2. Chandelier

1.

Aku tersentak saat merasa ada seseorang yang menendang kakiku. Aku menggeram, lalu membalikkan tubuhku, memunggungi Jongin. Menguap dan kembali tidur.

Aku hanya bergumam tak jelas saat Jongin menendang kakiku lagi.

"Hp-mu bunyi,"

Aku mendesah gusar sambil berusaha menggapai Hp-ku di meja samping tempat tidurku.

13 pesan masuk.

7 panggilan masuk.

Semuanya dari memberku.

Untuk apa mereka menghubungiku? Maksudku, benar-benar niat sampai sebanyak ini. Apa ada yang penting? Atau mungkin terjadi sesuatu. Kuharap kami memenangkan suatu penghargaan. Saat ini berita baik benar-benar akan terasa seperti madu. Manis.

Aku segera menghubungi Suho dan pada dering pertama telponku langsung diangkat.

"Sehun?"

"Iya, ini aku. Apa ap-"

"Kau baik-baik saja?"

Punggungku terasa dingin. Ada yang tidak beres. Aku tahu dari nada bicara Suho yang terdengar buru-buru dan suara nafasnya yang terdengar bergemuruh ditelingaku.

"Aku baik-baik sa-"

"Jongin?"

Aku berpikir sejenak sambil melirik Jongin. Pelipis dan sudut bibirnya memar, pipinya juga memar dan terdapat luka goresan yang cukup karena aku memukulnya dengan cincin dijariku. Aku menghela nafas.

"Dia oke,"

Meskipun sedikit, aku yakin aku mendengar helaan nafas Suho. Maaf aku berbohong tapi aku tidak mau kupingku sakit gara-gara Suho ngomel-ngomel karena aku telah menghajar Jongin habis-habisan.

"Ingat Sehun," Aku tidak suka nada bicara Suho yang seperti ini. Membuat perasaanku tidak enak dan tegang. Dia jarang sekali bicara dengan nada itu. Pernah sekali ia bicara seperti itu padaku. Saat Baekhyun ketahuan menyimpan sebungkus rokok dikantung jaketnya dan dipukuli oleh manager kami. Saat itu dia datang menghampiriku, menepuk kepalaku dan berkata, "Hati-hati," Nada bicaranya pelan dan menuntut. Aku tidak suka itu. Karena setiap kali Suho menggunakan nada itu, pasti sesuatu yang buruk telah terjadi.

"Apa pun yang terjadi jangan keluar asrama. Tunggu petugas menjemput kalian, oke?"

Aku menelan ludaku karena seketika aku teringat Hanam, Daegu dan Bucheon. Tanganku terasa gemetar dan dingin. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi aku harap semua ini hanya mimpi buruk. Aku benci perang dan berharap tidak pernah terlibat didalamnya. Aku lebih suka melihat setan dilayar TV-ku daripada berita-berita tentang perang di berbagai negara. Perang itu kejahatan dunia dan ketidakadilan bagi manusia. Mungkin perang tidak lagi sebrutal dulu, tapi tetap saja memakan korban 'kan? Dalam perang, nyawa manusia seakan-akan seonggok upil yang bisa seenaknya dibuang. Maksudku, mereka pasti spesial bagi seseorang dan aku tidak pernah bisa membayangkan ayahku gugur saat perang. Beliau memang bukan tentara. Tapi jika konflik Utara dan Selatan terus berlangsung, aku takut tiba-tiba seluruh pemuda dipaksa terjun dalam perang. Aku selalu berpikir seperti itu setiap mengingat atau melihat hal apa pun yang beraroma perang. Aku selalu membayangkan, melihat ibuku dan kakakku menangis dipemakaman ayah. Memikirkanya saja sudah membuat dadaku sesak.

Aku menelan ludahku lagi lalu menjilat bibirku. Dari ekor mataku, aku dapat melihat Jongin menatapku. Kurasa dia tahu ada yang tidak beres, sebab tanganya memilin-milin selimutku. Apa yang akan dia rasakan saat aku memberitahunya tentang isi pikiranku yang berkata bahwa Utara menyerang Seoul. Kakak tertuanya masih di Seoul dan kuharap dia sudah diungsikan. Untuk beberapa saat aku merasa menciut didepan Jongin. Aku tidak mungkin berkata, "Hei, Jongin kau tahu? Seoul diserang. Bagaimana keadaan kakakmu?"Tidak. Aku tidak mungkin berkata seperti itu. Bisa-bisa Jongin langsung kabur mencari kakaknya. Dia anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Dia pasti berusaha mati-matian melindungi kedua kakak perempuannya. Aku masih ingat, dulu Jongin pernah masuk penjara gara-gara memukuli seorang pria yang melecehkan kakaknya. Pria itu nyaris mati. Nyaris. Kim Jongin beruntung karena keluarga pria itu tidak memperpanjang urusan tersebut.

"Apa kau dan yang lain baik-baik saja?" Suaraku bergetar karena tegang dan aku dapat merasakan kasurku sedikit berguncang karena tubuh Jongin yang menegang.

Hening sejenak lalu Suho bergumam, "Kami oke." Dia terdengar ragu. Aku ingin mempercayainya tapi aku tidak bisa. Aku tahu Suho berkata begitu untuk membuatku merasa oke.

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya. Berusaha menghilangkan sesuatu yang membuat tenggorokanku tercekat.

"Kita akan bertemu. Secepatnya."

