"Argh! Mati kau, mati sana. Pergi ke alam baka!" eh? "Hah~ hah~" oh. Jadi pria berambut hitam ini kelelahan ya? Sedang apa sih dia?
Mari kita telisik. Pertama, ia mengatakan mati. Menyuruh mati dan ke alam baka dengan luapan emosinya. Tangannya tak berhenti bergerak. Eng~ sepertinya ia sedang memukuli—hah? Serius? Kim Jaejoong tengah memukuli seseorang? Tak mungkiiiiin, author akan berwajah horor jika ia melakukannya. Author sendiri yang akan segera melaporkannya pada pihak penghulu agar ia diberi hukuman sebuah pernikahan dengan Ju—ah, lupakan. Toh jodoh takkan kemana.
Sebaiknya kita lihat dulu benarkah ia tengah memukuli seseorang. Ayo lebih dekat melihatnya. Pria bermata besar dan memiliki bibir semerah ceri itu hanya mengenakan sebuah kaos tanpa lengan, keringat yang mengucur pada kulit porselennya benar-benar menunjukkan jika ia tengah kelelahan setelah menggerakkan tangannya untuk memukul berulang-ulang. Sebenarnya sedang memukul apa dia?
Ah~ ternyata begitu. Syukurlah, Jaejoong teguh pada prinsipnya jika ia takkan melakukan kriminalitas. Yah, kecuali pemerkosaan yang dilakukannya kemarin. Pemerkosaan kemarin ya? Pemerkosaan kemarin, eng~ Jaejoong termenung sejenak untuk memikirkannya. Hueeee~! Jaejoong sungguh ingin menangis dengan kencang bila mengingatnya. Tuhan ternyata sangat adil, sangaaaaat adil, sampai-sampai ia yang baru berniat melakukannya, mengapa Jung Yunho sialan itu yang melakukannya duluan. Menyebalkan~
Ini semua gara-gara sepupunya yang menyebalkan itu,
"Mati saja sana!" Jaejoong kembali melayangkan puku—oh tidak, kali ini sebuah tendangan dengan kekuatan maksimal pada sebuah sak tinju dengan poster Hyun Joong tertempel disana. Menyebabkan benda yang mirip bantal guling itu melayang jauh meski tak terbang bebas. Bagaimana mau terbang bebas? Bagian atas benda itu terikat membuatnya tergantung. Benda itu harus kembali meski ia tak mau dipukuli lagi oleh Jaejoong. Lagipula, itulah takdirnya, dipukuli ditendang, dicaci maki errr~ lupakan yang terakhir.
Ah~ sepertinya Jaejoong ingin membunuh sepupunya itu, errr~ nampaknya lebih cocok jika disebutkan bahwa ia ingin membunuh poster sepupunya itu. Ia berbalik, mempertemukan dua telapak tangannya dalam sebuah tepukan. Membersihkan debu yang menempel pada tangannya yang dibebat kain itu. ia sudah merasa lega sekarang. Ia tak mungkin membunuh sepupunya, ia tak mau jadi krimal ingat? Membunuh posternya sudah memberikan kepuasan tersendiri untuknya. Dan lagi, jika ia menghajar Hyun Joong, ada kemungkinan jika sepupunya yang tua itu membalasnya dan membuat kadar ketampanannya berkurang, kalau poster kan tidak. Hehehe~
Hmmm? Benarkah? Sungguhkah?
Buk!
"Aw!" yah, poster memang tak bisa membalasmu Kim, tapi ia sedang bersama sak tinju yang telah kau aniaya tadi. Mereka bisa bekerja sama untuk membalasmu. Bagaimana rasanya tertendang sak yang kau pentalkan tadi hm?
"Sialaaan." Gerutunya pelan. Rasa kesalnya pada Hyun Joong memang berkurang, tapi rasa sakit yang mendera dibagian bawah tubuhnya bertambah dua kali lipat. Sudah disakiti Yunho, kini sak tinju pun mencium bagian sana dengan romantisnya. Ouh, apa sak tinjupun ingin memperkosa dirinya?
-oOo-
MISSION O-CYOZORA
Yunho Jung x Jaejoong Kim
Suport cast:
Junsu Kim
Yoochun Park
Hyun Joong Kim
Rated: M
(authors 1st ff with this rate. So gomeeen if the ff gonna be failed too)
Genre:
Romance
Comedy
::BOYS LOVE, NC/LEMON, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::
© Yunho and Jaejoong have each other, the story line and idea pures mine ©
MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN DOSA ANDA SEMAKIN MENUMPUK, AI WARNING YU!
