.

.

.

Chapter 2. That Morning.

.

.

.

Law baru kali ini tidur dengan nyenyaknya. Selama enam tahun ia tidur di tempat yang membosankan, yaitu di tempat pemerintahan—bukan penjara. Law terlalu di bawah umur untuk dipenjara. Tempat yang nyaman ini dan disapa dengan hangat oleh orang sekitarnya. Walau wajah Law tidak bisa langsung membalas senyum kepada orang yang menyapanya.

"Pagi, Law. Kau mau sarapan apa?" koki dalam bar ini menyapanya. "… Omelette,"

"Pagi dua bocah nakal! Kalian mau sarapan apa?"

"Aku mau sandwich, steak, sup ayam, burger, pizza—"

"Dan aku mau steak, yakiniku, steak, steak, steak—"

"Oke sudah cukup! Hanya ada steak untuk kalian berdua, oke? Tunggulah di depan!" usir koki yang sudah bosan mendengar permintaan yang terlalu banyak itu, pasti setiap paginya. Tapi, tetap sang koki tidak bosan menanyakannya.

"Pokoknya daging!" teriak bocah paling pendek itu. "Iya! Jangan lupa daging—" bocah yang lebih tinggi sadar kalau ada orang baru di lingkungannya ini.

"Siapa kau?" Matanya mengintimidasi. 'Mereka pasti Ace dan Luffy,' Law menebak dalam hatinya.

"Eh!? Siapa dia!?" Luffy baru sadar juga kalau ada orang lain di dekatnya.

"Dia kakak kalian, bodoh!" Dadan datang sambil memukul kepala anak-anak yang meminta jatah sarapannya seperti makan siang selama lima hari.

"Aduh—APA?! KAKAK?!" Luffy histeris, Ace hanya memajukan bibirnya sambil menatap tajam Law.

"Apa kau berasal dari ayah yang sama denganku?" Luffy yang baru berumur tujuh tahun itu dengan polos bertanya, mungkin ia merasa kalau Law mirip seperti Ace maupun dirinya. Law sedang melepaskan topi berbulu kesukaannya, jadi Luffy menganggap serius kalau dia kakak sedarahnya.

"Mana mungkin, bodoh!" kini giliran Ace yang memukul kepala Luffy. "Sakiiiit! Hueeeeee! Ace jahaaaat!" tangisnya.

"Kalian berdua bisa diam tidak?! Luffy, jangan cengeng!" protes Dadan. "Dia lebih tua dari pada kalian, kalian bertiga sama-sama tidak sedarah tapi kalian harus rukun dan jangan pernah bertengkar!" pesan Dadan tegas.

"Uh—aku tak bisa menjamin itu, Dadan." Ucap Ace ketus, disusul dengan pukulan penuh kasih sayang dari Dadan. Law yang menyaksikannya hanya diam sembari menatap bergiliran kedua bocah di depannya itu. Luffy yang paling kecil, ia terlihat tengil namun jenaka. Sedangkan Ace dengan wajah suramnya terus membalas tatapan Law.

Setiap saat, dari sarapan hingga berangkat sekolah pun Ace tetap menatap tajam Law seakan dia sangat tidak suka dengan keberadaannya. Law sendiri sudah terbiasa dan tidak menganggap serius. Law kini berusia empat belas tahun duduk di bangku sekolah menengah, berbeda kelas dan derajat dengan adik-adik tirinya pasti.

Sekolah mereka masih dalam satu gedung, jadi berangkat sekolah pun terpaksa bersama-sama. Tapi kalau urusan pulang sekolah Law selalu lebih dulu sejak pertama ia pindah ke sekolah itu. Ia tidak peduli bahwa ada yang menganggap dia aneh, atau tidak mau bersosialisasi. Teman sekelasnya mengajak main pun ia tolak.

Law entah kenapa lebih memilih buku-buku pelajaran, mungkin masih ada 'luka' dalam hatinya. Ia takut teman sekelasnya tahu masa lalunya dan menjauhinya. Law mengambil langkah menjadi murid pendiam dan tidak terlalu mencolok.

Sangat berbeda dengan Ace, dia benar-benar tidak mau diperintah dan terbilang nakal. Bahkan adik paling kecil, tak jauh berbeda dengan Ace. Jika kakak kelas Luffy datang dan mem-bully Luffy, Ace dengan cepat berkelahi dengan orang yang menjahili Luffy.

Tidak hanya itu, Ace dan Luffy sangat suka bermain sampai sore. Bermain sampai hutan maupun pantai. Pulang pun tidak luput dengan kata terluka, dalam arti sesungguhnya. Mereka berdua pasti pulang dengan membawa luka yang siap diobati oleh Makino maupun Law.

