"Good morning, Sleeping Beauty."

Sasuke merenggangkan tubuhnya dengan mata masih terpejam sementara ia mengerang pelan merasakan kecupan bibir Naruto di pipi dan lehernya.

"Naruu, stop it," Sasuke membuka matanya yang masih terasa sangat mengantuk dan mendorong wajah Naruto dengan dua tangannya.

"Kalau begitu ayo bangun, mau sampai jam berapa kau tidur," Naruto hanya tertawa melihat wajah moody Sasuke menatapnya, sementara ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.

"Kau sudah mandi?"

"Hmm."

"Kenapa tidak bangunkan aku."

Naruto kembali menatap Sasuke dan menaikkan satu alisnya. "Kenapa memangnya?"

"Mau mandi bersama?" Sasuke duduk dan merenggangkan tubuhnya sekali lagi, membuat selimut yang menutupi tubuhnya jatuh dan menampilkan dirinya yang tidak memakai apapun setelah aktifitas semalam.

"Uh, kalau kita melakukan itu rencana hari ini pasti akan gagal semua," Naruto menatap tubuh Sasuke yang perlahan menyingkirkan selimut seluruhnya dan merangkak mendekat ke arahnya.

"Hey, wajahku di atas sini," Sasuke memegang dagu Naruto dengan jarinya dan tersenyum menggoda.

"Bagaimana kalau kau mandi saja sana sebelum aku mengikatmu ke ranjang dan menyetubuhimu sampai malam?" Naruto menggerakkan tangan kanannya ke punggung telanjang Sasuke sambil mendekatkan wajahnya untuk mengecup wajah pria di depannya.

"Mmh meski terdengar menyenangkan, rasanya percuma kita jauh-jauh ke sini hanya untuk melakukan seks," meski Sasuke tak meghentikan Naruto dan hanya menggeliat pelan merasakan jari-jari Naruto menelusuri tubuhnya.

"Jadi kita tidak akan melakukannya sama sekali?" Naruto membuka mulutnya dan menggigit tulang selangka Sasuke pelan sementara satu tangannya bergerak semakin ke bawah.

"Kalau kau bisa meyakinkanku, mungkin bisa kita dedikasikan hari terakhir untuk itu," Sasuke mendesah pelan dan mendongakkan kepalanya merasakan tangan Naruto bergerak ke bokongnya.

"I'll do it for sure," Naruto menepuk pantat Sasuke perlahan sebelum menarik dirinya perlahan, sementara Sasuke hanya memutar bola matanya dan beranjak ke kamar mandi.

"Sudah siap?" Sasuke menatap ke samping dan mengangguk saat Naruto melingkarkan kedua tangan di pinggangnya dari belakang dan mencium pipinya.

"Kalau begitu ayo mencari sarapan."

"Kalau begitu bagaimana kalau kau lepaskan dulu tubuhku?" Sasuke berdecih pelan sementara Naruto justru mengeratkan pelukannya. Entah karena lama tak bertemu atau karena mereka memiliki banyak waktu untuk mereka sendiri saat ini, Naruto selalu menempel padanya sejak kemarin, bahkan lebih parah dari biasanya.

"Naruto."

"Hmm?"

Sasuke memaksakan diri untuk berbalik dan menghadap Naruto sambil ia mencubit pipi Naruto dengan kedua tangannya. "Buka mulutmu."

"Huh?" Naruto memiringkan kepalanya namun melakukan apa yang ia minta dan membuka mulutnya. Seketika Sasuke melakukan hal yang sama sebelum menyatukan mulut mereka, hingga tak sampai beberapa detik sampai mereka memperdalam ciuman hingga saliva dan lidah menyatu, meninggalkan jejak dan suara basah bersama atmosfer yang semakin menghangat.

"Hahh…" Sasuke menarik wajahnya dan menjilat bibirnya sambil menarik napas dalam, sementara Naruto terlihat speechless sambil menatapnya. "Apa?"

Naruto mengusap bibirnya dengan ibu jari sambil tersenyum mesum. "Uh, bisa kita melakukannya lagi? Lebih lama."

