WOMEN

.

.

Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.

Warning : Typo, AU, Sasuke/Ino/Kakashi, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex.

.

.

Wanita.. wanita.. selalu wanita... didunia ini hanya akan ada satu jenis wanusia yang bisa membuatku melakukan banyak hal. Bahkan rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan mereka. Sebagai seorang iblis dengan level teratas, iblis dengan predikat sahabat baik Lucifer, aku tidak pernah bisa tahan dengan aroma tubuh yang selalu menguar dari tubuh seorang wanita. Ahh, wanita... Hanya dengan membayangkannya saja sudah bisa membuat perutku lapar. Hanya dengan mencium bau mereka sudah dapat membuat sisi tergelap dalam diriku bangkit. Membuat mata eternal mangekyo level teratasku bangkit. Dan membuat libidoku naik secara tidak terkendali. Dan dari sekian banyak wanita yang kutemui dan kusantap. Aku punya enam orang santapan terfavorit. Enam wanita dengan aroma paling memikat. Enam orang wanita dengan rasa paling memabukkan.

.

.

LEMON

.

.

Paris. Kota dimana semua keindahan, keanggunan, dan ke-eksotisan eropa berada. Termasuk dia. Wanita beraroma lemon yang bahkan mampu membuat seorang laki-laki penderita impotensi sembuh secara permanen, seorang wanita yang mampu membius kaum laki-laki untuk selalu tunduk padanya, seorang wanita yang mebuat para wanita lainnya berdesis iri, wanita dengan segudang keindahan. Seorang wanita yang menyentuh naluri lelakiku yang bahkan tidak tersentuh oleh Hinata-san.

.

.

Mademoiselle Ino Gautier. Seorang wanita penghibur yang paling tersohor pada era 1813 di Prancis. Seorang wanita prancis dengan kecantikan yang luar biasa serta kemolekan tubuhnya, ia bahkan mampu menaklukan sang Duke paling berkuasa di prancis pada saat ini. Wanita dengan surai rambut pirang dan mata biru yang dapat memikat para lelaki tanpa mesti bersusah payah. Seorang wanita penghibur kelas atas yang bahkan dapat menaklukkan seorang iblis paling kuat, Sasuke Uchiha.

.

.

Wanita itu keluar dari Place de la Bourse, toko pakaian paling terkemuka diparis. Langkah kakinya mengayun dengan anggun disepanjang tepian jalan kota paris. Dengan gaun muslin yang memiliki banyak lipatan, sehelai selendang india yang ujung-ujungnya dihiasi sulaman bunga emas dan sutra, sebuah topi jerami, gelang, dan kalung emas yang berat adalah dandanannya pada malam itu. semua mata memandangnya dengan kekaguman yang kentara.

Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengucapkannya secara langsung dihadapannya, yang jelas-jelas tidak begitu mendapat respon. Hanya senyum terkulum yang diberikan wanita itu. Langkah wanita itu terhenti hanya saat ia telah mencapai tempat tujuannya. Sebuah gedung pertunjukan besar dipusat kota paris, Opera Comique.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun wanita itu mendudukan tubuh rampingnya pada sebuah kursi diatas balkon gedung Opera. Tempat duduk VIP dalam gedung Opera itu. Saat gadis itu duduk, pertunjukan baru saja dimulai sehingga wanita itu segera mengambil kacamata Operanya diatas meja dan mulai mengarahkannya keatas panggung.

Wanita itu terlihat begitu menikmati pertunjukkan yang berlangsung. Hingga seseorang memasuki balkonnya dengan tiba-tiba membuatnya menengokkan kepalanya memandang orang yang dengan lancangnya memasuki balkonnya tanpa permisi.

Iris Aquamerine-nya menangkap sesosok tubuh tinggi tegap dengan potongan rambut tak biasa, potongan rambut yang ujung rambut bagian kepalanya mencuat melawan grafitasi. Sungguh aneh. Wajah tampan pria itu tak luput dari perhatian wanita itu. dengan mata onyx tajam miliknya, dapat dipastikan semua wanita akan bertekuk lutut dihadapan pria ini. Tapi, rupanya wanita itu sama sekali tidak terpengaruh oleh pria didepannya.

"Ah, maaf. Sepertinya saya salah masuk ruangan." Pria itu membungkukkan badannya pada wanita itu.

Yang hanya dibalas anggukan pelan darinya. Pandangannya segera ia arahkan kembali kearah panggung. Namun, begitu pria itu telah menghilang dibalik gorden balkonnya, wanita itu segera terhunyung lemas diatas kursinya, tangan kanannya menyentuh dada kirinya. Ditolehkannya kepalanya kearah pria itu berlalu beberapa saat lalu, senyumnya tiba-tiba saja tersungging.

"Seorang wanita penghibur kelas atas sepertiku, bahkan hampir saja tidak dapat menahan debaran jantungnya saat melihat pria asing? Betapa memalukannya."

Tangannya secara perlahan kembali memegang kacamata Operanya dan kembali diarahkan kematanya, dan betapa terkejutnya wanita itu saat pandangan matanya secara tidak sengaja memandang balkon didepannya.

Pria itu. Pria yang mampu membuat dada seorang Mademoiselle itu berdetak kencang pertamakalinya untuk seorang pria. Kekagetan wanita itu bertambah saat disadarinya ternyata pria itu juga tengah memandang kearahnya. Pria itu menggeser kacamata Operanya tepat didepan pelipisnya dan tersenyum begitu menawan kearah wanita itu. Tangan pria itu yang tidak memegang kacamata Opera diarahkannya didepan bibir tipis miliknya.

Wanita itu segera menutup mulutnya yang sedari tadi sedikit terbuka begitu sadar maksud dari pria itu. Perasaan malu menyerang diri wanita itu. Wajahnya sedikit memerah kala mengingat kelakuannya yang sama sekali tidak pantas. Wanita itu segera bangkit dari duduknya dan berlalu dari tempat itu dengan segera. Tidak diindahkannya sapaan-sapaan dari para pria yang dengan berbagai macam cara mencoba menarik perhatiannya. Tapi langkahnya segera terhenti saat dirasakannya sebuah tangan yang kekar menarik lengannya dengan perlahan namun penuh dengan tuntutan.

