NARUTO © Masashi Kishimoto | Kakashi H. & Sakura H. | Criminal Drama
Previous Chapter
"Jangan merengut seperti itu, Sayang. Aku punya rencana lain..."
"Rencana?"
"Hm. Nanti kita jemput Sakura saat ia pulang sekolah, lalu kita antar dia ke tempat les. Bilang saja kalau kita akan berkunjung ke rumah temanmu."
"Ah, benar juga!" Mebuki kembali bersemangat.
"Ngomong-ngomong siapa nama guru les privat yang katamu bagus itu?"
"Kakashi. Kakashi Hatake."
.
.
Trrrr...
Telfon di kamar Kakashi berdering nyaring. Sang pemilik apartemen yang saat itu baru keluar dari kamar mandi pun menoleh. Mata dan garis bibirnya mencerminkan ekspresi yang hampa. Namun karena tidak bisa membiarkan suara tersebut terlalu lama mendominasi ruangan, sambil mengusap helaian peraknya dengan handuk, ia berjalan beberapa langkah ke depan.
Kakashi menggunakan tangan kanannya untuk mengangkat gagang telfon.
Trek.
"Halo?"
'Konnichiwa, Kakashi-sensei...' Terdengar suara wanita dari seberang sana yang terasa familiar. Ia sampai tidak perlu berpikir dua kali untuk menebak siapa dia.
"Ada apa, Kurenai?"
Ya. Kurenai Yuuhi, psikiaternya. Satu-satunya orang yang selalu membantu Kakashi di tiga tahun terakhir ini; sejak ia melepaskan gelar narapidananya di penjara. Wanita itu ditugaskan oleh keluarga Hatake untuk menyembuhkannya dari belenggu penyakit mental yang dia idap.
Apalagi kalau bukan penyakit pedofilia?—rasa tertarik yang berlebih ke anak kecil.
.
.
.
THE PEDOPHILIAN
© Sanpacchi Fanfiction 2013
AU—Alternate Universe
Mature Themes, Lollicon, etc.
.
.
CHAPTER II
(Guru Privat)
.
.
'Bagaimana kabarmu?'
Kakashi bergumam pelan. "Baik."
'Sudah makan siang?'
"Belum. Mungkin sebentar lagi."
'Ayo cepat makan. Ini sudah jam tiga sore loh.'
"Hm."
Wanita yang menelfonnya tertawa. 'Ah, payah nih... sepertinya kamu tidak bisa diajak berbasa-basi, ya?' Tapi karena Kakashi juga tidak menanggapinya sama sekali, Kurenai hanya menghela nafas. Kalau sudah begini ia harus loncat ke topik utama. 'Baiklah, to the point saja. Aku menelfon karena ingin mengingatkan janjiku yang dulu pernah kukatakan sebelumnya...'
Kakashi berpikir sebentar. Ia mencoba mengira-ngira janji apa yang telah Kurenai berikan kepadanya. Namun belum sampai sedetik terlewat, Kakashi terlebih dulu melebarkan pupil matanya. Ia ingat. Ia tiba-tiba ingat tentang kejadian satu setengah tahun yang lalu. Saat itu Kurenai datang ke sini dan menawarkannya menjadi guru les anak SD.
Kata Kurenai itu adalah terapi. Terapi agar bisa terbiasa dengan anak kecil. Hitung-hitung sebagai penghasilan tambahannya juga, kan? Ia tidak bisa hidup kalau cuma mengandalkan uang yang diberikan oleh orang tuanya, sebab itu lebih diutamakan untuk biaya kebutuhan apartemen dan gaji Kurenai. Sedangkan Kakashi sedikit sungkan kalau meminta uang yang lebih.
Selain karena usianya sudah terlalu besar—dua puluh delapan tahun—ia merasa tidak enak. Kasus lamanya telah berulang kali membuat keluarganya malu. Hubungan antar dirinya dan keluarga pun terputus; tidak harmonis selayaknya orang asing. Ia bahkan sampai sengaja mengasingkan diri ke pusat kota Tokyo seperti ini.
Oleh karenanya Kakashi mengiyakan terapi yang diberikan Kurenai. Ia berhasil. Selain kemampuan berinteraksinya terasah, perlahan-lahan ia memang terbiasa menghadapi anak-anak kecil yang memiliki beragam sifat. Namun sayangnya ia masih belum berani untuk melangkah terlalu jauh. Seperti memiliki murid perempuan, misalnya. Selama ini ia baru bisa mengajar anak-anak ber-gender lelaki.
