Only Serious About You

Jaehyun x Taeyong ft. David

NCT & SM kids model © SM Entertainment

Warning! MxM. Alternate Universe. Parenting!AU. Typo(s). OOC(s)

Remake dari Manga:

Only Serious About You by ASOU Kai

.


Taeyong datang secepat mungkin. Ia tak bisa berfikir apapun saat di perjalanan tadi, selain merasa khawatir dengan keadaan putra kecilnya. Ia memarkirkan begitu saja sepedanya di depan daycare, langsung berjalan masuk dengan tergesa menemui pegawai di sana. Taeyong membungkuk sedikit, mencoba menengok ke dalam ruangan yang penuh dengan anak-anak.

"Bagaimana keadaan David, Ahn-sshi?"

"Demamnya cukup tinggi." Ahn Sohee, wanita cantik berwajah keibuan itu terlihat menyesal. "Maaf membuatmu harus datang selarut ini, Lee Taeyong-sshi."

Taeyong menggeleng tak keberatan. Sepenuhnya mengerti jika anak yang sedang sakit memang tak diperbolehkan ada di daycare. Karena bisa saja membuat anak kecil lainnya ikut tertular. Daya tahan tubuh anak kecil memang berbeda dengan milik orang dewasa, mereka akan sangat rentan terserang penyakit. Dan dia sebagai walinya David, dialah yang bertanggung jawab jika ada panggilan mendadak seperti ini, mau tidak mau.

"Taeyong-sshi, tunggu sebentar."

Taeyong diam di tempatnya saat melihat punggung Sohee berjalan masuk ke dalam untuk memanggilkan David, yang muncul kemudian sudah dalam balutan piyama.

"Lihat siapa yang datang untuk menjemput David," ujar Sohee pada anak kecil di sampingnya.

"Papa!"

Taeyong tak menunggu waktu lama untuk berjongkok dan memeluk putra kecilnya itu. Memeriksa keadaannya dengan khawatir, meletakkan tangannya di dahi anaknya dan merasakan jika, ya, anaknya memang sedang demam. Suhu tubuhnya tinggi sekali. Astaga. Kenapa Taeyong tak menyadarinya saat mereka pergi ke sini tadi?

"Pekerjaan papa bagimana?"

"Pekerjaan papa sudah selesai hari ini." Taeyong menggendong David, sekaligus menerima sodoran berupa tas putranya dari Sohee dengan sebelah tangan yang lain. "Sekarang sebaiknya kita ke rumah sakit dulu. Baru setelah itu pulang agar David bisa istirahat, hm?"

"Baiklah." David bergumam dengan kedua tangan memeluk leher papanya. "Maaf, papa."

Taeyong menggeleng sambil mengusap kepala David dengan sebelah tangan. Sebelum beralih pada Sohee untuk mengucapkan permintaan maaf karena sudah merepotkan dan terimakasih atas informasi darinya mengenai rumah sakit terdekat yang masih buka selarut ini.

Keduanya pamit lalu pergi dari sana.

.


Baiklah. Jadi apa yang mesti dia lakukan sekarang?

Taeyong berpikir untuk meninggalkan sepedanya di depan restoran lalu memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Karena Lokasinya yang tak bisa dikatakan dekat. Tidak mungkin ia membawa David ke rumah sakit dengan sepeda, apalagi di tengah dinginnya udara malam seperti ini.

Setelah dari rumah sakit mereka akan kembali ke rumah secepatnya. Taeyong akan memastikan David meminum obatnya lalu istirahat.

Lalu besok? Bagaimana dengan besok?

Taeyong tak mungkin meninggalkan David yang sedang sakit di apartemen mereka sendirian. Harus ada orang dewasa yang menjaganya. Tapi di sisi lain, Taeyong juga tidak bisa bolos kerja. Bos Seo sedang sakit dan Taeyong tak bisa sepenuhnya meninggalkan dan mempercayakan restoran begitu saja pada Mark. Ia juga tak punya kerabat dekat lain di sini yang bisa dimintai tolong. Begitupun teman yang mungkin bersedia untuk merawat anak kecil yang sedang sakit. Karena Taeyong hidup sendirian, sepenuhnya sendirian.

Pilihan lainnya adalah membawanya kembali ke daycare. Tapi tidak mungkin. Sebelum dia bisa memastikan jika David benar-benar sembuh terlebih dahulu.

Meminta bantuan bibi tetangga? Taeyong merasa tak enak merepotkannya yang juga memiliki tiga anak lain yang harus dijaga.

Membesarkan anak sebagai single parent benar-benar pekerjaan yang tidak mudAh, desahnya. Apa yang akan orang lain lakukan jika mereka ada di posisinya seperti ini?

Taeyong merasa kasihan pada anaknya yang terduduk di boncengan sepeda. Ia tak mengayuh sepedanya, memilih menuntun sepedanya hingga restoran. "David baik-baik saja?"

David dalam balutan jaket besar papanya mengangguk. "Hm… David tidak apa-apa, papa."

"Tapi tubuhmu menggigil―"

Taeyong bisa melihat wajah anaknya jauh lebih merah dari sebelumnya, begitu juga nafasnya yang pendek-pendek. Taeyong menghentikan sepedanya sebentar, hendak mengecek suhu tubuh David lagi. Tapi belum sempat ia melakukannya, sepasang tangan lain sudah lebih dulu meraih David, menggendong tubuh kecil anaknya begitu saja, mengangkatnya dari boncengan sepeda. David melihat orang asing yang menggendongnya, bertanya bingung lewat tatapan mata pada papanya.

Taeyong tak menyangka akan mendapati orang itu ada di hadapannya. Di saat seperti ini.

"Ja-Jaehyun-sshi?"

"Ayo ikut aku, hyung."

Tubuh tinggi tegap berbalut pakaian kerja itu berbalik sambil membawa David. Pergi dari sana dengan langkah lebar-lebar. Meninggalkan Taeyong yang masih berusaha memahami apa yang terjadi. Butuh beberapa detik bagi Taeyong untuk sadar, menyusul di belakang sambil menuntun sepedanya.

"Hei, tunggu! Jangan culik David!"

Jaehyun tidak berhenti.

"Apa yang―"

"Mark memberitahuku tempat ini. Syukurlah ini tak terlalu jauh dari restoran jadi aku bisa cepat menyusul." Jaehyun tersenyum kecil. Tak memberinya kesempatan Taeyong berbicara lagi, karena setelahnya ia sibuk menelpon seseorang. "Ah, ini aku… sekarang… Baiklah aku akan membawanya ke tempatmu, hyung."

Taeyong hanya bisa mengikuti Jaehyun dengan terus berjalan di sampingnya. Padahal dia punya berbagai pertanyaan di kepalanya yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu.

.


Taeyong akhirnya tahu kemana Jaehyun membawanya. Itu adalah sebuah klinik dari orang yang ia panggil sebagai Taeil-hyung. Sebuah klinik yang terletak tak jauh dari sana. Tempatnya juga menyatu dengan sebuah rumah yang merupakan kediaman sang dokter.

"Jangan meminta yang aneh-aneh selarut ini, bisa kan?"

"Kau dokter, hyung. Sudah seharusnya mengobati pasien."

