CHAPTER: 2

AUTHOR : Hezel MintCherry

FANDOM : NARUTO

RATE : T

PAIRING : SASUSAKU

GENRE : Romance, Mystery

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

WARNING: Terinspirasi dari komik yang pernah saya baca, tapi saya usahakan ceritanya berbeda dikit hehehhe... Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?

.

Don't like don't read!

.

.

.

Hehe karna ini FF pertama aq jadi mohon maaf jika masih banyak kesalahan maklum newbie, mohon masukan dan sarannya melalui review Senpai semua arigatou ~_~

.

.

.

(^▽^)↗ Happy Reading ↖(^▽^)↗

.

.

.

Di salah satu ruangan dalam gedung sekolah terlihat Seorang pemuda tampan yang sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya, dia telah melihat kilatan merah memancarkan aura membunuh yang perlahan mulai memudar.

"Emm..Sa..suke terimakasih telah menolongku lagi." Rintih seorang gadis manis yang terlihat lemah di pangkuan seorang Uchiha itu menatap onyx hitam pemuda dihadapannya dengan sepasang mata merahnya yang mulai meredup.

"Aku lelah Sasuke dan..." Ucapannya menggantung.

"Dan apa Sakura?" potong Sasuke penasaran.

"Dan... tenggorokanku rasanya sangat panas, sepertinya ada hal aneh yg terjadi padaku...Ah..."Syuut Sakura pun tertidur di pelukan Sasuke.

Sasuke yg masih sedikit bingung segera menggendong gadis pinky tetangganya itu seperti seorang pangeran yg menggendong seorang putri menuju UKS, sepanjang koridor kelas semua orang menatap heboh kearah Sasuke dan Sakura dengan tatapan bermacam-macam ada yg iri, ada yang kagum ada yang senang karena mereka berdua terlihat serasi sekali tampan dan cantik...terdengar pula teriakan-teriakan fansgirl Sasuke turut meramaikan perjalanannya menuju UKS, "Kyaaa Sasuke-Senpai keren sekali, tapi siapa yang di digendongnya itu? Huh bikin iri saja!?" teriakan yang terdengar tak rela melihat pangerannya menggendong gadis lain.

Pemuda tampan bertubuh tegap itu tak memperdulikan apa kata orang-orang tentangnya, dia tetap saja cuek dan fokus menuju UKS sekolah yg cukup jauh karna letak ruangannya yg terpisah dengan gedung utama.

Tapi lelaki yg berambut emo unik ala pantat ayam yg mencuat kebelakang itu menjadi tidak fokus lagi saat terdengar suara berisik nan cempreng menggelegar di seluruh koridor sekolah memanggil-manggil namanya, tentu saja suara yang sangat dia kenal siapa lagi kalau bukan sahabatnya sendiri sudah berteriak dan melambaikan tangan bersama seorang pria berambut hitam dikuncir seperti nanas yang menatapnya malas dengan menguap bosan.

"Hoi Temeee~..Temeeee~... Sedang apa kau terburu-buru begitu...? Ahh...!? diaaa-" sambil mengernyitkan dahi pertanda bingung, Naruto langsung menatap Sasuke dengan dengan pandangan mesum, "Ahh...kau apakan Sakura-chan Teme? Jangan jangan kau..."

Belum selesai pemuda rambut duren itu melanjutkan kata-katanya tapi Sasuke langsung memotongnya, "Berisik kau Dobe! Beritahu saja kedua sahabatnya kalau dia sedang istirahat di UKS." Perintah pemuda bermata onyx itu dengan deathglare andalannya pada sahabat kuningnya itu dengan tetap berlagak sok cuek. Sasuke pun langsung melenggang begitu saja meninggalkan sahabat kuningnya yg terlihat bingung di ujung koridor untuk mencerna kata-katanya barusan, sedangkan pria berambut nanas disebelahnya hanya menggumamkan kata "merepotkan" yang lagi-lagi sambil menguap.

Setelah tiba di UKS, sang Uchiha bungsu langsung merebahkan perlahan tubuh mungil gadis yang sedari tadi di gendongnya itu ke atas ranjang dengan sprei putih bersih yg sudah tersedia di UKS tersebut.