Tapi sayangnya inilah perjanjian mereka—dia dan Kurenai. Agar rehabilitasi pria itu semakin terarah, ia harus mempertemukan Kakashi ke murid perempuan. Dan inilah momen yang ia pilih.
Kembali ke keadaan yang sekarang, sesaat ia mengerti maksud wanita itu, Kakashi menghela nafasnya dengan cukup keras. Ia memejamkan mata untuk menenangkan diri. Jantungnya mulai berdegup tak nyaman.
"Jadi kau akan memberiku murid perempuan?"
'Benar sekali.'
Kakashi mendengus kesal. "Apa kau gila, Kurenai?"
'Tidak, aku normal.' Ia bersenandung pelan. 'Aku berbeda darimu.'
"Dengar, keluargaku telah membayar mahal dirimu sebagai seorang psikiater. Mereka melakukannya agar kau bisa membantuku terlepas dari orientasi aneh ini..." Kakashi berdecak pelan. "Tapi sekarang apa? Kau malah menjadikanku sebagai guru les anak SD. Mengajar murid perempuan pula. Apa itu tidak salah?"
'Tentu saja tidak, Kakashi-sensei. Aku telah merehabilitasimu selama bertahun-tahun. Aku tau semua perkembanganmu secara terperinci...' Katanya menambahkan. 'Lagi pula ini kan juga bagian dari terapi. Kalau aku terus menjauhkanmu dari anak perempuan, apa gunanya semua hal yang telah kita lakukan untuk membuatmu normal? Iya, kan?'
Kakashi menjawabnya dengan keheningan; ia tidak bisa membalas kalimatnya.
'Seperti contohnya bulan lalu. Dulu kan kamu bisa menjadi guru privat dari Uchiha bersaudara dan beberapa murid lainnya—yang kusuruh itu. Jadi seharusnya sekarang tidak ada masalah, kan?'
"Karena mereka adalah laki-laki, bukan perempuan. Itu masalahnya." Kakashi berdesis cepat. "Dan untuk sekarang, aku masih belum mau mengajar anak perempuan."
'Coba dulu. Aku yakin kamu bisa, Sensei."
"Maaf, aku tidak mau mengambil resiko. Dan juga tolong berhenti memanggilku dengan sebutan 'Sensei'..."
'Tapi kan statusmu saat ini memang seorang guru...' Ia menolak dengan santai. 'Oke, Sensei? Kamu setuju, kan?'
"Tsk, tidak akan."
'Kenapa? Kan kita sudah sepakat?'
"Jangan memaksa. Aku berhak menolak." Balasnya. Kali ini dengan suara yang dipenuhi oleh penekanan. Ia kesal.
Kurenai terdiam. Dirinya baru sadar bahwa ada sepercik amarah yang terpancar dari nada Kakashi yang tadi. 'Hm... tapi bagaimana kalau aku sudah menyuruh mereka untuk mendatangimu?'
Kakashi mengernyit. "Apa?"
Ting tong!
Hadirlah bunyi nyaring bel pintu apartemen. Tampaknya suara itu juga terdengar sampai ke speaker Kurenai di seberang. 'Kebetulan. Sepertinya keluarga murid barumu datang. Kalau ingin membatalkan perkerjaanmu, bilang sendiri ke mereka, ya?' Tukasnya. 'Jaa ne...'
Pip.
Ting tong!
Kakashi membatu di tempat. Ketika sambungan telfon dimatikan dari pihak Kurenai, ia menggeram kesal. Dia taruh kembali gagang telfon ke tempatnya. Sambil keluar kamar ia menggantung handuknya secara asal-asalan di hanger sebelah pintu. Ia akan melihat siapa yang hadir di depan kediamannya.
Cklek.
"Ada perlu apa?"
Saat Kakashi membuka pintu apartemen, terlihatlah sebuah keluarga yang beranggotakan tiga orang. Ada sepasangan suami-istri muda dan juga anak mereka yang masih kecil. Gadis berambut pink itu bersembunyi di balik tubuh tegap sang ayah.
Dua orang tersebut ialah Kizashi dan Mebuki Haruno. Mereka berdua memandangnya dengan senyum. Kakashi membalasnya singkat sebagai norma kesopanan. Kemudian iris onyx Kakashi bergerak turun. Dilihatnya seorang anak manis. Kulitnya putih, tubuhnya kecil dan jari-jarinya—yang sedang mencengkram sisi kain celana Kizashi—terlihat sangat imut.
Tanpa di minta Sakura mengadahkan kepala. Kedua mata bulatnya menangkap perhatian Kakashi. Lama. Ia sedang mengamati wajah Kakashi—yang memiliki tinggi yang sangat kontras dengannya. Kedua irisnya yang sebening permata zamrud itu menatapnya lekat-lekat.
