"Apa tadi mimpi?" tanyanya.

"Kurasa–"

"Oek…Oek…" Perkataan Sasuke tadi terputus dengan adanya adanya tangisan dari sesuatu yang ada di dalam pelukan Sakura.

"Ini nyata…" kata keduanya sambil berpandangan.

.

.

.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto, 1999

Author : Family? © Kazuma Big Tomat, 2010

Rated : K+ semi T

Genre : Family & Humor

Character : Sasuke.U & Sakura.H

Warning : OOC, AU, OC (just one), dalam percakapan tidak pakai EYD

Kazuma House Production present…

Family?

.

.

.

.

.

Chapter 1 : Bingung!

"Oek…Oek…" tangisan bayi yang ada pada pelukan Sakura makin kencang.

"Woi Ayam! Ini gimana?" tanya Sakura panik.

"Ya- ya gue juga gak tau. Elo kan cewek, masa' tanya ke gue?" kata Sasuke yang juga ikut panik.

"OEK…OEK…"

"Ayam, lo punya susu gak?"

"Punya."

"Kalo gitu kasih ke gue. Sekalian juga bawa mangkok sama sendoknya!" perintah Sakura.

Sasuke langsung saja mengambil susu kotak yang ada di dalam kulkas. Dan juga, dia mengambil mangkuk dan sendok. "Ini," kata Sasuke seraya memberikan mangkuk, sendok, dan susu itu pada Sakura.

"Bukain!" perintah Sakura lagi.

Sasuke tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, kok gue jadi ngerasa kaya' pembokat lo sih?"

"Oh, elo ngerasa jadi pembokat ya? Ya udah, sekalian aja beneran jadi pembokat di rumah gue!"

"Sialan lo! Ini buka aja sendiri!"

Adu mulut pun dimulai. Mereka bahkan lupa akan Ryosuke yang masih menangis. Susu kotak yang tadi sudah terbuka sedikit kini tumpah membasahi lantai kayu itu. Sekarang tidak ada makanan lagi untuk Ryosuke. Ini semua karena ego dari Sasuke dan Sakura yang sama-sama besar dan juga keras kepala.

"OEK! OEK!" Ryosuke menangis bagaikan meraung.

Raungan Ryosuke membuat kedua orang yang paling keras kepala ini berhenti adu mulut. Mereka merasa bersalah. Apa lagi setelah mereka sadar kalau susu kotak itu tumpah. Akhirnya Sasuke pun pergi ke supermarket terdekat untuk membeli makanan untuk Ryosuke.

Saat Sasuke membuka pintu untuk pergi, Ryosuke menangis. Tangan mungilnya menggapai-gapai kearah Sasuke. Sakura pun menggendong Ryosuke dan berjalan ke arah Sasuke yang hendak pergi.

"Hoi Ayam! Dia pengen ikut elo nih!" kata Sakura sambil menyodorkan Ryosuke yang ada pada gendongannya ke arah Sasuke.

"Hah…" Sasuke menghela nafas berat. Dia pun mengambil Ryosuke.

Saat baru berjalan beberapa langkah menauhi Sakura, Ryosuke kembali menangis. Tangannya pun juga mengapai-gapai ke arah pintu ruangan apartemen Sasuke yang tertutup. Dengan berat hati, Sasuke kembali melangkahkan kakinya menuju ruang apartemennya lagi.

"Jidat, lo ikut gue ke bawah!" perintah Sasuke saat ia sudah masuk ke ruang apartemennya.

"Ayam, lo gak bisa ngeliat apa kalo gue lagi ngebersihin lantai lo ini?" tanya Sakura saat ia sedang memebersihkan lantai apartemen Sasuke yang terkena tumpahan susu.

"Halo! Tapi Ryosuke nangis! Ngebersihinnya nanti aja."

"Hah…" Sakura pun akhirnya mengambil sepatunya lalu memakinya. Dia pun mengikuti langkah Sasuke menuju lift.

Saat sedang menunggu lift, datanglah seorang nenek yang juga ingin menaiki lift. Nenek itu pun melihat Ryosuke dan akhirnya dengan berjalan menggunakan tongkat, dia mendekat ke arah Ryosuke yang sedang digendong oleh Sasuke.

"Nak, anak kalian ini umur berapa?" tanya Nenek itu sambil mengelus pipi Ryosuke yang berisi.