ENJOY~
-oOo-
Hyun Joong melipat kedua tangannya diatas dada. Bibirnya terus mengulum senyuman yang sebenarnya adalah tawa tertahan. Oke, cukup satu kali Jaejoong melempar bantal yang tepat mengenai wajahnya. Ia tak ingin sepupunya mengulanginya lagi. Terlalu sering berciuman dengan bantal bisa membuat ketampanannya terkalahkan nanti, bagaimana jika kekasihnya mencari pacar lain karena ketampanannya berpindah pada bantal. Atau jangan-jangan kekasihnya akan memacari bantal lagi. Membayangkannya saja sudah seram.
"Menyebalkan." Sekali lagi Jaejoong menggerutu. Nampaknya ia belum bosan pada satu kata itu. berapa kali ia mengulanginya dalam hari ini. Terhitung sudah ribuan kali nampaknya. Entah siapa yang mau menghitung, author hanya mengira-ngira.
"Jae~ hah..ha..haaah" Kim Hyun Joong juga belum bosan tawanya. Biar saja, perutnya sakit baru tahu rasa. "Kau it—"
Pruk!
Nah kan, mati-matian menahan tawa. Kini karena dua koma lima kata yang ia keluarkan ditambah dengan tawanya kini sebuah bantal mendarat romantis diwajahnya, lagi. Hati-hati Kim, jangan sampai ketampananmu berkurang lagi.
"Diam kau. Hapus rekamannya, kalau tidak kuberikan flashdiskmu pada bibi." Ujar Jaejoong dengan nada ketus. Ia melirik galak pada sepupunya yang kini tengah terduduk tetap sambil menahan tawanya didekat pintu kamarnya. Sedangkan ia, berada dikasurnya. Sedang berbaring dengan sebuah selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Menahan diri untuk tidak menghajar Hyun Joong secara langsung ternyata tak berpengaruh apa-apa pada usahanya untuk menjaga wajah tampannya terhindar dari babak belur. Pembalasan dendam sak tinju dan poster sepupunya itu sama parahnya. Ia membuat sak tinju itu terpental, dan sak tinju itu membalasnya. Sak tinju yang memang seharusnya kembali pada posisi normalnya menyentuh sangat lembut, aha tentu saja sebuah kata yang mengandung makna sarkasme. Karena sebenarnya sak tinju itu bagai menendangnya. Membuat bagian bawahnya semakin sakit dan mementalkan tubuhnya, membuat kening halus tanpa celanya tergores salah satu alat olahraganya. Yah, kini perban yang sama putihnya dengan kulit keningnya menempel manis menutupi luka disana.
"Kau tega sekali." Ancaman Jaejoong ternya cukup ampuh untuk menghentikan tawa Hyunjoong. "Baiklah, kita akan barter. Kuberikan kau rekamannya, dan kau kembalikan benda itu padaku." Tawar Hyun Joong. "Lagipula, bagaimana kau tak menyadari jika sak tinjunya akan kembali? Gyahahah~" Ohh, tawa Hyun Joong bukan karena 'pemerkosaan terbalik' ternyata. Ia hanya menertawakan kecerobohan sepupunya itu. Baginya, hal itu lebih lucu dibanding pemerkosaan berbalik takdir itu. Ah, kalau dingat-ingat, Jung Yunho itu keren. Ia bisa juga memikirkan cara seperti itu. Hmmm~ ia akan mencoba pada kekasihnya nanti, ia pasti akan terlihat lebih jantan nanti. Kekeke~
...
"Eh? Untuk apa kau ke Jepang?" Hyun Joong mengerutkan alisnya. Pernyataan Jaejoong membuatnya bingung, apalagi sekarang keadaan Jaejoong sedang tak begitu baik. Setidaknya kalau mau jalan-jalan harus memikirkan kondisi juga kan? Tak boleh terbawa nafsu. Jaejoong masih saja belum bisa memetik pelajaran dari pengalamannya kemarin, bahwa mengikuti nafsu sama dengan jalan sesat.
"Aku, akan mencari Jung Yunho." Jawabnya. Matanya terlihat penuh semangat ketika mengatakannya.
"Untuk apa kau mencarinya?" tanya Hyun Joong lagi, ia menatap bingung pada Jaejoong.
"Aku ingin balas dendam karena membuatku sakit dalam setiap langkahku." Jawab Jaejoong asal. "Makanya, berikan padaku alamatnya! Kau pasti mengetahui sedang apa dan dimana ia berada saat di Jepang kan?" brondong Jaejoong. Ia benar-benar harus membuat perhitungan pada Yunho. Kalau perlu, ia akan meniduri Yunho. Maksudnya, ia akan benar-benar memperkosa Yunho kali ini. Hitung-hitung satu sama dan ia tak jadi kalah atas kemarin. Hahaha~ rencananya hebat bukan?
