Holaaa:D
Minasan, saya ingin mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang sudah meriview di chapter sebelumnya:D. Nah, sekarang saatnya saya kasih lanjutannya, mohon dibaca dan riview yaaa. PS : ceritanya disini, Arisa sama Matsuri itu satu kelompok jadi mereka sama-sama murid Gaara.
.
.
Disclaimer : © Kishimoto Masashi
Rate : T
Pair : Gaara Rei x O.C.
Warning! : gajeness,abalism,typos,OOC.
-Pencarian 'wadah' Shukaku-
© Arisa Rei-Malfoy
Chapter 2 :
"tak lama setelah itu Deidara mati bunuh diri, semua mengira Shukaku pun ikut tiada bersama Deidara tetapi kenyataannya tidak, Shukaku masih ada karena tiga bulan belakangan ini ia berusaha kembali ke tubuh Gaara. Shukaku pasti memiliki rencana dan ia ingin memanfaatkan Gaara untuk melakukan rencananya itu maka dari itu Shukaku sering mengganggu Gaara saat tidur melalui mimpi. Awalnya, Gaara mengira semua kejadian yang ia lihat di tidurnya hanyalah bunga tidur biasa namun akhirnya ia curiga karena mimpinya setiap malam selama 10 minggu berturut-turut selalu sama dan kemudian ia bercerita pada kami, para Tetua, dua minggu lalu. Kami sudah mengadakan beberapa penyelidikan dan apa yang kami dapat adalah.." Tetua itu menghirup nafas dan membuangnya perlahan kini sorot matanya mengarah pada Arisa yang memandangnya balik. Tak ada yang menyadari Gaara merasa sedikit tidak nyaman karena bagaimana pun juga ia butuh waktu untuk berpikir selama dua minggu penuh untuk memutuskan akan menceritakan apa yang ia lihat dalam tidurnya pada Tetua atau tidak, menurutnya, akan sangat memalukan sekali kalau ternyata menurut para Tetua mimpinya hanyalah bunga tidur biasa dan ia hanya terlalu paranoid, tetapi untunglah yang terjadi tidak demikian..
"kami menemukan bahwa Akatsuki tidak menyimpan bijuu-bijuu yang telah mereka tangkap di dalam tubuh salah satu anggota mereka, rupanya mereka tidak ingin bijuu yang sudah mereka tangkap mati jika anggota yang didalam tubuhnya ditaruh bijuu meninggal. Maka mereka menyegelnya pada 'sesuatu' agar bijuu itu aman. Rencana yang sangat brilian tapi juga mengerikan, kalau kau tanya pendapatku. Dan itulah sebabnya Shukaku masih bertahan hingga kini, Shukaku tidak disegel dalam tubuh Deidara seperti apa yang selama ini kami kira.." Tetua itu berhenti sejenak, matanya terarah pada Gaara sebelum melanjutkan,
"dan karena kini Akatsuki sudah hampir punah, kami mengira tidak ada orang lagi yang tersisa untuk menjaga Shukaku (dan bijuu-bijuu lain) di 'wadah'nya. Shukaku bukanlah makhluk yang akan dengan sabar menunggu seseorang untuk melepaskannya, ia itu licik dan sifat bawaannya yang haus darah membuat kami menyimpulkan bahwa Shukaku pasti memiliki suatu rencana, maka dari itu ia berusaha keluar dari 'wadah'nya sekarang dan mendapatkan Gaara kembali, namun karena belum terbebas seutuhnya, Shukaku hanya bisa mendatangi Gaara lewat mimpi" Tetua itu mengatupkan bibirnya, ia berhenti lagi. Kini Mata Tetua itu menatap Arisa dengan pandangan menilai sebelum akhirnya ia kembali membuka mulutnya,
"Jadi misimu adalah untuk mencari wadah tempat Shukaku bersemayam dan kemudian membunuhnya. Dugaan kami, Akatsuki menyimpan Shukaku pada 'sesuatu' yang memiliki kekuatan gaib yang tinggi dan hanya diketahui oleh anggota-anggota mereka. Saranku, kau bisa memulai pencarianmu di Konoha, karena kurasa kau akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang Akatsuki disana," ungkap Tetua, nada suaranya sangat kalem sekalipun ia mengucapkan kata 'membunuh' sedangkan Arisa sedang memikirkan seberapa banyaknya ninjutsu yang di ketahui Akatsuki tapi ia tidak, pasti banyak sekali, tak sadar, Arisa meneguk ludahnya sendiri... Ternyata, Tetua itu belum selesai bicara karena ia sekali lagi menjauhkan jarak bibir atas dan bibir bawahnya,
"kau akan menjalani misi ini bersama seseorang.." katanya membuat Arisa penasaran, ia melihat Tetua itu meletakkan telapak tangannya dibahu Gaara-sama,
"kau akan bersama Gaara, aku yakin ia akan sangat membantu. Dan kalau-kalau Shukaku berhasil memasuki Gaara, kau bisa menggunakan 'kemampuan khususmu' untuk melawannya" perkataan Tetua itu membuat Arisa terkesiap, haruskah ia melakukannya? Arisa harap itu tidak akan terjadi, karena 'kemampuan khususnya' itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Sedangkan dipikiran Gaara terlintas kejadian-kejadian yang ia alami di malam hari akhir-akhir ini. Sungguh bukan malam yang bagus untuk diingat..
