Kuroko no Basuke©Fujimaki Tadatoshi

-Everything Ended Here chapter 2-

.


Masih membatu di ambang pintu Klub Musik, Seira memandangi kedua adik kelasnya serta anggota klub lainnya yang kini tengah menatapnya. Mungkin mereka juga penasaran, jawaban apa yang akan Seira berikan.

Seira terdiam. Ia berusaha setenang mungkin untuk mencerna situasi yang terjadi. Ia menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.

"Tolong jelaskan seperti apa berita tentangku itu" pinta Seira. Mika dan Misa mengangguk dan memulai ceritanya.

"Seira-senpai digosipkan memiliki hubungan dengan tiga anggota utama tim basket. Midorima-senpai, Kise-senpai, dan Akashi-senpai"

"Pertama dengan Midorima-senpai. Itu karena ada yang melihat Seira-senpai berdua dengan Midorima-senpai di ruang musik.

"Lalu lalu dengan Kise-senpai. Itu karena banyak siswi yang melihat Seira-senpai sering dirangkul oleh Kise-senpai"

"Yang terakhir, Akashi-senpai. Teman-teman Akashi-senpai sering membicarakannya ketika melihat Seira-senpai berduaan dengan Akashi-senpai"

Diam. Seira belum merespon hal apapun dari cerita Mika dan Misa. Yukari menatap teman baiknya itu khawatir, melihat Seira kini menundukkan wajahnya.

"Haaaaaah..."

Sebuah helaan nafas panjang keluar dari mulut Seira. Gadis berumur 17 tahun itu menundukkan wajahnya. Yukari tidak bisa memastikan raut wajah seperti apa yang Seira tunjukkan saat ini karena terhalang poni rambutnya. Lirikan mata anggota klub musik tertuju pada pergerakan lengan Seira yang mengeser-geser pintu ruangan—seolah-olah ia seperti sedang memainkannya. Tak lama setelah itu kakinya melangkah mundur.

"..salah"

Seira semakin memundurkan dirinya dari ruang klub musik.

"Kalian semua salah. Aku tidak memiliki hubungan dengan ketiga orang tersebut selain—"

Hening sesaat. Angin musim gugur yang masuk melalui celah jendela membuat suasana menjadi lebih dramatis. Sungguh, rasanya seperti meliat drama-drama yang sering disiarkan di televisi.

"—teman biasa"

GREB

Sebuah kilatan bayangan mencengkram tangan Seira, membuat gadis itu berbalik dan berlari mengikuti arah perginya bayangan itu. Seira sendiri cukup terkejut akibat gerakan tiba-tiba itu. Hampir saja tubuhnya terjatuh karena ia kehilangan keseimbangan selama beberapa saat.

Setelah keseimbangannya kembali normal dan pikirannya kembali bisa menproses kejadian yang barusan terjadi, Seira mulai menyadari surai merah cerah yang sudah tak asing baginya.

Kembali, sama seperti waktu itu.

Akashi mencengkram erat pergelangan tangannya lalu menariknya pergi ke suatu tempat—entah kemana itu. Seira sudah paham kalau tidak ada artinya jika ia mengajak Akashi bicara disaat seperti ini.

Ia hanya perlu menunggu saja, sampai ia benar-benar sudah berada di tempat yang akan dituju oleh Akashi.


Gedung olahraga.

Ah, Seira sudah dapat menebak kalau ia akan dibawa ke tempat ini. Baru saja beberapa menit yang lalu Akashi membanting pintu gym dengan kasar lalu menariknya masuk dan menyuruhnya duduk di bench. Alhasil, kejadian barusan berhasil menarik perhatian rekan setimnya sekaligus Momoi.

Seira tahu kalau Akashi pasti memiliki alasan yang jelas atas perilakunya saat ini. Gadis itu hanya duduk diam dan menunggu sampai sang kapten membuka suaranya.

Tak perlu lama menunggu, Akashi pun mulai melontarkan sebuah pertanyaan. "Apa itu benar?"

"Apanya yang benar?" Seira balik beranya. Kedua bola matanya menatap lurus Akashi yang juga sedang menatap dirinya.

"Hubunganmu dengan Shintarou dan Ryouta hanya sebatas teman biasa"

Seira mengkerutkan keningnya. Kok Akashi malah mempertanyakan hubungan antara dirinya dengan Midorima dan Kise?