"Kenapa begitu terburu-buru?" Suara bariton seorang pria yang sangat dikenal oleh wanita itu berhasil membuatnya mengurungkan niatannya untuk berontak.

"Earl Sai Duval," Wanita itu mengangkat kepalanya dengan anggun.

"Lama sekali terakhir kali kita bertemu." Senyuman menawan terpeta dibibir ranumnya.

"Kurasa tidak selama itu, Mademoiselle Ino." Ino memandang Sai lebih intens sebelum menjawab.

"Saya rasa tiga bulan memang waktu yang tidak terlalu lama bagi anda yang seorang bangsawan untuk sekedar mengunjungi kediaman wanita rendahan seperti saya."

"Aa, Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kita bertemu." Diliriknya Ino dengan tatapan yang sedikit meremehkan, sebelum akhirnya dia tersenyum.

"Aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin melupakan wanitaku begitu saja bukan?" Ino hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Hm, kurasa toko Susse masih buka sekarang. Bagaimana kalau kita sedikit menghabiskan waktu disana?" Tangan Sai tidak tinggal diam, dielusnya punggung Ino dengan intens. Ino segera menyentuh tangan Sai yang mulai turun kearah Bokongnya.

"Maaf, saya rasa saya memiliki sebuah janji dengan seseorang malam ini. mungkin, lain kali?" Ino tersenyum ramah padanya sebelum berlalu dari hadapan Sai. Sementara Kakashi hanya memandangnya dengan tatapan yang tidak terdefinisikan.

.

.

Ino menghempaskan tubuhnya diatas sofa ruang keluarganya.

"Brengsek! Laki-laki tidak tahu diri. Beraninya dia menyentuhku seperti itu." Ino kembali berdiri dengan gusar.

"Meskipun aku seorang pelacur, tidak seharusnya dia mempermalukanku seperti itu didepan umum" Ino menggertakkan giginya dengan kesal.

"Nanine!" Ino memanggil pelayannya dengan setengah berteriak, disusul oleh suara langkah kaki yang tergesa.

"Mademe." Gadis bernama Nanine itu membungkukkan badannya.

"Buatkan aku segelas Punch*." Ino kembali duduk diatas sofanya. Mencoba menenangkan diri.

"Madame." Nanine kembali beberapa menit kemudian dengan sepoci Punch dan satu buah gelas. Ino menerimanya dalam diam. Dia menuangkan Punch kedalam gelas dan meminumnya dalam sekali teguk. Setitik air menetes dari matanya, namun segera dihapusnya dengan gusar dengan punggung tangannya.

"Hanya karena aku seorang pelacur bukan berarti aku tidak punya harga diri." Diteguknya lagi Punchnya.

Gigi-giginya bergemeletuk mengingat perlakuan merendahkan yang dilakukan Duke Kakashi padanya. Dan segera dilemparkannya gelas yang berada dalam genggamannya kearah tembok ruang keluarganya. Ditolehkannya kepalanya memandang jalanan yang mulai sepi dari balik jendela ruang keluarga. Dan lagi-lagi matanya menangkap sosok pria itu, pria dengan coat hitamnya, pria dengan mata sekelam malam, pria dengan sejuta pesonanya.

Pria itu terlihat sedang berbincang dengan seseorang, Duke Kakashi de Breville. Pria berdarah bangsawan tinggi dengan kekayaan dan kekuasaan tak terkira di paris. Otaknya mulai mencerna pemandangan didepannya. Bila pria itu bisa berbincang dengan begitu santai dengan seorang bangsawan kelas atas seperti itu apa tidak mungkin bahwa pria itu juga salah seorang Duke? Ino jelas-jelas pernah mendengar salah satu temannya berbicara tentang seorang Duke asal norwegia yang baru pindah ke paris.

Ino mulai menimang-nimang kemungkinan itu saat matanya kembali memandang kearah pria itu dan ternyata pria itupun tengan memandang kearahnya dan sedikit membungkuk kearahnya. Menarik perhatian dari sang bangsawan. Duke Kakashi pun ikut menolehkan pandangannya dan menyikut pergelangan tangan pria itu dan membisikkan sesuatu. Pria itu terlihat mengangkat sebelah alisnya.

Ino segera menutup tirai jendelanya. Setidaknya dia tahu apa yang bangsawan itu bisikan ditelinga pria itu, menginformaskan bahwa dirinya adalah seorang pelacur. Sudah pasti. Ino tersenyum pahit sebelum melangkahkan kakinya menuju kedalam kamar pribadi miliknya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Queen size miliknya. Perlahan dipejamkannya matanya. Mencoba melupakan kenangan pahit yang didapatnya hari ini. berharap esok pagi akan menjadi lebih baik baginya.

.

.

Sasuke berjalan dengan sangat perlahan jalanan kota paris yang mulai sepi. Diikutinya bau harum yang tidak akan bisa ia lupakan. Wangi sitrus lemon. Wangi paling memabukkan dari seorang wanita paling memabukkan pula. Ia sedikit menyeringai mengingat pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Berpura-pura salah memasuki ruangan di gedung opera sepertinya bukan ide yag buruk. Kau pikir seorang iblis kelas atas sepertinya bisa membuat kesalahan seperti itu? Masih diingatnya wajah keheranan wanita itu saat memandangnya dari balkon seberang menggunakan kacamata operanya. Gerakan menggodanya yang ternyata sukses membuat wanita cantik itu memunculkan semburat merah dipipi tirus miliknya.

Namun, wajah tampan Sasuke sedikit mengeras saat ingatannya melayang pada adegan tidak senonoh yang dilakukan seorang pria tua memuakkan pada wanita itu. Rasanya ingin sekali Sasuke merobek lehernya saat itu juga. Dan puncanknya saat ini. Dengan langkah yang pelan ia mengikuti pergerakan wanita itu, mengikuti jejak wangi lemon yang ditinggalkannya.

Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah rumah yang tidak bisa dibilang sederhana, dan dari balik jendela yang menghadap jalanan dia dapat melihat wanita itu tengan menggerutu kesal dan membanting gelasnya. Kegiatannya memandangi wanita itu akan terus berlangsung andai saja tidak ada tangan besar seseorang menepuk pundaknya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Duke Kakashi de Breville, seorang pria bodoh yang menginginkan kekuasaan dan kekayaan dengan cara sangat instan. Memanggil Iblis dan mengikat perjanjian dengannya.

