(A/N) Chapter ini masih berisi filler sebelum berlanjut ke cerita utamanya [Teikou Arc].
Catatan :
Berbeda dengan di Indonesia yang dimana tahun ajaran barunya dimulai pada bulan Januari dan pada satu tahun ajarannya terbagi menjadi 2 semester, di Jepang tahun ajarannya dimulai pada bulan April. Satu tahun ajaran dibagi menjadi 3 semester yang dipisahkan oleh liburan musim semi, musim dingin, dan liburan musim panas.
DI jepang juga rata-rata masuk sekolahnya pada jam 8.50 pagi karena jam 7 di sana masih terlihat seperti jam 5 di Indonesia, alias masih gelap gulita.
Selamat membaca!
…
APRIL
Inori: 1 SD—6 TAHUN
Tetsuya: 4 SD—9 TAHUN
Siapa sangka anak SD yang aku bayangkan imut-imut dengan pipi mereka yang chubby,kelakuan mereka yang konyol, dan kepolosan mereka yang tidak berbatas ternyata lebih mengerikan youkai mana pun?
Mereka memandangku seperti serigala memandang mangsanya sesaat aku memasuki ruang kelas untuk memperkenalkan diriku, tatapan mereka yang dipenuhi tanda tanya dengan gestur tubuh yang jelas-jelas menerangkan kalau mereka tidak pernah mendengar tentang 'personal-space' yang menurutku wajib diajarkan sejak dini.
Ugh, kini Yoshi-entah-nama-panjangnya-siapa menangis karena makanannya jatuh ke lantai dan menyiprat ke bajuku ketika ia ingin berdiri dan mengambil susu kotak di depan kelas, lalu dengan seenaknya ia menyalahkanku atas apa yang terjadi.
Catatan penting: Ia menjatuhkannya sendiri.
Catatan penting kedua: Makanannya nyiprat ke bajuku.
Catatan penting ketiga: Dia menyalahkanku karena aku duduk di sebelahnya.
Excuse YOU, mister Yoshi-dunno-what-his-first-name-is.
"Huwaaaaa! Cheese hamburger ku!" tangisannya semakin menjadi-jadi, dapat dipastikan Rara-sensei bingung menghadapi murid satu ini, "AKU MAU CHEESE BURGERKU KEMBALIII!" rengeknya semakin besar. Kini dia duduk di lantai sambil memukulkan tangan dan kakinya di lantai, sedangkan aku hanya memandang bajuku dengan cengok sembari menitikkan air mata.
Dia mau bermain mencari-iba-guru-dengan-menangis di hadapanku? Challenge accepted, aku akan bermain mencari-iba-guru-dengan-menangis-dan-berespresi-anak-anjing.
"Bajuku… hiks…" sedikit demi sedikit aku menitikkan air mata, lalu dengan ekspresi seperti anak anjing—mata belo mulut dimonyongkan—aku menghadapkan wajahku ke Rara-sensei. Mungkin jika umurku masih 17 tahun, aku akan dibilang menjijikkan jika melakukan hal ini, pasalnya ekspresi yang kukeluarkan pada umur 17 tahun itu lebih mirip nahan BAB ketimbang muka-anak-anjing.
Otakku berpikir lagi, rasanya 'pukulan' yang aku berikan kepada sensei belum mengenai hatinya. Akhirnya aku berdiri dan berlari ke arahnya, memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang dan terus terisak kecil.
Jika habis ini aku tidak memenangkan OSCAR, akan ku tendang siapapun yang memenangkannya.
Ketika aku merasaan telapak tangan di atap kepalaku, rasanya hati bahagia dan menari salsa saking senangnya. Makan tuh cheeseburger, makan tuh Yoshio!
"Yoshikawa-kun, jangan menangis seperti itu dong, kita nonton Pow*r Rang*r aja yuk?" tenyata namanya Yoshikawa…
"TIDAAAAAAK, AKU MAU CHEESEBURGERKU!"