"Baiklah, kuberi kau alamatnya. Tapi, jangan lupa memberi tahu bibi jika kau akan pergi. Aku tak mau kepalaku bersentuhan dengan stik golf kesayangan ahjussi." Hyun Joong mengangkat kakinya menaiki sofa. Sungguh tak sopan!
Jika saja Jaejoong sedang tak memikirkan Yunho, ia pasti akan menendang keluar sepupunya itu. tapi, ia masih membutuhkan sepupunya, ia harus bersikap manis untuk sementara waktu. Ah, ya. Sudahkah dikatakan untuk jangan terlalu cepat salah paham?Apalagi tentang Jaejoong yang sedang memikirkan Yunho. Ia memikirkan pria itu bukan dalam arti yang aneh-aneh kok, ia memikirkannya untuk balas dendam.
Ya, ya. Teruslah berbohong Jaejoong.
-oOo-
"Eh? Sungguh hyung mau ke Jepang. Aku mau ikut!" adik tunggal Jaejoong yang sedang bermain dengan lumba-lumba dikolam super dalam super besar itu mengangkat kakinya dari air. Tempo hari Jaejoong pernah berharap jika adiknya yang polos itu sedang bermain dengan lumba-lumbanya, hal itu sungguh-sungguh dalam arti yang sebenarnya. Hanya ikan lumba-lumba bukan perkara yang sulit untuk dikabulkan ayah mereka.
"Kita akan ke Jepang bersama," Jaejoong menghentikan kegiatan mengepaknya, ia melangkah mendekati sisi dari lantai yang dipijaknya untuk melihat adik tunggalnya itu di bawah sana.
"Sungguh?" oh, Jaejoong mengerutkan dahinya. Mengapa adiknya terlihat bersemangat sekali membicarakan tentang Jepang? Tak biasanya.
"Iya, tapi lain waktu." Pernyataan Jaejoong membuat binar-binar dalam mata adiknya lenyap seketika.
"Yah! Hyung! Kau jahat sekali, kenapa tak mau mengajakku kali ini? Kau tak punya uang? Biar aku yang membayar tiketku sendiri." Okey, ingatkan Jaejoong jika ia sangat menyayangi adiknya sekarang. Jangan sampai ia melemparkan vas bunga yang berada didekat kakinya. Penghinaan terbesar untuknya jika ada yang menyebut ia tak mempunyai uang.
"Aku kesana bukan untuk berlibur Junnie-ya. Aku harus menyelesaikan bussines-ku."
"Bisnis apa? bekerja saja kau belum. Kuliahmu saja masih menggantung." Yah, jika saja adiknya adalah adik durhaka yang menyebar fitnah tentang dirinya dan membuat ayah tirinya membencinya dan menikahkannya dengan pria yang tak dicintainya lalu akan merebut bayi pertamanya, ia pasti akan menyeburkan adiknya itu pada kolam paus. Ah, sayangnya disini tak ada yang seperti itu. lagipula Kim Junsu adalah adik yang baik, tak pernah berpikir sekalipun jika ia akan merebut putra yang dilahirkannya. Aish~ ia laki-laki. Mengapa di ff yang ia baca ia bisa melahirkan sih? Author menyebalkan.
Okay, tinggalkan pikiran aneh Jaejoong tentang itu. Beralih pada pernyataan menyebalkan namun benar dari adiknya itu, Jaejoong harus memikirkan jawaban yang membuat dinding harga dirinya tak hancur
"Kau tak perlu mengetahuinya. Lagipula, tak biasanya kau sangat memaksa, ada apa?" Jaejoong tak menemukan alasan yang cocok, jadi ia lebih memilih untuk mengalihkan topiknya. Ia menatap adiknya yang berada di lantai satu tingkat dibawahnya.
"Pacarku sedang berada disana." Hng~ jadi semu diwajah Junsu itu bukan ilusi wajahnya. Junsu sudah memiliki pac-PACAR?! Sejak kapan? Adiknya masih kelasa tiga sekolah tingkat atas loh? Ia saja belum mempunyai pacar saat itu. Sering kali ia kalah? Lawan Hyun Joong, ia kalah. Lawan Yunho, ia kalah. Sekarang lawan Junsu, ia kalah juga? My, my, tega sekali Tuhan padanya.
"Terserah, apapun itu. Aku berangkat sendiri." Enak saja, entah Jaejoong akan menghadapi hal apa dan bagaimana disana. Adiknya mau pacaran begitu? Hooooo~ sungguh adik yang baik. Mengerti sekali penderitaan kakaknya.