Kalimat terakhir Suho terus berputar dikepalaku. Diam-diam aku menyesal tidak ikut keluargaku mengungsi atau ikut memberku kerja. Setidaknya kami berkumpul bersama-sama. Tidak terpisah. Aku yakin Tao pasti sedang menangis. Tapi aku tidak perlu khawatir, Kris pasti bisa mengatasi Tao yang cengeng itu. Dan kuharap Chanyeol bisa mencerahkan suasana, dia bisa dibantu Baekhyun dan Chen. Luhan pasti mencari tempat terpencil untuk merokok. Kuharap ia tidak bersembunyi terlalu lama. Karena aku takut tiba-tiba ada tentara dari Utara yang muncul dibelakangnya. Xiumin pasti berusaha menanggapi hal ini dengan optimis dan dalam diam berusaha membuat para member tenang. Kris pasti kangen mamanya. Dia hanya bertubuh besar dan tinggi tapi kalau sudah inget wajah mamanya, mata tajamnya itu pasti langsung berkaca-kaca. Kuharap Suho memiliki persediaan obat penenang. Bisa-bisa dia kena serangan panik dadakan. Lay pasti hanya diam dan bengong. Mungkin dia memikirkan Cina atau mungkin rumah neneknya Baekhyun. Kuharap D.O tidak membunuh Chanyeol yang berusaha menaikkan mood para member. Kuharap memberku tidak mengganggu D.O. Dia itu kecil tapi short-temper dan moody.

Aku takut tapi aku berusaha menepisnya. Aku tidak boleh takut. Aku tidak boleh paranoid. Yang akan aku lakukan hanya duduk diam 'kan? Tetap diam dan menunggu. Lagi pula disini ada Jongin. Aku tidak sendiri. Ada sahabatku yang menunggu bersamaku. Masih ada sebungkus Winston milik Chanyeol, masih utuh, disegel dan cukup untuk menunggu sebentar. Ya, aku dan Jongin tidak mungkin menunggu lama. Suho pasti sudah memberitahu para petugas kalau aku dan Jongin ada disini. Mereka pasti cepat. Paling lama tiga jam, tidak dua jam. Ya, paling lama dua jam. Kalau bisa satu jam. Dan kuharap tiga puluh menit. Pokoknya secepatnya.

"Apa apa?"

Aku tersentak dan hampir memukul Jongin yang tiba-tiba muncul disampingku, Aku bersumpah tadinya kupikir dia tentara Utara.

Aku menatapnya sambil memikirkan cara terbaik untuk memberitahu Jongin keadaan ini. Aku tidak mau Jongin bertingkah gegabah, aku tidak bisa membiarkannya. Awalnya aku berniat membohonginya dengan mengatakan para member lembur atau apalah yang masuk akal. Tapi pada akhirnya aku tetap memberitahu Jongin. Karena dia berhak tahu.

Aku menelan ludahku, lalu berbisik "Ada yang tidak beres," Aku tidak tahu kenapa aku berbisik. Aku hanya terbawa suasana yang menurutku seperti suasana saat tokoh utama melihat cinta sejatinya jatuh dari gedung dengan adegan yang diperlambat sepersekian detik. Tegang dan mencekam.

Jongin menatapku dengan tatapan menuntut dan yang aku lakukan hanya menelan ludah lalu menghela nafas pelan. Masih menimang-nimang kata yang tepat.

"Suho menyuruh kita menunggu disini sampai petugas datang."

Aku menatap Kim Jongin. Berusaha membaca ekspresinya. Sesaat setelah aku mengatakan hal tersebut, aku bisa merasakan tubuh Jongin tersentak kemudian membeku dan pupil matanya bergerak-gerak liar.

Seperti dugaanku, Jongin berlari keluar kamarku. Dia langsung keluar asrama tidak memakai jaket dan sepatu. Aku panik dan langsung mengejarnya. Aku berhasil mengejarnya saat Jongin memencet tombol lift dengan tangan gemetaran.

Aku menariknya dan menyeret Jongin masuk kembali ke asrama. Dia memberontak habis-habisan sambil terus berguman, "Noona.."

Jongin terus menggelepar-leparkan tubuhnya, bergerak memutar-mutar, berusaha menjatuhkanku yang memiting lehernya. Dia bahkan membenturkan punggungku kedinding.

Jujur aku kalap. Aku jarang sekali melihat Jongin sepanik ini. Terakhir dua tahun yang lalu, saat punggungnya sakit dan ia harus menari. Itu pun tidak separah ini. Mungkin ini yang paling parah yang pernah kulihat.

Kim Jongin nyaris menjatuhkanku. Dia memutar tubuhnya dan menjegat kakiku dengan kakinya. Aku jatuh telentang dan tanganku masih nyangkut dileher Jongin hingga membuat Jongin jatuh berlutut disampingku.

Dia mencengkram lenganku dengan cakarnya dan menghentakkannya keras sekali hingga tanganku yang berkeringat terlepas dari lehernya.

Aku panik saat melihat Jongin berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk kabur. Aku segera mencengkram kakinya dan Jongin terjembab.

"Lepaskan aku!" Ia berteriak sambil menendang-nendangkan kakinya kearah wajahku. Aku berusaha menghidarinya, tapi Jongin berhasil menendang tulang pipiku. Aku bersumpah rasanya sakit sekali. Tapi rasa sakit itu membuat emosiku naik.

Aku menggeram sambil menarik kaki Jongin. Anak itu menggapai apa pun yang bisa menahannya dari tarikkanku. Dia menjatuhkan meja kecil hingga vas di atas meja tersebut menghantam lantai dan pecah.

Aku terus menarik kaki Jongin dan menyeretnya menuju kamarku. Tangannya mencakar-cakar lantai kayu hingga bekas cakarannya membekas dilantai.

Setelah berhasil memasukkan Jongin kekamarku, aku menendang pintu kamarku hingga pintu itu terbanting kencang sekali.

Aku mencengkran bahu Jongin, mengangkatnya lalu membanting Jongin kekasurku.

Aku segera membalikkan badanku dan mengunci pintu kamarku lalu menyembunyikan kuncinya dikantung celanaku.

Jongin menatapku seakan-akan aku ini Ju-on. Matanya memerah dan ia terisak pelan. Lalu tiba-tiba ia menerjangku dan memiting tanganku. Tangannya merogoh kantung celanaku, mencoba mencari kunci kamarku dan sialnya ia berhasil mendapatkannya.

Aku panik dan langsung berjalan mundur dan menghantamkan punggung Jongin kelemari bajuku dan aku bisa mendengar tongkat baseballku jatuh dari atas lemari itu.

Aku mendengar Jongin menggeram gusar dan telingaku juga menangkap suara gemericik yang jatuh kelantai. Aku menunduk kebawah dan mendapati kunci kamarku jatuh dari genggaman Jongin.