Taeyong yang duduk bersama David di hadapan sang dokter jadi merasa tidak enak karena telah mengganggu dan merepotkan malam-malam begini. "Maaf jika kami―"

"Tidak apa-apa, Taeyong-shhi." Yang menjawab bukan Taeil, tapi satu sosok lain yang juga merupakan perawat yang bekerja di klinik itu. Hansol Ji. Yang baru kembali dengan beberapa obat dalam nampan di tangannya. Taeil yang memintanya mengambil obat-obar itu beberapa saat lalu tepat setelah dia selesai memeriksa David. "Jaehyun memang selalu menelpon tiba-tiba, mengabari akan datang tanpa memberitahu apa yang terjadi, membuatnya uring-uringan tidak jelas. Dan itu yang membuat Il-hyung kesal. Bukan salahmu. Tenang saja."

Ekspresi datar Taeil saat berbicara dengan Jaehyun seketika berubah ramah saat beralih pada David, mengelus kepala anak itu sayang sambil tersenyum. "Paman akan memberimu beberapa obat. Pastikan untuk meminumnya dengan teratur agar cepat sembuh, ya?"

David mengangguk, tersenyum. "Baik, dokter!"

Taeil mencubit pipi David gemas, berkomentar, "Manisnya…"

"Apa jadinya anak manis ini jika aku tidak berinisiatif langsung membawanya ke sini." Jaehyun berujar santai dari tempat duduknya.

Taeil langsung menatapnya datar lagi, menyuruhnya untuk tak membuatnya panik dengan permintaan tiba-tibanya lagi lain kali. Diikuti Hansol, yang menagih janji Jaehyun untuk mentraktir mereka makan yang sudah sebulan lalu tapi belum terealisasi juga karena dia terus menundanya.

Taeyong hanya bisa tersenyum melihat perdebatan mereka yang menurutnya lucu. Dia memeluk David dari samping, merasa luar biasa lega sambil membisikkan kalimat pelan, "Terimakasih."

.


Di perjalanan pulang, Taeyong menggendong David yang langsung tertidur di punggungnya, sementara Jaehyun berbaik hati membantu dengan menuntun sepeda miliknya. Mereka berjalan berdampingan di jalanan sepi malam, udaranya sedikit dingin tapi masih bisa diterima.

"Uhm, Jaehyun-sshi, terimakasih atas bantuannya," ujar Taeyong dengan nada pelan. Dia tidak mau membuat David bangun, anaknya benar-benar butuh istirahat.

Jaehyun tersenyum menggeleng tak keberatan. "Tidak masalah. Kebetulan saja jika mengenal Taeil-hyung dan Hansol-hyung jadi bisa meminta bantuan mereka. Rumah sakit yang buka di jam-jam seperti sekarang cukup jauh dari sini." Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih lebar danm mencurigakan. "Tapi Taeyong-hyung, bagaimanapun aku akan menganggap kau berhutang padaku."

Taeyong seketika memasang wajah datar. Tadinya dia pikir Jaehyun membantunya dengan niatan tulus, tapi rupanya tidak setulus itu. Lagipula Jaehyun juga berhutang pada Taeil dan Hansol dan belum membayarnya, tapi sekarang tanpa tahu malu dia berkata seperti ini. Tapi Taeyong memang sangat merasa berterimkasih dan tertolong. Makanya dia mengangguk.

Jaehyun menyambutnya senang, ekspresinya riang sekali. Entah apa yang ia pikirkan. "Akan aku pikirkan nanti untuk itu," beritahunya.

Mereka kembali berjalan dengan hening. Sampai Jaehyun melihat sosok anak kecil di punggung Taeyong. "David tidur pulas sekali. Mungkin karena pengaruh obat. Apa berat? Aku tidak keberatan menggantikanmu menggendongnya," tawar Jaehyun mencoba ramah.

"Tidak perlu, Jaehyun-sshi." Taeyong menunduk menatapi jalanan yang mereka tapaki, kembali merasa rasa bersalah mengingat apa yang telah ia lakukan. "Lagipula ini salahku. David terlihat tidak nafsu makan saat sarapan tadi pagi. Suaranya juga terdengar agak serak dan tak banyak bicara seperti biasanya. Dia pasti menahan sakitnya karena tidak mau membuatku khawatir. Seandainya saja aku lebih perhatian padanya…"

"Aku mengerti…"

Taeyong langsung sadar dengan apa yang dia lakukan. Seketika ia mengangkat wajah. "Ah, maaf membuatmu tidak nyaman, Jaehyun-sshi aku jadi malah mengatakan hal seperti ini padamu." Tak seharusnya Taeyong berbicara begini. Ini bebannya, tak perlu dia bagi pada orang lain yang tak ada hubungannya sama sekali, apalagi pada Jaehyun yang merupakan pelanggan dari restoran tempatnya bekerja. "Aku sudah banyak merepotkanmu malam ini."

"Tidak masalah. Aku melakukannya karena ingin," katanya cuek. "Dimana rumahmu, Taeyong-hyung? Aku akan mengantarmu sampai sana."

"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau merepotkanmu lagi, Jae―"

"AyolAh, hyung, jangan konyol. Aku tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk padamu, sungguh. Hanya saja ini sudah malam dan David sudah tidur. Akan lebih baik jika…" Suaranya semakin pelan sampai benar-benar berhenti. Jaehyun tersenyum kikuk melihat cara Taeyong yang memasang ekspresi datar yang kini memandangnya. Menyorot curiga. "Hyung, kau benar-benar tidak percaya padaku, ya?" tanyanya.

Taeyong ingin mengiyakan tapi itu akan sangat tidak sopan pada orang yang sudah menolongnya. "Bukan begitu. Hanya saja… tempat tinggalku cukup jauh dari sini. Aku tidak mau kau harus menempuh dua kali perjalanan jauh untuk melakukannya."

"Aku akan baik-baik saja, Taeyong-hyung tidak usah khawatir. Staminaku cukup kuat karena jadi pernah atlit basket saat sekolah dulu," katanya. Untuk meyakinkan dia bahkan berlari-lari kecil di tempatnya. Sudah seperti anak kecil. Tapi itu tak bertahan lama sampai dia mulai kembali berjalan biasa karena malu sendiri.

Taeyong mengangguk pelan tanda mengerti, membiarkan Jaehyun menemaninya pulang seperti keinginannya. Dia masih sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya besok pagi dengan melamun.

Jaehyun memandangi figur itu dari samping sambil terus berjalan. "Tapi aku tidak tahu jika hyung punya anak sebelumnya." Tak heran jika hyung selalu menolak ajakan berkencan dariku, tambahnya dalam hati meringis-ringis. "Jika David harus ditipkan di daycare sampai selarut ini, apa itu artinya istri hyung juga bekerja sampai malam?"

Taeyong menggeleng kecil. "Tidak. Aku sudah bercerai…"

Langkah Jaehyun langsung berhenti.

Tindakan itu membuat Taeyong berhenti melamum dan berbalik. Jaehyun ada dua langkah jauhnya darinya dan memandanginya. Taeyong akan bertanya, tapi Jaehyun mendahului melempar pertanyaan.

"Ada keluarga atau kerabat dekat yang tinggal dengan kalian?"

Taeyong menggeleng.

"Kalau begitu, sudah menemukan daycare yang bisa merawat anak sakit?"

Taeyong menggeleng lagi. "Mungkin besok aku akan bulak-balik dari restoran untuk―"

"Ikuti aku, hyung," potong Jaehyun cepat dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah. Dia merubah arah tujuannya saat itu juga begitu saja.

"Huh?"

"Malam ini tinggal di tempatku."

