Sebentar lagi, Timnas Sepakbola Jepang akan bersiap melawan Timnas Australia dalam ajang pertandingan Pra-Piala Dunia yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Semua pemain tengah giat berlatih untuk mempersiapkan diri. Sementara itu, Nanami pun sangat antusias untuk menontonnya. Dia ingin melihat dan memberikan dukungan kepada Misaki, Matsuyama, Misugi beserta Golden 23 secara langsung. Bahkan, Dia tidak lupa menandai hari istimewa itu di kalender.

Suatu ketika, Misaki, Misugi, dan Matsuyama datang ke rumah Nanami. Mereka sedang tidak ada jadwal latihan sehingga memutuskan bermain ke rumahnya. Saat itu, Nanami sedang terlihat sibuk dengan keadaan berantakan di ruang tamu.

"Kamu sedang menmbuat apa?" tanya Mereka bertiga.

Misaki melihat ada sebuah buku gambar di sana. Dia merasa penasaran dan mencoba untuk melihat gambar Nanami, tapi si pemilik gambar merasa malu. Saat dilihat, ternyata Ia sedang mendesain sebuah gelang bergambar dua tangan saling kawannya juga ikut menyaksikan.

Misugi bertanya, "Kenapa kamu ingin membuat ini?"

"Aku ingin membuat sebuah benda agar Kalian dan teman-teman bisa semangat saat bertanding melawan Australia besok. Seperti Team Furano dengan ikat kepalanya" jawab Nanami.

"Kalau kamu ingin membuatnya, Kita bisa kok membantunya." sambung Matsuyama.

Misaki mengamati goresan gambar Nanami dengan sangat lekat, lalu bertanya, "Nanamin, Bisa kamu jelaskan makna 2 orang yang berjabat tangan ini?"

Nanami menunduk. Ia mencoba menjelaskannya. "Ano.. mungkin ini terlihat aneh mengapa Aku menggambar itu. Sebenarnya, Itu adalah sebuah lambang dari persahabatan yang sudah kita jalani sejak bertemu di taman. Makanya, Aku melampiaskannya dengan sebuah gambar tangan saling bersalaman".

Ketiga laki-laki itu mengangguk tanda mengerti.

"Idemu bagus juga, Nanami. Yosh, tunggu apa lagi? Ayo kita buat bersama-sama!" seru Misugi.

Dengan alat dan bahan berupa pita kain, gunting, rubber sheet, dan spidol, Nanami dan Trio 3M membuat gelang. Dimulai dengan merajut tali dari pita, membuat pola di rubber sheet lalu digunting kecil-kecil, melubangi sisi kiri dan kanan untuk memasukkan tali, dan yang terakhir membuat gambar tangan dengan spidol. Nah, jadi deh gelangnya.

Setelah selesai, Matsuyama memamerkan gelang hasil buatannya kepada Misugi dan Misaki. "Nih, coba lihat deh. Punyaku bagus kan? Coba punya Kalian kayak gimana. Pasti nggak ada yang sebagus milikku ini"

"Ah, masa? Bagus yang mana antara milikku dengan milikmu? Kamu lihat, gambar tangannya aja jelek. Bagus dan rapi tuh kayak punyaku gini." Kata Misugi tidak mau kalah sambil menunjukkan hasil karyanya.

Matsuyama dan Misugi saling ngotot satu sama lain, sehingga Misaki yang menyaksikannya lalu melerai mereka berdua. "Sudah sudah. Tidak perlu bertengkar seperti anak kecil. Punya Kalian masing-masing bagus kok. Milikku juga sama seperti Kalian. Sebagus-bagusnya buatan Kita, lebih bagus milik Nanamin"

Nanami hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku tiga serangkai itu.

Besoknya saat latihan, Mereka berempat ingin menunjukkannya kepada teman-teman tim.

Saat istirahat, Matsuyama beridri di depan para pemain yang sedang duduk di lapangan bersama Nanami dan kedua sahabatnya. Dia berkata, "Teman-teman! Ada sesuatu yang ingin kita tunjukkan buat kalian lho."

"Wah, sesuatu? Apaan tuh?" tanya Ishizaki.

Kemudian, Nanami gelang yang sengaja disembunyikan di punggungnya. Semua terkejut melihatnya.

"Waah, sebuah gelang. Untuk apa?" tanya.