Ace tentu tidak mau diobati oleh Law. Ace menganggap Law seperti musuh. Paling tidak Luffy menerima keberadaan Law, dan menurut sedikit pada Law. Walau sering Ace marah karena Luffy mau diobati oleh 'calon orang dewasa' itu. Ace benci orang dewasa di sekitarnya, bahkan di seluruh dunia mungkin.

Seperti itulah keadaan mereka setelah berbulan-bulan. Tidak ada yang berubah, Ace tetap membenci orang dewasa karena ia mungkin trauma. Luffy tetap mengekor Ace ke mana pun Ace pergi. Dan Law terus berkutat dengan buku-bukunya.

Tapi suatu hari, Law merasa mereka berdua terlalu lambat untuk tiba di rumah. Biasanya jam empat sore mereka sudah pulang dan ribut minta makan malam sambil diobati luka-luka kecil mereka. Tapi, ini sudah lebih dari jam lima. Law beranjak keluar rumah, menunggu di depan pintu. Melihat keadaan diluar semakin gelap, dan awan tebal berwarna kelabu berarak mendekat.

"Tidak biasanya mereka pulang selambat ini," Makino datang dari dalam rumah, menemani Law yang bersandar pada daun pintu. Law menanggapi dengan helaan nafasnya, matanya tetap tertuju pada halaman belakang bar ini, kalau-kalau ada dua anak setan keluar dari hutan sambil berlari karena dikejar beruang atau semacamnya. Soalnya itu pernah terjadi.

Hampir sepuluh menit Law berdiri di situ. "Aku menyiapkan makanan untuk kalian dulu," Makino kembali ke dalam, mata Law tetap tertuju keluar, ke arah semak yang sedikit gusar di seberang sana. Law mengernyitkan dahinya, segera ia lari keluar untuk mendekati semak itu. Hanya beberapa jarak lagi dari semak itu, keluarlah bocah bersurai hitam dengan terengah-engah.

Pipinya yang bernoda sejak ia lahir itu memerah, ia sangat capek seperti habis dikejar babi hutan.

"Ace!? Kau baik-baik saja? Di mana Luffy?" Law menghampiri Ace yang sedang mengatur nafasnya. Awalnya Ace menatap Law kesal, tapi Ace mau tak mau mengungkapkannya.

"Lu…. Luffy dan aku terpisah. Dia tersesat di hutan, di sekitar danau. Aku tidak bisa mencarinya lebih lama lagi, aku butuh bantuan," akunya sambil memasang ekspresi bersalahnya itu.

"Kalau begitu cepat minta bantuan oleh yang lainnya. Aku akan ke sana mencarinya!"

"Eh!? Tunggu! Sebentar lagi gelap—"

Tentu Law berlari secepat mungkin meninggalkan Ace, menerobos semak dan pohon besar. Tidak benar kalau Law tidak tahu hutan ini. Diam-diam terkadang Law berjalan membuntuti adik-adiknya. "Luffy! Di mana kau!?" teriak Law setiap dia berhenti berlari.

Iris keabu-abuannya tak mau diam, melihat sekeliling berharap makhluk yang ditujunya terlihat. Law berlari kearah danau, berharap adik paling kecilnya itu masih berada di sana—setidaknya itu yang Ace katakan.

"Luuuffy!?" Law berteriak kembali, berharap pemilik nama yang ia panggil menyahutnya. Law tiba di pinggir danau, awan mendung tiba lebih cepat dari sebelumnya karena angin bertiup semakin kencang. Law kembali berteriak, berharap ada yang mendengarnya maupun menanggapi.

Hanya suara gesekan sesama daun dan ranting yang terdengar sejauh ini. Law pun tidak melihat tanda-tanda dari adik kecilnya itu.

"Luffy," tuturnya lemas, teringat akan Lamy adik kandungnya yang telah tiada. Tidak, dia tidak berpikir bahwa adiknya yang satu ini akan bernasib sama dengan adik kandungnya. Dia yakin akan menemukannya dan menyelamatkannya.

"Hiks…. Ace…."

Kecil, terdengar sangat kecil dan pelan isakan tangis yang Law kenal.

"Luffy!?" ia segera mencari dimana sumber suara tersebut. Ia mendekat pada pohon cukup besar dengan akar menjulang tinggi di pinggir danau. Ia panjat sebisanya, walau licin karena berlumut. Law tidak gentar, walau berkali-kali terpeleset.

"Lu-Luffy!?"

