen-temennya, dia dijadikan objek "penistaan" oleh kaum yang pada saat itu Sasha menganggapnya sebagai rumpun orang aneh nggak jelas yang memiliki hobi tak lazim.
Tapi setelah dicekoki dengan berbagai gambar-gambar semacam itu di timeline media sosialnya (salahnya sendiri tidak menyaring friendlist-nya dengan baik, atau mungkin dia dikira cewek fujoshi sama orang-orang lain di media sosial) secara hampir terus-menerus, rasa penasaran pun tumbuh dari dalam dirinya yang paling dasar dan menimbulkan impuls bagi jari-jarinya untuk menari di atas tuts, mengetikkan url menuju mesin pencari sakti mbah Gugel. Setelah itu, ia memasukkan keyword "yaoi" di kotak pencarian, dan mengeklik opsi "web".
Tautan yang muncul di urutan teratas berasal dari Wikipedia berbahasa Inggris. Sasha pun masuk ke dalamnya dan pertanyaan yang muncul di dalam otaknya sedikit demi sedikit mulai terjawab; mulai dari apa arti kata yaoi, selipan gambar dua lelaki tengah menyesap bibir lawan 'main'-nya yang terpasang dengan indahnya di sisi kanan laman, istilah seme dan uke, dan berbagai macam hal lainnya. Ia langsung menutup tab browser dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, mengambil kentang dengan kasar dari dalam mangkuk di samping laptopnya, lalu menggigit kentang tersebut. Kentang tinggal setengah potong dalam waktu kurang dari 1 menit. Mulutnya penuh.
"Demi Tuhan…"
"Demi Tuhan…"
Sasha membanting punggungnya ke sandaran, lalu menghabiskan potongan kentangnya.
"Ya Tuhan, apa yang sedang kucoba cari…"
Sasha menepuk dahinya keras-keras, mendesah pendek.
Memang tidak sulit membuat seseorang—perempuan, tentu saja—jatuh dalam lubang kebejatan tak terkira yang dijejali dengan berbagai fantasi liar yang pastinya tak termaafkan oleh kaum adam. Jadi, dalam beberapa minggu setelah pencarian berdasar "rasa penasaran yang membunuh pikiran" yang dilakukan Sasha, ia dengan sukses mengakui cukup tertarik dengan segala seluk-beluk mengenai anomali antara kedua cowok ganteng yang sering tampil di anime ataupun manga.
Sasha menggigiti kentangnya dengan rakus, sampai lidahnya hampir tergigit giginya sendiri.
Mata tetap tertuju pada layar laptop, senyuman muncul sekilas di wajahnya, tangan kanan tetap bergerak mengontrol cursor, menge-scroll laman hingga ke bagian bawah, sementara tangan kirinya masih menggenggam kentang.
Sasha jatuh ke jurang. Tidak, ia tersedot ke dalamnya. Mau tidak mau, ia tertarik untuk menyelami dunia yang dianggapnya tak lazim itu beberapa waktu lalu, dan secara tak sadar ia mulai cukup kegilaan. Menggelinjang, perutnya tergelitik ketika menjelajahi tamblr.
Sasha yang biasanya lebih suka menggambar cewek-cewek karismatik, kini tertarik mencoba menggambar karakter cowok yang gagah dengan partnernya yang lebih pemalu tapi berusaha menutupinya. Uke tsundere, orang-orang lebih banyak menyebutnya begitu. Cukup menikmatinya, Sasha lama-lama mencoba belajar anatomi tubuh laki-laki dan mempelajari banyak pose melalui tutorial-tutorial gambar di deviantartist. Sasha yang juga suka membaca fanfiction romansa straight yang nggak menye-menye, mulai beralih ke membaca fanfiction menyimpang penguras air mata. Sasha makan kentang sambil nangis bombay.
Satu tahun, dan sudah selama itu Sasha menikmati dunia barunya.
Ia memutuskan untuk membeli buku catatan, polos saja, untuk digunakannya menuangkan imajinasi di mana saja. Ide selalu muncul tiba-tiba, tidak ada salahnya berjaga-jaga membawa buku catatan untuk mencatat ide tersebut sebelum ide itu melayang lagi entah ke mana dan Sasha cuma bisa tabah.
