Nyaha~ Ichi come back ne!! akhirnya… setelah sekian lama Ichi Hiatus karena kesibukan yang menggila (sebenernya Ichinya aja yg males) akhirnya, bisa juga lanjut nulis lagi. Maaf ya bagi readers yang nungguin lanjutan fict Ichi. Mohon maaf yang sebesar2 nya… m(_ _)m

Nah, tanpa banyak cing cong lagi… ini dia chapter 2 dari Fict Ichironami…

Happy Reading (^_)v

Warning : AU, OOC, dominan IshiNemu, Bahasa baku


Chap 2

Matahari sore yang indah memancarkan sinarnya. Langit yang biru, kini perlahan-lahan mulai berganti menjadi kemerahan. Seorang gadis duduk menghadap ke arah matahari itu. Tatapannya kosong. Tak berarti apa-apa.

'Krosak' Gadis itu menoleh. Mendapati seorang pemuda tampan berkacamata sudah berada di sebelahnya. Duduk menghadap ke arah matahari terbenam. Namun, tatapannya penuh arti.

"Sedang apa kamu disini?" Tanya pemuda itu memecah keheningan. Matanya masih menatap lurus ke depan.

"Bukan urusanmu" Jawab gadis itu dingin. Pemuda itu hanya tersenyum.

"Kamu ga berubah" Katanya sambil berdiri dari tempat duduknya semula. "Ayo" Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

Gadis itu menatapnya bingung. "Apa?"

"Kita pulang." Kata pemuda itu, yang langsung menarik lengan gadis di sebelahnya.

xxx

Mereka kini berjalan pulang. Sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang buka suara. Hanya suara angin dan gesekan dedaunan yang mengiringi langkah mereka malam itu.

"Kenapa kamu sering sekali ke sana?" Tanya Uryuu, nama pemuda itu pada gadis di sebelahnya.

"Bukan urusanmu" Jawab gadis itu singkat.

"Kamu benar-benar mirip-"

"Apa?!" Kini gadis itu menolehkan wajahnya. Menatap pemuda bermata biru tersebut dengan tatapan kesal.

Pemuda itu terkekeh. "Kalau sedang marah begitu… wajahmu lucu juga" Katanya sambil tersenyum jahil.

"Menyebalkan" Nemu memalingkan wajahnya lagi. Berusaha menghindar dari tatapan pemuda itu yang selalu berhasil membuat wajahnya memerah.

"Hei… tidak usah sampai seperti itu kan?" Uryuu sedikit mendekat ke arah Nemu. "Kenapa kamu selalu memalingkan wajahmu? Seperti melihat hantu saja"

"Kita sudah sampai." Potong Nemu cepat. "Aku duluan" Katanya sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.

"Hati-hati ya, Nonoa manis!!" Seru Ishida sambil terkekeh, yang dengan sukses membuat semburat merah di wajah Nemu.

Nemu masuk ke dalam rumahnya. Ia menghela nafas, lalu berjalan menuju ke kamarnya.

"Kenapa… kenapa setiap dia menatapku, setiap dia tertawa, setiap dia… tersenyum, jantungku berdebar?" Katanya seraya membaringkan tubuhnya di ranjangnya.

Ia berbalik. Menghadap ke arah meja di samping ranjangnya. "Dia… begitu mirip denganmu, Momo-chan." Katanya sambil menatap sebuah foto. Ia berbalik lagi. Kali ini posisi tidurnya terlentang, menghadap langit-langit kamarnya. "Aku… jadi merindukanmu, Momo-chan"

xxx

Pagi itu, di Ruko'n gai High School.

"Selamat pagi anak-anak" Sapa seorang guru ramah.

"Selamat pagi pak…" Jawab anak-anak serempak. Pagi itu, sedang dalam pelajaran fisika. Ichimaru Gin, guru fisika mereka kali ini akan membagikan hasil tes mereka minggu lalu.

"Hei.. hei.. berapa ya kira-kira nilaimu?" Seorang anak perempuan di ujung sana, tampak sedang berbisik-bisik dengan temannya.

Nemu hanya diam. Selama ini, di sekolahnya yang baru, ia dikenal sebagai anak yang sangat pendiam, dingin, tertutup, dan aneh. Ya.. Aneh. Teman-temannya sering menjulukinya 'si gadis aneh'. Namun, sebutan itu sama sekali tidak berpengaruh baginya.

"Anak-anak… minggu depan sekolah kita akan mengikuti Olimpiade fisika dan matematika." Kata Gin, mendiamkan beberap anak yang sedang berkasak-kusuk.

Gin melanjutkan. "Yang terpilih, hanyalah satu orang dari masing-masing mata pelajaran. Seleksinya akan diadakan siang ini. Bagi yang mau mendaftar, hubungi saya atau Ukitake-sensei."

Sekelas diam. 'Lomba eh.. Olimpiade? Olimpiade katanya? Bahkan, di sekolah ini pun tidak pernah ada satu orang murid yang mendapat nilai memuaskan saat ujian kedua mata pelajaran itu kecuali ketua OSIS kita tercinta. Sekarang Olimpiade? Apa guru itu sudah gila?' Kira-kira, mungkin itulah yang ada di pikiran anak-anak saat ini.