Tetua itu membasahi bibirnya yang kering,
"baiklah sudah cukup penjelasanku, mungkin Gaara akan menambahkan nanti, sekarang aku harus pamit, jalankan misi ini dengan baik. Tadaima.." Tetua itu membungkukkan badan ketika mengucapkan kata terakhir tadi lalu dengan kesan gagah namun kalem, ia keluar dari ruangan menyisakan Arisa dengan Gaara-sama dibelakang. Kesunyian menyusul setelah ditutupnya pintu kantor Kazekage, Gaara menatap Arisa dan begitu pun sebaliknya, meskipun Arisa merasa tidak nyaman tetapi ia tidak berani memutuskan kontak mata mereka, hingga akhirnya Gaara membuka mulut,
"kita akan berangkat pada malam di hari festival tahunan, kau tidak keberatan kan?" kata Gaara dengan nada datar namun tetap berwibawa. Bagaimanapun juga, kini Gaara adalah seorang pemimpin desa Suna.
"tentu. Aku tidak begitu suka menghabiskan waktu di festival tahunan" jawab Arisa matanya menerawang, pikirannya kembali ke saat ia masih mengenyam pendidikan Chunnin dulu,
#FLASHBACK ON
Malam itu di Lapangan Utama sangat ramai, warga sipil terjajar rapi duduk di atas tribun yang sudah disediakan. Mereka takjub memandangi kembang api berbagai warna dan rupa yang sedang di luncurkan dan atraksi dari para ninja yang ada di tengah-tengah lapangan, celoteh kagum orang-orang ramai terdengar disana, semua orang tampaknya sedang bersuka cita karena malam itu adalah malam Festival tahunan. Sedang suasana di atas bukit di belakang Lapangan itu sangatlah damai hanya hembusan angin yang meramaikan suasana dan batu-batu besar yang menjadi latarnya, semut-semut hitam mengintip dari balik batu besar memperhatikan dua sejoli ; Hayashi Arisa dan Minatoya Atsumori yang tak lain ialah kekasih Arisa saat itu. Atsumori adalah seorang pria berambut blonde dengan mata kelabu. Arisa yang menyandarkan kepalanya pada bahu Atsu -panggilan Arisa untuk Atsumori- sibuk memandangi langit malam yang digantungi bulan dan kelap-kelip bintang-bintang, sedang Atsu sibuk memandangi kembang api yang ketika merekah dilangit membentuk berbagai macam rupa. Suara kembang api itu terdengar lumayan keras dari atas bukit..
Mereka berdua terlalu terhanyut dalam pemandangan yang ada didepan mereka hingga tidak menyadari semut-semut dibalik batu besar telah berganti menjadi sesosok manusia yang menggunakan masker warna hitam untuk menutupi wajahnya. Semuanya terjadi begitu cepat ketika Arisa mendengar pekik tertahan Atsu, Arisa langsung berbalik memandang Atsu dan menahan tubuhnya agar tetap duduk kemudian, ia mendengar suara hembusan, bukan hembusan angin, suara hembusan ini terlalu berisik kalau hanya disebabkan angin biasa, Arisa memutar lensa matanya menuju pemandangan dibelakangnya, disana ia melihat sekelebat bayangan seseorang yang langsung menghilang begitu kau mengedip, Lutut Arisa melemas ketika melihat tangan yang digunakan Atsu sebagai penyangga tubuh lemas dihembus angin, Arisa berusaha melihat punggung Atsu ternyata di sana tertancap kunai, Arisa baru saja menyentuh kunai itu ketika terasa olehnya rasa sakit yang menyengat tangannya bahkan ketika Arisa melihat tangannya, tangannya sudah mulai membiru. Arisa menyentuh bagian tengah kunai itu dan ternyata Kunai itu beracun. Lutut Arisa melemas, kepala Atsu pun sudah lunglai ke bahunya. 'Tidak, ini tidak boleh terjadi!' batin Arisa, Ia mencabut Kunai itu dengan tangan yang lain, tak memedulikan tangan satunya yang masih terasa sakit yang amat sangat ketika menyentuh bagian tengah kunai tadi, Arisa mengenali kunai itu, bentuk di pegangannya sangat khas, itu kunai dari Desa Otogakure. Oto memang memiliki niat untuk menghabisi semua ninja Suna karena pengkhianatan Suna yang bersekutu dengan Konoha. Tapi Arisa tidak menyangka Atsu adalah salah satu sasaran mereka..
