.
.
A Warrior's True Love
CHAPTER 2
Pair NaruHina
Romance, drama, sedikit nuansa politik hehehe.
aku dedikasikan kepada NaruHina yang sudah menjadi Canon. Aku ingin membuat kisah cinta mereka lain dari biasanya.
.
.
Ternyata tebakan kalian banyak yang benar, benar sekali tokoh politik yang aku idolain selama pilpres adalah bapak Prabowo Subianto tercinta. Aku baca di Internet tentang kisah cinta beliau begitu mengharu biru. Entah setan darimana aku mempunyai ide mengangkat kisah beliau versi fanfic NaruHina. Tentunya sifat Naruto tidak persis dengan sifat pak Prabowo. Saya menggambarkan Karakter Naruto jenius, wibawa, tegas namun begitu percaya diri serta konyol.
Lalu masalah Perdana menteri dan Presiden. Saya tahu kepala pemerintahan di Jepang itu adalah perdana menteri dan kepala negara adalah kaisar/raja. Namun kadang saya berpikir membuat cerita tidak harus sama persis dengan yang sesungguhnya. Contoh K-drama Heart 2 King sebenarnya di Korea baik kepala negara dan kepala pemerintahannya itu adalah Presiden dan perdana menteri tapi di Film itu sebaliknya. Terima kasih atas sarannya heheh.
Lalu untuk waktu, awalnya aku ingin membuat FF ini di masa sekarang tapi setelah pertimbangan yang sangat matang, Tahun di cerita ini sesuai dengan tahun kisah hidup beliau. Dan untuk harga susu dalam yen, maaf aku salah dan aku ralat. Oh ya ada bahasa jerman disana, itu bahasanya salah, maklum google translete hehe.
INGAT INI TIDAK SEMUANYA NYATA DAN UNTUK YANG TIDAK MENYUKAI BELIAU JANGAN KASIH FLAME DISINI.
(HAPPY READING )
.
Jepang, tahun 1969
Pikiran Naruto semakin kalut dan terjebak dalam situasi yang tak mengenakan. Ia mencoba berpikir, mungkin saja dua pria berjas itu adalah seorang penjahat yang berusaha menculik gadis ini. Kalau begitu ia harus menolongnya, Naruto semakin mempercepat laju sepedanya. Ia melewati beberapa gang sempit dan tembus menuju gang besar komplek perumahan. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk mengecek apakah pria-pria berjas itu masih mengejar. Alhasil, dua orang berjas itu tak mau kalah. Naruto tak menyangka, mereka akan segigih ini. Menuju persimpangan pertigaan jalan raya, sepeda Naruto tiba-tiba dihadang oleh sebuah mobil berwarna hitam. Dari dalam mobil itu keluarlah dua sosok wanita lengkap dengan jasnya. Naruto dan gadis itu tak berkutik. Posisinya terjepit, baik depan maupun belakang ia di hadang oleh empat orang berjas baik laki-laki maupun perempuan. Dua orang pria berjas yang mengejar mereka tampak kepayahan.
"Nona Hinata, saya mohon jangan melarikan diri lagi. Anda harus segera masuk Sekolah. Kelasnya akan masuk tiga puluh menit lagi. Aku mohon," rayu salah seorang wanita.
"Aku akan pergi Sekolah tapi tidak dengan kalian!" tukas Hinata. "Aku ingin bebas tanpa mendapat pengawalan dari kalian. Aku sudah besar jadi aku bisa jaga diri," protesnya. Naruto sekarang tahu kalau orang-orang berjas ini adalah pengawal dari gadis yang bernama Hinata. Tahu begitu, dia tidak perlu berusaha melindungi dia.
"Saya tahu nona, tapi ini sudah menjadi tugas kami untuk selalu mengawal anda. Keselamatan anda bisa terancam dimana pun dan kapan pun," jelas salah seorang pria berjas berperawakan gemuk.
"Baiklah, aku akan pergi Sekolah tapi dengan pria ini," tunjuk Hinata ke arah Naruto. Pria bermata safir itu tampak bingung.
"Aku?" tanya Naruto heran sambil menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Iya kau memangnya siapa lagi? Aku ingin bersepeda dengannya menuju sekolah. Kalian boleh mengawalku dari belakang tapi sedikit menjauh. Apa kalian mengerti?" ujar Hinata.