-oOo-
Jaejoong tiba di depan sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Tulisan-tulisan pada reklame yang bisa dijangkau oleh irisnya bukan lagi huruf hangul yang biasa ia lihat di kota asalnya. Kini yang ia lihat adalah tulisan yang gaya penulisannya memang sedikit mirip dengan tulisan yang biasanya menjadi tulisan sehari-hari yang digunakannya, namun sebenarnya sangat banyak berbeda. Ng~ kanji kah? Sepertinya itu benar jika ia tak salah.
Jaejoong memang tak lagi berada di Korea. Kini ia telah berpindah negara, ia berada di Jepang. pada malam itu, ia sangat ingat jika Yunho akan pergi ke Jepang pada esok paginya. Berbekal sedikit ancaman untuk sepupunya, ia mendapatkan alamat kantor dari pemilik mata tajam dan berkarisma itu.
Hm, sekarang ia telah berada didepan kantor yang ditunjukkan alamat yang diberikan Hyun Joong tersebut. Ia belum berani melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam dan menekan angka 18 pada lift di dalam sana. Ia harus memikirkan alasan dirinya berada disini. Sudah cukup karisma dan keperawa—keperjakaannya yang diambil oleh Yunho. Ia tak mau harga dirinya juga diambil pria itu. tidak, terima kasih. Dua hal diatas sudah cukup banyak, ia tak boleh memberi celah kepada Yunho untuk mengambil hal lain pada dirinya nanti.
Apa yang harus ia katakan pada Yunho? Oh ayolah, sebaiknya pikirannya cepat memproses data. Hari mulai mendekati jam pulang kantor. Jika ia tak cepat, mungkin ia akan kehilangan Yunho hari ini. Cepatlah otak, cepat.
Takdir sedang senang mempermainkan Jaejoong nampaknya. Otaknya belum memberinya data, tapi pria itu sudah tiba. Ah, mengapa Yunho tampan sekali menggunakan jas hitam kebiruan seperti itu? membuat Jaejoong semakin tak fokus saja.
Sebaiknya Jaejoong menghentikan semua itu. ia harus menghampiri Yunho. Tak peduli ia telah menemukan alasan atau belum. Tak peduli ketampanannya yang mungkin akan tiba-tiba menysut ketika berada dekat dengan Yunho. Ia harus jika ia tak mau Yunho pergi atau pulang kerumahnya. Hyun Joong hanya memberinya alamat kantor ini, jika ia kehilangan Yunho disini maka habislah sudah.
Sekarang, tak jauh didepannya. Yunho sedang menunggu mobilnya, sepertinya. Ia sedang bersama seorang pria berkacamata, mungkin pegawai atau temannya. Mereka terlihat akrab sekali, membuat Jaejoong cemburu saja. Huh~
Jaejoong menormalkan ekspresinya, ia menghela napasnya beberapa kali. Entah mengapa kegugupan datang menyerangnya saat akan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Yunho. Ia tahu ia sedang gugup, ia juga belum menemukan alasan untuk Yunho, namun jika ia tak melangkah sekarang mungkin ia hanya akan menyesal saja nantinya.
Jadi,
"Hai, Jung Yunho." Akumulasi kegugupan dan otaknya yang mendadak kosong hanya bisa membuat Jaejoong menyapa Yunho dengan tiga kata tersebut. Nampaknya tak masalah untuk pria itu, hanya saja ekspresi apa yang ia pasang di wajahnya yang tampan itu? "Kau tak mengingatku?" tanya Jaejoong sangsi. Dalam hatinya bahkan terasa mencelos. Mengapa bisa? Padahal baru semalam mereka—lupakan. Apa Yunho mabuk malam itu ya?
"Kau?" Yunho menunjuk Jaejoong dengan Jari telunjuknya. Bagi Jaejoong cara Yunho menunjukknya dan alisnya yang terangkat sudah menjadi jawaban yang pasti. Yunho tak mengingatnya. Hhh~ entah mengapa dadanya terasa nyeri. Lagipula apa yang ia harapankan dengan datang kemari sebenarnya? Sungguhkan ia hanya mau membalas dendamnya pada Yunho? Atau ia hanya merasa ingin bertemu Yunho? Sosok yang memilikinya semalam seolah memberinya ikatan benang merah. Tapi, dengan sikap yang ditunjukkan Yunho sekarang ini, namapaknya Yunho tak sedikitpun peduli padanya.