Arisa melihat leher telanjang Atsu membiru, Kini Arisa benar-benar merasakan kakinya mati rasa namun ia sadar tak ada waktu untuk itu, detik selanjutnya Arisa sudah membawa Atsu menerjang angin, Arisa membawa Atsu menuju rumah sakit Suna saat itu juga, dan pada pagi harinya Arisa memiliki kantung mata tebal berwarna hitam di bawah matanya, semalaman ia tak bisa tidur, setelah mengetahui Atsu tiada, Arisa yang racun ditangannya sudah dinetralisir langsung berpacu dengan angin -lagi-, ia melompati bangunan-bangunan di Suna, air matanya masih bercucuran namun, ia tak peduli ia membiarkan air mata itu membentuk anak sungai dipipinya. Arisa merasakan dadanya sakit, lebih sakit dari pada saat tangannya menyentuh kunai ninja dari Otogakure tadi, padahal Arisa yakin ia tidak memiliki penyakit jantung dan rasanya sesak, sesak, berat untuk menarik nafas seperti ada yang mengikatkan tali yang kuat disekitar lehermu, tapi itu bukan penyebabnya. Penyebabnya bukan dari fisiknya sama sekali, Arisa sakit hati, sakit hati karena ia baru saja kehilangan orang yang disayanginya tapi itu bukan alasan untuk menjadi lemah bagi Arisa, ia harus terus dan tetap bersemangat seperti Lautan yang malah tambah bersemangat ketika didera badai..
Arisa terus berlari menuju bukit tempat Atsu diserang tadi. Ketika Arisa melewati Lapangan Utama masih banyak orang disana, itu berarti belum terlalu larut.. Selama beberapa jam Arisa terus melacak jejak orang yang membunuh Atsu ditemani cahaya temaram rembulan dan tanah berpasir disekitarnya. Arisa terus berlari dan melompati setiap batu yang menghalangi jalannya secepat yang ia bisa sehingga ia hanya kelihatan seperti sekelebat bayangan yang lewat kalau kau melihatnya saat itu.
Akhirnya Arisa menemukannya, ia melihat siluet seorang ninja dimulut gua ketika ia sudah menuruni bukit dan dihadapkan pada tebing-tebing yang menjulang, ninja berikat kepala dengan lambang Desa Lindungan Bunyi, ninja yang membunuh Atsu, emosi Arisa pun menaik seperti air raksa yang terus meninggi yang ada ditermometermu ketika mengukur suhu badanmu yang sedang tinggi. Ninja yang masih menggunakan masker warna hitam itu tadinya tertidur di mulut gua itu sebelum ia menyadari Arisa dan terbangun, dengan emosi meluap-luap Arisa langsung memilih menggunakan 'kemampuan khususnya', ia membuat gerakan khusus yang rumit dengan jari-jarinya, ia sedang mengeluarkan jurus pengendalian darah, tetapi jangan khawatir karena Arisa tidak berniat untuk langsung membunuhnya, Arisa ingin ia merasakan sakit dahulu sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Kini, tubuh ninja itu dikendalikan oleh jurus pengendalian darah milik Arisa, Arisa membuat ninja itu menerjangkan dirinya ke tebing atau batu yang ada disana, lalu Arisa melemparnya ke udara dan kemudian membiarkan tubuhnya jatuh membentur tanah dengan bunyi debam keras, diiringi kata-kata penuh emosi yang Arisa keluarkan, ninja itu terus berusaha untuk terus bernafas di sela-sela serangan Arisa. Kemudian Arisa kembali membuat gerakan tangan yang rumit, ia sedang mengeluarkan salah satu jutsunya dan efeknya keluar sesaat kemudian, ninja itu tampak seperti sekujur tubuhnya diikat dengan tali yang tidak kelihatan dengan posisi berdiri. Arisa melangkahkan kaki, mempersempit jarak diantara mereka. Saat sudah dekat langsung saja Arisa merobek paksa masker yang dipakai ninja itu, dan tampaklah wajah seorang pria yang usianya kisaran kepala 2, dengan tulang pipi tinggi dan wajah yang dipenuhi dendam. Arisa memicingkan matanya, dalam hati ia menyumpah-nyumpahi ninja dengan lensa mata berwarna gelap didepannya kini. Kepalan tangan Arisa sudah mengeras siap melayangkan pukulan..