Aku segera menendangnya hingga kunci itu terpental kebawah kasurku. Lalu aku menghentakkan tubuhku kebelakang, kali ini aku melakukannya dengan kekuatan yang lebih besar hingga Jongin melepas pitingannya dan menunduk memegangi punggungnya.

Aku langsung melesat dan memasukkan tanganku kebawah kolong kasurku. Meraba-meraba, berusaha mencari sesuatu yang terasa dingin.

Saat aku menemukannya, aku langsug memasukkannya kedalam boxerku. Aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bagian bawahku itu. Membuat tengkukku merinding.

Aku menengok dan mendapati Jongin menatapku dengan mulut terbuka. Ia mendengus lalu mengulurkan tangannya, "Berikan padaku," Ujarnya pelan. Menatapku tajam dan dapat kulihat buku-buku jari Jongin berdarah akibat mencakari lantai kayu.

Aku menggeleng sambil merenggangkan punggungku yang terasa ngilu. Nafasku terdengar bergetar dan kakiku terasa gemetar. Aku pun terduduk diatas kasurku.

"Kakakku sendirian diluar sana, Sehun!" Jongin berteriak kencang dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya bergetar. "Aku harus menyusulnya. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri."

Aku hanya bisa menggeleng, masih mengatur nafasku yang acak-acakkan karena berusaha membuat Jongin tenang. Sumpah Jongin tadi seperti kuda ngamuk.

"Kau hubungi dia dulu. Siapa tahu petugas sudah menjemputnya."

Jongin menggeleng dan menatapku gusar. Berusaha mematahkan argumenku tapi berakhir membisu dan mengeluarkan Hp-nya.

Aku tersenyum puas saat melihat Jongin menelpon kakaknya. Aku tidak peduli tatapan membunuh yang diberikan Jongin padaku. Lagi pula ini pilihan terbaik karena kita masih tidak tahu apa-apa.

Aku segera mengambil kunci kamarku yang kumasukkan kedalam sumpah, rasanya mengganjal dan sangat mengganggu.

Aku membuka bajuku, lalu menghadapkan punggungku kecermin. Aku bisa melihat punggungku sedikit memerah. Tapi kurasa punggungku tidak terluka parah. Rasanya sakit kalau ditekan, tapi tidak ada masalah jika aku berjalan. Wajahku juga terluka. Memar dibawah mata kiriku, ditendang Jongin. Masih terasa berdenyut dan perih tapi kalau diperhatikan aku jadi terlihat keren dengan memar ini.

Aku melirik Jongin sekilas lalu memakai bajuku kembali.

"Dia oke,"

Aku hanya mendengus kecil saat mendengar Jongin bergumam dengan suara seraknya yang terdengar menyedihkan. Tapi jujur, saat mendengar itu aku jadi lega. Aku pernah beberapa kali bertemu dengan kakak-kakak Jongin yang cantik-cantik itu. Dami, adalah nama kakak tertua Jongin. Dan aku bersumpah kalau Dami belum menikah pasti akan kukencani. Dia sangat lembut, perhatian dan cantik.

"Baguslah," Ujarku, agak terlalu kasar hingga membuat Jongin menunduk dan memain-mainkan ujung bajunya. Aku bertingkah seolah-olah aku tak peduli. Aku tahu Jongin merasa bersalah dan aku mau dia minta maaf. Jadi aku menjatuhkan diriku dikasur, menutup mataku dan meletakkan lenganku diatasnya, lalu menenggelamkan pikiranku dan berusaha mengabaikan sosok Jongin.

2.

Self hypnosis. Aku pernah membacanya. Tindakkan seseorang untuk mempengaruhi alam bawah sadarnya dengan cara menghipnotis diri. Kurasa aku harus mencobanya. Sebab dari tadi, setiap kali aku menutup mataku yang aku lihat adalah memberku yang ditembaki, keluargaku yang dikepung tentara dan Jongin yang meminta tolong padaku. Sudah beberapa kali aku mengintip hanya untuk melihat keadaan Jongin. Dia masih sama, bersender kelemari sambil memain-mainkan ujung bajunya. Kurasa Jongin sedang memikirkan hal yang sama denganku. Keluarga, member dan keselamatan kami. Atau mungkin dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk minta maaf padaku. Dia memang harus minta maaf, setelah menyebabkan dua kejadian yang terlalu dramatis bagiku. Dan telah berhasil menguras emosiku.

Aku tidak mengerti Jongin. Walaupun aku sudah berteman lama denganya, aku tetap tidak mengerti. Anak itu benar-benar sesuatu. Dia memiliki sisi yang menarik semua orang bagai magnet untuk memperhatikan dan menyukainya. Aku tidak sedang membicarakan haters disini. Kalian pasti tahu 'kan kalau Jongin memiliki banyak haters? Jadi tak mungkin kalau semua orang yang kumaksud disini adalah haters. Orang yang kumaksud adalah orang yang mengenalnya bukan sebagai Kai dari EXO, melainkan sebagai Kim Jongin, anak bungsu keluarga Kim yang akan mengamuk seperti kuda gila jika ada orang yang berani macam-macam pada kakak perempuannya. Dia memiliki sesuatu yang semua orang inginkan. Hanya satu dari seribu orang yang memilikinya. Aku ingin memilikinya, tapi kurasa lebih baik Jongin saja yang memilikinya. Karena jika aku yang memilikinya, aku akan jadi manusia paling angkuh dan sok berkuasa. Kalian lihat sendiri 'kan, sifatku ini seperti apa? Sedangkan Jongin? Dia hanya akan duduk manis dengan senyum idiotnya, menatap semua orang dengan mata hitam miliknya dan terlihat hangat. Dia akan duduk dengan punggungnya yang terlihat kecil, terdiam dan menyerap semua yang orang katakan, meresap semuanya tanpa disaring. Dan itu sudah terbukti berkali-kali. Aku disana, berdiri dan mataku merekam segalanya. Detik-detik hancurnya pertahanan Jongin. Dimulai saat ia menjadi siswa pelatihan.

