COLD WATER
Chapter 2
.
M
.
"Berikan aku yang terbaik yang ada di bar ini."
Lelaki itu mengedar pandangan pada bar kelas bawah yang belakangan ia kunjungi di sela kesibukan kantor. Dia, Park Chanyeol, mengambil duduk tepat di hadapan bartender dan meminta minuman terbaik tanpa peduli seberapa mahal ia harus membayar.
Dia kaya. Uangnya tidak akan habis hanya untuk minuman di bar kumuh ini sekalipun ia akan berkunjung ribuan hari.
Selama di New York, Chanyeol tidak meragukan seleranya yang selalu berkelas atas. Dia bahkan memiliki kartu VVIP untuk mendapat pelayanan terbaik di antara bar terkemuka di New York. Hanya saja Korea mendadak merubahnya sedikit untuk turun. Sekali lagi bukan karena ia tidak mampu, dia memiliki candu pada seseorang yang bisa memberinya kepuasan saat pukulan masa lalu merecoki dirinya.
"Sendiri saja?" satu belaian mengenai pipi Chanyeol.
Jemari berkuku merah itu dengan liar menelusuri tiap inchi tubuh Chanyeol yang malam itu masih berbalut pakaian kerja. Gerak-geriknya sangat murah, Chanyeol cukup berdecih dan tak memberi tanggapan apa-apa sampai jemari itu menarik dagunya untuk beradu pandang.
"Kau baru di sini?" Napasnya beraroma alkohol kuat. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Hanya singgah. Tidak akan lama."
"Kenapa? Kau bisa berlama-lama di sini dan aku akan menemani."
Jika saja Chanyeol tak memiliki keteguhan diri yang kuat, mungkin lisptik merah kontroversi di bibir itu sudah mengotori bibirnya. Gerak cepat Chanyeol membawanya menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh bartender.
"Ah, aku suka caramu menolak."
Sebelah bibir Chanyeol terangkat, dua alisnya bertaut dan dia berperan layaknya bajingan kelas kakap yang tak mudah di tipu.
Kali ini Chanyeol yang mendekatkan tubuhnya. Di antara kearamaian bar dengan hentakan musik di lantai dansa, Chanyeol melihat dari kejauhan seseorang memandang sayu tepat pada dirinya. Beberapa detik mereka memiliki momen yang tak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya semua itu terputus saat si wanita bermata sayu itu memilih pergi ketika Chanyeol membisikkan sesuatu pada si wanita murahan.
"Lakukan satu hal untukku dan aku akan memberi sedikit upah."
.
Kiranya ini sudah ketiga kali Baekhyun membasuh muka di toilet khusus karyawan sejak 3 jam bar di buka. Tak perlu khawatir tentang make-up karena Baekhyun hanya penjajak minuman, bukan penjajak kelamin.
Rasa-rasanya dia tak begitu berselera untuk bekerja setelah mengetahui hampir setiap hari Chanyeol berkunjung.
Tidak, dia tidak berbesar kepala jika berpikiran itu semua karena Baekhyun. Hanya saja, mereka memiliki cerita kompleks tentang seorang korban yang meletakkan dendam pada saksi yang bungkam.
Seandainya hari itu Baekhyun bisa melapor, dia akan melakukan. Tapi ancaman ayahnya membuatnya tak berkutik apa-apa atau Baekhyun akan ditedang keluar dari rumah.
Kini setelah sekian lama Baekhyun kembali bertemu pada penyesalannya.
Mungkin ini sebuah hukuman. Tapi sejatinya Baekhyun tak sejahat itu pada cerita di gudang tua sehingga Chanyeol menghukumnya terlalu buruk dengan hentakan pada kelelakiannya. Baekhyun bahkan tak memiliki andil dalam buruknya trauma Chanyeol di masa lalu, hanya saja dia juga tak bisa berbuat apa-apa kala Chanyeol mengunci kelemahan Baekhyun terlalu kuat.
Kini yang ada dalam benaknya hanya satu hal. Semoga malam itu, malam di mana dia mengejan pada kesakitan selaput darah yang tak lagi utuh, tidak berakhir pada pembuahan di rahimnya. Bukan tidak mungkin, Baekhyun adalah wanita dengan masa subur yang berjalan teratur saat sebelum ataupun sesudah menstruasi. Dan jika di telisik ulang, malam di mana Chanyeol mengalirkan hangat sperma dalam kewanitaan Baekhyun adalah malam di masa subur Baekhyun.
Bagaimana jika benar terbentuk?
Tidak. Baekhyun sangat berharap tidak akan pernah terjadi.
Dia belum siap menjadi seorang ibu ketika mengurus hidupnya sendiri saja masih kesusahan.
Bruk!
"Hai,"
Mimpi buruk kah?
Tubuh Baekhyun terhimpit di tembok. Tangannya terkepal penuh keringat saat di depannya adalah Park Chanyeol dengan dua alis bertaut dan mata elangnya.
"Sibuk?"
"T-tuan,"
"Aku butuh jasamu."
"T-tapi,"
"Temani aku minum. Terasa membosankan jika aku minum sendiri."
Belum sempat Baekhyun mengelak permintaan itu, tangannya lebih dulu di tarik keluar tanpa belas kasih menuju pada hotel di seberang bar.
"T-tuan, k-kenapa ke hotel?"
