Chapter 2 : Let me know all about you

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

Laptop saya rusak, jadi saya gak ada pilihan lain. Mumpung lagi libur sekolah saya ngetik malam-malam di warnet (PM) #PLAK
Doa'in ya semoga IC power laptop saya bener lagi dan gak merambat kerusakannya. Soalnya 120 judul anime dan kelangsungan hidup saya kedepan sedang dipertaruhkan T^T #LEBAY

Salah satu author dengan nama Xinon, penasaran. Kayaknya adegan terakhir chapter 1 mirip sama anime yang temanya NEET? Memang, judulnya Kami-sama no Memochou, silahkan tonton animenya ^^. Tapi saya tegaskan sekali lagi, ini bukan adaptasi, alur ceritanya benar-benar berbeda. Saya hanya lagi suka saja jika Yuuma ketemu IA yang pakai baju goth-loli dengan tubuh mungil dan rapuh. Awalnya mau buat setting di rumah sakit, jadi IA itu kena penyakit kronis, cuma saya sadar, kalau begitu ceritanya akan sulit berkembang. Akhirnya saya inisiatif, kenapa gak jadi NEET detective aja? Kan yang namanya NEET kebanyakan fisiknya lemah, dan dengan unsur detektif, cerita lebih mudah berkembang ^^.

Udah daripada banyak curhat gak jelas, mulai aja ya!

A Rom-Myst Fict from me

~An Innocent Reality~

Main pair : IA & VY2 Yuuma, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"Aku selalu hidup dalam kebiasaan, tak ada yang berarti, selalu pergi tanpa kenangan. Saat kenangan itu terpatri, entah kenapa akhirnya itu selalu terlupakan. Sampai akhirnya dia datang, mengubah hidupku"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc': flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
'Abc' : percakapan normal
'Abc' : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING MINNA!

Chapter 2 : Let me know all about you


Yuuma's POV


"Huh? Kenapa lihat-lihat?"

Astaga gadis ini, dilihat saja sudah ngamuk.

"Tidak, tidak ada apa-apa."

"Berhubung semua orang pergi, dan hanya tinggal kita berdua. Aku agak sedikit tertarik denganmu, terlebih otakmu."

IA mengulum lolipop yang sedari tadi ada di mulutnya sambil memainkan poninya yang kelewat panjang, apa dia tidak terganggu dengan poni sepanjang itu ya?

"IA-"

"Ssshh... IA itu hanyalah kode nama dari ayahmu. Aku agak risik dipanggil begitu, kesannya kau seakan tidak mengenalku. Panggil aku Aria, itu memang bukan nama asliku, tapi aku suka nama itu."

Dia kembali memotong perkataanku, yah memang tidak enak sih memanggil gadis ini dengan nama "IA" kesannya aku seperti memanggil orang lain. Tapi aku masih penasaran, ia ingin menanyakan apa saja padaku ya?

"Hmm, coba kita lihat. Apa rumus Tangen dalam Trigonometri?"

Loh?! Kok malah jadi nanya pelajaran?! Gadis ini...

"Sin per Cos."

"Wah kau tahu ya, ku kira kau seorang airhead."

APA?! Bukan hanya tidak sopan, tapi dia juga memanggilku kepala kosong?! Kurasa gadis ini terlalu sombong untuk ukurannya.

"Hmm, coba sekali lagi... Kau tahu diagram curah hujan dalam konteks atom?"

Dia bertanya hal aneh lagi, sebenarnya apa yang dia mau?

"Diagram mnemonik moeler, kenapa memangnya?"

Aku balik bertanya padanya, kemudian dia melepas lolipopnya dan menatapku erat.

"Kapan kau belajar itu?"

"Entah, mungkin waktu akhir SMP?"

"Kita ganti pertanyaan.."

Aria pergi mencari sesuatu, ia berkeliling di kamarnya yang sesak ini, kemudian dia mengambil setangkai mawar dari vas bunga yang ia temukan di luar kamarnya.

Aku memiringkan kepala melihat tingkahnya, apa yang ingin dia lakukan?

"Begini, coba jelaskan ini. Memang ini tidak ada hubungannya dengan atom atau trigono, tapi jika kau memang suka sastra klasik, kau pasti tahu trik ini."

Ia meremas tangkai itu, perlahan warna bunga yang semula merah menjadi biru, kemudian menjadi hijau. Ini sih aku tahu triknya.