.

.

.

30 menit berlalu dan Sakura pun mulai membuka matanya, emerald indahnya mengerjap memandangi langit-langit tempat ia berbaring. Dengan kepala yang masih sedikit pening.

"Kau sudah bangun?" terdengar suara khas lelaki yg ia cintai memecah keheningan.

"Ah... Sa...Suke kau dari tadi menemaniku di sini?" seketika itu rona merah langsung terlihat jelas di wajah Sakura

"Hn, kau tadi pingsan." jawab pemuda berambut raven itu dengan wajah datarnya.

Mendengar jawaban singkat padat dan jelas dari pemuda dihadapannya membuat Sakura semakin menunduk, selain mencoba menenangkan detak jatungnya yang berdebar keras tiap kali berdekatan dengan lelaki yang dia cintai itu dia juga mencoba mengingat-ingat apa yang tadi terjadi hingga dia berada di UKS berdua dengan pangeran sekolahnya ini.

Keheningan pun mulai menyelimuti mereka berdua hingga Sasuke memulai pembicaraan.

"Hn, sepertinya akhir-akhir ini kau jadi aneh." ucap Sasuke sambil memandang emerald Sakura yg terlihat gelisah, "Jika ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, aku akan mendengarkannya." ucapnya lagi kali ini sambil tersenyum lembut seraya membelai helaian pucuk merah muda milik gadis manis yang hari ini genap berusia 17 tahun itu sehingga membuat Sakura blushing berat dan berdebar-debar bagai tersengat listrik.

"Ah... Ti-tidak ada apa-apa kok." Tegas Sakura lirih sambil berkata lagi kali ini bibirnya tiba-tiba mengatakan suatu hal yg selama ini ingin ia ungkapkan kepada lelaki itu.

"A-apa...kau akan selalu ada di sampingku?" tanyanya lagi tiba-tiba sambil memegangi debaran jantung yang ingin dia sembunyikan dari pemuda tampan di hadapannya.

"..."

Beberapa menit berlalu tanpa ada jawaban dari Sasuke dan itu membuat Sakura frustasi untuk segera mengelak pertanyaannya bodohnya, "Ah, bukan apa-apa yang tadi, aku hanya asal bicara, jadi tolong lupakan saja ya? hehehe." Elak Sakura sambil Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan.

"Tentu saja. Aku akan selalu di sampingmu." Sasuke pun menjawab dengan sedikit tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai seksi untuk kembali melanjutkan kata-katanya, "Jangan menanyakan hal konyol seperti itu bodoh!" ucapan Sasuke kali ini membuat Sakura kembali bersemangat, sedikit demi sedikit Sasuke mulai mau membuka hatinya untuk Sakura.

"Hn, kalau kau sudah baikan, ayo kita kembali ke kelas!" ajak Sasuke sembari melangkah keluar dengan tangan di masukkan ke dalam saku celananya dan meninggalkan Sakura.

"Ah tunggu Sasuke jangan tinggalkan aku!?" dengan cepat gadis berhelaian merah muda itu langsung berlari mengejar Sasuke dengan senyum manisnya merekapun berjalan bersama.

"Sakura..."

Merasa namanya di panggil, Sakura langsung mengerjap kaget karena yang memanggilnya adalah Sasuke, belum sempat Sakura memjawab panggilan tersebut, pemuda tampan bermata onyx itu langsung melanjutkan kata-katanya "Hn, nanti pulang sekolah aku akan mengantarmu!"

"Ehh..apa...?" Sakura benar-benar kaget dengan apa yang dia dengar barusan.

"Jangan pura-pura tidak dengar pinky, aku antar kau pulang nanti karena keadaanmu sangat aneh hari ini!" tegas Sasuke tapi lebih tepatnya disebut perintah yang tak terbantahkan dari Uchiha bungsu itu diiringi semburat merah di pipi mulusnya, "Dan temani aku membeli beberapa buku." Lanjutnya lagi.