Beberapa menit kemudian mata dan pipi ninja itu membiru, hidungnya -yang sudah tidak tertutup masker hitam lagi- patah dan terus mengucurkan darah, disudut bibirnya pun tampak aliran darah juga sebelum, ninja itu memberikan pandangan tersiksa dan kepalanya turun kebahunya, meskipun begitu, Arisa masih bisa merasakan aliran darah ninja itu, jadi ninja itu hanya jatuh pingsan. Arisa ingin sekali membunuhnya saat itu juga lagi pula lawannya sudah tidak berdaya lagi jadi bukan hal yang susah untuk membunuhnya. Tapi kemudian Arisa ingat, ninja itu menyerang Atsu tanpa disadari olehnya ataupun Atsu dan itu bukanlah perilaku seorang yang pemberani dan kalau Arisa membunuh ninja itu yang sama sekali tidak menyadari dirinya, itu berarti ia sama saja dengan ninja itu. Sama-sama pengecut. Kini tangan Arisa terasa kaku, Arisa tidak ingin menjadi seorang pengecut...
Arisa melihat langit malam yang masih dihiasi sedikit bintang, berusaha berpikir jernih. Semilir angin membawa beberapa helai rambutnya terbang. Keputusan Arisa sudah bulat, ia tidak ingin dianggap sebagai pengecut, jadi ia tidak akan membunuh ninja itu sekarang, Arisa menatap tubuh tak berdaya didepannya, ia melihat bahu ninja itu naik-turun dengan jeda agak lama, sebelum ia berbalik dan meninggalkan tempat itu..
#FLASHBACK OFF
"ekhem.. Arisa, Arisa, apa kau masih bersamaku?" Arisa merasakan lengannya disentuh kulit hangat yang membuatnya bangun dari lamunannya, ia tidak sadar bahwa Gaara-sama masih ada didepannya,
"eh.. eng.. Maaf" jawab Arisa setengah bingung, lalu ia memutar matanya dan menangkap kulit hangat yang menyentuh lengannya tadi adalah milik Gaara-sama, Arisa merasakan darahnya berdesir dan berkumpul semua diwajahnya, wajah Arisa terasa memanas, dipipinya muncul rona kemerahan..
"kau baik-baik saja? Apa kau siap untuk berangkat besok?" Gaara menarik tangannya dan kemudian memandang intens Arisa tapi itu malah membuat Arisa tambah memerah,
"t-tentu, aku siap.." ujar Arisa yang sedang bingung bagaimana caranya untuk menghilangkan perasaan aneh yang dialaminya saat ini, Arisa mencoba mengalihkan pandangannya pada pepohonan yang tampak dari balik jendela, Arisa memandangnya lama dan setelah perasaannya normal kembali, Arisa membuka mulutnya,
"tapi kalau boleh tahu kenapa besok?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Arisa yang sudah bisa rileks kembali, kini wajahnya sudah tidak memerah lagi
"agar warga sipil atau ninja yang lain tidak melihat kepergian kita. Sedikit yang orang lain tahu semakin baik, ingat?" Gaara mengerutkan dahinya mungkin kalau ia memiliki alis, alisnya akan naik sebelah,
"aku mengerti sekarang" kata Arisa sambil menganggukkan kepalanya
"baiklah kalau begitu aku akan menjemput dirumahmu sekitar tengah malam besok, kau bersiaplah" kata Gaara yang disusul suara gesekan kursi dan lantai, mereka beranjak dari kursinya lalu saling mengangguk, berpamitan. Gaara mengantar Arisa sampai didepan pintu dan membukakan pintu untuk Arisa yang kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Gaara memandangi punggung gadis yang rambutnya dikepang itu hingga akhirnya helai terakhir rambut Arisa menghilang diujung lorong,
'ia berubah..' pikir Gaara yang kemudian menutup pintu dan berbalik, tertangkap oleh lensa matanya tumpukan berkas-berkas yang belum ia selesaikan. Gaara menaikkan bahunya dan menurunkannya dengan helaan nafas lelah, 'semangat Gaara! ini adalah hari terakhirmu berduaan dengan kertas-kertas membosankan itu' batin Gaara menyemangatinya. Dan hari itu pun berlalu seperti hari-hari sebelumnya bagi Gaara.
.
.
.
"..kau bodoh Gaara! Kau memiliki rasa itu sekarang, rasa cinta! betapa aku ingin tertawa, asal kau tahu itu hanya akan menghambatmu! Kau butuh pelajaran.. mungkin sedikit sentakan akan mengembalikan semangatmu seperti dulu,"
'hosh..hosh..hosh..' terdengar suara terengah-engah seorang pemuda di kamar yang sama seperti malam-malam sebelumnya, Gaara terbangun dari 'mimpi' buruknya, ia bersyukur Shukaku belum sempat melemparnya tadi, padahal Shukaku sudah cukup dekat tapi Gaara yang sudah lelah menghindari Shukaku mencoba melemparkan dirinya ke salah satu sungai yang untungnya menjadi latar mimpinya malam itu, dan ia beruntung karena kini ia terbangun tanpa luka, andai mimpinya selalu berlatarkan sungai..