Sasuke dan Sakura yang mendengar pertanyaan nenek itu pun menjadi bingung. 'Status gue belom nikah, kenapa tuh anak dibilang anak gue?' pikir mereka dalam hati. Sasuke pun memberikan isyarat pada Sakura untuk menjawab.

"Di- dia umurnya dua bulan nek," kata Sakura.

"Wah…wah… anak jaman sekarang suka kawin muda ya. Kalian beruntung, baru saja menikah sudah dikaruniai anak," kata nenek itu.

"I- iya…" Sakura hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya.

Ting…

Bunyi lift menuju ke lantai atas berbunyi. Nenek itu pun melepaskan belaiannya pada pipi Ryosuke. "Nampai jumpa. Langgeng ya…" Nenek itu pun memasuki lift, dan lift itu pun nai ke atas.

Setelah Nenek itu pergi, Sasuke dan Sakura berpandangan jijik. "Apa?" hardik Sakura.

"Gue gak akan mau punya istri kaya' lo!"

"Gue juga gak mau punya suami kaya lo!"

Ting…

Bunyi lift menuju lantai bawah pun berbunyi. Sasuke dan juga Sakura langsung saja masuk ke dalam lift. Untung saja saat itu lift itu kosong, jadi Sasuke dan Sakura tidak perlu menahan malu seperti tadi. Sasuke langsung menekan tombol yang bertuliskan angka satu.

Mengisi keheningan yang ada, Sakura pun bertanya pada Sasuke, "Sasuke, kalau kita sekolah, Ryosuke siapa yang jaga?"

Sasuke yang baaru menyadari hal itu pun menjadi bingung sendiri. "Ya~ gue gak tau," katanya innocent sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Hah… Bego! Bego! Bego!" kata Sakura entah pada siapa.

Ting!

Bunyi lift berbunyi lagi menandakan mereka telah sampai di lantai satu. Sasuke dan Sakura pun berjalan keluar dari lift. Orang-orang banyak memandang mereka. Ya memang rata-rata yang memandang mereka adalah kaum hawa. Para perempuan pun akhirnya pada berbisik-bisik tentang Sasuke dan Sakura.

"Siapa ya cowok itu? Keren banget. Tapi sayang, udah punya keluarga," kata salah seorang cewek.

"Iya. Tapi lihat deh, istrinya itu biasa aja. Gak secantik gue," balas temannya narsis.

Sakura yang mendengar hal itu menjadi malu sekaligus marah. Wajahnya sekarang sudah merah sampai ke daun telinganya. Dalam hatinya, ingin sekali dia menghajar cewek-cewek itu satu persatu untuk menutup mulut mereka.

"Kau kenapa jidat?" tanya Sasuke yang melihat wajah Sakura memerah.

"Ti- tidak."

"Hmm… weirdo."

Saat sampai di depan supermarket terdekat, mereka pun masuk ke sana lalu mengambil keranjang. Mereka pergi ke bagian pernak-pernik bayi dan segala macamnya. Saat sampai di tempat bayi, Sakura dan Sasuke menjadi bingung sendiri karena banyaknya produk makanan bayi yang ada di sana.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang SPG kepada Sasuke. Sudah dapat diketahui kalau SPG itu ingin mendekati Sasuke.

SPG itu berambut merah dan mata sewarna dengan Ruby. Di batang hidungnya tergantung sebuah kaca mata berframe merah. Di seragamnya ada sebuha pin yang bertuliskan nama 'KARIN'. Gadis itu memandang Sakura dengan pandangan meremehkan.

"Makanan buat bayi dua bulan itu apa ya?" tanya Sasuke.

"Oh, kalau itu bagusnya bubur bayi seperti ini," kata Karin sambil menyodorkan sebuah makanan bayi.

"Oh…" Sasuke lalu membawa makanan bayi itu ke tempat Sakura. "Hoi Jidat!"

"Ape?" tanya Sakura tanda menoleh pada Sasuke. Dia sedang memperhatikan beberapa jenis popok.

"Ngapain lo ngeliatin popok beginian?" tanya Sasuke bingung.

"Halo… Mr. Uchiha, kalo dia buang air memangnya kau mau memandikannya terus?" Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura itu.

