.
Serendipity
(BTS/Love Yourself)
Chapter 2 : Orientation, Complication, and Resolution.
2/2
.
Jimin POV
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiam diri di ruangan ini. Aku bahkan lupa apa yang sudah aku lakukan tiga puluh menit yang lalu. Aku menunggunya selesai mengerjakan lirik lagu yang dia buat, aku yakin dia bisa lupa waktu jika sudah menyangkut masalah membuat lagu.
Genius Lab.
Begitu yang tertulis di pintu ruangan ini. Dia bilang nama itu keren, sesuai dengan dirinya. Menurutku itu aneh, member lain juga beranggapan sepertiku. Kecuali Namjoon hyung tentunya, dia pun mengusulkan nama tersebut.
"Hyung," panggilku.
Dia bergeming di tempatnya. Ya, dia duduk membelakangiku dan masih tetap sibuk dengan kertas-kertas penuh dengan coretan yang tersaji di depannya. Dia memang menyebalkan, untung saja aku penyabar.
Dasar hyung rambut biru yang imut tapi sangat menyebalkan!
"Hyung!" panggilku sekali lagi setengah berteriak.
Dia pun menoleh dan sedikit membalikkan badan. "Ya, Jiminie?" ucapnya masih dengan wajah datarnya yang rasanya ingin aku tonjok. Sebentar, dia memanggilku Jiminie? Sejujurnya, aku sangat senang dia memanggilku Jiminie, tapi ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang aneh di dalam kamusku adalah sesuatu yang bisa membuat jantungku berdegup kencang dan merasakan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Hyung, ayo kita pulang!"
Ekspresinya tidak terbaca, well aku memang bukan orang yang pintar membaca ekspresi orang lain. Yoongi hyung sering menampilkan ekspresi ini saat sedang berpikir, menurutku itu imut, khusus untuk Yoongi hyung yang lucu.
"Aku belum selesai." katanya dengan nada malas kemudian membalikkan badannya menghadap ke semula.
Aku merenggut kesal, berapa lama lagi aku menunggunya di sini? Rasanya ingin meninggalkannya dan pergi ke dorm sendirian, tetapi ada yang mengganjal di hatiku.
Apakah itu rasa bersalah? Aku memang orang yang selalu merasa bersalah jika aku membuat kesalahan, tapi ini beda.
Karena bosan, aku pun mengambil secarik kertas polos dan pulpen lalu menuliskan sesuatu. Sesuatu yang menyenangkan.
Min Yoongi Kumamon Hyung
1. Keren (terutama saat membuat lagu)
2. Childish (walau dia menolak tidak setuju)
3. Lumayan pintar memasak (dia sering membuatkanku sarapan)
4. Dia menganggap dirinya jenius, padahal tidak
5. Member terpendek (aku tidak bercanda, dia benar-benar pendek dan kecil)
6. Imut (aku suka semua ekspresi wajahnya)
7. Dia sangat menarik (sekaligus mempesona)
8. Pendengar yang baik (aku selalu memeluknya dan menceritakan kepadanya bahwa aku rindu dengan kota asalku)
Aku seketika berhenti. Untuk apa aku menulis tentangnya? Tentang 'Min Yoongi yang menyebalkan dan ingin aku tendang' ini? Aku sadar jika aku menulis tentangnya, dan hal tersebut sangat menyenangkan. Aku sering berbicara tentangnya, dan waktu itu aku juga sadar.
Apa aku belum sadar tentang sesuatu? Aku harus menanyakan ke Yoongi hyung secepatnya.
"Hyung, aku ingin bertanya."
"Tanyalah." ujarnya acuh tak acuh.
Sebenarnya, aku tidak yakin untuk bertanya kepada Yoongi hyung. "Apakah hyung akan menyetujui adanya pasangan sesama jenis di dunia ini?" tanyaku pelan.
Tiba-tiba Yoongi hyung berhenti menulis lirik lagu, dan segera duduk menghadap kearahku dengan wajah bingung. Oke, aku benar-benar menyukai bagaimana dia berekspresi.
"Untuk apa kau menanyakannya?" setelah itu dia kembali ke wajah awalnya, poker face.
"Aku hanya ingin tanya, hyung!" Aku agak kesal, tapi aku tetap ingin menanyakan hal itu.
"Bagiku tidak masalah." jawabnya singkat namun jelas.
Aku hanya menatap kearah lain, entah kenapa rasanya gugup sekali dan detak jantungku terasa lebih cepat.
Yoongi hyung hanya menatapku kosong. "Lalu?" haruskah aku bilang alasannya?
"Tidak, hanya... hanya saja Namjoon hyung... YA! ITU! Namjoon hyung tidak masalah juga dengan adanya pasangan sesama jenis, hehe." kataku sambil tertawa salah tingkah.