Sensei mengelus kepalanya, setlah rengekkanya mulai mereda ia langsung berkata "Ayolah , cup cup cup, bagaimana kalau kita membersihkan ini bersama dan makan lasagna milik Sensei?"
"TIDAAK, MAUNYA YANG INI!" Oh tuhan, jangan bilang aku pas kecil seperti ini? semoga saja tidak.
Dengan berat hati aku keluar dari balik sensei dan berjongkok di depan Yoshikawa, menyodorkan piring cheeseburger milikku yang sedari tadi tidak tersentuh. Oh iya, aku lupa memberi tahu kalian kalau masakan sekolah taste like sh*t.
"Ini buat kamu…" ucapku.
Dan rengekannya reda dalam sekejap, Yoshikawa memandang cheeseburger dan mukaku secara bergantian, lalu dengan malu-malu ia ambil piring stainless steel yang aku pegang dan mengucapkan terimakasih dengan suara yang lebih kecil dari bisikkan. "A…arigatou."
Yes, you should thank me.
"Un" balasku singkat.
Sepertinya tanpa aku sadari aku sudah membuat sebuah pertemanan dengan bocah ingusan pencinta cheeseburger satu ini.
[][][][]
SUMMER HOLIDAY
Inori: 3 SD—8 TAHUN
Tetsuya: 6 SD—11 TAHUN
Pagi ini bisa dibilang cukup cerah dengan serabut awan di sana-sini, matahari dengan gembiranya menyinarkan cahayanya tanpa tanggung-tanggung, membiarkan manusia-manusia rendahan yang berada di bumi tarbakar hangus. Setidaknya itu yang berada di pikiranku.
Kalau mau bukti , bisa aku tunjukkan suara cicada yang nempok di pohon dengan tidak elitnya, aku yakin suara jeritan-jeritan mengerikan yang dihasilkannya merupakan permintaan tolong agar disuguhkan es teh A.S.A.P.
"Nii-chan, aku ingin menonton nii-chan bermain basket." Aku menggoyang-goyangkan bahu Tetsuya—yang pada saat ini sedang memakai sepatu di depan pintu—dengan semangat yang dapat mengalahkan revolusi Perancis sekalipun. Tetsuya dengan sabarnya mengikat kencang tali sepatunya, menghiraukan rengekkan menyebalkan yang keluar dari mulutku.
Siapa sih yang tidak kesal ketika panas-panas seperti ini ACnya perlu diperbaiki? Siapa sih yang tidak kesal saat meraka bosan, ruangan favorite-mu (Baca:ruang kerja papa) terkunci? Siapa sih yang tidak kesal ketika panas-panas seperti ini kamu disuruh mengepel lantai?
"PRnya sudah dikerjakan belum?" tanya Tetsuya masih dengan suara merdu-lembut-menyegarkan yang sudah menjadi ciri khasnya, lalu seperti biasa ia mengelus-elus rambut ikalku yang kini sudah se bahu. Entah karena warnanya yang mecolok atau apa, orang-orang suka mengelus rambutku.
"Sudaaah" aku meraih tangannya yang berada di puncak kepalaku dan memegangnya erat, jangan kira PR anak kelas 3 SD dapat menghalangiku menginjakkan kaki dari neraka ini. Aku kini menarik-narik tangannya, "Ikuuuuut~~~~~~."
"Boleh deh, tapi ijin okaa-chan dulu ya…"
"YEEEAY" kaki kecilku berlari girang ke arah dapur, sasaranku kini pinggul mama. Dengan cekatan aku peluk badannya dan menggunakan taktik muka-anjing-kecil yang sudah menjadi keahlianku beberapa bulan yang lalu. Penjelasan singkat keluar dari mulutku, ketika ucapan…
"Boleh, asal jangan terlalu sore ya pulangnya!"
…telingaku dapat menangkap lagu Hallelujah beserta malaikat-malaikat kecil yang meniupkan terompet di atas sana.
AKHIRNYA AKU BEBAS!