"Hikss…. Aceeeeee," suara Luffy semakin jelas terdengar. Law tidak peduli kalau Luffy mengira dia adalah Ace atau Luffy hanya memanggil nama Ace. Tak jauh dari tempatnya berada, matanya menangkap sosok bertubuh mungil yang setengah terendam air dengan kaki tersangkut di antara akar berongga. Rupanya Luffy terpeleset jatuh di antara akar-akar besar ini dan tersangkut.

"Luffy!" panggil Law sambil mendekat dengan hati-hati.

"T-Torao…." Sahut Luffy yang masih menangis, sambil menyeka air yang keluar dari hidung maupun matanya. "Hikss.. Torao!"

Tidak ada tempat untuk berpijak kecuali di atas akar yang terendam air ini, jika salah langkah Law akan bernasib sama dengan Luffy.

"Tenang, tenang. Aku akan mengeluarkanmu dari sini," Law berusaha jongkok di atas akar yang licin itu, tidak peduli dia akan basah kuyup. Toh hujan sudah mulai turun.

Tangannya meraih akar-akar yang membuat kaki Luffy tidak bisa bergerak. Ukuran akar yang sedikit lebih besar dari tangan Law, membuatnya sedikit kesulitan untuk menghancurkannya. Terlebih melihat Luffy yang sangat ketakutan melihat binatang hitam yang menempel pada kakinya.

"Tenanglah Luffy, jangan coba lepaskan mereka dari kulitmu, percaya padaku," tutur Law sambil mencoba menggoyangkan akar yang menjepit kaki Luffy. "Ukhh… Hiksss," Luffy memegang erat topi jeraminya.

Dengan sekuat tenaga, Law berhasil melebarkan rongga akar itu. Luffy yang kakinya sudah bebas, ia justru kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Karena Luffy tidak bisa berenang, ia panik. Memang, ia jatuh terduduk tapi kedalaman air di atas akar ini setidaknya merendam setengah badan Luffy saat berdiri.

"Luffy! Hey! Pegangan padaku!" Law meraih tubuh kecil yang panik tak karuan itu.

"Huueeeekh—Hwaaahb," Luffy hampir meminum air danau itu. Law dengan sigap menggendong Luffy dan menaruhnya di atas akar yang tidak terendam air.

"Sudah jangan nangis, tenanglah," Law berusaha menenangkan adik tirinya sembari mengusap pipinya. "Ughh, hiks…." Luffy mengangguk pelan dan mulai berhenti menangis.

"Laki-laki tidak boleh cengeng dan lemah!" Law memeriksa kaki Luffy, sekaligus memeriksa binatang tadi apakah sudah lepas apa belum dari kulit Luffy. "Torao…. Binatang apa itu?"

"Lintah. Selama kau digigit tadi, kau tidak mengganggunya maupun melepasnya. 'kan?" Luffy menjawab dengan gelengan, membuat Law lega. "Bagus, kalau kau melepasnya dengan paksa, kau bisa mati kehabisan darah," Law punya kebiasaan menakut-nakuti Luffy.

"L-lalu bagaimana?" Luffy hampir menangis lagi.

"Sudah kubilang jangan menangis, kita pulang dan taburi mereka garam. Ayo!" Law membelakangi adiknya itu, memberi isyarat agar ia dapat menggendong Luffy di punggungnya.

"Pegangan yang erat," tutur Law setelah Luffy berada di punggungnya. Law dengan hati-hati menaiki akar-akar yang licin itu lalu berjalan pulang walau diterpa oleh hujan cukup deras.

.

.

.

"Itu mereka!" Makino menyambut Law dan Luffy saat beberapa meter lagi masuk ke dalam bar. Hujan lebat membuat pandangan menjadi pendek. Makino langsung memberikan handuk kepada dua anak yang basah kuyup itu. "Kalian tidak bertemu dengan Ace?"

Ke duanya menggeleng. "Aku minta garam, Luffy digigit lintah," pinta Law setelah menurunkan Luffy dan hanya meletakkan handuknya di atas rambutnya, tentu topi favoritnya sudah ia lepas.

"Ah!? Baik!" Makino dengan cepat menuruti apa yang dipinta calon dokter itu.

Law meminta Luffy membuka bajunya, untuk jaga-jaga kalau lintah itu sampai pada punggungnya atau perutnya. Untung hanya kakinya saja yang tergigit lintah. Law menaburkan garam pada lintah-lintah itu. "Tunggu mereka lepas, aku akan menyiapkan alkohol,"

Di saat itu juga Ace datang dengan beberapa pegawai bar yang ikut membantunya untuk mencari Luffy.

"AAAACEEEE!" Luffy yang sedang duduk menunggu lintah-lintah itu lepas langsung berteriak melihat Ace datang.