Buku catatan yang berisi kumpulan tulisan-tulisan gaje, dudel OTP tercinta, komik strip, gambar cowok-cowok ganteng ala ala otome game, plot fanfiction yang numpuk tapi beberapa ada yang belum juga dirampungkan, gambar-gambar ekspresi uke yang menggoda iman, dan coretan-coretan abstrak lainnya yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Butuh cukup kebeberanian untuk membawanya ke sekolah, karena ada beberapa kemungkinan mengerikan yang bisa menimpa kapan saja; buku tersebut ketahuan oleh teman; kepergok seseorang ketika sedang menuangkan sisi bejat; disita guru. Tetapi Sasha selalu berhati-hati dalam menaruh buku tersebut maupun mengeluarkannya. Isinya menyangkut harga dirinya jika itu diketahui oleh orang lain.
Terlebih, ia mulai menaruh minat yang besar pada teman sekelasnya, Eren Jaeger, sosok berambut coklat, bermata zamrud yang selalu mengilatkan rasa semangat, namun terkadang bisa berubah mengerikan juga—sosok yang impulsif sangat menggugah hati Sasha—dan dia kesayangan guru sejarah, Levi Ackerman, guru bertampang datar, diselubungi aura aneh entah apa, dan sangat disegani murid-murid. Sasha sendiri berpikir guru sejarahnya tersebut ganteng meski kekurangannya hanya satu; kuntet. Kalau pintar sih sudah nggak diragukan. Eren kebetulan sangat menguasai sejarah dibanding siapapun di kelas itu, tak heran ia cukup dekat dengan Levi dalam urusan membicarakan sejarah. Tapi di dalam penghilatan Sasha sebagai seorang fujoshi, hal tersebut membuatnya megap-megap tiap kali Pak Guru Levi menghampiri meja Eren dan melemparkan pandangan pada anak muridnya itu.
Dan karena hal itu pula ia mulai mengisi banyak kekosongan dalam buku catatannya dengan berbagai hal menyangkut Pak Guru Levi dengan Eren Jaeger.
"Ini bakalan jadi proyek gambar dan cerita besar-besaran!" seru Sasha di kamarnya, puas menyusun rencana proyek dengan objek proyeknya kali ini adalah Pak Guru Levi dan Eren.
"Hmm… apakah ini buku catatan pelajaran, Sasha Blouse?"
Sasha kalah dengan gurunya itu. Aura menyeramkan yang menguar keluar dari sosok di hadapannya membuatnya berjengit dan melepaskan pegangannya pada buku catatan super berharganya itu.
Sasha menggeleng, setidaknya ia berusaha jujur untuk membuat kebohongan lain.
Guru sejarah berponi belah samping itu mengernyit, lalu mulai membalik sampul buku catatannya. Sasha melirik ke arah Jean yang ikutan tegang, tetapi sadar akan lirikan Sasha, ia menyeringai. Sasha mendengus kesal.
"Maaf pak, anu… sebenarnya isi buku catatan itu tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Itu berisi rahasia-rahasia teman-temanku."
Levi menutup buku tersebut, menatap intens ke arah Sasha, sepertinya tengah membaca arti tatapan mata muridnya tersebut. Jujur ataukah bohong?
Sedikit guratan samar, tetapi Levi mengembalikan buku tersebut ke atas meja.
"Tidak ada alasan bagimu untuk begitu sibuk dengan buku tersebut sampai-sampai lupa dengan kehadiranku di sini, hm," kata Pak Guru Levi. "Simpan buku itu. Kalau perlu, jangan kau bawa-bawa lagi ke sekolah."
"Maaf pak, takkan kuulangi."
Sasha menarik napas, lega.
Mina Carolina, salah satu gadis manis berambut kepang dua kanan-kiri, bisa menghela napas juga pada akhirnya. Ia pernah menceritakan rahasianya pada Sasha—sekalian curhat dan minta saran—mengenai cowok yang ia sukai. Dan mendengar pernyataan Sasha mengenai kebenaran isi buku catatan tersebut, ia hampir kena serangan jantung. Mengerikan jika membayangkan seisi kelas—tidak, mungkin akan menjadi seisi sekolah—tahu bahwa dia menyukai sosok Bertholdt Fubar. Mina membenarkan posisi duduknya, kembali memasang mimik serius.
Sementara Jean tetap melirik ke arah Sasha, merengut.
Sepulang sekolah, Sasha pulang, melupakan buku catatan tersebut tertinggal di laci mejanya.