"Ah, sepertinya aku salah orang. Maafkan aku, aku permisi." Jaejoong tak sanggup jika berada disini lebih lama lagi. Jadi, setelah ia mengatakan kalimat untuk pamit. Ia segera menyeret kopernya menjauh dari sana. Jika Yunho mengingatnya, mungkin Yunho akan menahannya.
Satu langkah,
Dua langkah,
Tiga langkah,
Tak ada? Tak ada panggilan Yunho untuk menahannya. Hhh~ sepertinya pria itu memang melupakannya. Mengapa ia menjadi sangat berharap jika Yunho akan menahannya? Aneh. Mungkin sebaiknya ia pulang saja, ia tak mau menjadi lebih aneh lagi karena berada di negara orang ini.
Meninggalkan Jaejoong, kembali lagi pada Yunho. Pria yang terus menatap punggung Jaejoong atas kepergiannya. Matanya berkedip, otaknya berpikir. Tadi itu~ siapa ya?
"Hyung, tadi itu siapa?" nah, pria yang berada disampingnya menyuarakan pertanyaan dalam batinnya tadi.
"Aku juga ingin mengetahuinya Chun." Jadi Yunho benar-benar melupakan Jaejoong.
"Tapi dia mengenalmu. Jangan-jangan dia fansmu."
"Aku juga mengenalnya. Dan dia bukan fansku, tapi untuk apa ia berada disini? Bukankah semalam ia berada di Korea?" tidak? Yunho mengingat Jaejoong. Aih, sebenarnya Yunho mengingat Jaejoong atau tidak sih? Yunho malah menyentuh dagunya saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berhubungan dengan pria yang berada lumayan jauh darinya sekarang ini.
"Kau mengenalnya semalam? Rekan bisnis?"
"Bukan, aku bermalam dengannya semalam." Ups, tidakkah Yunho salah berucap? Lihat saja, pria yang lebih pendek darinya itu melebarkan mata dibalik kacamata yang dipakainya itu.
"Ka-kau, apa? bukankah kau—?"
"Aku hanya bersenang-senang saja. Kau pulanglah, jangan menggangguku ketika bekerja. Aku harus mengejarnya." Yunho menepuk bahu pria itu, ia segera berlari kecil setelahnya.
"Kau bisa menjadi gay hyung, kau yakin akan mengejarnya? Dan Jangan lupa, bantu aku nanti! Kau harus menyusulku." aih, mana bisa menjadi gay hanya dengan mengejar pria itu? Park Yoochun tak masuk akal.
...
"Hei kau! Tunggu dulu!" teriak Yunho ketika jaraknya dengan Jaejoong tak begitu jauh. Mendengar suara yang selalu membuatnya serasa meleleh tak mungkin membuat Jaejoong tak menghentikan langkahnya. Yunho mengejarnya? Sungguh? Mungkin sebaiknya ia memastikan hal itu, ia harus melihat kebelakang untuk mengetahuinya.
"Yun?" matanya melebar perlahan ketika Yunho mulai mengeliminasi jarak diantara mereka.
"Ada apa? kau datang dari korea?" tanya Yunho ketika ia tepat berada dihadapan Jaejoong.
"Ng~ itu—"
"Kau hamil? Mau meminta pertanggung jawabanku? Tapi bukankah milik kita sama? Apa ada pria yang bisa hamil? Kau bisa hamil?" brondong Yunho.
O.O
Krak!
Gubrak!
Bukan, itu bukan imajinasi. Mata Jaejoong memang membulat, hampir ia mematahkan pegangan kopernya karena ia menekannya terlalu kuat dan menyebabkan koper itu terguling dengan indahnya. Apa-apaan sih tuan Jung ini. Itukan tak mungkin~
"Kau jangan sembarangan! Aku hanya ingin membuat perhitungan!" jangan tanya bagaimana ekpresi Jaejoong sekarang, pipinya menghangat dan entah mengapa berubah seperti kepiting yang terkena air panas. Kedua tangannya terus bergerak untuk menutupi wajah yang menurutnya memalukan itu.
"Maksudmu apa?"
"Kau memperkosaku semalam," aish~ mengapa bibirnya harus mengucapkan hal ini didepan Yunho? Ini sungguh memalukan! Memangnya ia seorang gadi yang bisa diperkosa. Lalu apa gunanya otot dan perut kotak-kotak yang dilatihnya selama ini? Yayaya! Jangan bahas okay? Jaejoong tahu, jika dipikir dan dilihat, perut kotak-kotak Yunho lebih seksi dan gentleman. Puas?
"Eh?"mari beralih pada Yunho yang sedang melongo tak elit, sungguh tak Jung sama sekali. Sepertinya ia tak mengerti maksud Jaejoong.