"Iya Nona, kami mengerti," jawab pengawal perempuan. "Ayo jalan."
Lagi-lagi bodohnya Naruto yang tek menolak keinginan gadis yang bernama Hinata. Ia bahkan terkesan membiarkan dan menuruti apa perintahnya. Naruto mulai mengayuh sepedanya dengan santai, angin sepoi-sepoi menyentuh pori-pori kulitnya. Udara terasa sejuk, karena sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Hinata merentangkan kedua tangannya, matanya terpejam menikmati angin yang menyentuh wajahnya. Gadis itu bersenandung ria. Naruto tersenyum kecil karena baru kali ini dia melihat seorang gadis yang berperilaku aneh seperti Hinata.
"Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Hinata tiba-tiba.
"Kau bertanya padaku?" tanya Naruto bingung.
"Tentu saja aku bertanya padamu, kau pikir aku bertanya pada hantu."
"Namaku Naruto, Namikaze Naruto," jawab Naruto singkat.
"Namikaze? Sepertinya nama itu tidak asing ditelingaku."
"Benarkah, lalu, siapa namamu?" tanya Naruto penasaran.
"Bukankah kau sudah mendengar sebelumnya saat pengawal memanggilku."
"Ahh aku ingat, namamu Hinata kan? Lalu nama margamu?"
"lebih baik kau tak perlu tahu," ucap Hinata sembari membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Naruto heran.
"Jika aku mengatakannya padamu, aku khawatir kau tidak seperti ini. Aku yakin kau akan terlalu menghormatiku, terlalu sopan denganku, terlalu baik padaku dan hal-hal yang kau lakukan itu karena ketakutanmu padaku," jelas Hinata panjang lebar.
"Kau keluarga Yakuza?" ujar Naruto tanpa berpikir panjang.
"Lebih dari itu, kau tidak perlu tahu. Cepat sedikit," perintah Hinata.
Naruto terus mengayuh sepeda tua ayahnya, untunglah dia hafal jalan di Kota Tokyo. Banyak sekali hal-hal yang dibicarakan oleh mereka selama perjalanan. Satu hal yang Naruto tahu, Hinata Sekolah di SMA Negeri Tokyo. Dua puluh menit kemudian, sampailah mereka di sekolah Hinata. Hinata turun dari sepeda Naruto, ia menguncapkan banyak terima kasih padanya karena sudah mengantarnya sejauh ini. Saat Hinata memasuki halaman sekolah, ia kembali di ikuti oleh empat pengawalnya. Hal ini membuat Hinata naik darah.
"Kalian menjauhlah dariku!" bentak Hinata.
ooOOoo
Sang surya perlahan bergerak di ufuk barat. Sinar matahari mulai enggan memamerkan kekuatannya. Detak jam dinding kuno terdengar di aula perpusatakaan yang ada di rumah dinas Minato. Jam yang terukir dari kayu itu merupakan satu-satunya benda mati yang bisa mengeluarkan suara. Sunyi dan sepi, seperti itulah keadaan rumah dinas ayahnya. Para pelayan juga sibuk dengan pekerjaan sendiri. Untunglah, pria berambut pirang itu tak merasa takut dengan kesunyian yang ia alami. Perasaan takut seperti itu akan sirna jika ia sudah fokus membaca sebuah buku. Bukan novel ataupun buku pujangga cinta namun buku yang sering Naruto baca adalah buku-buku tentang sejarah dunia, geopolitik dunia, hubungan multilateral serta beberapa biografi tokoh-tokoh politik dunia. Buku adalah makanan Naruto sehari-hari. Beberapa hari terakhir ini ia sangat tertarik membaca biografi salah satu tokoh kulit hitam yang begitu terkenal di dunia yaitu Nelson Mandela.
Nelson Mandela adalah tokoh politik asal Afrika Selatan yang menentang keras penerapan politik Apartheid di Afrika. Apartheid adalah sebuah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan dari sekitar awal abad ke-20 hingga tahun 1990. Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Dari balik pintu muncul sosok pria separuh baya yang tak lain adalah Minato.
"Sudah aku duga kau pasti disini. Kau ini memang gila membaca," ujar Minato.
"Buku itu jendela dunia ayah," jawab Naruto singkat sambil terus membaca buku biografi Nelson Mandela.
"Ayah tahu, kau begitu tertarik dengan politik?"