Mata Taeyong membulat. Apa yang Jaehyun bicarakan sebenarnya? Dia bahkan mengatakan itu tanpa menoleh padanya, terus membawa sepedanya pergi menjauhinya yang masih mematung di tempat yang sama. "T-tunggu, Jaehyun-sshi! Jangan bawa sepedaku―"

"Rumahku lebih dekat dengan restoran tempatmu bekerja." Jaehyun berkata keras kepala, tak mengindahkan Taeyong yang berusaha mengejarnya di belakang da menyuruhnya berhenti. "Aku punya kamar kosong. Dan klinik juga dekat dari sana, sebagai antisipasi jika kondisi David tiba-tiba memburuk."

Taeyong menatapnya dalam diam, Jaehyun menengok ke belakang sedikit melewati bahunya, memberi tatapan serius yang jarang diperlihatkan olehnya.

"Ini juga demi kepentinganmu, hyung. Dan tentu saja untuk David. Berada dekat denganmu akan membuatnya cepat sembuh. Hyung bisa memeriksanya dengan mudah karena rumahku dekat dengan restoran tempatmu bekerja. Juga, David bisa segera istirahat sekarang." Jaehyun tersenyum. Bukan jenis senyum menggodanya yang biasa, bukan juga jenis senyum yang terkesan pura-pura miliknya, hanya senyum, dengan dimple yang mempermanis di wajahnya. "Hanya sampai besok. Dengan begini juga semuanya akan lebih mudah untukku. Barangkali hyung juga bisa sambil memikirkan bagaimana solusi yang lebih baik untuk kalian."

Taeyong diam.

Jaehyun tersenyum ramah padanya, terlihat sungguh-sungguh akan tawarannya. Bahkan terkesan memaksa dengan cara halus.

Taeyong bertanya-tanya dalam hati apakah ini akan baik-baik saja, menyusahkan pelanggannya hingga seperti ini?

.


Mereka sampai di depan sebuah rumah dengan halaman depan yang cukup luas, dihiasi beberapa tanaman yang terawat dengan baik. Benar-benar dekat dengan restoran tempat Taeyong bekerja karena bahkan papan namanya saja terlihat dari sini. Jaehyun membuka pintu gerbang setinggi pinggang di depannya dan membawa sepeda Taeyong masuk, menaruhnya di garasi tanpa pintu tepat di samping mobilnya.

"MasuklAh, hyung," ajaknya sambil membukakan pintu untuk Taeyong.

Taeyong mengangguk. Dia melepas sepatunya tanpa bantuan tangan karena masih mengendong David lalu melangkah masuk. Rumah ini cukup luas menurut Taeyong, juga rapi. Tidak terlalu banyak barang-barang juga.

Jaehyun memandunya menuju salah satu ruangan, kembali membukakan pintu untuknya. Dia mendekati saklar, membuat ruangan yang tadinya gelap menjadi terang benderang. Ruangan ini juga luas, tapi bersih tanpa noda debu.

"Pakai saja kamar ini," katanya. Dia dengan baik hati membenarkan letak bantal di atas tempat tidur berukuran queen size, menepuk-nepuknya sedikit sebelum meminta Taeyong membaringkan David di sana, lalu menyelimutinya. "Jika butuh selimut tambahan ada di dalam lemari."

Taeyong mengucapkan terimakasih.

"Hyung juga menginap saja di sini unuk malam ini. Jika butuh sesuatu hyung bisa mengambilnya besok." Jaehyun berjalan keluar dan Taeyong mengikutinya. "Kau bisa datang ke sini kapanpun kau mau, hyung. Aku akan memberikan kunci cadangnya nanti. Pakai saja kamar mandinya, dapur, juga bahan makan yang ada di dalam kulkas. Jangan sungkan."

"…Baiklah."

"Dan mengenai piyama, hyung tidak keberatan kan memakai punyaku?" Jaehyun berjalan menuju pintu satu lagi untuk mengambil pakaian ganti untuk Taeyong. Taeyong ragu namun ikut masuk. "Ruanganku ini sangat terbuka untukmu, hyung, jika kau mau mampir." Jaehyun berbalik lalu dengan sengaja menggoda sambil memberi kedipan mata.

Taeyong sampai mundur beberapa langkAh, merinding sendiri. "Err… tidak. Terimakasih."

"Hyung mau kemana?" tanya Jaehyun yang melihat Taeyong sudah mundur saja hingga ke pintu.

"A-aku harus melihat keadaan David. Selamat malam."

Jaehyun mendesah kecewa setelah ditinggalkan.

.


Taeyong kembali ke ruangan yang tadi untuk mengecek suhu tubuh putranya dengan menyentuhkan tangan di dahi. Merasa sedikit lega karena panasnya sudah tidak setinggi tadi. Sepertinya obatnya mulai bekerja.

Memikirkann semuanya, tentang rumah sakit dan tawaran untuk menginap, membuatnya tersenyum kecil. Jaehyun benar-benar membantunya.

Dibaringkanlah kepalanya di bantal tepat disamping David, kakinya masing menggantung di sisi tempat tidur. "Cepat sembuh, David. Maafkan papa." Taeyong mengusap pipi putranya perlahan, memandangi wajah David yang tertidur pulas tanpa bosan.

"Aku… tidak pernah berpikir jika Jaehyun-sshi sebaik ini…" gumamnya lirih dengan mata yang mulai terpejam perlahan. Hingga tertutup sepenuhnya karena kantuk dan kelelahan.

.


"Hyung, bagaimana dengan piyamanya―eh?"

Jaehyun yang baru membuka pintu langsung berhenti bicara. Dibawa tubuhnya mendekat pada tempat tidur dan dia bisa melihat dua wajah identik sedang tertidur damai di sana. Jaehyun tidak tega melihat posisi tidur Taeyong yang terlihat tidak nyaman berusaha membangunkannya dengan mengguncangkan bahunya. "Taeyong-hyung, kau akan sakit badan jika tertidur seperti ini…"

Tapi Taeyong tidak meresponnya, sudah tertidur pulas.

Dengan perlahan Jaehyun menyingkap selimut di tempat tidur, mengangkat tubuh kurus itu dengan kedua tangannya ke atas tempat tidur, memposisikannya dengan benar agar berbaring di tepat di samping David. Kasur itu masih cukup luas untuk mereka berdua. Dalam aksinya, Jaehyun berharap apa yang ia lakukan takkan membangunkan Taeyong, karena Taeyong terlihat sangat lelah dan tentu saja butuh tidur. Setelah memastikan semuanya, ia kembali menarik selimut tadi untuk menutupi keduanya hingga dada.

Jaehyun tidak langsung pergi setelah itu. Memilih duduk di tempat tidur, tersenyum sambil memandangi wajah damai Taeyong yang sedang tertidur. Dia bahkan menyempatkan diri untuk mengusap kepala Taeyong sebentar dan berbisik, "Selamat malam, hyung."

.


"Mm..."

Yang membangunkan Taeyong pagi itu adalah dering ponselnya. Butuh sepuluh detik baginya untuk sadar dan mengangkatnya. Itu adalah telpon dari bosnya, Johnny, yang menitipkan restoran padanya juga hari ini karena masih belum bisa masuk.

Ini sudah pagi.

Dengan perlahan ia mengedarkan pandangan. Menyadari dengan cepat dimana dirinya setelah mengingat apa yang terjadi semalam. Hal selanjutnya yang dia lakukan adalah mengecek suhu tubuh David, yang rupanya masih demam.

Taeyong mendudukkan diri, merasa sedikit pusing dalam proses. Ia baru sadar jika dia jatuh tertidur tanpa sadar semalam, dirinya pasti sangat kelelahan, tidak biasanya ia bisa tidur di tempat baru yang asing.