"Kau menaruh kapas di dalam kepalan tanganmu, tangkai bunga yang berpori akan meresap tinta dari kapas itu dan mengalirkannya ke kelopak."

"Ah kau benar, tapi kenapa bisa dua warna?"

Aria benar, dia berganti warna dua kali, tidak mungkin satu kapas bisa menyimpan dua warna tanpa mencampur warna tersebut.

Aku mencoba mencari cara rasional dari kejadian ini, tapi tidak ada yang terpikir.

Pertama aku mengalisis dari sudut pandang orang lain, kata orang warna biru dan hijau itu mirip, terlebih lagi orang tua. Apa mungkin ia menggunakan sebuah cermin atau filamen untuk memantulkan cahaya?

Aku melihat sekitar dan menemukan pantulan cahaya, seperti dugaanku.

"Kau hanya menaruh tinta biru pada kapas. Itu menjelaskan kenapa bisa ada warna biru pada bunga."

"Ya, tapi itu tidak menjelaskan kenapa bisa terjadi warna hijau."

Aku menunjuk ke arah pantulan cahaya, ia menoleh dan tersenyum sedikit.

"Kau menggunakan itu untuk memantulkan cahaya, kau tadi berputar kamar untuk meletakan itu di sudut yang pas. Terlebih lagi kau menggunakan mawar replika yang dilapisi plastik. Warna biru yang terserap kau beri pantulan cahaya di ruang yang gelap, prinsipnya akan sama seperti prisma, jika ia terkena cahaya di ruang gelap, ia akan terlihat seperti warna yang lebih terang. Itu menjelaskan kenapa ada warna hijau."

Aria melepas mawarnya dan menepuk tangannya. Aku agak bingung dengan gadis kecil ini, tubuhnya mungil tapi sifatnya tidak ada mungil-mungilnya. Jika kalian mengerti, maksudnya tidak ada manis-manisnya.

"Hebat! Kau orang pertama yang kutanya dan dapat langsung memecahkan teka-teki dariku! Aku jadi tertarik padamu! Ta-tapi ini bu-bukan karena aku menyukaimu, bo-bodoh.."

Hooo... Dia tsundere. Sepertinya ini jadi lebih seru.

Aku agak menunduk menatap matanya (Ingatkan, tingginya hanya sepundak ku) dan mulai memegang pipinya.

"Adik manis! Jangan suka menjahili orang lagi ya!"

Aku menarik kedua pipi chubby nya, mukanya memerah ia pun menepis tanganku dari pipinya.

"Bo-bodoh! Siapa bilang kau bo-boleh me-menyentuh ku seenaknya, idiot! Dan, siapa yang kau panggil adik manis?! Aku sudah dewasa!"

"Sedewasa apa?"

"Li-lima belas tahun."

"Aku lebih dewasa. Aku enam belas tahun."

"Ya , tapi kepalamu tidak sedewasa tubuhmu."

Dia menanggapi perlakuanku dengan sinis. Anak ini, aku tahu dia jenius dan tidak perlu sekolah, tapi apa itu bisa untuk alasan mengejek ku yang lebih tua?

"Aria-chan! Ini yakisoba pesananmu! Dan, kalian bisa 'kan berhenti bermesraan dulu?"

Rin tiba-tiba masuk membawa makanan, Aria langsung salah tingkah, sedangkan aku bersiul-siul tidak jelas.

"Si-siapa yang bermesraan?!"

"Kau dan Yuuma, dan Yuuma, berhentilah bersiul dalam ruangan. Itu membawa nasib sial." Rin mencelotehiku, Aria terlihat puas saat aku di ceramahi Rin.

"Ya-ki-soba~~ Sini datang kepadaku~~"

Aria langsung menerjang Rin dan mengambil bungkus makanannya. Aku hanya terus melihatnya, sepertinya tidak salah aku mengikuti Lui-sensei. Gadis ini menarik.

"Oh iya Yuuma, satu pertanyaan lagi, apa kau tahu teori simpangan 1% antar dimensi?"

"AKU BUKAN SEORANG ILMUWAN GILA!"


"Baiklah, aku ingin membahas kasus kemarin."

Sekarang sudah dua hari setelah aku mengikuti kelompok orang tidak waras ini. Lui -sensei tiba-tiba membawa kami semua ke apartemen Aria. Aria nya sendiri sedang asik menonton anime, aku baru tahu hobinya yang ini. Ia berbicara demikian tidak jelasnya, aku langsung menanyakan apa yang ia maksud.