"…" Sasuke dengan paksa melepaskan diri dan berjalan keluar kamar hotel meninggalkan Naruto yang tertawa di belakangnya.

"Sasuke, aku ereksi."

"Go die."


Love Me, Love You ch. 2

© Kei

warnings: cheesy, plotless, porn, vulgar and dirty language

[—because like you belong to me, I belong to you]


Pagi itu mereka habiskan dengan berkeliling di sekitar hotel sambil mencari sarapan pagi, berhenti di beberapa tempat saat Naruto memaksa Sasuke untuk menjadi model dadakannya. Naruto tidak akan bisa diam jika ia menolaknya, jadi sementara ia masih memiliki kesabaran yang cukup ia hanya menuruti apa yang Naruto inginkan.

Hingga hampir jam 10 sebelum mereka kembali ke hotel dan menyiapkan apa yang akan mereka bawa ke pantai. Mereka menaiki taksi yang disediakan oleh pihak hotel dan tiba di pantai yang mereka tuju hanya dalam lima belas menit.

"Uhh, panas."

Naruto menatap Sasuke yang membawa kipas untuk menutupi wajahnya yang sedikit memerah karena cahaya matahari dan mencubit hidungnya, Naruto tahu bahwa Sasuke sangat tidak menyukai musim panas atau cuaca panas, namun datang ke Okinawa adalah keinginan Sasuke dan ia pun sempat bertanya-tanya pada pilihan kekasihnya tersebut.

"Lain kali apa kita harus ke Hokkaido?"

"Atau Paris, mungkin?" Sasuke mengikuti Naruto dan menunggu beberapa saat sampai mereka bisa menempati salah satu payung pantai yang tersedia dengan dua tempat duduk dan satu meja kecil berada di tengah.

"Mau pesan sesuatu?"

Sasuke menggeleng dan duduk di kursinya sambil mengibaskan kipas yang ia pegang di depan wajahnya. Meski telah menggunakan sunblock rasanya ia tetap tidak akan mau berpanas-panasan seperti yang orang-orang lain lakukan di sini. Saat Naruto tak menjawabnya lagi, Sasuke mendongak untuk menemukan Naruto yang tengah menatap ke serombongan gadis berbikini seksi tak jauh dari mereka.

"Aww!" Naruto meringis dan menatap ke arahnya saat Sasuke mencubit pinggangnya dengan keras. "Apa? Aku kan hanya melihat-lihat."

"Hmph."

"Mau berenang?"

"Tidak mau."

"Main pasir?"

"…"

"Setidaknya—"

"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Selamanya."

Naruto hanya sweatdrop menatap Sasuke yang mengatakan hal tersebut dengan serius. "Kalau begitu untuk apa kita ke sini."

"Kau saja yang berenang."

Naruto hanya mengangguk dan mengambil kameranya. "Kalau begitu sebelum aku basah, boleh kufoto dulu?"

"Sejak kapan kau minta izin," Sasuke hanya memutar bola matanya dan membiarkan Naruto mengambil fotonya beberapa kali. "Sudah sana pergi," Sasuke memutar bola matanya dan melempar handuk kecil ke wajah Naruto yang tak juga berhenti memfotonya.

"Uh huh, okay. Panggil kalau butuh sesuatu, ya," Naruto melepas kaosnya dan meletakkan di kursinya, menyisakan celana pendek berwarna hitam yang masih dipakainya. Sudah terlalu sering Sasuke melihat tubuh Naruto bahkan saat telanjang, namun rasanya saat ia topless di depan orang lain seperti sekarang, Naruto terlihat lebih seksi dan Sasuke tidak rela orang lain melihatnya juga.

Wait what—rasanya aku baru saja memikirkan sesuatu yang menggelikan.

Sasuke memesan empat gelas minuman dingin (sudah ia habiskan dua), dan hanya berbaring di kursinya sambil menutupi wajahnya dengan handuk. Ia tidak pernah paham orang-orang yang rela berjemur di bawah terik matahari selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan kulit cokelat, sedangkan ia yakin berada di bawah matahari musim panas selama tiga puluh menit akan mengubahnya menjadi ikan asin.

