Unexceptionable

Disclaimer: It's sad, but I just own the plot

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.

A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf

.

.

Enjoy!

.

.

"Kau serius dipilih menjadi pemeran utama, Teme?"

"Hn."

"Tidak bisa dipercaya," Naruto menggelengkan kepala sembari membaca naskah yang ada di tangannya. "Apa yang dilihat Neji sampai dia bisa memilihmu? Aktingmu tidak sebagus itu. OW!"

Sasuke tanpa ragu menunjukkan seringai kemenangan saat sang lawan bicara melemparkan tatapan kesal padanya. Naruto melemparkan handuk kecil yang dilemparkan padanya kepada sang pemilik yang langsung menangkapnya dengan sigap. Sang Uzumaki kembali menatap lembaran kertas digenggamannya dan membaca beberapa beris deskripsi yang tertulis disana.

"Siapa lawan mainmu?" tanyanya sembari mengangkat pandangan dan menatap Sasuke.

"Sakura. Kenapa?"

"Ada adegan berciuman," Naruto memperlihatkan bagian yang dimaksud kepada sang lawan bicara yang kini sudah duduk disebelahnya. "Kau sangat beruntung."

Sasuke mengerlingkan mata mendengarkan pujian yang tidak menarik perhatiannya tadi. Ia membuka selimut dan masuk kedalamnya sembari berusaha membuat tubuhnya hangat. Curah hujan yang tidak menentu akhir-akhir ini memang membuat suhu udara menjadi lebih rendah dan ia tidak menyukai itu.

"Dibandingkan beruntung, aku lebih merasa gugup menghadapi pementasan ini, Dobe."

"Huh? Ya, wajar kalau kau gugup. Ini debutmu sebagai pemeran utama di pementasan drama kampus. Dulu juga aku begitu," Naruto kembali membaca kertas yang masih enggan ia lepaskan.

"Bukan karena ini debutku sebagai pemeran utama, Bodoh," Sasuke kembali mengerlingkan mata. "Adegan ciuman itu yang membuatku gugup."

Naruto kembali mengalihkan pandangan dari naskah dan mengerutkan dahi menatap pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu dengan heran. Ia tidak menyangka bahwa adegan ciuman lebih membuat Sasuke gugup dibandingkan fakta bahwa ini adalah debutnya sebagai pemeran utama.

Sepasang mata beriris biru sang Namikaze melebar sempurna dan sebuah seringai tampak jelas di wajah tan-nya.

Sasuke yang melihat perubahan raut wajah sang senior pun ikut membulatkan mata, terlebih setelah pemuda pirang itu meletakkan naskah di tangannya dan merangkak mendekati tubuhnya yang sudah terlentang di atas tempat tidur.

"Oi, Dobe, apa yang kau lakukan?"

Tidak banyak orang yang bisa meruntuhkan sifat dingin dan tenang seorang Uchiha Sasuke, dan Naruto termasuk salah satu dari 'tidak banyak orang' tadi. Ini memang bukan pertama kalinya ia berhasil membuat Sasuke panik, tapi ia tidak pernah merasa bosan melihat tatapan liar adik Uchiha Itachi itu saat dia tengah merasa panik seperti sekarang.

Sasuke mengutuk selimut yang tengah ia kenakan karena kain tebal itu menghalanginya untuk bergeser menjauh dari pemuda yang kini tepat berada di atasnya dengan seringai mencurigakan.

"Apa yang mau kau lakukan, Dobe?" tanyanya sembari berusaha menahan tubuh Naruto yang makin merendah dan hendak menghimpitnya.

"Mengajarimu, tentu saja," Naruto menatap sepasang mata yang sejak tadi berhenti membalas tatapannya. Ia tahu Sasuke tidak merasa nyaman dengan kedekatan fisik mereka saat ini.

Sasuke kembali mengutuk selimut yang bukan hanya sudah mempersulitnya, tapi juga melilit tubuhnya dengan erat sehingga membuatnya tidak bisa mengeluarkan kedua tangannya untuk mendorong pemuda yang makin merendahkan tubuh di atasnya.

"Aku tidak tahu kalau ternyata kau belum pernah berciuman sebelumnya, Teme. Untuk ukuran seorang pemuda berusia sembilanbelas tahun, kurasa kau terlambat mendapatkannya."

Nafas pemuda berambut raven itu terputus saat ia merasakan dahi Naruto menempel tepat di atas dahinya sendiri. Ia pun segera menyesali tindakannya membalas tatapan sang Namikaze karena kini ia tidak bisa berpaling dari sepasang mata beriris biru yang hanya berjarak kurang dari sepuluh sentimeter dari matanya.

