Sebelumnya, maaf kalau update ini agak lama ya! ^^ Terima kasih atas dukungannya. Semoga kalian menikmatinya w
Chapter 2
Teman Manusia
.
.
Kehidupanku di panti asuhan ini berjalan lancar. Aku bahkan mendapat kesempatan untuk pergi bersekolah juga. Dan ternyata, Len yang hanya bisa kulihat itu malah menjadi teman yang menyenangkan. Kukira semuanya akan menjadi buruk dengan kehadirannya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Susah sekali mendapatkan teman manusia. Len adalah teman pertamaku, meski ia... eh, bagaimana aku mengatakannya... hantu? Apa itu—doppelganger? Bayanganku? Entahlah, tapi dia bukan manusia. Dan yang kuinginkan adalah teman manusia.
Sulit sekali mendapat teman di sini. Anak yang seusiaku juga sedikit, lebih banyak mereka yang masih bayi atau sudah besar. Dan aku juga belum mendapat teman sekamar sampai saat ini. Sendirian itu... sedih juga rasanya. Tapi aku kan tidak sendiri, Len ada bersamaku!
...
Dan kurasa itulah masalahnya. Ada Len bersamaku. Kadang aku terlihat berbicara sendiri sehingga anak yang lebih besar enggan mendekatiku, sedangkan beberapa anak yang usianya dekat denganku... Biasanya yang terjadi malah seperti ini...
" Hei, Rin-chan, siapa teman khayalanmu?" tanya seorang anak.
" Eh? Teman khayalan?" tanyaku, bingung. Aku tidak punya teman khayalan.
" Habis, aku sering melihatmu berbicara sendiri! Dengan siapa lagi itu kalau bukan dengan teman khayalan?" tanya anak itu lagi.
" Aku tidak punya teman khayalan kok! Len itu asli, dia bisa dibilang doppelganger atau roh pelindungku!" kataku kesal.
" Eeh?" anak itu mundur beberapa langkah.
" Pst, oi, Rin! Kalau kau begitu juga, siapa yang akan percaya dan mau berteman dengan-," Len berusaha membujukku untuk berbohong.
" Lihat, dia ada di atasku saat ini! Aku tidak berkhayal! Ini sungguhan!" kataku, mencoba meyakinkan anak itu. Aku tidak suka membohongi orang dan kalau ada kesalahpahaman, ya harus diluruskan.
" Kau aneh!" teriak anak itu—lalu dia mulai menjauhiku.
-kurang lebih begitulah yang selalu terjadi. Mungkin lebih baik kalau aku berbohong dan mengiyakannya? Tapi aku tidak suka pembohong. Yang pasti, aku sudah sukses mendapat gelar anak aneh di sini. Jarang ada orang yang mau mendekatiku.
.
.
.
.
Tok... tok..
" Rin-chan, boleh aku masuk? Ada sesuatu yang harus kita bicarakan...," kudengar suara Haku dari balik pintu. Aku pun segera beranjak dan membuka pintu kamarku.
Ternyata bukan hanya Haku yang berada di depan pintu kamarku. Di depan Haku, ada seorang anak perempuan berambut kehijauan yang seusiaku.
" Rin-chan, mau tidak kamu berbagi kamar dengan Sonika? Teman sekamarnya yang dulu sudah diadopsi oleh sepasang suami-istri, jadi dia sendirian dan agak takut...," jelas Haku. Anak itu—Sonika berdiri malu-malu di belakang Haku.
" Aku nggak keberatan, kok," kataku, menyetujui kepindahan Sonika. Jujur saja, aku malah senang.
" Kalau begitu, akan kubantu kau membawa barang-barangmu kemari, Sonika," kata Haku, kemudian ia meninggalkan kami berdua.
" Hei... Namamu... Sonika, bukan?" tanyaku, "boleh kupanggil Sonika saja?"
Sonika mengangguk pelan, " Bagaimana denganmu?"
" Eeeh, panggil saja aku Rin," kataku, " Apa kau nggak apa bersamaku?"
" Eh? Memangnya kenapa?" tanya Sonika, heran.
" Hmm... Kau sudah mendengar gossip tentangku, 'kan?" tanyaku agak takut juga.
" Iya sih, tapi aku nggak masalah kok. Aku percaya ada roh pelindung kok, lagipula, aku ingin berteman dengan semuanya! Tanpa terkecuali, dan aku sudah lama penasaran dengan kau, anak baru!" kata Sonika bersemangat. Sikap malu-malunya hilang bersamaan dengan rasa takutku.
" Syukurlah, terima kasih, Sonika!" kataku, "mohon bantuannya mulai sekarang!"
" Pst, senang 'kan, akhirnya kau dapat teman pertama juga!" Len berbisik pelan.
" Nanti saja, Len!" bisikku.
" Makanya sudah kubilang dari awal, kau tak seharusnya mengatakan yang sebenarnya, aku kan jadi repot juga kalau kau sampai tak bisa punya teman karena aku! Untung saja ada yang mau berteman dengan anak aneh sepertimu," katanya, sebal.
" Kalau sudah tau gitu, kenapa kamu nggak pergi saja?" aku berusaha berbisik sebisa mungkin.
" Huh!" Len merajut lagi.
Yah, aku putuskan untuk mengacuhkan Len untuk sementara waktu. Kegembiraanku mendapat teman manusia pertama lebih besar daripada kekesalanku kepada Len. Dan semalam ini kuhabiskan untuk berbincang-bincang dengan teman sekamar baruku yang lebih senior, Sonika.
.
.
" Oh ya, Rin!" kata Sonika sesaat sebelum tidur.
" Kenapa?" tanyaku, sambil mematikan lampu.
" Besok makan bareng aku, ya! Akan kukenalkan kau pada teman-temanku juga!" katanya bersemangat, "mereka pasti akan menyukaimu sama seperti bagaimana aku menyukaimu juga!"
Aku tersenyum, " Tentu saja!"
" Tuh, lihat, Len! Ada juga yang mau berteman denganku! Aku tak perlu berbohong untuk mendapatkan teman! Dan tidakkah kau dengar apa katanya tadi? Dia percaya roh pelindung dan semacamnya!" bisikku pada Len sebelum beranjak tidur.
" Huh, terserahlah! Kita lihat saja besok bagaimana dengan teman-temannya! Yang pasti, aku tak mau bertanggung jawab kalau kau dijauhi! Aku kan juga sudah menasehatimu!" kata Len, masih kesal.
Aku tidak menjawabnya, aku sudah capek. Aku pun segera berusaha tidur... Dan kurenungi lagi sikap Len, dia pasti begitu karena mementingkanku daripada dirinya. Buktinya saja, dia bahkan mau keberadaannya tidak diakui asalkan aku dapat teman...
...Besok, akan seperti apa hariku ya? Orang-orang seperti apa yang akan kutemui besok ya?
.
.
Dan Rin pun terlelap sambil berharap akan hari esok yang menyenangkan.
.
To be continued...
Review, please? ^^ Dan saya akan berusaha untuk update secepatnya :3