Jika kalian bingung sekarang ini arah pembicaraanku kemana? Aku akan menjawabnya dengan satu nama yang menggerogoti tulang Jongin dan melimpahkan rasa kecut ini padaku. Kim Moonkyu.

Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan self hypnosis. Kurasa, perasaan panik ini semakin menjadi-jadi. Aku bersumpah, walau pun kecil, aku bisa mendengar suara ledakan dan kasurku yang bergetar halus. Awalnya kupikir aku hanya terlalu paranoid hingga mulai berhalusinasi. Tapi saat aku memeriksa keadaan Jongin, aku langsung tahu kalau suara ledakan itu nyata.

Jongin, yang tadi bersender sambil memainkan ujung bajunya, kini memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Buku-buku jari Jongin mencengkram lengannya hingga memutih. Aku memandangnya cukup lama hingga mataku berair. Aku menghela nafas sambil mengedip-ngedipkan mataku yang berair, menatap langit-langit kamarku, lalu kupejamkan mataku. Kubuang jauh-jauh segala macam pikiran yang gentayangan dalam kepalaku. Kulemaskan otot-otot tubuhku dan dapat kurasakan rasa ngilu dibeberapa tempat. Cidera otot, gara-gara kebanyakan nari. Aku juga bisa merasakan sedikit rasa sakit dipunggungku dan sesuatu yang berdenyut-denyut ditulang pipiku. Tapi kuabaikan semua itu. Benar-benar semuanya, termasuk Kim Jongin, memberku, bahkan keluargaku. Kubuang jauh-jauh semuanya hingga pikiranku kosong. Lalu aku mulai berhitung mundur, dari sepuluh...sembilan... Aku mulai merasa mataku terlalu berat untuk dibuka, begitu juga tanganku. Tapi kubiarkan diriku jatuh lebih dalam lagi. Enam... lima... Tarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan. Aku terus mengatur tenang.. dua.. satu..

Kini hanya pikiranku yang bekerja. Semuanya mati. Yang tersisa hanya pikiran, jantung, paru-paru dll. Kunikmati ketenangan ini sebentar lalu aku mulai mengsugestikan diriku sendiri;

"Jangan cemas,"

"Jangan takut,"

"Berjuanglah,"

Kuulang kalimat itu berkali-kali hingga aku tersedot lebih dalam lagi. Lalu aku mulai menghitung lagi, dari satu.. dua.. Kunikmati ketenangan yang ada sambil terus menghitung. Rasanya gelap, sepi tapi tidak menakutkan. Lalu aku merasa ada yang mencengkram lenganku kencang sekali hingga dapat kurasakan kuku jari yang melukai kulitku. Kemudian aku merasa tersedot naik dan dadaku terasa seperti ditekan hingga aku menarik nafasku sekuat tenaga melalui mulutku.

Aku membuka mataku sambil terengah. Terdiam melihat langit-langit kamarku yang gelap, lalu seseorang menarik lenganku hingga aku terduduk dikasurku. Dapat kurasakan kasurku yang bergetar, tapi aku bingung. Aku tidak tahu kenapa, tapi untuk sesaat semuanya terasa asing. Hingga aku melihat wajah Jongin yang meringis ketakutan, berteriak-teriak didepan wajahku sambil mengguncang-guncang tubuhku. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku merasa seperti mengambang? Entahlah, rasanya senyap. Kupandangi mata Jongin yang melotot sambil teriak-teriak. Matanya merah dan pupilnya bergerak-gerak liar.

"ARGH!"

Aku tersentak. Benar-benar tersentak. Seperti ada yang memukulku, tepat diulu hati. Teriakkan Jongin yang memekakkan telingaku terasa seperti memukulku. Aku langsung sadar dan memandang sekeliling. Melihat keadaan kamarku yang gelap, cuping kupingku bergerak-gerak mendengar suara ledakan yang semakin mendekat, tanganku bergetar dan nafasku bergemuruh. Aku menatap Jongin, yang kini meringkuk disamping tempat tidurku sambil menutup kupingnya. Ia menangis sambil terus merintih. Aku terkesiap dan langsung menghampirinya. Tapi entah kenapa kakiku terasa seperti agar, hingga aku terjatuh dihadapan Jongin.

Aku kalang kabut melihat Jongin yang nafasnya sudah kacau. Dia panik. Entah kenapa aku merasa marah. Disini aku berusaha kuat dan didepanku Jongin jatuh dalam ketakutan. Tapi aku mulai berpikir. Sudah berapa lama aku asik dalam pikiranku sendiri. Apa saja yang terjadi selama itu?

Aku segara menatap wajah Jongin. Ia terlihat mengerikan. Matanya melotot seakan-akan melihat malaikat pencabut nyawa. Ia terus merintih dan bergetar. Aku merasa tak berdaya, lalu aku ingat Suho dan caranya untuk mengatasi member yang panik. Ia pernah melakukannya padaku setidaknya dua kali.

Aku menghembuskan nafasku yang terdengar bergetar. Kutatap mata Jongin yang bergerak-gerak liar. Kupegang kedua tangan Jongin yang menutup telinganya. Kutarik perlahan-lahan, berusaha melepasnya tapi ia tidak mau melepaskannya. Lalu kuhentakkan tangannya hingga terlepas dari telinganya. Ia justru makin panik. Lalu bayangan saat Suho menenangkan kepanikkanku muncuk dalan benakku.

Aku menangkup wajah Jongin, menariknya lembut hingga ia menemukan mataku. Aku segera mengikuti ekspresi Suho saat menenangkanku. Ekspresi yang tenang tapi menuntut.

"Jongin-ah, bernafaslah bersamaku,"

Sumpah, aku tidak pernah berbicara selembut itu. Pada mantan-mantanku saja tidak pernah. Sekali pun tidak pernah. Bahkan pada ibuku.

"Tarik nafas, hembuskan, tarik, hambuskan,tarik.."

Kuucapkan itu berkali-kali sambil mengatur nafasku juga. Lalu aku ingat Lay. Biasanya, disaat panik ia akan bernafas melalui kantung apa pun yang ada didekatnya.