Tanpa basa basi aku langsung ngacir menggunakan sandal jepit dan menonton pertandingan Tetsuya dengan bahagia.
Pada hari itu tim basket Tetsuya kalah dalam ronde pertama. Sebagai rasa sayangku aku membelikannya vanilla milkshake dari WcDonald Terdekat, hal ini (baca: mentraktir milkshake) malah menjadi kebiasaanku setelah Tetsuya bermain basket.
[][][][]
Aku malu untu mengucapkan kalau aku sebenarnya memeliki perasaan terhadap Shigehiro Ogiwara, sahabat Tetsuya yang sering aku temui di lapangan basket umum dekat komplek yang aku huni. Rasanya jantung seperti marathon dari Yunani ke Australia tanpa henti, berdetak dengan baik kekuatan atau kecepatan yang tinggi.
Senyuman sakarinnya menawan, matanya almond dengan wibawa yang tersirat di dalamnya. Apalagi kalau ia mulai memegang bola basket, sesaat auranya berubah menjadi penuh charisma, kalau kita hidup di dalam dunia manga mungkin setiap kali ia memegang bola basket langsung bertebaran bunga mawar di belakangnya.
Mungkin ini yang dinamakan 'cinta monyet'.
Kini seperti biasanya aku menemani Tetsuya bermain basket dengan tas gendong yang berisi bekal berupa sandwich dan oolong tea yang disiapkan mama, sambil mensesap hangatnya oolong tea di pojok lapangan aku memperhatikan (baca: mencari informasi) mengenai laki-laki bernama Shigehiro Ogiwara ini.
Buku mengenai Kingdom Plantae yang berhasil aku selundupkan dari ruangan papa terletak di pangkuanku, terbuka lebar namun tidak terbaca. Iris biruku memperhatikan gerak-gerik Shigehiro dengan seksama, memasukkan ke dalam otak setiap detail-detail kecilnya, menganalisa sifat dan perilakunya. Melakukan segala hal yang tidak dilakukan oleh anak berumur 3 SD ketika sedang dilanda cinta.
"Inori-chan, konbawa!" Suara Shigehiro membuyarkan lamunanku, kini ia berjongkok di hadapanku dengan senyuman hangat yang terlukis di bibirnya, "Lagi baca apa?" lanjutnya, dengan kecepatan cahaya aku menutup buku dan menaruhnya di tas.
Aku bersyukur akan ekspresi wajahku yang tidak berubah sedikit pun dan kelihaian tanganku dalam menyembunyikan seseuatu, bayangkan saja bagaimana reaksi Shigehiro ketika mengetahui kalau bocah SD di depannya ini belajar materi Biologi SMA.
"Ko-konbawa… Shigehiro-san." Aku mengangguk pelan, menghiraukan tatapan penasaran yang terlukiskan di wajahnya. "Mau oolong tea?" tanyaku malu-malu, ragu namun tidak ragu (lah, -_-?) tangan kecilku menyodorkan gelas kecil bergambar kelinci ke arahnya. Dengan senang hati Shigehiro menerima gelas itu dan ikut mensesapnya di pojok lapangan bersamaku.
Butuh waktu 5 detik sebelum menyadari kalau gelas yang dia pakai adalah milikku, i-i-i-i-indirect ki-kiss?! Oh tidak tidak tidak, ini pertama kalinya hal klise macam drama Korea ini terjadi kepadaku.
Iya, Suga Yachiyo terlalu sibuk dengan dunia per-volley-an sehingga tidak ada waktu untuk mengurus hal-hal berbau bunga mawar dan berwarna merah muda seperti itu. Bahkan model rambutnya tidak jauh-jauh dari pixie-cut atau nggak potongan rambut a'la polwan—yakni, bob cut.
Jadi apa jadinya jika aku—manusia dengan tingkat ke-jones-an tinggi—mengalami hal menakjubkan seperti ini?
brainERROR .load/Inori
Aku berdiri dari posisi dudukku dengan tiba-tiba dan berhasil menjatuhkan thermos berisi oolong tea, berlari ke seberang lapangan basket dan berteriak dengan sekencang-kencangnya layaknya orang gila yang baru saja kabur dari RSJ terdekat. Aku yakin orang gila akan menganggap kalau aku lebih gila dari dirinya sendiri.