"Oh ya, ini makanannya." Sasuke menaruh makanan bayi tadi pada keranjang yang Sakura pegang.

"Thanks." Sakura masih melihat-lihat popok yang akan dibelinya. Setelah beberapa saat, Sakura akhirnya memilih sebuah popok berukuran M.

"Udah selesai belom?" tanya Sasuke yang sudah mulai bosan.

"Udah, ayo ke kasir."

Mereka pun berjalan menuju kasir. Saat sampai di kasir, si penjaga kasir sekaligus pemilik supermarket memandang mereka dengan tatapan mengasihani. "Anak jaman sekarang itu pergaulannya terlalu bebas sampai punya anak seperti itu," katanya.

Sakura dan Sasuke yang mendengarnya menjadi blushing. Si penjaga kasir pun menghitung barang belanjaan Sakura dan Sasuke. "Totalnya enam ratus tiga puluh yen."

Sasuke pun membayar dengan jumlah yang sama. "Nak, kalau mau membuat anak hati-hati," kata si penjaga kasir pada Sasuke dan Sakura. Sasuke dan Sakura pun menjadi bingung sendiri.

Mereka pun keluar dari supermarket itu. Sama seperti saat mereka pergi ke supermarket, kini saat pulangnya pun banyak yang memandang kea rah mereka, dan itu juga kaum hawa. Sakura yang merasa juga ikut diperhatikan juga ikut merasa risih dengan tatapan mematikan dari seluruh perempuan yang memandangnya.

"Eh ayam," kata Sakura saat mereka sedang menunggu lift.

"Hm?"

"Kenapa lo tidak risih sama tatapan dari bayak cewek-cewek kaya' tadi?" tanya Sakura bingung.

"Hm… waktu gue kecil juga awalnya sih rebet. Tapi lama-lama udah biasa," jawab Sasuke santai. Mendengar jawaban Sasuke, entah kenapa Sakura merasa sweatdrop sendiri. Kalau di anime pasti sekarang Sasuke sedang di sinari lampu, sedangkan Sakura di tempat yang gelap dengan bayak garis-garis lurus di kepalanya.

"Eh, ngomong-ngomong tuh bayi udah gak bersuara lagi?" tanya Sakura. Mereka pun melihat Ryosuke yang berada pada gendongan Sasuke. Ternyata, Ryosuke tertidur karena lamanya tidak diberi makan oleh cucuknya. Sasuke dan Sakura menjadi kesal sekaligus sweatdrop.

"Bayi aneh…" batin mereka bersama.

Ting!

Bunyi lift berbunyi, mereka langsung masuk ke dalam lif itu. Sesampainya di lantai dua puluh satu, mereka pun menyusuri lorong-lorong apartemen itu samapai akahirnya mereka sampai di depan kamar berplat nomor 212. Mereka lalu masuk ke dalam.

Begitu masuk ke dalam, ada satu perkejaan menunggu mereka. Yaitu membersihkan susu yang tadi tumpah. Sekarang susu itu sedang didatangi semut-semut. Sasuke dan Sakura jijik melihatnya. Jadi sekarang misi mereka adalah :

Membawa Ryosuke masuk ke dalam kamar Sasuke.

Menaruh barang belanjaan mereka ke dapur.

Membersihkan lantai kayu Sasuke yang lengket, kotor, dan bersemut.

Dengan kaki berjinjit, Sakura berusaha melewati lantai yang kotor itu menuju kamar Sasuke yang ada di seberang. "Hoi Jidat, jangan ngeberantakin kamar gue ya!" ancam Sasuke. Sakura pun hanya bisa mendengus sebal. Ingin rasanya ia menumbuk Sasuke menjadi debu.

Sekarang, giliran Sasuke yang harus menaruh barang belanjaannya menuju dapur. Kalau dia berjalan santai saja, karena jalan menuju dapur tidak kotor. Tapi yang jadi masalah sekarang, di mana dia harus menyimpan makanan bayi dan popok tersebut?

Sasuke manggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. 'Hah… gue harus naro nih barang di mana?' batinya bingung. Dia memperhatikan sekeliling dapur. Ting! Sasuke mendapat ide. Kalau di cartoon mungkin sekatang ada lampu yang bersinar terang di atas kepalanya. Dia pun membuka sebuah lemari di kitchen set –nya. Isi dari lemari itu dia keluarkan dan isinya dia taruh di lemari di kitchen set yang lain. Setelah lemari itu kosong, Sasuke memasukkan popok dan makanan bayi itu ke dalam lemari tersebut.