"Akashi-san, apa kau percaya pada gosip tersebut? Aku tak menyangka bahwa Aka—"

"Aku hanya ingin memastikan kebenarannya" potong Akashi cepat. Sungguh, Akashi tidak menyukai pembicaraan yang berputar-putar seperti ini.

Seira tersenyum tipis—tidak diketahui apa maksud dari senyuman itu. "Iya. Hanya teman biasa kok"

"Termasuk diriku?"

Seketika, tubuh Seira membatu. Waktu terasa berhenti baginya selama beberapa saat. Rasanya, Seira menangkap hal yang aneh dari sorot mata Akashi.

"Hum, iya. Termasuk Akashi-san juga"

Nah, betulkan apa yang ia rasakan. Seira menyadari perubahan di sorot mata Akashi walau hanya terjadi kurang dari satu detik. Mulai munculah sebuah anggapan dipikirannya saat ini.

Apakah Akashi menyukai dirinya?

Seira penasaran, ia ingin mencoba mengetahuinya..

"Kalau lebih dari itu mungkin seperti saudara, karena kita memiliki kesamaan nasib. Iya, kan?"

Sekali ini saja, Seira ingin membuktikan anggapannya. Benar atau salahkah anggapannya itu? Seira menyadari kalau apa yang ia katakan saat ini merupakan hal yang tidak disukai oleh Akashi.

"Atau mungkin rekan bisnis? Perusahaan tousan kan bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Akashi-san"

Akashi menggertakan kedua rahangnya. Ia kesal dengan semua perkataan Seira ini. Sementara Seira sendiri terlihat ingin terus meneruskan perbincangan ini.

Apa boleh Seira berharap lebih?

"Kau berbohong, Seira"

Sebuah senyuman kembali terlihat di wajah Seira. Dalam hatinya, ia membatin bahwa 'jadi itulah reaksi yang diberikan oleh Akashi'.

"Aku tidak berbohong, Akashi-san"

Baiklah, terlihat dua orang ini sama-sama saling ingin memojokkan satu sama lain. Anggota Kiseki no Sedai yang lainnya pun merasa bahwa perbincangan Akashi dan Seira itu bagaikan drama live action.

"Kalau kau tidak berbohong, kenapa waktu itu wajahmu memerah saat aku mengatakan kalau aku ingin melamarmu?"

Angin kembali bertiup, menambah kesan dramatis untuk ucapan Akashi barusan. Disisi lain, Momoi tampak merekam adegan 'drama' tersebut melalui kamera ponsel miliknya.

'Lumayan buat dijadiin film' batinnya tak karuan.

Sekarang, mari ke sampingkan dulu perkara Momoi beserta pemikirannya itu barusan. Di bench, Seira tampak biasa-biasa saja saat ini. Wajahnya tidak menampakkan kalau ia terkejut ataupun yang lainnya. Sepertinya ia sudah menduga kalau Akashi akan mengaitkan peristiwa itu.

"Itu.. hanya bercanda. Aku pikir kalau aku bertingkah seolah-olah aku menyukai Akashi-san, aku bisa melihat ekspresi lainnya yang masih Akashi-san sembunyikan" jawab Seira santai dan sangat tak diduga.

Tetapi bukan Akashi namanya kalau pemuda itu langsung saja mempercayai ucapan Seira. Ia harus segera bertindak!

"Lalu bagaimana perasaanmu jika aku mengatakan bahwa aku menyukaimu?"

Kelopak mata Seira melebar mendengarnya. Kise dan Momoi hampir saja berteriak histeris kalau saja Kuroko tidak menahan mereka berdua. Aomine sibuk memastikan apakah indra pendengarannya sudah mengalami gangguan atau tidak. Midorima membenarkan letak kacamatanya yang barusan sempat merosot mendadak. Sementara itu, Murasakibara menjatuhkan kantung snack yang ia pegang.

Demi apa kapten mereka yang sadis itu sekarang sedang menyatakan perasaannya dengan sangat frontal seperti tadi?

Ketika Momoi dan yang lainnya masih berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing, Seira melemparkan tatapan sayu ke Akashi.

