Sepasang kaki jenjang itu melangkah pelan di antara hingar bingar keramaian Konoha Airport. Sesekali mendengus kesal, gadis cantik pemilik langkah itu terus mengedarkan binernya ke sekeliling bandara. Lelah, ia membutuhkan Coffe Shop yang nantinya dapat membuat dirinya sedikit lebih rileks. Perjalanan dari London ke Konoha tidaklah membutuhkan waktu yang sedikit. Ia bahkan bersumpah dapat merasakan punggung dan bokongnya yang kaku karena duduk terlalu lama.
Dan, oh. Sedikit jet-lag.
Belum sempat gadis itu menemukan sebuah Coffe Shop, café, atau semacamnya di sekitar bandara, ia dikejutkan oleh suara patahan benda yang sedikit keras, disusul oleh pegangan koper di tangannya yang tiba-tiba saja meringan.
Dengan wajah horror, ia memberanikan diri untuk menoleh—sekedar memastikan apa yang telah terjadi pada kopernya yang tiba-tiba saja meringan itu.
Wajah cantiknya mengerut seketika, dengan dengusan yang ia tahan keras-keras serta helaan napas yang ia keluarkan sesabar mungkin.
Saat melihat badan kopernya telah sukses terpisah dengan pegangannya yang teronggok beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Lagi-lagi, dengan emosi yang ia tahan sepenuhnya, ia melangkah cepat-cepat menghampiri badan tas kopernya itu sebelum ada orang lain yang melihatnya. Namun—terlambat.
Seseorang telah berdiri di sana. Tepat di samping onggokan badan kopernya yang terlihat begitu mengenaskan. Seolah tanpa enggan, orang itu segera mengulurkan kedua lengan kekarnya untuk mengangkat koper besar yang terjatuh itu agar kembali berdiri. Seolah tahu siapa pemiliknya, orang itu pun dengan cepat menatapnya yang masih diam mematung.
"Hei, ini punyamu, kan?"
Gadis itu masih terdiam. Bukan. Bukan karena ia sangat terkejut ada orang yang dengan baik hati menolongnya mengambilkan kopernya itu. Tapi karena kini, di hadapannya, yang ia lihat adalah seorang pemuda tampan berambut merah dan memiliki tato 'Ai' di sisi keningnya.
"Kau … Gaara?"
Pemuda itu tersentak. Sekali lagi menatap baik-baik gadis cantik di hadapannya, sebelum akhirnya sebuah senyuman lembut terulas dari bibir tipisnya.
"Sakura?"
.
.
Two Way Arrows
—dua arah anak panah
©LastMelodya
Disclaimer: all characters belong to Masashi Kishimoto—absolutely
I warn you: AU, miss-typo, miss-OOC(?), a SasuSakuGaa fanfic, DLDR!
.
.
"We are like dominoes,
I fall for you—you fall for another."
.
.
Chapter 2: Fourth years later
"Jadi sekarang kau adalah seorang pianis, eh?"
Gadis berambut merah muda itu terkekeh kecil, dengan sebelah tangan memegang gelas tinggi berisikan espresso dingin yang sesaat lalu berhasil merileksasikan segala tubuh kakunya.
"Hn, bukan seperti itu juga. Aneh sekali kau menyebutku pianis." ujar pria di hadapannya dengan sedikit senyum simpul. Pria itu memesan satu gelas kopi hitam pekat yang begitu terlihat pahit untuk diminum.
"Ish, memang benar, kan?" Gadis itu tertawa lagi. Entah mengapa tawanya begitu terdengar merdu di telinga sang pria. Efeknya? Pria itu seolah tak berhenti tersenyum sejak tadi.
"Apa kabar, Sakura?"
Yang di panggil Sakura mendongak. Menatap sepasang jade teduh yang sangat sering ia lihat di masa-masa High School-nya dahulu. "Baik. Setidaknya sebelum koper memalukan itu jatuh teronggok dan akhirnya di temukan olehmu, Gaara."
Tawa lagi.
"Bawaanmu apa, sih? Sampai-sampai kopermu itu ngambek sebelum sampai pada tempatnya," ujar Gaara main-main, bermaksud menggoda gadis merah muda itu.