"Sebenarnya, Nanami yang membuatnya. Kai hanya membantu saja. Dia ingin Kita semangat dalam menghadapi Australia. Makanya Dia membuat gelang ini." Jelas Misaki.

Semua pemain mengannguk paham. Lalu, Nanami dibantu dengan ketiga sahabatnya membagikan gelang satu per satu kepada Mereka. Semuanya merasa senang dan mencoba memakainya.

"Terimakasih banyak ya, Nanami. Kamu jadi repot-repot untuk membuat ini," kata Misaki. Nanami mengacungkan jempolnya yang berarti "Baik".

Pada suatu malam, seperti biasa Nanami menghabiskan waktu untuk menggambar di buku gambarnya di kamar tidur. Tiba-tiba saja, Kedua orangtuanya masuk dan memenuinya. Sang ayah menepuk pundak Nanami hingga Ia terkejut.

"Ah, Ayah. Ibu. Ada apa kalian datang kemari?" tanya Nanami

"Nanami, bisakah Ayah dan Ibu bicara sebentar?"

Nanami pun berdiri dari meja belajar. Sepertinya ada sebuah kepentingan yang harus disampaikan.

"Jadi begini, Besok Kita akan pindah ke Jakarta, Indonesia. Ayahmu diberi tugas oleh perusahaan untuk bekerja di sana. Mungkin ini mendadak, tapi yah harus berbuat apa lagi?" jelas sang Ibu.

Nanami membulatkan matanya tidak percaya. "Lho, Kapan kita akan pindah ke Jakarta?"

"Tanggal 31 Agustus, tepat saat pertandingan sepak bola besok lusa" jawab Ayah.

Nanami benar-benar kaget dan tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh ayahnya. Padahal pertandingan akan digelar 2 hari lagi, dan saat itu juga Keluarganya harus berangkat ke Jakarta?

Sang Ibu menghampirinya, memeluknya, dan membelai rambut putri semata wayangnya itu. "Jadi besok, Kita akan mulai berkemas. Persiapkan dirimu baik-baik ya, Nak. Jangan khawatir, Kamu pasti akan betah di Jakarta."

Nanami mengangguk pelan, tetapi hatinya masih berat untuk menerima keputusan kedua orangtuanya. Habis itu, Mereka pergi meninggalkannya di kamar. Dia sangat syok, keinginannya untuk melihat dan memberikan dukungan kepada Misaki, Matsuyama, Misugi beserta Golden 23 secara langsung pun pupus seketika. Kemudian, Nanami membuka kalender dan mengamati tanggal 31 Agustus yang Ia lingkari dengan spidol besar sambil mengelus-elusnya.

"Kami-sama, Apa yang harus kulakukan?"

Keesokan harinya, Timnas U-22 Jepang menggelar latihan terakhirnya di lapangan seperti biasa. Pelatih Kira meminta kepada para pemain untuk serius dan memaksimalkan latihan karena besoknya sudah harus bertanding melawan Australia. Sebelum latihan dimulai, Misaki tampak bingung dan terus menengok kearah luar. Ia berpikir, biasanya Nanami selalu datang untuk men-support Tim nya. Tetapi tidak untuk hari ini.

"Tumben banget nih si Nanami nggak dateng kesini. Dia kan satu-satunya cewek yang mau bela-belain support Kita waktu latihan" celetuk Matsuyama.

"Kamu benar, Matsuyama. Tidak seperti biasanya Nanami absen." Lanjut Misugi.

Misaki hanya terdiam. Laki-laki berambut coklat itu merasa sangat bingung. Perasaannya tidak menentu. Matanya selalu melihat kearah pintu lapangan yang dipagari lembaran besi di sekelilingnya.

"Udah deh, latihannya mau dimulai nih. Kita semua harus serius untuk menghadapi lawan kita besok" ucap Matsuyama.

Misugi pun mengajak Misaki. "Misaki, Kamu dari tadi kok diam terus? Ayo kita latihan."

Orang yang dipanggilnya terkejut dan langsung bergegas bersama teman-temannya.