Ia kembali duduk setelah beberapa saat, mengedarkan tatapannya ke sekitar untuk mencari Naruto, dan dahinya terasa berkedut kesal menatap Naruto yang dikelilingi oleh beberapa gadis sedang bermain voli pantai (sebenarnya ada beberapa laki-laki, namun mari kita abaikan karena Sasuke lebih fokus terhadap para gadis). Mungkin salahnya juga karena tidak mungkin Naruto akan menyendiri seperti orang hilang di antara orang-orang yang sedang bermain di pantai ini, sedangkan dirinya tak mau beranjak dari tempat duduknya yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Namun melihat Naruto yang bersenang-senang tanpa dirinya seperti itu, rasanya sangat sangat sangat menyebalkan.

Terasa seperti berjam-jam ia hanya memerhatikan, karena ia tak mau Naruto menganggapnya kekanakan karena merasa cemburu hanya karena hal seperti ini di usianya yang sekarang, jadi ia lebih memilih tak melakukan apapun. Untuk saat ini.

Saat Naruto mendekat ke arahnya setelah puas bermain, Sasuke bersiap-siap untuk ngambek sebelum beberapa suara mengagetkannya, ia terlalu fokus pada Naruto hingga tidak memerhatikan tiga gadis yang kini berdiri di sampingnya setelah mengganti pakaian mereka dan membawa tas.

"Ah, jadi ini Sasuke-san. Uwah dia tampan sekali, seperti tokoh manga."

"Selamat siang."

"Boleh foto bersama? Satuu saja, eh dua, atau tiga juga tidak apa-apa kalau boleh."

Sasuke hanya menatap bingung, sementara Naruto tertawa sambil mengelap tubuhnya dengan handuk. "Oi, satu-satu."

Naruto memperkenalkan para gadis itu satu-persatu, bahkan memfoto mereka bersamanya dengan kameranya, bertukar alamat email agar dapat mengirim foto yang diambilnya, dan rasanya Sasuke masih saja memproses apa yang terjadi di depannya, bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu. Tidak heran mereka begitu cepat akrab.

"Sekarang boleh aku minta tolong?"

"Tentu saja. Apa apa?"

"Fotokan kami?"

Saat Naruto duduk menyempil di sampingnya, ia hanya berdecak pelan. "Kita bisa melakukannya di hotel 'kan."

"Tapi kita belum berfoto sama sekali di sini," Naruto merengek dan memeluknya dengan kedua tangan, sementara Sasuke berusaha mendorongnya menjauh.

Tiga gadis yang memegang kamera hanya bisa menatap mereka berdua dengan wajah memerah, saat Naruto mencium pipi Sasuke dan mereka berusaha mendapatkan gambar tersebut dengan sempurna. "Uh, kalian sudah siap?"

Mereka mengambil beberapa foto sungguhan sebelum menyerahkan kameranya kembali pada Naruto, yang mengecek hasilnya dan merasa cukup puas, karena sebelumnya ia memberitahu mereka untuk mengambil beberapa foto candid Sasuke bersamanya.

"Good job." Mereka berempat berhigh-five sebelum berpamitan untuk pergi ke hotel mereka terlebih dahulu.

"Sasuke-san, have a wonderful night."

"Jaga Naruto baik-baik, ya, nanti matanya kemana-mana melihat dada wanita berbikini~"

"Semoga hari kalian menyenangkan. Permisi," gadis yang terlihat paling normal di antara ketiganya membungkuk pada mereka sebelum menyusul kedua temannya.

"Ayo pulang."

"Sekarang?" Naruto menatapnya dan Sasuke hanya mengangguk sambil berdiri.

"Rasanya kau seperti seorang ibu yang menunggui anaknya bermain."

Sasuke memukul punggung Naruto hingga Naruto mengaduh kesakitan dan buru-buru membereskan bawaan mereka sebelum berlari menyusulnya. "Nanti sore ke sini lagi, ya, lihat matahari terbenam."

"Iya."

"Eeh? Sungguh?"

"Ish, berisik."