Aku memperhatikan sekelilingku dan menemukan kantung karton. Aku segera menggapainya dan kuberikan pada Jongin. Kubiarkan dia bernafas lewat kantung itu sambil kuusap-usap pundaknya. Tanganya yang berkeringat dan terasa dingin mencengkram tanganku yang memegangi kantung kertas didepan mulut dan hidungnya.

Tiba-tiba aku merasa ada selusin orang yang menduduki punggungku. Semakin kupandangi mata Jongin, semakin banyak orang yang menduduki punggungku. Nafasku terasa berat dan aku langsung mengaturnya. Aku tahu aku panik. Tapi aku tidak boleh sepanik Jongin, aku harus tetap tenang. Aku tidak boleh takut.

Tapi aku berakhir menangis dengan Jongin yang menangis juga. Tidak hanya wajah Suho dan Lay yang muncul. Tapi makin lama, makin banyak wajah yang muncul. Satu-persatu. Bahkan ada wajah ayahku. Keluargaku, sampai nenekku ikutan muncul. Lalu kenangan muncul. Semuanya menyeruak masuk dalam pikiranku membuat kakiku terasa kaku. Aku tersedu-sedu seperti orang kehilangan segalanya. Tapi aku memang merasa seperti itu. Aku merasa tersesat, hanya berdua bersama Kim Jongin. Sahabatku yang beberapa saat lalu kembali menertawakan kertas kosong bersamaku. Rasanya tidak adil dan aku menangis makin kencang. Berteriak-teriak marah seperti orang kesetanan. Entahlah, semuanya hanya terasa terlalu berat bagiku dan terasa seperi mimpi buruk.

3.

"Kupikir Sehun mati,"

Aku menatap Jongin. Kita berdua masih sedikit terisak, tapi sudah tidak menangis lagi. Diluar sana juga sudah sepi. Aku tidak tahu sampai berapa lama sepi itu akan bertahan.

Aku menatap jejak-jejak air mata dipipi Jongin, lalu segera kubersihkan pipiku dengan lengan bajuku. Berharap tidak ada jejak air mata yang tertinggal dipipiku.

"Tadi ada ledakan. Besar sekali. Tapi kau tidak bangun,"

Aku jadi merasa bersalah. Maksudku, aku ternggelam dalam ketenanganku, sedangkan Jongin ketakutan melihatku yang tidak bergerak sama sekali.

"Aku berteriak-teriak membangunkanmu tapi kau tidak bangun juga. Jadi kupikir kau.."

"Mati?"

Ia mengangguk. Aku menghela nafas. Karena tidak tahu apa yang harus kulakukan, akhirnya aku hanya menepuk-nepuk pundak Jongin.

Jongin memandangku dengan tatapan yang tidak kumengerti. Ia menggeleng lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Tadi ada helikopter, menembak," Jongin mengarahkan pandangannya kearah lemari. Aku terperangah melihat lemariku yang bolong-bolong. Astaga! Didalamnya ada Givenchy, Pyrex dan Gucci-nya Tao yang kusembunyikan.

"Lalu ledakan-ledak..."

Aku dan Jongin refleks menunduk saat mendengar ledakan yang suaranya benar-benar dekat. Aku dan Jongin saling berpandangan, tubuh kami berdua kembali bergetar. Aku segera mengintip keluar jendela.

Tubuhku terasa mendingin saat kulihat keadaan luar yang benar-benar kacau. Beberapa gedung hancur, mobil-mobil berserakan dan jantungku terasa tertohok saat melihat ada mayat-mayat yang tergeletak. Kakinya hilang, hancur, bahkan ada yang tinggal setengah badan.

"Sehun..."

Aku menoleh menatap Jongin yang memandang keluar. Keringat sebesar jagung keluar dari pelipisnya, mulutnya menganga. Ia terlihat mual. Aku segera menutup matanya dengan tanganku lalu menariknya untuk duduk.

"Jangan dilihat," Bisikku pelan.

Jujur saja. Aku juga tak sanggup melihatnya. Perutku terasa bergolak. Astaga, orang-orang itu. Bagaimana mungkin bisa jadi seperti itu? Apa yang dirasakan keluarganya saat melihat itu. Perasaanku yang orang asing saja sudah terasa sesak. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menepis pikiran terburuk yang hinggap dikepalaku.

"Apa yang harus kita lakukan?"

Kudengar Jongin berbisik. Menatapku, seakan-akan hanya aku yang tahu jawabannya. Aku hanya bisa menggeleng dan merasa tak berdaya.

"Kita akan menunggu,"

Jongin menatapku. Ia menggeleng kencang, "Sehun kurasa mereka tidak akan datang,"

Aku menghela nafas, mengusap wajahku lalu menatap lemariku yang bolong-bolong itu.

"Kau punya ide yang lebih baik?"

Jongin membuka mulutnya, tapi aku langsung menyela karena aku takut idenya sama seperti yang kupikirkan sekarang,

"Pergi keluar adalah alternatif paling akhir Jongin."

Aku menunjuk keluar, telunjukku mengacung tepat pada mayat yang tergeletak tanpa tangan. "Kau lihat? Aku tidak mau berakhir seperti itu. Diluar jauh lebih bahaya Jongin."

Jongin menutup matanya lalu menghela nafas. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Aku hanya bisa menatapnya. Jujur, aku ingin mengatakan, "Hey Jongin. Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji." Tapi aku butuh seseorang yang meyakinkanku juga. Bahwa ini semua hanya mimpi buruk dan besok aku akan bangun pagi-pagi dengan mencium aroma masakan D.O. Ada manager hyung yang marah-marah sambil mengkoordinir jadwal.

Aku berjanji, jika ini semua hanya mimpi buruk, aku tidak akan ngamuk saat terbangun dengan Chanyeol yang sedang *¹on disampingku. Bahkan kalau Chanyeol menciumku aku tak akan menendangnya. Aku janji. Aku hanya ingin ini semua berakhir. Aku bahkan merindukan tangisan Tao, nyanyian Chen dikamar mandi yang―percayalah, seperti orang gila.

