BOYS

By : Pie Apel

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T (Friendship, General)

Fiksi ringan bercerita tentang kehidupan empat remaja bernama Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Shimura Sai, dan Nara Shikamaru.

Chapter 2 – Perasaan Kami Terhadap Seorang Gadis?

WARNING: AU, TYPO, OOC, no yaoi, dll.

.


.

Uchiha's Room – 03.00 p.m.

Panas dan menyengat. Merupakan perpaduan dua kata yang menggambarkan cuaca di siang hari ini di akhir musim semi. Sepoci jus jeruk dingin atau menyantap es serut dengan topping stroberi dan jeruk tentunya menjadi momen yang tepat untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan dahaga. Namun, tidak bagi mereka berempat. Alih-alih meminum jus jeruk dingin atau menyantap es serut, keempatnya hanya menyantap potongan-potongan semangka manis. Meski begitu, lumayan menyegarkan dahaga keempat pemuda itu selepas pulang sekolah.

"Teme," Uzumaki Naruto menoleh dan menatap kesal pada pemuda yang saat ini sedang membaca salah satu komik shounen yang cukup laris di Jepang. "Tidak bisakah kipas anginnya ditambah lagi kecepatannya? Gerah sekali ttebayo!" Naruto menggerakkan kerah seragam yang ia pakai guna angin dapat masuk ke balik seragamnya.

"Hn?" Uchiha Sasuke yang dipanggil 'Teme' tersebut, melirik sekilas ke arah pemuda yang sibuk melihat ponsel di sudut ruangan, "Sai, tambah kecepatan kipas anginnya!" Perintah Sasuke.

Shimura Sai tak menjawab. Pemuda tersebut lebih memilih untuk mengasyikkan diri dengan menonton online suatu trailer film action. "Shika, kau saja!" Dan melemparkan perintah Sasuke pada tunggal keluarga Nara yang sedang berbaring nyenyak di samping Sasuke.

"..."

Nara Shikamaru tidak menyahut.

Semua merasa tertegun karena tak mendapati suara Shikamaru. Naruto yang duduk di jendela balkon kamar Sasuke pun menoleh. Menepuk jidat pelan setelah mengetahui alasan Shikamaru tidak menjawab ucapan Sai.

"Sai, kau saja yang menambah kecepatannya! Kau tidak lihat Shikamaru sudah tidur nyenyak seperti itu?!" Naruto semakin geram dengan laki-laki social media addict tersebut.

"Benarkah?" Sai menekan tombol jeda pada ponselnya dan melirik tempat di mana Shikamaru berada. "Oh, kau benar."

"Memangnya kau nonton apa sih Sai sampai serius sekali?" Sasuke membalik halaman demi halaman komiknya.

"Trailer film Transformer 5." Sai kembali menyalakan videonya.

"Eh? Transformer 5 sudah ada trailernya?!" Sasuke langsung menatap Sai. Melupakan sejenak hobi baca komik kegemarannya.

"Dasar kalian ini. Yang satu gamer, yang satunya social media addict." Naruto sweatdrop melihat Sasuke dan Sai.

"Jangan begitu, Dobe. Toh nantinya kau juga akan minta salinan filmnya dariku setelah mengunduh film Transformer 5 yang bluray jika sudah rilis, bukan?!" Sasuke menatap sinis Naruto.

"Hehehe..." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "ya tentu saja nanti aku juga minta."

Sekarang ganti Sasuke dan Sai yang sweatdrop.

"Gerah sekali ttebayo!" Naruto merogoh sakunya dan mengambil sebuah sapu tangan dan mengelap butiran keringat yang menetes.

"Loh, Naruto. Sejak kapan kau mulai memakai sapu tangan?" Sai yang selesai dengan menonton video trailer di Youtube, kini menatap Naruto heran.

"Oh, ini," Naruto mengamati sekilas sapu tangannya, "ini pemberian dari Hinata-san siang tadi. Ia memberiku sapu tangan ini ketika hendak berganti pakaian setelah pelajaran olahraga." Naruto berganti menatap Sai.