"Rasanya aku baru tidur sebentar tadi," desahnya mengambil napas lelah. Tidurnya terasa terlalu sekejap. Dan tak akan ada waktu tambahan untuk itu karena banyak hal yang harus dia kerjakan.

Taeyong harus pergi ke restoran dan mengecek stock bahan makanan di sana pagi ini, menghubungi TK untuk memberitahu tentang absennya David yang tidak bisa hadir karena sakit, lalu mencari alternatif tempat menitipkan David untuk besok, dan jika tidak menemukannya, maka Taeyong terpaksa harus merepotkan Jaehyun lagi dan pergi ke apartemen untuk mengambil beberapa pakaian bersih dan apa yang mereka butuhkan.

Memikirkan itu membuat Taeyong merasa tidak enak.

Dia harus melakukan yang terbaik jika tidak ingin terus merepotkan orang lain. Terutama merepotkan Jaehyun lagi lebih dari ini.

.


Taeyong langsung datang ke restoran seperti permintaan Johnny. Tapi rupanya sudah ada yang lebih dulu sampai di sana menunggu di depan restoran.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Jonghyun-hyung."

Dengan cepat dibukanya pintu belakang yang langsung menuju dapur dengan kunci yang dia bawa. Taeyong mempersilahkan Jonghyun yang membawa kotak besar masuk dan memintanya menaruh itu di meja. Sekaligus meminta maaf karena harus lama menunggunya.

"Aku sudah dengar dari Johnny, katanya dia cedera lagi. Anak itu kapan bisa berhenti bertindak ceroboh? Kalau tidak salah ini sudah tiga kali dalam sebulan," ujarnya tak habis pikir. Pria yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan di balik jaketnya itu geleng-geleng mengingat salah satu pelanggan setianya. Ditepuknya kotak besar di meja menggunakan tangan berbalut sarung tangan miliknya. "Ini stock untuk hari ini. Johnny bilang dia mempercayakan pengecekkannya padamu."

Sementara tangannya mulai membongkar kotak dan mengecek isinya, Taeyong hanya bisa meringis. Setuju dengan ungkapan awal tentang betapa cerobohnya bos Seo dari Jonghyun. Dia jadi teringat lagi dengan betapa paniknya Mark kemarin.

"Bagaimana David? Kau pasti sibuk mengurusnya dan kini harus menanggung tanggung jawab dari bos ceroboh yang begitu percaya dan mengandalkanmu itu. Pasti sulit, hm?"

"Tidak juga, hyung. Aku justru senang. David, dia sedang demam, tapi baik-baik saja."

Dengan teliti Taeyong mulai mengecek ketersedian barang itu satu persatu dengan list di tangannya. Sama sekali tidak sadar jika sedang dipandangi. Jonghyun yang kini berdiri menyandar pada meja jelas tahu ada yang salah karena Taeyong terlihat sedikit berbeda hari ini. Tidak banyak bicara dan tidak bersemangat seperti biasa, seperti ada pikiran berat yang sedang dia pikirkan. Mungkin salah satu alasannya adalah David, yang katanya sedang sakit. Sebenarnya dia ingin bertanya dan jika bisa menawarkan bantuan, tapi rasanya tidak enak saja, takut menyinggung orang yang bersangkutan.

Merasa semuanya sudah sesuai, dirapikan kembali barang-barang ke dalam kotak. Ditaruhnya juga daftar list yang sudah tercek dan pulpennya di meja. "Oke, hyung. Sudah semua. Tak salah memang jika Bos Seo bilang tak usah mengkhawatirkan tentang stock karena akan selalu ada Jonghyun-hyung." Kali ini dia memberi sedikit senyum.

Jonghyun yang dipuji begitu jadi geli sendiri. "Hahaha, kau bisa saja. Senang mendengarnya. Karena aku yakin Johnny takkan pernah mengatakan itu langsung padaku langsung."

"Bos memang sedikit pemalu," katanya.

Jonghyun menyerhit, karena pemalu sama sekali tidak cocok menjadi sebutan untuk Johnny. Akan lebih cocok memanggilnya dengan keras kepala dan punya harga diri terlalu tinggi. "Aku sangsi dengan hal itu."

Taeyong tertawa melihat ekspresinya.

"BaiklAh, sampai bertemu lagi. Selamat bekerja, Taeyong-ah. Dan berikan salamku untuk si kecil David, bilang Jonghyun-ahjusshi rindu padanya."

Taeyong mengangguk, melambai dari kejauhan sambil tersenyum melihat Jonghyun pergi dengan truk barang berwarna biru miliknya.

Diantara kesibukannya membesarkan anak seorang diri dan bekerja, Taeyong merasa bersyukur masih bisa diberi kepercayaan dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya seperti ini.

.


"Selamat pagi, Taeyong-hyung."

Taeyong yang baru masuk dan menutup pintu langsung disambut sapaan pagi dari Jaehyun yang terlihat sudah segar. Dia sepertinya baru selesai mandi. Hanya memakai kaos putih polos dan celana pendek. Dilehernya ada handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut, masih ada titik-titik air dari sana.

"Selamat pagi," balas Taeyong sambil mendekat. "Maaf tadi aku pergi tanpa bilang. Aku harus ke toko untuk memeriksa stock. Aku akan kembali ke sana jam sembilan."

"Tak masalah." Jaehyun tersenyum saja tanpa berhenti dengan kegiatannya mengeringkan rambut. Meski dia cukup kaget saat tak mendapati sosok itu dimanapun tadi, dia bisa mengerti. Matanya jatuh pada tas berukuran cukup besar yang dibawa Taeyong. "Hyung pulang dan mengambil baju?" tanyanya.

"Iya..."

Jaehyun tersenyum lagi. "Aku baru saja memeriksa suhu tubuh David. Demamnya masih cukup tinggi," katanya memberi tahu. Kakinya sudah melangkah begitu saja ke ruangan sebelah diikuti Taeyong. Di dalam Taeyong langsung mengecek keadaan putranya, sementara Jaehyun hanya mengamati mereka sambil berdiri bersandar ke dinding.

Benar, demamnya masih tinggi, pikir Taeyong. Selama perjalanan tadi dia sudah memikirkan beberapa pilihan yang bisa dia lakukan untuk David, tapi melihat kondisinya ini sepertinya masih belum memungkinkan. Anaknya masih butuh istirahat dan suasana tenang, menitipkannya di tempat lain sepertinya bukan pilihan tepat. "Uhm, Jaehyun?" gumaman darinya terdengar tidak yakin, tapi Jaehyun masih menoleh. Taeyong tidak berani menatapnya, tapi tetap dia lakukan. "Aku belum bisa memikirkan tempat lain yang cocok dan bersedia untuk menjaga David. Apa… apa dia boleh tinggal di sini untuk hari ini? Hanya sampai besok…"

"Tidak hanya untuk hari ini, hyung. Kalian bisa tinggal sampai David sembuh." Jaehyun mengerti jika Taeyong merasa tak enak padanya, makanya dia berusaha menyakinkannya. Lagi. "Aku tidak keberatan, sungguh, jika itu yang hyung khawatirkn. Tenang saja, hyung bisa mengandalkanku. Seperti yang aku bilang, selama aku bisa membantu aku akan membantu sebisaku."

Taeyong menatap Jaehyun yang tersenyum ramah padanya. Kagum dengan kebaikannya sekaligus lega. Dia merasa sangat tertolong dan bersyukur.