Ace berlari dan menjitak kepala Luffy. "Dari mana saja kau!? Kenapa kau bisa terpisah, hah?" bukan Ace namanya kalau tidak seperti itu—setidaknya untuk saat ini.

"Sudah-sudah, keringkan rambutmu dulu," Makino menengahi dan memberikan handuk kering pada Ace dan lainnya.

"Huh! Dan kenapa kakimu?"

"Ughh, digigit lintah. Aku tidak sempat mengejarmu, Ace. Aku terpeleset jatuh di antara akar di pinggir danau," jelas Luffy yang ingin menangis karena ulah Ace.

"…. Jangan cengeng!" Ace membuang mukanya, tentu ia merasa bersalah. Karena idenya bermain di pinggir danau, lalu tanpa diduga mereka dikejar babi hutan sampai terpisah.

Law datang di saat yang tepat, lintah-lintah itu telah lepas dari kulit Luffy. Law dengan cekatan membersihkan luka bekas gigitan binatang tanpa tulang itu.

"Ace," panggil sang kakak paling tua itu. "Kau tidak terluka juga, 'kan?" Law memastikan, karena mengobati sekalian semua orang yang ada di sini ketimbang nanti.

"Tidak, kok!" Ace masih ketus.

"Torao, tanganmu…." Luffy menunjuk tangan Law yang terdapat hewan yang sama pada kaki Luffy tadi, lintah.

.

.

.

Setelah kejadian itu, Law lebih memperhatikan kedua adiknya, lebih dari sebelumnya dengan cara diam-diam. Sekarang sang kakak tertua mengekor adik-adiknya bermain dengan cara terang-terangan. Walau sering mendapat ancaman, larangan maupun marah dari Ace, Law tetap mengawasi mereka.

"Aku tidak mau diantara kalian terjadi sesuatu," kata skakmat dari Law bagi Ace tiap mereka berdebat.

Terkadang Law juga kewalahan melihat adik-adiknya sangat suka menghabiskan makanan. Dana dari kakek dan Dadan saja tidak cukup. Sering Dadan menyuruh Ace dan Luffy agar berburu sendiri. Mereka tidak menolak, tapi ujung-ujungnya mereka terluka. Law juga terkena imbasnya jika mereka terluka.

"Sampai kapan kau mau mengikuti kami, hah?!" Ace merasa amarahnya sudah ada di tenggorokannya.

"Sampai kalian bisa berburu dengan benar," jawab Law santai.

"Kami punya cara berburu sendiri!" dengus Ace.

Law mengeluarkan belatinya, dan membuat senjata dari kayu atau ranting cukup besar.

"Huwa! Kau membawa-bawa senjata tajam setiap saat?" Luffy penasaran. Law menggeleng. "Hari ini aku sengaja membawa belati. Untuk melatih kalian,"

"Melatih?" Luffy bersemangat, Ace hanya mendecih ketika Law selesai membuat tombak dari kayu itu. Masing-masing memiliki satu.

"Aku tidak akan memakai belatiku, anggap saja hilang. Sekarang coba kita berlomba. Siapa yang dapat memanah dan menangkap ikan terbanyak, dia pemenangnya. Dan hadiahnya, dia boleh mengambil jatah makan malam yang kalah,"

Luffy langsung berteriak setuju dan ikut serta. "Aku mau! Bagaimana denganmu, Ace?" senggol Luffy. Ace menatap penuh arti pada tombak yang ia pegang.

"…. Baiklah." Nadanya memang terdengar kurang ikhlas, tapi dia sudah setuju.

.

.

.

Ace mendatangi meja makan yang ditempati Law, dan menaruh jatah makan malamnya tanpa berkata apapun. Ace mengaku kalah setidaknya.

"Aku hanya bercanda, kok. Jatah makan malam tetap untuk kalian masing-masing. Aku lakukan itu agar kalian bersemangat saja," Law meyakinkan, membuat Luffy lega.

"Fuuuh, kukira malam ini aku bakal kelaparan," ujar Luffy yang kembali mengambil piring makan malamnya dengan ukuran jumbo.

Ace tetap diam di tempat. "Tidak, bukannya aku tidak menghargaimu, Ace. Aku hanya—"

"Ya, tidak apa," Ace mengambil kembali piringnya lalu beranjak dari sekitar Law.

Garp yang melihat kejadian itu, hanya terdiam. Sebenarnya Garp tahu apa yang telah terjadi kepada mereka bertiga. Garp tentu melihat diam-diam ketiga anak 'D' ini berburu di pinggir sungai tadi.

.

.

.