"Eeeeeeh~"

Naruto menaikkan kedua alisnya, bingung menatap Sasuke dan Sai yang memberinya tatapan menggoda. "Kalian kenapa sih?"

"Ah, kau ini Naruto," celetuk Sai, "kau tidak tahu atau kau pura-pura tidak peka, hm?" Sai tersenyum penuh arti.

"Aku suka pertanyaan mengejekmu itu, Sai! Hoam!" Tepat sebelum Naruto menjawab, Shikamaru telah bangkit dari tidurnya dan menguap lebar.

"Kalian ini apa-apaan sih? Aku tidak mengerti deh!" Naruto semakin bingung.

"Dobe, kau tahu gadis gendut sewaktu kita SMP yang mengejarmu di tengah lapangan basket dulu?" Sasuke melirik Naruto sekilas.

"Em, Mamoko Nikijima maksudmu?" Naruto mencoba menebak.

"Ya, si tandon air itu. Nah, kau tidak merasakan persamaan Hyuuga Hinata dan si tandon air itu, hn?" Sasuke menyeringai.

"Hah?!" Naruto syok. "Hinata-san dan Mamoko jelas-jelas berbeda, Teme! Hinata-san itu cantik, baik hati, ramah dan pintar. Sedangkan si Momoko, er, iuuuh~" Naruto memasang mimik muka jijik.

"Tapi mereka memiliki kesamaan lho, Dobe!" Shikamaru mengucek mata, berharap kotoran di sudut mata tajamnya hilang.

"Masa kau tidak tahu sih Naruto?!" Sai berganti membuka sosial medianya, Line.

"Em," Naruto memangku dagu, berpikir. "Mereka sama-sama perempuan?" Ia kemudian menatap sahabat-sahabatnya.

"Hah!" Semuanya, kecuali Naruto, sweatdrop.

"Hinata-san itu suka padamu, bodoh!" Sai menggeleng kecil, merasa heran dengan Naruto yang tidak peka sama sekali.

"EH?!" Mendadak wajah Naruto memerah, "t-tidak mungkin H-Hinata-san suka p-padaku!" Naruto mencoba untuk membantah. Tetapi tidak menutupi rona merah yang terpampang jelas di wajah tampan pemuda penyuka olahraga basket tersebut.

"Hei Naruto, sekarang coba kau pikir baik-baik, gadis macam apa kalau tidak menyukaimu jika ia hampir setiap hari menyapamu dengan malu-malu bahkan rela terkena bola voli hanya untuk melihatmu bermain basket?" Shikamaru menguap, "jelas sekali ia menyukaimu, Naruto!"

"M-Mungkin ia hanya bersikap baik s-saja seperti Shion!" Tak ingin merasakan, namun Naruto tidak bisa mengelak perasaan hatinya yang mendadak senang dengan penuturan Shikamaru barusan.

"Kalau Shion itu memang selalu tebar pesona hampir kepada semua anak laki-laki di kelas, Naruto. Kau tidak bisa membedakan bagaimana perilaku gadis yang sedang jatuh cinta dengan gadis yang suka tebar pesona, ya?" Sai menggeleng kecil, tetapi mata hitamnya masih tertuju pada ponsel.

"Ah! Cuma perasaan kalian saja pastinya. K-kalau Hinata-san m-menyukaiku, harusnya dia bilang padaku dong!"

"Hei, Dobe," Sasuke menatapnya sekilas, "kau tau perbedaan puppy dan anak anjing?" Sasuke melontarkan pertanyaan.

"Memangnya apa?" Naruto justru balik bertanya.

"Tidak ada bedanya." Lanjut Sasuke.

"Kok begitu?!" Naruto mengernyitkan alis tidak terima.

"Ya itu karena kau terlalu 'dobe' sih!" Sasuke pun menyembunyikan wajahnya di balik komik yang ia baca.