"Aku bukan budakmu yang harus melaporkan setiap gerak-gerikku padamu. Kaulah budakku." Sasuke mengatakannya dengan nada rendah namun penuh dengan penekanan.

Duke Kakashi hanya memandangnya dengan tatapan tidak suka namun tetap memperlihatkan senyumannya. Mungkin, jika ada seseorang yang melihat mereka. Orang-orang itu hanya akan melihat mereka seperti seorang teman akrab yang tengah berbincang dengan santai. Sasuke kembali menolehkan kepalanya memandang kearah jendela dan tidak berselang lama wanita itupun menolehkan kepalanya memandang padanya. Dengan sangan gentle Sasuke membungkukkan badannya. Duke yang meraa heranpun ikut memandang kearah dimana Sasuke membungkuk. Senyuman terukir dibibirnya lalu dia bergerak mendekat dan berbisik di telinga Sasuke.

"Kau memang seorang iblis yang hebat, kau tahu barang bagus dengan sangat."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Memandang kearah Duke Kakashi.

"Dia adalah Mademoiselle Ino, penghibur kelas atas yang paling digilai sekarang ini." Sekali lagi Sasuke memandang kearah jendela yang sekarang telah tertutup sempurna oleh gorden berwarna merah.

Dirasakannya tangan Duke Kakashi dipundaknya sebelum pria itu berlalu. Sasuke masih diam ditempatnya.

"Dulu aku jatuh dalam pesona seorang bangsawan, dan sekarang aku jatuh pada seorang wanita pengibur? Menarik." Terukir seringai tipis dbibir tipis miliknya.

Dan seketika itu pula muncul sekelebat kabut hitam mengelilingi tubuh Sasuke dan saat kabut itu hilang tubuh Sasuke pu mengilang.

.

.

Sekumpulan kabut hitam memenuhi ruang kerja milik Duke Kakashi. Duke Kakashi tidak terlalu kaget dengan sekumpulan kabut hitam itu, dia sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan seperti itu. dan dia juga sudah tahu siapa yang akan muncul dari kumpulan kabut hitam itu. siapa lagi kalau bukan Sasuke? Dia sudah mengabdikan dua puluh hidupnya pada iblis itu, jadi dia sudah terlalu hapal dengan semua tingkah pola dari iblis menyebalkan yang satu ini.

"Apa yang kau inginkan sekarang? Bukankah pemberian persembahan masih satu pekan lagi?" Duke Kakashi bertanya langsung saat dilihatnya Sasuke sudah terduduk dengan nyamannya disofa ruang kerja miliknya.

"Je ne suis pas venue pur que*." Sasuke dengan santai memainkan salah satu hiasan dari kristal yang bertengger dengan nyaman diatas meja sudut.

"Lalu?" Duke Kakashi mengambil cerutu miliknya dan mulai menghisap cerutu itu dengan perlahan.

"Aku ingin kau mengantarku kerumah Mademoiselle itu besok siang." Kakashi mengernyit.

"Untuk apa?"

"Sedikit bersenang-senang sepertinya akan sangat menarik." Sasuke menaruh kembali hiasan kristal itu diatas meja. Ditatapnya Duke Kakashi.

"Certes, Tant que votre souhait*"

Dan kepulan kabut hitam itupun kembali terlihat dan menghilangkan keberadaan Sasuke dari ruangan itu.

.

.

Toktoktok...

Suara ketukan pintu terdengar dari arah kediaman Mademoiselle Ino, terlihat dua orang pria dengan penampilan rapi. Coat yang dikenakan kedua pria itu jelas terlihat sangat mahal. Salah satu dari keduanya merupakan salah satu orang paling berpengaruh di paris. Duke Kakashi de Breville. Seorang pengusaha tambang batu bara berusia tigapuluh delapan tahun yang juga merupakan salah satu dari sedikit kerabat kerajaan.

Sementara disebelahnya berdiri seorang pria berusia sekitaran duapuluh lima tahunan dengan penampilan yang sangat menarik, bahkan para gadis yang kebetulan melintaspun tak ayal menghentikan langkah mereka begitu melihat pria dengan perawakan tinggi tegap itu. Mata onyx-nya senantiasa menghipnotis tiap pasang mata yang memandangnya.

Cklek.

Pintu segera terbuka begitu ketukan ketiga terdengar, diambang pintu terlihat seorang wanita paruh baya yang memandang para tamunya dengan wajah terkejut. Wanita itu segera berlari kembali memasuki rumah. Terdengar sedikit pembicaraan didalam sana dan tak lama kemudian muncul seorang wanita berparas cantik berusia sekitar duapuluh dua tahun menyambut kedatangan para tamu tak diundang.

"Duke Kakashi de Breville, saya tidak menerima sedikitpun pesan tentang kedatangan anda." Wanita bersurai pirang panjang itu membungkukkan badannya dengan sangat anggun.

"Ah, maafkan kedatangan kami yang sangat mendadak ini. Saya harap saya tidak mengganggu anda pagi ini," Duke Kakashi membalas sapaan Ino, tangannya menyentuh lengan Sasuke sembari berkata.

"Dan saya membawa sahabat saya kemari, dia Duke Sasuke, dia baru datang dari Norwegia beberapa hari lalu. Saya rasa anda juga sudah mendengar tentang desas-desus kedatangannya bukan?" Ino memandang Sasuke sebelum kembali membungkukkan badannya.

Sasuke memandangnya dengan tatapan matanya yang tajam sebelum akhirnya membalas salam Ino.

"Masuklah, semoga rumah saya yang kecil ini tidak membuat anda merasa tidak nyaman." Ino mempersilahkan kedua pria itu untuk masuk.

Dibimbingnya para tamunya kesebuah ruangan yang cukup besar. Disalah satu sudut ruangan bertengger sebuah Baby Grand Piano berwarna coklat.

"Anda memainkan piano juga?" Sasuke bertanya pada Ino sebelum pria itu mendudukan dirinya disalah satu sofa diruangan tersebut.

"Hanya sebagai selingan." Ino tersenyum kearah Sasuke sebelum berlalu mencari Nanine.