Tanpa banyak bicara Chanyeol membawa Baekhyun masuk ke salah satu kamar hotel remang itu dan mendorong tubuhnya di atas ranjang. Chanyeol merangkak di atas, dua tangannya memenjara tubuh ringkih Baekhyun dengan kilau kelicikan terpampang dari wajah tampan itu.
Segala macam ketakutan bercampur aduk dalam diri Baekhyun. Dia mencoba untuk mendorong, tapi Chanyeol lebih kuat menahan dan yang tersisa hanya harapan agar tak ada erangan gairah malam ini.
Chanyeol semakin mendekat, mendekatkan endusan beraroma alkohol itu di sekitar mata Baekhyun yang sudah terpejam erat.
Kiranya akan ada sebuah perlakuan kasar atau pemaksaan gairah seperti malam yang lalu. Yang terjadi hanya decih kecil dari bibir Chanyeol saat Baekhyun perlahan membuka kedua matanya.
"Bodoh!"
Chanyeol menjauhkan tubuhnya dan bangkit untuk duduk di salah satu kursi. Setelah melepas jas beserta dasi yang melilit lehernya, Chanyeol membuka satu botol berwarna hijau dan menuang isinya pada sebuah gelas.
"Aku memintamu menemaniku minum. Bukan menyetubuhimu."
Satu tegak membasahi kerongkongan Chanyeol, dia lantas menuang lagi pada gelasnya dan menepuk sisian kosong di sampingnya. "Aku bilang, kau harus temani aku minum di sini. Aku sudah membayarmu mahal jadi bekerjasamalah denganku!"
Cicitan kaki Baekhyun perlahan mendekat setelah Chanyeol memerintahnya dengan nada suara naik 1 oktaf. Tak ada keberanian untuk melawan ketika kekuasaan Chanyeol sebagai seorang lelaki menghimpit Baekhyun sebagai pihak yang lemah.
Chanyeol terus menuangkan minuman itu dan menenggaknya dalam satu tegukan. Berulang kali ia melakukan hal itu tanpa henti hingga kesadarannya sebagai manusia berotak mulai bercampur kebodohan akibat alkohol.
Baekhyun sempat melirik pada botol itu. Bekerja sekian tahun di bar membuatnya mengerti berapa kadar alkohol hanya dari logo kemasannya saja. Dan yang sedang memenuhi kerongkongan Chanyeol itu adalah salah satu dari jajaran alkohol berkadar tinggi yang tidak mudah dijumpai.
"Aku masih berpikir bagaimana cara menghukummu, Byun Baekhyun." satu teguk dari botol kedua sudah masuk, "Apa aku harus membunuhmu atau aku harus merusak hidupmu? Aku masih memikirkan hal itu."
Baekhyun mencoba menyingkirkan gelas kesekian yang akan membuat Chanyeol benar-benar mabuk. Tapi lelaki itu justru menghempaskannya hingga terdengar denting pecahan yang tajam di lantai.
Sedikit sempoyongan Chanyeol menghampiri pecahan itu, mengambil satu yang tampak tajam lalu mengaduh kecil karena telunjuknya mengeluarkan cairan merah. Menyadari kesadaran Chanyeol yang tak lebih dari seperempat, Baekhyun membopongnya kembali duduk ke sofa dan menutup luka itu dengan tissue yang tersedia.
"Kalau aku membunuhmu, penderitaanmu tidak akan berlangsung lama. Aku harus melihatmu menderita dengan mata kepalaku sendiri setelah kau mengabaikan pelecehan waktu itu." Sisa minuman di botol hijau itu Chanyeol habiskan setelah mendorong Baekhyun yang akan menghalangi. Tetesan air pembodohan itu membasahi kemejanya, "Kau..jika saja kau masuk dan menghentikannya, aku tidak akan menjadi seburuk ini. Kau tahu, selama ini aku hidup dengan mimpi yang tidak pernah indah. Harga diriku habis tercecer karena ulah ayahmu! Dan kau! Kau! Dengan tidak berperasaan meninggalkan aku begitu saja di gudang padahal kau tahu aku sedang dilecehkan!"
Baekhyun melihat luka itu mengiris Chanyeol menjadi sosok rapuh. Sekalipun itu sudah lama, dendam dan benci tidak pernah padam hingga membuat Chanyeol terus mengejar sampai dia merasa keadilan memihak padanya.
"Ku kira hari itu menjadi yang pertama dan terakhir. Tapi ternyata tidak!" dagu Baekhyun di tarik, bersitatap langsung dengan wajah memerah Chanyeol dengan dominan luka yang lebih mendalam. "Setelahnya lelaki biadab itu terus menjebakku untuk melakukan hal sama! Aku merasa sudah tidak berguna untuk hidup! Lelaki sialan itu, lelaki yang kau panggil ayah, adalah pendosa yang tidak akan pernah diampuni dosanya! ARRGGHH!"
Meja itu terbalik. Sekali dorong semua menjadi berantakan dan pecahannya tersebar di lantai.
Baekhyun tak berani menginterupsi. Dia terhimpit pada posisinya dengan naluri ingin menghentikan Chanyeol dari ulasan kesedihan.