"HAHAHAHA!"

Suara gelak tawa dari Sasuke, Sai dan Shikamaru, sukses membuat tunggal Uzumaki menekuk muka. Naruto hanya bisa berdecih pelan sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan berwarna soft purple, pemberian Hyuuga Hinata. Tak peduli dengan keadaan sahabat-sahabatnya yang mulai merasa kram akibat tertawa keras. Safirnya kemudian melirik ke arah Sasuke. Ia sebenarnya merasa lebih penasaran dengan Sasuke yang sedari tadi membaca komik tanpa mengalihkan pandangan menusuk khas miliknya. Selain itu, ia juga merasa heran. Yang Naruto ketahui, Sasuke adalah tipe anak laki-laki yang gemar bermain game. Ia pun beranjak dan mengambil duduk dan bersandar pada samping ranjang Sasuke.

"Kau baca apa sih? Kelihatannya seru sekali daripada CoCmu!"

"Hn, One P*nch Man." Sasuke masih tidak melepas pandangan dari komik.

"Eh, kau baru membacanya?! Bukankah kau sudah lama membeli komik itu?!" Naruto mengambil semangka dan mencomotnya.

"Aku belum sempat baca. Kemarin volume 1 sampai 10 dibawa Haruno."

"..."

Hening.

Penasaran, Sasuke menaruh komiknya. Ia pun memandangi kawan-kawannya yang memasang wajah aneh bercampur heran padanya. Sasuke pun memutar bola matanya. "Kenapa?"

"Kau mulai dekat dengan si Haruno Sakura, heh?" Shikamaru menyenggol pelan siku Sasuke.

"Biasa saja." Sedikit rona merah tersamarkan di kedua pipi tirusnya.

"Tapi aku penasaran, Haruno-san bisa meminjam komikmu. Setahuku, kalian hampir tidak pernah mengobrol di kelas." Sai mencolokkan charger milik Sasuke pada ponselnya.

"Benar juga! Aku jadi penasaran denganmu dan Haruno-san, Teme!" Naruto ikut antusias, berharap Sasuke akan bercerita pada mereka bertiga.

"Tidak ada apa-apa di antara kami. Yang kutahu hanya Haruno dan aku memiliki kesamaan. Kami menyukai komik shounen. Puas kalian?!" Sasuke berusaha menghindar dari kejaran sahabat-sahabatnya.

"Ooh~..." Sai dan Shikamaru berseru penuh arti. Lain halnya dengan Naruto yang hanya mengerjapkan mata berulang kali, berharap dapat paham dengan seruan Sai dan Shikamaru.

"Yah, ternyata aku baru mengetahui trik mendekati wanita ala Sasuke." Sai memasang cengiran lebar.

"Oh ya?!" Naruto tampak bersemangat, ia pun menoleh ke arah Sasuke. "Apa triknya Sasuke?!"

"Haduuh~ Narutoo~" Shikamaru mengusap muka, pertanda ia merasa kasihan pada pemuda yang terlampaui bodoh, menurutnya, itu.

"Trik apa?! Kau dibohongi Sai, Dobe! Aku tidak punya trik seperti itu!" Sasuke mendelik tajam pada Sai yang terkikik puas.

"Sudahlah Teme," Shikamaru lagi-lagi menatapnya penuh arti, "kau suka si Haruno, bukan? Aku akan mendukung perjuanganmu, kawan!"

Muka Sasuke merona. Dan sialnya, Naruto yang dikenal tidak peka dan telat berpikir, melihatnya. Naruto pun menutup mulutnya tidak percaya. Seringai pun memenuhi wajahnya.

"Ooh~, ternyata Teme menyukai Haruno-san. Sejak kapan, ne?!" Godanya.

"U-Urusai!" Sasuke yang kesal semakin mendekatkan komiknya ke arah wajah. Berusaha menutupi wajahnya yang merona.

