To Sandwich, Sandwiching, Sandwiched

Daruma Kuah Kimchi ||

TsukiYamaYachi (or TsukiYachiYama since I really like sandwiched girls?!) ||

This is polyamory so. Bisa dibilang lanjutan dari 'Insight'-nya Hikari Chrysant. Go read her works, they are awesome! I think I orgasmed once when I read those pile of beautiful rainbows. ||

.

.

.

.

.

.

Prompt : bathroom stall

.

.

.

.

.

.

.

.

Rumah Berbagi memiliki tiga bathroom installment, dua jacuzzi dan setiap kamar mandinya memiliki shower yang ditutupi dengan dinding kaca. Ketika mandi, Hitoka senang melihat butiran-butiran air menghiasi kaca-kaca tersebut—menutupi pandangan dari dalam sehingga pemandangan dari luar kaca ke dalam tidak terlihat begitu jelas. Uap-uap air adalah teman Hitoka yang tidak terlalu percaya diri dengan figur tubuhnya sendiri.

Sore ini Hitoka baru membeli sampo dan sabun konsentrat. Warnanya transparan periwinkle cantik dan wanginya seperti wangi stroberi dan madu yang tidak menyengat. Saat menuangkan sabun tersebut ke tubuhnya sendiri, Hitoka merasa otaknya yang kusut tergosok menjadi lurus, dan tanpa sadar senyumnya melebar. Kimochii! Dengan senang Hitoka bermain dengan gelembung-gelembung merah muda dan transparan yang melayang di udara sekitarnya, pecah terkena air panas yang turun dari shower. Air panas turun menuruni tubuh Hitoka menuju punggung. Hitoka memandang butiran air yang memenuhi bagian dalam kaca dan dia mengelap air itu dengan satu jari. Satu jejak jari terlihat, membuat satu pemandangan keluar terlihat jelas.

Hitoka menulis namanya dalam kanji dan katakana, sebelum menulis nama Tadashi dan Kei. Senyum lebar menghiasi wajah Hitoka.

Dan…

Setiap kali melihat kaca seperti ini, Hitoka berpikir, dia selalu teringat adegan itu.

Hitoka kecil adalah anak yang cerdas—ketika malam hari datang dan dia sendirian, ibunya sibuk rapat dan meninggalkan makan malam di atas meja makan untuk Hitoka makan, Hitoka hanya tersenyum dan mengangguk. TV dinyalakan dan dia makan dengan tenang—sebelum akhirnya TV itu menayangkan suatu film hollywood. Pada setengah jam pertama, Hitoka terserap pada film tersebut, sebelum setengah jam kedua, satu adegan terjadi.

Adegan ini menyorot sebuah kamar dengan satu lampu, berdinding hitam. Hanya ada satu hal di tengahnya—shower dengan dinding kaca. Uap air keluar ganas dari dinding kaca tersebut, tidak terlihat apap-apa dari luar kecuali warna murky hijau kaca dan uap air. Hitoka kecil serius menonton adegan tersebut.

Sebelum, tiba-tiba, sebuah tangan merusak kesempurnaan butiran air di kaca dari dalam—tangan berkuku merah yang gemetaran, sebelum akhirnya tangan lain yang lebih kekar dan maskulin muncul, menggulung tangan yang gemetaran tersebut menjadi satu. Tangan-tangan tersebut terlihat begitu sibut bergulat, naik turun membuat jejak pemandangan yang liar. Satu pasang tangan lain muncul ketika suara-suara aneh mengikuti.

Hitoka kecil ketakutan—apa yang terjadi di dalam? Insting anak-anaknya berteriak ada sesuatu yang aneh terjadi, dan Hitoka tidak sanggup untuk ketakutan karena malam ini Ibu akan pulang jam dua belas, sayang, jadi jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu sebelum tidur, ibu sayang kamu, dadah.

Jadi Hitoka segera mematikan TV, mencuci piring dengan ketakutan, dan segera berlari ke kamar. Memeluk beruangnya yang besar dan menyalakan lampu. Namun adegan itu terpatri di belakang kepalanya sampai dasawarsa selanjutnya.

Hitoka mematikkan shower. Rasa panas masih melingkupi dirinya sebelum dua detik kemudian, hangat itu hilang digantikan dingin yang nyaman.

Tentu, Hitoka yang sekarang tahu apa yang terjadi—bagaimana bisa televisi jepang tahun itu menayangkan sesuatu yang dewasa sekali di saat anak kecil masih terbangun, pikir Hitoka dengan wajah merah yang tidak ada hubungannya dengan air panas. Butuh waktu sedasawarsa untuk Hitoka untuk mengerti bahwa suara-suara aneh itu adalah desahan kepuasan, bahwa gemetar tangan dari wanita berkuku-skarlet adalah getaran yang tidak dapat membendung kenikmatan…

Hitoka menghela napas dan keluar dari kamar mandi setelah memakai t-shirt biasa dan celana pendek. Hari ini toh Tadashi pergi ke luar kota untuk melakukan penelitian uni dan Kei menginap di rumah temannya untuk melakukan kerja kelompok. Memiliki pacar anak sains dan teknik memang agak sedikit merepotkan—kau tidak akan tahu kapan mereka akan jatuh pingsan saking sibuknya.