Sakura terkikik geli mendengar ajakan Sasuke yang tidak biasanya begini, sambil mengangguk Sakura meng'Iya'kan kata-kata Sasuke barusan yang membuat hatinya senang mengingat hari ini adalah hari kelahiran Sakura yang tepat berumur 17 tahun/sweet seventeen ini. Walau Sasuke tidak mengetahuinya dan tidak memberinya kejutan/hadiah tapi dia cukup senang bisa bersama pemuda yang dia cintai dalam diam dan melihat beberapa sisi lain pemuda berambut raven dark blue itu, juga sahabat-sahabatnya yang tadi pagi memberinya beberapa kejutan yang membuatnya semakin menyukai kehidupan remaja nya ini. 'OH... Kami-Sama.. Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku hari ini' ucapnya dalam hati tak sabar menanti waktu pulang sekolah.

Sesampainya dikelas, jam pelajaran sedang berlangsung hanya saja, terlihat guru killer dengan rambut hitam panjang dan tatapan tajamnya sedang menjelaskan materi dan terhenti karena pintu kelas dibuka oleh Sakura. Sontak kelaspun semakin hening, semua mata siswa langsung menatap gadis helaian merah muda yang terlihat agak pucat didepan pintu masuk kelas.

"Haruno! Darimana saja kau?" Desis sang guru dengan tatapan memicing tajam yang terlihat tidak suka jika ada seorang muridnya telat dan kegiatan mengajarnya jadi terganggu.

"Go-gomen sensei! saya dari UKS." Jelas Sakura sambil meremas ujung-ujung rok miliknya gugup.

"Baiklah, cepat kembali ketempat dudukmu!" perintah Orochimaru sensei pada murid yang memiliki otak cerdas dikelasnya itu sambil kembali menuliskan materi dipapan tulis.

"Baik sensei." Jawab Sakura seraya berjalan menuju kursinya yang terletak di ujung kelas dekat jendela. Baru saja dia mendudukkan bokongnya dikursi tiba-tiba ada suara bisikan yang dirasa dari sahabat pirangnya yang berada dibelakan tempat duduknya itu memanggil-manggil.

"Pssstttt, jidat! Kau lama sekali sih di UKS? Modus yaa? supaya tidak ikut pelajaran sensei killer, eh?" Bisik Ino dengan lengkingan suaranya yang cukup tinggi.

"Apa sih pig! Bukan begitu, tapi aku sedang tidak enak badan tadi!" jawab Sakura sekenanya, mendengar jawaban sahabat pinkynya itu pun membuat gadis bermata aquamarine ini mendengus, belum sempat Ino membuka mulutnya lagi tapi sebuah suara besar menginterupsi keduanya.

"YAMANAKA! HARUNO! Perhatikan kedepan!" Bentakan Orochimaru sensei sukses membuat Ino dan Sakura mengkeret.

"H-Ha'i sensei." Sahut keduanya bersamaan.

.

.

.

KRINGG...KRIINGGG...KRIINGGG..

Bel yg menandakan berakhirnya aktifitas sekolahpun berbunyi, alunan merdu yang sangat ditunggu-tunggu semua murid terutama gadis manis di sebelah jendela yang menguap bosan dari tadi, bukannya apa, pelajaran Orochimaru sensei benar-benar membosankan, membahas anatomi bagian tubuh binatang itu membuat Sakura jijik, belum lagi saat pelajaran berlangsung para siswa tak bisa berkutik sama sekali, karena sedikit saja terlihat adanya pergerakan, maka sang guru akan murka dan berdesis bagai ular,

"Hoamm.. Akhirnya bisa pulang juga~" keluh gadis bermata emerald yg sudah mulai lelah, tapi juga bersemangat mengingat dia akan pulang bersama lelaki pujaannya... Dia pun membereskan peralatan sekolahnya sambil terkikik geli. Tapi tawa dan lamunannya seketika berhenti saat melihat kedua sahabat lelaki yang baru saja memenuhi pikirannya terlihat sedang celingukan di depan kelasnya, benar pria dengan rambut kuning jabrik seperti duren dan satu lagi pria tampan dengan rambut klimis hitam legam yg terlihat selalu tersenyum itu sedang mencari seseorang dikelasnya dan Tiba-tiba...

"Itu Sai-kun dan Naruto-kun" ucap kedua sahabatnya bersamaan dan antusias yg membuat Sakura sangat kaget.