"Sebagai senior yang baik, aku akan mengajarimu bagaimana cara berciuman yang baik. Bagaimana? Hn?"

Sasuke menutup matanya rapat-rapat saat hembusan napas dengan harum mint menerpa wajahnya. Sepasang tangannya yang masih berada dibalik selimut dan berusaha memberikan jarak diantara tubuhnya dan tubuh sang senior, kini meremas kain tebal itu keras-keras. Napas sang pemilik iris mata oniks itu kembali terputus saat merasakan sentuhan bibir Naruto.

Tepat di dahinya.

Sasuke membuka mata dan langsung melemparkan bantal yang sebelumnya menyangga kepalanya kepada pemuda pirang yang kini tengah melepaskan tawa dan berguling di sisi tempat tidur yang mereka tempati. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kepada pemuda yang tidak pernah gagal membuatnya merasa terkejut ini.

Naruto menghentikan tawa dan menatap pemuda yang kini duduk disebelahnya dengan tatapan kesal yang kentara. Ia menunjukkan cengiran lebarnya dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Sasuke yang biasanya selalu tertata rapi.

"Kau sangat menggemaskan, kau tahu itu?" tuturnya yang kembali dihadiahi lemparan bantal.

Naruto kembali melepaskan tawa dan memeluk benda yang baru saja dilemparkan sang junior. Ia menolehkan kepala dan melemparkan senyum.

"Kau benar-benar adik yang menggemaskan dan karena itu aku menyukaimu. Sangat-sangat menyukaimu."

"Dan kau benar-benar kakak yang menyebalkan dan karena itu aku tidak menyukaimu. Sangat-sangat tidak menyukaimu."

Untuk ketiga kalinya Naruto melepaskan tawa dan menatap pemuda yang sudah kembali berbaring di sampingnya dengan punggung mengarah tepat padanya. Binar di sepasang mata sang Namikaze terlihat memudar.

"Tanpa kau katakan pun aku tahu itu," balasnya dengan nada ringan, berusaha keras untuk tidak membiarkan nada kecewa menginvasi ucapannya.

.

..

-0-0-0-

..

.

"Kau benar-benar keluar dari sini? Meninggalkanku? Jahat sekali."

Naruto mengerlingkan mata dan melemparkan sebuah T-Shirt yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk kepada rekan sekamarnya di asrama.

"Chichi dan Haha sudah memberikan izin mereka, apa kau pikir aku akan menyia-nyiakannya begitu saja?" tanya Naruto sembari melanjutkan kegiatannya memindahkan isi lemarinya kedalam tiga koper yang sudah terbuka lebar disekelilingnya.

"Dasar keras kepala."

Naruto mengurungkan niat untuk melemparkan jaket di tangannya setelah ingat kalau benda itu temasuk salah satu pakaian yang ia sukai.

"Kalau kau kesepian, kau bisa meminta ketua asrama untuk mencarikan teman sekamar yang baru. Ah, aku juga harus memberitahu Karin neechan untuk menjagamu mulai dari sekarang karena aku tidak bisa menjagamu lagi."

"Kau berisik!"

Naruto melepaskan tawa dan mengelak dari sebuah bantal kecil yang dilemparkan tepat ke arah kepalanya. Ia kembali merapikan semua barangnya yang tercecer di dalam kamar dan memasukkannya ke dalam koper.

"Pastikan kau pasang alarm untuk kuliah pagi. Pastikan juga kau membeli persediaan makanan yang cukup, mengingat kau sering bangun tengah malam karena kelaparan. Ah, pastikan juga kau ingat dimana kau taruh kunci apartemenmu nanti karena tidak ada lagi teman sekamar yang rela bangun tengah malam hanya untuk membukakanmu pintu."

"Kau terdengar seperti Haha. Kadang aku curiga, jangan-jangan sebenarnya kau adalah kakakku karena kau sangat memoperhatikan dan mengkhawatirkanku, persis seperti kedua orang tuaku," Naruto menggelengkan kepala dan menutup kopernya setelah memastikan semua barangnya sudah ia masukkan.

Sang lawan bicara hanya tersenyum mendengar gerutuan rekannya.

.

-0-

.

"Kau yakin tidak apa-apa tinggal disini? Ada apartemen yang lebih besar dan nyaman untukmu, Naru," Namikaze Kushina menatap bangunan apartemen sederhana dihadapannya.

"Kalau aku tinggal di apartemen itu, aku akan kesulitan membayar uang sewa dan memenuhi kebutuhan sehari-hari," Naruto mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala, tidak mau memikirkan kesulitan yang akan didapatnya nanti.