Gaara lelah mengalami 'mimpi' yang menghabiskan tenaganya, ia lelah bertarung setiap malam dan mendapati luka memar atau bahkan yang lebih parah di salah satu bagian tubuhnya disaat ia terbangun. Bahkan, Dream catcher yang diberikan para Tetua kepadanya tidak berfungsi sama sekali makanya ia ingin semua ini segera berakhir. Gaara menyeka keringat yg mengalir di pelipisnya dengan lengannya kemudian ia kembali mengenyakkan diri di kasurnya. Gaara memejamkan matanya namun, kejadian dalam mimpinya tadi kembali berputar didepannya, ia memiringkan tubuhnya ke kanan, memejamkan mata. Kini ia malah mengingat percakapannya dengan Arisa tadi siang, ia pun berbalik, membaringkan tubuhnya ke arah kiri pandangannya malah tertuju pada sebuah bingkai foto bergambarkan ibunya yang telah tiada, tapi itu malah membuatnya merasa bersalah, Gaara kembali bergeser. Kini ia memandang langit-langit, menerawang. Tapi itu malah membuatnya makin terjaga, ia pun mencoba menghitung domba sambil memejamkan mata tapi sama saja kesadarannya masih penuh..
'cukup, aku perlu melakukan sesuatu. Hm, coba ku pikirkan.. mungkin berjalan-jalan sebentar akan membuatku lelah, lagipula sudah lama kan aku tidak keluar malam' setelah menimbang itu bukan ide buruk, Gaara mengambil jubah biasanya dan sepatu bot ninja yang kemudian ia pakai sebelum membuka jendela dan melompat keluar, angin malam langsung menyambutnya ketika ia keluar dari gedung Kazekage yang hangat dan nyaman. Gaara memandang keseliling tak peduli dengan terjangan angin yang menampar-namparnya. Ia masih bingung dengan tempat tujuannya sekarang. Bagai ada orang yg menekan saklar lampu dalam ruang dikepalanya, Gaara langsung mendapat penerangan, ia akan kerumah Arisa. Hanya untuk melihat keadaan gadis itu. Gaara memasang kuda-kuda dan kemudian melompat tinggi diantara bangunan-bangunan Suna.
Beberapa menit kemudian Gaara berhenti di salah satu rumah pasir yang sudah ia hafal meskipun bentuknya hampir sama dengan yang lainnya Gaara meluncur turun dari atapnya dan mendarat mulus dibalkonnya, Gaara menemukan seekor kucing berwarna hitam disana, manik matanya mengilat dan terlihat seperti senter yang menerangi kegelapan.
'kucing siapa ini? Tidak mungkin punya Arisa, ia kan alergi' Gaara mengeluarkan suara yang hanya bisa didengarnya sendiri. Ia tahu Arisa alergi dengan kucing karena dulu pernah saat Gaara sedang melatih Arisa dengan salah satu jurus untuk persiapan ujian Chunnin, Temari datang ke ruangan tempat latihan mereka membawa kucing berwarna kecoklatan tersayangnya, Temari ingin menitipkan kucing itu pada Gaara karena Temari dan Kakurou akan pergi ke Konoha saat itu, kucing itu pun dengan bebasnya berkeliaran diruangan tempat Arisa latihan, ketika kucing itu melompat ke pangkuan Arisa yang sedang istirahat, Arisa langsung saja bersin-bersin tak terkendali bahkan suhu tubuhnya pun meninggi tapi untungnya esok harinya Arisa sembuh.
Gaara pun mengangkat kucing itu dengan memegangi lehernya, tapi kucing itu malah memberontak, kucing itu bahkan hampir menyakarnya kalau Gaara tidak langsung melepaskannya,
"nngggggg" kucing itu menjerit dengan jeritan kucing yang nyaring tapi Gaara tidak menyerah ia berpikir bahwa ia harus melakukannya secara cepat ia pun kembali meraih kucing itu, dan langsung melompat turun, meskipun begitu, kucing itu tetap menjerit nyaring ketika diturunkan bahkan setelah dilepas pun Gaara diliriknya dengan mata hijau tajam yang mengilat miliknya lalu kucing itu menggeram marah,
"hussh..hussh..hussh" kata Gaara sambil mengibaskan tangannya, tapi kucing itu tak beranjak sedikit pun, lalu Gaara mendengar derik pintu yang terbuka, dilihatnya kucing itu -anehnya- tampak takut. Kucing itu lalu berbalik dan melenggang pergi tanpa suara, Gaara yang melihatnya hanya dapat mengerutkan keningnya kemudian ia memutar kepalanya kekiri dan ke kanan mencari asal pintu yang berderik tadi dan penyebab kucing itu melanggang pergi,
BYUURRRRR..