Kini, ganti Sasuke yang mendapat balasan tawa renyah dari Naruto, Sai dan Shikamaru.

BIP BIP BIP

Terdengar bunyi ponsel yang cukup nyaring. Ketiga pemuda yang tertawa terpingkal-pingkal pun berusaha untuk menghentikan tawa mereka. Safir Naruto menangkap ponsel Shikamaru bergetar cukup lama. Ia pun mengambil ponsel tersebut dari atas nakas Sasuke. Ia melihat terdapat sebuah panggilan berasal dari 'Singa 3B'. Naruto mengernyitkan dahi.

"Shikamaru, kau mendapat telepon dari Singa 3B." Naruto menyerahkan ponsel Shikamaru.

Lelaki Nara itu langsung terperanjat mendengar nama 'Singa 3B'. Ia segera menyambar ponselnya.

"M-Moshi-mos–"

Belum sempat selesai dengan ucapannya, Shikamaru sekilas menjauhkan gagang ponsel dari telinganya. Ketiga pemuda di sana, menatap heran sang pemuda Nara anak pemilik toko herbal.

"Ha'i, ha'i, aku mengerti, Senpai. Ya, akan segera kubuat nanti dan besok akan kubawa ketika rapat. Apa?! Sekarang?! Baiklah! Baiklah!"

Shikamaru menutup sambungannya setelah bercakap lebih dari 10 menit. Selanjutnya, ia menghela napas dengan kasar.

"Kau kenapa Shika?" Sai meniup ponselnya sekilas, berharap suhu pada permukaan ponselnya menurun.

"Aku harus kembali ke sekolah sekarang juga." Shikamaru mulai merapikan seragamnya yang berantakan, dengan cepat ia meraih ransel hitam di sudut ruangan.

"Eh? Ada apa kau sampai kembali lagi?!" Naruto menatapnya heran.

"Biasa, perkumpulan seluruh ketua kelas. Sabaku-senpai mengadakan rapat darurat terkait dengan program kelas tambahan di liburan musim panas nanti. Aku pergi dulu. Jaa!"

Ketiganya belum mengucapkan sepatah kata pun ketika Shikamaru membuka dan menutup pintu kamar Sasuke dengan cepat. Suara derap kaki miliknya juga telah menghilang. Baru beberapa detik setelah kepergian Shikamaru, ketiganya saling pandang satu sama lain.

"Kasihan sekali Shika. Hampir setiap hari harus berurusan dengan Sabaku-senpai yang galak itu." Sai mengucap prihatin.

"Aku setuju denganmu. Kawan kita itu pasti akan kerepotan jika sudah berhadapan dengan Sabaku-senpai." Naruto mengangguk kecil.

"Tenang saja. Shika 'kan jenius. Ia pasti dapat mengatasinya." Sasuke menyahut disertai sekilas tangannya mengambil sepotong semangka terakhir.

"Tapi, sebenarnya aku merasa heran," Sai sedikit merasa malu ketika tangannya ia julurkan ke arah wadah semangka dan mendapati wadah itu kosong. Ia pun memberi deathglare sekilas pada Sasuke dan hanya dihadiahi seringai kecil si bungsu Uchiha. Berusaha mengabaikan, Sai melanjutkan ucapannya, "apa kalian tidak merasa aneh dengan Shika?"

"Aneh bagaimana Sai?" Naruto menatapnya bingung.

"Maksudku begini, setiap kali Shika mendapat panggilan baik langsung atau tidak dari Sabaku-senpai, ia pasti akan langsung patuh. Kalian ingat kejadian kemarin lusa?" Sai kembali bertanya.

"Kejadian apa?" Kali ini Sasuke menaruh komiknya sekilas dan mengikuti Naruto untuk menatap Sai.

"Ketika kita berjalan di koridor sekolah, Shika buru-buru menyembunyikan diri saat kita berpapasan dengan Sabaku-senpai. Aku yang mengetahui itu merasa heran, kalian tahu."