"Eeeehhh..." teriak Sakura yang membuat kedua sahabatnya sedikit merona.

"Ne~Sakura-chan maaf ya aku duluan dengan Naruto-kun hehe." Ucap Hinata malu-malu, pinggang mungil Hinata pun langsung disambar tangan besar Naruto yang sudah mendekati gadis berhelaian indigo itu. Hinata yang mendapat perlakuan seperti itu dari kekasih barunya hanya bisa merunduk menahan semburat merah yang mulai menguasai seluruh wajahnya.

"Hehe, benar aku dan Hinata-chan baru saja jadian." Jawab lelaki dengan rambut jabrik berwarna kuning cerah itu antusias seperti mengerti pertanyaan yang ada dipikiran sahabat gadisnya. "Sudah ya kami duluan Sakura-chan, jaaa~"

Sakura hanya bisa sweatdrop dan tersenyum ketika melihat itu semua dan menyisakan sebuah tanda tanya besar untuk mereka berdua 'kapan mereka PDKT nyaa yaa? Cepet banget mengingat seorang Hinata yang pemalu itu, hem aku harus meminta penjelasan Hinata-chan!?' Inner Sakura berteriak penasaran.

"Emm jidat, maaf aku juga mau pulang dengan-" belum sempat Ino melengkapi kata-katanya tiba-tiba Sakura nyeletuk, "Sai kan?"

"Hah?" Ino kaget sambil nyengir kuda "Hehehe, kau tau aja jidat."

"Tentu saja tau." Balas Sakura cepat tak ingin berlama-lama menanggapi sahabat pirangnya yang cerewet ini.

"Udah sana ditunggu pangeranmu tuh." Dorongnya agar Ino segera menghampiri kekasihnya itu.

"Hehe, kamu juga cepat cari pacar, biar gak jomblo terus haha jaa ne~ jidaattt." Kata Ino sambil melambaikan tangan dan meninggalkan Sakura sendirian di kelas yg sudah mulai sepi itu.

"Huffftt dasar pig, jadi tinggal aku sendiri nih diantara sahabat ku yg belum punya kekasih?" keluh Sakura sebal, "Tapi yosh, aku juga tak akan menyerah untuk dapat kekasih, emm yg seperti Sasuke tentunya hehehe," kata Sakura menyemangati diri sendiri yang tanpa sadar dia sudah tidak terlalu memikirkan kejadian aneh yang menimpa dirinya beberapa jam yang lalu.

Dikoridor sekolah yang mulai sepi terdengar suara langkah kaki dari seorang gadis mungil berkepala pink yang sedang terburu-buru menuju tempat parkiran motor untuk menghampiri seorang pemuda yang terlihat menekuk wajah tampannya sebal telah menunggu lama.

"Ck, lama sekali, ayo cepat naik!" decakkan kesal keluar dari bibir tipis pemuda bertatapan onyx itu sambil menaiki motornya.

"Gomen telah membuatmu menunggu." Gumam Sakura sembari menaiki motor hitam legam sewarna dengan sepasang mata pemiliknya itu.

"Hn." jawab Sasuke datar, "pegangan!" ucapnya lagi, membuat sakura berdebar dan perlahan memeluk erat pemuda yg di cintainya itu.

Seperti melayang rasanya, sepanjang jalan helaian merah muda panjang milik Sakura berkibar tak beraturan dan dirinya juga terlihat tidak fokus karena memeluk punggung tegap pemuda di depannya untuk kedua kalinya dalam sehari ini, 'Oh Kami-Sama...ini benar-benar surga dunia!?' jerit inner Sakura histeris. Dan jangan lupakan aroma khas pemuda dipelukannya yang menyeruak lembut dipenciuman gadis pinky ini membuatnya terbuai hingga tak terasa mereka telah sampai di toko yg cukup besar di Distrik Konoha.

Setelah memarkir motor, mereka berdua pun bergegas masuk, Sasuke segera memilih-milih buku yg ingin dibelinya, sementara Sakura malah tertahan di etalase toko yg juga menjual berbagai aksesoris pelengkap kaum hawa. Sakura melihat aksesoris tersebut dengan mata yg berbinar-binar, terutama pada kalung perak cantik dan memiliki liontin berbentuk kelopak bunga sakura yang sedang mekar itu sangat indah, liontin itu sangat mirip dengan dirinya.