"Sekarang saya akan membagikan hasil tes minggu lalu" Kata Gin, dengan seringai khasnya seperti biasa.

Ia berjalan sambil membagikan satu persatu hasil tes pelajaran memusingkan itu. Beberapa anak membelalakan matanya melihat hasil tes yang mereka dapatkan.

"Selamat" Ujarnya saat membagikan hasil tes itu kepada Nemu. "Nilaimu sempurna, Kurotsuchi-san"

HAAAAAAAAAAH??!

Tidak ada satu orang pun yang percaya, bahwa Nemu, seorang anak pindahan yang aneh dan dingin berhasil mendapatkan nilai sempurna pada mata pelajaran yang bahkan, Ishida Uryuu, sang ketua OSIS tidak pernah mendapatkannya.

xxx

"Hei" Sapa Uryuu pada Nemu yang sedang berjalan, meninggalkan gerbang sekolah.

"Hn?"

"Aku dengar nilai ujian fisikamu sempurna ya?" Tanyanya sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Nemu.

"Hn"

"Kenapa kamu tidak mau ikut Olimpiade?"

"Hn"

Ishida memandangnya kesal. "Hei.." Uryuu menarik lengan Nemu. Spontan, gadis itu menghentikan langkahnya.

"Kenapa dari tadi hanya 'Hn' saja yang kamu keluarkan dari mulutmu itu?" Tanyanya sedikit kesal.

"Hn?"

GUBRAKK!!

"Kamu ini menyebalkan ya.." Uryuu mendengus pasrah, sambil melanjutkan langkahnya.

"Hn"

"Hupf" Uryuu sudah benar-benar kesal kali ini. "Kamu ini… benar-benar mirip dengan-"

"Diam" Ujar Nemu datar. Satu kelemahannya, ia sangat tidak suka jika ada seseorang yang menyama-nyamakan dirinya dengan orang lain.

Uryuu tersenyum jahil. "Ya… kamu memang mirip dengannya. Segalanya" Lanjutnya sambil mendongak. Menatap langit biru yang cerah dan awan putih yang menggumpal.

"Cih"

Uryuu terkekeh. "Kalau sikapmu seperti ini, kamu jadi makin mirip dengannya"

"Terserahlah"

"Aku… jadi rindu dengannya" Ujar Uryuu yang dengan sukses menghentikan langkah Nemu. 'Rindu..' Batinnya

"Siapa?" Kali ini Nemu mulai angkat bicara.

"Sahabtku" Jawab Uryuu singkat.

'Sahabat?' Batin Nemu mencelos 'Momo-chan…'

"Dia tinggal di Karakura" Lanjut Uryuu perlahan.

"Ka.. Karakura?" Nemu terbata.

"Dia juga sekolah di Karakura High School"

"A.. apa?" Kali ini raut wajah Nemu mulai berubah. 'Kenapa… sama?' Batinnya.

"Hei… Kurotsuchi-san, kamu kenapa?" Tanya Uryuu yang heran melihat raut wajah Nemu yang tiba-tiba berubah.

"Ti.. tidak apa-apa." Kata Nemu sambil menggelengkan kepalanya. "Memangnya, siapa sahabatmu itu?"

"Namanya… Hitsugaya Toushiro"

"Aku… juga punya sahabat… di… Karakura" Ucap Nemu pelan.

"Eh? Benarkah?"

Nemu mengangguk. "Namanya Momo. Hinamori Momo. Aku… aku berpisah dengannya dua bulan yang lalu… dan aku… juga sangat merindukannya."

Uryuu tersenyum. "Dia sangat berarti ya?"

"Sangat berarti… Kami sudah dekat dari kami berumur empat tahun. Hanya dia yang mau menemaniku. Hanya dia yang mau menjadi sahabatku. Menerimaku apa adanya… hanya dia. Aku.. aku-" Nemu tidak melanjutkan.

Spontan Uryuu mengelus punggung Nemu. "Aku ga menyangka kalau kamu bisa punya sahabat"

"Eh?"

"Soalnya, kamu orangnya dingin dan tertutup"

Nemu tersenyum. "Momo-chan juga sangat mirip denganmu"

Uryuu menaikkan sebelah alisnya "Aku?"

"Ya. Dia cerewet seperti kamu. Walaupun awalnya aku bersikap sangat dingin dengannya, tapi… akhirnya kita bisa jadi sahabat baik." Katanya sambil tersipu.

"Katau begitu…" Uryuu tersenyum jahil "Kita juga bisa"

"Apa?" Potong Nemu pelan.

"Hahaha.. Hanya bercanda Kurotsuchi-san. Tapi, kalau aku mirip dengannya dan kamu juga mirip dengannya, maka bisa saja kita menjadi lebih dekat"

Nemu yang memang gadis polos, tidak mengerti. Bahkan ia tidak tau apa yang dimaksud 'lebih dekat' oleh Uryuu. Tapi, entah kenapa kepalanya bergerak mengangguk sambil mulutnya berkata "Mungkin"

xxx

"Kurotsuchi-san…" Panggil Gin saat jam istirahat tiba.