"Iya dengan politik aku ingin mensejahterakan rakyat dan meningkatkan ekonomi bangsa ini. Dengan politik bangsa ini memiliki kesempatan menjadi bangsa yang besar. Aku yakin itu ayah," tukas Naruto. Minato tersenyum dan mengacak-acak rambut putranya dengan penuh kasih sayang.
"Politik itu memang bisa membuat kita menguasai sebuah negara bahkan dunia. Namun terkadang politik itu kejam bahkan bisa mengakibatkan pertumpahan darah. Ayah yakin di dunia ini masih ada politik yang baik, politik yang santun. Jika kau ingin terjun ke dunia politik, berpolitiklah yang baik, yang lurus, yang lebih mementingkan rakyat daripada kelompok ataupun kepentinganmu sendiri. Walaupun disekelilingmu dipenuhi oleh politikus busuk, tapi yakinlah bahwa politik itu harus damai dan mementingkan kepentingan rakyat. Apa kau mengerti?"
"Aku mengerti ayah," ucap Naruto dengan senyuman manisnya.
"Kalau begitu, cepatlah mandi. Satu jam lagi kita harus menghadiri acara ulang tahun putriPresiden Hiashi. Ingat, jangan pakai jas lamamu yang sudah kumal. Ayah sudah membelikanmu yang baru. Kau harus terlihat tampan."
"Iya aku mengerti. Aku tidak akan membuat ayah malu."
ooOOoo
Tepat pukul tiga sore, Minato dan Naruto sudah tiba di Istana kediaman Presiden Hiashi. Banyak sekali undangan yang hadir baik baik pejabat negara maupun para duta besar. Tentunya semua menteri yang tergabung dalam kabinet juga hadir. Undangan ulang tahun ini sangat tertutup dan sederhana untuk seukuran pejabat negara apalagi presiden. Karpet merah tergelar rapi dari teras depan istana. Di setiap sisi karpet terdapat rangkaian bunga dalam pot yang begitu cantik. Naruto menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang merupakan anak dari para pejabat negara. Mereka terpesona oleh ketampanan Naruto. Naruto sadar dia menjadi pusat perhatian para gadis tapi dia tak peduli.
"Ayah sudah tahu, hal seperti ini akan terjadi setiap kali kau ku ajak ke acara resmi. Gadis-gadis itu seleranya memang tinggi," gerutu Minato.
Naruto terkekeh mendengar omongan ayahnya yang ngelantur. Mata Minato terpaku ke sebuah arah, disana sudah berdiri Presiden Hiashi beserta istri dan putrinya yang membelakangi mereka.
"Ayo Naruto kita kesana. Akan aku kenalkan kau dengan Presiden negara ini." Entah kenapa Naruto sedikit gugup saat akan bertemu dengan presiden. Bagaimanapun ia tak boleh membuat kesalahan dan harus menjaga sikap. "Presiden Hashi," panggil Minato beserta anak dan istrinya menoleh ke arah Minato.
Saat itu juga Naruto melihat seorang gadis yang pernah ia temui sebelumnya. Ia tertegun sesaat, "Kau tidak perlu tahu, Jika aku mengatakannya padamu, aku khawatir kau tidak seperti ini. Aku yakin kau akan terlalu menghormatiku, terlalu sopan denganku, terlalu baik padaku dan hal-hal yang kau lakukan itu karena ketakutanmu padaku." Sekarang ia paham maksud dari gadis itu, ia memang bukan kelurga Yakuza tapi keluarga presiden. Hebat sekali. Tak hanya Naruto yang tampak shock, Hinata juga merasakan hal yang sama. Bahkan ekspresinya terlalu berlebihan. Hinata kala itu terlihat cantik, gadis itu berbalut gaun panjang berwarna putih.
"Ahh, Namikaze Minato. Senang sekali kau akhirnya datang di acara sederhana ini," ucap Hiashi basa-basi.
"Tak ada alasan bagiku untuk tidak datang di acara ulang tahun putri anda pak," ucap Minato ramah. Hiashi tersenyum, pandangannya tiba-tiba beralih menuju sosok Naruto yang berdiri tepat disamping Minato.
"Apa dia putramu?" tanya Hiashi penasaran.