Tapi Jaehyun mengartikannya dengan sesuatu yang lain. Karena dia cemberut. "Ah, pasti hyung berpikir; Bagaimana aku bisa mengandalkan seorang pria playboy dan tak bertanggung jawab seperti Jung Jaehyun. Iya kan?"

"Tidak! Bukan itu maksudku," jawab Taeyong cepat, menggeleng kuat sambil menggerakkan tangannya panik. Tapi melihat Jaehyun yang kini cengar-cengir seperti itu padanya membuatnya hanya bisa menghela napas. Mungkin itu ada benarnya…

Senyuman Jaehyun semakin lebar saja melihat Taeyong. Menggodanya itu menyenangkan. "Aku punya maksud tersendiri yang tak bisa aku bilang. Ini rahasia sebenarnya. Jadi hyung tak usah khawatir karena aku akan memanjakanmu," ujarnya lagi.

Melihat Jaehhyun yang sudah kembali dalam mode menggombal dan tersenyum riang, Taeyong langsung mundur menarik diri menjauh. "Sekarang aku justru khawatir..." gumamnya pelan.

Jaehyun tak mendengar. Sibuk melihat Taeyong dan menyadari hal lain lagi. "Omong-omong, kau masih memakai pakaianmu yang kemarin, hyung. Bagaimana jika mandi dulu?"

Ah, benar juga. Tadinya Taeyong berniat mandi di apartemennya saat mengambil barang-barang yang dia dan David butuhkan sebelum kembali ke sini. Tapi sepertinya pikirannya sedang teralihkan sehingga melupakan itu.

"Tenang saja. Aku tidak akan berpikiran hal kotor di awal pagi begini," tambahnya tak meyakinkan.

Taeyong mana percaya. Jaehyun justru terlihat semakin mencurigakan.

Jaheyun kembali mendahuluinya masuk ke dalam kamar mandi. Memeriksanya dulu sebelum kembali. "Ada handuk dan peralatan mandi baru di rak dalam, pakai saja."

"Baiklah. Terimakasih."


Saat ada di kamar mandi, Taeyong justru banyak melamun. Berdiri di depan cermin lalu dengan perlahan melepas kaos yang bahkan masih menggantung di tangan. Kepalanya di penuhi dengan Jaehyun, meski tanpa sadar. Dia selalu berpikir jika Jaehyun adalah jenis laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tapi setelah melihat ini, melihat bagaimana dirinya dan tempat tinggalnya secara langsung, Taeyong menemukan fakta bahwa Jung Jaehyun adalah jenis orang yang rapi dan teratur. Barang-barangnya tertata rapi, terorganisir meski dia hanya tinggal sendiri. Bahkan rak dalam kamar mandinya penuh dengan handuk dan peralatan mandi baru. Dia juga membiarkan orang yang belum terlalu dia kenal untuk menggunakan rumahnya.

Mungkinkah dia hanya menjadi tak bertanggung jawab jika ada dalam hubungan cinta? Atau justru dia hanyalah jenis orang yang terlalu sembrono dan mudah percaya bahkan untuk meminjamkan tempatnya pada orang lain?

Ya bagaimanapun, yang jelas dia orang baik...

"Taeyong-hyung."

Kepala Jaehyun muncul dari celah pintu. Taeyong langsung menutup bagian depan tubuhnya dengan kaos di tangan secara refleks. "Ya?"

"Maaf, tapi aku mau mengambil hairdryer."

"Silahkan."

Jaehyun masuk lebih jauh ke dalam kamar mandi. Pintu dibiarkan dibuka. Dia melewati Taeyong untuk mengambil benda yang dimaksud, yang tadinya tergeletak begitu saja di atas wastafel kamar mandi. Setelah dapat, dia malah berhenti untuk menatap Taeyong. Yang ditatap tentu bingung, balas menatap tidak mengerti.

Mata Jaehyun menyipit, menilai hyungnya, cemberut sedikit. "Oh, sial. Kenapa hyung masih pakai celana? Padahal aku mengharapkan sesuatu yang lebih terbuka dari ini saat masuk."

Taeyong seketika memasang tampang datar, mengerti apa yang dia maksudkan. "Berhenti mengatakan hal aneh dan cepatlah pergi," ujarnya jengah.

Cemberutnya semakin menjadi. Kini bahkan ditambah hela napas berat. "Sayang sekali aku tidak dapat pemandangan bagusnya."

Alis Taeyong tertaut. "Pemandangan bagus apa maksudmu?"

Jaehyun tertawa. "Polos sekali sih, hyung," komentarnya sambil terkekeh-kekeh, berjalan menuju pintu kini dengan hairdryer di tangan. Tapi sebelum pergi sempat-sempatnya berkata sambil tersenyum dengan mata berkilat-kilat. "Mandi saja yang lama ya, hyung. Jangan khawatir karena aku tidak akan mengintip."

Taeyong yang ditinggalkan justru termenung, merinding sendiri melihat itu sampai berkeringat dingin.

"...dia malah tambah mencurigakan dan membuatku makin khawatir…"

.


Jaehyun ada di dapur begitu Taeyong keluar dari kamar. Sudah terlihat rapi tapi memakai celemek di atas kemeja kerjanya. "Sudah selesai mandi?" tanyanya begitu melihat Taeyong dari kejauhan.

Taeyong mengangguk. "Terimakasih kamar mandinya," katanya. Dia mendekat untuk memastikan apa yang sedang dilakukan Jaehyun dan rupanya dia sedang memotong-motong bahan makanan dan terlihat akan membuat sesuatu untuk menu sarapan mereka, sepertinya.

Jaehyun yang melihat pandangan lurus Taeyong pada apa yang sedang dia lakukan langsung menjelaskan. "Aku sedang mencoba membuat sarapan. Maaf jika makanan buatanku tidak enak nanti. Aku tidak tahu makananku akan sesuai dengan selera seorang chef sepertimu atau tidak, hyung," katanya sambil tertawa tanpa humor.

"Tidak apa… Aku akan tetap memakannya."

Kenapa malah dia yang meminta maaf? Taeyong bahkan bukan tamu di sini, dia hanya orang yang tidak sengaja harus merepotkannya karena keadaan mendesak. Justru dirinya yang merasa harus meminta maaf pada Jaehyun. Dia sebagai tuan rumah bahkan menyiapkan sarapan untuk mereka sementara dirinya tak melakukan apapun. Tawarannya untuk membantu pun ditolak karena menurut Jaehyun, makanannya sebentar lagi siap. Dia jelas terlambat.

"Kalau begitu aku siapkan mejanya…"

"Iya. Maaf ya merepotkanmu, hyung."

Justru aku yang sudah terlalu banyak merepotkanmu, Jaehyun-sshi.

Taeyong melakukan itu sambil melamum. Menaruh piring-piring di meja beserta alat makan lain. Dia merasa seperti orang yang tidak berguna dan tidak tahu terimakasih karena hal ini. Jaehyun sudah terlalu baik padanya dan dia tidak bisa membalasnya.

Kini bahkan Taeyong tak menyadari jika David menengok dari pintu dan berjalan ke arahnya. Dia baru sadar saat merasakan tarikan di celananya dan panggilan papa yang terdengar pelan dan serak dari sosok kecil itu.

"David!" Taeyong seketika meninggalkan apa yang tengah dia kerjakan, berjongkok menyamakan tinggi dan menghadap anaknya, perlahan memeriksa dan memastikan dia baik-baik saja. Wajah David masih sedikit merAh, mungkin karena demam. "Kau harus istirahat. Apa yang kau lakukan berjalan-jalan begini?"