"Maksudmu tentang orangtua yang tewas dengan mulut sobek itu?"

Aku bertanya pada Lui-sensei mengenai apa yang dia maksud, Lui -sensei menatapku horror kemudian menghampiriku.

"Dia datang di malam hari dengan masker mulut, wanita cantik berambut panjang dengan warna yang seakan menghantarmu pada kematianmu. Saat kau bertemu dengannya, ia akan bertanya padamu, 'Apa kah aku cantik?' Jika kau jawab iya, gadis itu akan berkata 'Walau seperti ini?' sambil menunjukan mulutnya yang sobek dari ujung ke ujung. Jika kau menjawab tidak, kau akan bernasib sama dengannya."

Lui -sensei seperti membaca syair. Rasanya aku pernah mendengar cerita itu, tapi dimana?

Ckrek... Ckrek... Sraat...

"UWAAAA!"

Aku berteriak ketika sedang serius berpikir, Len! Dia menaruh gunting rumput di dekat mulutku! Anak ini! Apa ia senang jika ku anggap perempuan lagi?!

"Jangan main-main! Aku terkejut dasar bodoh!"

Len kemudian tertawa sambil berlari mengitari kamar, apa dia memang selalu gila? Atau bokongnya terkena jarum sehingga ia tidak bisa duduk?

"Abaikan dia, kau tahu kan cerita tadi? Cerita lama rakyat Jepang, Kuchisake Onna, hantu yang katanya berkeliaran mencari dendamnya yang tidak terbalas. Dendam dengan orang yang merobek mulutnya."

Aria ikut berbicara, aku langsung teringat sesuatu. Ah! Iya! Mitos itu, tapi masa' mereka ingin bilang jika pembunuhan itu didasari mitos? Jangan bercanda!

"Apa kalian ingin bilang, pembunuhan itu didasari mitos?! Jangan bercanda denganku!"

"Yuuma, klien kami, Culnoza, meminta kami menuntaskan kasus ini. Orang yang kemarin kau lihat terbunuh adalah ayah Cul. Sebenarnya kasus ini sudah terjadi dalam 1 bulan terakhir, tapi polisi tidak dapat menemukan pelakunya. Tapi semua korban mendapat tanda sama, yaitu robekan besar di mulut. Akhirnya masyarakat sekitar kembali menngungkit massalah ini sebagai mitos dan pembawa sial. Kami tidak ada kewajiban terlibat, tapi jika sudah diminta klien, kami akan menuntaskannya hingga selesai."

Lui-sensei menerangkan padaku, tapi apa iya, kejadian seperti itu bisa disangkut pautkan sebagai mitos? Itu tidak bisa diterima akal sehat!

"Kami punya rencana yang ingin kami jalankan, tapi ini berbahaya. Kami tidak bisa membawa mu lebih lanjut jika kau tidak berani."

Jadi kau menganggap ku pengecut begitu?

"Baiklah aku ikut! Jangan mulai tanpaku atau kalian tahu akibatnya!"

Dan dapat kulihat mereka semua menyeringai usil kepadaku...


Sekarang malam hari, distrik Setagaya masih sangat ramai... Aku sedang terdiam, tapi... KENAPA AKU YANG HARUS JADI UMPAN?!

Sialan kau Lui! Ternyata itu maksud seringai mu barusan?! Kau berkata bahwa anak buah ayahku akan ikut mengawasiku, tapi bagaimana bisa aku tidak khawatir sama sekali?!

Rin bersorak dari lantai atas gedung di sebelah kananku, Len kelihatannya ada di sana juga. Gakupo ada di belakang ku sekitar 50 meter, Lui-sensei memantau dengan Aria dari kamar Aria.

Aku masih berpikir, Aria lebih muda dariku? Aku serasa mendapatkan sesosok adik. Apa tidak apa-apa ya jika ku kenalkan kepada nee-chan?

EH? Mikir apa aku?! Ini pasti akibat dari racun yang disebarkan si Lui-sensei yang bodohnya melebihi anjing peliharaan yang mengejar ekornya sendiri.

"Yuuma, sekarang sudah tepat jam 22.00, kau sebaiknya bersiap, kelilingilah distrik, kami akan terus memantaumu."

Aku meneguk ludah, entah kenapa sampai aku yang tidak percaya mitos, takut jika harus berhadapan dengan mitos yang belum tentu benar.