Baekhyun tahu ayahnya adalah pendosa ulung. Tindakannya semasa hidup mungkin tidak termaafkan karena menabur mimpi buruk pada Chanyeol di masa lalu. Bukan hanya pada Chanyeol, Baekhyun sendiri benar merasa sebagai korban atas keburukan ayahnya. Dia di abaikan, di siksa dalam ancaman dan hukuman fisik, serta perlakuan tidak manusiawi lainnya yang akhirnya membuat Baekhyun kabur dari rumah.
Chanyeol berlutut dalam raungan kemarahannya. Tangannya juga mengepal kuat untuk ia hantamkan ke lantai dan serpihan kaca meja itu menambah luka di tangannya.
Segera Baekhyun membopong Chanyeol jauh dari serpihan-serpihan kaca. Kesadaran yang semakin menipis itu menjadi penolong agar Chanyeol berhenti memberontak dan diam dalam tidurnya.
Serpihan-serpihan itu Baekhyun bereskan. Dia lantas pergi ke luar sebentar untuk meminjam kotak P3K dan kembali ke kamar.
Perlahan Baekhyun mengoleskan cairan coklat pada luka Chanyeol. Kesedihan yang Chanyeol ceritakan membuat Baekhyun merasa bersalah karena perbuatan ayahnya itu sudah tidak bisa dikatakan manusiawi.
"Sesakit itukah dirimu?"
Baekhyun duduk di samping tubuh Chanyeol yang terbaring. Urusan luka dengan mudah Baekhyun selesaikan, dia lantas menatap penuh iba pada lelaki yang merasa hancur setelah dirinya dilecehkan berkali-kali oleh ayah Baekhyun.
"Kita sama. Aku juga merasa sakit saat kau melampiaskan semua padaku di malam itu."
Naluri Baekhyun sedang dalam mode lemah untuk dikendalikan. Tanpa ada satu kesadaran yang ia miliki, sisian kepala Baekhyun bersandar di atas dada Chanyeol yang mulai mengatur napas teratur ditengah kemabukan yang merenggut kesadarannya.
"Tapi jika dengan menyakitiku akan membuatmu merasa puas, lakukan. Anggap itu penebus kesalahanku yang tidak bisa berbuat apa-apa saat itu."
Satu isak lolos.
Dalam keadaan ini-pun, Baekhyun harus kembali berkorban dan menanggung akibatnya.
.
Beberapa hari lagi Sehun mungkin akan menghirup udara di Korea setelah urusan administrasinya di kampus selesai. Sidang serta revisi sudah ia lakukan sepenuh hati. Dan dalam waktu tidak lebih dari 3 minggu Sehun bisa memiliki semua acc yang membawanya pada pendaftaran wisuda.
Mungkin karena pihak TU sudah bosan melihat Sehun berlalu-lalang karena anak itu seharusnya sudah lulus dari semester yang lalu. Hanya saja Sehun sedikit terlambat menuntaskan data-data skripsinya sehingga sidang-pun harus di tunda.
"Ya, Bu. Minggu depan aku akan pulang sebelum acara wisuda. Ibu tenang saja." di sela-sela itu semua Sehun selalu mendapat telfon dari ibunya yang terlalu antusias mendengar kabar kelulusan Sehun. Hampir setiap jam ibunya akan menelfon, memastikan apakah Sehun sudah mengurusnya dengan benar atau dia terlewat sesuatu yang mungkin bisa menunda wisudanya.
"Kau tidak usah pulang cepat-cepat. Selesaikan semua sampai acara wisuda selesai baru boleh pulang."
Terkadang Sehun merasa ibunya adalah ibu yang sedikit kejam. Bertahun-tahun Sehun hidup mencari ilmu di negeri orang, sudah seharusnya ada rindu yang memberat hingga membuat ibunya tak sabar menyambut kepulangan Sehun.
Tapi ini?
Ah, sudahlah.
"Aku bisa pulang dan seharian di Korea lalu kembali ke New York untuk wisuda."
Dan seharusnya Sehun paham, ibunya adalah orang keras kepala nomor satu dalam hidupnya yang tidak bisa dibantah sekalipun Sehun merengek seperti anak balita.
Selalu ada ancaman yang membuat Sehun pada akhirnya harus menuruti semua itu. Seperti uang tiket pesawat yang tidak akan ditransfer jika Sehun tetap berkeinginan untuk pulang.
Panggilan di akhiri. Sejalan dengan itu Sehun sudah tiba di penthouse yang belakangan ia huni seorang diri setelah Chanyeol kembali ke Korea.
Tidak ada lagi hyung yang ia jadikan kiblat sebagai pebisnis sukses. Tapi lebih dari itu tak ada lagi hyung yang menuruti segala keinginan perut Sehun saat kelaparan mulai mendera.
Setidaknya Sehun akan bertahan pada kesendirian ini selama beberapa saat lagi. Setelah wisuda dia akan hidup tenang dan kembali ke Korea, bertemu Kyungsoo untuk melepas rindu dan—"AH!"
Tubuhnya yang menjulang terjungkal dalam satu gerak setelah kakinya tertahan sesuatu. Beruntung Sehun sigap menjaga keseimbangan sehingga tidak perlu sampai dia mengorbankan ketampanannya di lantai.
Sedikit mendesis, Sehun menatap kesal pada sebuah kaki yang berbalut sepatu ber-hak tinggi-merah tiba-tiba hadir di dekat pintu lift. Ledakan kekesalan Sehun hampir menemui puncak karena ia yakin hal itu dilakukan dengan sengaja. Tapi setelah melihat siapa pemiliki kaki ber-hak merah itu, Sehun berniat meledakkan dua kali lipat dari semula.