"Beres!" kata Sasuke sambil tersenyum bangga.

"Nah sekarang kita tinggal berish-bersih!" kata sebuah suara yang terdengar semangat dari arah belakang Sasuke.

"HAH!" teriak Sasuke kaget.

"Kenapa kau Ayam?" tanya Sakura innocent.

"Ti- tidak. Udah sekarng bersih-bersih!"

Sakura pun mengambil pel dan seember air dari kamar mandi. Dia mulai membasahi pel itu. Sasuke, sekarang dia sedang santai duduk di sofa memperhatikan Sakura yang sudah mulai membersihkan lantai. Sakura menyadari ada yang kurang. Akhirnya dia memandang ke arah Sasuke.

"Hoi Ayam! Bantuin dong!" kata Sakura.

"Males. Kan elu pembokat gue."

Sakura yang tidak terima dipanggil dengan sebutan 'pembokat' oleh Sasuke pun akhirnya menggosokkan kain pel yang ada di ujung tangkainya ke arah Sasuke yang sedang memejamkan mata. Sasuke yang kaget pun akhirnya membuka matanya.

"Jidat! Lu mau ngebunuh gua? Kotor gila!" kata Sasuke.

"De el!" kata Sakura sambbil menjulurkan lidahnya.

"Ugh… You will be regrets Sakura Haruno!" Sasuke menyipratkan air yang ada di dalam ember.

"Woi Ayam! Baju gue basah nih! Lagi pula, entar lantainya ikut basah!" kata Sakura.

"Bo to the Do to the A to the Mat. Bo-do A-mat!"

"Ugh! Ayam kau!" Sakura langsung menggosokkan wajah Sasuke seperti tadi.

"I- iya. Ampun! Peace! Damai!" kata Sasuke sambil menghalangi kain pel yang digosokkan ke wajahnya dengan lengannya.

"Nah! Sekarang bantuin gue!"

Sasuke dan Sakura pun sekarang sedang kerja bakti membersihkan apartemen Sasuke itu. Beberapa saat kemudian, Sasuke dan Sakura pun selesai membersihkan apartemen Sasuke. Mereka berdua terduduk di sofa. Tapi, belum ada beberapa menit duduk, suara tangisan Ryosuke membuat mereka berdua kembali bangkit lalu cepat-cepat menuju kamar Sasuke.

Sakura langsung menggendong Ryosuke dan berusaha meredakan tangisnya. Sasuke, dia sudah pergi lagi ke dapur untuk membuat makanan untuk Ryosuke. Dia membuat bubur bayi. Setelah bubur bayi instant itu selesai dibuat, Sasuke langsung melesat lagi ke dalam kamarnya. Dia menyuapi bubur itu unutk Ryosuke. Tapi ternyata, bubur itu teramat sangat panas, jadi Ryosuke yang awalnya sudah agak tenang sekarang menjadi menangis lagi.

"Ayam bodoh! Udah tukeran! Elu yang gendong, biar gua yang suapin!" kata Sakura.

Akhirnya mereka bertukar tugas. Sakura menyuapi Ryosuke dengan hati-hati. Saat sesendok pertama bubur itu masuk ke dalam mulut mungil Ryosuke, dia tidak menangis seperti saat Sasuke menyuapinya. Ryosuke tertawa sambil bertepuk tangan. Kini, mereka terlihat seperti sebuah keluarga baru yang bahagia.

"Kenapa saat disuapin sama elo dia ketawa, sedangkan sama gue kagak?" tanya Sasuke.

"Karna, elo nyuapinnya pas nih bubur masih panas banget!"

Akhirnya bubur itu pun habis, dan Ryosuke kembali tidur. Sekarang Sakura dan Sasuke bingung mau melakukan apa. Akhirnya, Sakura mengambil tas selempangnya yang tadi dia taruh di sofa. Dia pun memakai kembali sepatu sekolahnya. "Hoi Ayam! Gue pulang dulu!" kata Sakura.