Suara teriakkanku rupanya berhasil membangunkan anjing-anjing peliharaan yang sedang tertidur, kini kompleks perumahan yang sepi menjadi bersuara dengan gonggongan anjing yang saling sahut menyahut—entah apa yang dibicarakan oleh anjing-anjing tersebut, semoga saja tidak menggosipkan aku.
"Inori-chan?" Suara Shigehiro terdengar dari sebrang lapangan, mulai dari nada bicaranya hingga alisnya yang terpaut menjadi satu menunjukkan kalau ia semakin bingung dengan tingkah laku adik sahabatnya ini.
"Ah maaf Shigehiro-san, sebaiknya anda tidak mendekat kesini." Bibirku mengucapkannya lebih cepat dari rapper handal sekalipun ketika menyadari Shigehiro yang berjalan semakin mendekat ke arahku.
Dia menghentikan langkahnya beberapa jarak dari hadpanku, tapi tetap saja bagiku masih terlalu dekat, "Keigo*?"
(A/N: Keigo adalah bahasa Jepang formal, biasanya digunakan untuk orang yang lebih tua/dihormati/bersatus lebih tinggi.)
"I-Iya?"
"Inori-chan nggak marah, kan? Jangan bilang karena aku meminum teh mu? Aku dengar dari Tetsu kalau kamu pencinta teh, maaf kalau aku menghabiskannya! Aku janji akan menggantikannya!" Shigehiro mengucapkannya dengan panik sampai-sampai aku takut rahangnya akan putus karena saking banyaknya ia berkata, dia berkali-kali menunduk untuk meminta maaf.
Panggil aku sadist atau sekawannya, tapi aku menikmati hal konyol ini. Aku menundukkan kepalaku, berusaha menutupi seringai kecil yang muncul di mulutku dengan rambut panjangku, siapa sangka Shigehiro Ogiwara yang selalu terlihat gagah dengan keringat di mukanya dapat menjadi seperti ini?
pfft
"Inori-chan?" peluh bingung dapat terlihat di atas kepalanya.
Gawat gawat gawat gawat, aku sudah tidak tahan, tidak dengan ekspresi bingung yang Shigehiro pasang sekarang. Dengan sekencang-kencangnya suara cekikikan tak terkontrol keluar dari mulutku, sama sekali merusak image Inori yang terkenal pendiam, cantik jelita, manis, dan berhati permaisuri—Yoshikawa yang mengucapkannya, bukan aku.
Oke, aku akui kalau Yoshikawa hanya memanggilku pendiam.
Seolah terinfeksi dengan tawaku, Shigehiro ikut tertawa bersama dengan gilanya, tanpa kita berdua sadari Tetsuya yang tadi menghilang untuk pergi membeli makanan di convenient store melihat adegan ini dengan tatapan horror, mungkin tertawa bersama terlihat sebagai adegan yang mengerikan kalau dilakukan pada jam 18.00 di pojok lapangan basket berlampu redup.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu tadi berteriak?" tanya Shigehiro di sela-sela tawa kami.
Wajahku langsung terlihat seperti kepiting rebus bersaus tomat.
[][][][]
JUNI
Inori : 4 SD—9 tahun.
Tetsuya : 1 SMP—12 tahun.
Entah ini perasaan ku saja atau memang ada yang salah, akhir-akhir ini Tetsuya terlihat murung.
Bisa jadi penybabnya adalah dia dan Shigehiro masuk ke SMP berbeda, di antara beribu penyebab yang bermunculan di otakku seperti jamur amanita hal itulah yang paling masuk akal. Atau mungkin ada suatu masalah dengan sekolahnya? Kegiatan ekstrakulikulernya?