Tapi saat aku melihat lampu gantung di langit-langit kamarku bergoyang-goyang. Lalu kualihkan pandanganku dan menatap lemariku yang hancur, juga ada tubuh Jongin yang gemetaran disampingku. Aku tahu bahwa ini semua nyata dan rasanya pahit.

4.

Aku menatap keluar jendela sambil menghisap Winston. Jongin duduk disampingku. Sejak ledakan tadi, Jongin tidak mau jauh-jauh dariku. Kebetulan, aku juga tidak mau jauh-jauh darinya. Aku takut ketoilet tanpa Jongin. Aku takut saat kembali dari toilet dan mendapati Jongin sudah tak bernyawa. Aku memejamkan mataku erat saat pikiran itu datang kembali. Aku menghela nafas, berharap kekacauan ini akan menghilang bersama helaan nafasku. Mengambang diudara lalu pergi. Jauh-jauh. Tidak usah balik lagi, mati kalau perlu.

Aku sudah memakai bajuku kembali, aku bahkan memakai jaket tebal dan sepatu. Begitu juga Jongin. Kami berdua ingin segera langsung keluar saat petugas datang. Tapi, aku tahu, walaupun diam, kami tidak bersiap-siap menyambut petugas datang. Tapi bersiap untuk alternatif paling akhir. Kami bahkan sudah mengisi tas ransel kami dengan makanan yang tidak seberapa, minuman hangat dalam termos dan kotak P3K milik Suho. Digenggamanku ada tongkat baseball dan Jongin mengambil pisau dapur paling besar dan beberapa potong apel. Ia mengupasnya, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu memakannya. Aku hanya terkekeh dalam hati melihat itu sambil berusaha menikmati potongan apel yang diberikan Jongin. Astaga anak itu mengupas kulit apel bersama sebagian dagingnya. Lebih baik tidak usah dikupas, langsung makan saja. Tapi aku tidak berkomentar. Entahlah, aku hanya merasa Jongin menyibukkan dirinya dengan mengupas apel untuk menghindar dari kenyataan.

"Ah!"

Karena paranoid. Mataku langsung menajam, manatap waspada, tubuhku langsung tegak dan kepalaku langsung menoleh kearah suara itu. Degup jantungku memelan saat aku menatap Jongin yang sedang mengemut jari telunjuknya. Jujur aku ingin sekali memukul kepalanya dengan tongkat baseballku. Tapi kuurung niatku dan kulontarkan lelucon hambar, "Memotong jarimu sendiri, heh?"

Aku merasa tubuh Jongin yang tersentak pelan, ia menatap lantai cukup lama lalu menoleh menatapku. Alisnya bertautan. Aku memandangnya, menanyakan ada apa melalui tatapanku.

"Menurutmu Lay hyung akan baik-baik saja?"

Untuk kesekian kalinya hari ini, kurasakan sesuatu menghantamku. Tubuhku yang pada dasarnya sudah tegak semakin menegak. Kepalaku terasa berat dan pertanyaan Jongin langsung memancing semua pikiran terburuk untuk masuk dan mengacak-acak jalan otakku.

Hemofilia.

Lay adalah penderita penyakit itu. Astaga, bahkan tusukan jarum kecil saja sudah membahayakan apa lagi tusukan peluru. Tubuhku langsung terasa dingin dan aku hanya bisa menggeleng sambil berbisik pelan dengan suara bergetar, "Kita hanya bisa berdoa Jongin-ah,"

Lalu aku merasa lebih tua dari Jongin. Aku tidak tahu kenapa tapi, Jongin bertindak seakan-akan aku ini selimutnya yang akan melindunginya disaat ia kedinginan.

Dingin?

Kalian mungkin tahu siapa yang aku pikirkan saat ini 'kan? Si Byun itu pasti kedinginan sekarang. Kuharap ada banyak selimut ditempat pengungsian dan kuharap tempat itu memiliki penghangat ruangan. Baekhyun bisa kena hipotermia. Aku pernah melihatnya sekali, gara-gara Chanyeol membuka jendela malam-malam, padahal malam itu salju turun lebat sekali. Kris memarahi Chanyeol habis-habisan dan menyuruh Chanyeol tidur bersamanya, tapi Tao tidak mau berpisah dengan Kris. Chanyeol juga menolak pisah kamar dengan Baekhyun. Saat itu kami semua belum dekat, mungkin sekitar tujuh atau delapan hari kami tinggal bersama untuk mempersiapkan debut. Kris mengatakan sesuatu dalam bahasa Cina. Aku bertanya apa artinya dan Luhan berbisik, "Artinya jangan manja," Dan aku mengerti kenapa Tao marah dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Kris terlihat menyesal, tapi sudah seharusnya Kris berkata seperti itu. Kita ini satu grup dan jika kita selalu menempel pada satu orang terdekat kita, maka group ini tidak akan solid. Saat itu Tao tidak akan pergi kemana pun tanpa Kris. Kurasa Tao merasa tidak aman tanpa kehadiran Kris. Jadi, kupikir saat itu Kris menganggap sebagai saat yang tepat untuk mempererat hubungan kami semua yang masih seumur jagung. Ya, kami memang sudah lama dilatih bersama tapi tetap saja hanya beberapa yang benar-benar dekat. Maksudku, saat menjadi siswa pelatihan kita 'kan bersaing untuk didebutkan.

Kris menepuk pundak Suho, mungkin maksudnya, "Jaga Baekhyun," Suho hanya mengangguk sambil menerima selimut dari D.O lalu menyelimuti Baekhyun yang sudah gemetar dan membiru.

Aku tidak ingat banyak tentang malam itu. Aku ingat Kris dan Tao berargumen dengan bahasa Cina, berteriak-teriak dan saat aku mendengar sesuatu yang pecah aku melesat keluar. Luhan berusaha menahanku tapi gagal.