"Seharusnya kau melayaniku, bukan aku yang melayanimu. Aku kan sudah membayar mahal." Tidakkah kebohongan ini terlalu jauh? Faktanya, Yunho tak menerima sepeserpun dari Jaejoong. Andai saja ia tak menikmatinya semalam, ia benar-benar seorang korban.
"Begitu yah? Bagimana jika kita lakukan sekali lagi?" Yunho yang masih berpikir jika Jaejoong salah paham mengikuti alur yang dibuat Jaejoong. Bagaimana dengan Jaejoong? Lagi-lagi ia membulatkan matanya. Aduh, ottokhae? "Baiklah, kau datang jauh-jauh dari Korea. Akan kuberi servis penuh padamu." Yunho meraih koper yang ditelantarkan Jaejoong dan mulai melangkah.
-oOo-
"Jangan dulu bergerak. Ini butuh penyesuaian," suara Yunho terdengar, errrr~ ia meminta Jaejoong jangan bergerak. Nampaknya ia memang belum bisa menyesuaikan jika dirinya dirasuki. Apalagi lihatlah, Jaejoong berada diatas tubuhnya yang berpeluh. Kulit porselen itu sama berpeluhnya dengannya. Jaejoong terlihat kewalahan dengan posisinya saat ini.
"Yunh~ ak-aku." Benar saja, belum selesai ia mengutarakan maksudnya, ia telah ambruk pada tubuh kekar Yunho. Yunho tak melakukan apapun pada bagian tubuh dibawah sana yang sedang melakukan penyatuan, tangan kanannya bergerak menyentuh lembut leher Jaejoong, berniat memeluk pria itu. "Nghhh~ Yu-Yunhhh." Sudut bibir Yunho tertarik ke atas, hanya sebelah kirinya saja. Itu bukan senyuman. Itu sebuah seringaian yang muncul karena suara yang Jaejoong desahkan.
Ia tak puas, tangannya yang terdiam di ceruk leher putih itu bergerak perlahan untuk turun kebawah, tangan itu menyelusuri punggung yang sama halusnya dengan kulit di bagian apapun Yunho menyentuhnya.
"Ahnnn~, bisa-bisakah kau berhentihh?" matanya yang tertutup tak membuat Jaejoong melupakan protesnya.
"Bukankah kau bilang aku harus melayanimu?" tanya Yunho, tangannya tak lagi bergerilya. Jaejoong mengerutkan bibirnya kesal. Iya, Yunho melayaninya dan ia melayani Yunho. Apa bedanya? Maksudnya kan bukan yang seperti ini. "Kau sudah terbiasa? Bergeraklah." Jadi, Yunho benar-benar berada dibawah? Eh, posisinya memang berada dibawah Jaejoong. itu tak mesti dipertanyakan lagi.
"Aku tak bisa Yunh.." sebenarnya Jaejoong ini apa-apaan? Mengapa ia seperti ini? Mengapa ia melakukan ini?
"Tak bisa? Baiklah aku yang bergerak." Okey, nampaknya akan terjadi posisi uke on top disini. Yunho membalikkan posisi mereka, membuat ia menindih Jaejoong sekarang. "Aku akan bergerak." Yunho mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Tunggu sebentar, Yunho menggerakkan tubuhnya maju mundur? Bukakah seharusnya naik turun? Bukankah ia sedang melayani Jaejoong?
"Ang~! Sial. Di-disanah ahhh.. ahnnn~" bukankah itu suara Jaejoong? Mengapa ia yang mendesah?
"Aku tahu, nikmati saja." Sebenarnya bagaimana ini? Yunho menyuruh Jaejoong untuk menikmati dan Jaejoong mendesah? Jaejoong tetap tak bisa memperkosa Yunho ya?
"Nghh~ Yun, lebihh cepat la—ang~ ahhhn.. ahhh." Yap, Jaejoong memang gagal lagi dalam misinya kali ini. Ia tetap memiliki posisi yang dirasuki, bukan yang merasuki. Ah, tak peduli akan hal remeh macam itu, sekarang lebih baik ia menikmati kecepatan yang ditambah Yunho. Ia baru tahu, jika rasanya akan sangat berbeda dibanding hanya ia yang bergerak ketika dengan kekasih-kekasihnya. Belum pernah ia merasakan perutnya yang seolah digelitik ribuan sayap halus kupu-kupu dan membuatnya terasa akan meledak.
Yunho menggeram ketika merasakan miliknya bagai dipijat, sepertinya Jaejoong akan sampai.