Oh iya, kalau nggak salah Tetsuya masuk ke ekskul basket… aku akan menanyakannya.
Dan seperti biasa aku menggunakan topeng anak SD ku.
"Tetsu-nii, ohayou!" aku memeluknya dari belakang dengan ceria, memaksanya menaruh piring kotor yang ia pegang ke meja terdekat. "Kangen Inori tidak?" ucapku dengan manjanya.
Jangan salahkan aku, tetapi Tetsuya memiliki wajah imut seperti Siberian husky! Dan kalian tahu, aku sangat lemah dengan hewan imut. Waktu di duniaku yang dulu Yachiyo memelihara 4 ekor anjing yang berjenis Golder retriever (Omelette), Siberian husky (Oreo), German shepherd (Cocoa) , dan pug (Marshmallow).
Iya, aku menamainya dengan nama makanan.
Iya, aku pencinta makanan.
Tidak, aku tidak memakan anjing.
Kembali ke topik utama—sekarang Tetsuya untuk kesekian kalinya mengelus-elus rambutku, alhasil rambut pagiku yang sudah jabrik semakin dibuat jabrik oleh tangannya, "Tetsu-nii, yamete!" Aku mengelak dari cengkraman tangannya, membalasnya dengan kelitikan maut a'la Inori dan gagal ketika Tetsuya diam tak berekspresi ketika dikelitiki oleh ku.
UGHHHHHHH!
Sekarang dia sedang tersenyum penuh kemenangan!
"Kok nggak geli sih?!" ucapku sebal sembari masih mencari titik lemahnya.
"Kamu membutuhkan waktu 10 tahun lebih tua sebelum mencari titik geliku." Kekehnya, dengan santai Tetsuya mengambil piring kotor yang tadi dibiarkan tergeletak di meja dan mencucinya di wastafel.
Catatan: tanganku masih di bawah keteknya.
Aku langsung panik, pengalaman dari kehidupan yang lalu adalah 'Jangan sekali-kali menaruh tanganmu di ketiak seseorang, antara bau yang dapat membuat gajah besar di Afrika pingsan hingga bertemu 'hutan' yang tidak kalah menggelikan'.
"Tetsu-nii, ketekmu tidak bau kan? Udah mandi kan? Udah pakai deodorant? Udah di cukur?" rentetan pertanyaan keluar dari mulutku seperti machine gun mengeluarkan pelurunya.
"Hmm… entah lah." Jawabnya santai.
Hiiiii
*sound effect mengerikan*
Wajahku pucat seketika, "TIDAAAAAAK!" Aku tahu persis kalau hampir 98% warga negara Jepang tidak berbau badan, tapi aku tidak pernah mengecek kalau Tetsuya termasuk ke persentase 98% itu atau malah jatuh ke 2% sisanya.
Ajaibnya adalah, ketika aku mengeluarkan tanganku dari apitan mengerikan tadi, tanganku langsung berbau vanilla.
Sekali lagi, BERBAU VANILA.
KETEKNYA TETSUYA BERBAU VANILA.
VANILLA.
Memang ada yang mengatakan kalau makanan/minuman yang anda konsumsi akan berpengaruh dengan bau tubuh, tapi masa iya gara-gara Tetsuya sering mengkonsumsi Vanilla Milkshake tubuhnya jadi berbau manis seperti minuman itu?!
(A/N: Keringatnya bisa dijadikan parfum tuh!)
Tapi kalau dipikir-pikir hukum-hukum IPA di dunia ini ada beberapa yang tidak berlaku, salah satunya adalah genetic. Papa rambutnya hitam dan mama rambutnya auburn, anaknya? Biru muda dan biru terang.
Kalau dihitung berdasarkan rumus biologi, ada kemungkinan 1:2:1 untuk mendapatkan rambut yang satu nada dengan papa dan mama, atau malah gabungan dari keduanya. Tapi kenyataannya? Biru muda dan biru terang.
DARI MANA WARNA HITAM DAN AUBURN MENGHASILKAN WARNA BIRU?!