"Kami bisa memenuhi kebutuhamu, Naru—"

"Lalu apa gunanya aku keluar dari asrama kalau aku masih tidak bisa mandiri?" sang putra makin mengerutkan dahi mendengar tawaran sang ayah.

Minato menatap putra tunggalnya dengan bangga. Ia tidak tahu apa yang bisa lebih ia syukuri dari kenyataan bahwa ia memiliki seorang putra yang sangat perhatian terhadap semua orang dan semua hal disekitarnya.

Lelaki paruh baya itu menepuk bahu putra pirangnya beberapa kali sebelum diminta Naruto untuk membantunya membawa koper-kopernya ke kamar apartemen baru yang mulai hari ini akan ia tempati.

Apartemen yang ditempati mahasiswa tingkat akhir Universitas Konoha itu memang tidak terlalu luas, hanya terdiri dari satu kamar tidur, kamar mandi, dapur minimalis dan ruang tamu yang juga menjadi ruang keluarga.

"Kurasa aku akan mengecat kamarku dengan warna oranye. Ruang tamu mungkin akan kupasang wallpaper warna biru," gumam Naruto sembari memeriksa keadaan tempat tinggal barunya.

Minato tanpa ragu menggenggam tangan sang istri saat wanita itu menatap dapur sedikit lebih lama dari ruangan-ruangan lainnya.

"Akan lebih baik kalau dapur tetap bersih dan tidak kusentuh karena ini adalah satu-satunya ruangan sakral yang sama sekali tidak boleh kumasuki."

Penuturan panjang Naruto membuat kedua orang tuanya saling melemparkan tatapan dengan pandangan yang sama sekali tidak dimengerti si pemuda pirang.

"Umm, apa ada hal yang tidak seharusnya kukatakan, Chichi? Haha?"

Kushina menatap putra bungsunya dan tesenyum. Wanita anggun itu mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut pirang putra kesayangannya perlahan.

"Dapur memang bukan tempat yang cocok untukmu, Naru, dan kurasa lebih baik kalau tetap seperti itu."

"Haha, cepat atau lambat aku tetap harus menggunakan ruangan ini untuk memperpanjang hidupku. Aku tidak mungkin memesan makanan cepat saji setiap hari kan?" Naruto meraih tangan sang bunda dan menggenggamnya dengan kedua tangan.

"Aku bisa mengirimkan makanan setiap hari kesini—"

"Dan itu tidak akan membuatku lebih mandiri dari sebelumnya," Naruto mengerlingkan mata bosan. "Haha, berhentilah mengkhawatirkanku. Entah kenapa kecemasanmu membuatku merasa bersalah karena seolah aku selalu membuatmu cemas dengan apapun yang kulakukan."

Kushina kembali tersenyum dan menarik sang putra kepelukannya dan memejamkan matanya selama beberapa saat, dan ketika ia membuka matanya lagi, ia bisa melihat siluet dua anak lelaki berusia tujuh dan lima tahun yang sedang berdiri sembari bergandengan tangan, menatap pintu kulkas dihadapan mereka.

.

..

-0-0-0-

..

.

"Kau harus berhenti melakukannya, aku tidak mau Haha marah padamu."

"Tapi aku tidak mau kau dimarahi Haha."

Naruto menatap dua sosok kecil yang tengah menempati ruang tamu di apartemen barunya dengan heran.

"Aku tidak mau kau dimarahi Haha karena salahku."

Sang Namikaze menghentikan langkah yang ia ambil. Niatnya untuk menenangkan anak yang menggunakan hoodie ia urungkan karena seorang anak lain yang duduk di sofa menarik tangan anak ber-hoodie yang berdiri tepat dihadapannya dan membawa sang lawan bicara ke pelukannya.

Naruto tidak bisa menahan senyum melihat pemandangan dua anak kecil menggemaskan di depan matanya.

"Lebih baik Haha memarahiku daripada kau menangis karena dimarahi Haha. Bukankah Chichi selalu menugaskanku untuk selalu melindungimu, Naruto-chan?"

Dan senyum di wajah pemuda yang masih berdiri di ambang pintu ruangan lenyap seketika, bukan hanya karena mendengar namanya meluncur mulus dari bibir seorang anak berambut merah, tapi juga karena seringai yang dilemparkan sosok yang sama itu tepat pada dirinya.

.

.

TBC

.

.

Review Reply:

.

.

ca kun: penasaran? Bagus kan, berarti prolog yang saya tulis berhasil X3 Terima kasih sudah meninggalkan review~ ^^