Kakashi menelan ludah.
Masih dengan mempertahankan ekspresi datarnya, diam-diam jantung Kakashi berdetak cepat. Ia nyaris tak bisa bernafas saat melihat bibir Sakura yang begitu tipis dan berwarna merah. Pipinya juga menarik. Begitu tembam dan mulus.
Kakashi menelan ludah. Kepalan tangannya menguat. Daripada terus memperhatikan anak kecil berambut pendek itu, Kakashi segera mengembalikan pandangannya ke depan. Lurus ke dua orang dewasa yang berada di hadapannya.
"Apa ini tempat tinggal Kakashi Hatake?"
Kakashi mengangguk. "Ya, dengan saya sendiri. Ada perlu apa?"
Sang istri yang bernama Mebuki menyenggol pelan tangan orang yang di sebelahnya. Ia menyuruh Kizashi untuk menjelaskan.
"Mm, begini..." Pria berambut pink tua itu segera berdehem. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang guru. "Kami mau Sakura, anak perempuan kami, les privat denganmu. Tapi karena dia tidak mau les, apa kau bisa berpura-pura sebentar menjadi... err, teman kami?"
Kakashi sebenarnya sedikit bingung, tapi ia mencoba setuju. Mebuki tersenyum senang. Tersirat ucapan terima kasih darinya.
Tangan kecil Sakura menarik-narik ujung baju Kizashi. "Otousan, aku mau pulang ke rumah..."
"Eh, tidak boleh begitu, Sakura. Kan kita baru sampai ke apartemennya Kakashi-san..."
Sakura merengut.
Mendapati lirikan 'butuh bantuan' dari Kizashi, Kakashi mencoba ikut serta dalam sandiwara ini. "Mungkin dia lagi kedinginan di luar—akhir-akhir ini Tokyo memang sering mendung." Selesai mengeluarkan komentar asal, ia melebarkan pintu apartemen. "Masuk saja dulu..."
"Terima kasih..." Perlahan ketiga orang bermarga Haruno itu masuk ke kediaman Kakashi yang sederhana namun bergaya elegan. Mau bagaimanapun juga keluarga Hatake berbasis keluarga konglomerat sih.
Setelah semuanya duduk rapi di ruang tengah yang terdapat kotatsu, Kizashi memandangi Mebuki dan Sakura secara bergantian; seolah memberikan kode. "Mebuki, bisa gantikan baju Sakura sebentar?"
Wanita berambut coklat kejinggaan itu mengangguk. "Kakashi-san, kalau boleh tau di mana ya toiletnya?"
"Di sebelah sana..." Kakashi menunjuk sebuah sudut di ruangan. Tanpa suara Sakura dibawanya ke kamar mandi ruang tengah untuk berganti baju. Usai di sana tertinggal Kizashi dan Kakashi, ayah satu anak itu menghela nafas. Ia memandangi pria berambut perak jabrik di sebelahnya.
"Pertama-tama, saya minta maaf atas kelancangan kami yang datang tanpa diundang. Ternyata nomor ponsel yang teman istri saya berikan—mengenai les privat—adalah milik atasanmu. Kurenai Yuuhi kalau tidak salah. Saat kami tanya-tanya, dia menyuruh kami agar langsung ke sini."
"Hm..." Kakashi merespons singkat. Ia harus pasrah mengurusi kelakuan Kurenai yang begitu seenaknya. "Memangnya ada apa?"
"Untuk perkenalan singkat, nama saya Kizashi Haruno. Istri saya Mebuki, lalu anak saya yang tadi adalah Sakura." Kizashi berdehem sebentar. "Seperti apa yang telah kami sepakati dengan Yuuhi-san, kami akan melesprivatkan Sakura di sini..."
Kalau saja bisa, Kakashi pasti berdesis kesal. Namun ada satu hal yang terlebih dulu membuatnya terheran. "Tunggu. Tadi Anda bilang... les privat di sini? Apa maksudnya?"
"Ya. Biasanya kan guru privat yang datang ke rumah, nah, tapi permintaan kami lain. Karena Sakura tidak mau les, kami membohonginya." Ia menjelaskan. "Setiap hari Senin, Rabu dan Jum'at saya bilang ke Sakura kalau kami tidak akan ada di rumah sebelum sore. Maka dari itu kami menyuruhnya datang ke sini saat dia pulang sekolah. Jadi dia tidak sadar kalau sebenarnya sedang mengikuti les."