Aku bengong menatap pecahan piring yang bertebar dimana-mana, aku menatap tangan Tao yang memegang piring lalu ia berteriak didepan wajah Kris sambil melempar piring itu kelantai dan pecahannya tersebar kemana-mana. Aku membuka mulutku dan menatap Tao heran. Sumpah, aku baru pertama kali melihatnya marah sampai seperti itu. Pasti masalahnya bukan karena Kris mengatainya manja. Tidak bukan itu. Mereka berdua memiliki masalah yang lebih dalam dan rumit, bahkan sampai saat ini aku tidak tahu apa akar permasalahan mereka.

Teriakkan Kris dan Tao terhenti begitu saja saat ada suara lain yang berteriak dengan bahasa Cina.

Lay.

Ia menginjak pecahan kaca yang berserakan. Semuanya benar-benar hening. Dulu aku tidak tahu kalau Lay menderita hemofilia. Jadi aku hanya memandang heran Tao yang menutup mulutnya dan Kris yang meremas rambutnya.

Malam itu benar-benar kacau. Aku duduk dikasurku, memandang keluar jendela berharap bisa menemukan bintang. Tapi malam itu terlalu terang hingga bintang tidak kelihatan.

Luhan disampingku menceritakan tentang penyakit Lay. Hemofilia, kelainan genetik pada darah yang disebabkan kurangnya faktor pembekuan darah. Darah akan sulit membeku.

Aku ingat Chanyeol menggotong Baekhyun yang sudah pingsan dan Kris menggotong Lay kerumah sakit. Aku ingat Tao menangis dan Xiumin duduk disampingnya, mengelus-elus pundaknya. D.O yang masih pendiam, hanya menepuk kepala Tao pelan lalu mengurung diri dikamar. Jongin yang tidur dikasur Chanyeol karena takut untuk mengetuk pintu dan membangunkan D.O. Kami semua yang memikirkana besok. Membayangkan wajah manager hyung yang memerah seperti babi panggang setengah matang. Saat itu dalam benakku hanya terlampir pertanyaan , Apakah Baekhyun dan Lay baik-baik saja? Kita jadi debut 'kan?

Tapi semuanya kembali berjalan lancar beberapa minggu kemudian. Walau pun kena damprat habis-habisan tapi kurasa hubungan kami oke, justru bertambah baik.

5.

Aku tersentak mendengar suara tawa Jongin. Aku memandang Jongin yang tertawa geli. Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya? Aku segera meletakkan punggung tanganku didahinya. Ia menepis tanganku pelan lalu menunjuk kedepan, kearah jendela. Aku mengikuti arah telunjuk Jongin dan mendapati seorang anak perempuan bermata bulat dan berrambut panjang hitam. Anak itu berada didalam apartemennya, menatap kami lewat jendela apartemennya yang berhadapan dengan jendela kamarku. Anak berbibir mirip Jongin itu melambai-lambaikan boneka Barbienya. Aku mau tidak mau tersenyum tipis melihatnya. Anak itu benar-benar cantik.

Aku mengeryit menatapnya menggerak-gerakkan tangannya dengan gerakkan aneh.

"Dia bilang kau tampan, seperti Ken."

Dapat kurasakan wajahku yang makin mengeryit menatap Jongin, "Dari mana kau tahu dia mengatakan itu? Dan siapa itu Ken? Ken VIXX maksudmu?"

Jongin menggeleng lalu tertawa geli sekali, "Dia tuna rungu, Sehun-ah. Dan Ken yang dia maksud itu pacarnya Barbie,"

Aku memandang takjub kearah Jongin. "Kau bisa bahasa isyarat?"

Jongin tersenyum tipis lalu mengangguk, "Adik sepupuku tuna rungu,"

"Itu keren sekali! Serius. Kau harus mengajariku," Aku menepuk bahunya dan ia tertawa kecil.

"Benarkah? Menurutmu itu keren?"

Aku mengangguk lalu tersenyum jail, "Dan aku tidak tahu kalau kau memiliki hubungan dengan Barbie. Maksudku, apa kau begitu dekat dengan Barbie? Hingga kau mengetahui pacarnya?"

"Hey!"

Jongin mendelik dan meraih leherku kemudian memitingku sambil mengusak-usak tinjunya diatas kepalaku.

"Aku punya dua kakak perempuan Sehun-ah. Dan perempuan ingin dimengerti,"

Aku mencibirnya, "Jadi kau mengerti perempuan heh? Lover-boy?"

Jongin melemper kulit apel kearahku sambil mendengus, kemudian ia tertawa.

Lalu selama beberapa saat semuanya terasa seakan-akan kembali normal. Aku, Jongin dan anak perempuan disebrang sana.

Jongin mengatakan kalau jendela kamar anak itu bersebrangan dengan jendela kamarnya dan D.O. Jongin selalu berbicara dengan anak itu setiap malam dan anak itu bercerita banyak tentang harinya yang masih sederhana tapi penuh warna meski ia memiliki keterbatasan. Jongin ingat masa kecilnya setiap kali anak itu menceritakan sesuatu yang menyenangkan.

Aku tersenyum menatap mata Jongin yang berbinar setiap menatap anak itu. Mereka berdua asik bercakap-cakap dan aku asik menatap dua manusia ini yang berbicara dengan bahasa isyarat yang sama tak kupahaminya dengan bahasa Cina. Tapi aku memiliki keasikkan sendiri menatap wajah mereka berdua yang sangat ekspresif. Setiap menggerakkan tangan, kali itu pula ekspresi mereka berubah. Bahkan aku melihat ekspresi Jongin yang mirip bebek keselek. Sumpah itu priceless, seharusnya kuabadikan momen tadi.

Aku memandang anak perempuan itu, lalu tersenyum. Rambutnya hitam dan ikal dibagian bawah, terlihat indah. Kalau sudah besar pasti kupacari. Matanya besar seperti kelereng, pipinya tembem dan memerah karena dingin.

Aku tersedak air liurku sendiri saat melihat seorang wanita merangkul anak itu. Dia cantik sekali. Aku melihat wanita itu mengangguk pada Jongin. Aku langsung menoleh kearah Jongin dan bertanya setengah berteriak, "Kau mengenalnya?"