Aku melewati gang kecil, firasatku buruk. Walau distrik masih agak ramai, tapi ini sudah malam, sudut gelap seperti ini sulit dilihat orang lain.

Aku kembali berjalan, sambil mengeratkan jaketku. Entah kenapa hawanya lebih dingin. Jalanan serasa lebih panjang. Kepalaku mulai pusing.

Aku tidak tahan lagi, aku keluar dari gang kecil menuju jalan utama yang lebih ramai. Kesadaranku serasa di hisap, gang-gang itu lebih berkabut dari daerah sekitarnya.

Aku memiliki hipotesa, mungkin pelaku menggunakan gas halusinogen untuk membuat korbannya berhalusinasi dan serasa mengantuk berat, tapi apa motif pelaku? Orang stress? Itu terlalu tipikal. Dendam? Kurang spesifik, tidak ada orang yang dendam hingga membunuh orang yang tidak dia kenal, aku juga belum tahu sih daftar korbannya, jadi kita singkirkan dulu yang satu ini. Apa mungkin ada motif tersembunyi? Mungkin pembunuh bayaran?

"Yuuma, Yuuma?"

Telingaku berdengung, alat komunikasi seperti ini cukup mengganggu saat sedang berpikir, mengagetkan.

"Apa? Aria, kau menemukan sesuatu?"

"Saat kau keluar dari gang tadi, sepertinya aku menangkap pergerakan orang lain. Lebih baik kau waspada, yah... Jika kau ingin cepat mati aku tidak melarang kok..."

"Jika ingin bercanda. Aku tidak ragu meladenimu di meja hijau, Aria."

Aku menyeringai kesal, anak satu ini, sifatnya susah sekali dimengerti. Aku kembali melihat ke arah gang, sepertinya kabutnya sudah hilang. Aku tidak mencoba masuk lagi ke dalam, aku lebih memilih menunggu di jalan protokol, jalan sempit seperti gang kecil seperti itu memudahkan pelaku untuk melakukan aksinya, selain lebih gelap, geriknya yang terbatas memudahkan untuk membunuh dengan cepat karena aku tidak bisa mudah menghindar.

.

.

.

Sekarang tepat tengah malam, beruntung besok hari libur, jika tidak mungkin aku sudah mati kutu di kelas esoknya.

"Tuan, hamba minta izin untuk mendampingi tuan."

Gakupo datang ke arahku, dia melepas katana nya dari sarungnya, ini membuatku lebih aman.

Ckrek... Ckrek... Ckrek...

Suara itu, seperti suara gunting. Apa pelaku menunjukan wujudnya? Suaranya semakin dekat, aku menyuruh Gakupo waspada, ini gila jika kami benar-benar melawan hantu!

"Loh? Gakupo dan hmmm... Yuuma?"

Eh? Kenapa Cul ada disini? Kemana suara gemerisik besi bergesek yang tadi kudengar?

"Sedang apa kalian malam-malam?"

"Kami sedang menjalankan tugas untuk hmmmpppfff..."

Aku langsung membekap mulut Gakupo dan tersenyum miring. Astaga! Apa ia berniat memberitahu misi ini? Memang benar ini untuk Cul, tapi entah kenapa, perasaanku mengatakan dia tidak boleh tahu.

Aku menarik Gakupo pergi, sambil terus tersenyum miring kepada Cul. Cul hanya memiringkan kepalanya, di akhir sebelum aku pergi, aku bisa melihat pantulan cahaya dari besi di belakang Cul. Walau ini hanya perasaanku, entah kenapa setelah jauh, aku merasa Cul menyeringai kepada kami...


Chapter 2 completed~~~

Saya mau buat alur yang agak lambat, supaya pengembangan cerita tidak terfokus hanya pada kasus-kasus saja ^^.

Oh iya, yang review bisa lihat di PM masing-masing. Karena belum ada yang reviewer pake anonym jadi ya masih bisa lewat PM ^^.

Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan. Tapi saya gak nuntut kok, dengan adanya yang membaca ini, saya sudah cukup senang. Jika ada yang ingin berkomentar, tolong janga pedas-pedas ya, jika kritik yang membangun nggak apa sih, karena review dari kalian itu penyemangat saya menulis! Jadi saya akan terus berkarya selama masih ada dukungan dari para readers semua!

Jaa~~ Matta ne~~

Best Regards,
Aprian