"Benar sekali, ini adalah putra saya," jawab Minato. Naruto mgulurkan tangannya kepada Hiashi tanpa ragu. Namun sebelum itu ia membungkuk sembilan puluh derajat sebagai tanda hormat.
"Kenalkan nama saya Namikaze Naruto, senang bisa bertemu dengan Presiden Hiashi. Saya sangat menyukai ketegasan anda melawan negara asing yang semena-mena kepada negeri ini," puji Naruto.
"Terima kasih atas pujianmu, menjadi pemimpin memang harus tegas. Aku dengar dari ayahmu kau menguasai empat bahasa asing, benar kah? Bahasa apa saja?"
"Benar, bahasa asing itu penting dan bermanfaat. Saya merasakan sendiri, manfaat dari menguasai bahasa asing. Selain bahasa Jepang, saya bisa berbahasa Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman. Dengan menguasai bahasa mereka, saya bisa belajar dari sejarah mereka. Saya dan negara ini juga jadi tidak bisa ditipu oleh mereka (kalimat ini dikutip dari akun Facebook tokoh politik idola saya)." Hiashi, Hinata dan Ibunya tercengang mendengar jawaban Naruto yang begitu menakjubkan.
"Hebat sekali," ucap Hinata tanpa sadar. Ia segera menutup mulutnya. Hiashi tersenyum bangga melihat salah satu anak bangsa yang cemerlang yang dimiliki negeri ini. Hiashi yakin Naruto pasti akan menjadi orang besar nanti.
"Minato, aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti putramu akan menjadi orang besar bahkan orang yang penting di Negeri ini." Minato tersenyum dan membungkuk mendengar pujian dari Hiashi. "Oh ya Naruto apa kau sudah kenal dengan putriku?"
Naruto memandang Hinata sejenak. Gadis itu berkedip beberapa kali ke arahnya, kepalanya sedikit menggeleng. Naruto memiringkan sedikit kepalanya, ia tak paham maksud Hinata. Gadis itu tampak frustasi, ia mengibas-ngibaskan tangan tepat didepan wajahnya. Seperti seseorang yang kepanasan. Ahh, sekarang Naruto mengerti maksud Hinata.
"Saya belum pernah bertemu dengan putri anda sebelumnya," jawab Naruto. Kelegaan terpancar jelas di wajah Hinata. Ia kembali mengulurkan tangannya kepada Hinata. "Kenalkan nama saya Namikaze Naruto, senang bisa bertemu dengan anda," ucapnya ramah. Hinata membalas jabatan tangan Naruto begitu ramah.
"Namaku Hyuga Hinata, aku juga senang bertemu denganmu."
"Minato, Naruto ayo kita duduk disana," ajak Hiashi kepada Minato.
Naruto hanya mengaguk, sedangkan Minato ikut kemana Hiashi pergi. Hinata juga tak bergeming, ia memandag Naruto dengan tatapan tak mengenakan. Gadis itu mendekati Naruto dan berbisik.
"Jadi kau anak menteri koordinator perekonomian?" tanya Hinata tak percaya. Naruto mengangguk cepat.
"Aku tak menyangka kau adalah putri presiden," ucap Naruto enteng.
"Asshhh kecilkan suaramu, dengar Naruto-san. Jangan pernah bilang pada ayah kalau kau bertemu denganku di jalan saat aku melarikan diri. Jika ayah tahu, dia pasti akan membunuhku," rayu Hinata.
"Apa presiden segalak itu sehingga tega membunuh anak sendiri?"
"Tentu saja tidak, itu hanya sebuah majas hiperbola. Kau terlihat jenius tapi terkadang juga terlihat bodoh," ledek Hinata.
"Ich bin nicht dumm , aber Sie," ucap Naruto lalu pergi begitu saja meninggalkan Hinata. (Bukan aku yang bodoh tapi kau).
"Ehh apa yang kau katakan tadi? Kenapa kau mengatakan bahasa yang tidak aku mengerti. Mentang-mentang kau jenius! Lihat, suatu saat nanti aku akan menguasai sepuluh bahasa."
oooOOOoo
Acara ulang tahun Hinata berjalan dengan lancar. Semua undangan menikmati sajian yang disajikan oleh koki istana. Mereka menyantap makanan dengan penuh suka cita. Disaat semua orang sibuk bersantai, Naruto asyik mengunjungi museum kecil yang berada di dalam museum banyak sekali terdapat barang-barang militer dari dulu sampai sekarang. Naruto terpaku, entah kenapa rasa nasionalisnya mendidih setiap kali melihat seragam militer. Perjuangan para pasukan militer memang tak bisa di pandang sebelah mata. Mereka adalah gerbang pertama suatu negara.