Sasuke bangkit menghampiri Baby Grand Piano itu dan mencoba menekan tuts pianonya sebelum matanya menangkap sebuah partitur yang terbuka lebar diatas piano. Sasuke mulai memainkan partitur karya Weber berjudul Invitation to the Waltz dengan sangat indah. Duke kakashi menonton Sasuke bermain piano sambil mengisap cerutunya. Dibelakangnya terlihat Ino tengah berjalan menghampiri mereka dengan wajah yang menyiratkan kekaguman. Saat sadar Ino tengah memandangnya, Sasuke menghentikan aktifitasnya dan segera bangkit dari duduknya.

"Ah, maaf."

"Anda tidak perlu meminta maaf untuk bermain piano dengan begitu indah. Saya bahkan tidak pernah berhasil memainkan partitur tersebut dengan sempurna." Ino tersenyum kearah Sasuke, langkahnya sudah lama terhenti beberapa langkah dari Sasuke.

"Benarkah?" Sasuke bertanya pada Ino, Ino hanya mengangguk pelan.

"Bagian mana yang anda anggap sulit?"

"Ah, bagian ketiga, bagian nada kres." Ino menjawab lemah. Sasuke terlihat sedang berfikir sebelum kembali berujar,

"Ah, bagian itu memang cukup sulit. Mendekatlah, akan kutunjukan caranya." Sasuke merentangkan sebelah tangannya kearah Ino, berharap Ino akan menyambutnya dan mendekat.

Dan Ino memang melakukannya. Sasuke tersenyum lembut padanya dan kembali memainkan partiturnya begitu Ino telah terduduk disampingnya. Dibelakang mereka Duke Kakashi terlihat tengah menyesap minumannya, namun matanya dengan tajam memandang mereka berdua.

.

.

Semenjak hari itu secara berkala Sasuke mengunjungi kediaman Ino. Kedekatanpun semakin terjalin diantara mereka berdua. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama. Seperti hari ini. pagi-pagi sekali Sasuke sudah berada didepan pintu kediaman Ino. Tangannya terulur mengetuk pintu.

Toktoktok...

Tak berapa lama Ino telah membuka pintu rumahnya dengan senyuman manis terkembang dibibirnya.

"Salut*." Ino menyapa Sasuke

"Bonjour*." Sasuke meraih tangan Ino dan mengecupnya dengan perlahan.

"Bonjour." Ino membalas sapaan Sasuke dengan lirih.

Ino sedikit menyingkir dari pintu dan mempersilahkan Sasuke masuk. Tapi, Sasuke masih berdiri didepan pintu. Membuat Ino mengernyit heran.

"Apa kau sibuk hari ini? maksudku seharian ini." Sasuke bertanya pada Ino.

"Aucun, Aujourd'hui, je èpargner. Pourquois?*" Ino bertanya balik pada Sasuke.

"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Apa kau keberatan?"

"Tentu saja tidak. tunggulah sebenar Saya akan bersiap-siap dulu." Ino kembali memasuki rumahnya diikuti oleh Sasuke.

Sasuke duduk didepan perapian, tangannya terlihat mempermainkan jam gantung miliknya. Beberapa menit kemudian Ino telah berdiri dihadapan Sasuke dengan gaun satin berwarna soft pink dengan sebuah topi kecil bertengger diatas kepalanya yang disanggul rendah.

"Kita pergi sekarang?" Sasuke bangkit dari duduknya dan meraih tangan Ino yang kemudian dia sampirkan dilengannya.

Ino berjalan disamping Sasuke dengan tangannya masih setia memeluk lengan Sasuke. Hatinya begitu berbunga, ia tak pernah diperlakukan sebegitu lembut dan tulus seperti ini oleh seorang pria sebelumnya. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai disebuah taman kota di pusat kota paris. Tak banyak orang berkumpul disana. Mereka terus berjalan memasuki taman, mereka baru berhenti saat dihadapan mereka saat ini telah terlihat sebuah danau dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Ditambah dengan udara pagi hari yang menyejukkan membuat suasana semakin menarik.

Dihadapan mereka telah terhampar sebuah selimut berwarna merah dan ditengah hamparan selimut tersebut terdapat sebuah keranjang piknik yang cantik.

"Kau telah menyiapkan ini sebelum." Ino berujar pelan, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Disebelahnya Sasuke hanya tersenyum samar.

Ino mendudukkan dirinya diatas selimut, diikuti oleh Sasuke disebelahnya. Hening beberapa saat, tak ada satupun dari mereka yang berniat membuka percakapan. Ino menghirup dalam-dalam udara pagi yang begitu menyegarkan paru-parunya. Matanya terpejam menikmati henbusan angin pagi. disebelahnya Sasuke tengan memandanginya dengan intens.

"Ada apa?" Ino menoleh kearah Sasuke begitu tersadar bahwa pria itu tengah memperhatikannya.

Sasuke mendengus seraya tersenyum samar, dialihkannya pandangannya memandang danau.

"Apa kau harus selalu bertingkah seperti itu?" Ino masih memandangi wajah Sasuke.

"Comme quoi?*" Sasuke balik memandang wajah Ino.

"Mendengus setiap kali seseorang bertanya padamu."

"Dèsolè*, terkadang sulit sekali menghilangkan suatu kebiasaan buruk." Sasuke tersenyum kearah Ino. Ino balas tersenyum.

Suasana hening kembali menyelimuti mereka.

"Apa kau menyukaiku?" Sebuah pertanyaan dari Sasuke sukses membuat Ino terperanjat.

"Apa maksudmu?" Ino balik bertanya pada Sasuke dengan suara yang sedikit bergetar. Rasa kaget dan bingung juga setitik perasaan berharap menyelimutinya.

"Kau tau apa yang kumaksud." Ino terlihat sedikit bingung sebelum akhirnya menjawab,

"Tentu. Aku selalu menyukai sesuatu yang berbau bangsawan." Sasuke mengernyitkan kaningnya. Bingung dengan jawaban dari wanita disampingnya.

"Argent, le pouvoir, le statut, l'honneur*. Setiap orang akan sangat menyukainya bukan?" Ino bertanya sarkastik pada Sasuke.