"Aku baik-baik saja, Papa. Di mana ini?" tanya David. Dia memeriksa tempatnya berada sekarang dengan binar penasaran. Tidak mengenalinya sebagai tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya.

Taeyong mengusap kepala anaknya. "Ini rumah Jaehyun-ahjusshi."

Jaehyun yang mendengar namanya disebut, dan telah selesai menaruh makanan di mejapun bergabung, berjongkok di depan David. "Selamat pagi, kau ingat aku?" sapanya dengan senyum.

"Ahjusshiahjusshi yang kemarin…?"

"Ya, benar sekali! Namamu David, benar?" David mengangguk kecil meski belum bisa memahami apa yang terjadi sebenarnya. Jaehyun tersenyum melihat tampang anak itu yang begitu polos dan menggemaskan sekarang. Dan jangan lupakan kemiripan wajahnya dengan ayahnya. "Kau ada di rumah ahjusshi sekarang. Dan karena sekarang sudah saatnya sarapan, Ahjusshi juga sudah membuatkan bubur untukmu. Ada puding juga. Kau harus memakannya karena setelah itu harus minum obat. Kau suka puding, kan?"

David mengangguk lagi, kali ini menunduk. "David suka sekali… puding."

"Good boy!" diacaknya rambut David dengan gemas, membuat anak itu panik karena itu terlalu tiba-tiba. Jaehyun tertawa. Kali ini mengusap kepalanya pelan sekaligus merapikan apa yang telah dia acak sebelumnya sebagai pertanggung jawaban. "David akan tinggal di sini sampai benar-benar membaik dan demamnya hilang. Lagipula tempat ini juga dekat dengan restoran tempat papamu bekerja jadi jika terjadi sesuatu, papa David akan datang secepatnya," jelasnya lagi. "Mengerti?"

"Eung!"

Taeyong cukup kaget melihat anaknya telah dijinakkan begitu saja oleh Jaehyun.

David bahkan melupakannya dan asik berbicara dengan ahjusshi yang baru ditemuinya kemarin itu. Tersenyum dengan begitu lebar, bersemangat menjawab tiap pertanyaan Jaehyun padanya, sementara Jaehyun hanya akan tersenyum mendengarnya. Taeyong hanya bisa menatap pemandangan di depannya tak percaya, sekaligus bertanya-tanya apakah Jaehyun memang selalu tersenyum seperti itu pada semua anak kecil? Senyum ramah yang menampilkan dimplenya, bersama dengan mata yang membentuk lengkungan garis. Entah kenapa Taeyong bisa melihat ketulusannya di sana. Benar-benar pemandangan yang membuat hatinya terasa hangat. Tunggu, apa?

"Baiklah. Sekarang ayo kita makan bersama."

Taeyong tersentak sebentar sebelum bangkit dan menjawab, "Ah, baiklah."

Ini rahasia. Tapi terkadang, meski tanpa sadar, Lee Taeyong bisa benar-benar terkagum akan pesona seorang Jung Jaehyun.

.


Baru satu suap dan tangan Taeyong yang sedang menyuapkan makanan langsung berhenti.

"Ini… enak."

"Benarkah? Syukurlah."

Bisa Taeyong lihat bagaimana cara Jaehyun tersenyum sangat senang mendengar pujian itu, matanya berbinar-benar sambil lanjutkan makan, terlihat lebih lahap dari sebelumnya. Permintaan maaf Jaehyun mengenai makanannya yang mungkin takkan sesuai dengan selera Taeyong, kini lebih terdengar seperti omong kosong. Taeyong sendiri tidak menyangka makanan buatannya akan terasa seenak ini. Dia jelas punya bakat memasak. Tapi kini justru ada yang menganggu Taeyong, dia bahkan tak sempat berpikir saat bertanya. "Lalu kenapa kau selalu datang ke restoran jika kau bisa memasak makanan untuk dirimu sendiri, Jung Jaehyun-sshi?"

"Hyuuuung, sudah berapa kali aku katakan berhenti memanggilku seperti itu. Cukup Jaehyun saja," rengeknya. Taeyong melanjutkan makan, pura-pura tidak dengar. David di sampingnya makan dengan tenang. Jaehyun cemberut, sendok di tangannya kini malah dia mainkan. "Aku datang ke restoran karena makan sendirian itu membosankan," jawabnya dengan muram.

Taeyong memandang Jaehyun sebentar kemudian mengangguk mengerti.

"Ah, kau benar-benar pria kesepian rupanya."

"Taeyong-hyung... " Jaehyun merasa tertohok, tiba-tiba menunduk dalam. Terpuruk dengan aura-aura suram yang menguar di sekitarnya. "…kau kejam sekali…."

Apa?

Dia hanya mengatakan fakta sebenarnya.

"Um, dan jika kau tak keberatan aku dan David akan memakai dapur untuk memasak malam ini. Jam berapa kau pulang, Jaehyun-sshi? Jika kau ingin memakan sesuatu katakan saja. Akan aku buatkan nanti."

Jaehyun langsung menegakkan tubuhnya mendengar itu. Suasana muramnya langsung menghilang entah kemana. Senyumnya juga sudah kembali. "Mungkin akan sama seperti biasanya. Akan aku usahakan pulang lebih cepat. Kantorku dekat dari sini. Tapi hyung tidak perlu memaksakan diri. Aku bisa makan apapu. Sebenarnya aku bisa tetap memasak makanan untuk kali―"

"Tidak," sela Taeyong, membuat Jaehyun sedikit terkejut. "Setidaknya biarkan aku melakukan itu…" lanjutnya dengan nada lebih pelan. Setidaknya dia tidak akan merasa begitu tak berguna seperti tadi pagi. Dia beralih pada David, melihat anaknya itu sudah hampir selesai dengan makanannya. Taeyong mengambil obat dan memberikan itu pada David, menyuruh dia meminumnya.

Jaehyun mengangguki itu setuju, kembali makan. "Aku akan pulang tengah hari nanti. Restoran pasti sibuk di jam-jam itu, kan?"

Taeyong tentu saja tak bisa menerima itu begitu saja.

"Sudah sejauh ini, hyung. Terima saja tawaranku," katanya.

"Tapi…"

"Taeyong-hyung, berisik." Jaehyun menyangga dagunya dengan sebelah tangan, mencubitnya pelan pipi hyungnya itu dengan tangan yang lain, membuat si empunya mengejap. David memandangi keduanya dari tempatnya duduk dengan tertarik. "Dan berhenti memasang ekspresi tidak enak seperti itu di depanku. Sudah aku bilang aku tidak keberatan, aku senang bisa membantu, jadi biarkan aku melakukannya, oke?"

Taeyong memegangi pipinya yang kini sudah dilepaskan. Lalu mengangguk. Jaehyun mengucapkan kata terakhirnya dengan nada perintah yang tak bisa dia tolak. Ini rahasia. Tapi terkadang, meski tanpa sadar, Jung Jaehyun selalu bisa menggoyahkan pendirian Lee Taeyong.

"Bagus," katanya sambil tersenyum riang. Dia beralih cepat pada satu-satunya anak kecil yang sedari tadi memandangi mereka. "David kau baik-baik saja ditinggal sendiri, kan? Ahjusshi akan pulang tengah hari nanti, jadi David tidur saja sampai saat itu, ya?"

"Okay!"

Apa pesona Jung Jaehyun memang sekuat ini?

.


Jaehyun sudah rapi dan siap pergi ke kantor dengan setelan jasnya saat mengatakan permintaan itu.