"Salah. Apa yang Akashi-san rasakan itu bukanlah suka" ujar Seira. Akashi makin menggeram kesal. Perempuan di hadapannya ini benar-benar keras kepala.

"Kau yang salah, Seira. Sedari tadi kau terus menyangkal apa yang aku katakan. Apa suatu hal menahanmu? Atau ada yang membuatmu takut?"

Kini, Akashi berusaha menebak isi pikiran Seira lewat tatapan matanya. Sayangnya, seperti ada dinding virtual yang menghalangi Akashi untuk membaca pikiran Seira. Kuso! Apa Seira memiliki kemampuan khusus untuk memproteksi isi pikirannya?

"Tidak ada, Akashi-san. Itu hanya perasaanmu saja"

Akashi menarik sebuah kesimpulan dari jawaban yang diberikan Seira. "Kau menyembunyikan sesuatu"

"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, Akashi-san"

"Tidak! Kau pasti menyembunyikan sesuatu"

"Akashi-san, tidak ada yang aku sembunyikan. Aku percaya, sebenarnya Akashi-san mengetahui hal itu. Hanya saja mungkin, Akashi-san tak akan mau mempercayainya"

Seira beranjak dari bench, menyamakan posisinya dengan Akashi saat ini. Kemudian ia memundurkan dirinya beberapa langkah.

"Lagipula, mana mungkin orang sepertiku itu pantas dengan Akashi-san" ujar Seira dengan suara yang sedikit bergetar. "Diluar sana pasti ada orang yang lebih pantas dengan Akashi-san, dan orang itu jelas bukanlah diriku"

Seira mengepal erat kedua tangannya. Ia juga memejamkan matanya, berharap ia tidak menangis sekarang.

"Seira" Akashi berusaha menyentuh pundak Seira, tapi tangannya langsung ditepis begitu saja oleh Seira.

"Maafkan aku, Akashi-san"

Itulah kalimat terakhir yang Seira katakan sebelum berlari keluar dari gedung olahraga. Akashi membatu, begitu juga dengan para Kiseki no Sedai. Gedung olahraga pun langsung menjadi sunyi.

Yang benar saja, Seijuurou Akashi yang itu baru saja ditolak perasaannya? Tapi apa alasannya? Padahal selama ini Kiseki no Sedai beranggapan Seira dan Akashi saling menyukai satu sama lain hanya saja mereka sama-sama tidak mau mengungkapkannya.

Kuroko melirik ke arah sang kapten, ia mulai berpikir kaptennya itu akan merasa kesal lalu akan melampiaskannya dengan menyuruh Kiseki no Sedai mengalami latihan neraka yang dihiasi hujan gunting.

Sungguh ending yang tidak terduga.

Namun kali ini pemikiran Kuroko meleset. Akashi sama sekali tidak terlihat kesal. Sang kapten benar-benar sangat tenang saat ini, membuat ia dan yang lainnya merasa curiga.

"Satsuki"

"I-iya?" balas Momoi takut-takut. Ia tidak menduga namanya akan disebut pertama kali oleh Akashi.

"Kejar dan temukan anak itu. Ia pasti sedang menangis di suatu tempat sekarang" Setelah itu Akashi membalikkan badannya dan berjalan menuju loker. Sesuai dengan yang Akashi perintahkan, Momoi langsung keluar dari gym dan memulai pencariannya. Ia mungkin bisa bertanya alasan Seira menyangkal perasaan Akashi.


Seira mematikan air yang mengalir dari keran yang ada di wastafel taman belakang Teikou Academy. Tangan kanannya meraih sebuah sapu tangan putih dari saku roknya. Secara perlahan, ia mencondongkan tubuhnya untuk mendekati kolam air mancur yang berada disamping wastafel.

Seira mengamati pantulan dirinya yang berada di permukaan kolam. Datar tanpa ekspresi. Sedikit linangan air mata di sudut matanya. Sama sekali tidak ada semangat. Itu bukan dirinya! Dia tidak semenyedihkan itu. Seira mendesah panjang lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding kolam.

Tadi itu Akashi benar-benar menyatakan perasaan kepadanya? Akashi menyukainya? Lalu bagaimana dengannya?

"Apa aku menyukai Akashi-san ya?" gumam Seira sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Dipandanginya awan yang bergerak secara perlahan di langit.