"Ya? Ada apa Sensei?" Jawab Nemu ramah.

"Nanti pulang sekolah bisa temui saya di ruang guru? Ada yang mau saya bicarakan" Kata Gin masih dengan seringai khasnya.

Nemu tersenyum "Baik"

Gin tersenyum, lalu melangkah meningglkan Nemu. Nemu pun melangkah menuju ke arah taman sekolah. Ya. Tempat favoritnya ada di sana. Setiap jam istirahat, tidak seperti anak-anak lainnya yang menghabiskan waktu dengan memakan bekal atau bermain, Nemu justru menyendiri di tempat itu. Katanya, tempat itu adalah tempat yang 'angker' sehingga jarang sekali ada yang mau datang ke sana.

"Kamu ke sini lagi?" Sebuah suara dari belakang mengagetkan Nemu. Gadis itu menoleh.

"Hn"

Uryuu swetdropped. "Hei.. pulang sekolah bisa temani aku ga?"

"Hn?"

"Aku dipanggil Ukitake-sensei. Katanya ada yang mau dibicarakan."

"Hn"

Uryuu duduk di sebelah Nemu. "Kamu ga takut di sini sendirian?"

"Tidak"

"Tempat ini kan angker"

"Tidak"

Hening. Entah kenapa keheningan sering sekali menyelimuti mereka berdua.

Uryuu menarik nafas pelan, lalu menghembuskannya perlahan. "Toushirou juga sering menyendiri" Ucapnya membuka pembicaraan. "Dia juga jago fisika"

"Hn"

"Dia sedang apa ya kira-kira? Aku sudah lama tidak meneleponnya"

"Kamu bicara sendiri?" Ujar Nemu sambil bangkit dari duduknya. "Sudah bel"

"Eh? Cepatnya…" Kata Uryuu yang langsung bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu ke arah kelasnya. "Hei.. nanti jangan lupa temani aku ke ruang guru ya"

"Hn"

xxx

Bel pulang sekolah sudah berdering. Anak-anak berhamburan keluar kelas.

"Kurotsuchi-san" Kata Uryuu menghampiri Nemu yang sudah menunggunya di ruang kelasnya. "Terimakasih sudah mau menungguku" Katanya sambil tersenyum.

"Aku juga di panggil ke ruang guru. Jadi sekalian saja" Ujar Nemu sambil memaingkan wajahnya yang merona.

"Begitu"

Greeeet Pintu ruang guru terbuka. Mereka masuk ke dalam.

"Kalau begitu aku temui Ukitake-sensei dulu ya, kamu temui Ichimaru-sensei." Kata Uryuu sambil berjalan ke meja guru matematika itu.

Nemu juga berjalan ke arah meja Ichimaru-sensei. "Ada apa sensei memanggil saya?" Tanya Nemu ramah.

"Begini… soal Olimpiade itu, hanya kamu yang bisa diandalkan sekolah"

"Eh?"

"Iya.. jadi saya harap, kamu mau mengikuti Olimpiade fisika. Kalau kamu bisa maju ke tigkat Nasional, akan di lombakan lagi di China"

Nemu memasang wajah bingung. "Lalu? Untuk Olimpiade matematika?"

Gin tersenyum seperti biasa "Ketua OSIS kita yang akan maju"

'Jadi… aku dan' Nemu menoleh ke arah Uryuu yang sedang tersenyum ke arahnya. Rupanya ia sudah selesai menghadap Ukitake-sensei.

"Kami percayakan pada kalian berdua. Mungkin kalian bisa saling bekerjasama" Kata Gin sambil menjabat tangan Nemu. "Ganbatte"

xxx

Sore itu di depan gerbang Karakura High School…

"Hitsugaya-kun!!!" Seru Momo riang sambil berlari ke arah anak laki-laki berambut silver itu. "Kita terpilih ikut Olimpiade!! Yeeeey!!" Lanjutnya tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.

"Eh?" Toushiro memasang tampang bingung.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga Detik…

Empat Detik…

Lima Detik…

"Benarkah??" Toushiro membelalakan matanya "Yeeeiy!! Asiiiik!!" Serunya sambil melompat-lompat kegirangan. Tidak peduli pada orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan 'kasihan-mereka-gila'

TBC


Nyuuuuuuuuu~ Selesai juga fiuuuh!! Akhirnya… setelah lebih dari sebulan (Dua bulan lebih dodol!!) bisa selesai juga…

Yah… di sini banyakan IshiNemu soalnya saya emang sengaja buatnya. Hehehehehe xD

OK deeeh… berhubung Ichi lagi males ngetik, Ichi Cuma mau minta tolong.. "REVIW yaaaa!!" Tulis kritik, saran, flame juga gapapa buat fict Ichi ini. Asal yang membangun loh ya…

Tau ga cara REVIEW? Eh kok gat au? Ya udah…

Klik Ijo-ijo di bawah ini.. ne?