Sakura pun keluar dari ruangan apartemen Sasuke. Saat dia sampai di depan lift, dia merasa ada sesuatu yang kurang. 'Aku merasa ada yang kurang. Tapi apa ya?' batin Sakura. Dia terus berpikir sambil menunggu lift yang dia tunggu sampai. Seakan teringat sesuatu, Sakura langsung lari kembali menuju ruang apartemen Sasuke lagi.

Ting… Tong…

Bunyi bel apartemen Sasuke berbunyi. Sasuke yang baru membuka baju dan mengambil handuk untuk mandi pun akhirnya dengan malas berjalan menuju pintu. Dia sekarang hanya menggunakan celana dan juga handuk yang ia gantungkan di lehernya.

Ting…Tong…

Bunyi bel pintu terdengar seperti seorang yang sedang terburu-buru.

"Iya…iya… sebentar," kata Sasuke. Sasuke pun membuka pintu. Saat pintu terbuka, terlihatlah Sakura yang sedang berdiri di sana. Sakura yang melihat tubuh six pack Sasuke menjadi blushing. "Ada apa Jidat?"

"A-anu… apa kau lupa kalau kita memiliki tugas dari Kakashi-sensei?" tanya Sakura. Sakura masih gugup melihat Sasuke yang sedang bertelanjang dada.

Sasuke menepuk jidatnya. "Shit! Ya udah, masuk!" Sakura pun masuk kembali ke apartemen Sasuke.

"Sasuke, pakai bajumu!" perintah Sakura.

"Kenpa? Ini apartemen gue sendiri kok!"

"Halo! Di sini ada anak perempuan!"

"Oh… Anda itu perempuan ya? Saya baru tahu."

"Kau… Sasuke!" Sakura mulai marah.

Sasuke mendekati Sakura lalu merangkul pundak Sakura dengan tangan kirinya. Sasuke pun mendekatkan bibirnya pada telinga Sakura lalu berbisik, "Atau… kau tak tahan melihat tubuhku ini?" bisik plus goda Sasuke. Wajah Sakura sekarang sudah amat sangat merona merah. Sasuke yang melihat Sakura wajahnya merona merah pun menjadi tertawa terpingkal-pingkal.

"HAHAHA…. Ngakak gua ngeliat lu Jidat!" tawa Sasuke sambil memegangi perutnya yang Sakit.

BLETAK!

"Aduh! Sakit Jidat! Lu pikir kepala gua ini batu apa?" kata Sasuke sambil mengelus kepalanya yang sakit. Tadi, kepalanya dijitak oleh Sakura.

"Udah. Sekarang kita kerja."

Sasuke pun mengambil laptop apple dan modemnya dari dalam kamar. Sekarang dia sudah memakai baju merahnya yang tadi. Dia men- search tentang makhluk hidup (tumbuhan dan hewan) dari kingdom sampai spesies. Dalam mengerjakan tugas itu, sering terjadi adu mulut antara dua orang ini. Masalahnya sepele, berbeda pendapat. Tugas yang harusnya kalau dikerjakan sendiri itu hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam, kini dengan dikerjakan dua orang menjadi TIGA JAM!

"Ayam! Kerjainnya cepetan napa?" desak Sakura.

"Iya…iya…sabar napa? Ini tinggal diprint doang kok." Sasuke menyambungkan kabel printer dengan laptopnya. Dia pun memprint tugas mereka. "Nih selesai!"

"Hah…akhirnya selesai juga." Sakura menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu apartemen Sasuke. "Sekarang jam berapa?" tany Sakura.

"Setengah sembilan," jawab Sasuke santai.

"WHAT? KENAPA GAK BILANG?" pekik Sakura kaget.

"Salah sendiri kagak tanya."

"Eh Ayam, Ryosuke di rawat di apartemen lu ya?"

"Kenapa?" tanya Sasuke dengan tampang innocent.

"Kan lu tinggal sendiri. Kalo tuh bayi di bawa ke rumah gue, entar bonyok (bokap-nyokap) bisa nikahin gue ama elo!"

"Dih ogah! Amit-amit gue. Mending kalo Hinata yang jadi istri gue."

"Siapapun cowok pasti pengen punya istri kaya Hinata," dengus Sakura. "Ya udah, gue pulang. Besok jangan lupa bawa tugasnya terus rawat Ryosuke." Sakura langsung mengambil tas selempangnya lalu pergi meninggalkan apartemen Sasuke.