"Tidak.. tidak boleh..." gumamnya lagi.

"Kenapa tidak boleh, Seira?"

Seira membalikkan tubuhnya dan mendapati Momoi berdiri beberapa meter dibelakangnya. Gadis bersurai pink itu menatapnya heran.

"Kenapa tidak boleh?" ujar Momoi mengulang pertanyaannya sekali lagi. Ia berjalan mendekati Seira kemudian duduk disampingnya.

Seira masih tidak mau menjawab, memancing rasa penasaran yang semakin bertumpuk di pikiran Momoi.

"Apa benar Seira tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Akashi-kun?"

Bingo! Itulah yang masih Seira pertanyaakan saat ini. Ia terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban yang akan ia berikan kepada Momoi.

"Mungkin sejauh ini, seperti itulah perasaanku terhadap Akashi-san"

Seira memalingkan wajahnya dari Momoi. Ia tidak mau temannya itu melihatnya dengan raut wajah seperti ini lagi.

"Baiklah kalau begitu.." Momoi membalikkan tubuhnya, kemudian ia mendongakkan wajahnya ke arah langit. "Hanya saja perlu Seira ketahui, Akashi-kun banyak berubah setelah kehadiranmu"

Kalimat itulah yang mengakhiri percakapan antara Momoi dan Seira. Sang manager kembali berjalan menuju gedung olahraga, sementara Seira masih terduduk di bangku taman.


Malam harinya, perasaan bersalah makin tambah dan terus bertambah seiring semakin larutnya malam. Seira berdiri bersandar di balkon kamarnya, ia menikmai hembusan angin malam yang cukup dingin.

Helaian rambut coklat tuanya melambai-lambai sesuai hembusan angin yang berlalu. Seira memangku dagunya dengan tangan kanannya, sementara manik ruby-nya menerawang ke langit yang dipenuhi oleh ribuan bintang.

Ditengah lamunannya yang sedang menatap bintang-bintang, Seira merasakan perasaan sesak yang semakin menyeruak didalam dada. Ia hanya bisa memejamkan matanya, dan berharap semoga saja usahanya itu bisa meredam perasaan yang mengganggunya.

"Seira sayang, kau belum tidur?"

Seira menoleh. Didapatinya sang ibunda berdiri di pintu balkon, tengah tersenyum lembut kepadanya.

"Sebentar lagi, kaasan" balas Seira. Ibunya mengangguk dan beranjak pergi dari kamarnya. Seira kembali mengalihkan pandangannya ke langit.

"Menghilang dalam kegelapan, wahai bintang harapan kecilku. Sihir yang kan mengisi malam ini. Malam ini perasaanku terus berganti. Mari kita bertemu dalam mimpi indahmu. Yakinlah tuk menemukannya~" Sambil bersenandung kecil, Seira memejamkan matanya kembali untuk beberapa saat, sebelum akhirnya putri tunggal keluarga Akari itu memutuskan untuk pergi tidur.


Seira melirik langit biru diatas kepalanya yang terlihat lebih cerah di pagi ini. Sambil sesekali merapihkan helaian rambutnya yang berantakan akibat tertiup angin, Seira berjalan menyusui koridor tingkat 2 untuk menuju kelasnya.

Sekolah masih sepi, meski begitu Seira melihat beberapa murid di sepanjang koridor. Seira memang sengaja untuk berangkat lebih awal pagi ini. Ia ingin menenangkan pikirannya dulu sebelum dimulainya kegiatan belajar. Langkah kaki Seira menggema di koridor yang masih sepi. Seira memejamkan matanya, tampaknya ia menikmati irama dari gema yang ditimbulkan oleh langkahnya.

Tap.. Tap...

Awalnya terdengar begitu kompak dan serasi.

Tap.. Tap Tap.. Tap.. Tap Tap..

Seira merasa iramanya mulai tak beraturan. Kemudian ia langsung menarik sebuah kesimpulan.

Ada seseorang yang sedang melangkah ke arahnya—mendekatinya.

Seira membuka kelopak matanya perlahan, menampilkan iris ruby-nya yang begitu menawan.

Skakmat!

Ah, ternyata.. itu... Akashi.

Seira langsung menundukkan wajahnya dengan cepat.

'Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?!' batin Seira menjerit. Masih ada jarak beberapa meter diantaranya dengan Akashi. Langkah apa yang harus ia ambil?

Apakah ia pura-pura tidak melihat Akashi dan langsung melewatinya begitu saja? Atau ia harus menyapa Akashi? Tapi awkward sekali rasanya jika tiba-tiba menyapa padahal kemarin..

Ya, padahal kemarin ia—mungkin—baru saja melukai perasaan sang kapten.

Tap.. Tap...

Jarak antara Seira dan Akashi semakin dekat.

3 meter.

2 meter.

Kemudian, tinggal 1 meter lagi.

'Apa yang harus kula—'

"Hm? Seira?"

Tubuh Seira langsung mematung mendengar Akashi menyebut namanya. Gadis itu langsung melemparkan senyum canggungnya. Ia menolehkan wajahnya takut-takut.

"O-ohayou, Akashi-san"

"Ohayou" balas Akashi singkat. Manik heterokomnya mulai mengobservasi Seira yang berada dihadapannya. "Bagaimana kondisimu?"

"Huh? Eh? A-aku baik-baik saja kok. Terima kasih sudah menanyakannya" Seira menundukkan sedikit kepalanya.

Suasana kembali canggung dan hening selama beberapa saat, sampai masing-masing indra pendengaran mereka menangkap suara bisikan dari tiga orang siswi yang berada sekitar 2 meter dari tempat mereka berdiri.

"Ara~ lihat, mereka sudah berduaan saja ya pagi-pagi"

"Rumor itu ternyata benar"

"Iya~"

SREEET

CKRISH

Tanpa aba-aba, Akashi melemparkan gunting merah keramatnya ke tiga siswi yang sedang asyik bergosip ria tersebut.

"Berhenti membicarakan hal yang sama sekali tidak benar. Aku tidak memiliki hubungan seperti yang kalian bayangkan dengan gadis ini" ujar Akashi monotone. Ia menatap penuh intimidasi ke siswi-siswi yang sudah berjengit ngeri atas lemparan gunting Akashi yang bisa dibilang tidak main-main.

"Ma-maafkan kami!"

Secepat kilat, para siswi itu berlari menjauhi lokasi pelemparan gunting dan menghilang diujung koridor.

Seira mengerjapkan kedua matanya selama beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat menghilang ketika melihat aksi lempar gunting. Akashi sendiri sudah kembali kalem. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.

Apa mungkin sekarang ini kesempatannya untuk yaaa meminta maaf atas insiden kemarin? Lagi pula, ada suatu hal yang membuat Seira penasaran.

Kenapa Akashi bersikap begitu tenang dihadapannya? Apa ia tidak marah pada Seira?

"Ano, Akashi-san" panggil Seira.

"Hn?" Akashi melempar pandangannya kembali ke Seira.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Akashi hanya menatap lurus Seira. Seira mengerti maksud dari tatapan itu.

"Ba-bagaimana perasaan Akashi-san ke-kepadaku uhm setelah kemarin?"

"Perasaanku? Tak ada yang berubah" jawab Akashi dengan santainya. Seira cukup terkejut mendengarnya. Setitik rasa kecewa hadir bersamaan dengan rasa lega. Ini aneh, batin Seira. Kenapa ia bisa merasa kecewa dan lega secara bersamaan?

"So-souka.. Arigatou"

Seira menurunkan pandangannya. Ia tidak berani melihat wajah Akashi. Rupanya perasaan Akashi belum berubah. Apa yang harus Seira rasakan? Senang? Sedih? Atau apa?

Tap..

Seira mendengar Akashi melangkahkan kakinya mendekatinya. Ia berjalan ke samping Seira lalu membisiki telinga gadis itu.

"You're my first love, Seira"

Wajah Seira merona mendengarnya. Bagaimana tidak, Akashi membisikinya hal seperti itu tepat di dekat telinganya! Bahkan Seira bisa merasakan hembusan nafas Akashi.

"Bagaimana denganmu? Masih sama?" tanya balik Akashi yang langsung mengalihkan perhatian Akashi.

"Hum.. iya" jawab Seira pelan disertai anggukan kecil.