Sakura Pov :

'Hem.. Bagus banget kalungnya, tapi harga nya mahal nih ngepas banget sama uang di dompetku, hiks,' ucapku dalam hati sambil melihat isi dompet yg pas-pasan dan ku edarkan pancaran emeraldku mencari pemuda dengan model rambut mencuat-cuat kebelakang, dan "Ahh~ ketemu! itu dia... ternyata dia sudah mengantri untuk membayar belanjaanya, hufft dia itu cepet banget sih belanja, nikmatin hidup dikit napa? Liat-liat barang yang lain kek seperti aku gini!?" gerutuan kesal keluar dari bibir mungilku, sudah tak ku pedulikan lagi apa tanggapan orang-orang sekitar saat melihatku ngomel-ngomel sendiri.

'Hem, lebih baik segera kususul dia! Sebelum menungguku terlalu lama dan mengurangi nilai plusku di matanya, itu tidak boleh terjadi!' kali ini teriakan innerku yang menggebu-gebu sambil menghela nafas akhirnya kuputuskan untuk membeli kalung liontin yang kutaksir beberapa menit yang lalu ini, walau dengan semua uang jajanku, kan nanti aku bisa minta lagi dengan Kaa-san khukhukhu begitu pikirku.

"Tolong dibungkuskan yang ini ya!" pintaku seraya menunjuk kalung dengan liontin bunga sakura yang menarik perhatianku tadi.

"Baik nona, silahkan langsung ke kasir dan barang anda segera saya antarkan kesana." Jawab salah satu karyawan yang menjaga bagian aksesoris itu dengan tersenyum ramah.

Baru saja aku ingin berjalan ke kasir dan membayar belanjaanku tapi malah Sasuke yg membayarnya, dengan tampang sok coolnya dia membuka dompetnya sembari menanyakan harganya,

"Ahk" sontak membuat ku kesal dan gugup, kenapa dia melakukannya. "Hei, kenapa kau yg membayar Sasuke?" tanyaku pada pria menyebalkan dan seenaknya sendiri yang entah mengapa sangat kucintai ini.

"Tak masalah, aku hanya ingin membayarnya." Sahut pemuda bertampang dingin tapi tampan itu dengan nada datar.

"Ta.. Tapi kenapa itukan belanjaanku, seharusnya aku yg membayarnya~" cicitku sedikit merona dan melirik ke arah sepasang onyxnya yg entah mengapa sangat dekat dengan emeraldku, aku bisa merasakan hangat nafasnya. Tanpa ku sadari, dia mengambil kalung yg ingin kubeli tadi dan memakaikannya di leher jenjangku. Sontak saja orang-orang langsung menatap tajam ke arah kami, ada juga beberapa pengunjung tengil yang menyoraki kami dengan siulan-siulannya, sial! dan akupun tak dapat mengatakan apa-apa lagi selain menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di pipiku yg entah bagaimana tampangku sekarang mungkin sudah menjadi semerah kepiting rebus di hadapan lelaki yg ku cintai.

"Hari ini kau bertambah tua kan?" Tanya Sasuke lengkap dengan seringaian tipis diwajahnya setelah selesai memasangkan kalung tersebut.

Hah!? TUING

Perempatan siku muncul di jidatku yang cukup lebar ini. Apa dia bilang tadi hah? bertambah tua? Ingin rasanya ku tonjok wajah rupawan dihadapanku ini tapi ku tak tega.

"Hn, Otanjoubi omedetou Sakura." Ucapnya lagi saat melihatku merunduk menahan amarah karena kata-kata pedasnya barusan, cih aku jadi tak bisa berlama-lama membenci mulut pedasnya itu.

"Kau...tau darimana kalau hari ini ulang tahunku?" tanyaku lirih tak percaya, ya jelas saja selama ini dia terlihat cuek-cuek begitu.