"Sedang apa kau disini?" tanya seorang gadis secara tiba-tiba. Saat
Naruto menoleh, disana ia melihat Hinata dengan dua gadis pribumi dan satu gadis eropa. Tiga gadis itu mendorong maju Hinata agar lebih dekat dengan Naruto. Pria bermata safir itu sedikit tak mengerti. Kenapa empat gadis ini terlihat aneh?
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Ah...itu...aku..ehm...mereka," Hinata sedikit gagap karena ia merasa sangat malu dan bodohnya lagi dia menuruti keinginan konyol tiga sahabatnya. "Temanku ingin berfoto denganmu," ucap Hinata cepat-cepat.
"Apa berfoto denganku? Kenapa?" tanya Naruto bingung.
"Ahh sudahlah, kau hanya perlu diam disana. Aku akan mulai mefoto kalian," protes Hinata.
Naruto tak bisa mengelak bahkan ia tak paham kenapa para gadis ini ingin berfoto dengannya. Lagi-lagi dan lagi Naruto menuruti begitu saja perintah gadis ini. Apa karena Hinata anak dari presiden maka aura sang ayah melekat didirinya sehingga orang-orang tak bisa mengelak dari apa yang gadis ini perintahkan. Naruto befikir setelah foto bersama semua akan selesai, tapi ternyata tidak. Mereka masih ingin berfoto berdua ada yang memeluknya, menempelkan pipinya di bahu Naruto baklan menggandeng tangan Naruto. Ingin sekali ia menolak tapi ia tak enak hati, takut merasa sakit hati dengan sikapnya. Setelah puas berfoto dengan Naruto gadis itu pergi meninggalkan Naruto dan Hinata sendirian.
"Sebenarnya kenapa mereka?"tanya Naruto pada Hinata.
"Menurut mereka, kau sangat tampan jadi mereka ingin berfoto denganmu," jelas Hinata dengan nada malas. Naruto hanya tersenyum kecil mendengar penjelasan Hinata.
"Nona Hinata dan Tuan Naruto, kalian berdua di panggil Presiden Hiashi," ucap salah satu pengawal yang setia menjaga dan melindungi Hinata.
"Ada apa ayah memanggil kami?" tanya Hinata.
"Saya tidak tahu Nona, lebih baik cepatlah kesana."
ooOOoo
Hinata dan Naruto berada disebuah ruangan yang berukuran enam kali enam meter. Seluruh ruangan bercat putih, terdapat dua bendera Jepang yang mengapit sebuah meja ukiran yang terbuat dari daun jati. Di dinding belakang terdapat dua foto presiden dan lambang negara Jepang di tengah-tengahnya. Di ruang kerja Hiashi sudah ada Minato, Hiashi, ibu Hinata dan seorang panglima prajurit. Baik Hinata maupun Naruto tak mengerti kenapa begitu banyak orang disini. Hiashi mempersilahkan dua anak muda itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Sesekali Naruto dan Hinata saling pandang.
"Apa kau tahu, kenapa aku memanggilmu Naruto?"
"Maaf Presiden saya tidak tahu."Mata Naruto melirik Minato, sayangnya sang ayah tak melihat ke arahnya.
"Naruto, kau adalah pemuda yang gagah, jenius,tegas dan berwibawa. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan menjadi pemimpin di negeri ini. Untuk itu aku ingin kau selalu ada disamping Hinata," ucap Hiashi. Minato menghela nafas panjang, ia memejamkan mata seakan tidak mau mendengar apa yang Hiashi katakan.
"Maaf Presiden Hiashi, apa maksud anda?" tanya Naruto tak mengerti.
"Aku ingin kau menjadi suami Hinata suatu saat nanti, Naruto," ujar Hiashi tampak serius.
"Apa?!" teriak mereka berdua.
TO BE CONTINUE
Heemm sebenarnya pak Prabowo dan Bu titiek itu menikah juga karena di jodohkan oleh Jendral LB. Moerdani kala itu. Tapi dicerita ini aku balik, Presiden sendiri yang menjodohkan mereka.