"I'm back."
Yang Sehun ketahui wanita ini sudah mengekor Chanyeol sampai ke Korea, lalu mengapa bisa tersesat kembali ke New York dengan koper merah yang ia bawa?
"Aku sudah menunggumu lama. Kenapa baru datang?"
"L-luhan, kan?"
"Ya! Luhan, calon kakak ipar."
Sehun merotasikan matanya. Kepercayaandiri Luhan terlalu berlebih. Sehun tahu Chanyeol tidak semudah itu menerima perjodohan tapi sepertinya wanita ini memiliki harapan terlalu tinggi.
Mendengus sebentar, Sehun lantas menekan beberapa tombol di lift dan masuk dengan Luhan yang mengekor.
Dalam situasi ini Sehun akan menjadi orang tidak peduli sedunia. Sekalipun Luhan datang dengan pakaian mini yang membuat kaki jenjangnya terekspos, Sehun tidak akan bertindak manly dengan melepas jaketnya lalu mengenakan pada Luhan.
Sehun bukan orang seperti itu kecuali jika Luhan adalah Kyungsoo.
Tiba di lantai tujuan, Luhan masih mengekor dengan susah payah menarik koper sekaligus rasa nyeri karena terlalu lama mengenakan hak tinggi. Sesekali Luhan akan hilang keseimbangan, tapi dia harus tetap berjalan untuk mengekor pada Sehun yang tiba-tiba berbalik dengan rautnya yang kesal.
"Apa kau sedang memata-mataiku?"
Luhan mundur selangkah. Ternyata wajah kesal Sehun sedikit menyeramkan. "Ti-tidak."
"Kalau begitu berhenti mengikuti dan kembalilah ke tempatmu sendiri."
"Eh, tunggu." Jaket Sehun di tarik sedikit, dia kembali mengintimidasi Luhan dengan tatapan kesalnya sekalipun ia tahu Luhan susah payah menjaga keseimbangan karena hak tinggi-nya yang melelahkan.
"Apa dan kenapa? Cepat katakan karena aku ingin cepat masuk lalu tidur."
"Em..sebenarnya.." Luhan menggigit bibirnya yang kemerahan, membuat Sehun semakin kesal karena wanita ini tidak praktis dengan apa yang akan ia katakan. "Aku..baru datang dari Korea."
"Lantas?"
"Ya..aku butuh tempat tinggal sementara saat di New York." Sehun makin mengerutkan dahinya, "Aku tinggal di tempatmu, ya? Kau sedang sendirian, kan? Aku tidak bisa menginap di hotel karena aku takut sesuatu yang buruk terjadi."
"Dan kau pikir aku peduli?"
"Tidak."
"Bagus, kau tahu jawabannya."
"Hei, ayolah, anak kecil."
"Apa kau bilang? A-anak kecil?" setengah tidak percaya, Sehun menganga dengan sebutan Luhan itu. Di lihat dari segi fisik saja Sehun jauh lebih tinggi dan berkembang, bagaimana bisa Luhan memanggilnya 'anak kecil'?
"Usiamu jauh di bawahku. Jadi kau tetap anak kecil."
"Pergi saja ke neraka!"
"Hei—A-AH!"
Bruk!
Sekali lagi Sehun menghela napas besar. Sisa hidupnya di New York seperti tak berjalan demikian lancar karena Luhan kini tersungkur di lantai dengan ujung hak-nya yang patah.
.
Aku memesankan sup untukmu. Makan saat kau sudah bangun. –baekhyun
Pesan itu menjadi yang pertama Chanyeol baca dibukaan matanya siang ini. Kepalanya masih memberat dan dia bukan lelaki tidak gentle yang melupakan seberapa banyak alkohol yang sudah ia tenggak.
Notes itu ada di atas nakas beserta semangkuk sup dan susu.
Sedikit meringankan kepalanya, Chanyeol berdiam diri sebentar dan perlahan menyadari keadaan sekitarnya.
Sepi. Tak ada satupun kehidupan selain dirinya dalam kamar hotel ini padahal ia tahu betul semalam Baekhyun menemani. Mungkin wanita itu pergi terlebih dahulu karena merasa takut Chanyeol akan melakukan penyiksaan batinnya.
Chanyeol berdecih untuk kemungkinan itu. Setidaknya dia memiliki sedikit kepuasan karena berhasil membuat Baekhyun ketakutan meski belum sepenuhnya membuat hidup wanita itu berantakan.
Dan makanan di atas nakas itu Chanyeol anggap sebagai sampah tak berarti. Dia tak pantas menyentuh apalagi merasa berhutang budi hanya karena semangkuk sup.
Chanyeol tidak sebodoh itu.
Hari-hari selanjutnya Chanyeol masing berkunjung ke bar dan mengawasi Baekhyun dalam tatap mematikan. Sesekali ia ingin ditemani untuk minum, tanpa ada alasan yang pasti ia ingin Baekhyun berada dalam jangkauannya dan tidak ingin orang lain menyentuh wanita itu.
Secara tidak langsung Chanyeol mematenkan hak atas Baekhyun. Dia mengunci Baekhyun sebagai masa lalu yang harus bertanggungjawab atas dendamnya hingga dia merasa puas dan terbayar lunas.