Sasuke tak mengerti entah dari mana Naruto mendapatkan begitu banyak energi bahkan setelah seharian bermain di pantai. Ia sama sekali tak terlihat lelah jadi Sasuke mau tak mau menuruti Naruto menghabiskan sore ini di pantai lagi. Ia duduk di pasir yang ia beri alas sebuah handuk kecil jauh dari keramaian ketimbang berada di kafe yang dipenuhi orang yang juga ingin melihat sunset, meski beberapa orang juga berada di sekitarnya namun setidaknya tidak seramai di sana.

Ia termenung melihat langit berwarna lembayung yang begitu indah di depannya hingga tak menyadari Naruto telah duduk di sampingnya, membawa dua kaleng minuman dingin dan sebuah gitar, yang entah ia dapat dari mana. Namun Sasuke tak mengatakan apapun, bahkan saat Naruto mulai memetik gitarnya, dan menyanyikan lagu untuknya, karena momen seperti ini sangat jarang dapat ia nikmati. Bahkan saat ia meminta, Naruto sering menolak untuk bernyanyi untuknya meski ia dapat memainkan gitar dan menyanyi dengan baik.

It's like you're my mirror

My mirror staring back at me

I couldn't get any bigger

With anyone else beside of me

And now it's clear as this promise

That we're making two reflections into one

'Cause it's like you're my mirror

My mirror staring back at me, staring back at me

Meski matahari telah terbenam, dan kebanyakan orang telah beranjak pergi, rasanya Sasuke tak ingin beranjak dari sini, dan berharap momen seperti ini akan berlangsung lebih lama. Kekesalannya tadi menguap, digantikan oleh rasa cintanya yang meluap-luap tak terbendung.

"I love you."

Saat Naruto berbisik dan mengecup pelipisnya, Sasuke hanya bisa tersenyum dan membalas kecupan Naruto di bibirnya. "Me too."


Sasuke berjalan keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna putih dan berjalan ke arah Naruto yang sedang membersihkan lensa kameranya. Ia naik ke ranjang dan memeluk leher Naruto dari belakang sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Naruto.

"Sepertinya kameramu lebih penting dariku."

"Tidak ada yang lebih penting darimu, Sasuke," Naruto kembali memasang lensa kamera dan membereskan peralatannya sebelum ia memegang kedua tangan Sasuke yang memeluk lehernya dan menciumnya. "Mau tidur sekarang?"

"Belum mengantuk."

"Mau jalan-jalan di luar?"

"Tidak. Anyway, mau ambil fotoku lagi?"

Naruto menoleh ke arahnya dengan heran, tidak biasanya Sasuke menawarkan diri seperti ini. "Tentu. Di sini?"

"Hmm. Merekamnya juga boleh, tapi tidak boleh mendekat sebelum kuijinkan," Sasuke turun dan menarik kursi lalu memosisikannya di depan ranjang. "Duduk di sini."

Naruto hanya mengangguk dan menurut, duduk di kursi sedangkan Sasuke naik ke ranjang menghadap ke arahnya.

"Sebaiknya tidak usah difoto, rekam saja. Photo session di hari terakhir 'kan?" Sasuke mengatakannya sambil membuka tali jubah mandinya namun tidak melepasnya, menampilkan tubuhnya yang telanjang dan ia melipat kedua kakinya.

Sementara Naruto hanya menahan napasnya dan mulai merekam seperti yang Sasuke inginkan, menatap keindahan kekasihnya dari layar kameranya dan rasanya tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan dan mendeskripsikan apa yang ia lihat. Tak butuh waktu lama baginya untuk kehilangan fokus saat Sasuke mengambil sebotol lubricant dan menuangkan isinya ke bagian bawah tubuhnya dengan sensual. Ia tak tahu apa yang membuat mood Sasuke sebagus malam ini, namun ia tak mungkin komplain disuguhi pertunjukkan semacam ini, yang mungkin hanya bisa ia lihat sekali dalam setengah tahun.