Satu cubitan kecil Sakura berikan pada pria tampan di hadapannya itu. Gaara hanya meringis pelan yang kemudian kembali ditertawai oleh Sakura.
"Jangan menggodaku, makanya." tukas Sakura seraya menjulurkan lidahnya.
Gaara hanya menggelengkan kepala seraya menyesap kopi hitamnya yang masih hangat itu—menyembunyikan sang senyum.
Lama setelahnya tak ada pembicaraan dari mereka. Gaara diam-diam menatap Sakura yang tengah memandang direksi jauh di luar café. Pandangannya kosong.
"Lalu, setelah ini kau akan tinggal di mana, Sakura?" bermaksud kembali membuka topik, pria itu bertanya.
Namun sepertinya Sakura kurang cepat menanggapi ocehan Gaara tersebut, karena setelah mengerjap beberapa kali, ia bertanya, "—maaf?"
Gaara menghela napas sabar, menahan diri untuk tak bertanya lebih jauh akan apa yang tengah di pikirkan gadis itu. "Setelah ini kau akan tinggal di mana? Saat itu orang tuamu ikut pindah ke London, kan?"
Sakura mengangguk pelan. "Ya." Gadis itu terlihat menggigit bibir sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Aku akan tinggal di apartemen Sasuke."
Ada sedikit keterkejutan terlihat dari sepasang jade milik Gaara. Sedikit banyak ia mengenal pria itu—selain sebagai mantan teman High School-nya dulu, Sasuke adalah satu-satunya saingan terberatnya di Konoha Music and Art Academy. Walaupun ada di dalam divisi yang berbeda.
Ia piano, sedangkan Sasuke gitar.
"Ah, ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di bandara, Gaara?" ujar Sakura kembali menyadarkan lamunannya. Ah, Gaara sedikit bersyukur gadis itu telah lebih dulu mengganti topik.
"Aku mengantar Kankurou-nii yang akan menyusul Tou-san ke Tokyo. Ia minta di antarkan ke bandara karena menganggap naik pesawat ke Tokyo itu lebih nyaman." jawabnya seraya menandaskan kopi hitamnya dengan cepat. "Sakura, mau kuantar ke apartemen Sasuke?"
Gadis itu melebarkan emerald-nya sesaat. Sebenarnya, otaknya sedari tadi terus menghindari sesuatu yang berhubungan dengan sahabat lamanya itu. Ia belum siap.
Biar bagaimanapun, perpisahan mereka berdua dulu bukanlah sesuatu yang indah untuk diingat. Justru sebaliknya.
Namun, tak mau membuat Gaara berpikir curiga lebih jauh, dengan enggan ia pun mengangguk menerima tawaran teman lamanya itu.
"Terima kasih, kalau kau tak keberatan."
…
Sedan merah milik Gaara berhenti pada sebuah bangunan apartemen bertingkat yang berdiri kokoh. Sakura menoleh ke arah teman lamanya itu seraya tersenyum tipis.
"Terima kasih, Gaara. Belum sehari aku di sini tapi sudah banyak merepotkanmu." ujar gadis itu tulus.
Gaara hanya menggeleng pelan seraya balas tersenyum. "Jangan sungkan, Sakura. Mau kuantar ke atas?"
Gadis itu buru-buru menggeleng. Ia tidak mau menyusahkan Gaara lebih dari ini. Pemuda itu sudah begitu baik menolongnya di bandara, menemaninya minum kopi, dan mengantarkannya ke sini. Bahkan pria itu juga sukses memperbaiki koper Sakura yang rusak tadi.
"Terima kasih banyak. Tak perlu repot-repot, Gaara." ucap Sakura sekali lagi. Gadis itu bergegas turun dari mobil, dibantu Gaara, pria itu menurunkan koper miliknya dari bagasi mobil. Setelah seluruhnya sudah terjangkau oleh Sakura, barulah pria itu berpamitan untuk pulang.
Sakura menatap mobil merah Gaara hingga akhirnya sedan itu hilang dari pandangannya. Langsung saja tatapannya teralihkan pada apartemen besar di hadapannya itu. Apartemen yang sangat dikenalinya. Tentu saja, karena dulu ia juga tinggal di apartemen ini.