"Aa.. Alors, comment aimer?*" Sasuke balik bertanya pada Ino. Ino tersenyum pahit sebelum menjawab,

"Wanita sepertiku tidak membutuhkan cinta. Saya bahkan masih bisa hidup tanpa cinta."

"Kau tahu, aku juga pernah berpikir seperti itu. sebelum seseorang menyadarkanku." Kalimat Sasuke sedikit melemah.

"Seseorang? Femme?*" Ino kembali bertanya.

"Oui*." Entah kenapa terbesit perasaan kecewa didada ino saat mendengarnya.

"Lalu, dimana wanita itu?" Ino mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke. Menyembunyikan rona kekecewaan diwajahnya.

"Il m'a larguè*." Ada nada pahit dari suara Sasuke dan Ino menyadarinya.

"Aku tidak menyangka ada wanita yang bisa menolakmu seperti itu." Ino tersenyum samar.

"Jadi, kau tidak menolakku?" Perkataan Sasuke barusan sukses membuat Ino mengalihkan pandangannya kearah Sasuke, keterkejutan akan perkataannya yang dengan lihai dibalikkan oleh Sasuke bagaikan bumerang. Rona merah terpeta diwajah cantiknya.

"Aku tidak berkata seperti itu." Ino kembali membuang pandangannya. Memandang danau dengan gelisah. Disampingnya Sasuke tersenyum. Setelahnya tak ada lagi yang berbicara diantara mereka. Bahkan sampai mereka mengakhiri piknik sederhana mereka pun tak ada yang membuka pembicaraan lagi.

.

.

Ino tengah berada didalam kamarnya ketika batuk hebat menyerangnya. Tak henti-hentinya ia terbatuk dengan hebat. Bahkan ia bisa melihat darah di saputangan putihnya kala ia berusaha meredam batuknya dengan menempelkan saputangan itu dimulutnya. Ia sadar, bahwa ia tengah sakit TBC sekarang. Tapi ia pun dengan keras kepala menolak menjalani pengobatan dirumah sakit. Bahkan, Nanine pembantunya yang paling setiapun sudah sangat putus asa dalam membujuk nyonya rumahnya yang cantik itu.

Ino menolak setiap tamu yang datang kerumahnya. Bahkan Ino menolak kedatangan Sasuke. Ia tidak mau pria itu mengetahui penyakitnya. Ia merasa malu, bahkan hanya dengan statusnya yang seorang wanita penghiburpun sudah cukup membuatnya merasa rendah dihadapan Sasuke apalagi jika pria itu tahu akan sakitnya.

Ino membaringkan tubuhnya diatas tempat tidaur miliknya. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan mata sayu. Menyadari penyakitnya yang semakin parah menggerogoti tubuh kurusnya. Ia begitu khusyuk melamun sampai tak sadar seseorang tengah mendekati pembaringannya dengan langkah perlahan.

"Kenapa kau menghindariku?" Ino terlonjak kaget. Ia mendudukkan tubuhnya dan memandang orang yang sekarang tengah berdiri disisi ranjangnya.

"Sasuke."

Sasuke hanya memandangnya dalam diam. Matanya dengan seksama memperhatikan penampilan Ino. Meski cahaya kamar itu hanya diterangi beberapa buah lilin yang redup tapi mata tajam Sasuke dapat menangkap seluet tubuh kurus Ino, wajahnya yang pucat, dan baskom berisi air yang telah ternoda beberapa titik darah diatas meja. Sasuke tahu kalau wanita ini sedang tidak baik. Apa karena ini Ino tidak ingin bertemu dengannya?

"Sasuke, aku-" Kalimat yang ingin Ino katakan terputus oleh serangan batuk yang sangat hebat. Seolah-olah, dada Ino terbelah dua. Wajah cantiknya memerah dengan sempurna dan dia memejamkan mata karena sakit.

Sasuke segera mengambil baskom berisi air itu dan segera memeluk pundak Ino sambil menyodorkan baskom itu kehadapannya. Ino membuang liquid merah pekat dari mulutnya kedalam baskom itu. Wajahnya sedikit tenang saat liquid merah itu telah keluar. Sasuke meletakkan kembali baskom itu diatas meja dan membaringkan Ino diatas ranjangnya. Raut wajahnya sangat pucat, mulutnya setengah terbuka mencoba menormalkan nafasnya. Sekali waktu, dadanya diangkat oleh helaan napas panjang, yang terlihat membuatnya lega. Dan selama beberapa detik, Ino tampak cukup nyaman.

Sasuke membelai puncak kepala Ino dengan lembut, mencoba membuat Ino lebih nyaman. Ino meraih tangan Sasuke, mengangkatnya kebibir tipis miliknya, dan tanpa terduga, dua butir air mata menetesi tangan tersebut.

"Maafkan aku," Air mata itu masih saja mengalir dari mata aquamerinnya.

"Kenapa kau harus meminta maaf?"

"Karena menghindarimu akhir-akhir ini." Ino mendongakkan kepalanya memandang Sasuke yang terduduk diatas kursi disamping tempat tidurnya.

"Aa, benar," Sasuke menggantung kalimatnya. Wajahnya terlihat seperti menahan sebuah luapan emosi sebelum akhirnya melanjutkan.

"Jadi, kenapa kau menghindariku?"

"Saya hanya tidak ingin kau melihatku yang seperti ini, dan mungkin menularkannya padamu." Ino masih memandangi wajah Sasuke.

"Kau tidak akan menularkannya. Dan seharusnya kau menjaga kesehatanmu jika tidak ingin menularkannya padaku." Sasuke menangkap senyum miris tersungging dibibir tipis Ino. Tangan Ino yang sebelumnya menggenggam tangan Sasuke pun terlepas.

"Jika saya menjaga kesehatan saya, saya pasti mati." Sasuke mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Tapi, tetap menunggu Ino menyelekakashikan kalimatnya.

"Yang membuatku masih bertahan adalah kehidupan yang gila-gilaan yang saya jalani ini. Dan ngomong-ngomong tentang menjaga kesehatan. Itu semua hanyalah diperuntukkan bagi wanita-wanita yang memiliki keluarga dan teman. Sementara, bagi wanita seperti saya, pada saat kami tidak bisa melayani para kekasih kaya kami, mereka meninggalkan kami." Suaranya terdengar bergetar.

"Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menjagamu." Sasuke berbicara dengan nada yang sangat lembut. Ino memandangnya dengan tatapan meremehkan.

"Oh, mungkin anda memang akan datang satu atau dua minggu untuk merawat saya tapi anda akan pergi setelah tiga minggu. Semuanya seperti itu. Dan akhirnya saya akan tetap sendirian," ino mengambil jeda beberapa saat. Menarik nafasnya yang sedikit sesak.

"Dan, aku paling benci jika aku harus sendiri. Lebih baik berada diluaran sana mencari para Duke yang membutuhkan seorang gundik seperti saya. Setidaknya saya bisa mendapatkan beberapa ratusribu franc setiap tahunnya dari mereka untuk membeli obat-obatan sialan itu." Ino mulai terisak dalam diam.

Sasuke tak menjawab, hanya mendengarkan.

Keterusterangan yang nyaris seperti pengakuan darinya tentang kehidupan yang menyedihkan ini, yang terlihat sekilas dari balik tirai keemasan yang menutupinya, dan realitas yang ingin dilupakan oleh wanita malang yang satu ini dengan hura-hura, minum-minum, dan jarang tidur, menimbulkan kesan yang sangat mendalam pada diri Sasuke.

"Kau lupa, aku juga merupakan seorang Duke." Setelah beberapa menit lamanya, Sasuke kembali membuka mulutnya, membuat Ino kembali memandang wajah tampannya.

"Aku bisa memberikanmu lebih dari jutaan franc." Ino memandang wajahnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kau hanya perlu menjaga kesehatanmu, hidup bersamaku dipedesaan dengan udara segar yang bisa mempercepat penyembuhan penyakitmu, melahirkan anak-anakku, dan memastikan bahwa rumah yang kita tinggali terawat dengan baik." Ino kembali meneteskan air mata. Namun, kali ini bukan lagi tangisan pilu yang terdengar darinya melainkan tangisan haru.

"Apa kau baru saja melamarku?" Dengan isakan pelan Ino bertanya pada Sasuke.

"Kau boleh berpendapat seperti itu." Sasuke mengusap hidup mancungnya, matanya menghindari kontak mata dengan Ino. Kebiasaan baru seorang Sasuke untuk menyembunyikan rasa malunya.

"Tapi yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu, aku harap kau tidak keberatan jika aku membawamu untuk melakukan perawatan intensif dirumah sakit." Sasuke kembali menatap wajah Ino dengan intens.

Ino balik menatapnya, dihapusnya air mata yang mengucur dari kelopak matanya. Untuk beberapa menit berikutnya mereka hanya saling terdiam. Sasuke tetap terduduk dikursinya dengan nyaman, sementara Ino terlihat sedikit menyamankan duduknya diatas tempat tidur sebelum bertanya pada Sasuke.

"Ada sesuatu yang selalu ingin aku tanyakan padamu." Sasuke memandang Ino.

"Dan, apakah itu?" Ino terlihat sedikit menarik napas pelan sebelum kembali berujar.

"Aku selalu bertanya-tanya. Tidak seperti para kekasihku sebelumnya, aku selalu berpikir kenapa kau sama sekali tidak pernah menyentuhku." Sasuke memamerkan seringai tipisnya sebelum menjawab.

"Jadi, kau ingin aku menyentuhmu?" Ino sedikit tersentak dengan jawaban Sasuke. Ia tidak bisa memungkiri bahwa sebagai wanita Ino pun ingin merasakan bagaimana rasanya berada dalam rengkuhan dada bidang milik Sasuke. Namun, disatu sisi iapun tidak mungkin mengakuinya secara terang-terangan dihadapan Sasuke. Sehingga, yang Ino lakukan hanyalah menunduk menahan malu.

"Aku juga sama seperti laki-laki lain. Aku juga ingin menyentuh tubuhmu, bergairah setiap kali melihatmu. Tapi, aku juga bukan seorang laki-laki bajingan yang hanya menginginkan tubuhmu setelah itu meninggalkanmu. Aku memenginginkan kepastian dalam hubungan kita sebelum benar-benar menyentuhmu." Jawaban yang dilontarkan Sasuke sukses membuat iris aquamerine itu kembali berkaca-kaca. Tak ada satupun kata yang mampu ia keluarkan. Dadanya diliputi keharuan yang mendalam. Sementara Sasuke hanya mengusap pucuk kepala Ino dengan lembut, mencoba menyalurkan perasaannya.

"Ini sudah larut, beristirahatlah. Besok aku akan datang lagi untuk menjemputmu." Sasuke beranjak dari kursinya, sebelum ia sempat mencapai pintu Ino kembali melontarkan pertanyaan.

"Menjemput?"

"Kurasa perawatan intensif dirumah sakit akan lebih cepat membantu penyembuhanmu." Ino hanya mengangguk. Sebelum benar-benar pergi Sasuke kembali berujar yang membuat Ino bersemu merah.

"Karena kurasa aku semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu."

.

.

Pagi-pagi sekali Sasuke telah menepati janjinya untuk datang menjemput Ino. Sasuke memasukkan Ino kedalam rumah sakut paling terkemuka dikota Paris. Kesehatan Ino pun semakin hari semakin membaik. Sasuke hampir tidak pernah meninggalkan Ino seorang diri dirumah sakit, ia tahu Ino pasti akan merasa sangat kesepian jika ia meninggalkannya seorang diri disana. Ia bahkan melupakan kewajiban utamanya untuk memperkaya Duke Kakashi sehingga membuat pria itu diliputi perasaan cemas.

Ia cemas jika Sasuke membuangnya. Ia sadar disini dialah yang bergantung pada iblis itu. Sehingga saat berita tentang kedekatan dan perhatian berlebih Sasuke pada gadis penghibur itu sampai ditelinganya ia menyuruh beberapa orang bawahannya untuk memastikan berita tersebut. Dan, amarahnya benar-benar tersulut saat bawahannya mengkonfirmasi kebenaran berita itu. Dengan langkah yang tergesa Kakashi menghampiri Sasuke dirumah sakit tempat ino menjalani perawatan. Dan, saat dilihatnya Sasuke tengah berdiri disebuah lorong rumah sakit sambil memandang kearahnya ia tahu bahwa laki-laki itu mengetahui tentang kedatangannya.