Melangkah keluar dari kelas, ia memeriksa tasnya kalau-kalau ada yang tertinggal.
"Apakah ada yang tertinggal?" tanya Connie. "Entah, aku baru mau mengeceknya…"
"…"
"Ada apa?"
"Tidak… bukuku…" Sasha memucat selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia berbalik badan dan berlari ke arah kelas.
Masih di dalam kelas, Eren, yang cukup peka kala itu terhadap segala sesuatu di sekitarnya, menyadari buku catatan yang tadi dipegang-pegang Pak Guru Levi—dan ia ingat betul itu milik Sasha—jatuh dari laci dan mendarat menuju lantai.
Jean, yang melihat hal tersebut, langsung melotot dan menghampiri Eren. Sebelum Eren sempat berjalan keluar kelas untuk memanggil Sasha, Jean sudah merampas buku tersebut dari tangannya.
"O-oi Jean! Itu punya Sasha!"
"Berisik, aku mau lihat!"
Rupanya Jean masih merasa ada yang mencurigakan. Ia merampas, membalik halamannya dan membuka acak pada halaman-halaman tengah.
Eren itu uke manis. Levi Ackerman, tipe oyaji, tapi seme yang baik, meski agresif kalau udah soal 'itu'. Ah mereka manis kalau bersama! 3 Proyek komik strip *check list*
Jean, nyebelin, tapi dia cocok juga sama Marco. Imuuttnyaaa… Proyek komik strip *check list*
"Hah?"
"Apaan?" Eren kaget melihat reaksi Jean, ia mengintip ke dalam buku.
Seperti ada kejut listrik yang mengenai kulit Eren. Jean masih mendelik.
"O-oi… bukuku!" Teriakan Sasha tidak menyadarkan Eren dan Jean dari keterkejutan sekaligus heran. Apa yang dia maksud?
"Sial! Jangan sembarangan buka buku orang!"
"Woi Sasha, apa-apaan itu…"
"Kau bilang… itu buku… rahasia?" Eren tak bergeming.
"Maaf, tapi emang itu buku rahasia!" teriak Sasha, meramapas buku tersebut paksa.
"Kenapa kau menyebut-nyebut namaku dan Sir Levi?"
"Maaf, tapi itu cuma kesenangan anehku saja. Jangan dipikirkan."
"Hei, kau menyebut namaku dan Marco juga!"
Saat itu Mina Carolina sudah pulang dan tidak bisa menyaksikan kegaduhan yang terjadi. Sasha menjelaskan dengan ringkas; ia seorang fujoshi, penyuka homoseks ala-ala anime.
"Keterlaluan, sialan…"
Sasha sudah siap dengan reputasi dirinya yang akan hancur seketika.
Tapi keesokan harinya, semua berjalan normal, kecuali tingkah laku Eren dan Jean yang berbeda padanya. Mereka diam. Bungkam, tidak bicara apa-apa, mungkin itu juga yang mereka lakukan pada siapapun.
Mereka tidak bicara soal Sasha dan kebenaran di balik sosoknya selama ini.
"Anu…" Sasha menghampiri Jean.
"Hah? Kenapa?"
"Kau marah ya? Maaf…"
"Nggak."
"Eeehhh?! Jangan jangan kau memang beneran suka sama Mar…"
Jean membekap mulut Sasha. Sasha memberontak minta dilepaskan.
"Iya iya maaf… cuma bercanda."
"Jangan sembarangan. Aku dan Marco cuma sahabat, nggak lebih dan nggak kurang." Jean berlalu meninggalkannya keluar kelas.
Sasha menghampiri Eren yang sedang bersama Armin. Mikasa kebetulan belum datang, tumben, biasanya sih datang bersama Eren.
"Eren, maaf soal kemarin."
"…"
"Kau marah?"
"Tidak tidak kok."
"Kau… beneran suka sama…" Sasha menghentikan ucapannya, melihat wajah Eren yang merona.
"Ehhh, beneraaann?!"
Eren mendelik. Armin celingak-celinguk kebingungan. "Ada apa ini? Eren, kau suka sama siapa? Kenapa nggak cerita padaku?!"
Sasha mengerlingkan matanya, kembali ke tempat duduknya, dan pagi itu dan seterusnya hingga istirahat siang, dia tidak mengeluarkan buku catatannya sama sekali.