Sebelum pindah ke London, Sakura dan keluarganya memang membeli salah satu kamar di apartemen ini. Tepatnya di depan kamar apartemen Sasuke. Lama mereka tinggal di sini, sampai akhirnya saat Sakura setuju untuk melanjutkan kuliah ke London, orang tuanya pun memutuskan untuk menjual apartemennya dan membeli satu yang baru di London. Maka dari itu, saat Sakura memutuskan untuk kembali ke Konoha, orang tuanya dengan terpaksa harus menunggu apartemen di sana terjual. Barulah mereka ikut kembali ke Konoha dan membeli apartemen baru di sini. Ah, sungguh merepotkan.
Gadis itu melangkah masuk ke bangunan besar itu dengan pelan, ia melihat beberapa petugas keamanan yang memberi salam padanya. Ah, ia rindu suasana ini.
Sakura terus melangkah melewati meja resepsionis, ia tak perlu melapor diri karena ia datang bukan untuk memesan apartemen baru.
Sebenarnya, saat kedua orang tuanya menyarankan gadis itu untuk tinggal sementara di apartemen Sasuke, ia dengan tegas menolak. Dengan alasan merepotkan, tak ada orang tua, sampai alasan perbedaan kelamin, tetapi tetap saja tidak membuat orang tuanya berubah pikiran.
Orang tuanya begitu percaya dengan Sasuke. Sebelumnya mereka juga sudah pernah membicarakan ini dan Sasuke tanpa keberatan sama sekali langsung menyetujuinya. Orang tuanya menjamin Sasuke tak akan berbuat macam-macam pada Sakura karena pemuda itu sudah begitu mereka percaya.
Kalau itu, Sakura juga yakin. Sasuke adalah pemuda baik-baik.
Tapi, hubungan mereka berdua yang membuatnya ragu. Perpisahannya dengan Sasuke saat itu benar-benar tidak dapat di bilang baik-baik saja. Bahkan Sasuke tak ikut serta mengantarnya ke bandara saat hari keberangkatannya ke London. Terakhir kali ia berbicara empat mata dengan Sasuke adalah hari pertengkarannya di kamar apartemen Sasuke saat itu.
Dan setelahnya, mereka tak sempat saling berbicara lagi selain hanya tegur sapa sekilas.
Sakura tersadar dari kemelut pikirannya saat mendengar suara dentingan pintu lift yang terbuka. Lift itu kosong, dan tanpa ragu segera saja gadis itu memasukinya.
Ia menekan tombol berangka empat dan membiarkan dirinya di bawa naik oleh tabung raksasa itu.
Setelah beberapa saat kemudian, pintu lift kembali terbuka disusul oleh Sakura yang keluar dari lift seraya menarik koper besarnya. Rasanya, tak ada yang berubah dari lantai tempatnya tinggal dulu ini. Dindingnya masih berwarna gold, sewarna dengan langit-langit atasnya. Sedangkan lantainya terlihat mengilap dengan warna yang sama namun lebih gelap.
Sakura melangkahkan kakinya dan berbelok pada salah satu koridor di sana, ketukan heels-nya begitu mendominasi ruangan sepi itu. Di siang hari seperti ini, hanya lampu-lampu neon berwarna oranye yang di nyalakan. Masih sama seperti dulu.
Langkahnya berhenti tepat di depan kamar bernomor 344. Sekilas, ia melirik pintu nomer apartemen 345 di belakangnya dan meringis pelan menyadari sudah ada orang lain yang menempati bekas apartemennya itu. Lalu atensinya kembali beralih pada pintu di hadapannya.
Sungguh, ia sama sekali belum mengabarkan Sasuke bahwa saat ini ia sudah berada di Konoha. Ia masih terlalu ragu untuk kembali bertemu pemuda itu. Sahabat lamanya.
Agak lama ia hanya terpaku menatap pintu di depannya. Rasanya berat sekali untuk sekadar mengetuk pintu atau untuk memencet belnya. Ia belum siap.
Sungguh-sungguh belum siap.
Tapi, memangnya apa lagi yang dapat ia lakukan? Menunggu di sini sampai pintu cokelat itu terbuka sendiri yang entah ia tak tahu kapan akan terjadi?