"Apa yang membuat laki-laki sibuk sepertimu datang kemari?" Sasuke memandang Kakashi dengan tatapan iblisnya. Iris matanya telah berubah menjadi tiga titik hitam yang terus berputar.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang perjanjian kita." Kakashi balik memandang Sasuke dengan berani.

"Berani sekali berkata seperti itu padaku."

"Kau memiliki perjanjian denganku."

"Dan kau pikir aku peduli?" Sasuke melangkahkan kakinya melewati Kakashi yang hanya bisa terpaku ditempatnya.

Dikepalkannya kedua tangannya. Amarahnya sudah benar-benar membuncah.

"Baik, mungkin kau tidak akan peduli padaku. lalu bagaimana dengan Rose? Kuharap kau tidak melupakan tanggung jawabmu pada gadis itu. Kau adalah tunangannya bagaimanapun." Kakashi mencoba menekan amarahnya, bagaimanapun adiknya Rose adalah tunangan dari Sasuke.

Kalau ia harus kehilangan kontraknya dengan sang iblis setidaknya ia tidak boleh membuat adik semata wayangnya juga ikut menjadi korban. Apalagi saat berita tentang kedekatan Sasuke dan Ino sampai pada telinga Rose, adiknya itu begitu terpukul dan menjadi sangat pemurung.

"Aku tidak pernah menganggap gadis itu sebagai tunanganku, kaulah yang melakukannya." Dengusan kecil mengiringi kepergian Sasuke.

Dibelakangnya Kakashi sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. Iapun melangkahkan kakinya menjauhi gedung rumah sakit itu. Tanpa disadarinya Ino telah berdiri diantara mereka sejak beberapa saat lalu. Kakinya merasa sangat lemas, ia sama sekali tidak menyangka kalau Sasuke sudah memiliki seorang tunangan. Meskipun ia sudah terbiasa menjadi simpanan para duke beristri tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa Sasuke juga melakukannya. Pasalnya laki-laki itu tidak pernah menyinggung wanita itu sebelumnya.

Ino menjadi lebih pendiam, meskipun dokter telah mengatakan bahwa ia akan bisa sembuh tak lama lagi namun berita itu sama sekali tidak membuatnya senang. Ditambah lagi pertemuannya dengan gadis tunangan sasuke beberapa saat lalu saat Sasuke sedang pergi membeli beberapa pakaian untuknya. Ia merasa menjadi wanita yang paling kejam dan jahat didunia. Melihat bagaimana gadis itu menangis dan berlutut dihadapannya agar mau melepaskan Sasuke. Bagaimana gadis bangsawan itu telah berubah menjadi sangat kurrus dan pucat menggantikan kecantikan yang terpendar dari dalam dirinya. Gadis dengan pancaran cinta yang besar setiap kali membicarakan tentang Sasuke. Dan bagaimana gadis itu terus menangis dan berlutut dihadapannya membuatnya semakin merasa kejam.

Langkah kakinya dengan goyah ia arahkan kesalah satu jendela besar lantai tujuh rumah sakit yang tengah terbuka dengan lebar. Didudukkannya tubuhnya dipinggiran jendela itu, dilipatnya kakinya memeluk dada kurusnya. Angin menerpa anak-anak rambut diwajah cantiknya dengan perlahan. Matanya kembali melayang pada gadis cantik itu, pada pengorbanan dan kecintaannya pada Sasuke. Ia merasa sangat kejam dan hina, ia berharap ia bisa lepas dari predikat sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain.

Tapi, yang ia lakukan justru malah sebaliknya membunuh gadis yang harusnya menjadi pendamping Sasuke secara perlahan. Perlahan liquid bening menuruni pipi mulusnya. Ia segera menghapus air matanya saat didengarnya Sasuke tengah memanggil namanya. Ia sunggingkan senyuman terbaiknya saat dilihatnya Sasuke berjalan kearahya dengan senyuman yang terkembang diwajah tampannya. Sasuke berjarak tiga meter dihadapannya saat ini. Wajah tampan pria itu menghalau segala macam kegundahan hatinya, menguatkan hatinya. Membawa kembali ketentraman dihatinya.

"Sasuke." Merasa namanya dipanggil Sasuke hanya tersenyum kearahnya. Ino membalas senyuman Sasuke.

"Merci*" Sasuke mendengus mendengar perkataan dari Ino. Dilangkahkannya kakinya mendekati Ino, namun baru saja beberapa langkah Sasuke kembali berhenti dan mengernyitkan alisnya saat mendengar perkataan Ino selanjutnya.

"Et pardonnes-moi*" Sasuke memandang Ino dengan tatapan bingung sementara wanitapirang dihadapannya sekarang hanya tersenyum lembut ke arahnya.

"Apa kau ingin berjalan-jalan?" Ino bangun dari duduknya dan menghampiri Sasuke yang juga tengan berjalan menghampirinya.

"Kemana? Kau masih belum sembuh sempurna." Sasuke membimbing tangan Ino lembut.

Ino tidak menjawab pertanyaan Sasuke, ia hanya terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Ia membisu. Ia bimbang. Ia tahu kalau dia sama sekali tidak pantas untuk pria tampan dan baik hati disampingnya. Tapi dia juga mencintainya. Sekali saja dalam hidupnya dia ingin menjadi egois.

Tapi saat dia kembali memutar memory saat tunangan Sasuke menjumpainya dengan tubuh kurus dan wajah pucat bak seorang pesakitan ia kembali bimbang. Sanggupkah ia melihat orang lain yang lebih layak mendampingi Sasuke menderita?

Langkahnya terhenti didepan pintu masuk rumah sakit. Tangan kurusnya melepaskan genggaman tangan Sasuke disampingnya.

"Pergilah dan jangan pernah kembali." Sasuke membulatkan matanya sempurna. Ia tidak mengerti kenapa wanita disampingnya ini mengatakan hal demikian.

"Aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak bisa terus menjadi egois dan membuat orang lain menderita karnaku-" Ino menggantung kata-katanya sesaat sebelum melanjutkan.

"Tunanganmu jauh lebih membutuhkanmu dari pada aku."