Itu yang Hitoka pikir—sebelum dia melihat rambut pirang Kei di atas tempat tidur.

"Hitoka," Kei berkata.

Sebenarnya Hitoka sendiri merasa malu dipanggil nama oleh Tsuki—maksudnya Kei. Suatu pagi, Kei tiba-tiba bilang pada Hitoka bahwa Hitoka boleh memanggilnya Kei. Maka Hitoka bilang pada Kei, "T-Tsuki—maksudnya, Kei-kun juga… panggillah namaku, 'Hitoka'!"

Jadilah mereka memanggil nama depan mereka sekarang.

"Kamu pulang? Apa mau mandi dulu? Aku baru saja menyiapkan makan malam, mau makan?" tanya Hitoka khawatir. Wajah Kei terlihat sangat kucel. Omurice yang dia baru buat untuk dirinya mungkin sudah dingin, namun sedikit bantuan microwave akan membuat semuanya sempurna. Hitoka tidak mendengarkan apapun perkataan Kei dan segera menuju dapur, memanaskan makanan, dan berlari ke kamar mandi untuk menyiapkan kamar mandi. Setelah itu berlari dengan sigap—oke, hampir terpeleset—menuju ke ruang tengah.

"Lebih baik kamu mandi dulu, Kei-kun." Ucap Hitoka.

Kei tidak bergerak.

"Keee-iii-kuu-uuuun," Hitoka berusaha menarik tangan Kei dari sofa. Rasanya seperti menarik batu. Dan bukannya Hitoka mau sok imut atau apa, tapi jika tidak dibegitukan, Kei tidak bakalan mau beranjak.

Hitoka mengela napas. Tadashi juga sama seperti Kei—hanya saja dia lebih mudah untuk dibujuk. Mereka berdua tidak mudah lelah—dan God knows Hitoka tahu hal itu bukan dari pengalaman malam, dasar pembaca mesum—dan jika mereka terkapar seperti ini, ini berarti semuanya sudah lebih serius dari yang biasanya.

"Kei-kun, kamu bisa tidur setelah mandi." Ucap Hitoka dengan lembut melepas kacamata Kei. Kei menghela napas dan menarik napas panjang sebelum berhenti sejenak. "Aku sudah menyiapkan kamar mandi, dan kau bisa langsung makan, lalu baru tidur. Sudah aku bilang seharusnya—eh?!" pretelan panjang yang dikeluarkan Hitoka terpotong ketika Kei tiba-tiba menarik tangannya hingga dia terjatuh ke pelukan Kei. Kei menarik napas panjang-panjang ke leher Hitoka dan berkata dengan suara serak, "Hitoka. Mana stroberinya?"

"Hah?!" Hitoka berusaha menarik kembali tubuhnya supaya tidak terlalu melekat dengan Kei. "A-ap-apa ma-maksudmu, Kei-kun?!"

"Bau stroberi." Ucap Kei, dan apakah itu desah bahagia yang Hitoka dengar. "Mana stroberinya?"

Hitoka teringat dengan sampo dan sabun konsentrat yang Hitoka pakai dan berkata, "Aah, Kei-kun, mungkin maksudmu adalah sampo yang kupakai. Aku habis selesai mandi…"

Kei tidak beranjak dari pelukan Hitoka dan aneh, ini adalah pertama kalinya Kei menginisiasi pelukan. Hitoka merasa gelagapan ketika Kei bukannya beranjak namun memeluk Hitoka lebih dalam—tubuh mereka meleleh bersama, tidak berujung, dan Hitoka merasa relaks ketika tangan Kei mengelus punggungnya lembut.

"Yamaguchi benar." Kei berkata pelan.

"Ng?" Hitoka memandang Kei dengan mata bingung.

Kei hanya tersenyum sebelum membenamkan kepala Hitoka kedadanya sekali lagi, kemudian menenggelamkan wajahnya ke rambut Hitoka yang bikin mabuk kepayang.

"Kau seperti stroberi."

"…?!"

.

.

.

.

.

.

.

More fluff! Cerita ini diambil sebulan setelah chapter 1!

Ada yang bisa nangkep apa maksud Tsukki disini?

Kalo saya sendiri, saya mikir maksud Tsukki adalah… Yachi baunya kayak stroberi Yachi adalah stroberi stroberi bisa dimakan Yachi bisa 'dimakan'.

Iya Kei itu sebenernya closet pervert WKWKWK

Btw yang mau nyenggol saya di twitter sok atuh BAEMSNAKE SAYA SENDIRIAN ngga ada yang bisa diajak fangirling anime hu.

BTW sori untuk yang mnunggu apdetan I Like It Fast sejujurnya saya pun bingung itu Bumi mau dibawa kemana HAHA