Gaara menerima tumpahan air dari atas, ia kaget dan sontak melihat keatas, ditemukannya sosok seorang gadis yang sudah berbalik dan berjalan ke dalam ruangan, rambut coklat mahoganinya meliuk dihembus angin, itu Arisa dengan piamanya, kalau saja ia tahu ia baru saja menyiram senior yang merupakan gurunya dan seorang pemimpin desa, ia tak akan seringan itu dalam melangkah kembali ke dalam rumah,
'huh.. dasar kucing tidak berguna! Jadi aku kan yang kena siram, menyebalkan! Lihat saja akan aku deportasi itu kucing agar ia tahu rasa'! Gaara menggerutu dalam hati melihat tubuhnya yang kini basah, ia tidak menyangka akan jadi begini. Tampaknya malam-malam Gaara tidak pernah menyenangkan. Angin malam terus berhembus menerjang tubuhnya yang basah sungguh, itu tidak bagus untuk kesehatan. Gaara pun berbalik kembali ke gedung Kazekage.
.
.
.
Lensa mata Turqouise itu tidak lagi terpaku pada dokumen-dokumen didepannya seperti hari kemarin kini ia memandang orang-orang hilir mudik yang mempersiapkan untuk pertunjukan nanti malam, setelah dirasa semuanya berjalan lancar pemuda berusia 18 tahun itu pun meninggalkan Lapangan Utama, tempat diadakannya acara nanti malam. Gaara berjalan keluar lapangan saat itu matahari terik sekali tapi seakan tidak merasakannya warga-warga sipil yang akan berjualan disore hari nanti terus menyiapkan stand-standnya untuk dijajakan di jalan menuju Lapangan Utama, banyak souvenir aneka bentuk, warna dan ragam. Namun, kebanyakan souvenir-souvenir itu berbentuk jam pasir. Gaara berjalan diantara warga-warga sipil yang sedang menyiapkan standnya. Setiap ia melewati salah satu stand pedagangnya pasti membungkuk begitu melihatnya dan ia hanya mengangguk sebagai balasannya sampai kini Gaara melihat seorang pedagang yang memegang sebuah kalung yang berkilauan dari kejauhan, Gaara penasaran ia mendekati pedagang itu,
"konnichiwa" sapa Gaara pada pedagang itu
"konnichiwa, Kage-sama" balas pedagang itu sambil membungkuk dalam, wajahnya tampak bercahaya entah karena sinar matahari saat itu atau memang ia sangat bersemangat sampai wajahnya yang dipenuhi kerutan itu bercahaya,
"boleh ku lihat kalungmu?" tanya Gaara sopan sambil mengulurkan tangannya
"ah, tentu..tentu.. Kage-sama bisa melihatnya" kata pedagang itu sambil mengangguk-angguk, ia memberikan kalung itu pada Gaara, Gaara merasa seperti berbicara dengan kakeknya sendiri. Gaara mengamati kalung dengan rantai warna coklat itu, itu adalah kalung dengan bentuk jam pasir, namun didalamnya tidak ada pasir seperti kebanyakan jam pasir melainkan air, air putih jernih yang akan berkilau ketika terkena cahaya, jam pasir itu dikelilingi oleh lingkaran yang dibuat dari ranting pohon yang dibuat melingkar, 'kalung yang unik' pikir Gaara
"kalung itu melambangkan dua desa, desa Lindungan Kabut dan desa Lindungan Pasir. Tuan bisa memilikinya kalau Tuan ingin.." kata pedagang yang sudah memasuki usia senja itu memecah konsentrasi Gaara pada kalung itu,
"hm, tapi ini kan barang daganganmu" balas Gaara. Gaara memandang pedagang didepannya, setelah diperhatikan Gaara merasa mengenal pedagang itu,
"tidak, itu memang untuk Tuan, itu milik Tuan. Saya minta Tuan menjaganya dengan baik" kata pedagang itu sambil tersenyum, ah.. Gaara jadi tambah merasa mengenalnya
"kalau begitu, arigatou gozaimasu.." kata Gaara menarik sedikit sudut bibirnya
"iie douitashimashite" jawab pedagang itu sambil tersenyum lebar dan kemudian membungkuk.
Gaara menundukkan kepalanya memandang kalung gratis yang baru saja ia dapat. Ia suka dengan kalungnya, menurutnya kalung itu unik tapi, sebenarnya Ia bingung kalung itu akan ia berikan pada siapa, karena ia tidak begitu suka memakai kalung, mata Gaara menatap air yang turun ketika jam 'air' itu berdirikan, ia mendongak dan sedikit tercengang ketika matanya tidak menemukan sosok pedagang tua yang memberinya kalung tadi, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan tapi ia tetap tidak menemukannya, ia malah melihat seorang pria muda yang tengah membereskan barang dagangan di stand yang ia hampiri,
"sumimasen, kemana perginya kakek yang tadi berdiri disini?" tanya Gaara dengan suara berwibawa yang tetap ia jaga
"umm.. Kakek? Saya tidak melihat satupun kakek disini, saya pemilik stand ini" kata pria itu
'eh.. Kalau begitu, siapa kakek tadi?' Gaara membatin
"hm, kalau begitu saya permisi dulu" kata Gaara sambil lalu
Gaara berjalan meninggalkan stand itu dengan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya, di pikirannya tergambar wajah kakek yang ia lihat tadi. Kakek berambut putih -beruban-, kulit wajahnya kendur namun garisnya tegas, hidung mancung, serta mata yang menatap dengan sangat bersahaja, pandangannya itu mengingatkan Gaara pada seseorang, apalagi bekas luka robek yang terukir menyeberang dari bibir atas sampai bibir bawah menambah keyakinan Gaara bahwa ia pernah melihatnya disuatu tempat..