Tak diizinkan seorangpun bisa memperlakukan Baekhyun secara buruk kecuali Chanyeol.
Pernah suatu waktu Baekhyun tidak sengaja menumpahkan minuman pada seorang wanita. Satu layangan telapak panas hampir saja mengenai pipi Baekhyun, tapi secara sigap Chanyeol menarik Baekhyun menjauh dengan emosi berlipat ganda atas ketidaksukaannya pada perlakuan itu.
Sekali lagi, itu karena hanya Chanyeol yang boleh melukai Baekhyun.
"Kapan kau akan melepasku?" suatu ketika Baekhyun membisikkan hal itu pada Chanyeol yang sudah setengah hilang kesadaran. "Aku bahkan tidak melakukan sesuatu yang fatal, tapi kau memperlakukan seakan aku adalah tawanan yang hanya boleh di hukum oleh dirimu."
Kelicikan senyum dari bibir Chanyeol muncul.
Dagu Baekhyun akan ia tarik kasar, "Sampai kau merasakan bagaimana sakit yang ku derita selama ini."
"Kau bisa memukulku semaumu. Lakukan sampai kau merasa puas. Aku tidak akan melawan. Tapi setelah itu lepaskan aku."
"Tck! Pembual!"
Wajah Baekhyun basah seketika oleh sisa minuman beralkohol dari gelas Chanyeol. Bukan kali pertama, ini sudah seperti rutinitas yang harus Chanyeol lakukan ketika Baekhyun membantah ucapannya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan padaku?" dia berkelakar halus, menahan perasaan tidak tahan dalam hati yang menjerit karena Chanyeol itu membingungkan. Caranya menyiksa terlalu bertele-tele sedang Baekhyun hanya wanita rapuh yang juga memiliki batas kesabaran.
Malam itu mereka berada dalam satu hotel dengan banyak botol alkohol. Chanyeol sudah menghabiskan banyak isi botol minuman beralkohol itu dengan Baekhyun yang duduk di sampingnya. Beruntung malam itu tak ada lagi perpecahan kaca ataupun botol, hanya saja Baekhyun harus puas sesekali menerima siraman minuman di wajahnya ketika Chanyeol mengingat dendam itu.
"Aku?" Chanyeol berdecih, meletakkan kasar gelasnya di atas meja dan mengunci Baekhyun dalam tatapan penuh api. Secara kasar dia mendorong Baekhyun terbujur di sofa, merangkak naik ke atas tubuh Baekhyun lalu meraup penuh bibir Baekhyun.
Dorongan penolakan bukannya tidak Baekhyun lakukan, tapi dia kalah telak dengan tenaga Chanyeol yang lebih kuat sehingga ciuman kasar itu terpaksa harus ia terima. Bukan hanya itu, Chanyeol mulai menyingkap pelapis atas tubuh Baekhyun. Tangannya meremas payudara itu layaknya perahan santan dengan tidak ada moral yang ditunjukkan.
"Sakit.."
Rintihan Baekhyun hanya dahak tak berharga. Seberapa keras dia meminta ini diakhiri, sekeras itu pula Chanyeol menyiksanya dalam paksaan-paksaan yang menyakiti hati Baekhyun.
Lalu ketika semua pelapis telah bercecer tak berbelas kasih dan Chanyeol menurunkan sedikit celana hingga kejantanan keras itu nampak, satu hujaman membuat Baekhyun merintih banyak-banyak dalam teriakannya.
"Bagaimana? Sakit, kah?"
Tangis Baekhyun luruh dan dia tak bisa berhenti terisak dengan caranya yang menyedihkan. Tidak tahu apalagi yang akan terjadi, Baekhyun hanya bisa menangisi hal ini dan tidak terlalu berharap ada belas kasih yang Chanyeol sematkan.
Kiranya Chanyeol akan menghujamnya dengan perlakuan yang lebih kasar, tapi lelaki itu justru mengambil tindakan di luar perkiraan dengan mengecup puncak kepala Baekhyun dan menghapus jejak air mata yang masih mengalir.
"Seperti ini yang ku rasakan dahulu. Kau bisa merasakannya? Seandainya kau tidak diam dan melapor pada siapapun yang kau temui, mungkin balasan kesakitan ini tak akan pernah sampai padamu."
Kembali Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun. Dia bangkit untuk menarik celananya dan melempar beberapa lembar uang tepat di depat wajah Baekhyun.
Kakinya terlalu ringan untuk melangkah pergi. Baekhyun ditinggal dalam kesakitan fisik juga hati pada semua itu dan rasa iba hanya bagian dari omong kosong di dunia ini.
.
"Mabuk lagi?"
Chanyeol menoleh pada kursi ruang keluarga dimana ibunya duduk di sana dengan tangan terlipat.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan hingga harus mabuk setiap malam?"
"Bukan hal yang penting."
Baru saja Chanyeol akan menaiki tangga menuju kamarnya, sang ibu lebih dulu berdiri dan menahan Chanyeol dalam satu gerakan.
"Tck?! Kau bermain dengan pelacur?" bekas lipstik di sekitar bibir Chanyeol menunjukkannya, "Kau tahu itu bukan perangai yang baik untuk pemimpin perusahaan sepertimu, nak."