Ya, Tuhan. Sakura benar-benar merasa dilema.
Namun, pada akhirnya, Sakura memang harus meyakinkan diri. Cepat atau lambat, ia juga akan bertemu kembali dengan sahabat tercintanya itu, kan?
Akhirnya, dengan memantapkan hati—dan berat hati, ia mengangkat tangannya dan menyentuhkannya pada permukaan kayu cokelat itu. Ia mengetuk pintunya dengan pelan.
Tak ada jawaban.
Sakura kembali mengetuk pintunya, kali ini sedikit lebih keras dan tidak ragu-tagu.
Namun tetap tak ada jawaban.
Menggigit bibir, akhirnya gadis itu memutuskan untuk memencet tombol yang tersedia pada sisi dinding di sebelah pintu itu.
Sekali.
Dan setelahnya terdengarlah suara tapak seseorang dengan langkah statis yang semakin lama semakin terdengar mendekati pintu.
Entah mengapa jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya, ia mengepalkan tangannya dan merasakan keringat dingin dengan sukses membasahi tangan itu. Astaga, ada apa, sih? Sungguh, rasanya tak karuan.
Belum sempat Sakura mengambil napas, pintu itu telah terbuka.
Menampilkan seorang pria yang tengah Sakura hindari mati-matian—sekaligus pria yang sangat ingin ia temui saat ini.
Dia…
"Sakura?"
Mendengar suara itu, Sakura sudah lebih dulu tersenyum bahkan sebelum dirinya sempat menyadari.
.
.
To be Continued
.
.
Author's note:
Hai, LastMelodya kembali lagi;D kali ini aku membawa chapter dua yang sudah menuju ke cerita awal. Meski Sasuke belum muncul sepenuhnya, tapi tadi ada banyak Gaara, ya?:3
Untuk yang bertanya bagaimana kisah tentang Eros-Apollo-Dafne, nanti akan ada penjelasan lengkapnya di salah satu chapter. Jadi, untuk sekarang-sekarang ini aku hanya akan memberikan potongan-potongan ceritanya saja. Tapi, kalau memang ada yang penasaran, bisa cari di google, kok! xD
Oh, ya, untuk setiap chapter, mungkin aku nggak bisa memberikan cerita yang panjang-panjang. Entah kenapa fic-ku itu pasti selalu di antara 1,5k-2k saja. Jadi begitupun dengan fic ini, mungkin rata-rata panjangnya hanya akan mencapai kurang dari 2k kata. Syukur-syukur bisa melampaui itu, sih hehe.
Terima kasih untuk:
Aozora Strawchan, dyu (iyaaa, ini sudah lanjut ya:D bagaimana chap ini? Terima kasih sudah RnRxD), Chikia, Luci Kuroshiro, Pinky Kyukyu (Terima kasih sudah RnR. Nah, bagaimana chap ini? Menarik kah?;p #pelukciumGaarabalik), Fivani-chan (Ini sudah lanjut xD bagaimana? Menarik kah?;p terimakasih sudah RnR), Kiki Takajo (wah, terima kasih sudah mau RnR dan dibilang keren xD ini sudah lanjut yaaa), sasusaku kira (wah, syukurlah kalau dibilang keren xD ini sudah lanjut yaaa, terima kasih sudah RnR!), Tsurugi De Lelouch, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, Mayu (terima kasih sudah RnR xD ini sudah lanjut yaaa), bintang (terima kasih sudah RnR;D bagaimana chap ini? Menarik juga kah?;p), Resa (terima kasih sudah RnR xD wah, siksa sasu ya? Paling siksa batin nanti;p bagaimana chap ini?xD), Kanami Gakura, Autumn Winter Blossom, eL-yuMii (terima kasih sudah RnR;D ah, ikuti alurnya saja ya utk melihat siapa yg mengejar siapa nanti xD ini sudah lanjut yaaa), The Amor Goddess (Terima kasih sudah RnR;D ini sudah lanjut yaaa), Mizuira Kumiko, uchiharuno susi
Untuk yang log-in, sudah aku balas lewat pm yaaa. Sekali lagi terima kasih banyak x'D
Nah, bagaimana chap ini? Critism? Comment?
Just RnR, please^^
LastMelodya