.
.
.
"apa yang kau pikir akan kau lakukan?" suara gadis pembawa kipas besar dipunggungnya, Temari, memenuhi lorong lantai paling atas di gedung Kazekage
"aku ingin mengajak Gaara, besok kan ia akan menjalankan misi yang entah-kapan-akan-selesai" balas pria dewasa yang tetap membawa 'boneka' di punggungnya, Kankurou
"eh, dengar ya, tanpa perlu kau tanya jawabannya pasti sudah jelas. Ia tidak akan mau!" ujar Temari geregetan dengan adik Lelakinya yang satu ini, Kankurou. Lantaran Kankurou ini tidak hafal-hafal perilaku Gaara
"tapi belum dicoba kan? Sudah ah, aku mau masuk dulu" kata Kankurou keras kepala
"kau hanya akan mengganggu tidurnya, kasihan Gaara nanti malam ia akan melakukan perjalanan jauh. Biarkan ia istirahat"
"kau bercanda! Ia tidur dari jam 2 siang dan sekarang sudah pukul 8 malam"
"huh, kau orang keras kepala!" dan perkataan Temari tadi pun mengakhiri perdebatan adik-kakak itu, Temari berjalan menuju tangga dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan berbeda dengan Kankurou yang berbalik dengan langkah ringan dan kepuasan dihatinya menuju kamar dimana Gaara sedang terlelap di dalamnya.
Kankurou sampai di pintu yang terbuat dari kayu Ash yang kokoh dan mengilap, ia mengetuknya beberapa kali tapi tidak mendapat sahutan. Pria yang memakai riasan Kabuki itu pun memutuskan untuk membuka pintu saja langsung, Kankurou melihat kamar dengan nuansa berwarna kehijauan yang kental, mulai dari wallpaper sampai sofa yang berwarna hijau, dan ada pula kasur berwarna hijau yang diatasnya tertidur sosok Gaara Rei, Kankurou mendekatinya, wajah adiknya itu terlihat sangat damai dan tak ada kesan menyeramkannya sama sekali, bahkan wajahnya cenderung terlihat seperti anak kecil. bahunya naik turun secara teratur menandakan hembusan nafasnya yang masih berlangsung,
"hei Gaara, banguun"
"Gaara banguunn, ini sudah malaamm!"
"Gaara kau gila yaaa!, tidak puas-puasnya tiduurr!" Kankurou terus meracau sambil mengguncang bahu telanjang Gaara, Gaara tidur tanpa menggunakan atasan,
'benar-benar ini anak, mentang-mentang sekarang ia sudah tidak menderita insomnia, tidurnya sudah seperti sedang hibernasi saja' batin Kankurou mengeluh namun, ia tak putus asa, Kankurou membungkukkan badannya, ia menghela nafas panjang, mengempiskan perutnya ke dalam dan,
"Gaaraaaa Reeiiii banguuunn!" teriak Kankurou ditelinga Gaara, lensa biru kehijauan Gaara langsung membulat kaget dari balik kelopaknya yang kini terbuka, Gaara mendorong Kankurou jengah ia sebenarnya masih ingin tidur,
"huh.. Akhirnya kau bangun juga, kau tidur seperti berhibernasi! aku tahu kau baru bisa tidur nyenyak sejak 2 tahun lalu, tapi jangan segitunya juga! Berlebihan sekali kau ini.. Untung kali ini aku tidak menyirammu" ceracau Kankurou yang mengalahkan suara burung beo menyambut bangunnya raga Gaara
"memangnya ada apa kau membangunkanku?" tanya Gaara ketus, matanya mendelik pada Kankurou. Ia sebal tidurnya diganggu dengan lengkingan indah badai milik Kankurou, ia sedang tidur nyenyak tanpa mimpi tadi,
"ah iya, kau mau ke festival tidak? Ini sudah jam 8, satu jam lagi acaranya akan dimulai" ajak Kankurou yang sudah ingat dengan tujuannya membangunkan Gaara
"Aku. Tidak. Mau." kata Gaara dengan penekanan disetiap kosa katanya, dan baru saja ia berniat memejamkan matanya lagi ketika suara merdu Kankurou menggetarkan gendang telinganya lagi
"kau ini! Kenapa sih tidak pernah mau ku ajak ke festival?" ujar Kankurou geregetan
"kali ini, karena Tetua menyuruhku untuk tidak kesana" Gaara menatap sayu kearah Kankurou