"Apa ada seseorang yang kau sukai?" Akashi mulai curiga kalau Seira menyangkal perasaannya dikarenakan perasaan gadis itu sudah terikat pada orang lain.

"Tidak!" respon Seira cepat. Akashi kembali memutar otaknya. Kira-kira apalagi kemungkinan yang membuat Seira 'menolaknya'. Namun, Akashi tidak mendapatkan clue apapun. Sang kapten pun hanya menghela nafas panjang.

"Berarti tinggal bagaimana caranya membuatmu menyukaiku ya" gumam Akashi pelan namun masih dapat didengar oleh Seira.

"Ja-JANGAN!" protes Seira cepat—tentunya juga mengundang tanda tanya besar di benak Akashi.

"Tolong, jangan lakukan itu" sambung Seira. Aku mohon.."

'..biarkan aku terbebas dari perasaan aneh ini' lanjut Seira dalam hati.

Tidak ada satupun hal yang kurang dari Akashi di mata Seira. Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Kalau boleh dibilang, Seira sangat menyukai pemuda dengan tipe yang seperti Akashi.

Kalau begitu atas dasar apa Seira menolak jika Akashi ingin membuat ia menyukainya?

"Rilekskan dirimu. Kalau kau kaku begitu, kau seperti sedang memakai topeng"

Tampaknya Akashi tidak mau mempermasalahkan penolakan tegas dari Seira tadi. Mungkin, pemuda merah ini memiliki rencana lain. Rencana untuk mengungkap hal yang disembunyikan oleh Seira darinya.

"Eh?"

Benar juga. Untuk apa Seira kaku seperti ini. Ia justru malah mempercanggung atmosfer diantara dirinya dan Akashi. Seira tersenyum tipis. Nah, ini baru dirinya!

Seira mengadahkan wajahnya agar bisa bertatap muka dengan Akashi. Ia menyunggingkan senyuman andalannya dihadapan Akashi.

"Aku ke kelas dulu ya, Akashi-san. Jaa ne!"

Seira melambaikan tangannya sekali sebelum pada akhirnya berlari menjauhi Akashi. Sementara sang pemuda yang bersangkutan hanya terdiam. Tak lama, ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor tersebut.


Pulang sekolah.

Baru saja Seira menggeser pintu kelasnya, ia sudah dihadapkan dengan tujuh warna-warni rambut pelangi. Ah, Kiseki no Sedai dan Momoi. Ada apa ya?

"Seira! Mau ikut makan bersama kami gak? Ki-chan mau mentraktir kita semua loh~" ajak Momoi. Manager bersurai pink itu merangkul pundak Seira.

"Uhm, maaf ya semuanya. Aku sudah ada jadwal untuk hari ini. Maaf~" Seira menelungkupkan kedua tangannya. Ekspresi kecewa pun langsung terlihat jelas di wajah cantik Momoi.

"Yaaah~ Tapi, gak apa-apa deh. Lain kali, Seira mau ya makan bersama kami?"

"Hum! Tentu saja!"

Seira memutarkan pandangannya kepada tujuh teman pelanginya itu. Sampai saat ia bertukar pandang dengan Akashi, Seira dapat menangkap kilatan tajam pada sorot mata Akashi. Ia sempat sweatdrop saat melihatnya.

"Aku duluan ya. Daaah~"

Seira membenarkan letak tas di pundak kanannya sebelum berlari meninggalkan Akashi dan yang lainnya. Sepertinya ia sudah tak tahan pada aura aneh yang memancar di sekeliling tubuh Akashi.


"Seira Akari"

Mendengar namanya disebut, Seira langsung berdiri dari bangku di ruang tunggu dan langsung melesat masuk ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut didominasi warna putih. Bau obat-obatan kimia langsung menyambut kedatangan Seira. Seorang pria berumur sekitar 40 tahun duduk dibalik meja kayu berukuran sedang. Diatas meja tersebut terdapat banyak sekali tumpukan kertas.

Setelah beberapa lama berada di dalam ruangan tersebut, Seira pun akhirnya keluar. Di tangannya sudah terdapat sebuah amplop besar berwarna putih-biru muda dengan lambang sebuah rumah sakit di bagian atasnya.