"Dia datang menemuimu bukan? Apa kau menghawatirkan gadis itu? lalu bagaimana denganku? Aku juga akan terluka jika kau menyuruhku untuk pergi." Ino menundukkan wajahnya dalam.

"Aku sudah pernah bilang bukan? Setelah satu atau tiga minggu kau akan melupakanku. Selalu seperti itu." Ino memandang wajah Sasuke dihapdannya.

Wajah pria itu mengeras, ia ingin mengatakan banyak hal tapi ia terlalu takut. Takut bila ia mengatakan lebih dari ini ia akan menangis. Jadi dia hanya tersenyum pada pria pertama yang telah merebut hatinya dan menyentuh dada pria itu.

"Pergilah. Kumohon. Kau ingin aku bahagia? Maka tinggalkan aku."

Sasuke ingin membantah tapi ia tahu itu semua percuma. Wanita yang telah menyentuh hatinya ini telah menolaknya. Menyuruhnya untuk menjauh.

"Jika ini memang keinginanmu akan aku lakukan. Jangan pernah menyesal."

Sasuke melangkahkan kakinya menjauhi pelataran rumah sakit. Dia memang mencintai Ino tapi dia tidak ingin memaksakan lagi perasaannya dan kembali terluka seperti halnya saat ia bersama Hinata-sama. Ia harus belajar merelakannya.

...

Sasuke melangkahkan kakinya memasuki halaman luas kediaman Kakashi. Langkahnya terus melaju hingga ia mendapati pria itu tengah meminum wine mahalnya ditemani sang adik yang hanya memandang ke kejauhan. Mata indahnya telah berubah mati. Jangan salahkan Sasuke. Wanita itu memang merupakan tumbal yang diberikan Kakashi padanya sejak awal. Wanita itu adalah surat kontraknya bersama Kakashi jadi jika wanita itu berada terlalu jauh dengannya maka dia akan seperti ini. kehilangan semangat hidup.

"Sasuke. Sudah lama kau tidak kesini." Kakashi menyambutnya dengan senyuman terkembang sempurna.

Sementara Rose segera menghambur kedalam pelukannya. Dipeluknya tubuh Sasuke dengan erat tak ingin dilepaskannya lagi.

"Aku membatalkan kontrak kita." Sasuke memandang wajah Kakashi dengan dingin.

Sementara Kakashi berdiri mematung beberapa langkah dihadapannya. Wajahnya memucat, tangannya gemetar karena marah dan kaget. Ia bahkan menjatuhkan gelas wine yang dipegangnya.

"Jangan bercanda. Kau tidak bisa membatalkan kontrak kita selama Rose masih hidup." Kakashi menunjuk adiknya dengan geram. Matanya melotot sempurna. Ia tidak terima jika iblis dihadapannya ini membuangnya begitu saja.

"Begitu ya." Sasuke mengangguk. Sementara Kakashi tersenyum puas ke arahnya.

"Kalau begitu aku akan melenyapkannya." Tanpa aba-aba Sasuke memelintir leher wanita yang sedari tadi memeluknya tanpa memperdulikan kedua pria yang tengah bersitegang.

Tidak ada suara yang keluar dari bibir tipisnya hanya suara patahan tulang yang terdengar. Mata Kakashi membulat sempurna. Kedua tangannya meremas rambut putih dikepalanya dengan keras. Suara ringkihan tak jelas meluncur dari mulutnya.

Sasuke menjatuhkan tubuh tak bernyawa Rose. Ia memandang jijik pria paruh baya dihadapannya.

"Dan aku ambil kembali semua harta yang sudah kuberikan padamu. Seperti kau mengambil kepercayaan wanita yang kucintai dariku."

Dari tangannya keluar percikan api. Ia melemparkan api berwarna merah itu kearah Kakashi dihadapannya yang berusaha untuk lari. Tapi terlambat. Api itu lebih dulu mengenai tubuhnya.

Ia menjerit kesakitan. Jeritannya menggema ke seluruh ruangan. Semakin keras pria itu menjerit semakin besar kobaran api membakar tubuhnya.

Tubuh penuh api itu menabrak berbagai barang didalam ruangan menimbulkan kobaran api diseluruh ruangan. Perlahan Sasuke melangkahkan kakinya menjauhi kediaman Kakashi yang mulai dilalap kobaran api. Riuh redam suara orang-orang mulai berdatangan menyaksikan kediaman salah satu bangsawan kaya raya francis habis terlalap api. Bahkan air yang coba mereka siramkan kesana malah semakin memperbesar kobarannya.

Semakin besar kobaran api melahap kediaman Kakashi semakin hilang pula sosok Sasuke dari sana. Ia seperti tertelan asap hitam kelam yang ikut membakar jiwanya.

The End

.

.

Ket :

Punch : Sejenis minuman yang terbuat dari anggur atau minuman keras lain yang dicampur dengan air, jus buah, rempah-rempah, dan sebagainya.

Duke : Gelar tertinggi dari lima tingkat gelar dalam kebangsawanan Eropa.

Earl : Peringkat ketiga dalam gelar kebangsawanan Eropa.

Mademoiselle : Nona

Madam : Nyonya.

Certes, Tant que votre souhait :Tentu, sesuai permintaan anda.

Je ne suis pas venue pur que : Aku tidak datang untuk itu

Salut : Hai.

Bonjour : Selamat pagi.

Aucun, Aujourd'hui, je èpargner. Pourquois? : Tidak, hari ini aku senggang. Kenapa?

Comme quoi : Seperti apa?

Argent, le pouvoir, le statut, l'honneur : uang, kekuasaan, kedudukan, kehormatan.

Aa.. Alors, comment aimer? : lalu, bagaimana dengan cinta?

Merci : terima kasih

Et pardonnes-moi* : dan maafkan aku

...

Autor Note :

Hai Mina-san~ ini adalah seri kedua dari ff women. Ada sedikit perbedaan diakhir cerita yang sekarang dengan yang sebelumnya. Tapi kuharap kalian tetap menyukainya. ^^

Terima kasih buat semua yang sudah mengunjungin fict saya tapi saya sangat berharap kalian meninggalkan review kalian agar saya bisa mengembangkan fict saya selanjutnya.

Akhir kata saya mencintai kalian semua 3