"Selama perusahaan berjalan baik dan aku bisa mendatangkan banyak keuntungan, ku rasa tidak masalah aku bermain-main sebentar dengan pelacur."
"Kau akan bertunangan dengan Luhan." Nada ibunya mulai dingin, tapi Chanyeol tak begitu menghiraukan dan memilih berdecih tidak sopan saat perjodohan konyol itu terdengar lagi oleh telinganya. "Luhan itu wanita baik-baik. Ibu tidak ingin mengecewakan orangtua Luhan jika mereka tahu calon tunangan putrinya berkelakuan rendahan seperti ini!"
"Ibu bisa atur itu. Aku lelah, ingin tidur."
"Chanyeol!"
.
Siang mendengkang, saat itu Baekhyun memilih tetap berada di kamar dengan TV menyala sembari melihat tayangan random di pertengan hari. Matanya berada di televisi, tapi pikirannya melayang jauh entah kemana bersama satu benda kecil tipis panjang di tangannya.
Sudah lewat dua minggu dari lingkaran merah yang Baekhyun tandai di kalender. Keadaan fisiknya juga tak begitu menunjukkan hal baik selain mual saat pagi hari. Tubuhnya juga terasa lemas, tak ada kekuatan apa-apa yang bisa membuat Baekhyun untuk kembali bugar.
"Eonni," Kyungsoo datang dengan beberapa obat yang ia beli di apotik. Mengetahui Baekhyun dalam keadaan tidak baik, Kyungsoo bergegas membeli beberapa obat dan mengharap Baekhyun bisa kembali sehat. "Aku membawakan beberapa obat."
Tapi Baekhyun tak bereaksi. Dia diam seribu bahasa dengan air mata yang turun perlahan mengenai pipinya.
"K-kau menangis?"
Baekhyun mendongak. Kenyatannya mata Baekhyun lebih basah dari yang Kyungsoo lihat. Isak itu semakin parah ketika Kyungsoo melihat tangan Baekhyun menggenggam sebuah benda keramat dengan dua garis merah samar terlihat.
"I-ini a-apa.." Kyungsoo tergagap, dia tidak bodoh menyadari jika yang membuat Baekhyun meledak dalam tangis adalah benda untuk mengetahui kehamilan.
"Aku harus bagaimana, Soo?"
"S-siapa..s-siapa yang melakukannya?"
"A-apa yang harus ku lakukan, Soo?"
Alih-alih bertanya lebih lanjut, Kyungsoo segera memeluk Baekhyun dan turut pecah dalam sebuah tangis. Dia tak mengerti bagaimana derita terus membuntuti Baekhyun sampai sejauh ini.
.
Sudah hampir sepuluh hari Sehun harus mengerang frustasi karena makhluk kecil dan centil itu berkeliaran di sekitarnya. Seharusnya malam itu Sehun tak berbaik hati membawanya masuk ketika hak tinggi-nya patah. Sehun tidak pernah sebaik ini sebelumnya.
Dan kini dia harus merasakan akibatnya. Luhan tidak mau pergi dan melakukan banyak percobaan di dapur tentang resep yang ia temukan di internet.
"Bisa memegang pisau juga? Tidak takut tanganmu menjadi kasar?" cukup sarkastik yang terucap dari bibir Sehun setelah menenggak susu dari lemari es.
Luhan yang berdiri di belakang kompor hanya berdecih seadanya. "Cita-citaku menjadi seorang chef sexy." Dia lantas menggoyangkan pinggul seadanya yang disambut Sehun dengan adegan pura-pura muntah.
"Aku hanya menemukan daging cincang dan saus bolognese instan di lemari es. Dan beruntung aku juga menemukan sekotak pasta siap rebus di bagian lain jadi pagi ini kau bisa sarapan dengan layak."
Tersaji dua piring di atas meja makan itu. Sehun sedikit mengernyit, meragukan Luhan yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya mengolah bahan makanan.
"Tenang. Tidak ada racun dan binatang yang sengaja ku masukkan. Aku pernah menjuarai kompetisi masak saat SMA dan sejak itu aku suka memasak."
"Suka saja bukan berarti kau ahli, Nona Lu."
"We'll see."
Luhan menjejalkan garpu di tangan Sehun dan memintanya untuk mencicipi dengan gerak mata. Luhan yang sudah kembali duduk di seberang Sehun mulai mengagumi cita rasa masakannya sendiri, membuat Sehun tak ayal juga penasaran apa benar makhluk sok cantik ini pandai mengolah makanan yang layak atau justru membuat sebuah inovasi rasa baru yang bisa membuat Sehun muntah.
"Try it." Kata Luhan.
Ragu-ragu Sehun memasukkan makanan itu. Sekali waktu dia mengernyit, jika rasanya benar tidak beraturan, dia akan menghardik Luhan habis-habisan.
"Eum?" Matanya sedikit membola. Rasa gurih mengenai lidah Sehun dan membuatnya tak berhenti mengunyah hingga ia melihat Luhan tertawa penuh kepuasan di seberang meja.
"I just see you really falling in love with my pasta." Luhan lantas beranjak dari tempatnya untuk mengusak rambut Sehun dan berlalu menuju ke kamar.
"Hey, habiskan makananmu, Nona Lu."
"Aku sudah kenyang. Kau saja yang menghabiskan. Lagipula aku harus mandi lalu bersiap-siap."