"Eren… aku mau bicara padamu sebentar."
Sasha membawa Eren keluar pada istirahat siang, menerima tatapan tajam dari Mikasa dan cengiran dari Armin.
Mereka berhenti di sudut koridor, di dekat tangga yang selalu sepi, hampir tidak pernah ada yang mengakses tangga tersebut.
"Kau beneran suka Sir Levi?"
"Kenapa kau bahas itu!"
"Kau memerah Eren."
Eren bungkam, memalingkan wajahnya.
"Berarti benar ya…" antara senang atau ngeri, Sasha hampir tidak bisa membedakannya. Yang jelas, kalau Pak Guru Levi juga suka sama Eren…
Tidak, tidak mungkin…
"Oi, jangan sembarangan menyimpulkan! Aku…"
"Mau kubantu?"
Eren mendelik.
"Ha- haaa?"
"Kubantu kau menarik perhatian Sir Levi," kata Sasha, santai, menggigit kentangnya. Eren berdeham.
"Nggak mungkin. Aku yakin rasa sukaku bukan begitu. Aku hanya kagum."
Denial Eren, denial, batin Sasha.
"Lagipula, Sir Levi sudah punya calon tunangan kok…" Eren angkat bicara lagi. Senyum Sasha pudar. Ia kemudian menunjukkan raut wajah heran bercampur tidak percaya.
"Hah? Tahu dari mana kau?"
"Dia sempat cerita, kelepasan. Dia bilang, namanya Petra Ral, sosok penyuka sejarah juga. Bedanya, dia juga salah satu penyuka teori konspirasi dan penggila sastra. Yah, Sir Levi tak sengaja mengatakannya ketika kami sedang mengobrol soal sejarah di perpustakaan," jelas Eren. "Jadi, nggak ada gunanya juga kau membantuku, kalau kau tetap memaksa."
Sasha terdiam. Baru kali ini ia mendiamkan kentang tersebut selama lebih dari 2 menit di tangannya tanpa menggigitnya lagi.
"Eren… kau sedih?"
"Tidak. Sir Levi bahagia kan, buat apa aku sedih? Lagipula aku hanya muridnya, demi Tuhan aku nggak berpikir macam-macam lagi, Sasha. Tolong jangan berpikir aku ini uhuk, gay atau apa. Tepis pikiran itu jauh-jauh."
Ada suatu perasaan aneh yang hinggap di hati Sasha. Mungkin, dia menangkap sedikit kesedihan di mata Eren? Atau hanya insting fujoshinya saja yang mengada-ada?
Sasha menepuk bahu Eren.
"Maafkan aku."
"Buat apa?"
"Aku nggak akan mengimajinasikan siapapun lagi di dunia nyata. Aku tahu itu bukan hal yang benar…" Sasha berlalu, menggigit kentangnya lagi, meninggalkan Eren sendirian.
"Aku memaafkanmu kalau begitu," kata Eren. Ia tersenyum kecut. Benar kalau Eren cukup sedih, setidaknya begitu. Naluri Sasha tidak salah.
Sasha tak pernah lagi mengisi buku catatannya dengan apapun lagi sejak hari itu.
Ia membakarnya.
Kekanakan, bodoh. Ia hanya berdelusi dengan OTP dua dimensinya saja. Yang hanya bergerak di layar dan mengeluarkan suara dari speaker laptopnya. Tidak ada yang tahu Sasha seorang fujoshi. Jean menutup mulutnya, Eren tidak pernah mengungkit apa-apa lagi.
Sebulan kemudian sejak Sasha mengakhiri rutinitasnya di sekolah sebagai fujoshi, kabar bahwa Levi Ackerman bertunangan mulai tersebar. Entah siapa yang memulainya. Yang jelas, Sasha yakin bukan Eren yang menggembar-gemborkannya.
Atau gosip itu berkembang sendiri karena tiba-tiba sosok Petra Ral muncul di sekolah sebagai guru honorer?
Sasha tidak ambil pusing. Dia sibuk memikirkan kapan OTP anime-nya canon.
A/N
Maaf ngaret + endingnya gaje banget kayak gini orz
Maaf juga udah ngotorin fandom suci SnK kayk gini yaoloh... aku juga bahkan nggak ngerti bagusnya ini fik di mana... ahahahah :"))
Buat yang udah review + baca ini fik, aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya /sungkem