"Haaaaaah~" Seira menghela nafasnya sesaat ketika sudah berada diluar ruangan. Manik ruby-nya melirik amplop yang sudah berada di tangannya sekilas. Setelah itu, ia memutar langkahnya. Seira berjalan menuju pintu keluar. Tetapi, baru saja ia berjalan beberapa langkah, Seira langsung berhenti saat melihat seorang pemuda bersandar di dinding yang tak jauh dari ruangan yang dimasuki Seira tadi.

DEG!

Bagaimana dia tahu kalau Seira ada disini? Apa dia mengikuti Seira secara diam-diam dari sekolah?

"A-Akashi-san?" sapa Seira takut-takut. Tangan kirinya menyembunyikan amplop yang baru saja ia terima.

"Oh, kau sudah keluar rupanya" respon Akashi santai. Pemuda itu langsung membenarkan posisi berdirinya. Kini, tubuhnya menghadap Seira. "Sedang apa kau disini?" tanya Akashi.

Tunggu, bukankah harusnya Seira yang bertanya seperti itu?

"Uhm aku etto.." Seira membuang pandangannya ke arah lain. Ia terlihat gugup. "Aku habis check-up seperti biasanya" lanjut Seira.

"Bagaimana hasilnya?"

"Ah? Semuanya baik-baik saja kok"

Sebelah alis mata Akashi terangkat. Ia merasa ada yang aneh.

"Benarkah? Aku ingin melihatnya" ujar atau mungkin perintah Akashi. Seira tampak ragu-ragu antara ingin menyerahkan amplop tersebut atau tidak.

"Tapi, Akashi-san sem—"

"Aku ingin melihatnya"

Seira menelan ludah mendengar intonasi yang dipakai oleh Akashi barusan. Menyeramkan. Ia pun menyerahkan amplop yang dipegangnya.

Manik heterokom Akashi bergerak dengan cepat dan juga teratur membaca tulisan pada beberapa lembar kertas yang berada di dalam amplop. Semuanya terlihat normal. Tak ada yang mencurigakan.

"Sudah kubilang bukan? Semua hasilnya baik-baik saja kok"

Akashi kembali memasukkan lembaran kertas hasil check-up Seira ke dalam amplop dan menyerahkannya kepada pemiliknya. Ia masih belum 100% mempercayai hasil tes itu, tapi.. ya sudah lah.

"Aku akan mengantarmu pulang"

Akashi membalikkan tubuhnya dan berjalan menyusuri koridor. Seira pun mengikuti langkah sang kapten. Ia berusaha berjalan beriringan dengan Akashi.

"Akashi-san ternyata seorang stalker ya~" ungkap Seira dengan wajah yang berseri-seri. Tentu saja hal itu memancing rasa kesal Akashi. Apa? Ia dibilang stalker?

"Aku bukan stalker, Seira" komentar Akashi dengan penuh penekanan.

"Heee? Tapi Akashi-san kan mengikutiku sampai ke sini" balas Seira. Ia melirik kening Akashi yang sudah mengerut.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu"

Setelah berkata seperti itu, Akashi mempercepat langkahnya keluar dari gedung rumah sakit. Kini, ia dan Seira berjalanan beriringan di halaman rumah sakit tersebut. Akashi mengamati keadaan disekelilingnya, sepertinya ia mencari dimana pelayannya berada.

Yah, walaupun kedua indra penglihatannya sibuk mencari keberadaan si pelayan, pikiran Akashi tidaklah sama. Pemuda bersurai merah cerah itu masih memikirkan masalah hasil check-up Seira.

"Seira" panggil Akashi. Yang dipanggil hanya melemparkan pandangannya—mengisyaratkan bahwa ia mendnegar panggilan tersebut.

"Apa yang kau sembunyikan dariku sebenarnya?" tanya Akashi penuh dengan aura intimidasi. Siapa tahu saja Seira takut dengan aura itu dan akhirnya memberitahukan jawabannya.

"Tidak ada, Akashi-san"

Kuso! Gadis yang satu ini memang keras kepala. Tapi, meski sekesal apapun ia kepada gadis itu, ia tidak bisa marah-marah atau mengancamnya dengan gunting seperti dulu. Seperti ada yang menahan Akashi untuk melakukannya.