"Bukankah Shika kemarin mengatakan bahwa ia menghindari Sabaku-senpai karena belum menyelesaikan proposal mengenai kegiatan kelas tambahan?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Ia memang beralasan sepert itu, Teme. Tapi, kalian pasti tidak tahu wajah Shika berubah merah dan aku berani bertaruh melihat semburat kecil di kedua pipinya saat ia sedang bersembunyi. Sungguh! Shika terlihat seperti suka dengan Sabaku-senpai!" Sai melanjutkan ceritanya dengan antusias.

"Serius?!" Naruto mulai berbinar.

"Serius! Aku tidak berbohong pada kalian!" Sai mengucap dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda peace.

"Hhe~... Jadi begitu rupanya." Sasuke menyeringai sedikit.

"Apanya, Teme?" Naruto berganti menatap Sasuke.

"Shika menyukai Sabaku-senpai, Naruto. Kau begitu saja tidak tahu!" Sai berucap sewot.

"EH?!" Naruto memekik pelan.

"Padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa semua gadis dan wanita itu merepotkan, tetapi ia menaruh perasaan pada sosok kaum hawa. Dasar Shika..." Sasuke menggeleng kecil mengingat bagaimana dulu Shikamaru pernah berucap bahwa ia tidak suka wanita.

"Mungkin Shika terjerat pesona Sabaku-senpai yang aduhai itu, hahahaha!" Sai langsung tertawa.

Mendengar lontaran kalimat dari Sai barusan, mau tak mau membuat Naruto ikut terpingkal.

Line~!

Notifikasi pada ponsel Sai, memaksa ketiga remaja itu berhenti tertawa. Dilihatnya kini Sai sudah menyambar ponsel dan tersenyum kecil melihat layar ponselnya. Ia pasti mendapat pesan dari si Yamanaka, batin Naruto dan Sasuke bersamaan.

"Dobe, Teme, aku–"

"Yah, yah, kau pergilah temui putri Yamanaka-mu, Sai." Naruto mengibaskan jemarinya seolah mengusir Sai.

"Kok kalian tahu yang mengirim pesan itu Ino?!" Sai merasa heran.

"Melihatmu memasang wajah menjijikkan dan senyum-senyum sendiri seperti kerasukan, kami sudah tahu dengan pasti siapa yang baru saja mengirim pesan padamu, Sai. Kau itu mudah ditebak jika sudah berurusan dengan Yamanaka Ino." Naruto menjabarkan.

"Hn, benar sekali." Sasuke menyahuti asal. Ia telah kembali menyelami diri dengan melanjutkan membaca komik.

"Hehehe... Begitu ya?" Sai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mau bagaimana lagi, karena sudah pacaran, hari ini kami akan kencan–" Buru-buru Sai membekap mulutnya sendiri, merutuki mulutnya yang keceplosan.

Naruto langsung menoleh dengan cepat. Sasuke pun demikian.

"Kau pacaran dengan Yamanaka?!" Tanya kedua pemuda tersebut bersamaan.

Sai tak bisa berucap apa-apa. Hanya cengiran kecil dan rona merah tipis memenuhi kedua pipinya. Ia merona dan merasa cukup malu karena sahabatnya telah mengetahui rahasia yang ia kira telah aman ia simpan.

"Aku mau ramen!" Seru Naruto tiba-tiba. "Aku tidak peduli kau sedang tekor dengan isi dompetmu atau tidak, yang jelas aku meminta kau mentraktirku ramen miso jumbo di Ichiraku!"

"Mana bisa begitu?!" Sai berteriak tak terima.

"Tentu saja bisa!" Sasuke menyahut. "Aku mau O*e Piece dan Gi**tama volume terbaru yang akan rilis bulan depan," Sasuke memberi jeda, "Sa-chan!" Tawanya langsung meledak ketika ia mengucapkan panggilan kesayangan dari kakek Sai.

"GYAHAHAHA!" Sekali lagi, Naruto ikut terpingkal dengan panggilan 'Sa-chan'.