Kembali lagi ke teori 'bagaimana-caranya-Inori-bisa-berada-di-dunia-ini', kemungkinan ke-3 yang menyatakan kalau dunia ini hanyalah stimulasi otak belaka semakin meningkat.
Akibat kejadian tadi aku menjadi lupa tujuan utamaku memeluknya dari belakang, tapi bukan Inori namanya kalau tidak mendapatkan informasi yang diinginkan.
…
Sore harinya setelah meminta tolong kepada Yoshikawa untuk menggantikanku dalam urusan piket (baca: menyogoknya dengan embel-embel mentraktir cheeseburger) aku segera pergi ke sekolahnya Tetsuya, SMP prestigious bernama Teikou yang pada saat ini menduduki tingkat pertama se-Tokyo.
Aku menaruh tasku di dalam loker, mengambil barang-barang penting, menaruhny di tas selempang yang akan aku bawa, dan menutupi seragam SDku dengan sweater berwarna crème. Untunglah hawa sore ini memang agak dingin sehingga aku tidak terlihat seperti orang penyakitan.
Setelah perjalanan sekitar kurang lebih 15 menit aku tiba di gerbang sekolah Teikou.
Aku tidak bohong ketika menyatakan sekolah ini luar biasa bagusnya. Dimulai dari arsitekturnya hingga keindahan pohon sakura yang bermekaran di depan gedung, semuanya memberikan makna kalau sekolah ini memang pantas menjadi SMP favorite.
"Ada perlu apa ke sini?" tanya satpam penjaga sekolah dengan nada tegas.
"Aku ingin bertemu kakakku, namanya Kuroko Tetsuya." jawabku dengan nada memelas dan perlu dikasihani.
"Baiklah, silahkan masuk" jawabnya singkat. Lalu pak satpam—yang bernama Yamada—dengan baik hatinya memberikanku petunjuk arah dimana letak gedung OR berada, bahkan ia memberikanku map sebagai pelengkapnya.
Sekedar info, . .
Dan dengan begonya aku tersesat di entah bagian mana, yang pastinya bukan gedung OR. Banyak murid-murid SMA yang berlalu lalang namun hanya melihatku sekilas dan berlalu, mungkin mereka bingung bagaimana kurcaci berambut biru terang sepertiku bisa berada di SMP mereka, atau malah aku dikira hantu… lagi.
Insting berkata untuk terus jalan entah kemana kaki membawa, melewati lapangan baseball, melewati lapangan bola sepak, melewati para pelari marathon, melewati kantin yang sepi, dan akhirnya semakin tersesat.
Makasih banyak loh, insting.
Logika berkata untuk bertanya kepada seseorang. Di ujung mata aku dapat melihat seseorang berambut kuning yang menarik perhatian mataku, siapa sangka ada bule di sekolah ini? Karena rasa penasaranku dan ketertarikan dengan warna rambutnya, aku bertanya kepada lelaki itu.
"Sumimasen!" ucapku sambil menepuk bahunya, jantungku berhenti berdetak ketika melihat wajahnya.
Kalian ingat ketika aku mengatakan kalau aku lemah dengan binatang imut? Iya, wajahnya seperti Golden Retriever.
"Ah, ada apa?" tanyanya dengan senyuman di wajahnya, dia memutar balikkan badannya agar dapat melihatku dengan jelas. Jantungku mungkin akan terus berhenti berdetak jika ia tidak mengucapkan kalimat selanjutnya, "Mau minta foto ya? Atau tanda tangan?" tanyanya.
"Ew, no thanks random nii-chan."
"Hidoi!"
Aku mengucapkannya secara keras ya? Ups, tee-hee! "Gomenasai oji-san, aku tidak bermaksud mengucapkannya secara keras-keras." Jawabku jujur, tapi dia semakin menangis buaya. Ini orang salah makan ya?
"Oji-san?!"
"Ugh… nii-san?" tanyaku, seketika tangisannya mereda. Oke, nii-san kalau begitu. "Nii-san tahu tidak di mana letak gedung olahraga?"