Makan malam telah usai, Ace diam-diam membuntuti Garp yang keluar rumah hanya untuk berbicara dengan pria paruh baya itu.

"Kakek!"panggil Ace sembari setengah berlari menuju Garp. "Ada apa Ace?"

"…. Aku mau tanya,"

"Tentang Law?" Garp menebak. "Kenapa kakek tahu?" Ace memajukan bibirnya. Garp hanya tertawa pelan.

"Kau merasa tersaingi?" Ace tidak bisa menyangkalnya. "Ukh, aku tidak suka dia. Dia seperti orang dewasa yang kubenci,"

Garp tertawa sekali lagi. "Kau tahu? Dia seharusnya sudah meninggal," ucapan kakeknya itu membuat Ace tercengang.

"Eh?! Apa dia zombie?"

"Tentu bukan! Dia mengalami masa kanak-kanak yang sangat kelam, Ace."

Garp mulai membicarakan masa lalu Law secara empat mata kepada Ace.

Di lain tempat, Luffy yang bisanya mengekor ke mana Ace pergi kini bingung.

"Torao, kau tahu kemana perginya Ace?" Law yang merasa ujung bajunya ditarik oleh tangan mungil Luffy itu menoleh.

"Tidak tahu," jawabnya singkat sambil melanjutkan kegiatannya mencuci piring, membantu Makino. Luffy memasang ekspresi cemberut setelah itu.

Law tahu betul Luffy suka bergantung pada Ace. "Apa kau tidak capek membuntuti Ace terus?" Law menghentikan kegiatannya, dan menatap bocah yang lebih kecil darinya. "Tidak, kenapa? Apa kau juga ingin ku buntuti? Aku cuma punya satu tubuh,"

Sungguh, wajah polosnya membuat Law mengurungkan niatnya untuk mencela kebiasaan buruk Luffy.

"Lupakan," Law kembali pada kegiatan sebelumnya.

"Ahahah, Luffy, kau sudah berumur tujuh tahun bukan? Maksud Law adalah, belajarlah sedikit lebih mandiri," Makino yang sedari tadi mendengar mereka menjelaskan.

"Aku mandiri, kok! Makan sendiri, mandi sendiri, tidur sendiri!" sahut Luffy sambil tersenyum lebar. Di kepala Law muncul urat kesalnya.

"Bukan itu, bodoh! Setidaknya kau jangan seperti itik yang menempel pada induknya!"

"Aku manusia, Torao. Aku bukan itik,"

Ya, berbicara pada anak yang kelewat polos itu sangat melelahkan. "Sudah-sudah, kalian berdua…." Makino menengahi. "Mungkin Ace ada diluar rumah bersama kakek," tebak Makino agar Luffy tidak membuat Law meledak dengan amarahnya.

"Ya! Akan kucari dia!" Luffy berlari keluar dari dapur. "Yah, kau tahu itu, bukan? Luffy sangatlah polos. Mungkin belum saatnya kita memberitahu bahwa terus bergantung pada orang itu buruk untuk saat ini,"

Law memang sudah sering menegur Luffy tentang 'mengekor pada Ace' tapi selalu saja Luffy menanggapinya dengan tidak serius. 'Huh! Padahal umurnya tujuh tahun bukan? Kenapa otaknya begitu bodoh!' Law hampir setiap hari mengumpat seperti itu dalam hatinya.

.

.

.

Hari Minggu yang tenang, Law baru saja membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya. Ya, dia baru saja bangun dari tidurnya. Hening, kelewat hening untuk hari Minggu. Biasanya Luffy dan Ace meributkan sarapan mereka atau bertengkar di pagi hari. Law hanya melihat Makino dan yang lainnya sudah sibuk.

"Makino-san. Kemana mereka?"

"Ah, Law. Mereka pagi-pagi sudah pergi. Mungkin karna melihat ada kapal yang datang,"

Makino yang terlihat sibuk karena memang hari Minggu banyak pelanggan yang datang, Law tidak bertanya lebih jauh. Memang, bar ini dekat dengan pelabuhan, jadi tidak heran kalau ada pendatang baru dan dua anak itu sangat penasaran. Entah karna ingin melihat-lihat kapal yang datang atau melihat mereka berjualan apa.

Law yang melengos keluar bar, ia ingin melihat kapal di luar sana. Yang terlihat hanya tiang dan bendera saja, karena terhalang rumah maupun pohon. Law memicingkan matanya, melihat benda yang berkibar di atas tiang kapal itu.

Ia seperti pernah melihat lambang itu, lambang senyum joker dengan satu silang yang mencoret senyum itu.

"!" Law langsung berlari ke arah kapal itu berlabuh.

.

.

.