"Tentu saja tahu!" Jawabnya dengan menarik keatas bibir tipisnya sehingga membentuk lengkungan menyerupai senyum tapi lebih tepat disebut seringai. "Nah ayo cepat, kita pulang!" perintahnya sembari melenggang keluar toko dengan menarik tanganku. Akupun hanya mengangguk kecil mengingat rentetan peristiwa yang membuatku bahagia hari ini.

Sesampainya dirumah, segera saja aku berendam air hangat ah...tak pernah lepas pandanganku dari kalung pemberian Sasuke ini, hingga tanpa sadar aku selalu tersenyum-senyum dari masuk rumah tadi dan membuat ibuku bingung sendiri.

"Sakura, cepat mandinya jangan terlalu lama berendam! kau bisa jadi kepiting rebus nanti!" teriakan melengking Nyonya Haruno itu sukses membuat seluruh lamunanku buyar.

"Iya-iya Kaa-san! Aku sudah selesai kok!" Sahutku sembari keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk pinky polkadot milikku menuju kamar untuk siap-siap dan segera membantu Ibuku menyiapkan makan malam special.

Ya special karena untuk merayakan hari ulang tahunku yang ke-17 walau sederhana tanpa pesta meriah seperti tahun lalu sudah membuatku senang, hanya berdua dengan Ibu saja tanpa Ayah dan kakakku, tapi tak apalah aku sudah biasa karena ayahku sudah 5 tahun yang lalu meninggal dalam kecelakaan pesawat saat hendak dinas di luar negeri dan kakakku... Ngomong-ngomong soal kakak...

"Ah ya, Kaa-san kapan Nii-chan akan pulang?" aku bertanya pada Kaa-san yang sedang memotong sayuran.

Medengar pertannyaanku membuat Kaa-san menghentikan kegiatannya. "Tadi siang dia menghubungi Kaa-san katanya akan pulang seminggu lagi, dia sudah sangat merindukan imotounya yang manis dan berisik ini." Jelas Kaa-san dengan mencubit gemas kedua pipi chubbyku.

"Asiiikkk Nii-chan bentar lagi pulang, yippiiii." sontak ku berteriak kegirangan, tak kurasakan lagi sakitnya cubitan di pipiku barusan.

"Ahh Sakura, daripada kau semakin berisik, mending bantu Kaa-san! Belikan beberapa bahan makanan di minimarket terdekat ya?" perintah sang Ibu sambil menyodorkan sejumlah uang dan catatan kecil berisi daftar barang yang harus dibeli.

"Ah Kaa-san...tak bisa liat anaknya senang sedikit udah disuruh-suruh...hufftt...!" aku mendengus keras tapi akhirnya aku turuti juga perintah Ibuku tercinta ini, bagaimanapun juga tak baik membantah perintah orang tua. "hemm baiklah, aku pergi." Ujarku sambil melenggang keluar rumah dan tak sengaja melihat kearah rumah tetanggaku yang terlihat gelap gulita, kemana penghuninya?

"Emm Sasuke...kok dia belum pulang ya?" gumamku sendiri yang mulai cemas dengan pemuda sebelah rumah yang sangat kucintai itu. Gimana tak cemas jika mengingat dia tinggal sendirian karena kedua orang tuanya telah lama meninggal dan kakak satu-satunya yang dia miliki sedang kuliah di luar kota seperti Nii-chanku, tapi Sasuke bisa hidup mandiri dan selalu terlihat tegar menjalani hidup sesulit apapun, hihi itulah yang kusukai darinya, walau kadang dia benar-benar menyebalkan huufftt...helaan nafas panjangku pun mengiringi langkahku di malam sepi ini.

Tak terasa aku telah sampai di mini market, karena sepanjang jalan kugunakan untuk menghayal yang indah-indah tentang Sasuke hehe, segera saja aku masuk kedalam toko serba ada itu dan membeli beberapa barang yang tercatat pada secarik kertas dalam genggamanku ini. Selesai dengan mini market, akupun bergegas pulang melewati jalan yang sama tapi terlihat lebih sepi dari saat berangkat tadi.

DEG!

"Akhh...Perasaan ini muncul lagi!" rintihku menahan gejolak asing dalam diriku yang seolah meronta minta dibebaskan. Di ujung jalan yang sepi ini aku hanya bisa menunduk meredakan gejolak yang mengakibatkan rasa panas di ternggorokanku.