Jongin mengangguk, "Dia kakak anak itu,"

"Astaga Jongin, kau mengenal wanita secantik itu tapi kau tidak membuat pergerakkan sama sekali,"

Jongin menatapku seakan-akan aku ini seekor katak yang minta dicium. Ia mencibirku lalu berkata agak sarkastik, "Umurnya tiga puluh sembilan tahun,"

Aku tersedak air liurku. Dia terlalu cantik untuk menjadi tua. Aku menggelengkan kepalaku lalu menepuk-nepuk paha Jongin, "Tidak apa-apa, dia terlihat lebih muda dari kita,"

Jongin menelan ludahnya lalu menepuk pundakku, "Dia sudah punya empat anak Sehun-ah,"

Aku agak kaget saat mendengarnya. Empat anak dan masih memiliki tubuh sebagus itu? Aku menggeleng lagi dan saat aku membuka mulutku Jongin langsung menyelak, "Dia sudah menikah tiga kali,"

Aku tidak banyak komentar saat mendengar itu. Aku langsung diam dan duduk, mendengar Jongin yang tertawa geli.

Aku menatap wanita itu lagi. Dia terlalu terlihat muda dan menipu. Tapi aku tidak menyangka dia sudah menikah tiga kali. Astaga bahkan prinspi hidupku adalah, cari pacar yang banyak dan cari istri yang akan menemaniku sampai mati. Lalu entah kenapa aku justru berpikir apa yang sudah dilalui wanita itu hingga membuatnya menikah tiga kali.

Saat aku sedang asik dalam pikiranku, tiba-tiba suara tembakkan memekakkan telinga dan suara tawa Jongin lenyap. Aku dapat merasakan tangan Jongin yang meremas lengan bajuku.

Wanita cantik itu tertembak, sedangkan anak perempuan yang tidak bisa mendengar itu terus menggerakkan tangannya, menceritakan sesuatu yang menyenangkan pada Jongin.

Pikiranku bekerja lebih cepat dari yang kubayangkan. Tembakkan itu, berasal dari atas asrama kami. Aku tadi melihat sekilas arah peluru itu meluncur cepat, awalnya aku tidak yakin tapi saat aku melihat bayangan seorang tentara dengan senjatanya terpantul dari kaca jendela yang tertutup digedung depan―apartemen anak itu dan wanita itu. Nalarku langsung bekerja.

Dan sebelum Jongin berteriak lalu melompat lewat jendela kamarku, aku langsung menutup mulutnya dan menariknya untuk menunduk.

"Ssssttt... Jongin-ah, tentara itu ada diatas kita." Aku melihat mata Jongin yang membesar dan memerah. Ia menggeleng. Tadinya kupikir dia akan memberontak dan pergi untuk menyelamatkan anak itu. Tapi ia hanya terduduk lemas sambil terus menggeleng.

Aku menoleh dan menatap anak itu yang menatapku sambil tersenyum. Ia masih belum menyadari keadaan ini. Aku tersenyum lebar lalu kembali menatap Jongin. Ia terlihat tak berdaya. Aku takut ia panik lagi. Jadi aku menariknya dan membenamkan wajahnya diketiakku. "Jangan dilihat," Perintahku.

Jongin meremas-remas bajuku. Aku tahu dia setengah mati menahan diri untuk tidak berteriak atau pergi keluar untuk menyelamatkan anak itu. Kurasa ia memikirkanku dan keadaan yang sulit saat ini.

Aku mencoba menatap anak itu dan tersenyum, tapi aku tidak sanggup menolehkan kepalaku. Aku memejamkan mataku dan meremas baju Jongin. Menolak untuk melihat apa yang akan terjadi.

Saat suara letusan senjata terdengar, aku bisa mendengar Jongin memekik dan aku tidak sadar kalau aku menahan nafas sampai Jongin terjatuh dan menarik-narik celanaku.

"Dia hanya anak kecil Sehun!" Jongin berseru pelan dan aku bersyukur dia tidak berteriak.

Aku hanya bisa berdiri dan marah pada diriku sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku sangat bodoh. Aku terkecoh oleh ketenangan sesaat, dengan tawa Jongin, anak kecil dan wanita cantik. Aku melupakan bahwa saat ini kami sedang bersembunyi dari pembantaian Utara dan harap-harap cemas menunggu kedatangan petugas.

6.

Kini aku dan Jongin bersembunyi disamping lemari. Berusaha untuk tidak membuat suara gaduh dan berusaha untuk tidak panik. Jongin menggenggam erat pisau dapurnya, tangannya gemetaran dan matanya merah. Aku tahu ia ingin menangis tapi ia menahannya.

Aku duduk disamping Jongin, menelan air liurku berkali-kali, kedua tanganku memeluk tongkat baseball dan bersiap-siap menerkam apapun yang terlihat mencurigakan. Aku berusaha membuang ingatanku yang masih segar. Ingatan saat wanita cantik itu tertembak dan berusaha melupakan suara tembakkan itu. Hatiku terasa sesak dan aku tahu ini perasaan bersalah.

Aku melihat Jongin memejamkan matanya erat sekali dan tubuhnya yang gemetaran. Tidak jauh berbeda dengan keadaanku. Tubuhku bergetar hebat. Aku sudah berusaha mati-matian untuk membuatnya berhenti, tapi tetap tidak bisa. Suhu tubuhku terasa panas dingin tidak karuan. Aku mengatur nafasku dan terus mengsugestikan diriku,

"Jangan cemas,"

"Jangan takut."

"Berjuanglah,"

Aku masih memikirkan, apakah petugas akan datang? Atau aku dan Jongin harus melakukan alternatif paling akhir? Sebelum tentara itu mendobrak pintu asrama kami. Aku menghela nafas berat dan memandang lampu gantung yang bergoyang-goyang di langit-langit kamarku.

Menatapnya seakan-akan lampu gantung itu akan melemparkan kunci untuk membuka pintu dan kabur dari hari yang buruk ini.

"Alternatif paling akhir Sehun-ah,"

Aku mendengar Jongin berbisik pelan. Suaranya terdengar serak dan nyaris habis.

"Kita harus melakukannya,"

*¹: maksud dari on itu artinya Chanyeol lagi dalam pengaruh ganja. High high gitu.