Akashi memijat keningnya sesaat. Ia memikirkan cara bagaimana agar ia bisa merasa tenang. Sungguh, ia terus terpikirkan pada hal yang disembunyikan oleh Seira. Padahal, ia sudah menyuruh beberapa bawahan ayahnya untuk menyelidiki hal ini, tetapi tampaknya Seira sudah mempersiapkan segala hal untuk menyembunyikannya sehingga tak satupun informasi yang bisa Akashi dapatkan.

Akashi mulai merasa frustasi sepertinya.

Tak sengaja, sebuah ide mampir begitu saja di pikirannya. Meskipun dengan ide ini ia belum bisa mendapatkan jawabannya, setidaknya ini bisa 'meringankan' beban yang ada di pikirannya. Ya, beban dari sebuah dugaan terburuk yang pernah terpikirkan oleh Akashi tentang hal yang Seira sembunyikan.

"Aku tak akan bertanya lagi tentang itu" ujar Akashi. Manik heterokomnya menatap lurus Seira, sedikit membuat gadis yang ditatapnya menjadi gugup. "Tetapi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan diantara kita berdua?"

"Kesepakatan?"

Sebelah alis Seira terangkat. Kali ini apa hal yang diinginkan oleh Akashi? Kesepakatan apa yang ia maksud?


-tsudzuku-


Tatatararaaaaa~

Yokatta, saya bisa update ini seperti jadwal rutin saya di Unspoken Love *tebar konfetti*

Uhm, bales review dulu ya? ^^

Ecchan-san: Hehehe, iya nih Seira lagi jadi topik hangat~ Terima kasih ^^ Uhm, cinta segi empat ya? Akan coba saya pikirkan~

(Seira: sebenarnya ide dari Ecchan bertabrakan dengan alur yang sudah dibuat oleh master *lirik*)

Namikaze Hikari-san: Uwaa saya jadi terharu *ambil sapu tangan* Ahaha, Seira ada yang ngefans toh #ditampar sama Seira

Uhm, saya tidak janji *kabur dan ngumpet*

Oke, ini udah update~ Gimana? Sudah panjang kah?

lilindha-san:Sankyuuuu~ *ambil sapu tangan lagi* Kalau itu saya memang sengaja *dilemparin gunting* (maaf ya pen-namenya gak bisa ditulis full. entah kenapa ini kedua kalinya saya upload file tapi ada pen-name yang ngilang dan gak bisa di save)

Pairingnya? Uhm, pastinya Akashi sih. Tapi gak janji *ngumpet sebelum ada hujan gunting* Etto, disini ada adegan cemburu-cemburunya gak? *malah nanya* Semoga tidak mengecewakan ya!

Kalau masalah update rutin itu saya berusaha agar sama seperti jadwal update saya di Unspoken Love yaitu di setiap Jumat ssu~

Kumada Chiyu-san: Sankyuuuu~ *kali ini dilemparin ember karena berisik ngomong sankyuu terus*

Maaf untuk itu. Soalnya saya udah mempersiapkan itu di chapter.. uhm, chapter berapa ya? #slap

Yap, ini sudah update ssu~

NisapikoRii-san: Halo lagi Nisa-san ^^ Iyap. Video itu yang mengusulkan sang kapten tercinta kita semua :D dan seingetku di charabible, Midorima itu bisa main piano~

Ah iya, maaf saya lupa ngasih keterangan lagunya. Yang pertama pas sama Midorima itu lagunya Tomatsu Haruka judulnya Yume Sekai. Yang kedua, ketika bareng sama Yukari itu judulnya Madoromi no Yakusoku. Nah, Seira itu nyanyiin bagian yang dinyanyikan oleh Satomi Satou~ Yang terakhir, pas dia solo, itu lagunya YUI yang berjudul Tsubasa o Kudasai~ kalau mau tau terjemahannya nanti aku kasih via PM ssu~ ^^

Yak, sekian acara balas-membalas-dibalas(?) reviewnya.

Dan disini saya mau memberitahu. Kemungkinan di chapter depan saya mau masukin lagu lagi gitu kayak di chapter 1, tapi saya memutuskan akan nulis versi terjemahannya. Nanti di A/N seperti ini baru saja beritahu judulnya~

Mungkin sampai disini saja mengingat saya sudah terlalu banyak bicara di chapter ini..

(Seira: boleh minta review-nya, minna-sama? ^^)