"Kau akan pergi?" Sehun menoleh ke belakang, melihat Luhan mengedipkan sebelah mata dengan senyumnya yang lebar.
"Yeah," Luhan mendekat, kembali mengusak puncak kepala Sehun. "Aku harus menemani anak kecil ini wisuda karena ibunya lebih mementingkan arisan daripada kelulusan anaknya."
"What?! K-kau.."
"Sorry, little bro. Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu semalam." Luhan lantas tertawa kecil sambil membentuk gestur peace dari jarinya. "Aku harus berpakaian apa?"
"Telanjang saja!"
"Ups! Anak kecil tidak boleh berkata seperti itu pada wanita yang lebih dewasa."
.
"Apa?!" sekeras-kerasnya Jongin memekik pada Baekhyun yang siang itu datang dengan surat pengunduran diri. "K-kau..berhenti bekerja? Ada apa, Baek?"
"Aku hanya lelah Jongin."
"Itu bukan sebuah alasan yang bisa diterima. Jika lelah, aku akan memberimu cuti."
"Tidak, Jongin. Aku lebih baik berhenti."
"Ada apa denganmu sebenarnya? Kemarin kau baik-baik saja tapi sekarang ingin berhenti."
"Apa susahnya mengabulkan pengunduran diri Baekhyun eonni ketika kau masih memiliki banyak karyawan!" Kyungsoo maju satu langkah. Lelaki tua yang selama ini selalu menggodanya itu seharusnya tidak terlalu keberatan mengabulkan pengunduran diri Baekhyun.
"Tidak semudah itu, manis." Dagu Kyungsoo digelitik kecil, tingkahnya yang seperti ahjussi pedofil membuat Kyungsoo ingin menampar dan menendangnya ke dasar laut.
"Apanya yang tidak mudah?"
Jongin menengadahkan kepala sejenak, menarik napas dalam lalu menghembuskan dengan air wajah berat mengatakan sesuatu yang ia jamin akan membuat Baekhyun tercengang.
"Kau ikut aku, Baek."
"Aku juga ikut!" Kyungsoo kembali menyela.
"Anak manis tunggu di sini saja. Aku akan segera kembali."
"Bagaimanapun juga aku akan ikut karena aku tidak percaya lelaki tua sepertimu tidak akan melakukan apa-apa pada Baekhyun eonni."
Andai Kyungsoo tidak manis, Jongin mungkin sudah membungkam mulut gadis itu dengan kaos kaki dan memecatnya detik ini juga. Tapi ini Kyungsoo, sebongkah gadis perawan yang Jongin kejar mati-matian selayaknya sebuah cinta yang harus diperjuangkan.
"Okay. Kau boleh ikut."
Jongin membawa mereka pada sebuah ruangan yang terselip di bar yang ia kelola.
Baekhyun dan Kyungsoo duduk dengan raut cemas. Batin mereka sama-sama mengatakan ada sesuatu penting yang harus Jongin katakan tapi tidak untuk di ruang publik.
Setelah kembali menghela napas besar beserta seraut air wajah tak tertebak, Jongin langsung memulai pada intinya.
"Sebenarnya kau sudah dijual, Baek."
Seperti sebuah tembakan dengan timah panas yang tepat mengenai sisi logis Baekhyun. Apa yang Jongin katakan membuatnya jaw-drop, degup jantungnya berlarian tak mengerti tempo hingga tubuh Baekhyun seketika lemah.
"Bukan aku yang melakukannya jika tatapan yang kau berikan itu tertuju padaku, manis." Jongin cepat-cepat membela dari tatapan Kyungsoo yang tajam, "Bos Besar. Bos Besar yang melakukannya. Aku tidak tahu atas dasar apa dia melakukan hal itu dan sejujurnya aku tidak setuju sampai kau yang menjadi sasarannya. Kau hanya karyawan penjajak minuman, tapi bos besar tak peduli siapa kedudukanmu ketika uang berbicara tentang kepuasan."
Baekhyun bahkan tak bisa menangis. Dia terdiam dengan kebingungan yang konstan.
"Bos besar memintaku untuk mengawasimu sampai perjanjian atas jual-beli sialan itu selesai. Aku tahu ini sulit, aku bahkan tidak menemukan cara agar kau bisa lepas."
"S-siapa pembeli itu, Jongin?"
Sekali lagi Jongin menarik napas dalam-dalam. Kesedihan Baekhyun mau tidak mau membuatnya berat tetapi Baekhyun juga butuh kejujuran.
"Kau ingat lelaki yang memintamu menyewa hotel?"
"Jangan katakan—"
"Ya. Dia."
.
Park Chanyeol.
Nama itu diam-diam mengukir kebencian pada diri Baekhyun hingga membuncah. Serpihan luka semakin tertabur pada tempat-tempat yang belum tergores hingga berdarah, membuat Baekhyun beralih menjadi sosok dingin yang tak terjamah.
Jika saja Jongin tak berkata taruhan dari semua itu adalah nasib karyawan di bar ini, Baekhyun dengan lantang menolak. Tapi dia tahu betul bos besarnya adalah penggila uang, jika perintahnya tak dilakukan dan uang itu tak bisa di dapatkan, akibat buruk bisa saja terpukul rata pada semua karyawannya.