"jadi.. adik kecilku ini sedang menuruti apa kata orang tua yaa," balas Kankurou dengan nada menggoda, ia menyelipkan sela-sela tangannya diantara puncak rambut Gaara yang dipotong pendek, kemudian ia mengacak-acaknya,
"ish, enyah kau dari sini. Aku mau tidur" kata Gaara jengah, ia memalingkan kepalanya supaya Kankurou berhenti mengacak-acak rambutnya. Sungguh ia sangat ingin meletakkan punggungnya diatas kasur lagi
"baiklah, teruslah patuhi nasihat orang tua! Aku pergi dulu ya, sayounara.." kata Kankurou sambil menyeringai, ia lalu berjalan menuju pintu dan hilang dibaliknya,
sementara itu, Gaara kembali berbaring dikasurnya, punggung telanjangnya menyentuh kain seprai yang terasa dingin namun dapat membuatnya nyaman. Gaara teringat kata-kata Kankurou bahwa sekarang sudah pukul 8 malam jadi, ia memutuskan untuk tidur lagi sebentar. Gaara merentangkan tangannya, meraba-raba bagian atas meja kecil disamping kasurnya hingga tangannya berhenti ketika menyentuh benda yang ia cari, jam beker. Gaara menyetel alarm dan jarum berwarna merahnya menunjuk angka 10 dan set! Alarm sudah diatur, Gaara pun menaruhnya kembali dan menarik tangannya, tak lama kemudian mata Gaara kembali terpejam dan ia kembali jatuh ke alam bawah sadarnya..
.
.
.
KRIIINNGGGGGGGG…
lagi-lagi suara nyaring yang indah badai mengganggu tidur nyenyak Gaara, tapi kali ini ia tidak sekaget saat dibangunkan Kankurou tadi, ia tahu ini saatnya bangun dan bersiap. Dengan enggan Gaara beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Suara derik keran air terbuka di bath tub terdengar menyusul setelah suara tertutupnya pintu kamar mandi. Gaara merasa ia butuh berendam dengan air hangat..
Kini waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Gaara sudah siap berangkat, Gaara berpenampilan seperti biasa, jubah coklat dan guci besar berisi pasir yang melekat dipunggungnya, saat ini Gaara sedang membuka jendela dan begitu terbuka hembusan angin malam menyambutnya, Gaara memandang sekitar dan memastikan keadaan aman dan sepi sebelum akhirnya melompat keluar dari jendela, dengan langkah yang tak terdengar seperti langkah kucing, Gaara meninggalkan gedung Kazekage. Ia kemudian berlari bersama angin malam, Gaara melompat dan berpijak sesaat di salah satu bangunan diperjalanan, suasana desa tampak sepi bahkan populasi kucing dijalanan pun tampak turun drastis malam itu..
.
.
.
To Be Continue..
Nah, gimana ya perjalanan Gaara nanti? Saya sendiri juga belum tahu, wkwk:D, do'akan saja semoga Gaara selamat sampai tujuan :)).
Kalau sudah baca mohon diriview yaaa dan kasih tahu aye pendapatmu tentang cerita ini, okeh;)). Tenang aja yang komen gak bakal digigit kok, asal komentarnya membangun ;)
KANTONG RIVIEW :
-Silent : Aamiin:), terimakasiih:D. Hm, pencerahan ya? *sorotin senter muehehe bercanda jadi kan Shukaku itu bisa menguasai jincuurikinya kalau jincuurikinya tidur, berhubung jincuuriki terakhir Shukaku itu Gaara jadi Shukaku masih bisa masuk ke tubuh Gaara tapi pas Gaara tidur doang, nah caranya Shukaku bisa mempengaruhi Gaara lagi kan dengan ngasih hasutan ke Gaara melalui mimpi. Begitu ceritanya . Ceritanya juga udah di update nih, baca yaaa:D
-24Riyuki18 : eh, nama clan Gaara kan Rei? , kemarin aku lihat di om wiki kaya gitu soalnya kasih saingan? Gausah dikasih saingan lagi juga udah banyak cewek yang ngejar-ngejar Gaara, muehehe
hm, penggunaan huruf besar ya? Oke, aku coba perbaiki. Kalo nanti masih gabener kasih tahu yaaa;)) siip, terima kasih banyak yaaa:D
-Shiokaze17 : muehehehe yap bener! Tapi ceritanya aku ubah, abis bingung mau ngelanjutin kaya mana, konfliknya ga ketemu-ketemu .-. Ya, do'akan saja semoga ceritanya gak malu-maluin
Mata raishu!