Sakura turun ke lantai satu. Dia pun keluar dari wilayah apartemen tersebut. Jalan di pusat Distrik Konoha kini sudah mulai sepi. Hanya sedikit kendaraan yang melintas. Dengan amat terpaksa, Sakura pulang dengan jalan kaki. Inginnya sih kalau pulang sekarang naik taxi saja, tapi kendaraan jam segini sudah jarang yang melintas.

Dua puluh menit telah Sakura tempuh diperjalanan pulang. Saat sampai di rumahnya, kedua orang tuanya beserta kakaknya, Sasori, telah menunggunya di ruang keluarga. Sakura merasakan sesuatu yang tidak enak akan terjadi.

"Dari mana saja kau?" tanya sang ayah, Kanshin Haruno.

"Aku dari apartemen Sasuke. Mengerjakan tugas," jawab Sakura.

"Apa iya? Bukannya kalian itu selalu adu bacot kalo udah ketemu?" tanya Sasori bingung.

"Tanyakan saja hal itu pada si The Most Lazy Teacher: Kakashi Hatake."

"Jaga omonganmu Sakura. Dia itu gurumu!" bentak Kanshin.

"Ya sudah, lain kali jangan diulangi ya Sakura? Kami di sini khawatir denganmu. Gak baik kalau anak perempuan pergi sendiri malam-malam begini. Sekarang kamu ke kamar. Mandi terus tidur ya," ucap ibu Sakura, Akasuna no Kurira.

Sakura pun berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di kamar, langsung saja dia mandi. Setelah mandi dan pakai baju, Sakura langsung membaringkan tubuhnya keranjang. Rasa lelah membuatnya ingin tidur. Tanpa membereskan buku untuk pelajaran esok hari, Sakura langsung tertidur di kasurnya yang empuk.

a.m.

Di apartemen Sasuke, sekarang Sasuke sedang tertidur dengan nyenyak di ranjangnya. Di sebelahnya, seorang bayi mungil juga tertidur di sana. Ya, bayi itu adalah Ryosuke. Sasuke yang tidurnya sedang nyenyak kini harus terbangun dari mimpi indahnya karena sebuah tangisan dari seorang bayi di sebelahnya.

"Oek….Oek…."

"Engh…" Sasuke mengucek-ngucek matanya. Pandangannya masih buram. Dengan mata mengantuk, dia menggendong Ryosuke. Berusaha menenangkannya, tapi usaha Sasuke sia-sia, Ryosuke tetap saja menangis. Kini, bau yang tidak enak juga menjamah indra penciuman Sasuke. Segera saja Sasuke mengambil iPhone –nya dan mencari contact list dengan nama 'Baka Forehead'.

Tut… Tut… Tut…

Terdengar nada sambung di spiker iPhone Sasuke. Setelah sekian lama menunggu, telephone Sakura tetap tidak diangkat. Sasuke pun mencari contact list Sakura lainnya. Dia mencari nomor telephone kamar Sakura. Akhirnya dia menemukan nomor telephone kamar Sakura. Sasuke segera menelephonenya.

Sakura's Bedroom

Sakura yang sedang tertidur pulas di ranjangnya kini terusik dengan bunyi telephone kamarnya. Telephone yang tepat berada di samping kasur Sakura pun berdering tidak karuan. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Sakura mengangkat telephone tersebut.

"Hmm?" dengungnya ditelephone. Matanya masih juga terpejam.

"Jidat, Ryosuke nangis!" teriak Sasuke di seberang.

"Oh…Eh APA?" Kini mata Sakura terbuka sempurna.

To Be Continue …

HALLO MINNA-SAN!

Nih, chapter satunya udah di update, makasih ya udah pada mereview, alerts, dan fave fic-ku ini. *nangis Bombay*lebay*

Say Thanks to : Yoona Furukawa, Rievectha Herbst, Kirara Yuukansa, Azuka Kanahara, cherrysakusasu, 4ntk4-ch4n, R54chanLoverShinRan, Yunacha Zaitte, Meiko Namikaze, Uchiha Sakura97

Oh ya, Aye pengen tanya, chap ini ada dan kerasa gak sih humornya? Dan juga, genrenya pas gak?

Yosh!

Review Please…

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

00.22 A.M.

October 16, 2010

Family? © Kazuma House Production ® 2010