Sai hanya bisa menahan geram mendapat ejekan dari dua sahabatnya yang ia yakin otak mereka sedang bergeser.

"Sialan! Kalau meminta traktir yang wajar woi! Ramen di Ichiraku mahal, Dobe!" Ia pun berganti menatap Sasuke, "Bah, Jii-san bisa bangkrut Teme kalau kau meminta 2 komik sekaligus!"

"Ayolah Sai, kalau kau takut kakekmu bangkrut, kau bisa membeli komik-komik tadi dengan uang receh yang kau simpan di celengan D**aemon-mu, kekekeke!" Sasuke semakin gencar mengeluarkan kata-kata yang cukup hina untuk Sai.

"K-Kau, darimana kau tahu?!" Sai panik.

"Ayolah Sai, kami pernah berkunjung ke rumahmu dan menemukan celengan tersebut. Bukan bermaksud lancang, tapi celengan itu terbuka sendiri dan kami menemukan berbagai pilihan list barang yang akan kau berikan pada Yamanaka ketika kalian akan kencan!" Seru Naruto.

"B-Berarti kalian sudah tahu kalau aku berpacaran dengan Ino sudah lama?!" Sai semakin panik.

"Em, tidak, aku baru tahu sekarang. Hanya saja setelah melihat daftar-daftar tersebut dan mendengar ucapanmu barusan, aku menduga kalau kau sudah lama berpacaran dengannya." Naruto menggaruk kepalanya, yang memang gatal.

"Waktu itu aku belum pacaran! List yang kalian temukan adalah list yang aku buat untuk persiapan pertama kalinya aku kencan dengannya! Uh, kenapa kalian bisa sampai tahu." Sai mengusap wajahnya.

"Oh, jadi list itu untuk kencan dan saat itu kalian belum pacaran?" Sasuke bertanya, sebenarnya ia merasa penasaran dengan Sai yang sudah berkembang di masa mudanya dengan memiliki seorang kekasih.

"Belum lah!" Sai balas sewot. "Setelah kencan yang ketiga kalinya, baru aku berani menembak Ino." Sai menjelaskan.

"Hahaha! Sai benar-benar sudah laku ya."

"Padahal dulu dia merasa seperti jones, hahaha!" Sasuke menambahkan.

Sai yang sedang mengemasi barangnya pun menoleh dan melihat Naruto dan Sasuke tertawa kembali. Urat perempatan muncul di pelipisnya. Ia segera bangkit dari duduk dan menenteng tas selempang birunya. Berdecih pelan dan berkacak pinggang menghadap Naruto dan Sasuke.

"Itu dulu, Bro." Sai menyeringai meremehkan. "Sekarang, bukankah kalian yang harusnya mendapat titel jones saat ini, gyahahaha!"

Belum sempat Naruto protes dan menyeret Sai untuk ia himpit di bawah ketiak, laki-laki social media addict tersebut sudah kabur duluan meninggalkan Naruto dan Sasuke yang terlihat hendak menikamnya.

"Dasar cowok satu itu! Seenaknya saja mengatakan kita jones!" Naruto menggerutu dan memasang wajah garang.

"Tapi, kenapa kenyataan berkata lain, Dobe?"

"..."

"..."

"..."

"..."

"Jadi kita mungkin tergolong jones?" Naruto menatap Sasuke.

Dan sialnya untuk Naruto, Sasuke justru mengangguk kecil dengan mimik muka yang tak bisa dimengerti. Untuk sesaat, dua cowok yang tergolong tampan namun masih belum laku itu merasakan tusukan kasat mata pada daerah jantungnya. JLEB!

TBC –


Gomen bari bisa update sekarang. yang penasaran ini ada romancenya, Pie bakal jawab klo cerita ini pure isinya friendship. Kalo bikin yang yaoi, uh, itu, Pie masih belum siap mental.

Oke, silahkan memberikan review ya...