"Hyung, berikan aku nomor ponselmu. Aku akan menghubungimu jika ada sesuatu nanti."

"Baiklah."

Taeyong yang baru selesai menggantikan pakaian David bangkit berdiri. Mengambil ponselnya dari saku celana dan memberikan nomornya pada Jaehyun, yang langsung membuat panggilan untuk balas memberi nomornya. Beep. Taeyong selesai menyimpan nomor itu dalam kontaknya saat melihat Jaehyun tersenyum konyol dan ber-hehehehe sumringah.

"YES! Aku berhasil! Aku berhasil mendapat nomor telepon Taeyong-hyung!" serunya girang.

Huh?

Jaehyun menyeringai. "Aku sudah mendapat satu langkah. Salah siapa hyung lengAh," katanya sambil tertawa puas.

Taeyong yang sadar langsung menghadap tembok, bersandar di sana dengan aura suram di sekitarnya. Kenapa aku memberinya nomor itu begitu saja padanya?! sesalnya dalam hati. Apa begini teknik Jaehyun? Kemampuannya dalam melakukan pendekatan dengan korban-korbannya? Taeyong tidak percaya akan dirinya yang bisa jatuh begitu saja dalam perangkapnya.

"Hyung―"

Beep beep beep

"Ah, mesim cucinya sudah berhenti. Aku akan menjemur sekarang."

"E-eh? Iya―"

Taeyong melenggang pergi menjauhi Jaehyun begitu saja yang bahkan belum sempat selesai bicara. Punggung kecil itu menjauh, dengan begitu tergesa mendatangi mesin cuci yang sudah selesai melakukan pekerjaannya. Dia memindahkan pakaian dari mesin pengering ke dalam keranjang satu persatu. Setelah itu membawanya pergi menuju halaman belakang untuk menjemur satu persatu pakaian itu di tiang jemuran.

Dia benar-benar pekerja keras, batin Jaehyun.

"Apa papamu selalu seperti ini? Bekerja seperti itu?" tanya Jaehyun setelah mendekat pada David.

David yang tadinya melihat pada ahjusshi yang bertanya langsung mengalihkan pandangan pada punggung papanya yang terlihat dari sini, sibuk menjemur. "Iya. Papa selalu sudah selesai mencuci sebelum aku bangun. Membangunkan dan membuat sarapan untukku. Lalu pergi menjemur saat aku makan. Setelah itu pergi mengantarku ke TK."

Dia juga menjemput David dari TK, membawanya ke daycare setelah menyiapkan peralatan yang diperlukan olehnya setelah itu. Lalu kembali lagi ke restoran, tambah Jaehyun dalam hati.

Hari seorang Lee Taeyong pastilah sangat sibuk dengan harus bolak-bolak ke apartemen dan restoran yang berjarak tak bisa dikatakan dekat. Sungguh pekerjaan yang melelahkan. Jaehyun benar-benar semakin terkagum dengan sosoknya yang bisa melalui hidupnya seperti itu, mnjadi single parent tentu tidaklah mudah.

"Taeyong-hyung, dia ayah yang luar biasa..." gumam Jaehyun tanpa sadar.

"Ya! Papa memang luar biasa!" ujar David bangga, tepat di sampingnya.

Jaehyun membungkuk dan tersenyum sambulmengusak rambutnya sayang.

.


"Selamat pagi, hyung!"

Mark menyapa Taeyong yang sedang mempersiapkan beberapa bahan makanan di dapur setelah selesai berganti pakaian dengan pakaian kerja. Dia sengaja datang lebih pagi, tapi Taeyong sudah lebih dulu di sini.

"Selamat pagi, Mark. Terimakasih untuk yang kemarin." Taeyong memberinya senyuman tulus, membuat pipinya panas saja. Dia hanya membantu membereskan sedikit dan menutup restoran, padahal. "Bos Seo sepertinya masih belum bisa datang untuk bekerja, jadi hari ini kita berdua lagi," katanya.

Mark menggangguk tak keberatan. Selama ada Taeyong-hyung semua akan baik-baik saja, pikirnya. Dia ikut membantu Taeyong menyiapkan bahan makanan. "Bagaimana David, hyung?"

"Sudah membaik tapi masih sedikit demam dan harus izin tak sekolah untuk istirahat."

Mark mengoper sayuran, dan Taeyong bertugas untuk memotongnya. "Aku ingin bertemu dan menjenguknya jika ada waktu."

"Tentu," kata Taeyong. "David pasti senang bertemu hyung terkeren di dunianya," tambahnya sambil terkekeh. Mark kembali merasa wajahnya panas. Ah, menggemaskan sekali. Mark bisa begitu malu hanya dengan pujian kecil darinya.

"Apa dia di apartemen hyung? Sendirian?"

Taeyong sibuk memotong-motong tapi menjawab. "Tidak. Kami menginap di rumah di dekat sini. Mungkin sedang tertidur sekarang."

Mark menyerhit, berhenti mengoper sayuran. "Rumah di dekat sini? Rumah siapa, hyung?"

Oh, sial. Taeyong kelepasan bicara. Tak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Taeyong menaruh pisaunya, menghela napas. "Sebenarnya… aku menginap di rumah Jaehyun-sshi."

Mark mengerjap. "Rumah… siapa?"

"Rumah Jaeh―"

"Rumah Jung Jaehyun-sshi?! Bagaimana bisa, hyung?!" Mark berteriak panik dengan begitu berlebihan. Matanya membola seperti akan meloncat keluar. Tangannya memegangi bahu hyungnya, memeriksanya. Mendesah lega saat melihat Taeyong masih utuh, tanpa kurang sesuatu apapun. "Apa David baik-baik saja? Eh? Dibanding David, Taeyong-hyung justru yang lebih ada dalam bahaya!" tambahnya.

Ha ha ha. Taeyong tertawa miris. Lihat betapa tidak percayanya Mark pada pelanggannya yang satu itu.

"Mark..."

"Dia melakukan sesuatu padamu, hyung?!"

"Dia tidak melakukan apa-apa…," jawab Taeyong sambil menghela napas lelah. "Sana, cepat kembali bekerja."

Mark merengut, menatap tidak puas sekaligus curiga. Tapi tetap pergi ke depan demi membalik papan menjadi open karena jam sudah waktunya membuka restoran.

Mengenai jawabannya, Jung Jaehyun memang tidak melakukan apa-apa padanya, setidaknya tidak dalam hal negatif seperti apa yang Mark pikirkan. Sejujurnya, dia justru malah sangat membantunya kemarin. Taeyong sangat khawatir tentang apa yang harus diperbuatnya karena David yang sakit, tapi Jaehyun tiba-tiba saja dan menawarkan bantuan seperti itu. Dan saat Taeyong khawatir mengenai apa yang harus diperbuatnya besok, dia kembali menawarkan bantuan untuknya. Sepertinya, sosok Jung Jaehyun selalu ada di saat yang tidak tepat dan membuat Taeyong harus terus merepotkannya. Dia harus bersiap jika hal seperti ini akan terjadi lagi di masa depan.

Namun setelah dipikir lagi. Ada satu hal yang terasa menggelitik Taeyong. Yaitu tentang fakta bahwa Jaehyun termasuk pria yang hebat dalam berurusan dengan anak kecil. Terlihat dari bagaimana dia berinteraksi dengan David. Taeyong jadi penasaran bagaimana jika dia punya anak nanti.

"Aku bi, hyung. Aku tertarik baik itu pada perempuan atau laki-laki."