"Sebut namaku." Yunho merundukkan tubuhnya tanpa mengurangi kecepatan gerakannya. Ia membisiki Jaejoong dengan satu kalimat dua katanya. Nampaknya akan sangat menyenangkan jika namanya disebutkan ketika pria ini sampai puncaknya. Apalagi dengan suara yang dimiliki pria dibawahnya ini. Ia yakin takkan bertahan lama dengan cairan yang tengah berkumpul dibawah sana.
"Yunhh~ Yunh-aaahn, ohh~ Yunh." Well, Jaejoong menjadi anak baik jika dalam keadaan seperti ini, tanpa mengaji ucapan Yunho terlebih dulu, ia langsung melakukan eksekusi atas printah tersebut. Jaejoong menutup matanya ketika ia merasakan bahwa ia akan tiba.
"Anghhhh~ Yunho! Ha.. ha~" baiklah, Jaejoong sampai pada puncak ketinggian. Yunho membiarkan pria dibawahnya ini menikmati hal yang menjadi tujuan akhir dari kegiatan yang mereka lakukan saat ini. Mata tajamnya memperhatikan setiap detil yang ada dalam wajah maupun tubuh Jaejoong. dua kali ia melakukan hal ini dengan pria, pria asing pula. Bahkan ia belum mengetahui nama pria bermata besar ini. Nampaknya Yoochun benar, ia akan menjadi gay setelah mengejar Jaejoong. bagiamana bisa, ia malah menikmati kegiatan ini? Padahal sebelum malam tadi, ia tak pernah berniat sedikitpun untuk menyentuh seorang pria betapa cantiknyapun ia.
Atau, ini karena ia sangat menikmati mempermainkan seseorang?
Tidak-tidak, apa ia sejahat itu? mempermainkan seseorang? Ia tak pernah ingin menyakiti orang sekalipun itu orang lain. Jadi sebenarnya—ah, sebaiknya ia melupakan hal itu. Ia harus menyelesaikan dulu miliknya. Setelah itu, ia akan menganggap semua ini selesai. Pria dibawahnya inipun pasti akan menganggapnya seperti pria-pria lain yang pernah melayaninya kan?
Yah, itu benar. Karena Yunho tak mengetahui jika ia dan Jaejoong sama. Sama-sama pertama dan kedua kalinya melakukan hal ini dengan pria, dan dengan orang yang sama.
-oOo-
Hari sudah beranjak malam, terang mentari kini hanya bisa digantikan bulan. Yunho dan Jaejoong sedang berada di lobi bandara internasional Jepang, Narita.
"Aku harus ke Amerika malam ini. Yoochun butuh bantuanku untuk prensentasinya nanti." Entah mengapa, author merasa Yunho seperti seorang suami yang sedang pamit pada istrinya.
"Ung~" dan Jaejoong, hanya membalas imut dengan anggukan kepala menyertainya. Seperti pengantin baru yang baru saja melakukan malam pertama.
"Bagi penumpang yang akan melakukan penerbangan ke Newyork dengan Japan Air Lines diharapkan segera memasuki pesawat!" suara yang membahana pada seluruh kawasan bandara itu membuat Yunho mengalihkan perhatiannya dari Jaejoong. Ia mendekati Jaejoong sebelum menyentuh poni yang menutupi mata bening itu.
"Siapa namamu?" Entah apa yang terjadi padanya, bukankah Yunho ingin semua ini berakhir? Untuk apa menanyakan nama Jaejoong? apa itu perlu? Ia hanya menjalankan peran menjadi seorang pria pemuas nafsu untuk Jaejoong kan?
"I-Kim Jaejoong."
"Baiklah," Yunho menyurukkan kepalanya ke ceruk leher bagian samping milik Jaejoong.
"Ahnnn~" sial, banyak pasang mata menonton mereka karena apa yang Yunho lakukan. Kini semakin banyak yang melihatnya karena suara yang ia keluarkan. Apa Yunho sudah gila? Mereka sedang berada ditempat umum sekarang. Mengapa ia menjilat bagian leher yang dikenai lidahnya? Ia jadi mendesah kan? Memalukan!
"Yunh," Nah, sekarang malah menggigit. Itu kan sakit, emm~ sedikit nikmat sih.
"Anghh~!" sekarang apa lagi? Harus ya menghisap leher Jaejoong di situasi seperti ini?
Jadi, apa yang Yunho lakukan? Menjilat, menggigit dan menghisap. Yap, a bite.
"Aku pergi," Yunho mengangkat wajahnya untuk kemudian bertatapan dengan wajah bak kepiting rebus milik Jaejoong. "Aku akan menemukanmu dengan tanda ini." Kemudian kembali ketempat dimana sebuah tanda merah menghiasi kulit porselen itu dengan indahnya untuk mengecupnya.