Dan malam itu Baekhyun kembali menjumpai Chanyeol duduk dekat bartender. Kontak mata sudah terjalin dan tanpa keraguan Baekhyun mendekat dengan sebotol minuman beralkohol yang ia bawa.
Baekhyun menuangkannya. Bersama keangkuhan yang terukir di wajahnya, Baekhyun duduk di samping Chanyeol tanpa sepatah kata.
"Aku belum menyuruhmu datang."
"Setelah ini aku akan menghampirimu terlebih dahulu. Aku harus patuh pada seseorang yang sudah membeliku."
Terkejut sedikit dari ucapan itu, Chanyeol lantas tertawa bangga atas pernyataan Baekhyun.
"Tidak ku sangka kau sebaik itu untuk datang pada Tuan-mu." Satu teguk lolos memasuki kerongkongan Chanyeol. "Tapi kau tahu, kan? Aku tidak suka minum di keramaian."
Tanpa banyak ba-bi-bu, Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk keluar dari bar dan menuju hotel yang belakangan menjadi saksi keberadaan mereka.
Pintu di tutup secara kasar. Jika awalnya Baekhyun yang di pojokkan ketika pintu tertutup, kali ini situasi berbalik.
Chanyeol terpojok tepat di pintu. Wanita itu susah payah berjinjit, meraih penuh sebuah bibir tebal beraroma alkohol untuk ia kulum kasar tanpa ada sepatah kata. Matanya terpejam, sekalipun ini terasa amatir tapi Baekhyun tetap melakukan dan Chanyeol tak menunggu waktu lama untuk membalas.
Mereka berada dalam peraduan ciuman yang saling memburu, sama-sama memperebutkan tempat dominan sekalipun sesekali harus menggigit salah satu pihak untuk mengambil alih kuasa.
Terengah setelah ciuman kasar itu dilakukan, Baekhyun mendorong Chanyeol ke kamar mandi dan membawanya pada bath-tub yang masih kering.
Baekhyun terlalu cepat, Chanyeol mati-matian mengimbangi tapi sepertinya setan sedang merasuki wanita itu. Mengambil duduk di atas perut Chanyeol, Baekhyun lantas membuka pelapis atas tubuhnya dan meraup Chanyeol pada ciuman yang lebih kasar beserta satu gigitan di bibir bawah hingga rasa anyir sedang merambat di bibir Chanyeol.
Tombol air itu Baekhyun tekan, seketika hujanan air dari shower membuat kedua tubuh manusia itu basah dan Baekhyun tak lagi peduli tentang keadaan ketika bibir Chanyeol kembali ia kunci dalam mulut. Lidahnya menyepak, giginya mengerat di dalam sana dan turut merasakan bagaimana darah di bibir Chanyeol ia telan.
Merasa keadaan ini tak terkontrol, Chanyeol menjauhkan tubuh Baekhyun dan mengapit dagu wanita itu secara kasar. Kemarahan tiba-tiba melingkup. Baekhyun yang liar bukanlah Baekhyun yang Chanyeol inginkan. Dia menginginkan Baekhyun yang pasrah, Baekhyun yang akan merintih ketika Chanyeol melecehkannya sampai derai air mata itu keluar dan membuat Chanyeol puas.
Seketika keadaan Chanyeol balik. Baekhyun di dorong untuk terbujur di atas bathtub sedang Chanyeol merangkak dengan ganas di atasnya. Dominasi ciuman kini sepenuhnya Chanyeol kuasai. Lumatan kasar serta remasan pada payudara Baekhyun menjadi pengiring yang menaikkan libido Chanyeol sebagai seorang laki-laki.
Tubuh keduanya sudah basah. Air dan keringat bercampur pada pergumulan yang tak jelas apa tujuannya itu.
Lalu ketika Chanyeol hendak menarik sisa pelapis bawah tubuh Baekhyun dan akan menghunusnya dengan kelelakian yang sudah mengeras sepenuhnya, Baekhyun mendorong kuat tubuh Chanyeol untuk menggeleng banyak-banyak.
"C'mon, dear. Kau yang memulai jadi aku tidak memberi penolakan di sini."
"J-jangan.. tolong maafkan aku dan jangan menyetubuhiku."
"Aku membayarmu mahal tapi tidak untuk disetubuhi? Tck! Otakmu benar-benar tak berfungsi dengan benar!"
Chanyeol akan melakukan pemaksaan tapi Baekhyun kembali mendorong sekuat tenaga.
"Fuck! What the hell are you doing?!?"
Alih-alih menjawab, Baekhyun justru menangis.
Chanyeol menemukan kembali kelemahan diri Baekhyun. Dia suka saat Baekhyun tak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
"Jangan setubuhi aku. Ku mohon, Tuan."
"Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa melakukan itu padamu?!"
"Aku.." isak itu semakin lolos. "...hamil."
.
TBC
Basyud : finally ter-update juga FF ini hehe.. selamat membaca dan maaf kalau banyak kurangnya. Percayalah aku sudah mencurahkan ketulusan dalam tulisan ini dan semoga kalian merasa terhibur hehe..
Btw, Cold Water update bareng kesayanganku si Incesswati CHANBAEXO. Hoho.. kita lagi perang sama WB makanya lagi getol-getolnya maksa nulis biar WB sepenuhnya ilang.
Last, selamat membaca dan sampai jumpa di chap selanjutnya.
Salam CHANBAEK REALLY REALLY REEAAAALLLLLLLL