'Hosh..hosh..apa-apaan ini? Rasanya panas, kering dan haus bersamaan melanda tenggorokanku.' batinku meronta kesakitan. "Si...siapa saja tolong aku~ hosh..hosh." rintihku lagi dan berharap ada seseorang yang mendengar dan menolongku.

"Nona, kau baik-baik saja?" Tanya seorang lelaki yang lewat sekitar sini.

Ah...Akhirnya ada juga yang mau menolongku, saat aku berbalik dan memandangnya, kenapa dia seperti ketakutan melihatku? Seperti melihat setan, belum sempat ku menjawab pertanyaannya tiba-tiba tubuhku bergerak cepat mendekati dia lalu menerkamnya kuat-kuat, seolah dia adalah makanan santapanku, 'HAH! TIDAAAKKK!' innerku menjerit tak ingin melakukan hal ini tapi tubuhku menolak, aku tak bisa menghentikan rasa haus ini! Benar aku ingin DARAH!...

Hap! Slurppp...

"AKHHHH!" Teriakan pria malang ini menggema di jalanan sepi, sepintas ku merasakan seperti ada bagian diriku yang menertawakan pria tersebut, rasa puas mengalir deras dalam tubuhku entah mengapa bisa begini aku juga tak tau! Apalagi pria yang lehernya ku gigit tadi sepertinya langsung mati.

"HAH MATI!?...Orang itu mati...? Hah bagaimana ini? Tadi aku telah menghisap habis darahnya hingga mengering dan rasanya benar-benar sangat lezat!" Masih setengah sadar saat otak cerdasku mencerna semua yang barusan terjadi membuatku shock.

Karena panik akan kejadian aneh dihadapanku tiba-tiba saja aku dapat menggerakkan tubuhku selincah mungkin, tubuhku yang terasa ringan ini melompat-lompati atap rumah warga sekitar agar aku dapat segera sampai dirumah. Dengan perasaan bersalah, takut, gelisah, akupun akhirnya tiba dirumahku. 'Penyakit apa yang ada dalam tubuhku ini?' tanyaku dalam hati sebelum masuk kedalam rumah dan untungnya belanjaan yang kubeli tadi masih ada ditanganku, dalam keadaan ragu-ragu kupegang gagang pintu rumahku dan membukanya perlahan.

CEKLEK!

"Tadaima..." Ucapan salamku terdengar menggema dilorong rumahku. Dan terdengar langkah kaki Ibuku terburu-buru menyambutku, mungkin dia mencemaskanku karena terlalu lama pergi belanja.

"Okaeri Saku- hah! Astaga Sakura, kenapa bibirmu berdarahan begitu nak!?"

"Eh?"

~~~~~~~~~~~ T.B.C~~~~~~~~~~~

Gimana...gimanaa..? Hehhhe di chapter 2 ini mungkin sedikit membosankan tapi saya telah berusaha sebaik mungkin, maklum newbie jadi masih belum terlalu bisa mempermainkan alur khukhukhu, #tertawa nista 😄😄 ehh untuk apa? #Plak digampar readers (ε(#)

.

.

About review :

Ne~ pasti di lanjut kok minaa..hehehe

Ekh-hem, yang masalah cerita mirip komik itu memang qu akui benar, karena aq terinspirasi dari komik vampire yang pernah qu baca hehehe... Entah mengapa ingin aja buat versi sasusaku dengan bumbu-bumbu yang sedikit berbeda tentunya... Ehh bumbu? Kayak mau masak aja #plak -_-b

Emmm masalah alur nih gak begitu mudeng...alurnya kecepetan yah? Gomen.. aq belum begitu mahir membuat cepat lambatnya alur, tapi akan ku coba perbaiki di chap selanjutnya heheh arigatou udah memberi kritik dan saran senpai semua ↖(^ω^)↗

.

.

Sekali lagi Hezel ucapkan arigatou untuk para readers yang berkenan membaca fict abal yang jauh dari kata sempurna ini.

Mind to Review please?

( ̄︶ ̄) []~()~* ( ̄﹏ ̄) (ˇ)