"Sepulang sekolah langsung ke sini...? Apa dia bisa?" Kakashi meragukan. Pasalnya kan ini gedung apartemen bertingkat. Perlu menaiki lift jika ingin mendatangi kamarnya yang berada di lantai delapan.
"Tidak apa. Aku masih akan mengantarnya ke sini sampai dia menghafal alamatmu. Lagi pula kalau dari sekolah memang lebih dekat ke apartemenmu daripada ke rumah kami. Jadi saya yakin Sakura bisa ke sini dengan mudah tanpa tersesat."
Kakashi sedikit memalingkan wajah. Dalam hati ia mengeluh. Entah kenapa dia baru sadar mengenai hal ini. Seharusnya ia menolak tawaran lesnya darinya. Tentu saja karena satu alasan mutlak: ia tidak mau mengajar seorang murid perempuan. Terlebih lagi kalau kegiatan lesnya berlangsung di apartemennya sendiri—yang secara tak langsung membiarkan Kakashi berduaan dengan Sakura di ruangan yang sama.
Seharusnya itulah bagian yang wajib dihindarinya.
Namun karena pembicaraannya dengan Kizashi sudah sampai sepanjang ini, rasanya agak sulit juga untuk membatalkannya.
"Bagaimana, Kakashi-sensei?" Pria bertanya seraya tersenyum lebar. "Ah, boleh saya panggil seperti itu, kan?"
"Baiklah." Meski menjawab separuh hati, Kakashi mengangguk.
Terus terang saja Kakashi maunya berhenti mengajar. Ia mau cari aman. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan anak kecil. Namun Kurenai—yang sebenarnya mengetahui keinginannya—malah berkehendak lain.
Hadirlah Sakura Haruno sebagai satu-satunya murid yang ia miliki untuk saat ini.
Kakashi menghela nafas.
Tapi tidak apa. Kakashi bisa mengundurkan diri sebagai guru di lain waktu. Tapi paling cepat ia harus menunggu sebulan. Anggap saja sebagai balas budi bagi keluarga Haruno yang telah mempercayakan pendidikan anak mereka kepadanya.
"Kizashi, Sakura-chan sudah selesai berganti baju..."
Orang yang terpanggil menoleh. Ia dapati Sakura yang duduk di sebelahnya. Kizashi mengusap pelan punggung gadis kecilnya. "Nah, Sakura... kau di sini dulu, ya? Nanti Otousan dan Okaasan akan menjemputmu lagi saat jam lima sore."
Sakura yang menunduk mengerucutkan bibirnya. Tapi ia tetap patuh, mengangguk pelan.
Kizashi dan Mebuki segera berdiri. Kakashi mengikuti gerakannya, mengantar kepulangan kedua orang tadi. Sedangkan Sakura memilih untuk diam di atas bantal tipis yang didudukinya. Tanpa suara ia memasukkan kedua kaki mungilnya ke kotatsu yang hangat.
Sepeninggal Kizashi dan Mebuki, Kakashi menutup pintu apartemen. Ia pun menghela nafas dan berjalan kembali ke ruang tengah. Tapi sesampainya di sana ia sama sekali tak berkutik. Ia malah mengatupkan kedua belah bibirnya rapat-rapat, tidak bersuara. Cukup membiarkan detikan jam mendominasi suasana di dalam ruangan ini.
Namun matanya tetap terarah ke satu hal. Ke seorang gadis kecil bersurai pink pendek yang berjarak tiga meter di depannya. Dilihat dari posisi Kakashi berdiri, Sakura sedang duduk menyamping. Mukanya lurus menghadap TV yang terletak di seberang meja, sedangkan tangan-tangan mungilnya memainkanremote dengan pandangan lesu.
"Kalau mau nonton, nyalakan saja TV-nya."
Sakura menoleh. Ternyata Kakashi tau apa yang dia inginkan. Karena sudah mendapatkan izin, gadis kecil itu menekan tombol on di remote. TV menyala. Suara dari salah satu program mewarnai ruangan. Dan ketika Kakashi sedang sibuk memikirkan materi apa yang akan ia ajarkan, deringan telfon dari bilik kamar ikut meramaikan saluran telinganya.
Kakashi pun langsung beranjak ke sana. Pasti itu Kurenai.
Trek.
"Halo?"
'Hai, Sensei. Jadi bagaimana? Apakah sudah kamu batalkan?'
Kakashi mendengus kesal. "Aku... terpaksa menerima."
'Wah, wah... ada apa? Kok berubah pikiran? Mendadak tertarik ke anak kecil yang menjadi muridmu, ya?'