Kaki panjang itu melangkah meninggalkannya. Mata bulatnya tak melepaskan Yunho sebagai objeknya sampai punggung yang kokoh itu tak lagi dapat dijangkau oleh matanya. Yunho mengatakan jika dengan tanda ini ia akan menemukannya, jadi apa akan ada pertemuan ketiga untuk mereka? Entah mengapa Jaejoong sangat senang mendengarnya.
Ngomong-ngomong tentang tanda? Mengapa ia pasrah sekali saat Yunho mempermalukan dirinya pada orang-orang yang hingga kini tengah menatapnya. Hueh~ Tuhan, jagalah wajah bening seputih salju ini tak berubah warna, pleaseeee.
Seharusnya ia menendang Yunho saja tadi. Eh tapi, Yunho memang memiliki kekuatan yang tak ia mengerti. Banyak sekali hal yang disedot Yunho dalam dirinya. Terakhir menghitung ia menjumlahkan ada dua, sekarang nampaknya akan bertambah lagi.
Tidak-tidak, jangan sampai. Cukup sudah, Jaejoong lebih baik menghentikan perasaan aneh yang menggelayutinya. Ia harus mencegah Yunho mengambil hatinya. Ia tak boleh menjadi gay. Anggota keluarga Kim tak boleh ada yang menjadi gay sebanyak tujuh generasi. Walaupun Hyun Joong telah keluar Jalur sih. Karenanya, ia dan Junsu harus menjadi pria lurus saja. Baiklah, ia pasti bisa.
Omong-omong tentang Hyun Joong, Jaejoong harus segera mengancamnya untuk memberikan rekaman kegiatannya dengan Yunho malam itu. Biarlah ia kalah, karena Yunho sudah terlampau banyak mengalahkannya. Ia kalah telak, tak mungkin mengusahakan kemenangan lagi. Ia mungkin akan mencari korban lain saja nanti.
Yunho sudah pergi, Jaejoong menghela napasnya sebelum memegang pegangan kopernya. Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari bandara tersebut.
Satu langkah yang damai,
Dua langkah yang tetap damai,
Tiga langkas yang sama damainya,
Empat lang—eh, sebentar. Kedamaian pada langkah keempat harus diusik dengan pemikiran Jaejoong. Langkahnya yang damai memangnya mau membawanya kemana? Ini Jepang, bukan Korea. Untuk apa ia menetap jika alasannya untuk datang maleh pergi ketempat yang jauh di Barat sana.
"Paboya." Sebaiknya ia pulang saja kekorea dan menghajar Hyun Joong dengan ancamannya.
-...-
Makasih yang reviews di Chapter kemarin *bungkuk-bungkuk* Maaf yah, aku ngerasa chapter ini gx sebagus yang pertama. Tapi, sesuai Janji aku, aku tambah Chapternya :3 bikin nc bener-bener susah ToT
Makanya, terlihat seperti NC tersirat juga nggak apa-apa deh *nangis sambil ikutan JungYJ ketawa* and ya, aku pengen ngasih tau kamu Kim Eun Sob itu bukan di skip, tapi memang kemampuan aku Cuma segitu, T.T trus, Yuno mesum kok, kan aku tulis ada kabut dalam mata papi. Kata ff rate M yang aku baca, kalo udah nafsu kan matanya nggak bening lagi. Tau deh bener atau nggak .9.
Hihihi, Jeje kan memang nggak keliatan pantes kalo buat jadi seme, belum nyadar dia uke sejati tuh everadit dan 3kjj, makanya dia gagal mau ngegituin Yuno YunHolic. Nggak lucu ah kalo papi mendesah. Apa lagi dia belum banyak pengalaman, makanya sampe salah target kayak yang kamu bilang sarang. Aku malah curiga kalo dia naksir Yunho sebagai seme absolut plus Ultimate sebelum dia ngeh. Yah, Kasian atau nggak, itu takdir Jeje untuk berada dibawah Yuno. Iyakan jae sekundes? Yep, salam kenal. Semangat untuk terus berkaya ya!
Iyah, aku lanjut. Tapi ini bakal jadi fic ringan dan nggak terlalu panjang kok missjelek, yoon HyunWoon, AnieJOYERS, Hana – Kara, Neliel Minoru yang nggak aku injek, Keybin dan CassieChlaraOpeia. Baca terus, siapa tahu kalian dapet apa yang kalian mau dari ff ini. Jeongmal khamsahamnida untuk review kalian.
O-Cyozora