Latihan dimulai. Semua tampak serius melakukannya mulai dari menghentikan bola, menendang bola ke gawang, mengumpan, menyundul bola, dan menggiring bola. Lain halnya dengan Misaki. Sedari tadi Dia tidak focus saat latihan. Saat menggiring bola selalu diambil alih oleh pemain lain, begitu pula sewaktu memasukkan bola ke dalam gawang. Beberapa kali bola itu keluar dari gawang yang dijaga oleh Mori Saki atau malah bisa ditangkap dengan mudahnya. Semua merasa heran dengan tingkah laku Misaki, bahkan si kembar Tachibana menyindirnya.

" Eh, Kazuo. Coba lihat tuh si Misaki. Tumben-tumben aja nih Dia lembek saat bermain." seloroh Masao

"Iya, Kamu bener. Padahal biasanya si Misaki paling semangat tuh saat latihan. Kok jadi begini? Apa mungkin gara-gara si temen ceweknya yang nggak dateng kali ya?" tandas Kazuo.

"Mungkin aja. Jangan-jangan si Misaki lagi galau sama tuh cewek?"

Setelah latihan selesai, Para pemain beristirahat. Saat Misaki duduk bersama Misugi dan Matsuyama, tiba-tiba Pelatih Kira menemuinya.

"Ehm, Misaki. Bisakah berbicara denganmu ditempat lain?" pintanya.

Selanjutnya, Misaki dibawa ke suatu tempat, di depan lapangan. Matsuyama dan Misugi menguntitnya diam-diam.

"Misaki, Saya melihatmu tidak konsentrasi saat berlatih? Ada apa denganmu?"

Misaki menjawab dengan nada gugup. "Err.. Sebenarnya… Saya.. Saya tidak apa-apa?"

Mendengar jawaban Misaki, Pelatih Kira marah. "Tidak apa-apa katamu? tapi kenapa permainanmu sangat lembek hari ini? Besok kan pertandingan akan dimulai dan Kamu adalah salah satu ujung tombak Tim Golden 23. Kalau begini, Bagaimana team kita akan menang? Kamu itu sudah dipercaya untuk membawa Timnas Jepang menang di pertandingan sepak bola. Kamu harus sadar tentang itu. Saya merasa kecewa dengan hasil permainanmu hari ini. Berubahlah kembali seperti semula. Paham?"

Misaki mengannguk dan terdiam menunduk mendengar perkataan Pelatih Kira. Setelah itu, Pelatih pun meninggalkannya. Kedua sahabatnya yang menguping menghampirinya.

"Sudah sudah. Kamu jangan berkecil hati. Kami tahu kok apa yang Kamu rasakan. Bagaimana kalo nanti malam Kita coba menengok Nanami ke rumahnya?" usul Misugi.

"Ide yang bagus, Misugi. Ya udah, nanti malam Kita tengok si Nanami, OK? Jangan loyo gini dong. Ayo, semangat!" kata Matsuyama sambil menepuk-nepuk punggung Misaki.

Malamnya, Misaki, Misugi, dan Matsuyama berkunjung ke rumah Nanami. Saat itu cuacanya sedang hujan sehingga ketiganya memakai payung. Tapi karena rumahnya sudah tutup, tentu Mereka tidak ingin menggangggu keluarganya. Akhirnya, Mereka memliki sebuah ide dengan menggantung sebuah jersey biru khas Tim Sepakbola Jepang dengan galah yang mengarah pada balkon kamar. Nanami yang sedang mengemasi pakainannya di koper melihatnya dan keluar menuju balkon. Ternyata, Itu adalah ketiga teman baiknya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Nanamin, Kenapa Kamu tidak datang ke lapangan?" tanya Matsuyama.

"Apa kamu baik-baki saja?" sambung Misugi.

Nanami hanya tersenyum dan melambaikan tangan yang berarti 'Selamat Tinggal'. Mereka pun heran.

Misaki bertanya, "Nanami, Ada apa? Kenapa Kamu harus pergi?"

"Besok, Aku harus ikut keluargaku pergi ke Jakarta. Maafkan Aku tidak mengatakannya kepada Kalian semua.". Tiba-tiba, Nanami meneteskan air matanya. Ia langsung berlari masuk ke kamar.

Ketiga laki-laki itu terdiam. Mereka tidak percaya bahwa besok Nanami akan pergi tepat saat pertandingan dimulai. Malam semakin larut dan hujan makin deras, Mereka akhirnya pulang ke asrama dengan perasaan kecewa.

TBC