Taeyong jelas ingat ucapan Jaehyun yang satu itu. Meski dia belum pernah melihat Jaehyun dan kekasih perempuannya sebelum ini, dia percaya saja. Mungkin, Jaehyun mempunyai pengalaman buruk dengan wanita sebelumnya hingga berpindah pada laki-laki. EntahlAh, memang masih banyak hal yang belum Taeyong ketahui tentangnya.

Lagipula, dia tidak tahu jika dia ingin mengetahui atau tidak. Karena… untuk apa?

.


Rasanya aneh memasuki rumah orang lain tanpa ada pemiliknya di dalam seperti ini, pikir Taeyong sambil kembali menutup pintu.

Dia meminta izin untuk meninggalkan restoran sebentar tepat setelah jam sibuk makan siang terlewat dan restoran kembali sepi. Dia khawatir pada Mark tapi sepertinya dia tidak akan apa-apa karena Taeyong sudah menyiapkan beberapa menu yang mungkin di pesan jika ada pelanggan datang.

Taeyong kembali ke rumah Jaehyun untuk mengecek David yang rupanya sedang tidur. Tubuh anaknya itu masih agak hangat, tapi dia baik-baik saja. Jaehyun mengiriminya pesan beberapa jam lalu, mengatakan jika David hanya makan sedikit tapi sudah meminum obatnya. Mungkin karena itu dia tertidur sekarang, karena pengaruh obat. BaguslAh, pikirnya. Karena anaknya memang butuh istirahat.

Meski masih sedikit samar, tapi Taeyong bisa melihat kebaikan dalam diri Jaehyun sekarang. Sedikit lebih jelas dari sebelumnya.

Tak ingin mengganggu David, Taeyong segera keluar dari tempat itu dan menuju halaman belakang untuk mengangkat jemuran.

Saat dia masuk kembali ke dalam, dia baru menyadari jika runah ini benar-benar luas. Terlalu luas untuk hunian yang hanya ditinggali satu orang. Pantas saja jika Jaehyun bilang merasa kesepian seperti itu. Taeyong penasaran apakah Jaehyun tinggal dengan seseorang sebelumnya? Well, meskipun itu bukan urusannya, dia hanya ini tahu. Tunggu―apa? Kenapa dia ingin tahu?

Taeyong menghela napas. Berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya dan mulai melipat pakaian. "Aku rasa aku bisa sedikit merapikan tempat ini sebelum kembali bekerja," gumamnya.

.


"Aku kembali―Oh? Bos Seo?"

Sosok yang tak disangka itu tersenyum kecil, merasa tak enak. "Yo! Maaf meninggalkan semuanya padamu, Taeyongie," katanya.

"Kau kembali, bos. Sudah baikan?" tanyanya sambil mendekat. Taeyong mengamati wajah di depannya yang hampir tak bisa ia kenali itu. "Dan ada apa dengan janggut dan kacamata itu?" herannya.

"Aku meminum painkillers. Hari ini hari Jum'at. Aku paksakan untuk datang karena tahu hari ini pasti ramai. Aku sampai tidak sempat bercukur," keluhnya. "Bagaimana David?"

"Ya, dia masih sedikit deman tapi bisa tidur dengan nyenyak, jadi kurasa dia baik-baik saja."

"Aku dengar dari Mark katanya kau tinggal di rumah Jaehyun."

Oh, jangan bahas ini lagi…

"Itu hanya kebetulan," jawab Taeyong cuek.

Matanya menyipit curiga. "Kau baik baik saja?"

"Ya. Aku pikir dia orang baik, jauh lebih baik dari perkiraanku sebelumnya."

Johnny yang sedari tadi berlagak tenang dan cool, dengan kedua tangan terlipat di dada seketika merinding. Dia berlari menghampiri Mark dengan hebohnya. Mereke berdua memandangi Taeyong dari kejauhan dengan aneh sekaligus takut. "DIA MEMUJINYA! MARK, LAKUKAN SESUATU! SESUATU PASTI TELAH TERJADI!"

"I KNEW IT, HYUNG! AKU BILANG JUGA APA!"

Taeyong merasa sudah cukup melihat adegan berlebihan di depannya. "Hei, tidak ada yang terjadi. Aku hanya kebetulan diselamatkan olehnya…"

Johnny memandangnya serius.

"Sesuatu terjadi! Damn, Jeffrey! Apa yang dia lakukan pada Taeyongie kita?!"

…Sebelum kembali berteriak berlebihan pada Mark.

"Aku tidak tahu, hyung!"

"Bagaimana jika dia mencuci otaknya?!"

"Itu mungkin saja! Lalu bagaimana?"

"Bajingan Jung itu! Kita harus―!"

Taeyong memasang tampang datar andalannya. "Lupakan saja," gumamnya malas. Berbalik meninggalkan keduanya menuju dapur.

.


"Achoo!"

Ditempat lain, Jaehyun yang sedang berbicara dengan salah satu teman kantornya tiba-tiba terbersin keras.

"Ah, seseorang pasti sedang membicarakan keburukanmu, Jay," gumam teman Jaehyun itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.

.


Taeyong yang sedang menyiapkan pesanan harus terhenti karena gangguan berupa ponselnya yang berbunyi dari saku apron pinggangnya.

"Jangan terlalu banyak menggunakan ponsel saat bekerja," kata Johnny mengingatkan. "Tapi jika penting mau bagaimana lagi. Angkat saja dulu sana." Johnny berbalik sepenuhny lagi pada Mark, memarahinya. "Lakukan dengan, benar! Aku kan sudah mengajarimu, Minhyung!"

Mark yang sedang diajari memotong hanya bisa meringis. Mendumel karena Johnny baru juga kembali namun sudah seperti ini lagi padanya.

Itu hal terakhir yang Taeyong lihat sebelum menggumamkan maaf dan meminta izin pergi dari sana untuk menjawab teleponnya.

Di luar, Taeyong memandangi layar ponselnya lama.

Irene.

Benar, dia hampir lupa.

"David bisa bertemu dengan mama akhir pekan ini―"

Taeyong bisa dengan jelas mendengar suara anaknya berkata seperti itu. Ini mungkin akan membuatnya kecewa. Tapi bagaimana? Pertemuan mereka mau tak mau harus ditunda. Taeyong mendesah lelah sebelum menjawab panggilan itu.

"…Halo?"

.


To be Continued


A/N:

Sudah lama tidak update apapun. Harusnya Hiatus tapi malah lanjutin ini di sela skripsweet yang tidak maju-maju. Slap me. Sudah lama sejak terakhir buat fanfic, kalo baca sih masih sering, meski udah jarang ninggalin review. Feel free for slap me. Hehe. Adakah yang kangenin aku? Karena kau kangen kalian semua. Kangen JaeYong momen jugaaaa. Astaga. Banyak yang terjadi. Banyak yang berubah. Aku ketinggalan banyak hal. Tapi meski gitu, aku bakalan tetap stay di sini kok [Backsound: BlackPink – Stay] Eaaaa. /apasih

Maaf jika banyak typo, nanti kalau ada waktu diperbaiki. Terimakasih yang sudah fav, follow, dan review chapter sebelumnya. Kalian terdaeeeebak! ;)

minumtolakangin, Sana427, Arisa Hosho, Yutrash, Nonono546, nabillasella, Izca RizcassieYJ, sjnd18, greeentea, csyoungie, , ImWys17, chittaphon27, Jerapinchansoo, Ppiyong, daunlontar, Rina Putry299, ayahana73, Leemomochan12345, sandyoung, peachpetals, BootyPeachy, dhinaapriliani


Review Juseyong?