"Naruto…" Sasuke mendesah pelan, satu tangannya menyangga tubuhnya di belakang sementara satu tangannya yang lain mengusap penisnya perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya, kini dua tangannya bergerak di depan, ia gunakan satu yang lain untuk membuka bokongnya sementara yang lain untuk memasuki dirinya sendiri dengan satu jari dan ia menggeliat pelan.

"Hey, no touch. Kalau kau melanggar, aku akan berhenti," Sasuke manatap Naruto yang hendak membuka kancing celananya, dan seketika berhenti mendengar apa yang ia katakan. Ia ingin tertawa melihat wajah kecewa Naruto, namun ia tahan karena ia ingin Naruto hanya fokus ke dirinya, ke tubuhnya yang ia suguhkan sekarang.

"Berapa jari yang biasanya kau masukkan ke sini, Naruto?" Sasuke menambah satu jarinya dan mengerang pelan, sebelum ia melebarkan kedua jarinya dan menggerakkannya perlahan di anusnya.

"Uhm, empat?" Naruto menjawab dengan tidak fokus, rasanya ia bisa saja mimisan melihat Sasuke yang saat ini lebih seksi dari artis porno mana pun yang pernah ia lihat.

"Apa kau pernah bertanya-tanya, bagaimana lubangku yang sesempit ini," Sasuke menggerakkan jarinya lebih cepat sambil satu tangannya mengusap penisnya pelan, "muat dimasuki penismu yang sebesar itu?"

"Hng mungkin…?"

Sasuke kembali memasukkan satu jarinya secara bertahap hingga ada empat jari yang berada di dalam tubuhnya saat ini, dan ia menatap ke arah kamera Naruto dengan wajahnya yang sedikit memerah dan berkeringat di saat ia melebarkan keempat jarinya membuatnya menggeliat dan mendesah lebih keras.

Sasuke perlahan menarik keempat jarinya keluar, melebarkan bokongnya dengan kedua tangan sehingga anusnya terbuka lebih lebar, saat ia merasa ia telah cukup melakukan pemanasan. "Nghh… apa sudah cukup untukmu? Atau harus kubuka lebih lebar lagi?"

Saat Naruto tidak bisa menjawab, dan hanya bernapas dengan berat sambil menatap ke arahnya, Sasuke rasanya tak tahan lagi. Lagipula rencana mereka besok hanya jalan-jalan untuk membeli souvenir, jadi melakukan satu atau dua ronde seks tidak akan begitu berpengaruh.

"Bisa kau letakkan kameramu dan bantu aku di sini?" Sasuke menghisap dua jarinya dan membuka kedua kakinya lebih lebar. "Sepertinya aku tak bisa ejakulasi sebelum kau masukkan penismu ke dalam sini."

Saat Naruto melakukan apa yang ia katakan dengan patuh tanpa tanya, Sasuke rasanya ingin melakukan ini lagi lain kali. Dapat membuat Naruto terdiam kehilangan kontrol seperti sekarang ternyata sangat menyenangkan.

"Naruto, fuck me already."

Naruto menjawab dengan mendorongnya berbaring dan menindih tubuhnya di ranjang.

.

.

.

[TBC]

Naruto © Masashi Kishimoto


Halo~

Tolong jangan bully saya karena berhenti di tengah-tengah D8 As usual, full smut is in the last chapter muahahaha

Maaf ya apdet lama, sulit untuk mengumpulkan niat buat ngetik. Tapi pengeeen banget apdet sebelum puasa, dan inilah hasilnya. Maaf lagi kalau ada beberapa kesalahan, ini diketik super cepat dalam beberapa jam. Terlalu banyak romens ya, yaiyalah genre-nya aja romens kok, jadi ojo protes, ya. Rasanya bukan saya banget kalau adegan smut tanpa sisipan cheesy romance hehe

Fyi, info ga penting sih, saya ngetik sambil dengerin lagu yang saya sisipkan di cerita, yaitu Mirrors by Justin Timberlake sampe berulang-ulang, mood-nya dapet banget bikin saya ga capek ngetik.

Terima kasih yang review chapter sebelumnya, ayo review lagi kasih pendapat dan kata-kata mutiara (?) supaya saya semangat dan bisa apdet cepat~