Geraham Kakashi entah mengapa sedikit mengeras. "Itu tidak ada hubungannya."
Kurenai tertawa. 'Iya, iya... gomen."
"Tapi ini jauh lebih parah dari perkiraanku yang sebelumnya."
'Hm? Kenapa? Apa karena tempat lesnya berada di apartemenmu sendiri?' Tanyanya.
"Jadi kau sudah tau?"
'Tentu.'
Ingin rasanya Kakashi menyerangnya dengan rutukan kasar. "Kalau tadi kau memberitahuku, aku pasti menolaknya dari awal."
'Ya ampun, Sensei. Ini adalah terapi penyembuhanmu yang terakhir. Cobalah yakin kepada dirimu sendiri. Aku pun percaya kamu bisa.'
Kakashi bungkam sesaat. Ia membayangkan Sakura yang berada di ruang tengah. Telah ada seorang gadis bertubuh mini yang teramat sangat manis. Melihat matanya saja sudah bisa membuat Kakashi kaku seketika.
Pria itu mengadahkan wajah. Menutup mata dengan tangan dan kemudian menghela nafas panjang-panjang. Sekalipun saat ini detak jantungnya agak susah dikendalikan, sepertinya ia masih sanggup kalau cuma mengajari Sakura materi-materi dasar.
"Terserah. Yang jelas aku tidak berani menjamin keselamatannya."
Kurenai kembali tertawa renyah. 'Kenapa cara bicaramu malah terkesan buas seperti itu, Sensei? Apa kamu sudah siap menerkamnya kapan saja?'
"Tsk, jadi kau mengiraku bercanda?"
Padahal Kakashi benar-benar serius.
Suara Kurenai pun mereda. Wanita bersuara seksi itu melanjutkan. 'Iya, Sayang, aku tau. Kalau penyakit pedomu kambuh, cepatlah minum obat penenang.'Katanya. 'Untuk beberapa hari kedepan, aku akan datang untuk mengawasi progress-mu nanti. Jadi saat ini kamu berusaha dulu.'
Kakashi mengiyakan. Di kepalanya, ia sedang berusaha menjadikan Sakura sebagai syarat kelulusan dari rehabilitasi ini. Karena itu ia harus bertahan. Ia harus bisa sembuh.
'Ah, ya. Sebelum kamu menutup telfon, aku akan menjelaskan beberapa data dari Sakura—nama anak yang akan kamu didik itu.' Terdengar suara lembaran kertas yang dibuka berkali-kali. 'Ah, ini dia. Mn... dia adalah Sakura Haruno. Sembilan tahun. Murid kelas tiga di Korouha Elementary. Sebelumnya Haruno-san telah memberitahuku kalau Sakura lemah di mata pelajaran matematika dan bahasa inggris. Nah, itu saja.'
Kakashi menjawab dengan malas.
'Good luck ya, Kakashi-sensei...'
"Hm..."
Pip.
Setelah sambungan telfon tertutup, Kakashi terdiam. Ia berdesis pelan.
"Ya. Semoga hari ini lancar..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Special Thanks
Azaela Ryuzaki, Lady Violenka, stillewolfie, Akiko Rin, cruderabelia, unlog, Elang23, Kiyana Tamichie, aretabelva, velovexiaa, Blood Winter, Guest, Dark Courriel, Asha D, BLINK, ksatriabawangmerah, Aika Namikaze, Sabaku no Sarang, hachikodesuka, naabaka.
.
.
Frequently Asked Questions
Penulisan Sansan terkesan beda. Iya, emang sengaja. Ini agak mau kubuat lebih formal/baku. Tapi karena sedikit aneh aku sempet edit lagi. Mistakes sama LIB aja belom tamat. TP udah kutamatin di laptop (walopun masih draft kotor). Cerita Sansan selalu bertema berat. Prinsipku kalo ceritanya ringan mending ditaro di rating bawah, jangan M. Kok KakaSaku-nya lollicon? Itu warning ter-fave-ku. Kenapa ngga SasuSaku atau NaruSaku? Karena gurunya Sakura adalah Kakashi :) Semoga tamatnya ngga sampe bertahun-tahun. Kuusahain ngga lebih dari dua tahun. Chap 1, maksud 'tidak ingin ketahuan untuk yang kedua kalinya' itu apa? Silahkan ditebak.
.
.
Next Chapter
"Aku juga tidak suka belajar."
"Perjumlahan kan mudah. Masih soal kelas satu SD."
"Tsk, sial..."
"Iya. Aku tidak marah."
.
.
I'll be pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
Ramenly,
SANPACCHI