"Benarkah?" Yoongi hyung menaikkan satu alisnya, apakah Yoongi hyung sedang meremehkanku? Oh tidak, aku rasa pipiku memerah. Salahkan pipiku yang tidak bisa dikondisikan.
Aku mengangguk dan menampilkan senyumku agar Yoongi hyung tidak mencurigaiku.
"Baiklah." Kemudian dia kembali lagi menulis entah lagu yang keberapa.
Aku sedikit kecewa, padahal aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Yoongi hyung. Ini tidak bisa dibiarkan, aku benar-benar tidak tahan dengan perasaan yang ada di hatiku.
"Hyung," bisakah kalian hitung sudah berapa kali aku memanggil Yoongi hyung?
"Hm?"
"Hyung..."
"Ya?"
"Hyung..."
"Kenapa, Jiminie?"
"HYUNG KENAPA KAU MEMBUATKU BIMBANG! AKU SELALU MENCOBA UNTUK BERPIKIR APAKAH AKU SEDANG SADAR! TERNYATA AKU SADAR BAHWA AKU MEMILIKI PERASAAN KHUSUS UNTUK HYUNG! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN HYUUUNGG!?"
"Aku juga mencintaimu, Park Bodoh Jimin."
Apa ini?
Aku hanya bisa membelalakkan mataku tak percaya dan memasang tampang paling bodoh yang kubisa.
"Hyung... itu... aku..." apa yang ingin aku katakan? Aku pun tidak tahu.
"Tidak kau ucapkan saja aku sudah tahu kalau kau mencintaiku."
Bagaimana Yoongi hyung bisa tahu? Aku bahkan butuh banyak waktu untuk menyadarkan diriku sendiri. Hyung benar-benar memikat hatiku.
"Jadi, kau ingin kita bagaimana?" Yoongi hyung berdiri dari kursinya dan pergi ke sofa lalu mendudukkan dirinya di sebelahku.
"Menjadi... pasangan?" usulku. Sejujurnya, aku takut jika banyak yang tidak memihak kami. Bagaimana cara menghilangkan rasa takutku?
"Ya, kita pasangan, kan? Kita akan menjalaninya seperti pasangan biasa, mungkin jalan-jalan?" Yoongi hyung tersenyum, dia benar-benar imut.
Aku ingin mengiyakan dan tersenyum senang. Tapi senyumku luntur karena alasan tertentu. "Hyung, tapi aku takut." ucapku.
Yoongi hyung memiringkan kepalanya. Tanda isyarat dia sedang bertanya kepadaku.
"Aku... aku takut orang-orang melihat kita di publik. Lalu kita diberi gunjingan yang menyakiti hati." Ya, aku sangat sedih jika mengingat betapa susahnya kami ingin mengenalkan kepada dunia bahwa kami ini adalah pasangan baru. Ralat, pasangan yang sudah lama memiliki rasa satu sama lain tapi salah satunya masih ragu dengan dirinya sendiri.
"Percayalah kepadaku, kita bisa melewati ini. Aku akan bangga jika kita bisa go-public. Tapi, aku tetap menghargai pendapatmu, Jiminie." jelasnya. Kata-katanya bisa menenangkanku, betapa cintanya aku kepada hyungku yang tersayang ini.
"Hyung yakin?"
Yoongi hyung mengangguk dan menampilkan gummy smile serta eyesmile-nya.
"Aku akan mencoba menghilangkan rasa takutku, dan mencoba untuk berani mengenalkan status baru kita pada orang-orang secara perlahan." kataku optimis mengikuti usulan Yoongi hyung.
"Perlahan tapi pasti."
Alasan inilah aku ingin membuat alam semesta khusus untuk kami berdua.
Aku sudah lama memiliki perasaan ini, tapi aku mencoba untuk menolak.
Tapi, lama-lama perasaan ini semakin besar.
Aku ingin selalu menjadi kucing keberuntungannya yang dia sayangi, dan dia menjadi malaikat 'blue mold' yang menyelamatkanku dan yang mencintaiku.
Mungkin inilah takdir kita. Tidak sulit untuk bersatu, namun aku masih harus belajar untuk tidak memedulikan apa yang orang katakan tentang kami berdua.
Aku masih ingin berlama-lama bersamamu dengan penuh kebahagiaan.
Biarkan aku mencintaimu.
Dan akan aku biarkan kamu mencintaiku.
THE END
.
.
.
Aku bener-bener gemes sama mereka berdua!
Kalo ngeliat momen mereka itu rasanya pengen suruh mereka nikah /g.
Dan sampe sekarang aku masih geregetan sama serendipity yang 'katanya' menjadi koneksinya yoonmin /gigit bantal.
.
Terima kasih untuk yang sudah review, follow, maupun fav. Aku sayang kalian ehehe.
With love,
Mincsn.