Dia menyeringai dengan licik, balas dendam atas apa yang telah aku ucapkan tadi, "Tidak akan aku kasih tahu~" jawabnya dengan nada gembira.
Muncul empat siku-siku di keningku, "Nii-san, jangan tersenyum seperti itu, kamu terlihat seperti pedophile." Ucapku dengan wajah datar.
Jleb.
"Mending nii-san buruan memberi tahu di mana gedung olahraga berada sebelum aku laporkan Pedophile-nii ke satpam" Lanjutku.
Jleb
"HIdoiiiiiii~~~~" Rengeknya dengan lebay. Memang sih aku masih SD di sini, tapi aku sudah pantas dipanggil tante di sana, dan aku tahu setiap ekspresi yang digunakannya terlihat palsu. "Karena kamu sudah menyakitkan hatiku, sebagai gantinya harus foto bersama ku!"
Tanpa pikir panjang aku meninggalkannya di tempat.
Catatan tambahan untuk diriku: jangan bertanya letak gedung ke orang mencurigakan—ralat—jangan bertanya tentang letak gedung dengan orang narsis.
Orang kedua yang aku temui setelah manusia narsis tadi adalah seorang laki-laki berambut hitam yang terlihat normal dan pastinya tidak mengira aku ingin meminta foto dengannya atau meminta tanda tangannya. Aku bersyukur kepada orangtuanya karena telah mendidik pria ini dengan benar.
"Memang ada perlu apa ke gedung olahraga?" tanyanya sambil mengantarkanku ke gedung olahraga karena kebetulan ia ingin ke sana juga.
Mataku masih menatap jalan di depan, "Ingin bertemu kakakku, dia mengikuti ekstrakulikuler basket."
"Heee, kalau boleh tahu nama kamu siapa?"
Aku meliriknya , "Bukannya sebelum menanyakan nama orang harus memperkenalkan namamu sendiri?" sepertinya mulutku masih panas akibat pertemuan dengan lelaki pertama tadi.
Dia terkekeh pelan, "Ah maaf, namaku Nijimura Shuzo. Saat ini menjabat jadi ketua tim basket Teiko." Jelasnya singkat.
"Kuro—" belum sempat aku menjawab pertanyaanya, teriakkan mengelegar dapat terdengar dari dalam gedung olahraga.
"KEMBALIKAN SNACK KUUUUU!" teriaknya sambil berlari mengejar snack yang didambanya, badannya tinggi luar biasa dan rambutnya berwarna ungu. Dan aku kira warna rambutku aneh.
Nijimura langsung berteriak sebal"Hei, sedang apa kalian?! Nggak malu diliatin anak SD berprilaku seperti itu?"
"Gomen gomen Shuzo-cchi, tapi aku lapaar~~~" balas rambut ungu.
"Tidak boleh makan sambil main basket nanodayo!" lanjut rambut hijau.
"Sini, ambil snackmu jika mau 1 on 1 bersama ku!" timpal rambut navy blue.
Rambut ungu geram, "KEMBALIKAN SNACK KUUU!"
Rambut pink menghelakan nafas dan menghampiri Nijimura, "Ada apa Nijimura-senpai?"
Nijimura memijit keningnya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi dengan rekan tim basketnya yang berprilaku ekstrim seperti ini."Ini, ada yang mencari kakaknya." Dengan tangan kirinya dia menunjuk kearah sebelahnya.
"Siapa?"
"Ini loh—"dia memberhentikan ucapannya ketika tidak melihat siapa-siapa di sampingnya. Bulu kudukknya berdiri, kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh?
….
Aku berlari dengan sekuat tenaga untuk keluar dari SMP Teiko, napasku terengah-engah , orang-orang menatapku bingung, aku menghiraukan panggilan satpam, aku ingin segera sampai ke rumah.
Di gedung olahraga Teikou tadi tidak ada Tetsuya.
….
[][][][]
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA REVIEW DAN FAVORITE!
